MENGHIDUPKAN SYIAR ISLAM DI TAHUN BARU HIJRIAH
Oleh:
Mei Xin Li *)
Datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah disambut meriah oleh umat Islam di berbagai daerah di Indonesia. Beragam kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya memperkuat syi'ar Islam di tengah masyarakat, penuh makna religius dan kearifan lokal. Tradisi ini menjadi bukti bahwa Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Hijriah, melainkan momentum penting untuk memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan meneguhkan nilai-nilai keislaman.

Sumber: https://syariah.radenintan.ac.id/menyambut-tahun-baru-islam-1438-hijriyah
Di
Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, masyarakat
bersama berbagai elemen keagamaan menggelar kegiatan bertajuk "Gebyar
Muharam Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah". Kegiatan tersebut diisi
dengan berbagai agenda yang sarat makna. Pada tanggal 14 Muharam, bertempat di
Masjid Agung Pangalengan, diselenggarakan Lomba Mahluk Qiyam dan Haflah
Qiro'atil Qur'an yang melibatkan para santri dan generasi muda. Selanjutnya,
pada tanggal 15 Muharam, kegiatan dipusatkan di Terminal Pangalengan dengan
rangkaian acara berupa pawai obor, santunan anak yatim, doa bersama, serta
hiburan pentas seni Wayang Dakwah yang menggabungkan nilai budaya dan
pesan-pesan keislaman. Tidak hanya di Pangalengan, semarak Tahun Baru Islam
juga terasa di berbagai wilayah Nusantara. Di Aceh, masyarakat menyambut
Muharam dengan zikir akbar, tausiyah, dan doa bersama di masjid-masjid.
Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H di Berbagai Daerah di Indonesia
Di Jawa, banyak masyarakat mengadakan Kirab Malam Satu Suro, yaitu pawai keliling kampung dengan membawa pusaka atau benda-benda bersejarah sebagai simbol menjaga warisan leluhur sekaligus memohon keselamatan. Di Yogyakarta dan Surakarta, tradisi ini juga diiringi pembacaan doa bersama dan zikir. Juga, di wilayah Pulau Jawa, perayaan Muharam juga berlangsung meriah. Di Yogyakarta dan Jawa Tengah dikenal tradisi kirab budaya dan pengajian akbar yang menggabungkan unsur dakwah dengan kearifan lokal. Di Banten, masyarakat mengadakan istigasah bersama, santunan yatim, serta berbagai perlombaan islami untuk anak-anak dan remaja. Adapun di Jawa Timur, sejumlah pondok pesantren dan masjid menggelar mujahadah, pembacaan shalawat, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Sumber: https://www.antaranews.com/foto/3642135/pawai-obor-sambut-tahun-baru-islam-di-aceh
Di
Sumatera Barat, peringatan diisi dengan kegiatan Malam Takbiran, pengajian
akbar, serta berbagi makanan kepada tetangga dan orang yang membutuhkan,
sebagai wujud rasa syukur. Selain itu, diisi tabligh akbar dan pawai santri
menjadi kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Sementara itu,
masyarakat Riau dan Kepulauan Riau menggelar pawai obor yang melibatkan ribuan
peserta dari berbagai kalangan, Sementara di Kalimantan, ada tradisi
Babaritah atau berkumpulnya warga untuk mendengarkan kisah perjalanan Nabi
Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah, sebagai pelajaran keteladanan. Tradisi
menyambut Tahun Baru Islam juga hidup di Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Di
Kalimantan Selatan, kegiatan haul ulama dan pembacaan maulid menjadi agenda
rutin yang dihadiri ribuan jamaah. Di Sulawesi Selatan, masyarakat
menyemarakkan Muharam dengan pawai taaruf dan pengajian akbar. Sementara di
Papua, umat Islam memanfaatkan momentum Muharam untuk memperkuat persaudaraan
melalui kegiatan sosial, santunan, dan dakwah yang menyejukkan.

Sumber: https://mediaindonesia.com/ramadan/748017/tradisi-pawai-obor-sambut-ramadan-bertabur-hadiah
Berbagai
tradisi tersebut menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam memiliki tempat istimewa di
hati umat Muslim Indonesia. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perayaan
tahun baru Masehi yang sering berlangsung meriah, Tahun Baru Islam sejatinya
juga layak diramaikan dengan kegiatan yang lebih bermakna dan bernilai ibadah.
Perayaan Muharam bukan sekadar seremonial, melainkan sarana mengingat kembali
perjalanan hijrah Rasulullah SAW yang mengajarkan semangat perubahan menuju
kehidupan yang lebih baik. Meski caranya berbeda-beda, inti dari semua tradisi
ini sama, yakni mengingat peristiwa hijrah, memperbaiki diri, mempererat
silaturahmi, serta memulai tahun baru dengan hati yang lebih baik dan penuh
keberkahan. Momentum Muharam juga menjadi kesempatan emas
untuk memperkuat syi'ar dakwah. Pawai obor, pengajian, santunan anak yatim,
perlombaan islami, hingga kegiatan budaya bernuansa dakwah merupakan bentuk
nyata syi'ar yang mampu mendekatkan masyarakat kepada nilai-nilai Islam.
Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya membangun kebersamaan, tetapi juga
menanamkan kecintaan generasi muda terhadap agama dan tradisi keislaman. Tahun Baru Islam hendaknya menjadi ajang
muhasabah bagi setiap muslim. Pergantian tahun Hijriah mengingatkan bahwa usia
terus berkurang dan waktu terus berjalan. Oleh karena itu, setiap datangnya
Muharam hendaknya dijadikan momentum untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan
ibadah, memperkuat kepedulian sosial, serta mempererat persatuan umat.
Sumber:https://www.panjimas.com/uncategorized/2017/09/21/keutamaan-bulan-muharram/
Semarak
Muharam yang berlangsung di berbagai daerah Indonesia membuktikan bahwa tradisi
menyambut Tahun Baru Islam merupakan warisan yang sangat baik untuk terus
dilestarikan. Selain memperkuat identitas keislaman, tradisi ini juga menjadi
media dakwah yang efektif dan sarana memperkokoh persaudaraan dalam kehidupan
bermasyarakat. Dengan semangat hijrah, umat Islam diharapkan mampu menyongsong
tahun yang baru dengan keimanan yang lebih kuat, amal yang lebih baik, dan
kontribusi yang lebih besar bagi bangsa dan agama.
*)
Murid SMA panglengan kelas X-I
**)
Sumber:
-
Kemenag.go.id. 2025. "Makna dan Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharam dalam
Tradisi Umat Islam Indonesia." Jakarta: Kementerian Agama RI.
-
Kegiatan Tahunan Masyarakat Pangalengan Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
2026. "Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H." Rangkaian Kegiatan
Pawai Obor



Tidak ada komentar:
Posting Komentar