AKU, ILMU, DAN APA YANG SAYA LAKUKAN DENGAN ILMU
Oleh:
Rendi Rusdiana, S.Pd *)
كُنِ ابنَ مَن شئتَ واكتسِبْ
أدبًا
يُغْنيكَ مَحمودُه عنِ النّسَبِ
إنّ الفتى مَن يقول: ها أنا ذا
ليس الفتى مَن يقولُ: كان أبي
"Jadilah anak siapa saja yang kamu mau, dan carilah adab (ilmu/akhlak)... karena pujian atas adab itu akan mencukupimu dari sekadar mengandalkan keturunan. Sesungguhnya pemuda sejati adalah yang berkata, 'Inilah aku (berdasarkan kemampuannya sendiri),' dan bukanlah pemuda sejati yang berkata, 'Dulu ayahku (sambil membanggakan leluhur).'”
Ungkapan di atas
merupakan bait syair yang sering dinisbatkan kepada sahabat ‘Ali ibn Abi
Thalib, yang dalam kesempatan kali ini kita tidak akan membahas tentang benar
atau tidaknya kata tersebut berasal dari para sahabat nabi (yang juga biasa
disebut atsar), tetapi dalam kesempatan kali ini kita akan sama-sama membahas
tentang isi kandungan dan juga hikmah yang terdapat dalam bait syair tersebut.
1. Setiap Orang Memiliki Jalan dan Privilege yang Berbeda
Setiap manusia lahir
dalam kondisi yang berbeda. Ada yang tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan,
memiliki orang tua yang berpendidikan, mendapatkan akses pendidikan yang baik,
atau memiliki lingkungan yang mendukung. Semua itu dapat disebut sebagai privilege,
yaitu berbagai kemudahan atau keuntungan yang diperoleh seseorang karena
keadaan yang melekat pada dirinya dan lingkungan tempat ia tumbuh. Namun,
adanya privilege bukan berarti seseorang otomatis memiliki kualitas diri yang
lebih tinggi daripada orang lain.

Sumber: https://wahyuindah.com/problematika-privilege-dan-cara-menyikapinya/
Sebaliknya,
keterbatasan yang dimiliki seseorang juga bukan alasan untuk berhenti berusaha.
Kita tidak selalu dapat menentukan dari mana kita memulai, tetapi kita masih
memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita menjalani perjalanan hidup.
Karena itu, jangan terlalu sibuk membandingkan keadaan diri dengan orang lain.
Jadikan apa yang kita miliki sebagai modal untuk berkembang dan apa yang belum
kita miliki sebagai alasan untuk terus belajar dan berusaha.
2.
Kita Tidak Memilih dari Mana
Kita Dilahirkan, tetapi Kita Dapat Menentukan Akan Menjadi Apa
Tidak seorangpun dapat
memilih akan dilahirkan dari keluarga siapa, di lingkungan seperti apa, atau
dalam keadaan bagaimana. Semua itu merupakan bagian dari ketentuan Allah Swt.
yang berada di luar pilihan manusia. Ada yang terlahir dalam keluarga sederhana,
ada yang lahir dalam keluarga berada; ada yang mendapatkan dukungan besar sejak
kecil, sementara yang lain harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan
kesempatan yang sama.

Sumber: https://web.facebook.com/warta.ekonomi/posts/kita-tak-bisa-memilih-di-mana-kita-dilahirkan
Namun, keadaan ketika
kita dilahirkan bukanlah alasan untuk menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya
penentu masa depan. Syair tersebut mengingatkan kita untuk tidak berhenti pada
kalimat “كان أبي” — “dulu ayahku”. Yang lebih penting adalah “ها أنا ذا” —
“inilah aku”. Artinya, seseorang harus berani menunjukkan kualitas dirinya
melalui usaha, ilmu, akhlak, dan karya yang ia hasilkan.
3.
Kualitas Diri Ditentukan oleh
Ilmu, Akhlak, dan Amal, Bukan Sekadar Keturunan
Nama besar keluarga,
status sosial, kekayaan, maupun keturunan dapat memberikan seseorang berbagai
kemudahan dalam hidup. Akan tetapi, semua itu tidak secara otomatis menjadikan
seseorang berilmu, berakhlak, atau memiliki kemampuan. Kemuliaan seseorang tidak
seharusnya hanya diukur dari siapa orang tuanya, tetapi juga dari apa yang ia
pelajari, bagaimana ia bersikap, serta apa yang ia lakukan dengan kesempatan
yang dimilikinya.
Sumber: https://www.instagram.com/reels/DAWx0mYg6Tg/
Karena itu, generasi
muda perlu membangun identitasnya sendiri melalui ilmu dan akhlak. Prestasi
orang tua boleh menjadi inspirasi, tetapi bukan sesuatu yang cukup untuk
dibanggakan tanpa usaha pribadi. Prinsipnya sederhana: jangan hanya menjadi
“anak dari seseorang yang hebat”, tetapi berusahalah menjadi seseorang yang
juga memiliki kehebatan melalui ilmu, karakter, dan karya.
4.
Generasi Muda Harus Berani
Berusaha, Berinovasi, dan Pantang Menyerah
Menjadi generasi muda
berarti memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba, dan menciptakan sesuatu
yang baru. Dunia terus berubah sehingga seseorang tidak cukup hanya
mengandalkan apa yang sudah dimiliki oleh generasi sebelumnya. Ilmu harus terus
dikembangkan, keterampilan harus terus diasah, dan keberanian untuk mencoba
hal-hal baru perlu ditumbuhkan. Kesalahan dan kegagalan dalam proses belajar
bukanlah tanda bahwa seseorang tidak mampu, melainkan bagian dari proses menuju
kematangan.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DT9jQyfia87/
Semangat tersebut sejalan
dengan pesan “ها
أنا ذا” — “inilah aku.” Kalimat itu menggambarkan
keberanian untuk berdiri atas kemampuan sendiri dan menunjukkan apa yang mampu
dilakukan. Karena itu, generasi muda hendaknya memiliki etos kerja,
kreativitas, inovasi, dan ketangguhan. Bukan sekadar bertanya, “Saya berasal
dari keluarga siapa?”, tetapi lebih penting bertanya, “Apa yang dapat saya
lakukan dengan ilmu, kesempatan, dan kemampuan yang Allah berikan kepada saya?”
*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan.
Diamanahi menjadi Ketua DKM Masjid Al Ijtihad SMAN 1 Pangalengan
**) dari berbagai sumber



















.jpeg)
