"Leaders are not born, they are made. And they are made just like anything else, through hard work and determination." @abuafifi

Rabu, 28 Oktober 2026

Sportscience

 "SAY NO TO 'TEXT CLAW' & 'ZOMBIE EYES'

Rekayasa Kinesiologi Keren Biar Gen Z Gak Jompo Duluan!"

Oleh: Moria Florentino, S.Si *)


Di era digital, HP udah kayak organ tubuh tambahan buat Gen Z. Tapi sadar gak sih, kebiasaan mabar, scrolling medsos, atau maraton series berjam-jam diam-diam bisa merusak tubuh secara anatomis? Sebagai guru olahraga, yuk kita bedah secara ilmiah dua fenomena yang lagi viral tapi jarang dibahas ini: Text Claw dan Zombie Eyes.

Sumber: https://www.dreamstime.com/mysterious-child-face-emerging-cracked-wall-vector

1. Sisi Medis di Balik Layar: Apa yang Terjadi pada Tubuhmu?

·      Text Claw (Tangan Kaku): Istilah gaul ini dalam dunia medis merujuk pada ketegangan myofascial kronis pada otot flexor pollicis longus (otot penggerak jempol). Saat kamu memegang HP dengan posisi statis berjam-jam, saraf tanganmu tertekan. Kalau dibiarkan, ini bisa memicu Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang bikin tangan sering kesemutan dan kaku.

·      Zombie Eyes (Mata Lelah): Bahasa kerennya adalah Computer Vision Syndrome (CVS). Saat mata fokus ke layar dekat secara konstan, otot mata dipaksa kontraksi tanpa jeda. Parahnya, frekuensi kedipan mata kita turun drastis dari normalnya 20 kali per menit menjadi cuma 5 kali per menit! Efeknya? Mata jadi kering, merah, sepet, dan memicu kelelahan otak (brain rot).

 

Sumber: https://www.laxmieye.org/blog/computer-vision-syndrome-eye-care/

2. Kenapa Kamu Harus Peduli?

Jangan remehkan jempol kaku dan mata lelah. Gangguan postur dan penurunan fokus kognitif akibat kelelahan visual ini bisa bikin kamu gampang pusing di kelas, sulit konsentrasi, dan lemas saat jam pelajaran olahraga. Gak mau kan performa fisikmu drop sebelum waktunya?

 

Sumber: https://www.researchgate.net/figure/A-sketch-of-the-experimental-setup-for-A-isometric

3. Anti-Jompo Hack: Protokol Biar Tetap Fit Check!

Berdasarkan kinesiologi (ilmu gerak), ini protokol remedial fisik simpel yang wajib kamu lakukan langsung di meja belajar:

·         Rumus Kesehatan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan melihat benda sejauh 6 meter selama 20 detik. Ini cara ilmiah merelaksasi otot mata dan memicu air mata alami agar mata gak kering.

·         Senam Jari Kilat (Isometric Extension): Buka telapak tangan lebar-lebar secara maksimal selama 5 detik, lalu kepalkan dengan kuat. Ulangi 5 kali untuk melancarkan sirkulasi darah di tanganmu.

·         Desk Stretch (Koreksi Leher & Bahu): Duduk tegak, tautkan jari-jari tangan, lalu dorong telapak tangan ke arah atas kepala setinggi-tingginya selama 10 detik. Ini mengaktifkan otot trapezius untuk mereduksi ketegangan leher akibat keseringan menunduk.

·         Curi Langkah (Aktifkan NEAT): Jangan duduk statis lebih dari 60 menit. Berdirilah dan jalan kaki ringan selama 2 menit (misal ambil minum). Langkah kecil ini mengaktifkan kembali pompa otot vena (venous pump) di kaki agar metabolisme tubuh tetap terjaga.

 

Sumber: https://flexfreeclinic.com/artikel/detail/458?title=masalah-

Simpulan

Waspada Ancaman Nyata 'Text Neck Syndrome'!

Hiburan digital boleh tetap jalan, tapi kesehatan tangan dan mata jangan sampai dikorbankan. Ingat, akumulasi dari Text Claw dan Zombie Eyes yang dibiarkan terus-menerus sering kali berujung pada Text Neck Syndrome penyakit muskuloskeletal yang paling banyak menyerang pelajar saat ini akibat kepala terlalu sering menunduk menatap layar. Secara biomekanika, menunduk sejauh 45 derajat bisa menaikkan beban leher hingga lebih dari 20 kg (normalnya cuma 4-5 kg)! Jadi, yuk mulai terapkan ilmu gerak di atas secara konsisten agar postur tubuhmu tetap tegak, performa tetap optimal (fit check), dan bebas dari status "remaja jompo" di masa depan!

 

*) Guru PJOK di SMAN  Pangalengan

**)Referensi: dari berbagai sumber

Selasa, 27 Oktober 2026

Self Reflection

 MENEMUKAN BAHAGIA DALAM BELAJAR

Menyalakan Semangat, Merawat Adab, Menumbuhkan Tanggung Jawab

Oleh: Selli Nuraeni Somantri,S.Pd *)

 

Kehidupan di bangku sekolah dan dinamika sosial di sekitarnya memang selalu penuh dengan lika-liku. Ada hari-hari yang menyenangkan, ada riuh interaksi yang menguras energi, dan tak jarang ada dinamika yang menguji kesabaran. Namun, di tengah riuhnya perjalanan ini, semoga kita senantiasa dikuatkan untuk tetap berada di jalur yang baik: memilih untuk terus bertumbuh, merawat niat, dan melangkah dengan hati yang jernih. Dalam dinamika masa remaja yang penuh warna, mari kita maknai bahwa belajar sebenarnya bisa menjadi proses yang membahagiakan, asal kita tahu bagaimana cara merawat energinya. Tiga poin berikut bisa menjadi upaya kita untuk merawat dan menjaga kestabilan energi tersebut:

 
Sumber: https://depositphotos.com/id/photo/group-of-smiling-happy-teenagers-42520849.html

1.        Menyalakan Semangat. Bukan Soal Paksaan, Tapi Kesadaran Diri

Semangat belajar sesungguhnya lahir ketika kita paham betul bahwa ilmu adalah kebutuhan diri sendiri, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Setiap materi yang dipelajari adalah bekal untuk membuka wawasan, membentuk pola pikir yang bijak, dan menyiapkan kita menghadapi dunia yang lebih luas. Sebagaimana nasihat penuh makna dari Imam Syafi'i dalam karyanya Diwan Asy-Syafi'i: "Barang siapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar walau sesaat, maka ia harus sanggup menahan perihnya kebodohan sepanjang hidupnya." Ketika kesadaran ini tumbuh, belajar bukan lagi terasa sebagai beban yang menyiksa, melainkan perjuangan yang kita nikmati demi kemuliaan masa depan.

 
Sumber: https://journalpsyche.org/understanding-the-human-mind/

2.        Merawat Adab.  Pondasi Utama Penuntut Ilmu

Pernah mendengar penekanan bahwa adab berada di atas ilmu? Di tengah gempuran teknologi dan kemudahan mencari informasi saat ini, kita mengetahui bahwa peran adab justru menjadi semakin krusial.

Ulama besar Imam Malik bin Anas pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraish: "Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."

Merawat adab dimulai dari hal-hal sederhana di sekolah: saking menyapa dengan santun, mendengarkan saat teman berbicara, menjaga kerapihan kelas, serta menjunjung tinggi kejujuran saat ujian. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kepintaran yang dingin. Sebaliknya, ketika proses belajar dilandasi rasa hormat dan kerendahan hati, suasana belajar menjadi lebih sejuk, dan ilmu yang diserap akan membawa keberkahan serta kedamaian di hati.

 
Sumber: https://www.facebook.com/sindonews/posts/dalam-islam-akhlak-dan-adab-ditempatkan-allah-taala

3.        Menumbuhkan Tanggung Jawab. Menyempurnakan Ikhtiar, Melangitkan Doa

Menjadi siswa SMA berarti mulai melangkah masuk dalam fase kedewasaan. Di fase ini, kita belajar bahwa tanggung jawab adalah bentuk kesungguhan kita dalam berikhtiar. Setiap kali kamu memilih untuk bangkit dari tempat tidur, menyelesaikan tugas tanpa menunda, atau mengalahkan rasa malas, kamu sedang berjuang melakukan bagian terbaik yang kamu bisa. Namun ingatlah, tanggung jawab kita adalah berusaha seoptimal mungkin, sementara hasil akhirnya tetap berakar pada ketetapan Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11: "...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…"

Tugas kita adalah mengoptimalkan ikhtiar, sementara takdir akhir berada di bawah kuasa-Nya. Mengakui bahwa segala sesuatu terjadi atas izin-Nya justru membuat hati tenang. Kita berikhtiar maksimal, lalu berserah dengan penuh prasangka baik.

Sumber: https://www.facebook.com/AnsanTicket/posts/tugas-kita-adalah-ikhtiar-untuk-masalah-hasilbiar-allah-yang-menentukan

Belajar memang tidak selalu mudah dan tidak selalu mulus. Akan ada hari-hari di mana kita merasa lelah dan jenuh. Namun, ketika kita menyalakan kembali semangat, merawat adab dalam setiap tindakan, serta menuntaskan tanggung jawab sebagai bentuk ikhtiar terbaik di hadapan Sang Pencipta, kita akan menemukan sebuah rahasia kecil bahwa belajar ternyata adalah perjalanan menemukan kebahagiaan itu sendiri.

 

*) Guru Sosiologi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler IREMA. Koordinator Kokurikuler kelas XII

**) DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur'anul Karim (Surah Ar-Ra’d [13] Ayat 11).

https://islamsantun.org/opini/nasehat-imam-syafii-kepada-para-penuntut-ilmu/

https://www.muhammadnuzuldzikri.com/index.php/Website/kurikulum_detail/5-ULAMA-PUN-MEMPELAJARI-ADAB

Senin, 26 Oktober 2026

Act Localy

 NILAI PANCA WALUYA DALAM PUPUH PUCUNG. MENEMUKAN JATI DIRI DAN KESEIMBANGAN HIDUP MELALUI TEMBANG SUNDA

Oleh : Rinie Mutia widaningsih, S. Pd *)

 

Kebudayaan Sunda kaya akan warisan luhur yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga menyimpan sarat makna filosofis dan pendidikan karakter. Salah satu bentuk kearifan lokal tersebut dapat ditemukan dalam kesenian tembang Sunda, khususnya pupuh. Dari 17 jenis pupuh yang ada, Pupuh Pucung dikenal luas tidak hanya karena kaidah guru wilangan dan guru lagunya yang khas, tetapi juga karena pesan moral yang dibawakannya. Di dalam amanat dan lirik Pupuh Pucung, terpatri kuat konsep pendidikan karakter Sunda yang dikenal sebagai Panca Waluya. Dalam tradisi Sunda, pupuh terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu Sekar Ageung dan Sekar Alit. Pupuh Pucung masuk ke dalam kategori Sekar Alit. Aturan baku atau pakem dari pupuh ini memiliki patokan guru wilangan dan guru lagu:

12-U, 6-A, 8-I, 12-A

Sumber: https://www.tiktok.com/@ig.nakeng_123/video/7296056638224469254

Secara tradisional, Pupuh Pucung memiliki watak (watek) yang menggambarkan suasana hati yang sedang santai, menasehati diri sendiri (siraman rohani), mengingatkan pada kebaikan, atau merenungkan suatu hal dengan penuh kesadaran (eling). Watak inilah yang menjadi wadah yang sangat tepat untuk menyampaikan nilai-nilai luhur pembentukan karakter manusia, salah satunya adalah konsep Panca Waluya.

Contoh Pupuh Pucung :

Utamana jalma kudu rea batur,

keur silih tulungan,

silih titipkeun nya diri,

budi akal lantaran ti pada jalma.

(sumber : https://kumparan.com/ragam-info/6-contoh-pupuh-pucung-dalam-bahasa-sunda-220J9xWJww6/full)

Sumber: https://rri.co.id/malang/hiburan/985934/kenali-perbedaan-kasih-sayang-dan-empati

Refleksi Nilai Panca Waluya dalam Amanat Pupuh Pucung

Silih Tulungan (Mencerminkan nilai Bageur) Frasa "keur silih tulungan" (untuk saling tolong-menolong) menegaskan pentingnya memiliki empati dan kasih sayang antarsesama. Sifat bageur (baik hati) tidak akan bisa diwujudkan jika seseorang hidup secara egois tanpa peduli dengan kesusahan orang lain. Silih Titipkeun Nya Diri (Mencerminkan nilai Singer dan Cageur) Konsep "silih titipkeun nya diri" mengandung makna bahwa keselamatan dan keamanan hidup sangat bergantung pada kepedulian kolektif. Kita saling menjaga, saling mengingatkan, dan mawas diri (singer) terhadap lingkungan sekitar agar tercipta ketenteraman batin dan raga yang sehat (cageur).

 
Sumber: https://www.tiktok.com/@asmosejat1/photo/7638226849503513877

Budi Akal Lantaran Ti Pada Jalma (Mencerminkan nilai Pinter dan Bener) Baris terakhir, "budi akal lantaran ti pada jalma", menyadarkan kita bahwa kecerdasan, ilmu pengetahuan, serta kebijaksanaan (pinter) dan prinsip moral yang lurus (bener) tidak lahir begitu saja di dalam vakum. Kita belajar etika, tata krama, dan kebijaksanaan hidup dari interaksi dengan sesama manusia. Melalui bait ini, Pupuh Pucung tidak hanya berfungsi sebagai pelipur luhur atau tembang seni, tetapi juga sebagai pengingat moral bahwa kesempurnaan hidup manusia (waluya) hanya dapat dicapai melalui kebersamaan, kepedulian sosial, dan keluhuran budi pekerti.

 

*) Guru Bahasa Sunda di SMAN 1 Pangalengan. Mahasiswa Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Sunda. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

**) dari berbagai rujukan

Minggu, 25 Oktober 2026

A Cup of Coffee

KOPI BAHAN BAKAR BAGI GEN Z, KOK BISA?

Oleh: Rizzani Muttaqiinah, S.Pd *)

Americano, Mont Blanc, Caffe Latte, Dirty Latte, hingga Cappucino. Sebagian besar gen z tentunya sudah akrab dengan berbagai varian kopi tersebut. Biasa dipesan di sela-sela waktu luang, mengerjakan tugas, WFC (Work from Cafe), bahkan sebagai “penenang” ketika perasaan sedang tidak baik-baik saja. Konon katanya, selain mengurangi rasa kantuk, mengonsumsi kopi juga dapat memperbaiki suasana hati.

 Sumber: www.istockphoto.com/id/foto-foto/kopi-hitam-kopi

Dilansir dari hellosehat.com, sebagian besar orang bergumam tidak bisa “berfungsi” tanpa kopi. Beberapa orang mungkin merasa bahagia saat bisa minum kopi karena benar-benar menginginkannya. Di samping itu, kopi ternyata memang bisa menjadi mood booster alami, meningkatkan fokus saat melakukan pekerjaan, mengurangi stres berlebih, bahkan mempertajam daya ingat. Tidak heran jika kopi sering kali dijadikan “bahan bakar” utama para gen z. Lalu, senyawa kimia apa yang terkadung dalam kopi sehingga memiliki segudang manfaat tersebut?

Sumber: https://www.cctcid.com/2023/04/09/kandungan-zat-gizi-pada-biji-kopi/

Ditinjau dari sudut pandang kimia, kopi memiliki kandungan utama yaitu kafein dengan rumus kimia C8H10N4O2. Salah satu manfaat kafein di dalam kopi adalah meningkatkan kebahagiaan dengan cara mengirimkan sinyal ke otak supaya melepaskan lebih banyak dopamin. Dopamin merupakan hormon yang berfungsi untuk memperbaiki suasana hati dan memberikan rasa bahagia. Selain itu, kafein juga dapat memengaruhi fungsi otak untuk merangsang produksi serotonin dan noradrenalin. Senyawa-senyawa tersebut bisa meningkatkan kewaspadaan sehingga meningkatkan fokus. Jadi, jangan heran jika sedang bad mood tiba-tiba tersenyum atau dapat menyelesaikan pekerjaan secara cepat setelah minum kopi.

 
Sumber: www.urip.info/2020/02/mempelajari-tatanama-heterosiklik-kafein.html#google_vignette

Namun, semua manfaat tersebut bisa didapatkan jika kopi dikonsumsi sesuai aturan. Usahakan untuk mengonsumsi kopi hitam tanpa gula, krimer, sirup, atau bahan tambahan sejenisnya. Dan meski terasa nikmat dan bermanfaat, alangkah lebih baik untuk tetap membatasi asupan kafein, karena ketika dikonsumsi secara berlebihan, justru akan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi kesehatan. Semoga bermanfaat 

*) Guru Kimia di SMAN 1 Pangalengan, diamanahi menjadi  Pembina PMR dan TI Sekolah Berketahanan Iklim (SBI)

**) Sumber:

https://hellosehat.com/mental/gangguan-mood/efek-kopi-pada-mood-seseorang/ 

https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/kopi-hitam-kopi 

https://www.urip.info/2020/02/mempelajari-tatanama-heterosiklik-kafein.html#google_vignette 


Kamis, 22 Oktober 2026

Teen Lits

 Who Should Improve Themselves?

Oleh: R. Anissa *)

Sebenarnya, apa yang harus kita perbaiki dari diri kita? Fenomena kesehatan mental yang terus meningkat di kalangan Generasi Z menjadi sesuatu yang perlu kita perhatikan. Namun, apakah persoalan ini selalu berawal dari diri sendiri? Ataukah ada hal lain yang selama ini kita abaikan, seperti perlakuan orang lain yang perlahan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri?. Salah satu hal yang perlu kita lihat kembali adalah perundungan, terutama ketika dilakukan oleh orang dewasa. Kita sering membicarakan bagaimana korban perundungan harus memperbaiki kehidupannya, bangkit dari keterpurukan, dan belajar menjadi lebih kuat. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya mengapa seseorang harus berjuang memulihkan dirinya dari luka yang bahkan tidak pernah ia minta?

 
Sumber: https://unitkesehatan.ipb.ac.id/tanda-dan-gejala-kesehatan-mental-terganggu/

Banyaknya kasus perundungan membuat kita perlu melihat persoalan ini lebih dalam. Perundungan bukan hanya tentang tindakan yang terlihat, tetapi juga tentang bagaimana perlakuan seseorang dapat memengaruhi kondisi mental, pola pikir, dan perilaku orang lain. Luka yang ditinggalkan tidak selalu terlihat, tetapi bisa menetap dalam pikiran dan memengaruhi kehidupan seseorang dalam waktu yang lama. Ketika seseorang terus-menerus menerima perlkuan buruk, ia bisa mulai meragukan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah aku memang tidak cukup baik?”, Apakah semua kesalahan ini memang salahku?”, atau “Mengapa aku selalu diperlakukan seperti ini?” perlahan muncul dalam pikirannya. Tanpa disadari, pengalaman tersebut dapat membentuk cara seseorang melihat dirinya, bahkan memengaruhi keberaniannya untuk berkembang.

 
Sumber: https://web.facebook.com/reel/1584034403004539

Di sinilah hubungan antara perundungan dan kesehatan mental menjadi penting untuk dipahami. Terlebih ketika perundungan dilakukan oleh orang dewasa, yang seharusnya mampu memberikan arahan dan rasa aman. Perkataan atau perlakuan yang merendahkan, meskipun dianggap sebagai teguran biasa, dapat meninggalkan dampak yang tidak sederhana bagi seseorang yang menerimanya. Lalu, bagaimana jika seseorang yang merundung justru pernah mengalami luka yang sama? ‘Apakah trauma dapat menjadi alasan untuk melukai orang lain?’ Pengalaman buruk mungkin membantu kita memahami mengapa seseorang bertindak demikian, tetapi tidak menjadikan perundungan sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan. Luka yang pernah diterima seharusnya menjadi pelajaran untuk memahami orang lain, bukan alasan untuk membuat orang lain merasakan luka serupa. Maka, sebelum meminta seseorang untuk memperbaiki dirinya, kita juga perlu berani melihat bagaimana lingkungan dan perlakuan kita memengaruhi kehidupannya. Tidak semua orang yang terlihat diam berarti baik-baik saja. Tidak semua orang yang tertawa berarti tidak terluka. Ada hal-hal yang disimpan rapat-rapat, ada perasaan yang tidak pernah sempat disampaikan, dan ada luka yang tumbuh dalam diam.

 
Sumber: https://www.youtube.com/shorts/50gfX1YE1KQ

Semoga kita tumbuh menjadi orang yang tidak hanya kuat, tetapi juga tidak membuat orang lain merasa harus selalu kuat. Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa berat bayang-bayang yang sedang dibawa seseorang dalam hidupnya. Pada akhirnya, apakah perdamaian yang tercipta dalam diri seseorang hanya akan menjadi bayang-bayang semata jika lingkungan di sekitarnya masih terus menciptakan luka? Jika kita ingin membicarakan kesehatan mental, mari kita mulai dengan memahami bahwa memperbaiki diri bukan satu-satunya hal yang dibutuhkan seseorang. Terkadang, yang juga perlu diperbaiki adalah cara kita memperlakukan orang lain. Karena bisa jadi, seseorang bukan sedang berjuang untuk menjadi lebih kuat, melainkan sedang berusaha bertahan dari luka yang kita tinggalkan.

*) Siswa  Kelas XII D2

**) disarikan dari berbagai sumber

Rabu, 21 Oktober 2026

Sportscience

EFEK BEGADANG UNTUK OLAHRAGA

Kombinasi Pas Buat Bikin Tubuh Drop?

Oleh: Dana Praja, S.Pd *)


Lagi hobi skincare-an atau rajin gym biar badan makin fit, tapi jam tidur malam masih berantakan gara-gara maraton serial film, push rank, atau sekadar scrolling TikTok sampai subuh? Banyak dari kita yang mikir, "Ah, enggak apa-apa begadang, yang penting besoknya tetap olahraga!" Tapi tunggu dulu. Faktanya, olahraga dan kurang tidur itu ibarat minyak sama air sulit banget buat nyatu dengan baik. Mau sekeras apa pun kamu latihan di tempat gym atau di lapangan, efeknya enggak bakal maksimal kalau pola tidurmu masih berantakan. Yuk, bedah bareng-bareng seberapa bahayanya kebiasaan begadang buat kamu yang suka olahraga!

Sumber: https://rsusemararatih.co.id/2020/08/28/6-manfaat-berolahraga-bagi-kesehatan/

1. Otot Bukannya Jadi, Malah Makin Sotot (Susah Tumbuh)

Bagi yang suka angkat beban atau latihan fisik demi bentuk tubuh impian, tidur adalah kunci utama. Saat kita tidur nyenyak (deep sleep), tubuh bakal melepas Human Growth Hormone (HGH) alias hormon pertumbuhan. Hormon inilah yang bertugas memperbaiki jaringan otot yang rusak setelah kamu latihan. Kalau kamu kurang tidur, produksi HGH bakal merosot drastis. Alih-alih dapat otot yang makin kencang dan kuat, tubuh malah kehilangan massa otot. Jadi, sia-sia banget kan sudah capek-capek latihan berat?

Sumber: https://web.facebook.com/watch/?v=770746626034314

2. Risiko Cedera Melonjak Tinggi

Pernah ngalamin momen pas lagi olahraga rasanya oleng, enggak fokus, atau respons tubuh lambat banget? Itu adalah tanda otak dan sarafmu lagi kelelahan akibat begadang. Kurang tidur menurunkan kemampuan kognitif, reflek, dan koordinasi tubuh. Saat kamu memaksakan olahraga seperti main basket, futsal, atau lari risiko terkilir, salah tumpuan, hingga cedera otot serius bakal naik berlipat ganda. Bukannya sehat, malah harus rehat total gara-gara cedera.

3. Jantung Bekerja Ekstra Keras

Saat begadang, sistem saraf simpatis bakal tetap aktif. Ini bikin tekanan darah dan detak jantungmu tetap tinggi sepanjang malam. Nah, bayangkan kalau kondisi tubuh yang belum istirahat ini langsung kamu hajar lagi dengan olahraga berintensitas tinggi. Jantung bakal kaget dan dipaksa bekerja ekstra keras melampaui batas normalnya. Dalam kasus ekstrim, memaksakan olahraga berat saat sangat kelelahan bisa memicu gangguan irama jantung hingga pingsan saat beraktivitas.

Sumber: https://sumbar.antaranews.com/berita/213854/kelainan-irama-jantung-tingkatkan-risiko-stroke-500-persen

4. Performa Turun, Cepat Lemah Lelah Lungse

Tidur yang cukup berperan mengisi ulang cadangan energi tubuh (glikogen). Kalau kamu kurang tidur, simpanan energi dalam otot bakal menipis. Hasilnya, baru lari sebentar saja napas sudah ngos-ngosan, angkat beban terasa sepuluh kali lebih berat, dan stamina gampang drop. Olahraga yang harusnya bikin gembira malah terasa kayak siksaan.

Tips Tetap Aman Olahraga Saat Terlanjur Begadang

Kalau sekali-kali kamu terpaksa begadang karena tugas sekolah atau kuliah, begini trik aman kalau tetap mau bergerak:

  • Turunkan Intensitas. Ganti olahraga berat (HIIT, angkat beban berat, atau olahraga kontak) dengan yang ringan seperti jalan santai, yoga, atau stretching.
  • Cukupi Air Putih. Begadang bikin tubuh gampang dehidrasi, jadi pastikan asupan air putihmu tercukupi.
  • Dengarkan Sinyal Tubuh. Kalau kepala terasa pusing, mata berat, atau jantung berdebar kencang, langsung berhenti dan istirahat. Jangan dipaksakan!

Sumber: https://pixabay.com/id/images/search/stretching%20exercises/

Olahraga memang penting banget buat kesehatan fisik dan mental, tapi tidur yang cukup adalah pondasinya. Jangan sampai niat sehatmu malah bumerang gara-gara mengabaikan jam istirahat. Ingat, recovery yang bagus sama pentingnya dengan latihan yang keras. Mulai malam ini, tutup HP lebih awal dan kasih tubuhmu haknya untuk beristirahat!

*) Guru PJOK di SMAN 1 Pangalengan. Atlet PORASN mewakili Kabupaten Bandung  untuk Cabag Olah Raga Bola Basket

**) Sumber Referensi 

  • Dattilo, M., et al. (2011). Sleep and muscle recovery: Endocrinological and molecular basis for a new philosophical approach. Medical Hypotheses, 77(2), 220-222.
  • Fullagar, H. H., et al. (2015). Sleep and athletic performance: the effects of sleep loss on exercise performance and recovery. Sports Medicine, 45(2), 161-186.
  • Simpson, N. S., Gibbs, E. L., & Matheson, G. O. (2017). Optimizing sleep to maximize performance: implications and recommendations for elite athletes. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 27(3), 266-274.


Growing in2 A Teenager

 SIAPA YANG MENENTUKAN AKU?

Mengenal Status, Peran, Dan Identitas Sosial Remaja

Oleh: Nia Komalaningsih, S.Pd  *)

 

Pernahkah kamu bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya aku ini siapa?”

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup dalam. Ketika berada di rumah, kamu dikenal sebagai seorang anak. Ketika berada di sekolah, kamu adalah seorang siswa. Ketika bersama teman, kamu menjadi seorang sahabat. Ketika mengikuti organisasi atau ekstrakurikuler, kamu memiliki peran yang berbeda lagi. Di masa depan, kamu mungkin akan menjadi mahasiswa, pekerja, pemimpin, orang tua, atau anggota masyarakat dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Lalu, siapa sebenarnya yang menentukan dirimu? Apakah orang tua? Teman? Guru? Lingkungan? Media sosial? Atau justru dirimu sendiri?

 

Gambar 1: Seorang remaja merenung di tengah berbagai pengaruh lingkungan (keluarga, sekolah, teman sebaya, media sosial, dan masyarakat).

Dalam kehidupan sosial, kita memang tidak hidup sendirian. Cara kita berpikir, bersikap, dan berperilaku dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, budaya, media sosial, serta lingkungan masyarakat. Namun, bukan berarti kita tidak memiliki pilihan. Kita tetap memiliki kesempatan untuk menentukan siapa diri kita dan akan menjadi seperti apa kita di masa depan.

 Aku Bukan Hanya Satu Peran

Coba perhatikan kehidupanmu sehari-hari.

Ketika berada di rumah, mungkin orang tua memintamu membantu pekerjaan rumah, menghormati anggota keluarga, dan bertanggung jawab terhadap tugasmu. Di sekolah, kamu dituntut untuk belajar, mengikuti aturan, mengerjakan tugas, dan menghormati guru. Ketika bersama teman, kamu mungkin menjadi tempat bercerita, teman berdiskusi, atau orang yang membantu ketika mereka mengalami kesulitan.

Gambar 2: Ilustrasi satu remaja dalam berbagai peran sosial (anak di rumah, siswa di sekolah, atlet di lapangan, dan sahabat bersama teman).

Semua itu menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki banyak peran sosial.

Peran sosial peranan seseorang berdasarkan kedudukan atau status yang dimilikinya dalam masyarakat. Misalnya, seorang siswa memiliki status sebagai siswa. Dari status tersebut muncul berbagai harapan: belajar dengan sungguh-sungguh, mengikuti aturan sekolah, menghormati guru, dan bertanggung jawab terhadap tugas. Namun, terkadang berbagai peran tersebut tidak mudah dijalankan secara bersamaan. Seorang siswa mungkin harus belajar untuk ujian, tetapi pada saat yang sama juga diminta membantu keluarga di rumah. Ia mungkin ingin mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, tetapi harus menyelesaikan tugas sekolah. Kondisi seperti ini dapat menimbulkan konflik peran, yaitu ketika seseorang menghadapi tuntutan dari beberapa peran yang sulit dijalankan secara bersamaan. Karena itu, menjadi remaja bukan hanya tentang mencari kesenangan, tetapi juga belajar mengatur berbagai tanggung jawab.

Status Sosial: Posisi yang Kita Miliki

Selain peran, dalam Sosiologi kita mengenal istilah status sosial. Status sosial adalah posisi atau kedudukan seseorang dalam masyarakat. Setiap orang dapat memiliki beberapa status sekaligus. Sebagai contoh, seorang siswa SMA dapat memiliki status sebagai:

·         Anak dalam keluarga

·         Siswa di sekolah

·         Teman dalam kelompok pergaulan

·         Anggota OSIS

·         Anggota ekstrakurikuler

·         Anggota komunitas

·         Warga masyarakat

Status tersebut dapat memengaruhi bagaimana seseorang diperlakukan dan apa yang diharapkan dari dirinya. Menariknya, status sosial tidak selalu bersifat tetap. Seiring berjalannya waktu, status seseorang dapat berubah. Hari ini kamu adalah siswa SMA. Beberapa tahun kemudian, kamu mungkin menjadi mahasiswa. Setelah itu, kamu dapat menjadi pekerja, pengusaha, guru, dokter, seniman, atau profesi lainnya. Artinya, status kita dapat berubah, tetapi pengalaman dari setiap status dapat membantu membentuk diri kita. Lalu, Apa Itu Identitas Sosial? Identitas sosial berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami dirinya sebagai bagian dari kelompok atau lingkungan sosial tertentu. Coba pikirkan: “Aku adalah siapa?” Mungkin kamu menjawab:

“Saya adalah siswa kelas X.”

“Saya adalah anggota Paskibra.”

“Saya adalah anak pertama.”

“Saya adalah pemain futsal.”

“Saya adalah seorang yang suka musik.”

“Saya adalah bagian dari kelompok pertemanan saya.”

Gambar 3: Peta Identitas Sosial yang menunjukkan pembentukan jati diri remaja dari berbagai kelompok dan keanggotaan sosial.

Jawaban-jawaban tersebut menunjukkan bahwa identitas seseorang terbentuk dari berbagai pengalaman dan keanggotaan sosial. Identitas sosial tidak muncul begitu saja. Identitas berkembang melalui interaksi dengan keluarga, teman, sekolah, lingkungan masyarakat, budaya, dan pengalaman hidup. Karena itu, identitas seorang remaja masih terus berkembang. Apa yang kamu sukai sekarang belum tentu sama dengan apa yang kamu sukai lima tahun lagi. Cara berpikirmu juga dapat berubah ketika mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru.

Siapa yang Sebenarnya Menentukan Aku?

Pertanyaan ini menjadi menarik ketika kita melihat kehidupan remaja saat ini. Media sosial misalnya, sering memberikan gambaran tentang bagaimana seorang remaja “seharusnya” terlihat. Ada tren pakaian, gaya rambut, tempat nongkrong, musik, makanan, hingga standar kesuksesan yang ditampilkan di internet. Tanpa disadari, seseorang dapat berpikir: “Kalau aku tidak mengikuti tren, apakah aku masih dianggap keren?” Atau: “Kalau aku tidak punya banyak teman, apakah aku dianggap tidak populer?”

Gambar 4: Perbandingan antara tekanan lingkungan/tren media sosial dengan pilihan mandiri menjadi diri sendiri.

Pertanyaan seperti itu menunjukkan adanya pengaruh kelompok sosial dan lingkungan terhadap pembentukan identitas. Teman sebaya juga memiliki pengaruh yang kuat. Seorang siswa dapat mulai menyukai musik tertentu karena teman-temannya menyukainya. Ia mungkin mengikuti gaya berpakaian kelompoknya agar merasa diterima. Bahkan, terkadang seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia sukai hanya karena takut dianggap berbeda. Namun, mengikuti lingkungan tidak selalu berarti buruk. Lingkungan yang positif dapat membantu seseorang berkembang. Teman yang rajin dapat memotivasi kita untuk belajar. Organisasi dapat melatih kepemimpinan. Ekstrakurikuler dapat mengembangkan bakat. Guru dapat memberikan inspirasi. Keluarga dapat memberikan nilai dan prinsip kehidupan. Jadi, lingkungan dapat memengaruhi kita, tetapi kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan sikap.

Menjadi Diri Sendiri di Tengah Banyak Pengaruh

Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak semua pengaruh dari lingkungan. Menjadi diri sendiri berarti mampu memilih pengaruh mana yang baik dan mana yang tidak baik. Kamu boleh mengikuti tren, tetapi jangan sampai kehilangan prinsip. Kamu boleh memiliki kelompok pertemanan, tetapi jangan sampai merendahkan kelompok lain. Kamu boleh menerima nasihat orang tua, guru, dan teman, tetapi tetap perlu mempertimbangkan apa yang sesuai dengan nilai dan tujuan hidupmu. Kamu juga boleh berubah menjadi lebih baik. Yang penting, perubahan tersebut terjadi karena kesadaran dan pilihanmu, bukan semata-mata karena tekanan orang lain.

Ketika Status dan Peran Tidak Sesuai Harapan

Dalam kehidupan sosial, tidak semua orang dapat menjalankan perannya dengan mudah. Bayangkan seorang siswa yang sebenarnya ingin belajar dengan baik, tetapi lingkungan pertemanannya justru sering mengajak bermain ketika waktu belajar. Ia mengalami pilihan antara memenuhi harapan kelompok teman atau menjalankan tanggung jawab sebagai siswa. Contoh lainnya adalah siswa yang memiliki prestasi akademik tinggi tetapi merasa dirinya hanya dihargai ketika mendapatkan nilai bagus. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa status dan peran dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya. Karena itu, penting bagi remaja untuk memahami bahwa nilai diri seseorang tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor, jumlah teman, jumlah pengikut di media sosial, penampilan, atau popularitas. Setiap orang memiliki keunikan dan potensi masing-masing.

Aku Tidak Harus Menjadi Seperti Orang Lain

Media sosial membuat kita mudah membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat teman yang tampak bahagia, seseorang yang memiliki banyak prestasi, atau orang lain yang memiliki barang yang kita inginkan.

Namun, kita sering lupa bahwa apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Karena itu, jangan menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai keberhasilan diri sendiri. Kamu memiliki perjalananmu sendiri. Tidak semua orang harus memiliki tujuan yang sama. Tidak semua orang harus memiliki bakat yang sama. Tidak semua orang harus berjalan dengan kecepatan yang sama. Yang penting adalah terus berkembang menjadi versi dirimu yang lebih baik. Refleksi: “Siapa Saya dalam Masyarakat?” Setelah membaca artikel ini, berhentilah sejenak dan pikirkan tentang dirimu. Jawablah pertanyaan berikut dengan jujur:

1.       Apa saja status sosial yang saya miliki saat ini?

2.       Peran apa saja yang harus saya jalankan setiap hari?

3.       Peran mana yang paling saya sukai? Mengapa?

4.       Apakah saya pernah merasa tertekan karena tuntutan kelompok atau lingkungan?

5.       Siapa saja yang paling memengaruhi cara saya berpikir dan bertindak?

6.       Apakah pengaruh tersebut lebih banyak memberikan dampak positif atau negatif?

7.       Apa kelebihan yang membuat saya berbeda dari orang lain?

8.       Saya ingin dikenal sebagai orang seperti apa?

9.       Apa yang ingin saya capai di masa depan?

10.   Apa yang dapat saya lakukan mulai sekarang untuk menjadi pribadi yang saya inginkan?

Tidak ada jawaban yang harus dibuat sama. Justru dari jawaban yang berbeda-beda itulah kita dapat belajar bahwa setiap orang memiliki cerita, pengalaman, dan perjalanan hidup yang unik.

Simpulan. Kamu Adalah Bagian dari Masyarakat, tetapi Kamu Tetap Punya Pilihan. Kita memang tidak dapat memilih semua keadaan yang membentuk kehidupan kita. Kita tidak dapat memilih keluarga tempat kita dilahirkan, mengendalikan semua pendapat orang lain, atau menghindari seluruh pengaruh lingkungan. Namun, kita masih dapat memilih bagaimana kita merespons semua pengaruh tersebut.

 

Gambar 5: Remaja berdiri percaya diri menatap masa depan, siap menentukan arah dan tujuan hidupnya sendiri.

Keluarga dapat membentuk kita. Sekolah dapat mengajarkan kita. Teman dapat memengaruhi kita. Masyarakat dapat memberikan nilai dan norma. Media sosial dapat memberikan berbagai pandangan.

Tetapi pada akhirnya, kita perlu belajar menentukan pilihan sendiri. Kamu bukan hanya statusmu. Kamu bukan hanya peranmu. Kamu juga bukan sekadar penilaian orang lain terhadapmu. Kamu adalah pribadi yang terus tumbuh, belajar, berubah, dan memiliki kesempatan untuk menentukan arah masa depan. Jadi, ketika suatu hari kamu bertanya, “Siapa yang menentukan aku?” Jawabannya mungkin bukan hanya keluarga, teman, sekolah, atau lingkungan. Mereka ikut membentukmu, tetapi kamu juga memiliki peran penting dalam menentukan siapa dirimu dan akan menjadi apa dirimu di masa depan.

“Kamu adalah hasil dari banyak pengaruh, tetapi kamu juga memiliki kekuatan untuk menentukan akan menjadi siapa dirimu.”

 *) Guru Sosiologi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler Paskbra.

**) Rujukan dari berbagai sumber

Sportscience

  "SAY NO TO 'TEXT CLAW' & 'ZOMBIE EYES' Rekayasa Kinesiologi Keren Biar Gen Z Gak Jompo Duluan!" Oleh: Mo...