"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Kamis, 21 Mei 2026

Teen Literacy

 LITERASI DIGITAL DASAR

Oleh: Syahla Kamila Putri *)

 


Sekarang ini, informasi di internet itu super cepat banget nyebarnya. Sekali scroll media sosial, kita bisa nemu banyak berita, video, atau postingan dari berbagai sumber. Tapi masalahnya, nggak semuanya bisa dipercaya. Derasnya informasi di internet menciptakan fenomena "banjir informasi" (information overload), di mana volume data yang diproduksi setiap detiknya jauh melampaui kapasitas otak manusia untuk  memprosesnya.

 
Sumber: https://booherresearch.com/making-sense-of-information-overload/

Berikut adalah deretan fakta menarik tentang fenomena ini:

·         Produksi Data Skala Zettabyte. Volume lalu lintas data global di internet telah mencapai skala zettabyte (1 zettabyte setara dengan 1 triliun gigabyte) per tahunnya.

·         Kecepatan Unggah Eksponensial. Setiap menitnya, pengguna internet di seluruh dunia mengirimkan jutaan pesan, mengunggah ratusan jam video baru ke platform seperti YouTube, dan memposting miliaran update di media sosial.

·         Google Hanya "Puncak Gunung Es". Mesin pencari seperti Google hanya mampu mengindeks sebagian kecil dari keseluruhan data di internet (sering disebut Surface Web). Sebagian besar informasi berada di Deep Web atau Dark Web yang tidak dapat diakses pencarian biasa.

·         Pergeseran Pola Pencarian. Generasi masa kini semakin mengandalkan platform video singkat dan media sosial (seperti TikTok atau Instagram) sebagai mesin pencari utama mereka untuk mencari rekomendasi dibandingkan mesin pencari konvensional.

·         Fenomena Information Fatigue. Terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat terbukti memicu Information Fatigue Syndrome.


 Sumber: https://kepunggoogle.biz.id/produk/712392/cara-cerdas-membedakan-berita-hoaks-dan-fakta

Hal ini dapat mengaburkan kemampuan berpikir kritis seseorang dan memicu stres akibat kesulitan memilah antara fakta (kebenaran) dan hoaks. Sebagai pelajar, kita nggak boleh langsung percaya sama informasi yang viral. Kadang judulnya dibuat heboh biar orang kepancing, padahal isinya belum tentu benar. Makanya penting banget buat cek dulu sumbernya sebelum percaya atau ikut-ikutan share.

Meskipun pelajar disebut sebagai "generasi native digital", faktanya penguasaan literasi digital mereka sering kali sebatas mengoperasikan aplikasi, bukan memahami konteks banyak pelajar masih kesulitan membedakan fakta dan hoaks, rentan terhadap kejahatan siber, dan menjadikannya sebagai keterampilan krusial untuk masa depan.

 
Sumber: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-literasi-digital/

Berikut adalah fakta-fakta menarik seputar literasi digital di kalangan pelajar:

  • Jago Gunakan Aplikasi, Kurang Analitis. Pelajar sangat cepat beradaptasi dengan fitur gawai, namun riset menunjukkan hanya sebagian kecil yang mampu mengevaluasi kredibilitas sumber informasi secara kritis. Mereka sering menerima informasi tanpa memverifikasi fakta lebih lanjut.
  • Rentan Terhadap Jebakan Hoaks. Kecepatan menerima informasi di media sosial justru membuat pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar hoaks. Hal ini menuntut perlunya Pentingnya Literasi Digital bagi Generasi Muda untuk mengasah cara berpikir kritis.
  • Kurangnya Kesadaran Privasi Data. Masih banyak pelajar yang membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial, sehingga membahayakan keamanan data diri dan rentan menjadi target kejahatan siber atau perundungan siber (cyberbullying).
  • Pintu Gerbang Sumber Belajar Global. Keunggulan utamanya adalah memberikan akses tanpa batas ke berbagai artikel, buku digital (e-book), dan jurnal ilmiah yang mendukung metode belajar berbasis proyek dan kelas virtual.
  • Empat Pilar Utama Kompetensi. Agar pelajar benar-benar melek digital, mereka harus menguasai empat pilar sekaligus: kecakapan digital (technical), budaya digital (culture), etika digital (ethics), dan keamanan digital (safety).

 

Sumber: https://www.kalananti.id/blog/kenali-bentuk-cyberbullying-agar-aman-dalam-bersosial-media

Literasi digital itu intinya kita harus lebih “aware” dan nggak gampang termakan info yang belum jelas. Kita juga harus bisa bedain mana info yang bermanfaat dan mana yang cuma hoaks atau opini doang. Kalau kita bijak, media sosial bisa jadi tempat yang positif buat belajar dan nambah "insight", bukan malah bikin salah paham. Jadi, kita harus jadi pengguna internet yang lebih smart dan nggak gampang FOMO sama informasi.

Aku ada sebuah pertanyaan nih, yang mau boleh jawab aja yaa ....Menurut kamu, apa yang biasanya bikin orang gampang percaya sama berita di media sosial?

 *) Murid X-C yang sedang belajar menulis

**) Dari berbagai sumber -  sambil memahami 

Rabu, 20 Mei 2026

Local Wisdom

ANTARA PAMALI, TAKHAYUL,DAN TEKNOLOGI JENIUS NENEK MOYANG KITA

Oleh: Nia Komalaningsih, S.Pd *)

 

Di era digital seperti sekarang, manusia hidup berdampingan dengan berbagai bentuk teknologi modern. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi lintas negara terjadi secara instan, dan hampir setiap aktivitas sehari-hari dibantu oleh perangkat digital. Namun jauh sebelum hadirnya internet, telepon pintar, atau kecerdasan buatan, nenek moyang telah lebih dahulu menciptakan “teknologi” mereka sendiri—bukan berupa mesin atau aplikasi, melainkan sistem pengetahuan, simbol budaya, dan aturan sosial yang mampu mengatur kehidupan masyarakat secara efektif. Salah satu bentuk teknologi sosial tersebut adalah pamali.

 
Sumber:anoname@C://user/Download/pamali.1.jpg

Dalam budaya Sunda, kata pamali merujuk pada larangan atau pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Biasanya pamali disampaikan oleh orang tua, kakek-nenek, atau tokoh adat kepada anak-anak sejak usia dini. Bentuknya sederhana, singkat, dan mudah diingat. Misalnya:

§   “Pamali duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.”

§   “Pamali makan sambil tiduran, nanti rezekinya seret.”

§   “Pamali menyapu malam hari, nanti rezeki hilang.”

§   “Pamali keluar rumah saat magrib.”

§   “Pamali memotong kuku malam-malam.”

§   “Pamali berbicara kasar kepada orang tua.”

Bagi sebagian generasi muda, kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar tidak masuk akal, bahkan dianggap sekadar mitos atau takhayul. Namun jika ditelusuri lebih dalam, pamali sebenarnya menyimpan logika, pengalaman empiris, serta kecerdasan sosial yang luar biasa.

 
Sumber: anoname@C://user/Download/pamali.2.jpg

Pamali sebagai Teknologi Sosial

Secara sederhana, teknologi adalah alat atau sistem yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupan. Jika saat ini teknologi hadir dalam bentuk aplikasi, mesin, atau perangkat elektronik, maka pada masa lalu teknologi hadir dalam bentuk aturan budaya. Pamali dapat disebut sebagai teknologi sosial karena berfungsi untuk:

§   mengatur perilaku masyarakat,

§   menjaga keselamatan,

§   menanamkan disiplin,

§   membangun karakter,

§   menjaga hubungan sosial,

§   melestarikan nilai budaya.

Dengan kata lain, pamali adalah “program sosial” yang dirancang leluhur agar masyarakat dapat hidup tertib tanpa harus selalu diawasi. Dalam kajian Sociology, hal ini dikenal sebagai kontrol sosial, yaitu proses yang dilakukan masyarakat untuk menjaga agar anggotanya bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku.

 
Sumber: https://www.facebook.com/photo/?fbid=1378069360995431&set=pcb.1378069467662087

Logika Ilmiah di Balik Beberapa Pamali

1. “Pamali duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.”

Sekilas kalimat ini terdengar tidak ada hubungannya antara duduk di pintu dengan jodoh. Namun jika dianalisis secara logis, pintu merupakan jalur mobilitas utama dalam rumah. Duduk di depan pintu dapat:

§  menghalangi orang keluar masuk,

§  mengganggu sirkulasi udara,

§  meningkatkan risiko tersenggol atau terjatuh,

§  menciptakan kesan kurang sopan terhadap tamu.

Daripada menjelaskan konsep etika, ruang, dan keselamatan kepada anak kecil secara panjang lebar, orang tua menggunakan pendekatan simbolik agar pesan lebih mudah diingat.

 
Sumber:anoname@C://user/Download/pamali.1.jpg

2. “Pamali makan sambil tiduran.”

Dalam ilmu kesehatan, makan sambil berbaring dapat menyebabkan:

§  makanan sulit turun secara optimal,

§  risiko tersedak,

§  gangguan pencernaan,

§  meningkatnya asam lambung.

Tanpa pendidikan medis formal, leluhur memahami pola ini melalui pengamatan dan pengalaman hidup.

3. “Pamali keluar rumah saat magrib.”

Pada masa lalu belum ada lampu jalan, kendaraan, atau sistem keamanan modern. Saat matahari terbenam, lingkungan menjadi lebih gelap dan rawan. Larangan ini bertujuan:

§  menjaga anak tetap aman,

§  menghindari tersesat,

§  melindungi dari binatang liar,

§  menjaga kebiasaan berkumpul bersama keluarga.

Dalam konteks keagamaan, waktu magrib juga identik dengan waktu ibadah dan refleksi diri.

4. “Pamali menyapu malam hari.”

Dahulu penerangan rumah sangat terbatas. Menyapu saat gelap berisiko:

§  barang kecil ikut terbuang,

§  rumah tidak benar-benar bersih,

§  energi terbuang untuk pekerjaan yang kurang efektif.

Artinya, larangan ini berkaitan dengan efisiensi kerja.

5. “Pamali memotong kuku malam hari.”

Pada masa lampau, alat potong kuku belum seaman sekarang. Memotong kuku saat gelap dapat menyebabkan:

§  jari terluka,

§  kuku tercecer,

§  risiko infeksi.

Larangan ini merupakan bentuk edukasi keselamatan.

 
Sumber: https://www.literasiliwangi.com/content/read/traveling/882/nilai-moral-dalam-pamali-sebagai-bentuk-kearifan-lokal

Pamali sebagai Media Pendidikan Karakter

Selain menjaga keselamatan, pamali juga berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui pamali anak diajarkan:

§  sopan santun,

§  menghormati orang tua,

§  menjaga kebersihan,

§  disiplin waktu,

§  tanggung jawab,

§  kepedulian terhadap lingkungan.

Misalnya larangan berkata kasar kepada orang tua bukan hanya persoalan adat, tetapi bagian dari pembentukan moral dan etika sosial. Dalam perspektif Sociology, pamali berkaitan erat dengan nilai sosial, norma sosial, dan proses sosialisasi, yaitu bagaimana individu belajar menjadi bagian dari masyarakat.

Apakah Semua Pamali harus dipercaya?

Pertanyaan ini penting bagi generasi muda. Tidak semua pamali harus diterima secara mentah. Sebagai masyarakat modern, kita perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Setiap pamali dapat dikaji:

§  Apa tujuan larangan ini?

§  Kondisi sosial apa yang melatarbelakanginya?

§  Apakah masih relevan dengan kehidupan sekarang?

§  Nilai apa yang ingin diwariskan?

Dengan cara berpikir seperti ini, generasi muda tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga penafsir budaya.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/aurelliatsany8634/661f5804de948f1b297a6f42/

Pamali di Era Modern

Meski zaman berubah, esensi pamali masih sangat relevan. Hanya bentuknya yang berbeda. Jika dahulu orang tua berkata “Pamali keluar malam,” sekarang mungkin berubah menjadi “Jangan pulang terlalu malam, lokasi rawan.” Jika dahulu ada “Pamali terlalu lama bermain di luar,” kini bisa berubah menjadi “Batasi screen time dan penggunaan media sosial.” Artinya, teknologi boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia terhadap aturan, nilai, dan kontrol sosial tetap sama. Nenek moyang mungkin tidak mengenal smartphone, algoritma, atau kecerdasan buatan. Namun mereka memahami satu hal penting: manusia membutuhkan sistem agar hidup tetap tertib. Dan melalui pamali, mereka berhasil menciptakan teknologi sosial yang sederhana, murah, mudah diingat, tetapi sangat efektif. Jadi,pamali dilakukan sekadar takhayul. Di balik kalimat sederhana yang diwariskan lintas generasi, tersimpan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, pendidikan karakter, dan kecerdasan budaya yang tetap relevan hingga hari ini.

Terimakasih ..selamat membaca semoga bermanfaat!!

*) Guru Geografi & Sosiologi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Paskibra, pengamat masalah sosial dan dunia remaja

**) disarikan dari berbagai sumber

Selasa, 19 Mei 2026

Sportscience

 BATRE SOSIAL 1%

Oleh: Moria Florentino, S.Si. *)

 

Pernah merasa badan ada di kelas, tapi jiwa sudah logout? Mau belajar malas, disuruh gerak ngos-ngosan, lihat tugas langsung pusing. Nah, bisa jadi itu tanda “batre sosial dan fisik” kamu sudah tinggal 1%. Anak zaman sekarang sering full aktif di dunia online, tapi lowbat di dunia nyata. Tidur larut karena scrolling, makan tidak teratur, jarang gerak, lalu berharap badan tetap fit. Padahal tubuh bukan robot yang bisa dipaksa online 24 jam. Kurang gerak bikin badan gampang lemes, fokus buyar, dan mood gampang error. Makanya PJOK bukan cuma soal olahraga, tapi soal menjaga tubuh supaya tetap waras dan kuat menghadapi aktivitas sehari-hari.

Sumber: https://kumparan.com/kimberly-kayla-kitzie/mengapa-stres-dan-kecemasan-menguras-social-battery-anda-lebih-cepat-24OO02wSGee

Kadang yang bikin capek bukan lari di lapangan, tapi lari dari tugas, overthinking, dan notifikasi yang tidak ada habisnya. Otak terus dipakai, tapi tubuh malah diajak rebahan terus. Akibatnya badan jadi kaku, mata lelah, dan energi cepat habis bahkan sebelum hari selesai. Banyak siswa merasa “healing” cukup dengan main HP berjam-jam. Padahal semakin lama tubuh diam, semakin malas juga badan untuk bergerak. Sedikit demi sedikit stamina menurun. Naik tangga capek, olahraga sebentar langsung tumbang, bangun pagi rasanya seperti habis marathon.


 Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=YEz7aopWAGY

Tubuh sebenarnya selalu memberi sinyal. Kalau gampang ngantuk, sering pegal, susah fokus, atau mood naik turun terus, itu bukan drama  bisa jadi tubuh sedang minta istirahat dan gerak yang cukup. Sayangnya banyak orang lebih peduli baterai HP daripada baterai tubuh sendiri. Kurang tidur juga jadi salah satu penyebab tubuh cepat “nge-lag”. Begadang demi scrolling atau main game memang terasa seru, tapi efeknya bikin otak susah fokus, mata berat, dan badan gampang sakit. Tidur cukup bukan tanda malas, tapi cara tubuh memperbaiki energi dan menjaga kesehatan.

 
Sumber: https://smpn1mojokedirikab.sch.id/2025/07/10/bahaya-kurang-tidur-pada-remaja/

Selain itu, minum air putih sering dianggap sepele. Banyak siswa lebih sering minum es kopi atau minuman manis daripada air putih. Padahal tubuh yang kekurangan cairan bisa membuat kepala pusing, badan lemas, dan konsentrasi menurun saat belajar maupun olahraga. Makan juga jangan asal kenyang. Tubuh butuh makanan bergizi supaya punya tenaga dan daya tahan yang baik. Kalau setiap hari hanya makan junk food dan jarang buah atau sayur, tubuh akan lebih cepat lelah dan mudah drop. Badan yang sehat dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Mulai sekarang coba upgrade kebiasaan kecil. Kurangi scroll tengah malam, perbanyak gerak, dan jangan malas olahraga walau cuma sebentar. Karena badan yang sehat bikin pikiran lebih enak dipakai, mood lebih stabil, dan aktivitas sehari-hari jadi tidak terasa berat.

Sumber:https://www.asuransiku.id/blog/pentingnya-olahraga-untuk-meningkatkan-daya-tahan

Ingat, hidup bukan cuma soal WiFi kencang dan storage lega. Tubuh juga butuh “update sistem” supaya tidak ngelag menjalani hari.

*) Guru PJOK di SMAN 1 Pangalengan. Penggiat Olah raga tradisional di Kabupate Bandung.

**) dari berbagai sumber

Senin, 18 Mei 2026

Artphedia

  “KINTSUGI” SENI MERAYAKAN LUKA DAN KETIDAKSEMPURNAAN HIDUP VERSI JEPANG

Oleh: Lia Nurpalah, S.Pd  *)

Minasan coba perhatikan mangkuk di bawah ini

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/kintsugi

Mangkuk di atas merupakan salah satu contoh dari seni Kintsugi . Secara harfiah kata Kintsugi berarti “menyambung dengan emas”. Kintsugi merupakan seni merangkai kembali keramik yang pecah dengan menggunakan emas agar kembali menjadi utuh dan menjadi karya seni baru serta bernilai tinggi.

 
Sumber: https://samuraiwr.com/persons/ashikaga-yoshimasa

Seni Kintsugi lahir pada abad ke 15. Pada saat itu Shogun Ashikaga Yoshimaya memecahkan mangkok teh kesayangannya. Lalu mangkok tersebut dikirim ke China untuk diperbaiki. Namun mangkok tersebut distaples dengan menggunakan besi jelek.

 

Sumber: https://x.com/ForceMaterial/status/1111276504049045504

Kecewa dengan hasilnya, pengrajin Jepang mencari cara lain yang lebih estetis. Maka lahirlah seni kintsugi, dimana kerusakan tidak disembunyikan melainkan dipamerkan sebagai bagian dari sejarah barang tersebut. Pada artikel ini tidak akan dibahas mengenai teknik mengelem keramik, namun mengenai Filosopi dari Kintsugi itu sendiri.

                Manusia di dunia ini pernah mengalami kegagalan, baik di dunia kerja, keluarga maupun percintaan. Kegagalan membuat manusia kecewa, hancur dan tidak mungkin bisa “disatukan “ kembali. Dari seni kintsugi, kita bisa belajar bahwa diri yang hancur karena kegagalan bisa kembali utuh kembali. Mari kita lihat Filosopi lainnya yang bisa dijadikan pedoman atau pegangan hidup.

  1. Menerima Kekurangan (Wabi sabi).

Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kekurangan hadir diiringi dengan kelebihan. Kelebihan hadir untuk menutupi kekurangan kita. Kelebihan yang dimiliki tidak akan muncul kalau tidak ada kekurangan.

 

Sumber: https://derekjwheeler.wordpress.com/2023/09/28/kintsugi

Penerimaan merupakan salah satu gerbang kebahagiaan. Kebanyakan dari kita menolak kekurangan, kegagalan, dan kekecewaan. Jadikan kegagalan sebagai warna dalam kehidupan kita. Tanpa kegagalan kita tidak akan pernah berhasil. Bangkit dan kita perbaiki mana yang bisa diperbaiki.

  1. Luka adalah sejarah, bukan hal yang memalukan.

umber: https://newmedia.calcalist.co.il/magazine-15-09-22/m05.html

Setiap goresan dan kepingan luka kita rajut dengan harapan. Harapan itu masih ada selagi kita diberi nafas. Luka itu mengajarkan bahwa kita harus waspada dan berhati hati dalam bertindak. Selain itu luka adalah sejarah yang mana kita bisa belajar dari peristiwa tersebut. Jadikan sejarah sebagai kompas dan cermin untuk kita melangkah ke depan.

  1. Menghargai Proses penyembuhan.

Merajut asa merakit kepingan kepingan luka supaya sembuh, tidak akan begitu mudah. Sama halnya dengan merakit kembali kepingan kepingan keramik yang pecah,butuh waktu dan proses yang sedikit panjang.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerima luka tersebut secara sadar. Lalu lepaskan emosi negatif yang ada di dalam diri, dengan journaling menulis semua emosi yang dirasakan. Setelah itu kita merekonstruksi diri dan membangun kembali rutinitas hidup yang sempat hancur. Berikutnya adalah menunggu dengan sabar proses rekonstruksi tersebut. Terakhir menemukan hikmah dan kekuatan baru untuk maju dan melangkah.

Simpulan yang bisa diambil dari Filosopi Kintsugi adalah sesakit apapun sehancur apapun hidup dan diri manusia pasti ada hikmah pelajaran yang bisa diambil dan dijadikan acuan untuk melangkah dan melanjutkan hidup. Allah menciptakan manusia untuk bahagia. Jadi minasan 

BERBAHAGIALAH !!!!KITA RAYAKAN HIDUP INI DENGAN SUKA CITA!!!

 

*) Guru Bahasa Jepang di SMAN 1 Pangalengan. Pembina ekstrakurikuler Japanese Club

**) dirangkum dari beberapa sumber

Teen Literacy

  LITERASI DIGITAL DASAR Oleh: Syahla Kamila Putri *)   Sekarang ini, informasi di internet itu super cepat banget nyebarnya. Sekali s...