"May the essence of International Day of Peace inspire us to be ambassadors of peace, spreading love, tolerance, and understanding wherever we go" @abuafifi

Rabu, 30 September 2026

Collaborative Writing

 MENGAMBIL DUNIA UNTUK KESELAMATAN DI AKHIRAT

Oleh: Asep Istiqlal, S.Pd   *)

 

 عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ . [رواه البخاري]

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah saw memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “ (Riwayat Bukhori).

 
Sumber: https://alhaqcentremalaysia.com/?p=6987

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:

1.       Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.

2.       Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu .

3.       Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah Ta’ala untuk kehidupan akhirat.

4.       Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.

5.       Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.

6.       Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.

7.       Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal shaleh.

8.       Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.

 
Sumber: https://pwmu.co/saat-sehat-dan-waktu-luang-terbuang-penyesalan-pun-datang/

 Tema hadits yang berkaitan dengan Al qur'an

1. Hakikat kehidupan

كُلُّ نَفْسٍ ذائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فازَ وَمَا الْحَياةُ الدُّنْيا إِلاَّ مَتاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali-Imron:185].

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210430114611-284-636863/pentingnya-membalas-keburukan-dengan-kebaikan

2. Optimalisasi setiap kesempatan :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. [Alam Nasyrah: 7-8].

*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan. Koordinator MBG. Aktivis olah raga Alam terbuka

**)  dari berbagai sumber


PRIA BERTOMPEL DAN PRIA BERPARANG DI PIPI

Oleh: Regina Atha Bhanuwaty Putrizal (X-H)

Jakarta, malam 04 Oktober 1965. 

Beberapa waktu lalu, 30 September 1965. Aku dengar ibu-ibu desa ngobrol di warung. Katanya ada jendral-jendral yang diculik, dihabisi nyawanya. Aku gak ngerti dihabisi itu apa, Kata Ari, diculik itu artinya aku gak bisa bertemu ibu dan adik wulan. 

Serem. 

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/53761789290899713/

Umurku 10 tahun. Ibu memanggilku raharni. Ibu sedang duduk termenung di depan pintu. Ini dini hari yang dingin "Bu...tadi aku denger ada suara keras, kenapa bu?" Suara kecil raharni memecah lamunan sang ibu. "Ndhok, kamu kaget yah? Gak ada apa apa, paling kamu salah denger" ucap sang ibu lalu menyuruhku kembali ke tempat tidurnya. Aku yang masih setengah mengantuk itu mengangguk dan berjalan kembali ke kamar. 

Keesokan paginya ketika aku akan berangkat ke sekolah aku bertanya pada ibu "Ibu, bapak kemana? Kok aku gak liat, bapak belum bangun?" Tanyaku "Bapak sudah pergi duluan tadi" ucap ibu tanpa banyak menjelaskan. Dan lagi lagi aku hanya kembali menganggukkan kepala. Di sekolah, teman-teman raharni sibuk menceritakan hal yang dialami masing-masing anak di rumah. Ari temanku yang bapaknya petani bawang memulai pembicaraan lebih dulu. "tadi malam gaduh sekali, katanya para pemuda dan bapak-bapak diangkut menggunakan truk dibawa entah kemana" jelasnya Dimas "benar! Karna itu ayah dan pamanku lari ke gua jepang di belakang bukit sawi! 

Suasananya mencekam sekali semalam!" Timpalnya. Aku yang mendengar obrolan teman teman merasa aneh, karna bapak juga tidak terlihat pagi ini. Tapi aku memilih untuk tidak mengambil pusing dan memilih mengerjakan tugas yang belum selesai. 
Ketika hari Minggu tiba, biasanya anak-anak desa akan pergi berenang di sungai desa mereka. Tapi 
pagi ini ketika aku seperti biasa meminta izin kepada ibu untuk diizinkan bermain ibu menolaknya.
"Bu, aku mau main di sungai belakang sama temen. Biasaaa..."ucapku manja
"Jangan, Ndhok. Airnya lagi sakit, anak anak yang lain juga gak akan ada yang datang. Orang tua 
mereka juga pasti ngelarang"ucap ibu sambil mengaduk sayur di wajan.
"Tapi bu, banyak ikan disana, rani mau mancing sambil berenang..."bujukku pada ibu
"Ibu bilang gak ya gak, sudah balik kamar saja. Belajar! Besok kau ada ulangan bukan? Jangan malu 
maluin ibu kau dapat nilai jelek"omel ibu
"Iya bu iya..."desahku kecewa.
Padahal ibu raharni tau, air sakit yang dimaksud adalah air sungai yang berubah warna menjadi 
merah dan berbau amis darah pekat. Beberapa hari ini kebelakang di temukan beberapa tubuh 
terdampar di pinggir sungai. Ada yang bagian tubuhnya tak lengkap. Karena air merah itu banyak 
ikan-ikan mengambang mati, dan membuat warga desa tak bisa pergi memancing, mandi ataupun 
mengambil air.
Ini sudah seminggu bapak tidak pulang, aku mulai bertanya-tanya pada ibu. Karna setiap malam 
ketika sehabis makan selalu ada segerombolan pria paruh baya berjumlah sekitar 4-6 orang 
mendatangi rumah dan menghujani ibu dengan beragam pertanyaan, tak jarang ibu dan gerombolan 
pria paruh baya itu sampai adu mulut karena mereka memaksa ibu untuk menjawab pertanyaan 
mereka. Pernah satu hari satu orang pria paruh baya dalam kelompok itu, yang punya tompel di atas 
bibirnya bersikap terlalu keras sampai membanting kursi di ruang tamu sampai membangunkan adik 
wulan yang masih bayi tertidur dan menangis. Ibu yang marah langsung membentak dan menunjuk 
setiap orang itu "Saya benar benar tidak tau! Jangan ganggu saya! Di sini hanya ada saya dan kedua 
putri saya! Pergilah! Saya tidak takut! Pergi! "Berang ibu. Kemudian salah seorang pria paruh baya 
yang memiliki bekas parang di pipinya menarik pria tompel itu dan pamit.
Rasa takut selalu menjalarku ketika gerombolan pria itu datang setiap malam. Karena itu setiap habis 
makan dimalam hari ibu selalu menyuruh ku masuk kamar dan mengunci pintu. 
Keesokan paginya, aku terbangun karena mendengar suara teriakan. Itu ibu Surindah, ibunya Ari. 
Ketika rumahnya di datangi warga yang membawa tubuh ayah ari. Ku lihat dari jendela ruang tamu,  
ku lihat tubuh ayah ari yang biasanya mengangkut karung kini berbaring di pelantaran rumah, 
tubuhnya seperti daging merah yang ibu dapat ketika kurban. Aku baru tau orang tidur matanya gak 
harus tertutup.
Dan di dadanya terdapat 2 buah lubang kecil yang tak ku ketahui apa sebabnya.
Pagi itu tak ada anak di desaku yang pergi sekolah, semuanya pergi melayat ke rumah Ari.
Di sore hari ketika aku baru pulang dari mengaji bersama ustadz Rohman di masjid bersama Mirah. 
Kami lihat lagi para pria dan dimas sedang menggotong beberapa orang yang dari kelihatannya itu 
dari sungai. Kami langsung membelalakkan mata itu adalah Pak Rojid dan Pak Anson. Mereka 
semua teman bapak, kupikir bapak pergi bersama mereka. Seingat ku mereka punya beberapa buku 
dengan gambar palu dan arit berwarna merah dan kuning.

Sumber: https://kitaabnow.com/product/the-communist-manifesto-2/
Kemudian aku lihat ibu berlari ke arahku dan menyuruhku segara pulang ke rumah jangan keluyuran 
kemana mana katanya dimas teman sekolah ku menghilang, ibunya mencari kemana kemari tak jua 
ketemu si empu anak itu. Awalnya dipikir hanya bermain ke sungai atau hutan kebun di belakang tapi 
sampai malam tak juga kembali. Itulah yang membuat pak RT menyuruh beberapa warga laki laki 
yang masih tersisa untuk turut menbantu mencari dimas. Walau menurut ibu, si dimas ini diangkut 
truk ketika main terlalu jauh.
Malam hari, ketika kami makan malam bersama. Aku kembali menanyakan bapak pada ibu 
"Bu, bapak sebenarnya kemana? Ini udah lebih dari seminggu...
Rani kangen bapak" ucap rani sambil mengaduk nasi di piringnya
"Ibu juga gak tau, rani. Bapakmu gak ngasih kabar, doain aja semoga bapakmu baik baik aja dan 
segera pulang" ucap ibu sambil memomong adik Wulan
Aku hanya memoyongkan bibirku cemberut. Kemudian kembali melahap makan malam buatan ibuku 
itu.
Tapi sebelum sempat makanan di piringku habis. Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Ibu seraya 
bangkit dan berkata "Sudahi makanmu, rani. Pergi masuk kamar. Kunci." Ucap ibu singkat kemudian 
menggendong adik Wulan ke luar bersamanya.
Di kamar, karena masih belum mengantuk aku memutuskan untuk membuka buku pelajaran ku saja 
seingatku bu Lingga menyuruh kami menyelesaikan tugas penjumlahan matematika. Ini mudah sekali 
bagiku. Pikirku.
Tapi ketika sedang asyik mengerjakan soal. Fokusku buyar. Terdengar suara ibu yang beradu mulut 
dengan pria bertompel dan dihalangi pria berparang di pipi. Dengan suara adik Wulan yang 
menangis di pelukan ibu.
Aku takut, karena pria bertompel itu benar benar marah kali ini. Dia membanting meja dan kursi, dia 
memaksa ibu untuk menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Dimana bapak" tapi ibu 
mengelak dan menjawab. Sampai akhirnya mereka tak sabar lagi dan merangsek masuk ke dalam. 
Mereka mendobrak setiap pintu dan mengacak-acak setiap sudut rumah. 
"Cari si tua itu! Dia pasti sembunyi di dalam! Kalau dia tidak ketemu kita bisa kena pukul!" Ucap pria 
dengan tompel di pipi memerintah.
Aku gemetar. Aku segara meninggalkan meja belajarku dan masuk ke dalam lemari dan berusaha 
tidak menimbulkan suara apapun. 

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/gadis-kecil-menutup-mulutnya-dengan-tangannya
Derap langkah mereka kini menuju kamarku pintu yang tadi ku kunci mereka dobrak dengan sekali 
tendang. Brak!
"Dimana si tua itu sembunyi sebenarnya! Cari dibawah kolong atau sudut!" Ucap pria bertompel. Aku 
menahan nafas dan menutup mulutku dengan tangan berusaha tidak menimbulkan suara apapun.
Sampai telingaku menangkap suara seseorang yang tak kukenal berdiri di depan lemari tempat ku 
bersembunyi. Saat itu juga aku menyebut nama tuhanku, membaca dalam hati segala doa yang 
kuingat. "Allahumma bariklana, alluhama aya bismika...." batinku berdoa. Semakin dekat suara itu 
dengan lemari tempatku bersembunyi. Dret...dret..dret
"Si tua itu tidak ada dimanapun, kata wanita itu dia punya dua putri satu lagi dimana?" Ucap pria 
dengan bertompel yang bisa kutangkap.
Kemudian sebelum sempat aku menahan nafas pintu lemari yang menjadi tempat terakhir ku 
bersembunyi dibuka.
Kulihat wajah pria bertompel dengan jelas dan berparang yang sedang berdiri dekat pintu kamarku 
menatap ke arahku dengan alis mengeryit. Sedangkan pria bertompel itu menahan jijik.
Kurasakan hangat diantara kedua pahaku. Kulirik ke bawah. Ternyata aku tak bisa menahan kandung 

kemih ku karena rasa takut yang menjalar.


*) Ditulis untuk mengingat bahwa sejarah tidak hanya tertulis di buku. Tapi juga bisa dirasakan, 

mengenang peristiwa ketidakadilan dan kekerasan di tahun 1965 yang sebelumnya terlupakan


Selasa, 29 September 2026

In The Moment

 3 ANGKATAN, 3 PETA PERJUANGAN

Oleh:  Pipit Pitriani, S.Pd *)

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Pagi ini, di sekolah kita, ada tiga cerita yang sedang berjalan bersamaan.  Tiga angkatan, tiga perjalanan, dan masing-masing memiliki peta perjuangannya sendiri.

Untuk Kelas X

 

Selamat, anak-anak. Panggung Gelar Karya kalian telah selesai. Lapangan yang kemarin dipenuhi musik, gerakan, semangat, dan tawa bukan sekadar tempat untuk tampil. Itu adalah peta pertama perjalanan kalian. Di sana kalian belajar sesuatu yang mungkin tidak tertulis di buku paket Geografi. belajar membaca ruang, membaca irama,  mengatur langkah, dan yang paling penting, belajar membaca teman satu tim. Kalian belajar bahwa sebuah gerakan akan terlihat indah ketika dilakukan bersama. Terima kasih sudah menunjukkan bahwa kekompakan adalah kompas terbaik untuk mencapai tujuan bersama.

Sumber: https://www.tiktok.com/discover/motivasi-kekompakan-dan-kebersamaan

Untuk Kelas XI

Sementara itu, Sidang Mini Riset kalian juga baru saja usai. Jika Kelas X menaklukkan panggung dengan gerakan, kalian menaklukkan panggung dengan gagasan. Kalian belajar menjadi peneliti muda: merumuskan masalah, mencari data, menganalisis informasi, menyampaikan pendapat, dan mempertahankan argumen.

Itulah salah satu bentuk literasi yang sesungguhnya. Kalian tidak lagi hanya belajar membaca peta, tetapi mulai belajar membuat peta pengetahuan kalian sendiri. Setiap data yang kalian temukan, setiap pertanyaan yang kalian ajukan, dan setiap kesimpulan yang kalian buat adalah bagian dari perjalanan menuju cara berpikir yang lebih matang.

Sumber: https://tebuireng.online/cara-islam-mendorong-critical-thinking/

Untuk Kelas XII

Dan untuk Kelas XII, panggung kalian justru sedang menunggu di depan mata. Tes Kemampuan Akademik atau TKA menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan kalian. Jika adik-adik kelas X dan XI kemarin belajar menghadapi tantangan di panggung, kalian sedang berada dalam fase pendakian menuju puncak. Dalam Geografi, semakin tinggi suatu tempat, semakin menantang perjalanan untuk mencapainya. Lelah itu wajar. Ragu itu manusiawi. Tetapi jangan berhenti. Karena sering kali, pemandangan terbaik justru terlihat dari tempat yang berhasil kita capai setelah melalui pendakian yang panjang.

 

Sumber: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id/id/artikel/7-wisata-alam-terindah-di-jawa-tengah

Untuk Kita Semua

Bapak/Ibu dan anak-anakku sekalian, Hari ini kita juga akan menerima peta perjalanan semester ini: Raport PTS. Ingatlah, peta bukanlah tujuan. Raport bukanlah vonis tentang siapa yang pintar dan siapa yang tidak. Raport hanyalah penanda posisi. Ia sedang memberi tahu kita: “Kamu sedang berada di sini.” Jika hasilnya baik, jangan cepat berpuas diri. Teruslah bergerak, karena perjalanan masih panjang. Jika hasilnya belum sesuai harapan, jangan berputus asa. Sungai tidak pernah marah ketika jalannya harus berbelok. Ia hanya mencari jalan lain untuk tetap menuju laut. Begitu pula kita.

·         Ketika satu cara belum berhasil, kita bisa memperbaiki cara.

·         Ketika satu rute terlalu sulit, kita bisa mencari rute lain.

·         Ketika langkah kita terasa lambat, kita tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Karena yang terpenting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa jauh kita mau terus bergerak dan memperbaiki diri. Maka, mari kita jadikan hasil PTS ini sebagai bahan untuk membaca kembali perjalanan kita: Apa yang sudah baik? Apa yang perlu diperbaiki? Dan langkah apa yang akan kita ambil setelah ini?

Tiga angkatan, tiga perjalanan, tiga peta perjuangan. Semoga setiap langkah yang kita tempuh hari ini membawa kita semakin dekat kepada tujuan yang kita impikan. Selamat untuk seluruh perjuangan Bapak/Ibu dan anak-anak semua di semester ini. Teruslah bergerak. Teruslah belajar. Dan jangan takut untuk memperbaiki arah. Karena setiap perjalanan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*) Guru Geografi di SMAN 1 Pangalengan. Staf Kesiswaan. Koordinator Kegiatan Kokurikuler.

**) dari berbagai sumber

Senin, 28 September 2026

Humanica

 MANUSIA DAN SENI MEMAHAMI SESAMA

“Tidak Semua Yang Diam Berarti Baik-Baik Saja, Dan Tidak Semua Yang Tersenyum Berarti Tanpa Masalah.”

Oleh: d’$h3  *)



Setiap manusia memiliki cerita yang berbeda. Ada orang yang terlihat ceria, tetapi sebenarnya sedang menghadapi banyak masalah. Ada pula seseorang yang terlihat pendiam, tetapi memiliki banyak hal yang ingin diceritakan. Kita sering kali hanya melihat apa yang tampak dari luar tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh orang lain. Karena itu, memahami sesama merupakan salah satu kemampuan penting dalam kehidupan.

 
Sumber: https://islamiccenterkaltim.org/posts/detail/persepsi-memahami-dunia-dari-sudut-pandang-berbeda

Ada beberapa faktor yang harus kita pahami mengenai seni memahami sesama

1.       Kita Tidak Pernah Benar-Benar Tahu Cerita Seseorang Setiap hari kita bertemu banyak orang. Kita melihat teman yang tertawa, guru yang tersenyum, seseorang yang berjalan dengan tenang, atau teman yang selalu terlihat ceria. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin ada cerita yang tidak mereka tunjukkan?. Tidak semua orang menceritakan masalahnya. Ada yang memilih diam karena tidak ingin merepotkan orang lain. Ada yang tetap tersenyum meskipun sedang merasa lelah. Ada pula yang terlihat biasa saja, padahal sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri. Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan keadaan seseorang hanya dari apa yang kita lihat. Yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari sebuah cerita.

2.       Sebuah Kata Bisa Tinggal Lebih Lama daripada yang Kita Kira Pernahkah kita mengatakan sesuatu sebagai candaan, tetapi ternyata membuat orang lain merasa terluka?. Bagi kita mungkin hanya sebuah kalimat sederhana. Namun, bagi orang lain, kalimat itu mungkin terus teringat. Terutama ketika seseorang sedang tidak percaya diri atau sedang menghadapi masalah. Kita tidak selalu bisa mengetahui bagaimana perasaan seseorang setelah mendengar perkataan kita. Karena itu, sebelum berbicara, ada baiknya kita berhenti sejenak dan berpikir:

Apakah kata-kata saya perlu disampaikan?

Apakah cara saya menyampaikannya sudah baik?

Bagaimana jika saya berada di posisi orang tersebut?

Apakah perkataan saya akan membantu atau justru menyakiti?

Tidak semua yang bisa dikatakan harus dikatakan.

 

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/solusi-konsep

3.       Ada Orang yang Hanya Ingin Didengarkan Ketika seseorang datang dan bercerita tentang masalahnya, kita sering ingin segera memberikan solusi.

“Kamu harus begini.”

“Seharusnya kamu jangan begitu.”

“Ah, itu belum seberapa.”

Padahal, mungkin mereka tidak sedang mencari solusi. Mereka hanya ingin didengarkan.

Terkadang, menjadi pendengar yang baik jauh lebih berarti daripada memberikan nasihat panjang. Duduk di samping seseorang, mendengarkan ceritanya, dan mengatakan “Aku ada di sini kalau kamu ingin bercerita” bisa menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti. Kita tidak harus memiliki jawaban untuk semua masalah seseorang. Terkadang, kehadiran kita sudah cukup untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian.

4.       Jangan Menjadikan Perbedaan sebagai Alasan untuk Merendahkan Di sekolah, kita bertemu dengan banyak orang yang berbeda. Ada yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan lebih banyak waktu. Ada yang percaya diri berbicara di depan kelas, ada yang lebih nyaman bekerja dalam diam. Ada yang memiliki banyak teman, ada pula yang hanya memiliki beberapa orang yang benar-benar dekat dengannya. Tidak ada manusia yang memiliki perjalanan yang sama. Karena itu, jangan menjadikan kelebihan kita sebagai alasan untuk merendahkan orang lain. Jangan pula menjadikan kekurangan seseorang sebagai bahan candaan. Kita tidak pernah tahu, mungkin orang yang kita anggap biasa saja sedang berjuang menjadi versi terbaik dari dirinya.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/DbXliecATr6/

5.       Belajar Memahami di Era Media Sosial Media sosial membuat kita mudah melihat kehidupan orang lain. Kita melihat foto bahagia, pencapaian, liburan, pertemanan, dan berbagai momen indah. Namun, kita sering lupa bahwa media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Jangan membandingkan seluruh kehidupan kita dengan beberapa detik kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan. Dan jangan pula menilai seseorang hanya dari unggahan yang kita lihat. Di balik layar, setiap orang memiliki cerita yang tidak kita ketahui. Apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.

6.       Kebaikan Kecil yang Mungkin Tidak Pernah Kita Sadari Kita sering berpikir bahwa untuk menjadi berarti, kita harus melakukan sesuatu yang besar. Padahal, mungkin seseorang mengingat kita hanya karena suatu hal sederhana.

Karena kita pernah membantunya ketika kesulitan.

Karena kita pernah mengatakan, “Kamu pasti bisa.”

Karena kita pernah duduk di sampingnya ketika tidak ada orang lain.

Karena kita tidak ikut menertawakannya ketika semua orang sedang melakukannya.

Kebaikan kecil mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa detik bagi kita, tetapi bisa menjadi sesuatu yang diingat seseorang dalam waktu yang lama.

 

Sumber: https://www.centervention.com/think-before-you-speak/

7.       Menjadi Manusia yang Lebih Peka Kita semua pernah salah. Pernah salah bicara, salah memahami seseorang, atau bahkan tanpa sengaja membuat orang lain terluka.

Yang membuat kita menjadi lebih baik bukan karena kita tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi karena kita mau belajar dari kesalahan tersebut.

Mulailah dari hal sederhana:

Dengarkan sebelum menilai.

Pikirkan sebelum berbicara.

Hargai sebelum membandingkan.

Maafkan ketika mampu.

Minta maaf ketika melakukan kesalahan.

Bantu ketika kita memiliki kesempatan.

Jangan membuat orang lain merasa kecil hanya agar kita terlihat besar.

Kita mungkin tidak bisa membuat semua orang bahagia. Kita juga tidak mungkin menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia. Tetapi kita selalu bisa memilih untuk tidak menambah luka orang lain.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. Mendapatkan tugas tabahan sebagai Pembina Marching Band SMAN 1 Pangaengan.

**) dari beragam sumber rjukan

Minggu, 27 September 2026

Matemagic

CARA MATEMATIKA MENGENDALIKAN HIDUP KITA SEHARI-HARI

Oleh:  Wildaningsih, S.Pd *)

Pernahkah kamu terbangun di pagi hari, melihat jam dinding, lalu memutuskan untuk menunda alarm selama sepuluh menit lagi? Atau saat sedang scrolling di toko online, kamu tiba-tiba membeli barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar belanjaanmu?Kamu mungkin merasa bahwa semua tindakan itu adalah hasil dari kehendak bebasmu sendiri. Namun, di balik layar kesadaranmu, ada sutradara tak kasat mata yang bekerja tanpa henti: Matematika. Matematika bukan sekadar lembar ujian bertuliskan angka dan rumus x atau y yang membuat pusing. Matematika adalah bahasa dasar dari cara dunia bekerja, logika berpikir, hingga mesin raksasa yang mengarahkan setiap langkah kecil dalam hidupmu hari ini.


Sumber: https://www.instagram.com/reels/DUiQKzHEoMu/

Ilusi Diskon dan Psikologi AngkaSaat kamu membeli kopi hari ini dan melihat promosi "Beli 2 Gratis 1" atau diskon "Up to 70%", otakmu langsung memprosesnya sebagai keuntungan besar. Di sinilah Teori Permainan (Game Theory) dan Probabilitas bermain.Para pemasar tidak cuma jualan produk; mereka menggunakan algoritma penetapan harga dan analisis data perilaku untuk memicu hormon dopaminmu. Keputusanmu untuk mengeluarkan uang hari ini sering kali merupakan hasil dari perhitungan statistik yang sudah diprediksi oleh toko tersebut sejak berbulan-bulan lalu.

Sumber: https://id.pngtree.com/freepng/buy-2-free-get-1-offer-image_5949686.html

Algoritma. Tangan Tak Terlihat di Layar HP-muBerapa jam yang kamu habiskan di media sosial hari ini? Postingan mana yang kamu beri like, video apa yang kamu tonton sampai habis, dan iklan apa yang membuat jempolmu berhenti mengetuk?Setiap scroll yang kamu lakukan diatur oleh Matrix, Aljabar Linear, dan Teori Graf dalam bentuk algoritma rekomendasi. Sistem ini menghitung tingkat keterikatan (engagement rate) secara real-time. Keputusanmu untuk mengeklik satu video ketimbang video lainnya sebenarnya adalah hasil navigasi halus dari persamaan matematika yang dirancang untuk menjaga perhatianmu selamanya.

Teori Peluang dalam Pilihan Rute Hari IniBahkan ketika kamu memilih rute jalan untuk berangkat kerja atau sekolah, kamu sedang menjalankan Optimasi Matematika. Saat membuka aplikasi peta, sistem akan menghitung rute terpendek menggunakan Dijkstra’s Algorithm - sebuah metode matematis untuk menemukan jalur efisien di antara titik-titik kemacetan. Kamu merasa memilih rute itu karena "firasat" ingin menghindari macet, padahal kamu hanya mengikuti kalkulasi ribuan variabel lalu lintas yang diselesaikan dalam hitungan milidetik.

Sumber: https://blog.garybricks.com/dijkstra-algorithm-introduction-for-beginners

Matematika Adalah kacamata, bukan beban. Kita sering membenci matematika karena sekolah mengajarkannya sebagai kalkulasi kaku di atas kertas. Padahal, matematika adalah kacamata untuk melihat pola di balik kekacauan dunia.Hari ini, kamu tidak hanya hidup di dunia nyata, tetapi juga hidup dalam jaring-jaring keputusan yang dibangun dari data dan pola. Memahami matematika secara intuitif membuatmu tidak lagi menjadi objek yang dikendalikan oleh algoritma atau trik pemasaran, melainkan pengendali atas keputusanmu sendiri.


Sumber: https://web.facebook.com/61552262954354/posts/referensi-lkpd/122322730136075431/?_rdc=1&_rdr#

Jadi, ketika kamu membuat keputusan berikutnya hari ini - entah itu memilih menu makan siang atau menutup aplikasi media sosial - tanyakan pada dirimu: Apakah ini murni keputusanku, atau matematika baru saja menang lagi?


*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi membina peserta Olimpiade Sain Nasional (OSN)

**) dari berbagai sumber.

 

Collaborative Writing

  MENGAMBIL DUNIA UNTUK KESELAMATAN DI AKHIRAT Oleh: Asep Istiqlal, S.Pd    *)     عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ :...