TEKNOLOGI MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
Oleh
Diffo Dwiputra Herrist *)
Sumber: https://hospitalsmagazine.com/single-use-medical-devices/
Pasca
Pandemi COVID – 19, sampah yang dihasilkan dari program vaksinasi masal tidak dapat
terkelola dengan baik, mengingat setiap harinya 7 Miliar Jarum suntik digunakan
untuk mengobati beragam penyakit yang hanya dapat ditangani dirumah, mencakup
diabetes, HIV, dan penyakit yang dapat menular melalui media plastic lainnya. Teknologi
Medis Sudah berkembang pesat dari penemuan Antibiotik pertama dari Jamur
Penicillium notatum pada tahun 1920, hingga saat ini manusia sudah dapat
“membuat” dan memodifikasi bagian bagian tubuh. Terdapat banayk sekali
Teknologi Medis yang sudah Ramah Lingkungan yang akhirnya dapat memecahkan
masalah diatas.
Bioplastik

Dalam
dunia medis, bioplastic sudah banyak digunakan dalma keperluan medis karena
sifatnya yang mudah terurai oleh mikroorganisme. Bioplastik di dapatkan dari
hasil pemanfaatan selulosa dan pati dari tumbuhan yang dapat mereplikasi
struktur polimer dari plastic yang dihasikan dari minyak bumi. Bioplastik
biasanay diguankan dalam bentuk Alat Pelindung Diri, Penyangga Tulang Patah,
atau bahakan benang jahit yang akan terurai dengan sendirinya.

Sumber
:
Peralatan Medis Ramah Lingkungan
Alat-alat
medis sekali pakai seperti kantong infus, sarung tangan, dan perlak kini mulai
dibuat dari bahan bioplastik (seperti pati singkong atau jagung). Bahan ini
mudah hancur secara alami di tanah sehingga tidak menumpuk menjadi sampah
plastik yang merusak alam. Bahkan, ada benang jahit luka dan penyangga tulang
yang bisa melebur sendiri di dalam tubuh setelah pasien sembuh. Artinya, pasien
tidak perlu dioperasi lagi hanya untuk melepas implan tersebut. Inovasi ini
sangat membantu mengurangi tumpukan sampah medis berbahaya yang sulit terurai
di bumi.
Pembersih Alat Medis Bebas Racun
Sterilisasi adalah proses membersihkan alat operasi
dari kuman. Biasanya, proses ini menggunakan banyak air, listrik tinggi, atau
gas kimia beracun. Teknologi baru ini menggantinya dengan gas karbondioksida
(CO₂) yang diolah khusus hingga bisa membersihkan sela-sela alat medis yang
rumit. Cara ini jauh lebih hemat energi dan tidak menggunakan bahan kimia
berbahaya. Selain aman bagi petugas kesehatan, gas CO₂ yang dipakai bisa
ditangkap kembali dan digunakan ulang, sehingga tidak membuang racun ke udara
bebas maupun mencemari lingkungan sekitar rumah sakit.

Pengolah Sampah Medis Gelombang Mikro
Mengolah sampah medis seperti bekas jarum atau
perban biasanya dilakukan dengan cara dibakar di dalam tungku raksasa. Namun,
pembakaran ini menghasilkan asap hitam beracun yang mengotori udara. Teknologi
baru ini bekerja mirip seperti microwave di dapur. sampah dicacah kecil-kecil,
diberi uap, lalu dipanaskan dengan gelombang mikro hingga seluruh kuman dan
bakteri mati total. Hasil akhirnya adalah sampah aman yang sudah bebas kuman
tanpa menghasilkan asap beracun, bau menyengat, atau polusi udara yang
membahayakan pemukiman warga di sekitar rumah sakit.
Penyedot Gas Pembius Operasi
Saat pasien dioperasi, dokter menggunakan gas
pembius agar pasien tertidur. Selama ini, sisa gas yang dihembuskan pasien
langsung dibuang ke udara luar. Padahal, gas bius ini sangat berbahaya bagi
lapisan ozon dan memicu pemanasan global. Dengan teknologi ini, ada alat khusus
yang menyedot sisa gas bius langsung dari mesin operasi sebelum keluar ke
udara. Gas tersebut ditangkap, disaring hingga bersih, lalu diolah kembali agar
bisa dipakai lagi. Lingkungan jadi terhindar dari polusi udara, dan rumah sakit
pun bisa menghemat biaya obat-obatan.

Teknologi Medis Manusia sudah memiliki kecepatan
eksponensial yanga sangat luar biasa. Hampir 3 Abad lalu, Dokter masih mengira
bahwa bayi belum bisa merasakan rasa sakit, Tapi Pada Hari Ini kita melihat
manusia sudah dapat melawan berbagai penyakit, bahkan menjadi “pencipta” bagian
tubuh yang hilang. Semakin maju teknologi kita seharusnya sadar, bahwa manusia
hanyalah bagian kecil dari alam semesta, dan kita harus ikut menjaga
kelestarian bumi agar masih bisa dinikmati hingga anak cucu nanti.
*) Siswa Kelas XII-A3
Source
:
Phadke,
R., Costa, A. C. D. S., Dapke, K., Ghosh, S., Ahmad, S., Tsagkaris, C., Raiya,
S., Maheswari, M. S., Essar, M. Y., & Ahmad, S. (2021). Eco-friendly
vaccination: Tackling an unforeseen adverse effect. The Journal of Climate
Change and Health, 1, Article 100005. https://doi.org/10.1016/j.joclim.2021.100005
American
Society of Anesthesiologists. (2020). Greening the operating room:
Environmental sustainability in anesthesia practice. American Society of
Anesthesiologists.
Doyle, D.
J., & L'Hommedieu, C. (2021). Anesthetic gas scavenging systems and climate
change: Reducing the carbon footprint of the operating theater. British Journal
of Anaesthesia, 126(3), 542–549. https://doi.org/10.1016/j.bja.2020.11.025
Health
Care Without Harm. (2019). Global green and healthy hospitals: Guidance on
non-incineration medical waste treatment technologies. Health Care Without
Harm. https://noharm.org/
White,
A., Bernhardt, A., & Matyjaszewski, K. (2022). Advances in supercritical
carbon dioxide () sterilization for heat-sensitive polymeric
medical devices. Journal of Applied Polymer Science, 139(12), Article e51890. https://doi.org/10.1002/app.51890
World
Health Organization. (2020). WHO guidance for climate resilient and
environmentally sustainable health care facilities. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240012226
Yilmaz,
S., & Sezar, M. (2021). Evaluation of microwave disinfection systems for
bio-hazardous healthcare waste management. Waste Management, 120, 312–321. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2020.11.045














