"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Minggu, 13 September 2026

Matemagic

 KENALAN DENGAN YOGI AHMAD ERLANGGA, JENIUS MATEMATIKA PEMECAH PERSAMAAN HELMHOLTZ

Oeh: Risman Firmansyah, M.Pd *)

 

Yogi Ahmad Erlangga (48) merupakan ilmuwan matematika Indonesia yang berhasil menyelesaikan persamaan Helmholtz menggunakan matematika numerik secara cepat (robust). Dr. Yogi Ahmad Erlangga merupakan alumni Teknik Penerbangan ITB 1993. Ia mendapatkan gelar master dan doktor di bidang matematika terapan dari Universitas Teknologi Delft, Belanda.Pada Desember 2001, Yogi mengajukan diri untuk melakukan riset terhadap persamaan Helmholtz ke Universitas Teknologi Delft. Persamaan Helmholtz merupakan rumus matematika yang merepresentasikan bentuk persamaan time-independent gelombang sebagai hasil dari penerapan teknik pemisahan variabel untuk mengurangi kompleksitas analisis. Di masa lalu, komputer perusahaan minyak buntu bila berhadapan dengan rumus tersebut karena semua datanya berpusat pada persamaan Helmholtz. Seperti pengukuran gelombang suara ditransmisikan ke perut bumi yang kemudian pantulannya direkam untuk menemukan endapan minyak yang sangat akurat dan cepat.

 
Dokumen Foto: Institut Teknologi Bandung

Sebelumnya, pengukuran tersebut dilakukan hanya dengan metode dua dimensi, tetapi perusahaan minyak lebih suka menggunakan metode yang lebih cepat dan melibatkan blok tiga dimensi. Namun, komputer tidak cukup kuat untuk melakukannya. Untuk itu, memecahkan persamaan Helmholtz membutuhkan kapasitas aritmatika yang sangat besar.Meski demikian, Yogi berhasil memecahkan persamaan Helmholtz yang rumit ini.

 

Sumber: https://daaitv.co.id/DAAI-WP/kenalan-dengan-yogi-ahmad-erlangga-jenius-matematika-pemecah-persamaan-helmholtz/

Metode Penelitian

Mengutip dari situs Institut Teknologi Bandung (ITB), penelitian yang dilakukan sebagai riset PhD-nya itu menggunakan metode “Ekuasi Helmholtz”. Metode tersebut, merupakan cara untuk menginterpretasi data pengukuran gelombang akustik. Buah dari risetnya tersebut, dapat mempercepat pemrosesan data seismik dalam survei cadangan minyak bumi. Tidak heran bila salah satu perusahaan minyak internasional antusias memberikan dana untuk menyelesaikan riset tersebut. Yogi akhirnya berhasil mempertahankan tesisnya di auditorium Universitas Teknologi Delft di hadapan para penguji pada Desember 2005.

 
Sumber: https://nltimes.nl/2023/06/28/tudelft-beats-univ-amsterdam-top-13-dutch-universities-2024-qs-rankings

Hasil Penelitian

Melalui temuannya itu, persamaan Helmholtz yang digunakan dalam pemrosesan data seismik bisa menjadi 100x lebih cepat. Hal ini menjadi angin segar bagi perusahaan minyak karena metode tersebut terbukti lebih baik dan cepat daripada yang biasa digunakan. Yogi yang sempat mengikuti program post-doctoral di Jerman, tercatat pernah mejadi asisten profesor bidang matematika di Universitas Alfaisal, Arab Saudi. Saat menjadi asisten profesor, Yogi banyak melakukan penelitian di bidang aljabar linier dan analisis matriks. Penemuan besar ini sempat menjadi buah bibir di kalangan ilmuwan dunia. Profesor pembimbing Yogi, Dr. Vees Vuik mengaku bangga atas keberhasilan risetnya. “Berdasarkan respons yang kami terima dari industri maupun universitas-universitas asing, kami yakin bahwa karya itu telah memecahkan masalah yang telah berlangsung selama 30 tahun,” ungkap Vuik dalam siaran pers Universitas Teknologi Delft.

Sumber: https://www.instagram.com/penghargaanachmadbakrie/

Riset yang dilakukan Yogi tersebut, ternyata tidak hanya berbuah manis dalam industri minyak bumi saja, tetapi juga industri-industri lainnya. Pasalnya, persamaan Helmholtz mendeskripsikan perilaku gelombang secara umum, sehingga penemuan ini berimbas juga pada industri yang menggunakan sifat gelombang seperti industri radar untuk penerbangan dan juga aplikasi laser. Selain itu, ternyata hasil riset ini juga mampu mengembangkan industri blu-ray disc karena dapat menambah kapasistas penyimpanan data. Atas penemuannya, Yogi pernah dianugerahi penghargaan Achmad Bakrie untuk kategori ilmuwan muda berprestasi. Penghargaan Achmad Bakrie X tersebut, diberikan oleh Freedom Institute pada Agustus 2012 lalu.

 

*) Guru Matematia di SMAN 1 Pangalengan. Pengelola SMA Terbuka SMAN 1 Pangalengan

Dikutip dari:

https://daaitv.co.id/DAAI-WP/kenalan-dengan-yogi-ahmad-erlangga-jenius-matematika-pemecah-persamaan-helmholtz/

Kamis, 10 September 2026

The Universe

 EKSPLORASI ANTARIKSA, DAN KEHIDUPAN LUAR ANGKASA DI MASA DEPAN

Oleh: Citra Lestari *)

 

Pernah nggak sih kamu lagi macet-macetan di jalan, terus nyeletuk, "Kapan ya kita bisa teleportasi?" Atau minimal punya mobil terbang kayak di film-film sci-fi?. Sejak zaman purba, manusia emang selalu menengadah ke langit malam sambil bermimpi. Bedanya, dulu kita cuma punya imajinasi dan cerita mitologi. Sekarang? Kita punya teknologi buat mewujudkannya satu per satu. Topik soal teknologi transportasi masa depan, eksplorasi antariksa, dan kehidupan luar angkasa itu emang nggak pernah gagal bikin kita melamun jauh. Bukan cuma seru buat dibahas pas lagi nongkrong, hal-hal ini sebenarnya adalah babak baru dari perjalanan peradaban manusia.  

Sumber: https://oto.detik.com/mobil/d-2973879/mobil-terbang-terrafugia-pakai-teknologi-hybrid

Kalau dirangkum, ada tiga hal menarik yang lagi ngubah masa depan kita:

1.       Kendaraan Menembus Batas (Transportasi Masa Depan)

Dulu perjalanan ke luar angkasa terasa mustahil karena biayanya super mahal. Tapi sekarang, teknologi berubah cepat banget. Kita udah punya roket yang bisa mendarat balik dan dipakai berulang kali. Ke depan, transportasi bukan cuma soal hyperloop atau mobil listrik di Bumi, tapi tentang mesin pendorong ion, bahan bakar nuklir, sampai solar sails yang dirancang buat nembus lautan hampa udara. Transportasi inilah "kaki" yang bakal ngebawa manusia melangkah keluar dari pekarangan rumah bernama Bumi.

 

Sumber: https://teknologi.espos.id/teknologi-terbaru-hyperloop-punya-kecepatan-1-207-kmjam-718635

2.       Mengintip Fajar Alam Semesta (Eksplorasi Antariksa)

Kita hari ini beruntung banget bisa menyaksikan robot penjelajah berpatroli di tanah merah Mars, atau liat foto galaksi purba hasil jepretan Teleskop James Webb. Eksplorasi antariksa sekarang bukan lagi sekadar perlombaan gengsi antarnegara, tapi udah jadi langkah serius buat masa depan. Manusia mulai merancang koloni di Bulan dan Mars mulai dari mikirin cara bercocok tanam di sana sampai nahan radiasi. Itu semua bukan lagi teori di atas kertas, tapi proyek yang lagi dikerjain ribuan ilmuwan hari ini.

 

Sumber: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190216191102-202-369897/infografis-temuan-misi-eksplorasi-rover-opportunity

3.       Menjawab Pertanyaan Terbesar (Kehidupan Luar Angkasa)

Pas kita nengok ke langit malam yang luasnya nggak masuk akal itu, pertanyaan terbesarnya pasti balik lagi ke hal yang sama: Apakah kita beneran sendirian di alam semesta ini?

Mencari kehidupan luar angkasa bukan berarti kita cuma nyari "alien" kayak di film Hollywood. Para peneliti justru lagi sibuk berburu jejak mikroba di lautan es bulannya Jupiter (Europa), atau nyari sinyal dan atmosfer planet asing yang mirip Bumi. Menemukan jejak kehidupan lain - sekecil apa pun itu - bakal langsung merubah cara pandang kita tentang arti keberadaan manusia.

Sumber: https://geo-media.blogspot.com/2016/07/jagat-raya-universe.html

Pada akhirnya, menjelajah luar angkasa bukan tentang melarikan diri dari Bumi, melainkan tentang memahami posisi kita sendiri. Makin jauh kita menjelajah ke kegelapan antariksa, makin kita sadar betapa berharganya planet biru tempat kita berdiri ini. Manusia adalah cara alam semesta untuk memahami dirinya sendiri. Dan perjalanan panjang kita... baru aja dimulai. Kalau menurutmu sendiri, hal gila apa yang bakal jadi kenyataan duluan dalam beberapa dekade ke depan? Liburan ke Mars, mobil terbang, atau kita berhasil nemuin "tetangga" baru di luar angkasa?..

 *) Siswa Kelas XII B2 SMAN 1 Pangalengan

Referensi: dari berbagai sumber.

Rabu, 09 September 2026

Citizenship

 MERAWAT CIPTAAN ALLAH, MENJAGA PERADABAN, MEMAKNAI KEMBALI SILA KEDUA PANCASILA " 🤍

🤍Oleh: Erna Nurfaulina, S.Pd  *)


Menyayangi, mencintai, dan menghargai sesama makhluk ciptaan Allah bukan sekadar ajaran moral atau perintah agama belaka. Lebih dari itu, sikap ini merupakan fondasi utama dalam berbangsa dan bernegara yang termaktub secara indah dalam Sila ke-2 Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebagai manusia yang beriman, hubungan kita dengan Tuhan (Hablum minallah) tidak dapat dipisahkan dari hubungan kita dengan sesama manusia (Hablum minannas) serta alam semesta (Hablum minal 'alam). Mengaku mencintai Sang Pencipta berarti kita juga memiliki kewajiban moral untuk merawat dan mengasihi apa yang diciptakan-Nya. Di sinilah nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan saling bertaut dan menguatkan.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/rifqifrakhman/5519abdba33311a81ab65932/tentang-kemanusiaan-yang-adil-dan-beradab

Mengapa Kasih Sayang Menjadi Inti Sila ke-2?

·         Menghormati Harkat dan Martabat Manusia Allah menciptakan manusia dalam keberagaman suku, ras, dan latar belakang. Sila ke-2 menegaskan bahwa setiap individu memiliki harkat dan martabat yang setara di hadapan hukum maupun Tuhan. Menghargai sesama tanpa memandang perbedaan adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap takdir dan takdir-Nya.

·         Menumbuhkan Empati dan Memerangi Kezaliman Rasa cinta menghadirkan kepekaan sosial. Manusia yang beradab tidak akan berdiam diri melihat ketidakadilan, perundungan (bullying), diskriminasi, atau penindasan. Membela yang lemah dan mengulurkan tangan bagi yang kesulitan adalah wujud konkret dari nilai keadilan yang substantive.

·         Menjaga Keseimbangan Ekosistem Bumi Kasih sayang tidak berhenti pada sesama manusia. Menyayangi hewan, merawat tanaman, dan memelihara kelestarian lingkungan adalah cerminan dari adab manusia yang diemban sebagai khalifah di bumi. Merawat alam berarti menjamin keberlangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan Allah.

 

Sumber: https://www.google.com/search?q=Mengapa+Kasih+Sayang+Menjadi+Inti+Sila+ke-2

Menjelmakan Nilai dalam Aksi Nyata

·         Etika Berkomunikasi. Menggunakan tutur kata yang santun di dunia nyata maupun media sosial, serta menolak untuk menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.

·         Kepedulian Sosial Tanpa Batas. Memberikan bantuan ketulusan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang, ras, atau keyakinan.

·         Gaya Hidup Ramah Lingkungan. Menjaga kebersihan sekitar, menghemat penggunaan energi dan air, serta menyayangi hewan di sekitar kita.

·         Keadilan dalam Bersikap. Menolak segala bentuk diskriminasi dan mengedepankan musyawarah serta rasa tenggang rasa (tepa slira) dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/DcK1syDmYK7/

Mencintai ciptaan-Nya adalah cara paling nyata untuk membuktikan kedalaman cinta kita kepada Sang Pencipta. Mari kita jadikan perpaduan nilai agama dan Pancasila ini bukan sekadar hafalan di ruang kelas, melainkan denyut nadi dan gaya hidup kita sehari-hari.

 

*) Guru Pendidikan Pancasila di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler Volley Ball

**) dari berragam sumber yang disarikan

 

 

Selasa, 08 September 2026

Historyca

 APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026?

BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU

Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)

 

 

 

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (dokumentasi ilustratif)

Awal September 2026, warga di Bandung Raya, Jakarta, sampai Banten dikejutkan oleh suara dentuman rendah yang terdengar hingga menggetarkan jendela rumah. Tidak lama kemudian, tersiar kabar: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi. Media sosial pun ramai membicarakannya. Ada yang panik, ada yang penasaran, dan tidak sedikit yang langsung teringat pada bencana besar tahun 1883 yang pernah mengguncang dunia.

Ada satu pertanyaan menarik untuk kita pikirkan bersama: apa sebenarnya yang kita ketahui tentang letusan 1883 itu, dan dari mana pengetahuan itu berasal? Lalu, apa yang sudah berubah dari cara manusia menghadapi bencana serupa, dari zaman itu sampai hari ini?

Siapa yang Mencatat Sejarah Letusan 1883?

Letusan Krakatau tahun 1883 termasuk salah satu bencana alam yang paling banyak dicatat pada zamannya. Tapi coba kita perhatikan baik-baik: siapa sebenarnya yang menulis catatan-catatan itu?

Sebagian besar laporan yang sampai kepada kita berasal dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, awak kapal yang kebetulan sedang melintasi Selat Sunda, dan pengamat asing yang punya alat pencatat serta akses mengirim berita ke Eropa. Sementara itu, suara masyarakat pribumi di pesisir Banten dan Lampung Selatan, yang justru menjadi korban paling langsung dari gelombang tsunami akibat letusan itu, hampir tidak tercatat langsung dalam dokumen resmi.

 
Sumber: https://www.inilah.com/mengingat-sejarah-meletusnya-gunung-krakatau-1883-yang-menggemparkan-dunia

Inilah yang dipelajari dalam ilmu sejarah sebagai historiografi, yaitu cara sejarah itu ditulis. Sejarah tidak pernah ditulis oleh semua orang yang mengalami suatu peristiwa. Sejarah biasanya ditulis oleh mereka yang punya alat, akses, dan kepentingan untuk mencatat. Bukan berarti catatan kolonial itu salah, tapi kita perlu sadar bahwa catatan itu hanya satu sudut pandang, bukan keseluruhan cerita. Pertanyaan seperti ini penting untuk dibiasakan: siapa yang bicara dalam sebuah catatan sejarah, siapa yang diam, dan kenapa bisa begitu?

Bencana yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Banyak orang mengira letusan 1883 adalah akhir dari kisah Krakatau. Padahal, lubang besar bekas letusan itu (disebut kaldera) justru menjadi tempat lahirnya gunung baru. Pada akhir 1927, muncul aktivitas vulkanik dari bawah laut, dan pada 1929 gunung baru ini resmi diberi nama Anak Krakatau. Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh, meletus, dan berubah bentuk selama puluhan tahun. Pada Desember 2018, sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut dan memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan dini yang memadai. Kini, pada September 2026, gunung ini kembali erupsi terus-menerus disertai semburan lava dan lontaran abu vulkanik yang tingginya sempat mencapai puluhan ribu kaki, sampai menyebar ke wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.

 
Garis waktu peristiwa penting Gunung Krakatau, 1883–2026

Dari sini kita bisa belajar satu hal penting: bencana geologi bukan peristiwa tunggal yang selesai begitu saja setelah beritanya hilang dari media. Bencana seperti ini adalah bagian dari siklus alam yang panjang dan berulang. Belajar sejarah membantu kita melihat pola tersebut, bukan sekadar bereaksi setiap kali ada berita yang sedang viral.

Ketika Legenda Rakyat Bertemu Sains Modern

Sebelum ada laporan resmi dan alat pemantau canggih, masyarakat di sekitar Selat Sunda sudah lama menyimpan cerita turun-temurun tentang gunung berapi yang mereka tinggali sejak dulu. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah dalam Pustaka Raja Purwa, naskah yang ditulis pujangga Jawa Ronggowarsito pada 1869. Menurut kisah ini, dahulu kala Jawa dan Sumatra masih menyatu sebagai satu daratan, diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Rakata. Karena khawatir akan terjadi perebutan takhta, sang raja membagi kerajaannya untuk kedua putranya, Raden Sundana dan Raden Taba Baruna. Tidak lama setelah itu, menurut cerita ini, terjadi letusan gunung berapi dahsyat yang memisahkan daratan menjadi dua pulau seperti yang kita kenal sekarang.

Menariknya, para ahli geologi modern, termasuk dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah meluruskan bahwa terpisahnya Jawa dan Sumatra sebenarnya lebih disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi selama puluhan ribu tahun, bukan oleh satu letusan tunggal seperti dalam legenda tersebut. Meski begitu, para ahli juga mengakui bahwa Gunung Krakatau purba memang pernah beberapa kali meletus sangat besar jauh sebelum letusan 1883. Bukan tidak mungkin, legenda ini menyimpan ingatan kolektif masyarakat tentang bencana besar yang pernah benar-benar terjadi, meski detail waktu dan sebabnya sudah bercampur dengan unsur mitos.

 
Sumber: https://web.facebook.com/pendakilawas01/posts/gunung-krakatau-purba-diperkirakan-pernah-meletus-dasyat

Di sinilah nilai sejarah lisan dan kearifan lokal terlihat. Cerita rakyat tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi ia sering menjadi cara masyarakat mewariskan ingatan tentang bencana dari satu generasi ke generasi berikutnya, jauh sebelum ada catatan tertulis atau alat pemantau modern. Masyarakat pesisir Lampung Selatan dan Banten yang tinggal berdekatan dengan Anak Krakatau hingga hari ini pun mewarisi kewaspadaan serupa: banyak dari mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung ini dan mengenali tanda-tanda alam di sekitarnya, sembari tetap mengikuti informasi resmi dari pos pengamatan gunung api sebagai pelengkap.

Bagi generasi sekarang, kisah seperti Prabu Rakata mengingatkan kita bahwa sains dan kearifan lokal sebenarnya bisa saling melengkapi. Sains memberi kita data dan penjelasan yang bisa diuji kebenarannya, sementara cerita rakyat menjaga ingatan kolektif tetap hidup dan mudah diteruskan dari mulut ke mulut, dari kakek-nenek ke cucu, jauh sebelum generasi itu sempat membaca laporan ilmiah mana pun.

Dari Telegraf ke Data Real-Time: Bagaimana Mitigasi Berubah

Perbedaan paling terlihat antara tahun 1883 dan 2026 bukan pada gunungnya, melainkan pada cara manusia meresponsnya. Pada 1883, belum ada sistem peringatan dini. Kabar letusan menyebar lewat kapal dan telegraf yang jangkauannya sangat terbatas. Akibatnya, banyak korban di pesisir tidak sempat mendapat peringatan apa pun sebelum gelombang tsunami datang.

Sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20180520/79/797118/letusan-krakatau-1883-bulan-berwarna-biru

Bandingkan dengan situasi hari ini. Sejak 2 Juli 2026, jauh sebelum erupsi besar terjadi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Ada dua pos pengamatan yang memantau gunung ini selama 24 jam, yaitu di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Banten). Hasil pemantauannya juga dipublikasikan secara berkala lewat platform resmi seperti MAGMA Indonesia. Ketika masyarakat mulai khawatir soal potensi tsunami susulan, pejabat Badan Geologi pun cepat memberi penjelasan berbasis data, bahwa pertumbuhan tubuh gunung setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi memicu keruntuhan besar.

Namun, ada satu tantangan lama yang ternyata belum sepenuhnya hilang, yaitu penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Kalau pada 1883 masalahnya adalah kurangnya informasi, pada 2026 masalahnya justru sebaliknya: informasi yang terlalu banyak dan cepat menyebar, termasuk rumor di media sosial, sehingga pihak berwenang harus berulang kali mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kabar yang belum resmi. Ternyata, kemampuan memilah informasi yang benar tetap penting di setiap zaman, hanya bentuk tantangannya saja yang berubah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sejarah letusan Krakatau, dari 1883 sampai 2026, bukan sekadar daftar tanggal dan angka. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia mencatat suatu peristiwa, kadang melupakannya, lalu belajar lagi dari awal. Belajar sejarah bencana mengajak kita bertanya lebih jauh dari sekadar “apa yang terjadi”, tetapi juga “siapa yang mencatatnya”, “siapa yang suaranya tidak terdengar”, dan “bagaimana pengetahuan itu akhirnya membentuk cara kita bertahan hidup hari ini”. Anak Krakatau kemungkinan besar akan terus tumbuh dan meletus lagi di masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana itu akan terjadi lagi, tetapi apakah kita sudah cukup belajar dari sejarah untuk menghadapinya dengan lebih baik.

 
Sumber: https://mongabay.co.id/2022/04/26/gunung-anak-krakatau-level-siaga-masyarakat-diminta-waspada/

Aktivitas Literasi

1.       Bandingkan sumber sejarah letusan 1883 (catatan kolonial Belanda) dengan sumber informasi erupsi 2026 (laporan BMKG/PVMBG). Apa perbedaan cara keduanya diverifikasi dan disebarkan ke masyarakat?

2.       Menurutmu, mengapa suara masyarakat pribumi jarang tercatat dalam sejarah bencana pada masa kolonial? Apa dampaknya bagi cara kita memahami sejarah hari ini?

3.       Jika kamu tinggal di pesisir Selat Sunda hari ini, informasi apa yang akan kamu cari terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengungsi atau tidak?

4.       Menurutmu, apakah banyaknya informasi di media sosial saat ini justru membantu atau malah mempersulit penanganan bencana? Jelaskan alasanmu.

5.       Bandingkan legenda Prabu Rakata dengan penjelasan ilmiah PVMBG tentang terpisahnya Jawa dan Sumatra. Menurutmu, apa manfaat cerita rakyat semacam ini meski tidak sepenuhnya akurat secara sains?

*) Guru Sejarah SMAN 1 Pangalengan

Referensi

Dari berbagai sumber, termasuk Badan Geologi Kementerian ESDM, BMKG, dan pemberitaan media nasional terkait erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026.

Senin, 07 September 2026

Collaborative Publication (On Language and Script)

 first article

GAYA BAHASA MIX-AND-MATCH GEN Z

Oleh: Karmila, SS  *)

 

Bahasa tuh dinamis banget dan ngikutin perkembangan zaman. Sekarang, gaya ngobrol yang campur-campur Bahasa Indonesia sama Bahasa Inggris (code-switching dan code-mixing) makin sering kita temuin, terutama di kalangan Gen Z.

 
Sumber: https://bilingualkidspot.com/2018/04/04/code-switching-sophisticated-linguistic-tool/

Bedanya Code-Switching & Code-Mixing

Sering disangka sama, padahal konsep sosiolinguistiknya beda:

  • Alih Kode (Code-Switching). Code switching adalah fenomena di mana seorang penutur berpindah sepenuhnya dari satu bahasa ke bahasa lain selama percakapan, biasanya antara kalimat atau klausa yang berbeda. Pergantian ini dapat terjadi secara disengaja untuk menyesuaikan diri dengan konteks sosial, audiens atau situasi tertentu. Pada umumnya, tujuan penggunaan code switching adalah untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara, misalnya, untuk membuat orang merasa lebih nyaman dengan penggunaan bahasa tertentu, dan untuk menekankan atau memperkuat makna suatu pesan.

                 "Besok kita ada rapat. By the way, don't forget to bring the report."

  • Campur Kode (Code-Mixing): Code mixing adalah pencampuran dua atau lebih bahasa dalam satu kalimat atau frasa tanpa berganti sepenuhnya ke bahasa lain. Fenomena ini sering terjadi pada masyarakat bilingual, di mana kata atau frasa dari bahasa lain disisipkan dalam kalimat. Biasanya, code mixing tidak mengikuti aturan sintaksis yang ketat karena penutur lebih fokus pada ekspresi atau keakraban. Contoh code mixing antara lain:

                 "Aku harus submit tugas ini malam ini."

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/ekyrahmawati3105/674932d8c925c476f8386db3/semiotika-generasi-z

Seberapa Sering Gen Z Pakai Gaya Ini?

Riset tahun 2026 yang menganalisis 1.200 unggahan dan komentar Instagram (data 2024) nemuin fakta menarik tentang kebiasaan komunikasi digital Gen Z:

Fenomena

Persentase

Campur kode

82,1%

Alih kode

68,4%

Alih kode dalam satu kalimat (intrasentential)

47,3%

Alih kode antarkalimat (intersentential)

38,6%

Alih kode eksternal

14,1%

Campur kode berupa kosakata Bahasa Inggris

63,2%

Catatan: Data di atas menggambarkan sampel 1.200 unggahan/komentar Instagram, bukan total seluruh populasi Gen Z Indonesia.

Alasan Gen Z Hobi English-Indonesia Mix

  1. Eksposure Media Sosial & Budaya Global: Sering terpapar konten, musik, film, dan gim internasional.
  2. Kepraktisan & Efisiensi: Istilah kayak deadline, meeting, update, atau feedback kerasa lebih simpel.
  3. Identitas & Persona Digital: Membantu ngebentuk kesan modern, terdidik, atau sekadar menyesuaikan vibes pergaulan.
  4. Ekspresi Emosi: Beberapa ungkapan kerasa lebih pas disampaiin pakai Bahasa Inggris (misal: "I'm so happy today!").

 
Sumber: https://pbindoftk.uin-suska.ac.id/2024/09/25/ancaman-kehilangan-warisan-bahasa

Bikin Bahasa Indonesia Terancam?

Enggak selalu. Fenomena ini bukan tanda berkurangnya rasa cinta tanah air, melainkan bentuk kemampuan adaptasi multibahasa (multilingualism).

Kuncinya ada di kesadaran linguistik—tahu tempat dan situasi:

  • Situasi Santai/Medsos: Code-mixing sah-sah aja buat ekspresi diri.
  • Situasi Formal/Akademis: Wajib pakai Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai kaidah.

Peluang buat Pembelajaran Bahasa

Fenomena ini justru bisa dimanfaatin di kelas Bahasa Inggris:

  • Guru bisa pakai Bahasa Indonesia sebagai jembatan pemahaman.
  • Bahasa medsos bisa dijadikan bahan diskusi kritis untuk bedah makna, tata bahasa, dan konteks formalnya.

 
Sumber: https://bdkjakarta.kemenag.go.id/fenomena-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/

Simpulannya: Bahasa bakal terus berkembang ngikutin zaman. Fenomena alih kode Gen Z membuktikan kalau cara komunikasi kita emang adaptif. Yang paling penting bukan ngelarang, tapi paham kapan harus pakai gaya kasual dan kapan harus berbahasa formal.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan

**) dari beragam sumber


 second article

DARI TANAH LIAT KE LAYAR PONSEL, JEJAK AKSARA PENGUKIR PERADABAN

Dari Goresan Paku Di Tanah Liat Sekitar 3200 SM, Sampai Jempol Kita Yang Scroll Di HP Hari Ini.

Oleh: Regina *)


Pernah nggak sih kita berpikir, sebelum ada alfabet, buku, bahkan HP, manusia dulu kalau mau menyimpan sesuatu bagaimana caranya? Sekarang, menulis itu gampang banget. Mau mencatat sesuatu, tinggal buka HP. Mau mengirim pesan, tinggal ketik. Bahkan kalau malas mengetik, kita bisa langsung kirim suara. Tapi ribuan tahun lalu, keadaannya tentu jauh berbeda. Belum ada HP. Belum ada buku. Belum ada kertas seperti yang kita kenal sekarang. Kalau begitu, bagaimana manusia zaman dulu menyimpan informasi?

Pada awalnya, banyak hal tentu hanya disampaikan lewat lisan. Orang mengingat apa yang mereka dengar, lalu menyampaikannya kepada orang lain. Tapi semakin lama kehidupan manusia berkembang. Mereka mulai berdagang, bercocok tanam, membangun kota, dan mengatur banyak hal.

Masalahnya, manusia punya satu keterbatasan: Lupa.

 
Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6848513/teks-tertulis-pertama-di-dunia-dituliskan-pada-lempengan-batu-kapur-3-500-sm

Bayangkan seorang pedagang harus mengingat berapa banyak barang yang ia punya, siapa yang membeli, berapa jumlahnya, dan apa yang masih harus dibayar. Kalau semuanya hanya mengandalkan ingatan, pasti akan mudah terjadi kesalahan.

Karena itulah, manusia mulai membutuhkan sesuatu yang bisa menyimpan informasi. Salah satunya adalah tulisan.

Dan salah satu tempat paling menarik untuk melihat awal perkembangan tulisan adalah Mesopotamia, wilayah yang sekarang termasuk Irak.

Awal Mula Aksara Paku dari Sumeria

Sekitar 3200 SM, masyarakat di Mesopotamia sudah menggunakan salah satu sistem tulisan paling awal yang diketahui manusia. Tulisan ini dikenal sebagai cuneiform, atau yang sering disebut aksara paku.

 
Sumber: https://share.google/images/mCMsLvPVVa4pZZ9BU

Kenapa disebut aksara paku? Karena bentuk tandanya memang terlihat seperti baji atau paku kecil. Cara membuatnya juga cukup unik. Mereka menggunakan tanah liat yang masih lunak, kemudian menekannya dengan alat bernama stylus. Setiap tekanan meninggalkan bentuk tertentu pada permukaan tanah liat.

Sumber: https://share.google/images/VXNMayROMQvzvc5Hr

Jadi, mereka bukan menulis dengan cara menggores seperti kita menggunakan pensil. Mereka lebih seperti menekan-nekan tanah liat untuk membuat tanda. Awalnya, tulisan banyak digunakan untuk hal-hal yang sederhana dan praktis. Misalnya mencatat barang, hasil panen, perdagangan, atau urusan administrasi. Namun ternyata manusia tidak berhenti di situ.  Lama-kelamaan, tulisan digunakan untuk mencatat cerita, doa, aturan, pengetahuan, bahkan kisah tentang raja dan pahlawan.

Yang menarik, beberapa tablet tanah liat itu masih bisa kita temukan sampai sekarang. Sebagian tablet yang terkena kebakaran justru menjadi lebih keras karena panas. Jadi, sesuatu yang seharusnya menghancurkan sebuah kota pada akhirnya malah membantu menyelamatkan sebagian catatan dari masa lalu. Bayangkan. Seseorang ribuan tahun lalu mungkin hanya sedang mencatat sesuatu yang menurutnya biasa saja. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ribuan tahun kemudian, manusia akan menemukan tulisannya dan mencoba memahami kehidupannya.

Tulisan Ternyata Ada di Banyak Tempat. Mesopotamia bukan satu-satunya tempat manusia mengembangkan tulisan. Di Mesir, berkembang hieroglif, tulisan yang menggunakan berbagai simbol untuk menyampaikan bunyi, benda, maupun gagasan. Di wilayah lain, muncul sistem tulisan yang berbeda lagi. Ada aksara Fenisia yang kemudian memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan alfabet. Ada juga aksara Indus yang sampai sekarang masih belum berhasil dibaca dengan pasti. Di wilayah Yunani Mycenaean, ada Linear B, yang ternyata digunakan untuk menulis bentuk awal bahasa Yunani. Sementara itu, di Mesoamerika, berkembang berbagai tradisi simbol dan tulisan yang kemudian mencapai bentuk yang sangat kompleks pada peradaban Maya. Mereka hidup di tempat yang berbeda. Bahasa mereka berbeda. Bentuk tulisannya juga berbeda. Tapi ada satu hal yang terasa sama. Mereka semua menemukan cara untuk membuat sesuatu yang awalnya hanya ada di pikiran manusia menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan disimpan.

Tulisan Bukan Hanya untuk Mencatat Barang

Kalau mendengar tentang tulisan kuno, mungkin yang langsung terbayang adalah catatan perdagangan atau simbol-simbol yang sulit dimengerti. Memang, pada awal perkembangannya, tulisan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi semakin lama, tulisan menjadi lebih dari sekadar catatan. Manusia mulai menulis tentang apa yang mereka percaya. Tentang kehidupan. Tentang dewa-dewa. Tentang raja dan pahlawan. Tentang pengetahuan yang mereka miliki. Ada kisah Gilgamesh, misalnya. Ada juga doa, himne, aturan, catatan matematika, hingga pengamatan tentang langit. Di titik itu, tulisan mulai melakukan sesuatu yang luar biasa. Manusia tidak hanya menyimpan barang dan angka. Mereka mulai menyimpan pikiran. Dan ketika pikiran bisa ditulis, pengetahuan tidak harus berhenti ketika seseorang meninggal. Seseorang bisa menulis sesuatu hari ini. Lalu orang lain membacanya bertahun-tahun kemudian. Bahkan ribuan tahun kemudian.

Sumber: https://www.agungkomputer.com/news/manfaat-menggunakan-stylus-pen

Dari Stylus ke Jempol

Sekarang coba kita kembali ke zaman sekarang. Kalau lima ribu tahun lalu seseorang ingin menyimpan sebuah pesan, ia mungkin mengambil tanah liat, memegang stylus, lalu membuat tanda satu demi satu. Hari ini? Kita mengambil HP. Buka layar. Ketik. Scroll. Kirim. Sederhana sekali. Alatnya berubah. Medianya berubah. Cara kita menulis juga berubah. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin ada satu hal yang sebenarnya masih sama. Kita masih ingin meninggalkan sesuatu. Kita menulis pesan supaya orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Kita menulis catatan supaya tidak lupa. Kita menulis cerita supaya sesuatu yang kita rasakan bisa diketahui orang lain. Ribuan tahun lalu, manusia menekan stylus ke tanah liat. Hari ini, kita menekan layar dengan jempol.

Dari tanah liat sampai layar ponsel, manusia terus mencari cara untuk melakukan hal yang sama: menyimpan apa yang ingin kita ingat. Dan mungkin, suatu hari nanti, tulisan yang kita anggap biasa hari ini juga akan menjadi bagian dari sejarah. Lalu pertanyaannya adalah: Kalau 5.000 tahun lagi manusia menemukan tulisan kita, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan tentang kita?

 

*) Siswa Kelas X-H SMAN 1 Pangalengan TP. 2026-2027

**) dari beragam sumber

Matemagic

  KENALAN DENGAN YOGI AHMAD ERLANGGA, JENIUS MATEMATIKA PEMECAH PERSAMAAN HELMHOLTZ Oeh: Risman Firmansyah, M.Pd *)   Yogi Ahmad Erlan...