"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Selasa, 08 September 2026

Historyca

 APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026?

BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU

Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)

 

 

 

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (dokumentasi ilustratif)

Awal September 2026, warga di Bandung Raya, Jakarta, sampai Banten dikejutkan oleh suara dentuman rendah yang terdengar hingga menggetarkan jendela rumah. Tidak lama kemudian, tersiar kabar: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi. Media sosial pun ramai membicarakannya. Ada yang panik, ada yang penasaran, dan tidak sedikit yang langsung teringat pada bencana besar tahun 1883 yang pernah mengguncang dunia.

Ada satu pertanyaan menarik untuk kita pikirkan bersama: apa sebenarnya yang kita ketahui tentang letusan 1883 itu, dan dari mana pengetahuan itu berasal? Lalu, apa yang sudah berubah dari cara manusia menghadapi bencana serupa, dari zaman itu sampai hari ini?

Siapa yang Mencatat Sejarah Letusan 1883?

Letusan Krakatau tahun 1883 termasuk salah satu bencana alam yang paling banyak dicatat pada zamannya. Tapi coba kita perhatikan baik-baik: siapa sebenarnya yang menulis catatan-catatan itu?

Sebagian besar laporan yang sampai kepada kita berasal dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, awak kapal yang kebetulan sedang melintasi Selat Sunda, dan pengamat asing yang punya alat pencatat serta akses mengirim berita ke Eropa. Sementara itu, suara masyarakat pribumi di pesisir Banten dan Lampung Selatan, yang justru menjadi korban paling langsung dari gelombang tsunami akibat letusan itu, hampir tidak tercatat langsung dalam dokumen resmi.

 
Sumber: https://www.inilah.com/mengingat-sejarah-meletusnya-gunung-krakatau-1883-yang-menggemparkan-dunia

Inilah yang dipelajari dalam ilmu sejarah sebagai historiografi, yaitu cara sejarah itu ditulis. Sejarah tidak pernah ditulis oleh semua orang yang mengalami suatu peristiwa. Sejarah biasanya ditulis oleh mereka yang punya alat, akses, dan kepentingan untuk mencatat. Bukan berarti catatan kolonial itu salah, tapi kita perlu sadar bahwa catatan itu hanya satu sudut pandang, bukan keseluruhan cerita. Pertanyaan seperti ini penting untuk dibiasakan: siapa yang bicara dalam sebuah catatan sejarah, siapa yang diam, dan kenapa bisa begitu?

Bencana yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Banyak orang mengira letusan 1883 adalah akhir dari kisah Krakatau. Padahal, lubang besar bekas letusan itu (disebut kaldera) justru menjadi tempat lahirnya gunung baru. Pada akhir 1927, muncul aktivitas vulkanik dari bawah laut, dan pada 1929 gunung baru ini resmi diberi nama Anak Krakatau. Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh, meletus, dan berubah bentuk selama puluhan tahun. Pada Desember 2018, sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut dan memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan dini yang memadai. Kini, pada September 2026, gunung ini kembali erupsi terus-menerus disertai semburan lava dan lontaran abu vulkanik yang tingginya sempat mencapai puluhan ribu kaki, sampai menyebar ke wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.

 
Garis waktu peristiwa penting Gunung Krakatau, 1883–2026

Dari sini kita bisa belajar satu hal penting: bencana geologi bukan peristiwa tunggal yang selesai begitu saja setelah beritanya hilang dari media. Bencana seperti ini adalah bagian dari siklus alam yang panjang dan berulang. Belajar sejarah membantu kita melihat pola tersebut, bukan sekadar bereaksi setiap kali ada berita yang sedang viral.

Ketika Legenda Rakyat Bertemu Sains Modern

Sebelum ada laporan resmi dan alat pemantau canggih, masyarakat di sekitar Selat Sunda sudah lama menyimpan cerita turun-temurun tentang gunung berapi yang mereka tinggali sejak dulu. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah dalam Pustaka Raja Purwa, naskah yang ditulis pujangga Jawa Ronggowarsito pada 1869. Menurut kisah ini, dahulu kala Jawa dan Sumatra masih menyatu sebagai satu daratan, diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Rakata. Karena khawatir akan terjadi perebutan takhta, sang raja membagi kerajaannya untuk kedua putranya, Raden Sundana dan Raden Taba Baruna. Tidak lama setelah itu, menurut cerita ini, terjadi letusan gunung berapi dahsyat yang memisahkan daratan menjadi dua pulau seperti yang kita kenal sekarang.

Menariknya, para ahli geologi modern, termasuk dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah meluruskan bahwa terpisahnya Jawa dan Sumatra sebenarnya lebih disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi selama puluhan ribu tahun, bukan oleh satu letusan tunggal seperti dalam legenda tersebut. Meski begitu, para ahli juga mengakui bahwa Gunung Krakatau purba memang pernah beberapa kali meletus sangat besar jauh sebelum letusan 1883. Bukan tidak mungkin, legenda ini menyimpan ingatan kolektif masyarakat tentang bencana besar yang pernah benar-benar terjadi, meski detail waktu dan sebabnya sudah bercampur dengan unsur mitos.

 
Sumber: https://web.facebook.com/pendakilawas01/posts/gunung-krakatau-purba-diperkirakan-pernah-meletus-dasyat

Di sinilah nilai sejarah lisan dan kearifan lokal terlihat. Cerita rakyat tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi ia sering menjadi cara masyarakat mewariskan ingatan tentang bencana dari satu generasi ke generasi berikutnya, jauh sebelum ada catatan tertulis atau alat pemantau modern. Masyarakat pesisir Lampung Selatan dan Banten yang tinggal berdekatan dengan Anak Krakatau hingga hari ini pun mewarisi kewaspadaan serupa: banyak dari mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung ini dan mengenali tanda-tanda alam di sekitarnya, sembari tetap mengikuti informasi resmi dari pos pengamatan gunung api sebagai pelengkap.

Bagi generasi sekarang, kisah seperti Prabu Rakata mengingatkan kita bahwa sains dan kearifan lokal sebenarnya bisa saling melengkapi. Sains memberi kita data dan penjelasan yang bisa diuji kebenarannya, sementara cerita rakyat menjaga ingatan kolektif tetap hidup dan mudah diteruskan dari mulut ke mulut, dari kakek-nenek ke cucu, jauh sebelum generasi itu sempat membaca laporan ilmiah mana pun.

Dari Telegraf ke Data Real-Time: Bagaimana Mitigasi Berubah

Perbedaan paling terlihat antara tahun 1883 dan 2026 bukan pada gunungnya, melainkan pada cara manusia meresponsnya. Pada 1883, belum ada sistem peringatan dini. Kabar letusan menyebar lewat kapal dan telegraf yang jangkauannya sangat terbatas. Akibatnya, banyak korban di pesisir tidak sempat mendapat peringatan apa pun sebelum gelombang tsunami datang.

Sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20180520/79/797118/letusan-krakatau-1883-bulan-berwarna-biru

Bandingkan dengan situasi hari ini. Sejak 2 Juli 2026, jauh sebelum erupsi besar terjadi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Ada dua pos pengamatan yang memantau gunung ini selama 24 jam, yaitu di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Banten). Hasil pemantauannya juga dipublikasikan secara berkala lewat platform resmi seperti MAGMA Indonesia. Ketika masyarakat mulai khawatir soal potensi tsunami susulan, pejabat Badan Geologi pun cepat memberi penjelasan berbasis data, bahwa pertumbuhan tubuh gunung setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi memicu keruntuhan besar.

Namun, ada satu tantangan lama yang ternyata belum sepenuhnya hilang, yaitu penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Kalau pada 1883 masalahnya adalah kurangnya informasi, pada 2026 masalahnya justru sebaliknya: informasi yang terlalu banyak dan cepat menyebar, termasuk rumor di media sosial, sehingga pihak berwenang harus berulang kali mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kabar yang belum resmi. Ternyata, kemampuan memilah informasi yang benar tetap penting di setiap zaman, hanya bentuk tantangannya saja yang berubah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sejarah letusan Krakatau, dari 1883 sampai 2026, bukan sekadar daftar tanggal dan angka. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia mencatat suatu peristiwa, kadang melupakannya, lalu belajar lagi dari awal. Belajar sejarah bencana mengajak kita bertanya lebih jauh dari sekadar “apa yang terjadi”, tetapi juga “siapa yang mencatatnya”, “siapa yang suaranya tidak terdengar”, dan “bagaimana pengetahuan itu akhirnya membentuk cara kita bertahan hidup hari ini”. Anak Krakatau kemungkinan besar akan terus tumbuh dan meletus lagi di masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana itu akan terjadi lagi, tetapi apakah kita sudah cukup belajar dari sejarah untuk menghadapinya dengan lebih baik.

 
Sumber: https://mongabay.co.id/2022/04/26/gunung-anak-krakatau-level-siaga-masyarakat-diminta-waspada/

Aktivitas Literasi

1.       Bandingkan sumber sejarah letusan 1883 (catatan kolonial Belanda) dengan sumber informasi erupsi 2026 (laporan BMKG/PVMBG). Apa perbedaan cara keduanya diverifikasi dan disebarkan ke masyarakat?

2.       Menurutmu, mengapa suara masyarakat pribumi jarang tercatat dalam sejarah bencana pada masa kolonial? Apa dampaknya bagi cara kita memahami sejarah hari ini?

3.       Jika kamu tinggal di pesisir Selat Sunda hari ini, informasi apa yang akan kamu cari terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengungsi atau tidak?

4.       Menurutmu, apakah banyaknya informasi di media sosial saat ini justru membantu atau malah mempersulit penanganan bencana? Jelaskan alasanmu.

5.       Bandingkan legenda Prabu Rakata dengan penjelasan ilmiah PVMBG tentang terpisahnya Jawa dan Sumatra. Menurutmu, apa manfaat cerita rakyat semacam ini meski tidak sepenuhnya akurat secara sains?

*) Guru Sejarah SMAN 1 Pangalengan

Referensi

Dari berbagai sumber, termasuk Badan Geologi Kementerian ESDM, BMKG, dan pemberitaan media nasional terkait erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026.

Senin, 07 September 2026

Collaborative Publication (On Language and Script)

 first article

GAYA BAHASA MIX-AND-MATCH GEN Z

Oleh: Karmila, SS  *)

 

Bahasa tuh dinamis banget dan ngikutin perkembangan zaman. Sekarang, gaya ngobrol yang campur-campur Bahasa Indonesia sama Bahasa Inggris (code-switching dan code-mixing) makin sering kita temuin, terutama di kalangan Gen Z.

 
Sumber: https://bilingualkidspot.com/2018/04/04/code-switching-sophisticated-linguistic-tool/

Bedanya Code-Switching & Code-Mixing

Sering disangka sama, padahal konsep sosiolinguistiknya beda:

  • Alih Kode (Code-Switching). Code switching adalah fenomena di mana seorang penutur berpindah sepenuhnya dari satu bahasa ke bahasa lain selama percakapan, biasanya antara kalimat atau klausa yang berbeda. Pergantian ini dapat terjadi secara disengaja untuk menyesuaikan diri dengan konteks sosial, audiens atau situasi tertentu. Pada umumnya, tujuan penggunaan code switching adalah untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara, misalnya, untuk membuat orang merasa lebih nyaman dengan penggunaan bahasa tertentu, dan untuk menekankan atau memperkuat makna suatu pesan.

                 "Besok kita ada rapat. By the way, don't forget to bring the report."

  • Campur Kode (Code-Mixing): Code mixing adalah pencampuran dua atau lebih bahasa dalam satu kalimat atau frasa tanpa berganti sepenuhnya ke bahasa lain. Fenomena ini sering terjadi pada masyarakat bilingual, di mana kata atau frasa dari bahasa lain disisipkan dalam kalimat. Biasanya, code mixing tidak mengikuti aturan sintaksis yang ketat karena penutur lebih fokus pada ekspresi atau keakraban. Contoh code mixing antara lain:

                 "Aku harus submit tugas ini malam ini."

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/ekyrahmawati3105/674932d8c925c476f8386db3/semiotika-generasi-z

Seberapa Sering Gen Z Pakai Gaya Ini?

Riset tahun 2026 yang menganalisis 1.200 unggahan dan komentar Instagram (data 2024) nemuin fakta menarik tentang kebiasaan komunikasi digital Gen Z:

Fenomena

Persentase

Campur kode

82,1%

Alih kode

68,4%

Alih kode dalam satu kalimat (intrasentential)

47,3%

Alih kode antarkalimat (intersentential)

38,6%

Alih kode eksternal

14,1%

Campur kode berupa kosakata Bahasa Inggris

63,2%

Catatan: Data di atas menggambarkan sampel 1.200 unggahan/komentar Instagram, bukan total seluruh populasi Gen Z Indonesia.

Alasan Gen Z Hobi English-Indonesia Mix

  1. Eksposure Media Sosial & Budaya Global: Sering terpapar konten, musik, film, dan gim internasional.
  2. Kepraktisan & Efisiensi: Istilah kayak deadline, meeting, update, atau feedback kerasa lebih simpel.
  3. Identitas & Persona Digital: Membantu ngebentuk kesan modern, terdidik, atau sekadar menyesuaikan vibes pergaulan.
  4. Ekspresi Emosi: Beberapa ungkapan kerasa lebih pas disampaiin pakai Bahasa Inggris (misal: "I'm so happy today!").

 
Sumber: https://pbindoftk.uin-suska.ac.id/2024/09/25/ancaman-kehilangan-warisan-bahasa

Bikin Bahasa Indonesia Terancam?

Enggak selalu. Fenomena ini bukan tanda berkurangnya rasa cinta tanah air, melainkan bentuk kemampuan adaptasi multibahasa (multilingualism).

Kuncinya ada di kesadaran linguistik—tahu tempat dan situasi:

  • Situasi Santai/Medsos: Code-mixing sah-sah aja buat ekspresi diri.
  • Situasi Formal/Akademis: Wajib pakai Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai kaidah.

Peluang buat Pembelajaran Bahasa

Fenomena ini justru bisa dimanfaatin di kelas Bahasa Inggris:

  • Guru bisa pakai Bahasa Indonesia sebagai jembatan pemahaman.
  • Bahasa medsos bisa dijadikan bahan diskusi kritis untuk bedah makna, tata bahasa, dan konteks formalnya.

 
Sumber: https://bdkjakarta.kemenag.go.id/fenomena-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/

Simpulannya: Bahasa bakal terus berkembang ngikutin zaman. Fenomena alih kode Gen Z membuktikan kalau cara komunikasi kita emang adaptif. Yang paling penting bukan ngelarang, tapi paham kapan harus pakai gaya kasual dan kapan harus berbahasa formal.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan

**) dari beragam sumber


 second article

DARI TANAH LIAT KE LAYAR PONSEL, JEJAK AKSARA PENGUKIR PERADABAN

Dari Goresan Paku Di Tanah Liat Sekitar 3200 SM, Sampai Jempol Kita Yang Scroll Di HP Hari Ini.

Oleh: Regina *)


Pernah nggak sih kita berpikir, sebelum ada alfabet, buku, bahkan HP, manusia dulu kalau mau menyimpan sesuatu bagaimana caranya? Sekarang, menulis itu gampang banget. Mau mencatat sesuatu, tinggal buka HP. Mau mengirim pesan, tinggal ketik. Bahkan kalau malas mengetik, kita bisa langsung kirim suara. Tapi ribuan tahun lalu, keadaannya tentu jauh berbeda. Belum ada HP. Belum ada buku. Belum ada kertas seperti yang kita kenal sekarang. Kalau begitu, bagaimana manusia zaman dulu menyimpan informasi?

Pada awalnya, banyak hal tentu hanya disampaikan lewat lisan. Orang mengingat apa yang mereka dengar, lalu menyampaikannya kepada orang lain. Tapi semakin lama kehidupan manusia berkembang. Mereka mulai berdagang, bercocok tanam, membangun kota, dan mengatur banyak hal.

Masalahnya, manusia punya satu keterbatasan: Lupa.

 
Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6848513/teks-tertulis-pertama-di-dunia-dituliskan-pada-lempengan-batu-kapur-3-500-sm

Bayangkan seorang pedagang harus mengingat berapa banyak barang yang ia punya, siapa yang membeli, berapa jumlahnya, dan apa yang masih harus dibayar. Kalau semuanya hanya mengandalkan ingatan, pasti akan mudah terjadi kesalahan.

Karena itulah, manusia mulai membutuhkan sesuatu yang bisa menyimpan informasi. Salah satunya adalah tulisan.

Dan salah satu tempat paling menarik untuk melihat awal perkembangan tulisan adalah Mesopotamia, wilayah yang sekarang termasuk Irak.

Awal Mula Aksara Paku dari Sumeria

Sekitar 3200 SM, masyarakat di Mesopotamia sudah menggunakan salah satu sistem tulisan paling awal yang diketahui manusia. Tulisan ini dikenal sebagai cuneiform, atau yang sering disebut aksara paku.

 
Sumber: https://share.google/images/mCMsLvPVVa4pZZ9BU

Kenapa disebut aksara paku? Karena bentuk tandanya memang terlihat seperti baji atau paku kecil. Cara membuatnya juga cukup unik. Mereka menggunakan tanah liat yang masih lunak, kemudian menekannya dengan alat bernama stylus. Setiap tekanan meninggalkan bentuk tertentu pada permukaan tanah liat.

Sumber: https://share.google/images/VXNMayROMQvzvc5Hr

Jadi, mereka bukan menulis dengan cara menggores seperti kita menggunakan pensil. Mereka lebih seperti menekan-nekan tanah liat untuk membuat tanda. Awalnya, tulisan banyak digunakan untuk hal-hal yang sederhana dan praktis. Misalnya mencatat barang, hasil panen, perdagangan, atau urusan administrasi. Namun ternyata manusia tidak berhenti di situ.  Lama-kelamaan, tulisan digunakan untuk mencatat cerita, doa, aturan, pengetahuan, bahkan kisah tentang raja dan pahlawan.

Yang menarik, beberapa tablet tanah liat itu masih bisa kita temukan sampai sekarang. Sebagian tablet yang terkena kebakaran justru menjadi lebih keras karena panas. Jadi, sesuatu yang seharusnya menghancurkan sebuah kota pada akhirnya malah membantu menyelamatkan sebagian catatan dari masa lalu. Bayangkan. Seseorang ribuan tahun lalu mungkin hanya sedang mencatat sesuatu yang menurutnya biasa saja. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ribuan tahun kemudian, manusia akan menemukan tulisannya dan mencoba memahami kehidupannya.

Tulisan Ternyata Ada di Banyak Tempat. Mesopotamia bukan satu-satunya tempat manusia mengembangkan tulisan. Di Mesir, berkembang hieroglif, tulisan yang menggunakan berbagai simbol untuk menyampaikan bunyi, benda, maupun gagasan. Di wilayah lain, muncul sistem tulisan yang berbeda lagi. Ada aksara Fenisia yang kemudian memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan alfabet. Ada juga aksara Indus yang sampai sekarang masih belum berhasil dibaca dengan pasti. Di wilayah Yunani Mycenaean, ada Linear B, yang ternyata digunakan untuk menulis bentuk awal bahasa Yunani. Sementara itu, di Mesoamerika, berkembang berbagai tradisi simbol dan tulisan yang kemudian mencapai bentuk yang sangat kompleks pada peradaban Maya. Mereka hidup di tempat yang berbeda. Bahasa mereka berbeda. Bentuk tulisannya juga berbeda. Tapi ada satu hal yang terasa sama. Mereka semua menemukan cara untuk membuat sesuatu yang awalnya hanya ada di pikiran manusia menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan disimpan.

Tulisan Bukan Hanya untuk Mencatat Barang

Kalau mendengar tentang tulisan kuno, mungkin yang langsung terbayang adalah catatan perdagangan atau simbol-simbol yang sulit dimengerti. Memang, pada awal perkembangannya, tulisan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi semakin lama, tulisan menjadi lebih dari sekadar catatan. Manusia mulai menulis tentang apa yang mereka percaya. Tentang kehidupan. Tentang dewa-dewa. Tentang raja dan pahlawan. Tentang pengetahuan yang mereka miliki. Ada kisah Gilgamesh, misalnya. Ada juga doa, himne, aturan, catatan matematika, hingga pengamatan tentang langit. Di titik itu, tulisan mulai melakukan sesuatu yang luar biasa. Manusia tidak hanya menyimpan barang dan angka. Mereka mulai menyimpan pikiran. Dan ketika pikiran bisa ditulis, pengetahuan tidak harus berhenti ketika seseorang meninggal. Seseorang bisa menulis sesuatu hari ini. Lalu orang lain membacanya bertahun-tahun kemudian. Bahkan ribuan tahun kemudian.

Sumber: https://www.agungkomputer.com/news/manfaat-menggunakan-stylus-pen

Dari Stylus ke Jempol

Sekarang coba kita kembali ke zaman sekarang. Kalau lima ribu tahun lalu seseorang ingin menyimpan sebuah pesan, ia mungkin mengambil tanah liat, memegang stylus, lalu membuat tanda satu demi satu. Hari ini? Kita mengambil HP. Buka layar. Ketik. Scroll. Kirim. Sederhana sekali. Alatnya berubah. Medianya berubah. Cara kita menulis juga berubah. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin ada satu hal yang sebenarnya masih sama. Kita masih ingin meninggalkan sesuatu. Kita menulis pesan supaya orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Kita menulis catatan supaya tidak lupa. Kita menulis cerita supaya sesuatu yang kita rasakan bisa diketahui orang lain. Ribuan tahun lalu, manusia menekan stylus ke tanah liat. Hari ini, kita menekan layar dengan jempol.

Dari tanah liat sampai layar ponsel, manusia terus mencari cara untuk melakukan hal yang sama: menyimpan apa yang ingin kita ingat. Dan mungkin, suatu hari nanti, tulisan yang kita anggap biasa hari ini juga akan menjadi bagian dari sejarah. Lalu pertanyaannya adalah: Kalau 5.000 tahun lagi manusia menemukan tulisan kita, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan tentang kita?

 

*) Siswa Kelas X-H SMAN 1 Pangalengan TP. 2026-2027

**) dari beragam sumber

Minggu, 06 September 2026

Matemagic

 "MATEMATIKA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI"

Oleh: Ary Wilman Nasution, M.Pd *)


“Ternyata, Hidup Kita Tidak Pernah Lepas dari Matematika”

Pernahkah kamu berpikir bahwa hampir setiap keputusan yang kita ambil sebenarnya menggunakan matematika?. Ketika membeli makanan, kita menghitung harga dan uang kembalian. Ketika bepergian, kita memperkirakan jarak, waktu, dan biaya perjalanan. Ketika menabung, kita menghitung berapa banyak uang yang akan terkumpul. Bahkan ketika memilih paket internet atau membandingkan diskon di toko, kita sedang menggunakan matematika. Matematika bukan hanya tentang angka, rumus, dan soal di buku. Matematika adalah alat untuk memahami situasi, menganalisis informasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/CpRRQYgN35j/

1. Matematika Saat Berbelanja

Bayangkan kamu pergi ke sebuah toko. Sebuah jaket memiliki harga Rp400.000 dan sedang mendapatkan diskon 25%.    Berapa harga yang harus kamu bayar?

Diskon: 25% × Rp400.000 = Rp100.000

Harga setelah diskon: Rp400.000 − Rp100.000 = Rp300.000.   Namun, jangan langsung tergiur dengan tulisan “DISKON 25%”. Misalnya toko lain menawarkan jaket yang sama dengan harga Rp350.000 dan memberikan diskon 15%. Harga setelah diskon: Rp350.000 − (15% × Rp350.000) = Rp350.000 − Rp52.500 = Rp297.500. Pertanyaan:Toko mana yang memberikan harga lebih murah?. Dari contoh tersebut, kita belajar bahwa matematika membantu kita membandingkan pilihan sebelum mengambil keputusan.

2. Matematika dalam Menabung

Andi ingin membeli sebuah sepeda seharga Rp3.000.000. Ia berencana menabung Rp250.000 setiap bulan.      Berapa bulan yang dibutuhkan Andi? Rp3.000.000 ÷ Rp250.000 = 12 bulan. Artinya, Andi membutuhkan waktu sekitar 1 tahun.  Tetapi bagaimana jika Andi dapat menabung Rp300.000 setiap bulan? Rp3.000.000 ÷ Rp300.000 = 10 bulan. Dengan menambah tabungan Rp50.000 setiap bulan, Andi dapat mencapai target 2 bulan lebih cepat. Matematika membantu kita membuat perencanaan keuangan yang lebih realistis.

 
Sumber: https://www.loanmarket.co.id/news/susah-menabung-simak-tips-tips-berikut-ini-dan-apa-saja-kendalanya

3. Matematika dalam Perjalanan

Sebuah kendaraan menempuh perjalanan sejauh 120 km dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Waktu perjalanan: t = s ÷ v . t = 120 ÷ 60. t = 2 jam. Jika kendaraan menggunakan bahan bakar 1 liter untuk setiap 12 km, maka bahan bakar yang diperlukan: 120 ÷ 12 = 10 liter. Jika harga bahan bakar Rp10.000 per liter, biaya bahan bakarnya: 10 × Rp10.000 = Rp100.000. Dengan matematika, kita dapat memperkirakan waktu dan biaya perjalanan

4. Matematika dan Paket Internet

Sebuah paket internet menawarkan:  30 GB selama 30 hari dengan harga Rp60.000.  Jika digunakan secara rata setiap hari, kuota maksimal yang dapat digunakan: 30 GB ÷ 30 hari = 1 GB per hari. Bagaimana jika seseorang menggunakan rata-rata 1,5 GB setiap hari? Dalam 30 hari: 1,5 × 30 = 45 GB Artinya, paket 30 GB tidak akan cukup. Pertanyaan: Apakah paket tersebut cocok untuk orang yang menggunakan internet 1,5 GB setiap hari? Matematika membantu kita menilai apakah suatu produk sesuai dengan kebutuhan kita.

5. Matematika dalam Bunga dan Pinjaman

Ketika seseorang menabung di bank atau meminjam uang, matematika kembali digunakan. Misalnya seseorang menabung Rp5.000.000 dengan bunga 4% per tahun. Bunga selama satu tahun: 4% × Rp5.000.000 = Rp200.000. Jika bunga tersebut diberikan tanpa memperhitungkan pajak atau perubahan lainnya, saldo menjadi: Rp5.000.000 + Rp200.000 = Rp5.200.000. Dalam kehidupan nyata, perhitungan bunga dapat menjadi lebih kompleks karena terdapat bunga majemuk, biaya administrasi, pajak, dan ketentuan lainnya.      Karena itu, memahami matematika keuangan dapat membantu kita agar lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial.

 
Sumber: https://www.elephango.com/index.cfm/pg/k12learning/lcid/10949/Building_a_Hous

6. Matematika dalam Membangun Rumah

Matematika juga digunakan ketika membangun atau memperbaiki rumah. Misalnya sebuah kamar berukuran panjang 4 m dan lebar 3 m. Luas lantai: L = p × l. L = 4 × 3. L = 12 m².    Jika satu kotak keramik dapat menutupi 1 m², maka diperlukan minimal 12 kotak keramik.  Namun dalam praktiknya, kita perlu membeli lebih banyak untuk mengantisipasi keramik yang terpotong atau rusak. Misalnya ditambah 10%: 10% × 12 = 1,2 m²   Sehingga kebutuhan sekitar: 12 + 1,2 = 13,2 m² Jadi, kita dapat membeli sekitar 14 kotak.

7. Matematika dalam Mengambil Keputusan

Matematika tidak selalu menghasilkan satu jawaban yang langsung terlihat. Kadang kita harus:

- Mengumpulkan informasi → Menghitung → Membandingkan → Menganalisis → Mengambil keputusan.

Contohnya:  Kamu memiliki uang Rp50.000.   Kamu memiliki tiga pilihan: Pilihan| Harga| Manfaat

A| Rp30.000| 1 produk

B| Rp45.000| 2 produk

C| Rp50.000| 3 produk

Apakah pilihan C otomatis merupakan pilihan terbaik? Belum tentu. Kita harus mempertimbangkan kebutuhan, kualitas, manfaat, dan jumlah uang yang tersisa. Inilah salah satu kemampuan penting dalam literasi matematika: menggunakan informasi secara kritis untuk mengambil keputusan.

 
Sumber: https://sains.kompas.com/read/2018/11/10/200700523/akademisi--matematika-bukan-sekadar-hitung-hitungan

MATEMATIKA BUKAN SEKADAR MENGHITUNG

Literasi matematika berarti mampu menggunakan matematika dalam situasi nyata. Orang yang memiliki literasi matematika tidak hanya mampu menjawab: “Berapa hasilnya?”  Tetapi juga mampu bertanya:      “Apakah hasil tersebut masuk akal?”  “Informasi apa yang sebenarnya saya perlukan?”  “Pilihan mana yang paling menguntungkan?” “Apa dampaknya jika kondisi berubah?” “Apakah keputusan saya berdasarkan data atau hanya perkiraan?”. Dengan demikian, matematika membantu seseorang menjadi lebih kritis, logis, teliti, dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

 AKTIVITAS LITERASI

Perhatikan situasi berikut. Kamu memiliki uang Rp100.000 dan ingin menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan selama satu hari.  Kamu harus memilih:

- Makanan: Rp25.000

- Transportasi: Rp20.000

- Minuman: Rp10.000

- Hiburan: Rp30.000

- Menabung: Rp15.000

Pertanyaan:

1. Apakah seluruh kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan Rp100.000?

2. Berapa jumlah seluruh pengeluaran?

3. Berapa sisa uang?

4. Jika biaya transportasi naik 20%, apakah uang Rp100.000 masih cukup?

5. Jika kamu harus menabung minimal Rp20.000, pengeluaran apa yang akan kamu kurangi?

6. Menurutmu, keputusan mana yang paling bijaksana? Jelaskan alasanmu.

 
Sumber: https://www.google.com/search?q=manfaat+matematika&sca_esv

REFLEKSI

Setelah membaca literasi ini, tuliskan 3 contoh penggunaan matematika yang kamu lakukan hari ini.

1. ---

2. ---

3. ---

Kemudian jawab: "Mengapa matematika penting dalam kehidupan saya?”.....

PESAN:

·         Matematika bukan hanya pelajaran di sekolah.

·         Matematika ada ketika kita berbelanja, menabung, bepergian, bekerja, berbisnis, menggunakan teknologi, mengatur waktu, dan mengambil keputusan.

·         Semakin baik kita memahami matematika, semakin baik pula kita dapat membaca kehidupan dengan data dan mengambil keputusan dengan bijak.

 

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan, Wirausahawa muda, Ketua MGMP Matematika Kabupaten Bandug.

 

REFERENSI:

Dari berbagai Sumber.

Jumat, 04 September 2026

You Should Know

 SMART CITY INDONESIA DAN DUNIA

Oleh: Syakira Fatmi Azam *)


Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara kota-kota di dunia dikelola. Konsep smart city atau kota cerdas kini menjadi arah pembangunan banyak negara, termasuk Indonesia. Smart city adalah konsep pengelolaan kota yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi layanan publik, kualitas hidup warga, serta keberlanjutan lingkungan.

Sumber: https://unair.ac.id/tantantang-surabaya-sebagai-smart-city/

Smart City di Dunia

Beberapa kota di dunia telah menjadi contoh sukses penerapan smart city. Singapura misalnya, dikenal dengan sistem transportasi pintar yang terintegrasi, sensor lalu lintas otomatis, serta layanan pemerintahan digital yang memudahkan warganya mengurus berbagai keperluan hanya melalui aplikasi. Kota Barcelona di Spanyol menerapkan sistem pencahayaan jalan pintar yang menyesuaikan intensitas cahaya berdasarkan aktivitas warga, sehingga menghemat energi secara signifikan. Sementara itu, Seoul di Korea Selatan memanfaatkan big data untuk mengatur rute bus malam berdasarkan pola penggunaan ponsel warganya.

     Ciri khas dari smart city di negara-negara maju ini adalah integrasi antara teknologi, data, dan kebijakan pemerintah yang berjalan beriringan, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat sehari-hari.

Contoh penerapan smart city di dunia:

·         Singapura  sistem transportasi pintar dan pemerintahan digital terintegrasi

·         Barcelona (Spanyol)  lampu jalan pintar yang hemat energi

·         Seoul (Korea Selatan) big data untuk mengatur rute bus malam

·         Amsterdam (Belanda)  sensor pintar untuk memantau kualitas udara dan sampah

·         Dubai (UEA)  layanan pemerintah 100% digital tanpa kertas

 

Sumber: https://www.alinea.id/nasional/jawa-barat-berencana-bangun-9-command-center-b1ZWF9yr2

Smart City di Indonesia

Di Indonesia, konsep smart city mulai diterapkan di berbagai kota besar. Jakarta dengan program Jakarta Smart City menghadirkan aplikasi JAKI yang memungkinkan warga melaporkan masalah kota, memantau informasi banjir, hingga mengakses layanan kesehatan. Bandung dikenal dengan Bandung Command Center yang memantau kondisi kota secara real-time melalui ratusan kamera CCTV yang terhubung. Surabaya juga menerapkan e-government yang memudahkan pelayanan perizinan dan administrasi kependudukan secara daring.

Contoh penerapan smart city di Indonesia:

·         Jakarta  aplikasi JAKI untuk lapor masalah kota, info banjir, dan layanan kesehatan

·         Bandung  Bandung Command Center, pemantauan kota real-time lewat CCTV

·         Surabaya  e-government untuk perizinan dan administrasi kependudukan daring

·         Semarang  Kota Lama Smart Heritage, integrasi teknologi di kawasan wisata

·         Makassar Makassar Smart City dengan pusat data terpadu untuk layanan public

 

Sumber: https://intikom.com/uu_pdp_recap/

Meski demikian, penerapan smart city di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesenjangan infrastruktur digital antara kota besar dan daerah, keterbatasan literasi teknologi masyarakat, serta perlunya jaminan keamanan data pribadi warga.

Peran Generasi Muda

Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, pelajar memiliki peran penting dalam mendukung perwujudan smart city. Kebiasaan sederhana seperti menggunakan layanan digital pemerintah, aktif melaporkan masalah lingkungan melalui aplikasi resmi, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap efisiensi energi adalah langkah nyata yang bisa dimulai dari diri sendiri.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DZGzz2WAVwk/

Penutup

Smart city bukan sekadar soal teknologi canggih, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan warga - termasuk generasi muda - Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kota-kota cerdas yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga ramah dan inklusif bagi seluruh warganya.

 

*) Murid Kelas XII B1 SMAN 1 Pangalengan TP. 2026-2027

**) dari berbagai sumber

Historyca

  APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026? BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)       Ilustrasi erupsi ...