"Leaders are not born, they are made. And they are made just like anything else, through hard work and determination." @abuafifi

Selasa, 20 Oktober 2026

Climate Resilient School

 EL NINO, LA NINA DAN SEKOLAH BERKETAHANAN IKLIM

Oleh: Tim SBI SMAN 1 Pangalengan

Pernahkah Ananda memperhatikan kondisi sekolah kita dua bulan terakhir ini? rumput di taman depan sekolah “kering kerontang” menguning, atau pada saat kita ambilair wudlu di masjid Al Ijtihad sekolah kita tiba-tiba air berhenti mengalir? Yap… betul saat ini kita berada dalam musim kemarau yang Panjang…di beberapa tempat hujan belum juga turun. Apa yang terjadi? Indonesia, sebagai negara kepulauan yang berada di garis khatulistiwa, sangat rentan terhadap fenomena iklim global seperti El Nino dan La Nina. Kedua fenomena ini berpengaruh besar terhadap pola cuaca dan kehidupan masyarakat, terutama dalam sektor pertanian, perikanan, serta ketersediaan air bersih seperti halnya kasus di sekolah kita tadi.

 
Sumber: https://inca.ac.id/perubahan-iklim/

Apa Itu El Nino dan La Nina?

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan perubahan pola angin dan curah hujan. Sebaliknya, La Nina adalah fenomena pendinginan suhu permukaan laut di wilayah yang sama, yang juga mempengaruhi kondisi cuaca global. El Nino dan La Nina terjadi dalam siklus yang tidak tetap, biasanya setiap 2 hingga 7 tahun. Beberapa kejadian besar El Nino yang berdampak signifikan terjadi pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Sementara La Nina besar terjadi pada tahun 1988-1989, 2010-2011, dan 2020-2021. Dan beberapa pemberitaan media tahun ini (2026) menurut para ahli kita akan dihadapkan dengan fenomena tersebut dalam kondisi yang lebih ekstrem. Kita kenali yuk lebih dekat fenomena tersebut!.

 
Sumber: https://fmipa.unesa.ac.id/2025/12/el-nino-la-nina-bagi-pemula-mengenal-pengendali-cuaca-bumi-edisi-ilmiah-populer/

Dampak El Nino di Indonesia

Ketika El Nino terjadi, Indonesia biasanya mengalami kondisi berikut:

·         Kekeringan Ekstrem. Berkurangnya curah hujan menyebabkan kekeringan panjang yang berdampak pada sektor pertanian, terutama padi dan tanaman pangan lainnya.

·         Krisis Air Bersih. Penurunan pasokan air akibat berkurangnya curah hujan berimbas pada kebutuhan rumah tangga dan industri.

·         Meningkatnya Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan. Dengan kondisi tanah yang kering, risiko kebakaran hutan meningkat, menyebabkan polusi udara dan gangguan kesehatan.

·         Gangguan pada Sektor Perikanan. Suhu air laut yang lebih hangat mengurangi populasi ikan di perairan Indonesia, merugikan nelayan lokal.

 

Sumber: https://www.suara.com/news/2026/08/19/195545/di-balik-el-nino-2026-mengapa-indonesia-terancam-krisis-air-dan-pangan

Dampak La Nina di Indonesia

Sebaliknya, saat La Nina terjadi, dampaknya meliputi:

·         Curah Hujan Berlebih. Hujan deras dan banjir sering terjadi, mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian.

·         Tingkat Kejadian Bencana Alam yang Lebih Tinggi. Tanah longsor, banjir bandang, dan badai tropis menjadi lebih sering terjadi.

·         Penurunan Produksi Pertanian. Genangan air di sawah dan ladang dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen dan meningkatkan harga pangan.

·         Gangguan di Sektor Transportasi dan Ekonomi. Jalanan rusak dan banjir menghambat distribusi barang serta aktivitas ekonomi masyarakat.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/CWGepawh3CF/

Upaya Mitigasi dan Adaptasi

Menghadapi dampak El Nino dan La Nina, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan, antara lain:

·         Pengelolaan Sumber Daya Air yang Lebih Baik. Pembuatan waduk, embung, dan sistem irigasi yang efisien untuk mengantisipasi musim kering panjang.

·         Penggunaan Teknologi Pertanian yang Adaptif. Penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan atau genangan air untuk mengurangi dampak terhadap hasil pertanian.

·         Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis. Meningkatkan upaya penghijauan dan pencegahan kebakaran hutan melalui patroli dan edukasi masyarakat.

·         Sistem Peringatan Dini dan Edukasi Masyarakat. Meningkatkan sistem pemantauan cuaca dan menyebarkan informasi dini kepada masyarakat untuk mengurangi risiko bencana.

·         Diversifikasi Sumber Mata Pencaharian. Mendorong sektor ekonomi alternatif bagi petani dan nelayan agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pendapatan.

 

Sumber: https://www.antaranews.com/infografik/2510245/mitigasi-dampak-la-nina

Bencana yang mungkin terjadi saat La Nina atau El Nino secara umum adalah bencana-bencana hidrometeorologi. Dengan adanya peningkatan curah hujan saat La Nina, kemungkinan bencana yang dapat terjadi adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, bahkan badai tropis. Sedangkan saat El Nino kemungkinan bencana yang terjadi adalah kekeringan dan kebakaran lahan/hutan. Perlu diperhatikan bahwa kekeringan berkepanjangan akan berdampak lebih jauh lagi pada pertanian, perekonomian dan sosial. Dengan kerja sama antara pemerintah, dan masyarakat, Indonesia dapat lebih siap menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem. Edukasi dan kesadaran lingkungan menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan terhadap fenomena ini. Alhamdulillah sekolah kita berinisiatif menjadi bagian dari ikhtiar membangun ketahanan iklim melalui program Sekolah Berketahanan Iklim (SBI) dari tahun 2023, melalui program Sakesapoleca, Byopac2S, Smart Garden, Pengolahan sampah sekolah, hemat sumber daya Listrik dan air, dll SBI mencoba mengedukasi warga sekolah dan Masyarakat sekitar tentang pentingnya antisipasi perubahan iklim sejak dini.  semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanawata’ala senantiasa melindungi dan meridhoi iktiar kita ini…Aamiien yra.

 

*) Refrensi tulisan:

  •          https://cews.bmkg.go.id/enso-tentang.php
  •     https://sda.pu.go.id/balai/bhlk/id/berita/mengenal-el-nio-dan-la-nia-dua-wajah-berlawanan-dari-samudra-pasifik-yang-mempengaruhi-indonesia
  •          https://adraindonesia.org/id/dampak-el-nino-dan-la-nina-di-indonesia/
  •         https://www.brin.go.id/news/120372/memahami-siklus-el-nino-dan-la-nina-apa-pengaruhnya-di-indonesia

Senin, 19 Oktober 2026

Teenlits

 SAYANG BOLEH, KEHILANGAN DIRI JANGAN!

by dedesantiwahyuningsih

Tentang diri sendiri, teman, circle, dan pasangan

 

 

Pernah nggak sih kamu melakukan sesuatu yang sebenarnya nggak kamu mau, cuma karena takut nggak diterima?

Teman ngajak sesuatu, kamu ikut karena takut dibilang “nggak solid.”

Teman bercanda kelewatan, kamu sebenarnya sakit hati, tapi tetap ketawa dan bilang, “Santai, gue nggak baper.”

Atau ketika punya pasangan, kamu mulai mengikuti semua kemauannya karena takut dia marah atau takut kehilangan.

Padahal dalam hati mungkin ada suara kecil:

“Sebenarnya aku nggak nyaman...”

Kalau kamu pernah merasakan hal seperti itu, kamu nggak sendirian.

Sebagai remaja, kita memang sedang belajar banyak hal. Belajar berteman, belajar memahami perasaan, belajar menyukai seseorang, bahkan belajar mengenal diri sendiri.

Tapi ada satu hal yang penting untuk dipelajari:

Sayang sama orang lain itu boleh, tapi jangan sampai lupa sayang sama diri sendiri.

 

🫶 SAYANG DIRI SENDIRI ITU BUKAN EGOIS

Mencintai diri sendiri bukan berarti merasa paling hebat atau cuma memikirkan diri sendiri.

Mencintai diri sendiri berarti tahu bahwa dirimu juga penting.

Kamu boleh punya kekurangan,boleh melakukan kesalahan,boleh gagal,boleh sedih,boleh cape

Dan kamu nggak harus selalu terlihat baik-baik saja.

Jangan terlalu sibuk membandingkan dirimu dengan orang lain.

Temanmu mungkin lebih pintar,ada yang lebih populer,ada yang punya banyak teman,

Ada yang sudah punya pasangan,ada yang terlihat bahagia terus di medsos nya.

Tapi ingat...

Yang kamu lihat di media sosial belum tentu seluruh cerita hidup seseorang.

Jadi, nggak perlu merasa hidupmu tertinggal hanya karena hidup orang lain terlihat lebih seru.

Kamu punya waktu mu  sendiri.

 

👥 TEMAN BANYAK BELUM TENTU TEMAN DEKAT

Punya banyak teman memang menyenangkan.

Bisa ngobrol, bercanda, nongkrong, belajar bareng, bikin konten, atau sekadar saling kirim meme.

Tapi banyak teman bukan berarti semuanya harus dekat dengan kita.

Dan kamu juga nggak harus memaksakan diri masuk ke semua circle.

Kadang kita terlalu takut sendirian sampai rela melakukan apa saja supaya tetap diterima.

Misalnya:

“Kalau gue nggak ikut, nanti dibilang nggak solid.”

“Kalau gue beda pendapat, nanti mereka ninggalin gue.”

“Kalau gue bilang nggak, nanti gue nggak punya teman.”

Padahal...

Teman yang baik nggak akan memaksamu menjadi orang lain hanya supaya kamu bisa diterima.

 

🚩 TEMAN KOK BIKIN CAPEK?

Namanya berteman, pasti pernah beda pendapat.

Kadang bercanda.kadang salah paham,kadang kesal dan itu hal yang normal yaaa

Tapi coba perhatikan kalau kamu mulai sering merasa:

takut ngomong karena takut diketawain,

sering dibanding-bandingkan,

selalu dijadikan bahan bercandaan,

dicari cuma kalau ada maunya,

merasa harus selalu nurut,

dibuat merasa bersalah ketika bilang “nggak”,

atau setiap selesai kumpul malah merasa capek dan kepikiran.

Kalau itu sering terjadi, coba tanya ke diri sendiri:

“Pertemanan ini bikin aku nyaman atau malah bikin aku kehilangan percaya diri?”

Teman yang baik bukan berarti harus selalu setuju dengan kita.

Teman yang baik bisa mengingatkan tanpa merendahkan,bisa bercanda tanpa sengaja menyakiti,

Bisa ikut senang ketika kita berhasil. dan yang paling penting…..

Kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

 

💕 TERUS KALAU SUDAH PUNYA PASANGAN?

Nah, ini juga sering terjadi.

Awalnya cuma sering chat,lama lama jadi sering cerita,mulai saling perhatian,terus muncul rasa.

Ditungguin chat-nya,ketika dia lama balas mulai kepikiran,kalo dia perhatian jadi senyum senyum sendiri.

“Waduh, kayaknya gue mulai suka, nih.” 😄

Suka sama seseorang itu wajar. Punya pasangan juga bukan sesuatu yang salah.

Tapi jangan sampai karena sayang, kamu lupa dengan dirimu sendiri.

 

❤️ SAYANG BOLEH, TAPI JANGAN KEHILANGAN DIRI

Ketika punya pasangan, kadang kita ingin membuat dia selalu senang.

Akhirnya semua kemauannya dituruti,Teman mulai dijauhi,Hobi mulai ditinggalkan,Waktu belajar berkurang,Semua perhatian hanya untuk pasangan.

Padahal hubungan yang sehat bukan seperti itu.

Kamu tetap boleh punya teman.Tetap boleh belajar.Tetap boleh punya hobi.Tetap boleh punya cita-cita.Tetap boleh punya waktu untuk keluarga.

Dan tentu saja...

Tetap boleh punya waktu untuk dirimu sendiri.

Pasangan adalah bagian dari hidupmu.

Bukan seluruh hidupmu.

 

🚩 CEMBURU ITU WAJAR, TAPI MENGONTROL ITU BEDA

Sedikit cemburu mungkin wajar. Tapi coba hati-hati kalau sudah seperti:

“Kamu nggak boleh temenan sama dia.”

“Kok kamu online tapi nggak balas chat aku?”

“Aku nggak suka kamu pergi sama temanmu.”

“Kalau kamu sayang aku, kamu harus nurut.”

Perhatian dan mengontrol itu berbeda. Sayang bukan berarti seseorang boleh mengatur seluruh hidupmu. Begitu juga sebaliknya. Kalau kamu punya pasangan, kamu juga nggak berhak mengatur seluruh hidupnya. Hubungan yang sehat membutuhkan kepercayaan, komunikasi, dan batasan.

💬 JANGAN SAMPAI MOOD-MU TERGANTUNG SAMA SATU  ORANG

Dia chat → senang. Dia nggak chat → bad mood. Dia ngajak ngobrol → semangat. Dia cuek → seharian kepikiran.

Kalau hidupmu mulai terasa seperti naik turun hanya karena sikap satu orang, coba berhenti sebentar.

Tarik napas.

Lalu ingat:  “Hidupku nggak cuma tentang dia.”

Kamu punya keluarga. punya teman,punya sekolah,punya hobi,punya cita cita Dan yang paling penting, kamu punya dirimu sendiri. Jangan menyerahkan seluruh kebahagiaanmu kepada satu orang.

 

🗣️ BELAJAR BILANG “NGGAK”

Ini mungkin terlihat sederhana, tapi sebenarnya nggak gampang.

Kita takut dibilang:

sombong, baper, nggak setia kawan, berubah, atau nggak sayang.

Padahal kamu boleh bilang:

“Nggak, aku nggak mau.” “Aku kurang nyaman kalau begitu.” “Kayaknya aku nggak ikut.”

“Aku punya pilihan sendiri.” Dan itu nggak membuatmu jadi orang jahat.

Menjadi baik bukan berarti harus selalu bilang “iya”.

Kadang mengatakan “nggak” adalah cara kita menjaga diri.

 

🌱 KALAU HARUS MENJAUH, NGGAK APA-APA

Ada orang yang memang cocok menjadi teman. Ada yang cocok hanya menjadi kenalan.

Ada yang datang sebentar lalu pergi. Begitu juga dengan hubungan.

Nggak semua hubungan harus dipertahankan selamanya.

Kalau sebuah pertemanan atau hubungan membuatmu terus merasa tidak dihargai, kehilangan kepercayaan diri, atau tidak bisa menjadi dirimu sendiri, kamu boleh mengambil jarak.

Nggak perlu drama. Nggak perlu saling menjatuhkan.

Nggak perlu membalas perlakuan buruk dengan perlakuan buruk.

Cukup jaga dirimu dan pilih apa yang membuatmu lebih aman dan nyaman.

Karena terkadang...

Kehilangan seseorang lebih baik daripada kehilangan dirimu sendiri.

 

🌻 KAMU NGGAK HARUS PUNYA PASANGAN SEKARANG

Kalau teman-temanmu sudah punya pasangan dan kamu belum, nggak apa-apa.

Kamu nggak kurang. Kamu nggak ketinggalan.

Dan kamu nggak harus buru-buru punya pasangan hanya karena takut dibilang jomblo.

Jangan menerima seseorang hanya karena takut kesepian.

Jangan menjalani hubungan hanya karena semua temanmu punya pasangan.

Dan jangan bertahan dalam hubungan hanya karena takut nggak akan menemukan orang lain.

Kamu masih punya banyak waktu untuk mengenal dirimu sendiri.

Fokus pada sekolah. Kejar cita-cita. Cari pengalaman. Bangun pertemanan yang sehat.

Dan belajar menjadi versi dirimu yang lebih baik. Nggak perlu buru-buru.

 

💛 PADA AKHIRNYA, JANGAN KEHILANGAN “AKU”

Teman bisa berubah. Circle bisa berganti. Pasangan bisa datang dan pergi. Tapi kamu akan selalu hidup bersama dirimu sendiri.

Jadi sebelum sibuk mencari orang yang sayang sama kamu, jangan lupa belajar menyayangi dirimu sendiri.

Sayang boleh. baper boleh, punya pasangan boleh, punya banyak teman juga boleh.

Tapi tetap punya batas. Tetap punya prinsip. Tetap punya cita-cita. Tetap punya kehidupan sendiri.

Dan jangan pernah merasa harus menjadi orang lain supaya disukai.

Kamu nggak harus sempurna untuk berharga.

Kamu nggak harus punya banyak teman untuk merasa cukup.

Kamu nggak harus punya pasangan untuk merasa dicintai.

Dan kamu nggak harus disukai semua orang untuk bisa bahagia.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa banyak orang yang ada di sekitarmu.

Tetapi...

“Apakah bersama mereka, aku masih bisa menjadi diriku sendiri?”

Kalau jawabannya iya, jaga hubungan itu. Kalau jawabannya tidak, mungkin sudah waktunya membuat batas.

Sayang orang lain boleh. Tapi jangan lupa, kamu juga harus sayang sama dirimu sendiri. ❤️

Ingat: Punya teman itu menyenangkan. Punya pasangan juga menyenangkan.
Tapi punya hubungan yang sehat dengan dirimu sendiri adalah hal yang paling penting.
🌱

 

#disadurdariberbagaisumber#

Minggu, 18 Oktober 2026

SAINTOLOGY

 SABUN VS MINYAK. PERTARUNGAN YANG DIJELASKAN KIMIA

Oleh:  Subagja, S.Pd *)

 

Kalau pernah menonton film Mariposa, mungkin kita ingat bagaimana kisah Acha dan Iqbal penuh dengan kejar-kejaran, tarik-ulur, dan usaha untuk mendekat satu sama lain. Ternyata, dalam kehidupan sehari-hari, ada juga “pasangan” yang hubungannya tidak kalah rumit, yaitu air dan minyak. Ketika air dan minyak dicampurkan, keduanya tidak mau menyatu. Setelah beberapa saat, minyak akan kembali berada di bagian atas dan air di bawah. Namun, menariknya, ada satu “perantara” yang dapat membantu keduanya bekerja sama, yaitu sabun. Lalu, apa sebenarnya yang membuat sabun mampu menghilangkan minyak dan kotoran dari tangan kita? Jawabannya dapat ditemukan dalam struktur molekul sabun.

Sumber: https://radarmukomuko.disway.id/news/read/671409/cara-fungsi-air-dan-minyak-selalu-bersatu

Mengapa Air dan Minyak Tidak Bisa Bersatu?

Air dan minyak sulit bercampur karena keduanya memiliki sifat molekul yang berbeda. Air merupakan zat yang bersifat polar, sedangkan minyak pada umumnya tersusun atas molekul yang bersifat nonpolar.      Molekul air memiliki bagian yang bermuatan sebagian positif dan negatif sehingga dapat saling berinteraksi dengan molekul air lainnya. Sementara itu, molekul minyak tidak memiliki sifat polar yang sama.      Sederhananya, “yang memiliki sifat mirip cenderung lebih mudah bercampur.” Karena air dan minyak memiliki sifat yang berbeda, keduanya cenderung memisahkan diri. Hal ini sebenarnya bisa kita lihat dengan mudah. Coba masukkan sedikit minyak ke dalam segelas air dan aduk. Awalnya minyak mungkin terlihat seperti menyebar, tetapi tidak lama kemudian minyak akan kembali membentuk lapisan tersendiri.

 
Sumber: https://anakbertanya.com/mengapa-air-dan-minyak-tidak-menyatu/

Peran Sabun

Nah, di sinilah sabun berperan. Molekul sabun memiliki dua bagian dengan sifat yang berbeda. Bagian pertama disebut kepala hidrofilik, yaitu bagian yang menyukai atau dapat berinteraksi dengan air. Bagian kedua disebut ekor hidrofobik, yaitu bagian yang cenderung menghindari air dan lebih mudah berinteraksi dengan minyak. Karena memiliki dua bagian tersebut, sabun dapat menjadi penghubung antara air dan minyak. Ketika kita mencuci tangan dengan sabun, bagian ekor sabun akan berinteraksi dengan minyak dan kotoran yang menempel pada kulit. Sementara itu, bagian kepala sabun tetap berinteraksi dengan air. Dengan bantuan gerakan menggosok dan air yang mengalir, minyak dan kotoran akhirnya dapat terangkat dari permukaan kulit dan terbawa saat dibilas.  Jadi, sabun bukan sekadar membuat tangan menjadi wangi dan berbusa. Di balik busanya, terdapat proses kimia yang cukup menarik!

 
Sumber: https://www.republika.id/posts/48939/science-apakah-air-dan-minyak-dapat-bersatu

Misel: “Tim” Sabun yang Mengurung Minyak

Salah satu bagian paling menarik dari proses ini adalah terbentuknya misel. Ketika jumlah molekul sabun cukup banyak di dalam air, molekul-molekul tersebut dapat berkumpul membentuk struktur seperti bola kecil. Bagian ekor yang hidrofobik mengarah ke bagian dalam dan berinteraksi dengan minyak, sedangkan kepala hidrofilik menghadap ke luar dan berinteraksi dengan air. Dengan demikian, minyak dan kotoran dapat “terjebak” di bagian dalam misel. Saat tangan dibilas, misel yang membawa minyak dan kotoran dapat ikut terbawa oleh air. Inilah salah satu alasan mengapa mencuci tangan menggunakan sabun jauh lebih efektif untuk menghilangkan minyak dibandingkan hanya menggunakan air.

Sumber: https://web.facebook.com/hellosehat/posts/-infografik-cuci-tangan-dengan-sabun

Fakta Unik Kimia

1.       Sabun memiliki dua “sisi”

Satu bagian berinteraksi dengan air, sedangkan bagian lainnya berinteraksi dengan minyak. Sifat inilah yang membuat sabun efektif membersihkan.

2.       Busa bukan penentu utama daya bersih

Sabun yang menghasilkan banyak busa belum tentu selalu lebih efektif membersihkan. Busa lebih banyak berkaitan dengan keberadaan gas yang terperangkap dalam cairan.

3.       Air saja kurang efektif menghilangkan minyak

Karena air dan minyak berbeda sifat, air sulit membawa minyak pergi. Sabun membantu mengatasi masalah tersebut dengan membentuk misel.

4.       Proses mencuci tangan sebenarnya melibatkan kimia

Saat kita menggosok tangan dengan sabun, terjadi interaksi antara molekul sabun, air, minyak, dan kotoran. Jadi, kegiatan sederhana seperti mencuci tangan ternyata merupakan contoh kimia yang kita lakukan setiap hari.

 
Sumber: https://unnu.com/blog/cuci-tangan-menurut-who

Hubungan antara air dan minyak memang seperti kisah yang sulit dipertemukan. Keduanya memiliki sifat molekul yang berbeda sehingga tidak mudah bercampur. Namun, sabun hadir sebagai “perantara” yang membantu menghubungkan keduanya. Molekul sabun memiliki kepala hidrofilik yang berinteraksi dengan air dan ekor hidrofobik yang berinteraksi dengan minyak. Molekul-molekul tersebut kemudian dapat membentuk misel, sehingga minyak dan kotoran dapat terperangkap dan terbawa oleh air saat dibilas. Dari sini kita bisa melihat bahwa kimia ternyata tidak selalu tentang rumus dan perhitungan. Dari mencuci tangan saja, kita sudah bisa menemukan konsep polaritas, interaksi molekul, dan misel. Jadi, kalau Acha dan Iqbal punya cerita Mariposa, air dan minyak juga punya cerita mereka sendiri. Bedanya, dalam cerita air dan minyak, sabunlah yang menjadi “mak comblang”-nya!

 *) Guru Kimia di SMAN 1 Pangalengan

**) Referensi: dari berbagai sumber

Jumat, 16 Oktober 2026

Environmental Law

 MENGENAL PERAN JAKSA, HAKIM, DAN PENGACARA DALAM MENGADILI KASUS KARHUTLA

Oeh Tim Redaksi Literatsmansa

 

Hukum yang kuat bukan sekadar hukum yang mampu menghukum pelanggar, melainkan hukum yang mampu melindungi hak setiap manusia secara adil. Dalam negara hukum, kekuasaan tidak boleh berada di atas hukum. Prinsip ini menjadi penting ketika membandingkan penegakan hukum di Indonesia dengan negara lain, seperti Amerika Serikat dan Jerman, terutama dalam menghadapi persoalan lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan. Indonesia menganut tradisi hukum kontinental (civil law) yang menempatkan peraturan perundang-undangan sebagai sumber hukum utama. Amerika Serikat memiliki tradisi common law yang memberikan peran penting kepada preseden pengadilan, sedangkan Jerman juga berakar pada sistem civil law. Perbedaan tersebut memengaruhi mekanisme pemeriksaan perkara, peran hakim, dan proses penuntutan (Dubber & Hörnle, 2014; Feeney & Herrmann, 2021).

 
Sumber: https://bpbd.limapuluhkotakab.go.id/berita/penyebab-kebakaran-hutan

Dalam sistem Amerika Serikat, proses peradilan pidana umumnya bercorak adversarial, yakni jaksa dan pengacara pembela mengajukan serta menguji argumentasi dan bukti di hadapan hakim. Dalam perkara tertentu, juri turut menentukan fakta. Sementara itu, hakim di Jerman memiliki peran lebih aktif dalam pemeriksaan fakta dan bukti. Perbedaan ini menunjukkan bahwa keadilan dapat diupayakan melalui mekanisme yang beragam, asalkan hak para pihak dan prinsip peradilan yang adil tetap dijamin.      Indonesia memiliki landasan konstitusional yang kuat sebagai negara hukum. Namun, tantangan penegakan hukum tetap berkaitan dengan integritas aparat, independensi peradilan, transparansi, serta kesetaraan akses masyarakat terhadap keadilan. Tantangan tersebut terlihat dalam penanganan Karhutla di Kalimantan, yang tidak hanya menimbulkan kerusakan hutan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat, mengganggu aktivitas ekonomi, dan merusak ekosistem. Oleh karena itu, pembenahan tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak peraturan, tetapi harus disertai perbaikan pelaksanaan dan pengawasan.


 Sumber: https://www.google.com/search?q=landasan+konstitusional

Dalam proses tersebut, jaksa, hakim, dan pengacara memiliki peran strategis. Jaksa bertugas melakukan penuntutan berdasarkan hukum dan bukti. Dalam kasus Karhutla, jaksa perlu menelusuri secara objektif apakah kebakaran disebabkan oleh kelalaian, kesengajaan, atau praktik pembukaan lahan yang melanggar hukum, termasuk kemungkinan keterlibatan korporasi. Jaksa yang profesional tidak sekadar mengejar putusan bersalah, tetapi harus menjaga objektivitas serta menghormati prosedur hukum. Kajian Gilliéron (2014) memperlihatkan pentingnya membandingkan kewenangan penuntut umum dan mekanisme pertanggungjawabannya di berbagai negara. Hakim bertanggung jawab memeriksa, mengadili, dan memutus perkara secara independen. Dalam perkara Karhutla, putusan harus mempertimbangkan fakta yang terbukti, alat bukti yang sah, dampak kerusakan lingkungan, kerugian masyarakat, serta hubungan antara tindakan terdakwa dan terjadinya kebakaran. Putusan harus didasarkan pada fakta yang terbukti, alat bukti yang sah, dan pertimbangan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, pengacara atau advokat berperan memberikan bantuan dan pembelaan hukum agar hak klien terlindungi. Pembelaan bukan berarti membenarkan pelanggaran, melainkan memastikan bahwa proses hukum berjalan sesuai aturan.

 
Sumber: https://www.istockphoto.com/id/search/2/image-film?phrase=pembelaan+hukum

Ketiga profesi tersebut harus bekerja berdasarkan integritas dan etika. Jaksa tidak boleh memaksakan tuntutan, hakim tidak boleh tunduk pada intervensi, dan advokat tidak boleh menghalalkan segala cara demi memenangkan perkara. Dalam kasus Karhutla, integritas aparat sangat penting agar penegakan hukum tidak hanya menyasar pelaku lapangan, sementara pihak yang memiliki modal atau kewenangan justru terhindar dari pertanggungjawaban. Perbedaan fungsi mereka justru menjadi bagian penting dari mekanisme peradilan yang sehat. Indonesia dapat mempelajari praktik baik dari negara lain, khususnya dalam pengujian bukti, perlindungan hak terdakwa, akuntabilitas aparat, dan penegakan hukum lingkungan. Namun, setiap pembaruan harus disesuaikan dengan konstitusi dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Penanganan Karhutla juga perlu dilakukan secara terpadu melalui pengawasan perizinan, pencegahan pembakaran lahan, pemulihan lingkungan, serta pemberian sanksi yang proporsional dan efektif.

 
Sumber: https://www.purbalinggakab.go.id/gerakan-bersih-lingkungan-purbalingga-kumpulkan-15-ton-sampah

Pada akhirnya, keberhasilan penegakan hukum tidak diukur dari seberapa keras hukuman dijatuhkan, melainkan dari seberapa adil hukum diterapkan. Dalam kasus Karhutla di Kalimantan, hukum harus tegas terhadap pihak yang terbukti menyebabkan atau membiarkan terjadinya kebakaran, tetapi juga harus melindungi masyarakat yang terdampak dan orang yang tidak bersalah. Ketika jaksa, hakim, dan advokat menjalankan tugas secara profesional, kepercayaan masyarakat terhadap hukum dapat tumbuh, perlindungan lingkungan menjadi lebih kuat, dan keadilan semakin nyata.

 

Sumber Pustaka:

·         Dubber, M. D., & Hörnle, T. (2014). Criminal Law: A Comparative Approach. Oxford University Press.

·         Feeney, F., & Herrmann, J. (2021). One Case - Two Systems: A Comparative View of American and German Criminal Justice Systems. Brill.

·         Gilliéron, G. (2014). Public Prosecutors in the United States and Europe: A Comparative Analysis with Special Focus on Switzerland, France, and Germany. Springer.

·         Syaufina, Lailan. (2008). Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia: Perilaku Api, Penyebab, dan Dampak Kebakaran. Malang: Bayumedia Publishing.

Climate Resilient School

  EL NINO, LA NINA DAN SEKOLAH BERKETAHANAN IKLIM Oleh: Tim SBI SMAN 1 Pangalengan Pernahkah Ananda memperhatikan kondisi sekolah kita d...