"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Selasa, 12 Mei 2026

Disaster Mitigation

 WASPADA BENCANA GEOLOGI DI TENGAH CUACA EKSTREM

Oleh: Restu Mohamad Taufik, S.Pd *)


Sumber: https://gemini.google.com/app/45626b2c35b41635

Mengapa Kita Harus Lebih Sigap?

Fenomena cuaca ekstrem, seperti curah hujan dengan intensitas tinggi yang durasinya lama, bukan sekadar urusan "jemuran tidak kering" atau banjir genangan. Bagi wilayah dengan topografi tertentu, cuaca ekstrem adalah pemicu utama bagi bencana geologi yang mematikan.

Memahami kaitan antara langit dan bumi ini sangat penting agar kita tidak hanya waspada pada air yang meluap, tapi juga pada tanah yang kita pijak.

Hubungan Erat Cuaca Ekstrem dan Gangguan Geologi

Secara teknis, bencana geologi seperti tanah longsor sering kali "dikomandoi" oleh faktor meteorologi. Berikut adalah proses bagaimana cuaca ekstrem memicu bencana di permukaan bumi:

  1. Infiltrasi Air Berlebih: Saat hujan lebat turun terus-menerus, air meresap ke dalam tanah (infiltrasi) hingga mencapai titik jenuh. Tanah yang tadinya padat berubah menjadi massa yang berat dan licin.
  2. Peningkatan Tekanan Air Pori: Air yang mengisi rongga-rongga tanah meningkatkan tekanan di dalam tanah, yang secara drastis mengurangi kekuatan geser tanah tersebut.
  3. Beban Massa: Air yang terserap menambah beban signifikan pada lereng. Jika gravitasi lebih kuat daripada daya ikat tanah, maka terjadilah longsor.

Jenis Bencana Geologi yang Dipicu Cuaca

  1. Tanah Longsor (Gerakan Tanah): Ini adalah ancaman paling nyata. Terjadi terutama di daerah perbukitan, lereng gunung, atau area dengan vegetasi yang minim.

 
Sumber: https://surl.li/evlolq
 

  1. Banjir Bandang & Lahar Dingin: Jika cuaca ekstrem terjadi di wilayah gunung berapi yang aktif (atau baru saja meletus), air hujan akan membawa material vulkanik (pasir, bebatuan, abu) turun ke hilir. Ini disebut Lahar Dingin.

 
Sumber: Sumber: https://short-url.org/1piSu

  1. Sinkhole (Lubang Runtuhan): Di daerah karst (batuan kapur), hujan asam atau aliran air tanah yang deras akibat cuaca ekstrem dapat mempercepat pelarutan batuan di bawah tanah, menyebabkan permukaan tiba-tiba ambles.

 
Sumber: https://short-url.org/1uDLG

Tanda-Tanda Alam yang Harus Diwaspadai

Sebelum bencana geologi terjadi, alam biasanya memberikan "sinyal". Pastikan Anda mengenali tanda-tanda berikut, terutama saat hujan deras:

  1. Munculnya Retakan: Adanya retakan baru pada tanah, jalan aspal, atau dinding rumah.

 
Sumber: https://share.google/YAeiDT00Tg2Cq7IJD

  1. Pohon/Tiang Miring: Pohon, tiang listrik, atau pagar yang tiba-tiba miring secara ti/dak wajar.

 

Sumber: https://short-url.org/1uE7P

  1. Air Sumur Keruh: Air sumur atau mata air tiba-tiba menjadi keruh atau debitnya berubah drastis secara mendadak.

 
Sumber: https://pureve.co.id/blog/penyebab-air-keruh/

 Langkah Mitigasi: Apa yang Harus Dilakukan?

 
Sumber: https://wayground.com/admin/quiz/5ec1e15d1ec13d001b20fce0/mitigasi-bencana

 Menghadapi kombinasi cuaca ekstrem dan risiko geologi memerlukan kesiapsiagaan ekstra:

  1. Pra-Bencana Pantau prakiraan cuaca BMKG dan peringatan dini dari PVMBG. Perbaiki saluran drainase agar air tidak meresap liar ke dalam lereng.
  2. Saat Hujan Deras Hindari berdiam diri di ruangan yang berbatasan langsung dengan tebing. Jika tinggal di lereng rawan, mengungsilah sementara ke tempat yang lebih datar.
  3. Pasca-Hujan Tetap waspada meski hujan sudah berhenti. Tanah seringkali longsor justru setelah hujan berhenti karena kejenuhan air mencapai puncaknya.

Simpulan

Bencana geologi di tengah cuaca ekstrem bukanlah sesuatu yang bisa kita hentikan, namun risikonya bisa kita minimalisir. Dengan memahami karakteristik lahan tempat kita tinggal dan peka terhadap perubahan alam di sekitar, kita bisa menyelamatkan diri dan keluarga dari ancaman yang datang dari bawah kaki kita.

Ingat: Alam sudah memberi tanda, tugas kita adalah membacanya!!!

 

*) Guru Geografi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler Karate. Juri pada Lomba Panjat Tebing pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2026 tingkat Kabupaten Bandung.

**) dari berbagai sumber

Senin, 11 Mei 2026

LINGUA

 'BAHASA ANAK JAKSEL' CODE-SWITCHING DI KALANGAN ANAK MUDA

Oleh: Mesi Putri Meriam, S.Pd *)

Pernahkah Anda mendengar percakapan seperti ini: "Jujur ya, gue sebenernya fine-fine aja, tapi secara mental gue ngerasa burnt out banget after meeting tadi"? Bagi masyarakat perkotaan, gaya bicara yang mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris sudah menjadi makanan sehari-hari. Fenomena ini dalam ilmu linguistik disebut dengan Code-Switching (alih kode) dan Code-Mixing (campur kode). Mengapa tren ini begitu menjamur di kalangan Generasi Z dan Milenial? Apakah ini tanda kemunduran bahasa, atau justru bentuk evolusi komunikasi?

 
Sumber: https://id.linkedin.com/pulse/code-switching-consulting-anne-hendrickson-kszuc?tl=id

Apa Itu Code-Switching?

Secara sederhana, code-switching adalah penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam satu percakapan. Di Indonesia, hal ini paling sering terlihat pada penyisipan kosakata Bahasa Inggris ke dalam struktur kalimat Bahasa Indonesia. Secara teknis, ada dua jenis yang sering terjadi:

·         Intersentential: Pergantian bahasa yang terjadi di jeda antar kalimat.

·         Intrasentential: Penyisipan kata atau frasa asing di dalam satu kalimat yang sama (sering disebut campur kode).

Mengapa Anak Muda Melakukannya?

Ada beberapa alasan psikologis dan sosiologis di balik tren ini:

1.       Keterbatasan Padanan Kata (Economy of Expression)

Banyak anak muda merasa beberapa istilah Bahasa Inggris lebih praktis dan mampu menyampaikan nuansa perasaan yang tepat. Kata "Relate" terasa lebih ringkas daripada harus mengatakan "Saya memiliki pengalaman yang serupa sehingga saya memahami perasaanmu." Begitu juga dengan kata seperti "Burnout", "Triggered", atau "Healing".

2.       Eksposur Media Sosial dan Budaya Populer

Anak muda saat ini tumbuh besar dengan YouTube, TikTok, Netflix, dan Spotify. Konten yang mereka konsumsi mayoritas berbahasa Inggris. Secara tidak sadar, otak mereka memproses informasi dalam bahasa tersebut, sehingga saat berbicara, kata-kata itulah yang paling cepat muncul di kepala (brain retrieval).

3.       Identitas Sosial dan Prestise

Bahasa sering kali digunakan sebagai alat untuk menunjukkan identitas. Menggunakan Bahasa Inggris sering kali diasosiasikan dengan pendidikan yang baik, keterbukaan informasi, dan modernitas. Inilah yang memunculkan stereotip "Anak Jaksel" (Jakarta Selatan) sebagai pelopor tren ini.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DXRNZhDlJYT/

Dampak terhadap Bahasa Indonesia

Fenomena ini sering mengundang perdebatan. Kritikus berpendapat bahwa code-switching dapat mengancam kelestarian Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada kekhawatiran bahwa generasi muda akan kehilangan kemampuan untuk berbicara secara formal atau tidak tahu padanan kata asli dalam bahasa ibu mereka. Namun, dari sudut pandang linguistik yang lebih cair, code-switching dipandang sebagai bukti kemampuan kognitif yang tinggi. Seseorang harus memahami dua sistem tata bahasa sekaligus untuk bisa mencampurkannya secara selaras.


Sumber: https://engconvo.com/blog/professional-personality-traits/

Simpulan

 Code-switching bukan sekadar tren gaya-gayaan. Ia adalah cerminan dari dunia yang semakin terhubung secara global. Selama kita masih bisa menempatkan diri kapan harus menggunakan bahasa formal dan kapan bisa menggunakan bahasa santai, code-switching justru memperkaya cara kita berekspresi. Jadi, tidak perlu terlalu judgmental (menghakimi). Yang terpenting adalah pesan yang disampaikan bisa diterima dengan jelas oleh lawan bicara. At the end of the day, communication is about connection, right?.

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ektrakurikuler English Club

**)  dari berbagai sumber

Minggu, 10 Mei 2026

Unity and Equality

 KERUKUNAN DAN KESEHATAN MENTAL REMAJA

Oleh: Endah Purwanti, S.Pd., M.M.Pd *)

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Dalam lingkungan sekolah, rumah, maupun masyarakat, sikap rukun sangat penting untuk menciptakan suasana yang damai dan nyaman. Kerukunan berarti hidup saling menghargai, tolong-menolong, dan menghindari pertengkaran.

 
Sumber : https://www.detik.com/tag/lirik-lagu-rukun-sama-teman-upacara

Selain menciptakan hubungan yang baik, kerukunan juga berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang. Lingkungan yang harmonis membuat remaja merasa aman, nyaman, dan lebih bahagia dalam menjalani kehidupan.

 
Sumber : https://www.sukabumiupdate.com/musik/170093/lirik-dan-makna-lagu-rukun-sama-teman-karya-kemendikdasmen

Sikap rukun membantu menciptakan persahabatan dan kerja sama yang baik. Di sekolah, kerukunan dapat terlihat dari sikap saling menghormati antarteman tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang.

Dengan hidup rukun, kegiatan belajar menjadi lebih nyaman dan menyenangkan. Sebaliknya, pertengkaran dan permusuhan dapat mengganggu konsentrasi belajar serta menimbulkan stres.

 
Sumber: https://www.aida.or.id/2020/02/6302/menjaga-kerukunan-bersama

Kesehatan mental adalah kondisi ketika seseorang mampu berpikir, mengelola emosi, dan berinteraksi sosial dengan baik. Lingkungan yang penuh konflik dapat menyebabkan kecemasan, rasa takut, dan tekanan mental.

Sebaliknya, hubungan yang harmonis dapat memberikan dukungan emosional sehingga seseorang merasa dihargai dan diterima. Oleh karena itu, menjaga kerukunan sangat penting bagi kesehatan mental remaja. Kurangnya kerukunan dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti:

·         Perkelahian dan konflik

·         Bullying atau perundungan

·         Stres dan rasa tidak nyaman

·         Menurunnya semangat belajar

·         Lingkungan menjadi tidak aman

Jika dibiarkan, konflik dapat merusak hubungan sosial dan memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Kerukunan dapat dijaga dengan beberapa cara berikut:

·         Menghargai perbedaan pendapat.

·         Menggunakan bahasa yang sopan.

·         Mau bekerja sama dan saling membantu.

·         Tidak mengejek atau menghina orang lain.

·         Menyelesaikan masalah dengan musyawarah.

Sikap sederhana tersebut dapat menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis. Kerukunan memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, terutama bagi remaja. Hidup rukun dapat menciptakan lingkungan yang damai, nyaman, dan mendukung kesehatan mental. Oleh karena itu, setiap orang perlu membiasakan sikap saling menghormati dan peduli terhadap sesama.

 
Sumber: https://gontornews.com/indahnya-hidup-saling-menghormati-dan-menghargai-perbedaan/

Pasti dari setiap kalian memiliki  pengalaman saat bekerja sama atau hidup rukun dengan teman di sekolah.
Pasti ada  manfaat yang kamu rasakan dari sikap tersebut bukan?

Ayo kita bangun kerukunan di sekolah atau di Masyarakat luas lainnya!!!

 
Sumber : https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/2074_toleransi-makna-contoh-dan-pentingnya-dalam-kehidupan-bermasyarakat

*) Guru Biologi yang diamanahi menjadi Kepala SMAN 1 Pangalengan. Alumni Program Pertukran Guru Indonesia-Australia 2017.

**) disarikan dari berbagai sumber.

Kamis, 07 Mei 2026

Live My Way

 SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN

Oleh: Fijhar Restu Pertama *)


Hai semua! Kami dari kelas 10B mendapatkan kesempatan mengisi literasi hari ini. Pernah nggak sih kalian mendengar kalimat "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana"? Kalimat ini sebenarnya tamparan keras untuk kita semua, karena artinya harga diri kita itu tercermin dari apa yang keluar dari mulut kita sendiri. Tapi kenyataannya di sekolah, kadang kita lupa kalau lidah itu lebih tajam dari pada perbuatan, kok bisa?


 Sumber: https://www.kompasiana.com/image/didin26/604f68c9d541df170f30a4b2/bersenjata-lidah

"Ajining diri saka lathi"

Disebuah sekolah terdapat dua orang sahabat yang sering bercanda setiap harinya, pada saat jam istirahat A memukul punggung B hingga kesakitan. Namun setelah meminta maaf B pun melupakan kejadian itu. Kemudian saat mereka berkelahi, A mengata-ngatai B dengan perkataan yang kurang mengenakan di hati seperti "bodoh", "jelek", dan "miskin" dan itu membuat B sangat sakit   hati.

Sumber: https://ar.pinterest.com/pin/798614946404046659/

Kita juga sering mendengar kalimat hinaan yang dibungkus rapi memakai kata "bercanda". Mulai dari ngeledek fisik, cara ngomong, sampai masalah pribadi teman sendiri. Pas yang dikatain sakit hati dan suasananya jadi nggak enak, si pelaku dengan gampangnya bilang "Dih, baper banget sih, kan cuma bercanda" But, guys we should know that bercanda ada batasnya. Nah, di sinilah mental playing victim muncul. Bukannya minta maaf karena sudah kelewatan, eh malah balik nyalahin korbannya karena dianggap terlalu sensitif. Padahal, batas antara bercanda dan bullying itu sederhana banget: kalau yang diajak bercanda nggak merasa lucu dan malah merasa kecil, berarti itu sudah termasuk penindasan.

 
Sumber: https://rri.co.id/ranai/kesehatan/1507451/kenali-ciri-ciri-prilaku-playing-victim

Luka fisik mungkin bisa hilang dalam hitungan hari, tapi kalau hati yang disayat pakai kata-kata, bekasnya bisa dibawa sampai kita lulus nanti. Kita nggak pernah tahu kondisi mental orang lain saat mereka berangkat ke sekolah, bisa saja mereka baru saja mendapatkan hal buruk. Siapa tahu, kata-kata "bercanda" dari kita itu jadi beban terakhir yang nggak bisa lagi mereka tanggung. Menjaga lisan itu bukan berarti kita jadi orang yang kaku atau nggak asik, tapi itu justru menunjukkan kalau kita punya kelas. Orang yang berkelas nggak butuh ngerendahin orang lain cuma buat kelihatan hebat atau lucu di depan gengnya.

"Ajining diri saka busana"

Selain dari lisan, harga diri juga tercermin dari bagaimana kita membawa diri melalui penampilan. Busana bukan soal mahal atau bermerek, tapi tentang sopan santun, kerapihan, dan cara kita menghargai diri sendiri serta lingkungan sekitar. Seragam yang dipakai dengan rapi menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sekolah. Di lingkungan sekolah, kadang masih ada yang menilai atau merendahkan teman hanya dari penampilan mereka. Misalnya, mengejek sepatu yang sudah usang, tas yang sederhana, atau seragam yang tidak sebaik milik orang lain. Padahal, apa yang dikenakan seseorang bukan alasan untuk mengukur nilai dirinya. Busana seharusnya menjadi cerminan kepribadian, bukan bahan ejekan. Kita harus sadar bahwa tidak semua orang memiliki keadaan yang sama. Apa yang terlihat biasa bagi kita, bisa jadi adalah hasil perjuangan besar bagi orang lain. Menghina penampilan seseorang sama saja dengan merendahkan perjuangan mereka. Sebaliknya, menjaga cara berpakaian dengan baik adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Sumber: https://www.instagram.com/p/C-XE6_Fy5J7/?img_index=3

Pada akhirnya, pepatah "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan kita bahwa nilai seseorang bukan hanya dilihat dari penampilan luar, tapi juga dari tutur kata dan sikapnya. Percuma berpakaian rapi jika ucapan masih menyakiti, dan sebaliknya, penampilan yang baik akan lebih bermakna jika dibarengi hati serta lisan yang terjaga.      Jadi, mari mulai dari diri sendiri. Berkata yang baik, bercanda sewajarnya, berpakaian sopan, dan saling menghargai. Karena menjadi pelajar yang berkelas bukan tentang siapa yang paling keren, tapi siapa yang paling mampu menjaga sikap, ucapan, dan menghormati sesama.

Kesimpulannya, "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan bahwa harga diri seseorang tercermin dari ucapan, sikap, dan cara membawa dirinya. Perkataan yang baik menunjukkan kualitas diri, sedangkan penampilan yang rapi mencerminkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan lingkungan. Bercanda memang penting dalam pertemanan, tetapi harus tetap memiliki batas agar tidak berubah menjadi luka bagi orang lain. Dengan menjaga lisan, sikap, dan penampilan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih berkelas, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, positif, dan penuh rasa hormat.

*) Salam hangat dari 10B

 **) Dari berbagai sumber

Rabu, 06 Mei 2026

Sportscience

 PERAN ANTROPOMETRI DALAM DESAIN ERGONOMIS DAN KESEHATAN

Oleh: Dana Praja, S.Pd *)

 

Antropometri adalah studi pengukuran tubuh manusia untuk memahami variasi fisik antar individu maupun populasi. Dalam dunia desain, kesehatan, dan teknik, data ini sangat krusial agar produk atau lingkungan kerja sesuai dengan dimensi tubuh penggunanya. Berikut adalah ringkasan aspek utama dalam antropometri:

 
Sumber: https://mahasiswa.ung.ac.id/561421003/home/2022/9/15/antropometri.html

1.       Jenis Pengukuran

     Secara garis besar, pengukuran dibagi menjadi dua kategori utama:

-          Antropometri Statis: Pengukuran tubuh dalam posisi diam (misalnya: tinggi badan, panjang lengan, lingkar pinggang).

-          Antropometri Dinamis: Pengukuran saat tubuh melakukan gerakan atau aktivitas tertentu (misalnya: jangkauan tangan saat memutar kemudi, ruang gerak siku).

 

Sumber: https://soloabadi.com/kenali-3-data-antropometri-dan-penggunaannya/

2.       Dimensi Tubuh yang Umum Diukur

     Beberapa parameter yang paling sering digunakan meliputi:

-          Tinggi Badan: Untuk menentukan tinggi pintu atau langit-langit.

-          Tinggi Bahu & Siku: Penting untuk menentukan tinggi meja kerja agar ergonomis.

-          Lebar Pinggul: Digunakan untuk menentukan lebar kursi di transportasi umum atau kantor.

-          Panjang Popliteal (lipat lutut ke tumit): Untuk menentukan kedalaman dudukan kursi.

 

Sumber: https://testprepinsight.com/resources/how-is-the-lsat-scored/

3.       Konsep Persentil

      Dalam desain, jarang sekali produk dibuat untuk "rata-rata" orang. Sebaliknya, digunakan konsep persentil:

-          Persentil ke-5 (P5): Mewakili individu dengan dimensi tubuh kecil. Digunakan untuk menentukan keterjangkauan (misalnya: posisi tuas rem).

-          Persentil ke-95 (P95): Mewakili individu dengan dimensi tubuh besar. Digunakan untuk menentukan batas maksimum (misalnya: tinggi pintu atau lebar kursi).

 

*) Guru PJOK di SMAN 1 Pangalengan. Atlet Bola Basket pada PORPEMDA K. Provinsi JawaBarat mewakili Kab. Bandung. Aktif melatih Bola Volley.

**) Disarikan dari berbagai sumber

Disaster Mitigation

  WASPADA BENCANA GEOLOGI DI TENGAH CUACA EKSTREM Oleh: Restu Mohamad Taufik, S.Pd *) Sumber: https://gemini.google.com/app/45626b2c35b4...