KEDUDUKAN ANAK DALAM AL QURAN
Oleh: Rina Marlina, S.Pd *)
Anak secara umum adalah individu yang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan dari lahir hingga usia remaja, atau manusia yang belum dewasa dan masih membutuhkan bimbingan orang dewasa.
Pengertian anak dapat dilihat dari berbagai sudut pandang:
1. Berdasarkan Hukum dan Perundang-undangan di Indonesia
- Menurut UU Perlindungan Anak & Konvensi Hak Anak (KHA). Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan.
- Menurut Ketenagakerjaan (UU No. 13 Tahun 2003). Setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun.
- Menurut Silsilah Keluarga. Keturunan pertama atau generasi kedua dari orang tua (putra atau putri).
2. Berdasarkan Sudut Pandang Lain
- Biologi. Makhluk hidup (manusia, hewan, atau tumbuhan) yang belum mencapai kematangan fisik.
- Psikologi. Manusia yang belum dewasa secara fisik, mental, maupun emosional (mulai dari masa bayi, anak-anak, hingga remaja).
- Sosial. Makhluk rentan yang memiliki hak khusus untuk dilindungi dari kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi.
Sumber: https://www.instagram.com/p/DMbnGUrhr06/
Dalam pandangan Al-Qur'an, kedudukan anak memiliki beberapa posisi utama yang menggambarkan peran, tanggung jawab, serta ujian bagi orang tua.
Berikut adalah kedudukan anak dalam Al-Qur'an:
- Penyejuk Hati (Qurrata 'Ayun)
Merupakan anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan menjadi teladan.
Disebutkan dalam QS. Al-Furqan ayat 74, di mana orang tua selalu berdoa agar keluarga mereka menjadi penyejuk hati.
- Perhiasan Dunia (Zinatun)
Anak adalah anugerah, keindahan, dan kebanggaan hidup bagi orang tuanya.
Terdapat dalam QS. Al-Kahfi ayat 46 dan QS. Ali 'Imran ayat 14, yang mengingatkan bahwa kecintaan terhadap perhiasan dunia ini tidak boleh melalaikan orang tua dari mengingat Allah SWT.
- Ujian atau Fitnah (Fitnah)
Anak adalah amanah dan titipan dari Allah SWT yang akan dipertanggungjawabkan.
Disebutkan dalam QS. At-Taghabun ayat 15 dan QS. Al-Anfal ayat 28, yang menyatakan bahwa harta dan anak-anak adalah cobaan untuk menguji tingkat ketaatan dan kesyukuran orang tua.
- Musuh (Aduwwun)
Anak bisa menjadi musuh apabila mereka menjerumuskan orang tuanya ke dalam perbuatan maksiat, menghalangi dari jalan ketaatan, atau kelak berseteru dan saling menuntut di hari Kiamat akibat kelalaian pendidikan di dunia.
Hal ini diingatkan dalam QS. At-Taghabun ayat 14.
- Amanah
Anak adalah tanggung jawab besar yang wajib dijaga, dirawat, diberikan nafkah halal, dan dididik dengan nilai-nilai Islam. Landasan pentingnya menjaga keluarga dari api neraka terdapat dalam QS. At-Tahrim ayat 6.
Sumber: https://web.facebook.com/muftins/posts/4-posisi-anak-yang-disebut-dalam-al-quran
Pesan moral utama dari kedudukan anak dalam pandangan Islam adalah tanggung jawab mutlak dan kesadaran spiritual orang tua bahwa anak bukanlah hak milik pribadi, melainkan titipan (amanah) Ilahi yang menentukan keselamatan di akhirat.
Islam membagi kedudukan anak ke dalam beberapa dimensi spiritual dan psikologis. Setiap kedudukan membawa pesan moral yang mendalam bagi para orang tua:
- Anak sebagai Amanah (Titipan) dan Ladang Pahala
Kedudukan. Anak adalah titipan dari Allah yang kesucian fisiknya (fitrah) harus dijaga. Doa anak yang saleh juga menjadi pemutus terputusnya amal orang tua setelah wafat.
Pesan Moral: Orang tua memikul tanggung jawab moral penuh untuk mendidik anak dengan nilai-nilai agama, akhlak mulia, dan nafkah yang halal. Mengabaikan pendidikan karakter anak adalah bentuk pengkhianatan terhadap titipan Tuhan.
- Anak sebagai Perhiasan Dunia (Ziinah) dan Penyejuk Hati (Qurrota A'yun)
Kedudukan: Kehadiran anak membawa kebahagiaan, kebanggaan, dan keindahan dalam kehidupan rumah tangga.
Pesan Moral: Kebahagiaan memiliki anak harus disikapi dengan rasa syukur, bukan kesombongan. Cinta kepada anak tidak boleh berlebihan hingga melalaikan kewajiban ibadah kepada Allah. Orang tua didorong untuk membentuk anak agar tidak sekadar menjadi pajangan sosial, tetapi menjadi penyejuk hati yang saleh.
- 3. Anak sebagai Ujian (Fitnah)
Kedudukan: Anak dapat menjadi sarana yang menguji kesabaran, kejujuran, dan tingkat keimanan orang tua.
Pesan Moral: Kehidupan tidak selalu mulus; kenakalan atau tuntutan anak adalah ujian mental bagi orang tua. Pesan moralnya adalah melatih sifat sabar, tidak menghalalkan segala cara (seperti korupsi atau berlaku curang) demi menuruti keinginan anak, dan konsisten dalam menanamkan kebaikan.
- Anak sebagai Musuh (Aduwwun)
Kedudukan: Al-Qur'an memperingatkan bahwa anak bisa berbalik menjadi "musuh" yang menjerumuskan orang tua ke dalam dosa atau memicu keretakan.
Pesan Moral: Hubungan darah tidak menjamin keselamatan spiritual jika tidak diikat oleh iman. Jika anak melakukan kesalahan atau bersikap menentang, Islam mengajarkan orang tua untuk tetap memaafkan, merangkul, dan tidak mendidik dengan kekerasan, melainkan lewat teladan yang baik (uswatun hasanah).
Sumber: https://syaamilgroup.id/2021/04/20/mengenal-watak-dan-bahasa-kasih-pasangan/
Ibrah
Islam memandang anak sebagai cermin dari kualitas diri orang tua. Pesan moral tertingginya adalah hubungan orang tua dan anak harus dibangun atas dasar bonding kasih sayang, keadilan, dan orientasi jangka panjang—bahwa pola asuh yang diterapkan hari ini akan dipertanggungjawabkan secara mandiri di hadapan Allah SWT kelak.
*) Staf Tata Laksana/Administrasi Persuratan di SMAN 1 Pangalengan
**) dari berbagai sumber































