"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Rabu, 04 Februari 2026

Personality

 "BYE-BYE FOMO! SENI PUASA MEDSOS BIAR MENTAL NGGAK GAMPANG CAPEK DI ERA DIGITAL"

Oleh: Dini Siti Nurjanah, S.Kom.I *)

Fear of Missing Out atau FOMO merupakan fenomena psikologis yang semakin marak di kehidupan serba modern seperti sekarang ini. FOMO artinya menggambarkan ketakutan melewatkan momen, pengalaman, atau aktivitas yang sedang terjadi atau populer di lingkungannya. Pada umumnya, FOMO rentan menimpa kalangan anak muda, tetapi tidak menutup kemungkinan orang yang lebih tua mengalaminya. Sayangnya fenomena FOMO seringkali menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental seseorang.

Sumber: https://koransulindo.com/fomo-fenomena-yang-mendominasi-kehidupan-remaja-hingga-dewasa/

Pernah nggak sih, lagi asyik rebahan di kamar atau lagi duduk santai, terus iseng buka medsos dan tiba-tiba perasaan jadi drop? Lihat story teman lagi nongkrong di tempat hits, pake baju baru, atau pamer prestasi yang keren, sementara kita, merasa hidup kita gini-gini aja. Kalau kamu pernah merasakannya, tenang, kamu nggak sendirian ko. Yuk, kita bedah kenapa fenomena "jempol dan layar" ini bisa bikin kita capek, dan gimana cara mengatasinya biar hati tetap tenang.


 Sumber: https://www.facebook.com/MNCPlayID/posts/fomo-merupakan-kepanjangan-dari-fear-of-missing-out

Kenapa Medsos Bikin Kita "Haus" Terus?

Secara psikologi, ada hormon bernama Dopamin. Ini adalah hormon senang yang muncul tiap kali kita dapat notifikasi likes atau komentar. Masalahnya, ini bikin kecanduan.  Jebakan Perbandingan: Kita sering membandingkan "balik layar" hidup kita yang berantakan dengan "cuplikan terbaik" (highlight reel) orang lain. Jelas nggak adil, kan?  FOMO (Fear of Missing Out): Ketakutan tertinggal tren bikin kita scrolling terus sampai kurang tidur dan cemas.

 
Sumber: https://umsida.ac.id/fomo-rasa-takut-ketinggalan-informasi/

Menjaga Hati dari Penyakit "Ain" & Hasad

Dalam Islam, rasa cemas saat melihat kebahagiaan orang lain bisa bersumber dari rasa iri (Hasad). Ada juga risiko Ain (gangguan dari pandangan mata). Allah SWT mengingatkan kita dalam firmann-Nya, Q.S. Thahaa ayat 131:  "Dan janganlah kamu tujukan pandangan  matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bungan kehidupan dunia, agar kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal ." (QS. Thaha: 131). Ingat, apa yang ada di layar itu cuma "bunga dunia" indah dilihat tapi cepat layu. Jangan sampai itu merusak kedamaian hatimu.

 
Sumber: https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00291178.html

Social Media Fasting. Diet Digital untuk Waras

Sama seperti tubuh butuh puasa buat buang racun, mental kita juga butuh Digital Detox. Caranya simpel: matikan notifikasi atau hapus aplikasi di akhir pekan. Tujuannya bukan biar kamu kuper, tapi supaya kamu punya waktu buat Muhasabah (evaluasi diri).

Zuhud. Self-Care Paling Keren. Zuhud bagi remaja bukan berarti nggak boleh punya HP keren. Zuhud adalah kebebasan mental. Kamu punya medsos, tapi medsos nggak "memiliki" hatimu. Ada likes syukur, nggak ada pun tetap bisa tidur nyenyak. Itulah Qana’ah (merasa cukup).

Tips Anti-FOMO & Penjaga Hati.

·         Kurasi Feed-mu. Unfollow atau mute akun yang bikin kamu minder. Ikuti akun yang bikin kamu makin pintar atau makin takwa.

·         Ucapkan Masya Allah. Kalau lihat teman sukses, doakan mereka. Ini benteng biar kamu terhindar dari penyakit hati.

·         Sholawat vs Scrolling. Saat tangan gatal mau buka HP, tarik napas dan ingat satu nikmat nyata yang kamu punya hari ini.

·         Weekend Challenge: "Refresh Your Soul"

"Weekend Digital Detox. Refresh Your Soul" yang seru dan nggak ngebosenin buat kamu. Jadwal ini dirancang supaya kamu tetap produktif tanpa merasa "hampa" karena nggak buka medsos.

 
Sumber: https://rri.co.id/lhokseumawe/lain-lain/1965498/menjaga-hati-di-tengah-hiruk-pikuk-dunia

Sabtu. "Reconnect with Reality" Fokus. Melepaskan ketergantungan pada layar.

·         (paling telat) 05.00 - 06.00: Bangun, Shalat Subuh, dan Dzikir pagi. (Aturan utama: Jangan buka HP setelah bangun tidur!)

·         06.00 - 07.30: Olahraga ringan atau jalan santai di sekitar rumah sambil menghirup udara segar (Nikmati dunia nyata tanpa update Story).

·         07.30 - 09.00: Sarapan bareng keluarga tanpa ada HP di meja makan. Ngobrol langsung itu pasti lebih asyik.

·         09.00 - 11.30: Hobby Time! Baca buku yang selama ini cuma jadi pajangan, merapikan kamar, atau mencoba resep masakan baru.

·         12.00 - 13.00: Shalat Dzuhur dan makan siang.

·         13.00 - 15.00: Tidur siang tanpa gangguan notifikasi. Deep sleep adalah self-care terbaik.

·         15.30 - 17.30: Bantu orang tua atau main bareng sodara, tetangga/teman di lingkungan rumah.

·         18.00 - 20.00: Shalat Maghrib, makan malam, dan lanjut Isya. Gunakan waktu ini untuk baca Al-Qur'an (Muhasabah diri).

·         20.00 - 21.30: Journaling atau menulis di buku diari tentang hal-hal yang kamu syukuri hari ini (Latihan Qana'ah).

·         22.00: Tidur lebih awal.

 

Minggu: "Soul Nourishment". Fokus Mengisi hati dengan ketenangan.

·         (paling telat) 05.00 - 06.00: Bangun, Shalat Subuh, dan Dzikir pagi. (Aturan utama: Jangan buka HP setelah bangun tidur!)

·         06.00 - 07.00: Olahraga ringan atau jalan santai di sekitar rumah sambil menghirup udara segar (Nikmati dunia nyata tanpa update Story).

·         07.00 - 08.00: Sarapan bareng keluarga tanpa ada HP di meja makan

·         08.00 - 10.00: Deep Work/Focus. Selesaikan tugas sekolah atau pelajari skill baru (misal: gambar, bahasa asing) selama 2 jam tanpa gangguan HP sama sekali.

·         10.00 - 12.00: Silaturahmi. Kunjungi rumah nenek, saudara, atau ajak teman ketemuan langsung untuk sekadar ngobrol santai.

·         13.00 - 15.00: Nonton film atau dengerin podcast edukatif (tapi tetap hindari buka feed medsos ya!).

·         16.00 - 18.00: Persiapan untuk hari Senin. Siapkan baju dan perlengkapan sekolah dengan tenang.

·         20.00: Evaluasi: Rasakan bedanya perasaanmu setelah dua hari nggak liat kehidupan orang lain di medsos. Apakah hatimu lebih tenang?

·        

 Sumber: https://www.facebook.com/groups/godlyfamily/posts/1026994777376329/

Tips agar Berhasil

·         Izin Dulu. Kabari teman dekat atau keluarga lewat chat: "Guys, weekend ini aku off medsos dulu ya buat istirahat. Kalau urgent, telepon aja." (Ini biar kamu nggak cemas nungguin chat).

·         Hapus/Sembunyikan Aplikasi. Pindahkan ikon Instagram, TikTok dan media sosial lainnya ke dalam folder yang paling belakang atau uninstall sementara.

·         Pakai Jam Weker.  Jangan pakai HP sebagai alarm supaya tangan nggak gatal buat scrolling pas baru bangun.

Selamat mencoba! Jadwal ini bisa kamu tiru atau bahkan kamu punya kegiatan sendiri yang bisa dibuat sesuai jadwal ini. Kamu pasti bisa lebih bahagia saat fokus pada duniamu sendiri, bukan dunia di layar orang lain. Semangat untuk hidup lebih bahagia tanpa ada “Fomo” dihidupmu.

 *) Konselor di SMAN I Pangalengan. Pemerhati masalah sosial dan remaja.

**)Sumber Rujukan:

QS. Thaha : 131

https://www.halodoc.com/artikel/apa-itu-fomo-ini-pengertian-gejala-dan-dampaknya?srsltid=AfmBOoqD59b1yLXXD3mls-PYLn5G0llhnIv6E0sDPmgUdcwHVRlEouWf

https://koransulindo.com/fomo-fenomena-yang-mendominasi-kehidupan-remaja-hingga-dewasa/

Gemini AI

Selasa, 03 Februari 2026

Economic Opportunities

 BELAJAR, BERKARYA, DAN BERPRESTASI TENAGA KERJA INDONESIA

DI JEPANG

Oleh: Insan Sani, S.E., M.M *)

Di era globalisasi saat ini, peluang kerja tidak hanya terbatas di dalam negeri. Banyak negara membuka kesempatan bagi tenaga kerja asing, salah satunya adalah Jepang. Negara yang dikenal dengan kemajuan teknologi dan budaya disiplin ini menjadi salah satu tujuan favorit tenaga kerja Indonesia. Jepang mengalami kekurangan tenaga kerja akibat jumlah penduduk usia produktif yang semakin menurun. Kondisi ini membuka peluang besar bagi masyarakat Indonesia yang memiliki semangat kerja tinggi dan ingin mengembangkan keterampilan di tingkat internasional.

 
Sumber: https://www.liputan6.com/bisnis/read/2901168/ini-5-prinsip-kerja-orang-jepang-yang-patut-kamu-tiru

Mengapa Jepang Membutuhkan Tenaga Kerja Asing?

Jepang saat ini menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging society). Jumlah lansia meningkat, sementara angka kelahiran menurun. Akibatnya, banyak sektor mengalami kekurangan tenaga kerja, seperti:

·         Industri manufaktur dan pabrik

·         Konstruksi dan teknik bangunan

·         Pertanian dan perikanan

·         Perhotelan dan restoran

·         Perawatan lansia (caregiver)

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah Jepang membuka berbagai program resmi bagi tenaga kerja asing, termasuk dari Indonesia. Program Kerja ke Jepang yang Banyak Diikuti. Beberapa jalur resmi yang sering dimanfaatkan tenaga kerja Indonesia antara lain:

 
Sumber: https://lpkmegacahayagemilang.com/program-magang-jepang-im-japan/

1.       Program Magang (Technical Intern Training Program)

Program ini memungkinkan peserta bekerja sambil belajar keterampilan di perusahaan Jepang selama 3–5 tahun. Bidangnya beragam, mulai dari industri hingga pertanian.

2.       okutei Ginou (Pekerja Berketerampilan Khusus)

Program ini ditujukan bagi tenaga kerja yang sudah memiliki keahlian tertentu. Gaji lebih stabil dan masa kerja bisa lebih panjang.

3.       Program Perawat dan Caregiver

Melalui kerja sama Indonesia–Jepang, tenaga kesehatan Indonesia dapat bekerja di rumah sakit atau panti lansia di Jepang.

Data Singkat Peluang Kerja

Saat ini jumlah tenaga kerja asing di Jepang terus meningkat dan telah mencapai jutaan orang. Ribuan di antaranya berasal dari Indonesia. Bahkan, Jepang diperkirakan masih membutuhkan ratusan ribu pekerja asing dalam beberapa tahun ke depan untuk menjaga kestabilan sektor industri dan layanan. Hal ini menunjukkan bahwa peluang kerja di Jepang masih sangat terbuka lebar.


 Sumber: https://aji.co.id/2024/11/13/cara-kerja-di-jepang/

Kisah Sukses Tenaga Kerja Indonesia di Jepang

Banyak tenaga kerja Indonesia yang berhasil mengubah hidupnya setelah bekerja di Jepang. Salah satunya adalah Andi (nama samaran), yang berangkat ke Jepang melalui program magang di bidang manufaktur. Awalnya ia hanya lulusan SMK, namun setelah beberapa tahun bekerja, ia menguasai mesin industri modern. Sekembalinya ke Indonesia, Andi membuka bengkel teknik kecil yang kini berkembang pesat. Ada juga Siti, seorang caregiver yang bekerja di panti lansia di Osaka. Dengan kemampuan bahasa Jepang yang baik dan sikap ramah, ia dipercaya menangani pasien penting dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk membantu keluarganya di kampung halaman. Kisah-kisah ini membuktikan bahwa kerja di luar negeri bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga membangun masa depan.

 
Sumber: https://www.j-class.id/blog/news/alasan-sebenernya-orang-ingin-kerja-di-jepang

Tantangan yang Perlu Dipersiapkan

Meski menjanjikan, bekerja di Jepang juga membutuhkan kesiapan, antara lain: Belajar bahasa Jepang dengan sungguh-sungguh; Siap dengan budaya kerja disiplin; Mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

Namun, tantangan ini sebanding dengan pengalaman dan manfaat yang diperoleh. Peran Sekolah dalam Mempersiapkan Generasi Siap Global. Sekolah memiliki peran penting dalam membekali siswa dengan:  Keterampilan dasar kerja, disiplin dan etos kerja, kemampuan bahasa asing, serta wawasan global. Dengan bekal tersebut, lulusan sekolah dapat lebih siap menghadapi peluang kerja internasional, termasuk di Jepang.

 
Sumber: https://kumparan.com/anugerah-maulana-1741355725958565229/penuaan-populasi-di-jepang

Penutup

Peluang kerja di Jepang bagi tenaga kerja Indonesia sangat besar dan menjanjikan. Dengan kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat, program resmi yang jelas, serta potensi penghasilan dan pengalaman internasional, Jepang menjadi salah satu tujuan strategis bagi generasi muda Indonesia. Namun, kesuksesan hanya bisa diraih dengan persiapan matang, semangat belajar, dan kerja keras. Melalui pendidikan yang baik dan pelatihan keterampilan, generasi muda Indonesia dapat bersaing di dunia kerja global.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya kewirausahaan di SMAN I Pangalengan. Wirauasahawan muda bidang jasa wiasata. Produk olahan seeta aktivitas UMKN pertanian.

**) dari beragam sumber

 

Senin, 02 Februari 2026

Our Culture

 DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA

Oleh: Rusmana *)

 

Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua atau kakek-nenek di rumah? Atau justru lebih sering pakai bahasa Indonesia, bahkan campur-campur sama bahasa gaul dan istilah asing? Tenang, itu wajar kok. Tapi di balik kebiasaan itu, ada satu hal penting yang sering kita lupa bahasa daerah termasuk dialeknya adalah bagian dari identitas kita. Mempelajari dialek bahasa Sunda bukan cuma soal bisa ngomong “punten” atau “hatur nuhun”, tapi juga soal menjaga warisan budaya dan menunjukkan cinta pada daerah asal.

 
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/722053752797392839/

Ananda yang baik, Bahasa bukan cuma alat komunikasi. Bahasa menyimpan cara berpikir, nilai, dan kebiasaan suatu masyarakat. Dalam bahasa Sunda, misalnya, kita mengenal tingkatan tutur seperti lemes, loma, dan kasar yang mengajarkan sopan santun dan rasa hormat kepada lawan bicara. Dari sini kita belajar bahwa berbicara itu bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga menjaga perasaan orang lain. Jadi, ketika remaja belajar bahasa Sunda beserta dialeknya, sebenarnya kita sedang belajar etika, empati, dan tata krama khas budaya Sunda.

Apa Sih Dialek Itu?

Dialek bisa dibilang “rasa lokal” dari sebuah bahasa. Bahasa Sunda di Bandung, Cianjur, Garut, atau Cirebon punya perbedaan pengucapan, kosakata, dan intonasi. Semuanya tetap Sunda, tapi punya warna sendiri. Dialek ini lahir dari sejarah, kondisi geografis, dan interaksi sosial yang berbeda-beda. Keren, kan? Dengan mempelajari dialek, kita jadi tahu bahwa budaya itu hidup dan beragam, bukan sesuatu yang kaku.

 
Sumber: https://www.instagram.com/reels/DA-nyt6yuab/

Mengapa kita harus peduli terhadap Bahasa Sunda khususnya? Pertama, karena bahasa daerah sedang menghadapi tantangan serius. Di era media sosial dan globalisasi, banyak remaja lebih nyaman pakai bahasa Indonesia atau bahasa asing. Akibatya, penggunaan bahasa Sunda di rumah dan lingkungan makin berkurang. Kalau generasi muda tidak mau belajar dan memakainya, siapa lagi yang akan meneruskan?. Kedua, belajar dialek Sunda bisa bikin kita lebih pede dengan identitas sendiri. Nggak perlu minder jadi “anak daerah”. Justru, punya kemampuan berbahasa daerah itu nilai plus. Bayangin kamu bisa switch dari bahasa Indonesia ke Sunda halus dengan lancer itu menunjukkan kamu punya kecakapan budaya. Ketiga, ada manfaat akademik dan sosial. Penelitian tentang bilingualisme menunjukkan bahwa orang yang terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa cenderung punya fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Selain itu, kemampuan berbahasa Sunda memudahkan kita berbaur dengan masyarakat lokal, ikut kegiatan adat, atau sekadar ngobrol akrab dengan tetangga dan orang tua.

Ananda yang cuakeepppp, Setiap dialek punya cerita. Misalnya, dialek Priangan dikenal dengan penggunaan lemes yang kuat, sementara di daerah pesisir bisa ditemukan kosakata serapan dari bahasa lain karena sejarah perdagangan. Dari sini, kita belajar bahwa bahasa Sunda tidak berdiri sendiri; ia berinteraksi dengan sejarah. Mempelajari dialek berarti membuka jendela ke masa lalu: bagaimana orang-orang dulu hidup, berdagang, bermigrasi, dan membangun komunitas.

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/384776361937452479/

Masih banyak yang beranggapan jika pakai bahasa daerah itu “jadul”. Padahal, sekarang banyak konten kreator yang mengemas bahasa Sunda secara modern: dari komedi pendek, musik, sampai podcast. Dialek Sunda bisa jadi bahan konten yang unik dan relatable. Bayangin bikin video sketsa dengan dialog Sunda Cianjuran atau Bandung pasti ada rasa khas yang bikin penonton senyum. Lebih jauh lagi, melestarikan bahasa daerah sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia kuat justru karena beragam. Kalau satu per satu bahasa daerah hilang, kita bukan jadi lebih maju kita justru kehilangan kekayaan.

 

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/696439529920408695/

Di masa yang akan datang, dunia akan makin terhubung. Bahasa asing memang penting, tapi bahasa daerah adalah akar. Pohon yang kuat butuh akar yang kuat. Dengan mempelajari dialek Sunda, remaja tidak hanya menjaga warisan, tapi juga membangun jati diri yang kokoh: terbuka pada dunia, tapi tetap tahu dari mana kita berasal. Akhirnya, mencintai bahasa Sunda termasuk dialeknya bukan soal nostalgia. Ini soal tanggung jawab generasi. Kita bisa jadi generasi yang membiarkan bahasa daerah memudar, atau generasi yang membuatnya tetap hidup, relevan, dan dibanggakan. Pilihannya ada di tangan kita. Jadi, mulai hari ini, coba Ananda sapa temanmu dengan, “Kumaha damang?” Siapa tahu, dari obrolan kecil itu, cinta pada budaya sendiri tumbuh makin besar….selamat mencoba.

*) Guru di SMAN I Pangalengan yang sedang belajar menulis

**) Daftar Rujukan

Alwasilah, A. Chaedar. Pokoknya Sunda: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Sumarsono & Partana, Paina. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

UNESCO. Language Vitality and Endangerment. (Dokumen tentang pentingnya pelestarian bahasa).

Minggu, 01 Februari 2026

Matemagic

 # *Diskon 50% Itu Beneran Untung? Matematika Menjawab*

Oleh: Dera Annisa Ratnasari, S.Pd  *)

 

Pernah nggak sih kamu lihat tulisan *“DISKON 50%!!!”* lalu refleks mikir,  “Wah, ini murah banget. Sayang kalau dilewatkan!” Apalagi menjelang *bulan puasa dan Lebaran. Mall penuh, notifikasi e-commerce bunyi terus, dan hampir semua barang kelihatan “lebih murah”. Tapi… **apa benar diskon 50% itu selalu menguntungkan?*. Di sinilah matematika diam-diam bekerja  bahkan saat kamu lagi belanja 😄

Sumber: https://www.instagram.com/p/DD0r-06SYav/

## 🛒 Diskon dan Perasaan. Kenapa Kita Mudah Tergoda?

Saat melihat diskon besar, otak kita langsung fokus ke *angka 50%, bukan ke **harga awal* atau *kebutuhan sebenarnya. Ini disebut *bias psikologis. Matematika justru membantu kita *berpikir lebih jernih*, bukan cuma ikut perasaan. Sekarang, kita cek bareng-bareng pakai hitungan sederhana.

## Diskon 50%. Contoh yang Kelihatannya Untung

Sumber: https://www.instagram.com/p/C1bRyf1R87M/

Misalnya:

* Harga awal baju Lebaran: *Rp200.000* * Diskon: *50%* Hitungannya:

 50% × 200.000 = 100.000.Harga akhir: 200.000 − 100.000 = *Rp100.000*

✔️ *Ini memang untung*, karena harga awalnya jelas dan potongannya masuk akal.

## ⚠️ Tapi Hati-hati: Diskon Bisa “Menipu”

Sekarang contoh lain. Sebuah toko menulis: > *“Diskon 50%! Harga normal Rp400.000”*

Padahal, di toko lain (atau minggu lalu), harga barang itu *Rp220.000* tanpa diskon.

Kalau didiskon:

> 50% × 400.000 = 200.000

> Harga akhir = *Rp200.000*

Secara matematika,  Kamu “hemat” 200 ribu dari harga label, * Tapi *sebenarnya cuma beda 20 ribu* dari harga wajar 👉 Di sini matematika menyelamatkan kamu dari *ilusi diskon*.

## 🧮 Diskon Bertingkat: Lebih Ribet, Lebih Menjebak

 


Sumber: https://www.instagram.com/p/DROHJcjjw3K/

Menjelang Lebaran, sering muncul tulisan: > *Diskon 30% + 20%*

Banyak yang mengira:> 30% + 20% = *50%* Padahal *SALAH*.

Contoh:

* Harga awal: Rp100.000 * Diskon 30% → jadi Rp70.000 * Diskon 20% dari 70.000 → Rp14.000

Harga akhir: > 70.000 − 14.000 = *Rp56.000* Total diskon: > 44% (BUKAN 50%)

📌 Ini contoh nyata *persentase dalam kehidupan sehari-hari*, bukan cuma di buku matematika.

## 🌙 Puasa, Lebaran, dan Keputusan Cerdas

Menjelang puasa dan Lebaran:

* Kita belanja *lebih sering* * Godaan diskon *lebih besar* Pengeluaran gampang membengkak

Dengan matematika, kamu bisa:

✔️ Membandingkan harga ✔️ Menghitung diskon sebenarnya ✔️ Menentukan mana kebutuhan, mana keinginan. Belanja jadi *lebih rasional*, bukan impulsif.

## 🧠 Jadi, Matematika Itu Dipakai Tanpa Disadari?

Jawabannya: *IYA, setiap hari.*

Saat kamu: * Menghitung diskon * Membandingkan harga * Menentukan budget THR * Memilih promo paling untung 👉 Itu semua adalah *matematika praktis*.

 
Sumber: https://lms.unipol.ac.id/course/index.php?categoryid=11

## Penutup

Matematika bukan cuma soal angka di papan tulis atau soal ujian. Ia hadir diam-diam di momen sederhana  bahkan saat kamu memilih baju Lebaran. Jadi lain kali melihat tulisan:

> *“DISKON 50%!!!”*

Jangan cuma senang duluan. Ajak matematika berpikir bareng kamu 😉Karena *orang yang paham matematika bukan yang paling cepat menghitung, tapi yang paling jarang tertipu.* 🧠💡

*) Guru Matematika di SMAN I Pangalengan, Alumnus SM3T Kemendikbud rI untuk penugasan di wilayah Pulau Nias Symuatera Utara.

**) dari berbagai sumber

Personality

  "BYE-BYE FOMO! SENI PUASA MEDSOS BIAR MENTAL NGGAK GAMPANG CAPEK DI ERA DIGITAL" Oleh: Dini Siti Nurjanah, S.Kom.I *) Fear ...