"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Rabu, 02 September 2026

The Courage to Speak Up

 # Belajar dari Nusaibah Ketika Keberanian Tidak Mengenal Gender

Apakah keberanian hanya milik laki-laki?

Oleh; Novianti Noermala, S.Pd *)

 

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, sejarah menunjukkan bahwa keberanian tidak pernah ditentukan oleh jenis kelamin. Salah satu sosok yang dapat menjadi inspirasi adalah *Nusaibah binti Ka'ab*, seorang perempuan yang dikenal dalam sejarah Islam karena keberanian dan keteguhannya.

Nusaibah, yang juga dikenal sebagai *Ummu 'Umarah*, berasal dari Madinah. Ia bukan seorang prajurit terkenal dengan kehidupan yang penuh kemewahan. Namun, ketika berada dalam situasi yang membutuhkan keberanian, ia menunjukkan bahwa seseorang tidak harus memiliki jabatan tinggi atau kekuatan luar biasa untuk memberikan kontribusi.

 
Sumber: https://web.facebook.com/groups/2917202781690630/posts/5651555338255347/?_rdc=1&_rdr#

Dalam kisah Perang Uhud, Nusaibah berada di tengah situasi yang sangat genting. Ketika keadaan menjadi kacau dan Rasulullah SAW berada dalam bahaya, ia ikut memberikan perlindungan dan berusaha menjaga keselamatan beliau. Keberaniannya menjadi salah satu kisah yang dikenang dalam sejarah Islam. Yang menarik dari kisah Nusaibah bukan hanya keberaniannya menghadapi bahaya. Lebih dari itu, ia menunjukkan *kepedulian, tanggung jawab, keberanian mengambil tindakan, dan kesediaan membantu ketika orang lain membutuhkan*.

 
Sumber: https://www.wattpad.com/1411072291-nusaibah-binti-ka%27ab-suara-gemuruh

Jika kisah Nusaibah dibawa ke kehidupan remaja saat ini, keberanian tidak harus berarti berada di medan perang. Keberanian seorang siswa bisa terlihat ketika ia berani mengatakan *“tidak”* terhadap ajakan teman untuk melakukan hal negatif. Keberanian juga dapat terlihat ketika seorang siswa berani membela temannya yang menjadi korban *bullying*, meskipun ia takut ikut menjadi sasaran. Keberanian dapat berarti berani mengakui kesalahan ketika mendapat nilai buruk, berani meminta maaf, berani menyampaikan pendapat dalam diskusi, atau berani melaporkan tindakan yang tidak adil.

Di era media sosial, keberanian juga memiliki bentuk baru.

Ketika sebagian orang berlomba mendapatkan perhatian melalui konten viral, seorang remaja yang berani menjaga privasi, tidak menyebarkan hoaks, tidak ikut melakukan cyberbullying, dan tidak membuat konten yang merugikan orang lain sebenarnya sedang menunjukkan keberanian. Nusaibah mengajarkan bahwa *keberanian bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang bersedia melakukan sesuatu yang benar ketika keadaan membutuhkan.*. Kisahnya juga mengingatkan kita agar tidak membatasi kemampuan seseorang hanya berdasarkan gender. Laki-laki maupun perempuan dapat menjadi pemimpin, dapat belajar, dapat berprestasi, dapat membantu sesama, dan dapat memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebaikan.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/Cn3IPKrPpf-/

Namun, keberanian juga harus disertai dengan *kebijaksanaan*. Berani bukan berarti nekat. Berani bukan berarti mencari masalah. Keberanian yang baik adalah keberanian yang digunakan untuk melindungi, membantu, menyampaikan kebenaran, dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab. Setelah membaca kisah Nusaibah, bisakah kalian melakukan **satu tindakan sederhana yang membutuhkan keberanian positif hari ini

*Karena keberanian tidak selalu terlihat besar. Kadang, keberanian dimulai dari satu keputusan kecil untuk melakukan hal yang benar.*

 

*) Guru Pendidikan Pancasila di SMAN 1Pangalengan

**) dari berbagai sumber

Selasa, 01 September 2026

Financial Literacy

 INFLASI DAN DAMPAKNYA KE UANG SAKU KAMU

Oleh: Dadan Triatna, SE., S.Pd


Bayangkan, mungkin lima tahun lalu uang Rp10.000 bisa untuk membeli semangkuk bakso komplit plus es teh di kantin sekolah, tetapi hari ini uang yang sama hanya cukup untuk baksonya saja. Fenomena penurunan daya beli uang secara perlahan dari waktu ke waktu inilah yang disebut inflasi. Apa Itu Inflasi?. Secara sederhana, inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Inflasi biasanya terjadi karena meningkatnya biaya produksi barang, tingginya permintaan masyarakat, atau bertambahnya jumlah uang yang beredar. Akibatnya, nilai nominal lembaran uang di dompetmu tetap sama, tetapi daya belinya terus menyusut.

 
Sumber: https://www.pinterpolitik.com/in-depth/salah-diagnosis-inflasi-seharusnya-lebih-besar/

Dampak Inflasi ke Uang Saku Kamu

Sebagai pelajar, kamu mungkin merasa inflasi adalah urusan orang dewasa atau menteri keuangan. Padahal, dampaknya sangat nyata di kehidupan sehari-hari:

·         Jajanan dan Kebutuhan Makin Mahal. Harga makanan di kantin, tarif angkutan umum, hingga paket data perlahan-lahan merambat naik.

·         Nilai Uang Saku Menyusut. Jika uang sakumu tetap Rp 20.000 per hari sejak dua tahun lalu, jumlah barang yang bisa kamu beli hari ini jauh lebih sedikit dibanding dulu.

·         Celengan Fisik Tergerus. Uang tunai yang disimpan lama di celengan nilainya secara tidak langsung "berkurang" karena target barang yang ingin kamu beli harganya sudah terlanjur melambung.

Sumber: https://rri.co.id/bandar-lampung/regional/1395215/dampak-inflasi-terhadap-pendidikan

Tips Cerdas Menyiasati Inflasi untuk Pelajar

Kamu memang tidak bisa menghentikan inflasi, tetapi kamu bisa beradaptasi agar keuangan kamu tetap aman melalui langkah-langkah praktis ini:

·         Bedakan Needs (Kebutuhan) dan Wants (Keinginan). Utamakan kebutuhan penting seperti ongkos, makan siang, dan alat tulis sebelum menyisihkan uang untuk jajan impulsif atau nongkrong.

·         Bawa Bekal dan Air Minum dari Rumah. Mengurangi frekuensi jajan di sekolah adalah cara tercepat memangkas pengeluaran harian secara signifikan.

·         Mulai Mengenal Tabungan Berbunga atau Investasi. Jangan menaruh semua uang simpanan di celengan fisik. Pelajari tabungan pelajar di bank atau instrumen investasi syariah/reksa dana pemula agar nilai uangmu berpotensi bertumbuh mengejar tingkat inflasi.

·         Asah Keterampilan Berdaya Saing. Manfaatkan internet untuk belajar keahlian baru seperti desain, video editing, atau menulis yang bisa menghasilkan pemasukan tambahan di luar uang saku harian.

Sumber: https://web.facebook.com/groups/joinblaque/posts/24520455994310404/?_rdc=1&_rdr#

Memahami inflasi sejak bangku sekolah adalah fondasi utama literasi finansial. Dengan bijak mengelola uang saku dari sekarang, kamu tidak hanya kebal dari imbas inflasi, tetapi juga lebih siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler Agribinis

**) dirangkum dari berbagai sumber

 

Senin, 31 Agustus 2026

In the Moment

 MENELADANI AKHLAK RASULULLAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Oleh: Dian Fitriani, S.Pd *)

 

Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan momentum untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengingat kembali perjuangan dan keteladanan beliau. Rasulullah SAW bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga teladan terbaik dalam bersikap, berbicara, belajar, bekerja, dan memperlakukan sesama manusia. Peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Lebih dari itu, Maulid menjadi kesempatan bagi kita untuk memahami dan menerapkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: https://klinikkeluarga.com/news/selengkapnya/sejarah-dan-filosofi-di-balik-perayaan-maulid-nabi-muhammad-saw

Rasulullah, Teladan bagi Generasi Muda

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak mulia. Beliau senantiasa berkata jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebenaran, dan memiliki kecerdasan dalam menghadapi berbagai persoalan.

     Ada empat sifat utama Rasulullah SAW yang dapat kita teladani:

1.       Shiddiq - Selalu Jujur

Rasulullah SAW selalu berkata dan bertindak jujur. Sebagai pelajar, kejujuran dapat diwujudkan dengan tidak menyontek, mengakui kesalahan, dan mengerjakan tugas dengan kemampuan sendiri.

2.       Amanah - Dapat Dipercaya

Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah SAW selalu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Sebagai pelajar, kita dapat menerapkannya dengan melaksanakan tugas, menjaga barang milik orang lain, dan bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan oleh guru maupun orang tua.


 Sumber: https://www.instagram.com/p/DMpjRmPyx6U/

3.       Tabligh - Menyampaikan Kebenaran

Rasulullah SAW menyampaikan wahyu dan kebenaran kepada umatnya. Kita dapat meneladaninya dengan menyampaikan informasi yang benar dan tidak menyebarkan berita bohong atau informasi yang belum diketahui kebenarannya.

4.       Fathanah - Cerdas dan Bijaksana

Rasulullah SAW merupakan pribadi yang cerdas dan bijaksana. Sebagai generasi muda, kita harus rajin belajar, berpikir kritis, menggunakan teknologi secara bijak, dan terus mengembangkan kemampuan diri.

 
Sumber: https://suaraaisyiyah.id/meneladani-akhlak-reformis-rasulullah-sebagai-kompas-di-era-digital/

Akhlak Rasulullah di Era Digital

Di zaman sekarang, keteladanan Rasulullah SAW sangat relevan dengan kehidupan generasi muda. Saat menggunakan media sosial, kita dapat menerapkan akhlak Rasulullah dengan:

·         Tidak menyebarkan berita bohong.

·         Tidak melakukan perundungan atau cyberbullying.

·         Menggunakan bahasa yang sopan.

·         Tidak menghina atau merendahkan orang lain.

·         Memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

·         Menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.

·         Menghargai perbedaan pendapat.

 

*) Guru Pengampu Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan sekaligus Pembina Pramuka Putri

**) dari berbagai sumber

Minggu, 30 Agustus 2026

Teen Issues

 FENOMENA SECOND ACCOUNT PADA MEDIA SOSIAL

Oleh: Dra. Hj Garliantika *)


Di era digital saat ini, memiliki lebih dari satu akun di media sosial bukanlah hal yang aneh dan tentunya bukan tanpa alasan. Pada kesempatan ini penulis akan mengulas fenomena ini agar kita semua dapat memahaminya secara bijak dan tidak menimbulkan dampak negatif. Berdasarkan sumber yang penulis baca, ada 3 faktor utama yang menjadi latar belakang pengguna media sosial khususnya remaja pelajar  untuk membuat second account.

  1. Kebutuhan Ruang Ekspresi,

Remaja membutuhkan wadah untuk menyampaikan pikiran, emosi serta kreativitas mereka tanpa merasa diawasi oleh guru, orang tua, maupun khalayak umum.

  1. Manajemen Identitas Sosial

Dengan memisahkan audiens, remaja dapat menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan kelompok.

  1. Kontrol Privasi

Dengan second account, remaja dapat menyeleksi siapa saja yang dapat mengakses informasi pribadi mereka.


Akan tetapi perlu diwaspadai bahwa ketiga hal  ini perlu dibarengi dengan ‘kontrol diri dan literasi digital’ agar tidak menimbulkan dampak negatif. Second account kadang atau mungkin sering digunakan untuk menjadi ruang untuk menyindir, menggosipkan seseorang atau hal-hal tertentu, bahkan memberi komentar yang tidak etis yang akhirnya mengarah pada Cyber Bullying. Pelaku  merasa nyaman melakukan hal ini karena merasa tidak akan teridentifikasi. Akan tetapi sadarkah kita bila pada suatu waktu mungkin saja terjadi perselisihan diantara teman ‘satu ruang’ di second account kita, kemudian setiap unggahan atau komentar kita di screenshot lalu disebar luaskan? Hal ini tentunya akan beresiko merusak nama baik kita bahkan institusi tempat kita belajar.  Perlu diingat bahwa konten yang berisi ujaran kebencian, perundungan atau provokasi dapat berimplikasi pada pelanggaran Permendikdasmen No.6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kemudian, second account membawa kita berada dalam sebuah kelompok kecil yang memiliki pandangan yang sama. Dengan obrolan serta pandangan yang kita utarakan dalam ‘ruang kecil’ tersebut, dapat membawa kita pada ‘menguatnya bias serta menurunnya kemampuan berpikir kritis serta empati’.

Agar second account memberikan manfaat dan tidak merugikan, gunakan beberapa prinsip berikut:

       Ajukan pertanyaan sebelum mengunggah atau berkomentar,”Beranikah saya nanti mempertanggung jawabkannya di depan umum?”

       Tetap gunakan bahasa yang santun, bahkan di ruang yang kita anggap privat sekalipun.

       Pastikan second account yang kita buat ditujukan untuk sarana refleksi diri dan membangun relasi positif, bukan untuk melampiaskan emosi negatif. Ingat, jejak digital bersifat permanen, sekalipun pernah kita hapus.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. diamanahi sebagai "Public Relation" sekolah. hobby bermain music. Ibu rumah tangga yang senang mengamati masalah sosial remaja.

Kamis, 27 Agustus 2026

All About Food

 YUK…KENALI BAHAN TAMBAHAN MAKANAN (BTM) YANG AMAN DI SEKITAR KITA!!

Oleh: Sani Indriani *)  

 

Bahan Tambahan Makanan (BTM) adalah senyawa kimia yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan. Tujuannya bukan untuk dikonsumsi langsung sebagai makanan utama, melainkan untuk meningkatkan kualitas pangan. Sesuai dengan pengertian nya jadi BTM digunakan untuk :

·         Mengawetkan: mencegah makanan cepat membusuk akibat bakteri atau jamur.

·         Mempercantik: memberikan warna dan tekstur yang menarik selera.

·         Meningkatkan rasa: memberikan aroma dan rasa yang lebih kuat.

·         Menjaga nutrisi: mencegah kerusakan vitamin atau mineral selama proses produksi.


Sumber: https://k-link.co.id/waspada-bahaya-bahan-tambahan-makanan/

Jenis BTM yang Aman (Diizinkan BPOM) :

Berikut adalah jenis-jenis BTP yang sering dijumpai di sekitar kita beserta contoh dan fungsinya:

Terdapat banyak jenis BTP yang telah diatur oleh pemerintah. Berikut adalah beberapa jenis yang paling sering kamu temukan dalam produk sehari-hari:

1.       Pewarna (Colorant)

Pewarna digunakan untuk memberikan warna pada makanan agar terlihat lebih menarik atau mengembalikan warna asli makanan yang hilang selama proses pengolahan. Pewarna alami meliputi karamel, klorofil, dan kurkumin. Sedangkan pewarna sintetis yang diizinkan meliputi Tartrazin, Allura Red, dan Brilliant Blue.

2.       Pemanis Buatan (Artificial Sweeteners)

BTP ini digunakan untuk memberikan rasa manis namun dengan kalori yang jauh lebih rendah daripada gula pasir. Contohnya adalah aspartam, sakarin, sukralosa, dan asesulfam-K. Pemanis ini sering ditemukan dalam minuman diet atau produk khusus penderita diabetes.

 

Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/hati-hati-pemanis-buatan-dapat-memicu-diabetes?

3.       Pengawet (Preservatives)

Pengawet berfungsi untuk menghambat atau mencegah fermentasi, pengasaman, atau penguraian lainnya pada pangan yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Contohnya adalah natrium benzoat, kalium sorbat, dan nitrit yang sering ada pada daging olahan seperti sosis.

4.       Penguat Rasa (Flavor Enhancer)

Jenis ini bertujuan untuk memperkuat atau memodifikasi rasa yang sudah ada pada bahan pangan. Mononatrium Glutamat (MSG) adalah contoh penguat rasa yang paling populer di dunia.

5.        Pengemulsi (Emulsifiers)

Pengemulsi membantu mencampurkan dua bahan yang biasanya tidak bisa menyatu, seperti minyak dan air. Lecithin (biasanya dari kedelai) sering digunakan dalam pembuatan cokelat dan margarin.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DXt6fJAEWj-/

Fungsi dan Manfaat BTP dalam Industri

BTP memiliki peran krusial dalam rantai pasok pangan modern. Tanpa pengawet, makanan akan cepat busuk selama proses distribusi dari pabrik ke toko ritel, yang pada akhirnya meningkatkan limbah pangan dan risiko keracunan makanan akibat bakteri. Selain itu, BTP memungkinkan tersedianya makanan dengan harga yang lebih terjangkau dan variasi rasa yang lebih luas bagi konsumen di seluruh dunia.

Bagi produsen, BTP membantu menjaga konsistensi produk. Misalnya, penggunaan penstabil (stabilizer) pada es krim memastikan teksturnya tetap lembut dan tidak cepat mengkristal meski suhu penyimpanan sedikit berfluktuasi. Bagi konsumen yang sedang menjalankan diet tertentu, BTP seperti pemanis buatan memberikan kesempatan untuk menikmati makanan manis tanpa khawatir akan asupan kalori berlebih.

 

Sumber: https://www.tempo.co/arsip/memahami-aneka-warna-kemasan-makanan-dan-maknanya-799035

Cara Bijak Mengonsumsi Produk Kemasan

  1. Selalu baca daftar komposisi pada label kemasan dengan teliti.
  2. Pilih produk yang mencantumkan nomor izin edar BPOM (MD atau ML).
  3. Batasi konsumsi makanan olahan dan utamakan makanan segar (whole foods).

Meskipun sudah melalui uji keamanan, konsumsi BTP yang berlebihan atau pada individu yang sensitif dapat menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa orang melaporkan gejala seperti sakit kepala (sering dikaitkan dengan MSG), gatal-gatal atau gidu (akibat pewarna tertentu), hingga gangguan pencernaan. Beberapa penelitian juga menyoroti kaitan antara pewarna buatan tertentu dengan perilaku hiperaktif pada anak-anak. Oleh karena itu, bagi kamu yang ingin menjaga kesehatan jangka panjang, sangat disarankan untuk membatasi konsumsi makanan yang mengandung banyak zat aditif sintetis. Dalam kimia pangan, ada istilah ADI (Acceptable Daily Intake) yang artinya jumlah maksimum suatu BTM yang boleh dikonsumsi manusia setiap hari seumur hidup tanpa menimbulkan risiko kesehatan. Untuk menghitung ADI ini tidak ditentukan oleh usia tapi oleh berat badan masing masing.

"Bahan kimia pangan bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan dipahami. Dengan regulasi yang tepat dan konsumsi yang bijak, kita dapat menikmati kemajuan teknologi pangan tanpa mengorbankan kesehatan."

 

*) Siswa kelas XII A4 di SMAN 1 Pangalengan

**) dirangkum dari berbagai sumber

Rabu, 26 Agustus 2026

National Spirit

 LUNTURNYA NILAI ADAB DAN AKHLAK DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Oleh: Zaenal Muttaqin, S.HI *)


Adab dan akhlak merupakan fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam membangun hubungan yang harmonis, menjunjung tinggi rasa hormat, serta menciptakan kehidupan yang tertib dan berkeadaban. Namun, seiring perkembangan zaman dan arus globalisasi, berbagai tantangan muncul yang menyebabkan terjadinya kemerosotan nilai-nilai adab dan akhlak di masyarakat.

 
Sumber: https://majalah.hsi.id/edisi/77

Lunturnya nilai adab dan akhlak dapat terlihat dari berbagai fenomena sosial, seperti berkurangnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, meningkatnya perilaku intoleransi, maraknya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian di media sosial, serta menurunnya kepedulian terhadap sesama. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mengabaikan norma dan etika yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Salah satu faktor penyebab lunturnya nilai adab dan akhlak adalah pengaruh globalisasi yang membawa berbagai budaya asing tanpa proses penyaringan yang memadai. Selain itu, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat juga memberikan dampak besar terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat. Jika tidak disertai dengan pendidikan karakter yang kuat, kemajuan teknologi dapat disalahgunakan untuk tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.

 
Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-5347202/benih-intoleransi-di-sekolah

Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai adab dan akhlak. Selain keluarga, sekolah juga berperan dalam membentuk karakter peserta didik melalui pendidikan yang menyeimbangkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Keteladanan dari orang tua, guru, pemimpin, dan tokoh masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun karakter bangsa yang berakhlak mulia. Untuk mengatasi lunturnya nilai adab dan akhlak, diperlukan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Pendidikan karakter harus diperkuat, budaya gotong royong perlu dilestarikan, serta penggunaan media sosial harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Dengan demikian, nilai-nilai luhur bangsa dapat terus terjaga dan menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/rizkyajarisarmani7011/676e0229c925c43254130f43/pancasila-sebagai-produk-filsafat

Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dari kualitas moral dan karakter masyarakatnya. Oleh karena itu, upaya menanamkan kembali nilai-nilai adab dan akhlak harus menjadi tanggung jawab bersama demi terwujudnya bangsa Indonesia yang bermartabat, harmonis, dan berkeadaban.

 

*) Guru Pendidikan Pancasila, koord. Projek Kokurikuler. Pembina Ekstrakurikuler Futsak di SMAN 1 Pangalengan.

**) dirangkum dari berbagai sumber

Selasa, 25 Agustus 2026

Advice 4 Teenagers

 TIDAK SENANG MELIHAT KEBERHASILAN ORANG LAIN

Oleh: Rina Dewi N., S.Pd *)

 

 Di kelas XI, ada dua sahabat bernama Alya dan Sinta. Mereka selalu belajar bersama dan sering mengerjakan tugas kelompok. Suatu hari, sekolah mengadakan lomba presentasi antarkelas. Alya mengikuti lomba tersebut dengan penuh semangat. Setelah beberapa hari, hasil lomba diumumkan. Alya berhasil menjadi juara pertama. Guru dan teman-teman memberikan ucapan selamat kepadanya. Namun, Sinta justru merasa tidak senang. Dalam hatinya, ia berpikir, “Mengapa Alya yang menang? Seharusnya aku yang mendapatkan penghargaan itu.”

 
Sumber: https://no.pinterest.com/pin/795096509213617960/

Sejak hari itu, Sinta mulai berubah. Ketika teman-teman memuji keberhasilan Alya, Sinta hanya diam. Ia bahkan mengatakan kepada teman lainnya, “Alya menang hanya karena beruntung.”. Alya mendengar perkataan itu dan merasa sedih. Ia tidak pernah bermaksud membuat Sinta merasa kalah. Ia justru ingin berbagi pengalaman agar Sinta juga bisa berhasil.

 
Sumber: https://redrawng.com /6a8d9fb4-ffe0-83ec-90d3-ba9e9520b335

Beberapa hari kemudian, guru memberikan tugas membuat presentasi secara berkelompok. Alya mengajak Sinta bekerja sama. Awalnya Sinta merasa malu, tetapi akhirnya ia menerima ajakan tersebut. Saat mengerjakan tugas, Alya berkata, “Sinta, keberhasilanku bukan berarti kamu tidak bisa berhasil. Kita semua punya kesempatan untuk menjadi lebih baik.”.  Sinta terdiam. Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu fokus pada keberhasilan Alya sampai lupa melihat kelebihan dirinya sendiri. "Aku minta maaf, Alya. Aku seharusnya ikut senang melihat keberhasilanmu dan menjadikannya motivasi untuk belajar lebih giat,” kata Sinta. Alya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa. Yang penting kita bisa saling mendukung.”

 
Sumber: https:// redrawng.com /c/6a8d9fb4-ffe0-83ec-90d3-ba9e9520b335

Sejak saat itu, Sinta berusaha mengubah sikapnya. Ia belajar untuk ikut merasa senang ketika orang lain berhasil. Ia juga mulai percaya bahwa keberhasilan seseorang bukan berarti mengurangi kesempatan orang lain untuk berhasil.

Pesan moral

Jangan merasa tidak senang ketika orang lain berhasil. Keberhasilan orang lain seharusnya menjadi motivasi bagi kita untuk terus belajar, berusaha, dan mengembangkan kemampuan diri.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalengan. Koordinator Projek Kokurikuler.

**) dari beragam sumber

The Courage to Speak Up

  # Belajar dari Nusaibah Ketika Keberanian Tidak Mengenal Gender Apakah keberanian hanya milik laki-laki? Oleh; Novianti Noermala, S.Pd...