"Jangan biarkan semangat ibadahmu berakhir bersamaan dengan perginya bulan Ramadhan. Jadikan Syawal langkah awal istiqamah....abuafifi"

Senin, 06 April 2026

Humaniora

 BAHASA CERMINAN KEPRIBADIANMU

Oleh: Dian Fitriani, S.Pd *)


Bahasa bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga merupakan cerminan dari kepribadian seseorang. Setiap kata yang diucapkan, cara penyampaian, hingga pilihan gaya bahasa yang digunakan, secara tidak langsung menggambarkan siapa diri kita sebenarnya. Tanpa disadari, orang lain sering kali menilai kepribadian kita dari bagaimana kita berbicara atau menulis.

Sumber: https://english4tutors.com/lessons/talking-to-yourself/

Cara seseorang menggunakan bahasa mencerminkan pola pikir dan sikapnya. Orang yang terbiasa berbicara dengan sopan dan teratur umumnya dipandang sebagai pribadi yang santun, tenang, dan menghargai orang lain. Sebaliknya, penggunaan bahasa yang kasar atau tidak terkontrol dapat memberikan kesan emosional, kurang sabar, atau bahkan tidak menghormati lingkungan sekitar. Dari sini terlihat bahwa bahasa menjadi jendela yang memperlihatkan isi pikiran dan hati seseorang.

 
Sumber: https://es.pinterest.com/pin/531706299761997243/

Selain itu, bahasa juga mencerminkan tingkat empati dan kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu memilih kata-kata dengan tepat, terutama dalam situasi sensitif, menunjukkan bahwa ia memiliki kepedulian terhadap perasaan orang lain. Ia tidak hanya berbicara untuk menyampaikan maksud, tetapi juga mempertimbangkan dampak dari ucapannya. Inilah yang membuat bahasa menjadi alat penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat.

 
Sumber: https://www.sariasih.id/artikel/kesehatan/menjaga-kesehatan-mental-dalam-kehidupan-sosial

Di era digital, peran bahasa sebagai cerminan kepribadian semakin kuat. Interaksi melalui media sosial, pesan singkat, atau email membuat orang lebih sering dinilai dari tulisan mereka. Tanpa ekspresi wajah dan nada suara, kata-kata menjadi satu-satunya representasi diri. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang bijak, jelas, dan sopan sangat diperlukan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Namun, penting untuk diingat bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang kaku. Ia bisa dipelajari dan diperbaiki. Seseorang dapat mengembangkan cara berbahasa yang lebih baik seiring waktu, dan perubahan tersebut sering kali diikuti oleh perkembangan kepribadian yang lebih matang. Dengan kata lain, memperbaiki bahasa juga berarti memperbaiki cara kita berpikir dan bersikap.

 
Sumber: https://www.antaranews.com/berita/4791005/terapkan-beberapa-langkah

Pada akhirnya, bahasa adalah cerminan dari diri kita. Ia menunjukkan nilai, sikap, dan karakter yang kita miliki. Maka dari itu, menggunakan bahasa yang baik dan bijak bukan hanya tentang komunikasi yang efektif, tetapi juga tentang membangun citra diri yang positif. Karena dari bahasa yang kita gunakan, orang lain belajar mengenal siapa kita sebenarnya.

 

*) Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi sebagai Pembina Pramuka Putri di Ambalan Dewi Ratna Manik.

**) dari berbagai sumber

Minggu, 05 April 2026

SAINTOLOGY

 INTEGRASI IQ, EQ, SQ, DAN QUANTUM QUESTIONS

Oleh: Tim Redaksi Literatsmansa

 

Dalam dunia modern yang serba cepat dan kompleks, pemahaman manusia mengenai kecerdasan telah berkembang pesat. Kecerdasan tidak lagi hanya diukur melalui kemampuan kognitif logis, tetapi merupakan satu kesatuan holistik yang mencakup emosi, spiritualitas, dan cara berpikir kuantum. Mengintegrasikan Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ) - sering disebut sebagai Quantum Quotient - adalah kunci untuk mencapai potensi manusia yang maksimal.

 
Sumber: https://osc.medcom.id/community/9-tipe-kecerdasan-manusia-profesi-yang-sesuai-dengannya-2581

1. IQ (Intelligence Quotient). Kecerdasan Logis-Analitis

     IQ atau Kecerdasan Intelektual adalah kemampuan kognitif yang berkaitan dengan logika, penalaran, pemecahan masalah, kemampuan bahasa, dan berpikir abstrak. Ini adalah bentuk kecerdasan yang paling tradisional dan sering diukur sejak usia dini untuk memprediksi kemampuan akademis.

-          Fungsi: Mengelola tugas-tugas teknis, menganalisis data, dan menyusun strategi.

-          Keterbatasan: IQ yang tinggi tidak menjamin keberhasilan hidup. Daniel Goleman menunjukkan bahwa IQ hanya berpengaruh 5-10% terhadap keberhasilan, sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.


    Sumber: https://kapable.club/blog/emotional-intelligence/

2. EQ (Emotional Quotient). Kecerdasan Emosional

     EQ adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola emosi diri sendiri, serta mengenali emosi orang lain (empati). Individu dengan EQ tinggi cenderung lebih mudah beradaptasi, memiliki hubungan sosial yang baik, dan mampu menyelesaikan konflik dengan bijak.

-          Fungsi: Mengelola stres, membangun komunikasi yang efektif, dan memotivasi diri.

-          Dampak: EQ tinggi meningkatkan kinerja dan kesehatan mental, menurunkan kecemasan.


 Sumber: https://sqi.co/definition-of-spiritual-intelligence/

3. SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan Spiritual

     SQ adalah kecerdasan tertinggi yang memungkinkan manusia menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. SQ menuntun moralitas, kerendahan hati, kejujuran, dan kemampuan untuk menemukan tujuan hidup (visi).

-          Fungsi: Menjadikan manusia utuh (paripurna), mengintegrasikan IQ dan EQ.

-          Ciri: Mengenali diri sendiri, sabar, bersyukur, dan memiliki semangat memberi.


          Sumber: https://www.goodbyevanilla.com/quantumquotient/

4. Quantum Quotient dan Quantum Questions

     Quantum Quotient (Kecerdasan Kuantum) adalah konsep yang menyatukan IQ, EQ, dan SQ secara harmonis untuk membawa kebaikan bagi manusia. Agus Nggermanto (2015) merumuskan bahwa melejitkan ketiga kecerdasan ini bersamaan akan menghasilkan kecerdasan kuantum yang melejitkan potensi diri secara total.

     Quantum Questions adalah metode berpikir yang didasarkan pada prinsip fisika kuantum, di mana jawaban atas masalah bukan sekadar logika linear, melainkan kombinasi kreativitas, intuisi, dan makna mendalam.

-          Teknik Bertanya dengan fokus pada solusi (bukan masalah), bertanya tentang tujuan akhir (mengapa), dan berpikir luar biasa (out of the box).

-          Contoh "Bagaimana cara agar masalah ini menjadi peluang emas?" atau "Apa makna terdalam dari peristiwa ini bagi hidup saya?"

   
       Sumber: https://anaklangit.com/multiple-intelligence/

5. Integrasi

Keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ sangat krusial. IQ tanpa EQ dan SQ bisa membuat manusia cerdas namun tidak baik dan tidak empatik. SQ tanpa IQ dan EQ bisa membuat manusia bermakna secara batin namun tidak produktif secara fisik.

-          IQ + EQ + SQ = Sukses Sejati.

-          Penelitian menunjukkan bahwa manusia yang mengintegrasikan ketiga kecerdasan ini cenderung lebih bahagia, tangguh, dan mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungannya.

Simpulan

Kecerdasan manusia tidak bersifat tunggal. Menjadi manusia yang sukses, bahagia, dan berdampak tinggi membutuhkan pengembangan IQ, EQ, dan SQ secara seimbang. Melalui pendekatan Quantum Questions, kita dapat memaksimalkan potensi otak dan jiwa kita untuk menjawab tantangan zaman.

 

Daftar Pustaka

-     Agus Nggermanto. (2015). Melejitkan IQ, EQ, dan SQ Kecerdasan Quantum. Bandung: Nuansa Cendekia.

-    Agus Nggermanto. (2002). Quantum Quotient (Kecerdasan Quantum) : Cara Tepat Melejitkan IQ, EQ, dan SQ Secara                      Harmonis. Bandung: Nuansa.

-     Agustian, Ari Ginanjar. (2003). ESQ (Emotional Spiritual Quotient). Jakarta: Arga.

-     Goleman, Daniel. (2002). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting daripada IQ. Jakarta:               Gramedia.

-     Husnaini, A. (2010). Keseimbangan IQ, EQ dan SQ dalam Perspektif Islam. www.badilag.net/artikel/wacanahukumislam.pdf.

Rabu, 01 April 2026

Momentum II

 MAKNA MINAL AIDIN WAL FAIZIN

Oleh: H. Asep Rosadi, S.Ag *)

 

Minal Aidin wal Faizin, demikian harapan dan doa yang kita ucapkan kepada sanak keluarga dan handai tolan pada Idul Fitri. Apakah yang dimaksud dengan ucapan ini? Sayang, kita tidak dapat merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kata "Aidin", karena bentuk kata tersebut tidak bisa kita temukan di sana. Namun, dari segi bahasa, "minal 'aidin" berarti (semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali. Kembali di sini adalah kembali kepada fitrah, yakni "asal kejadian", atau "kesucian", atau "agama yang benar".

Sumber: https://kabarduri.net/ucapan-minal-aidin-wal-faidzin-hanya-ada-di-indonesia

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa - yaitu berpuasa - selama satu bulan, diharapkan setiap Muslim kembali ke asal kejadiannya dan menemukan "jati dirinya", yaitu kembali suci sebagaimana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengajarkan ajaran agama yang benar. Ini semua menuntut keserasian hubungan, karena menurut Rasulullah, al-din al-mu'amalah, yakni keserasian dengan sesama manusia, lingkungan, dan alam.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20250331135629-7-623047/potret-idul-fitri

Sementara itu, al-faizin diambil dari kata fawz yang berarti "keberuntungan". Apakah "keberuntungan" yang kita harapkan itu? Di sini kita dapat merujuk kepada Al-Quran, karena 29 kali kata tersebut, dalam berbagai bentuknya, terulang. Menarik juga untuk diketengahkan bahwa Al-Quran hanya sekali menggunakan bentuk alfuzu(saya beruntung). Itupun untuk menggambarkan ucapan orang-orang munafik yang memahami "keberuntungan" sebagai keberuntungan yang bersifat material (baca QS 4: 73).

Bila kita telusuri Al-Quran yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang berhubungan dengan konteks dan makna ayat-ayat yang menggunakan kata fawz, ditemukan bahwa seluruhnya (kecuali QS 4: 73) mengandung makna "pengampunan dan keridaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi." Kalau demikian halnya, wal faizin harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita termasuk orang-orang yang memperoleh ampunan dan rida Allah SWT sehingga kita semua mendapatkan kenikmatan surga-Nya.

 
Sumber: https://legacy.quran.com/4/73

Salah satu syarat untuk memperoleh anugerah tersebut ditegaskan oleh Al-Quran dalam surat An-Nur ayat 22, yang menurut sejarah turunnya berkaitan dengan kasus Abu Bakar r.a. dengan salah seorang yang ikut ambil bagian dalam menyebarluaskan gosip terhadap putrinya sekaligus istri Nabi, Aisyah. Begitu murahnya Abu Bakar sehingga ia bersumpah untuk tidak memaafkan dan tidak memberi bantuan apapun kepadanya.

Allah SWT memberikan petunjuk dalam ayat tersebut: _Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 24: 22).

 
Sumber: https://legacy.quran.com/24/22

Marilah kita saling berlapang dada, mengulurkan tangan dan saling mengucapkan minal aidin wal faizin. Semoga kita dapat kembali menemukan jati diri kita dan semoga kita bersama memperoleh ampunan, rida, dan kenikmatan surgawi. Amin.

*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan. Pengasuh beberapa Majelis Taklim. Wirausahawan muda.

**) disarikan dari berbagai sumber

Selasa, 31 Maret 2026

Enterpreneurship

 Menilik Kondisi Indonesia Melalui Kacamata Kreativitas Lokal

Oleh: Dadan Triatna, SE., S.Pd

 

Jika kita mendengar kata "Prakarya", ingatan kita mungkin langsung tertuju pada anyaman bambu, miniatur rumah dari stik es krim, atau pengolahan limbah plastik di bangku sekolah. Namun, jika ditarik ke konteks yang lebih luas, prinsip-prinsip dalam pelajaran Prakarya sebenarnya adalah cermin sekaligus solusi bagi kondisi Indonesia saat ini.

 
Sumber: https://www.bola.com/ragam/read/4616929/pengertian-prakarya-manfaat-tujuan-dan-contohnya-yang-perlu-dipahami

Negara kita sedang berada di persimpangan jalan antara ketergantungan pada produk impor dan semangat untuk berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Di sinilah pelajaran Prakarya menjadi relevan sebagai fondasi pembangunan nasional.

1.       Aspek Kerajinan Identitas di Tengah Globalisasi

Dalam Prakarya, kita diajarkan bahwa bahan mentah di sekitar kita seperti rotan, serat alam, hingga logam memiliki nilai tinggi jika disentuh dengan keahlian tangan (craftsmanship). Kondisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa kita kaya akan bahan baku, namun seringkali kurang dalam pengolahan nilai tambah.

Hubungannya Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mengubah "kerajinan" menjadi "industri kreatif". Mengandalkan kekayaan alam saja tidak cukup; kita butuh sentuhan estetika dan inovasi agar produk lokal bisa bersaing dengan gempuran barang asing.

2.       Aspek Rekayasa Solusi Teknologi Tepat Guna

Salah satu bab dalam Prakarya adalah Rekayasa, yang mengajarkan pembuatan alat penjernih air atau instalasi listrik sederhana. Di tengah kondisi cuaca ekstrem dan tantangan infrastruktur di pelosok Indonesia, kemampuan rekayasa tepat guna sangatlah krusial.

Hubungannya  Indonesia butuh lebih banyak inovator muda yang mampu menciptakan alat sederhana namun berdampak besar bagi masyarakat desa, bukan sekadar konsumen teknologi canggih dari luar negeri.

 
Sumber: https://bintangpusnas.perpusnas.go.id/konten/BK85793/teknologi-tepat-guna

3.       Aspek Budidaya Ketahanan Pangan dari Halaman Rumah

Budidaya tanaman sayuran atau perikanan darat dalam kurikulum Prakarya adalah jawaban atas isu krisis pangan global yang juga membayangi Indonesia.

Hubungannya Pelajaran ini mengajarkan bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari skala mikro. Kondisi ekonomi yang fluktuatif menuntut masyarakat untuk lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar melalui konsep urban farming atau budidaya mandiri.

4.       Aspek Pengolahan Limbah Menjadi Berkah

Prakarya sangat menekankan pada pengolahan limbah menjadi produk fungsional. Saat ini, Indonesia menghadapi masalah serius terkait sampah plastik dan polusi.

Hubungannya Mengubah sampah menjadi barang bernilai ekonomis bukan lagi sekadar tugas sekolah, melainkan kebutuhan darurat nasional. Kondisi lingkungan kita menuntut adanya budaya upcycling dan recycling yang masif di tingkat rumah tangga.

 
Sumber: https://rri.co.id/bukittinggi/iptek/683605/bagaimana-cara-mengelola-limbah-b3-ramah-lingkungan

Kondisi Indonesia saat ini memerlukan mentalitas "Anak Prakarya": kreatif, solutif, dan menghargai potensi lokal. Jika prinsip Prakarya diterapkan secara serius dalam skala nasional, kita tidak hanya akan menjadi negara konsumen, tetapi menjadi negara produsen yang tangguh. Membangun negara tidak selalu dimulai dari proyek raksasa, terkadang ia dimulai dari tangan-tangan kreatif yang mampu mengolah apa yang ada di depannya menjadi sesuatu yang luar biasa.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalngan. Diamanahi membina Ekstrakurikuler Pendidikan Lingkungan Hidup

**) dari berbagai sumber

Senin, 30 Maret 2026

Perihal Ilmu

 DEEP TALK SAMA ALAM, RAHASIA SUKSES EKOWISATA GARUT LEWAT MATA HATI

Oleh: Hj. Ani Haelani, SS, M.Pd.MIL *)

Halo, Sobat Gen-Z! Pernah dengar istilah "Ngaji Rasa"? Kedengarannya mungkin berat banget kayak tugas filsafat, tapi sebenarnya ini adalah skill paling penting buat kita yang lagi proses jadi dewasa. Artikel yang Ibu sajikan ini ngajak kita buat nggak cuma melihat dunia pakai mata, tapi juga pakai hati, terutama dalam menjaga alam kita.


Sumber: https://relaxteacher.wordpress.com/2013/09/13/falsafah-ngaji-rasa/

Yuk, kita bahas ringkasannya dengan gaya yang lebih santai!

1. Mata Hati Level Up Cara Kita Memandang Dunia

Belajar itu nggak ada kata finish-nya. Kalau kata artikel ini, semakin kita dewasa, kita harus semakin sadar kalau ilmu itu luas banget. Ada perbedaan besar antara "Mata" dan "Mata Hati".

  • Mata, Cuma bisa melihat apa yang tertulis di buku atau layar smartphone.
  • Mata Hati, Bisa merasakan proses kehidupan sebagai "kitab" yang nggak ada habisnya.

Contoh simpelnya: Sampah. Kalau cuma pakai mata, kita cuma lihat benda kotor. Tapi kalau pakai mata hati, kita bakal punya kesadaran (mindfulness) kalau satu sampah plastik yang kita buang sembarangan itu bisa merusak ekosistem masa depan. Melakukan hal baik bukan cuma karena aturan, tapi karena kita merasa itu bentuk pengabdian kita kepada Tuhan. Deep banget, kan?

 

Sumber: https://itb.ac.id/berita/dosen-itb-pantai-sayang-heulang-punya-potensi-jadi-lokasi-agrowisata/58813

2. Realita Pahit di Pantai Garut Selatan

Sekarang kita coba aplikasikan ilmu "Ngaji Rasa" ini ke kasus nyata. Pantai Selatan Garut. Siapa yang nggak tahu indahnya Pantai Sayang Heulang atau Santolo? Tapi sayangnya, pengelolaannya masih jauh dari kata "estetik" dan profesional.

Ada beberapa masalah toxic yang sering dikeluhkan pengunjung:

  • Tiket yang "Digetok": Harusnya sesuai aturan cuma Rp15.000, tapi di lapangan bisa jadi Rp45.000. Ini jelas nggak jujur.
  • Fasilitas yang "Zonk": Bayar mahal tapi sampah berserakan di mana-mana dan fasilitasnya nggak bikin nyaman.
  • Oknum Galak: Masih ada oknum petugas atau "preman" yang bicaranya kasar. Padahal, orang ke pantai itu mau healing dan menikmati ciptaan Tuhan, bukannya malah kena mental karena dibentak.

 

Sumber: https://validnews.id/kultura/mengintip-indahnya-bahari-garut-di-pantai-santolo

3. Eco-Tourism Masa Depan Ekonomi yang Keren

Kalau kita pakai ilmu ekonomi yang dibarengi kesadaran lingkungan, Pantai Garut Selatan itu punya potensi jadi Ekowisata kelas dunia. Ada istilah namanya Valuasi Ekonomi. Intinya, kalau tempat wisata dikelola dengan rapi, ramah, dan bersih, keuntungannya bakal berkali-kali lipat!

Bayangin deh hitung-hitungannya:

  • Kalau satu kawasan didatangi 1.000 orang dengan tarif standar Rp15.000, pendapatannya Rp15 juta.
  • Tapi kalau dikelola jadi Ekowisata yang keren (ada edukasi alam, UMKM lokal yang rapi, penginapan estetik, dan pelayanan ramah), seorang turis bisa menghabiskan Rp75.000 sampai Rp150.000 dengan senang hati.
  • Hasilnya? Pendapatan harian bisa melonjak jadi Rp75 juta sampai Rp150 juta! Uang ini bisa banget buat menyejahterakan warga lokal dan memperbaiki fasilitas.

4. Harmoni Alam dan Cuan

Jadi, intinya "Mengaji Rasa" itu ngajarin kita kalau alam bukan cuma objek buat foto-foto doang, tapi "Ayat Tuhan" yang harus dijaga.

 

Sumber: https://www.liputan6.com/regional/read/4893635/pesona-pantai-sayang-heulang-garut

Ketika kita mengelola alam dengan ilmu dan rasa tanggung jawab, kita nggak cuma dapat pemandangan indah, tapi juga dapet manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Antara ibadah, menjaga alam, dan mencari rezeki itu bisa jalan barengan kalau kita punya kesadaran.

Gimana, menarik banget kan bahasannya? Kalau kamu penasaran gimana cara menghitung valuasi ekonomi lingkungan secara lebih detail, atau mau tips gimana cara mulai menerapkan mindfulness di kehidupan sehari-hari, kasih tahu aku ya!

 

*) Guru Bahasa Indonesia, Koordinator Gerakan Literasi Sekolah, Tim Redaksi Literasmansa

**) Disarikan dari beberapa artikel terkait judul

Momentum

 SETELAH LIBUR, HALALBIHALAL YUK!!

Oleh: Redaksi Literatsmansa

 



Ananda yang baik, tak terasa liburan menjelang hari raya Iedul Fitri (Lebaran) 1447 Hijriah telah usai. Saatnya kita bebenah kembali dengan rutinitas sebagai pelajar…semangat ya!! Tradisi di hari pertama kita masuk pascalibur lebaran biasanya diisi dengan acara Halalbihalal seluruh warga sekolah….Literatsmansa kali ini mencoba mengupas tentang nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Halalbihalal untuk kita ketahui sekaligus kita lestarikan…lebih jauhnya…..yuk kita baca!!


 Sumber: Dokumen Pribadi

Halalbihalal menjadi momen istimewa dalam merayakan Hari raya Idulfitri. Pada momen inilah, berkumpul keluarga besar, kerabat, teman, hingga tetangga.Tradisi ini memberikan kesemp atan bagi semua orang untuk bertemu, berbagi cerita, hingga menikmati hidangan lezat bersama. halalbihalal menjadi sebuah wadah yang memfasilitasi masyarakat untuk mempererat jalinan silaturahmi sekaligus membersihkan kesalahan antarsesama. Tradisi ini juga memungkinkan setiap orang memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang dalam kehidupan sosial. masyarakat kita sering mengekspresikan nilai-nilai tersebut melalui simbol-simbol kebudayaan, seperti tradisi mengirim makanan menjelang lebaran (rantang). masyarakat kita itu tidak lepas dari simbol dan makna, seperti kupat, lepet, peuyeum ketan atau apem yang saling dikirimkan sebagai tanda saling mengingatkan dan menjaga hubungan baik.


 Sumber: Dokumen Pribadi

Istilah Halalbihalal sendiri berasal dari bahasa Arab. Halal diambil dari kata halal atau halala yang mempunyai banyak bentuk dan makna sesuai kalimatnya.Meski berasal dari bahasa Arab, tradisi Halalbihalal dibuat di Indonesia. Bahkan, kata Halalbihalal sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).Dalam KBBI, Halalbihalal berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, lapangan, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Halalbihalal juga diartikan sebagai bentuk silaturahmi.

 
Sumber: Dokumen Pribadi

Nilai-Nilai Halal Bihalal

Ananda yang soleh, tradisi halal bihalal juga mengandung nilai-nilai yang sangat penting dalam kehidupan berkomunitas, antara lain:

1.       Kebersamaan. Halal bihalal mengajarkan arti pentingnya kebersamaan dan saling menjaga keharmonisan dalam hubungan antar sesama.

2.       Memaafkan. Melalui halal bihalal, orang diajarkan untuk memaafkan kesalahan dan menyambut kembali orang yang pernah berselisih dengan tangan terbuka.

3.       Tali Silaturahmi. Tradisi ini juga menguatkan tali silaturahmi, yang merupakan nilai luhur dalam budaya Indonesia untuk tetap terhubung dan peduli terhadap sesama.

4.       Berkumpul dan Berbagi. Halal bihalal menjadi ajang untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan serta berbagai hal, mulai dari cerita perjalanan selama Ramadan hingga harapan dan rencana di masa mendatang.

Sumber: Dokumen Pribadi

Nilai-nilai yang terkandung dalam halalbihalal tetap relevan hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa Ramadan dan Idulfitri tidak hanya membentuk spiritualitas individu, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial….selamat berhalalbilhalal, semoga kita Kembali menjadi manusia yang fitri!!

Humaniora

  BAHASA CERMINAN KEPRIBADIANMU Oleh: Dian Fitriani, S.Pd *) Bahasa bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga merupakan ...