EL NINO, LA NINA DAN SEKOLAH BERKETAHANAN IKLIM
Oleh: Tim SBI SMAN 1 Pangalengan

Sumber: https://inca.ac.id/perubahan-iklim/
Apa Itu El Nino dan La
Nina?
El Nino adalah fenomena pemanasan
suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang menyebabkan
perubahan pola angin dan curah hujan. Sebaliknya, La Nina adalah fenomena
pendinginan suhu permukaan laut di wilayah yang sama, yang juga mempengaruhi
kondisi cuaca global. El Nino dan La Nina terjadi dalam siklus yang tidak
tetap, biasanya setiap 2 hingga 7 tahun. Beberapa kejadian besar El Nino yang
berdampak signifikan terjadi pada tahun 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016.
Sementara La Nina besar terjadi pada tahun 1988-1989, 2010-2011, dan 2020-2021.
Dan beberapa pemberitaan media tahun ini (2026) menurut para ahli kita akan dihadapkan
dengan fenomena tersebut dalam kondisi yang lebih ekstrem. Kita kenali yuk
lebih dekat fenomena tersebut!.

Sumber: https://fmipa.unesa.ac.id/2025/12/el-nino-la-nina-bagi-pemula-mengenal-pengendali-cuaca-bumi-edisi-ilmiah-populer/
Dampak El Nino di
Indonesia
Ketika El Nino terjadi, Indonesia
biasanya mengalami kondisi berikut:
·
Kekeringan Ekstrem. Berkurangnya curah hujan
menyebabkan kekeringan panjang yang berdampak pada sektor pertanian, terutama
padi dan tanaman pangan lainnya.
·
Krisis Air Bersih. Penurunan pasokan air akibat
berkurangnya curah hujan berimbas pada kebutuhan rumah tangga dan industri.
·
Meningkatnya Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan. Dengan
kondisi tanah yang kering, risiko kebakaran hutan meningkat, menyebabkan polusi
udara dan gangguan kesehatan.
·
Gangguan pada Sektor Perikanan. Suhu air laut yang
lebih hangat mengurangi populasi ikan di perairan Indonesia, merugikan nelayan
lokal.
Sumber: https://www.suara.com/news/2026/08/19/195545/di-balik-el-nino-2026-mengapa-indonesia-terancam-krisis-air-dan-pangan
Dampak La Nina di
Indonesia
Sebaliknya, saat La Nina terjadi,
dampaknya meliputi:
·
Curah Hujan Berlebih. Hujan deras dan banjir sering
terjadi, mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian.
·
Tingkat Kejadian Bencana Alam yang Lebih Tinggi. Tanah
longsor, banjir bandang, dan badai tropis menjadi lebih sering terjadi.
·
Penurunan Produksi Pertanian. Genangan air di sawah
dan ladang dapat merusak tanaman, mengurangi hasil panen dan meningkatkan harga
pangan.
·
Gangguan di Sektor Transportasi dan Ekonomi. Jalanan
rusak dan banjir menghambat distribusi barang serta aktivitas ekonomi
masyarakat.
Sumber: https://www.instagram.com/p/CWGepawh3CF/
Upaya Mitigasi dan
Adaptasi
Menghadapi dampak El Nino dan La
Nina, langkah-langkah mitigasi dan adaptasi perlu dilakukan, antara lain:
·
Pengelolaan Sumber Daya Air yang Lebih Baik. Pembuatan
waduk, embung, dan sistem irigasi yang efisien untuk mengantisipasi musim
kering panjang.
·
Penggunaan Teknologi Pertanian yang Adaptif.
Penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan atau genangan air untuk mengurangi
dampak terhadap hasil pertanian.
·
Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis. Meningkatkan
upaya penghijauan dan pencegahan kebakaran hutan melalui patroli dan edukasi
masyarakat.
·
Sistem Peringatan Dini dan Edukasi Masyarakat. Meningkatkan
sistem pemantauan cuaca dan menyebarkan informasi dini kepada masyarakat untuk
mengurangi risiko bencana.
·
Diversifikasi Sumber Mata Pencaharian. Mendorong
sektor ekonomi alternatif bagi petani dan nelayan agar tidak sepenuhnya
bergantung pada satu sumber pendapatan.
Sumber: https://www.antaranews.com/infografik/2510245/mitigasi-dampak-la-nina
Bencana yang mungkin terjadi saat
La Nina atau El Nino secara umum adalah bencana-bencana hidrometeorologi.
Dengan adanya peningkatan curah hujan saat La Nina, kemungkinan bencana yang
dapat terjadi adalah banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang,
puting beliung, bahkan badai tropis. Sedangkan saat El Nino kemungkinan bencana
yang terjadi adalah kekeringan dan kebakaran lahan/hutan. Perlu diperhatikan
bahwa kekeringan berkepanjangan akan berdampak lebih jauh lagi pada pertanian,
perekonomian dan sosial. Dengan kerja sama antara pemerintah, dan masyarakat,
Indonesia dapat lebih siap menghadapi perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Edukasi dan kesadaran lingkungan menjadi kunci utama dalam membangun ketahanan
terhadap fenomena ini. Alhamdulillah sekolah kita berinisiatif menjadi
bagian dari ikhtiar membangun ketahanan iklim melalui program Sekolah
Berketahanan Iklim (SBI) dari tahun 2023, melalui program Sakesapoleca, Byopac2S,
Smart Garden, Pengolahan sampah sekolah, hemat sumber daya Listrik dan air, dll
SBI mencoba mengedukasi warga sekolah dan Masyarakat sekitar tentang pentingnya
antisipasi perubahan iklim sejak dini. semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Subhanawata’ala
senantiasa melindungi dan meridhoi iktiar kita ini…Aamiien yra.
*) Refrensi tulisan:
- https://cews.bmkg.go.id/enso-tentang.php
- https://sda.pu.go.id/balai/bhlk/id/berita/mengenal-el-nio-dan-la-nia-dua-wajah-berlawanan-dari-samudra-pasifik-yang-mempengaruhi-indonesia
- https://adraindonesia.org/id/dampak-el-nino-dan-la-nina-di-indonesia/
- https://www.brin.go.id/news/120372/memahami-siklus-el-nino-dan-la-nina-apa-pengaruhnya-di-indonesia
















