"Freedom is not free. Salute to those who made it possible and keep their spirit alive."..#abuafifi

Selasa, 04 Agustus 2026

Enlightenment of Life

 BIJAK BERMEDIA SOSIAL  DI ERA AI

Oleh: Hj. Lilis Karwasih, S.Pd *)


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Literasi!

Salam sehat dan cerdas untuk kita semua.

Haloo...

Coba angkat tangan, siapa yang 1 jam sekali buka HP?

Nah... sekarang coba angkat tangan, siapa yang 1 jam sekali buka buku?Di tahun 2026 ini, informasi datang lebih cepat dari nasi goreng diantar.

Tapi pertanyaannya: semua informasi itu benar?

Sumber: https://www.instagram.com/p/DZ6JlKagbwo/

Kita hidup di era AI.

AI bisa bikin foto seolah nyata.

AI bisa bikin suara mirip kepala sekolah.

AI bisa bikin berita yang bikin kita marah, takut, dan langsung mau share.


1 klik share, bisa bikin 1 sekolah heboh.

1 berita hoaks, bisa hancurkan nama baik seseorang.

Dulu literasi artinya bisa baca dan tulis. Sekarang literasi artinya: bisa mikir sebelum share.Lalu bagaimana caranya jadi pengguna medsos yang bijak? 

Sumber: https://immimpangkep.ponpes.id/blog/bijak-menggunakan-media-sosial/

Ingat 3T:

1. TANYA

Tanya dulu: Ini sumbernya dari mana? Akunnya terverifikasi atau bukan?

Jangan percaya sama judul yang pake huruf KAPITAL dan tanda seru!!!


2. TUNDA

Kalau berita itu bikin kamu marah, sedih, atau takut dalam 3 detik,

TUNDA dulu 30 menit. Tarik napas. Cek di cekfakta.com atau media resmi.

Karena emosi itu musuhnya logika.

Sumber: https://islamrahmah.id/jangan-lari-dari-tanggungjawab-hari-ini/

3. TANGGUNG JAWAB

Ingat, tiap kita share, like, komen... itu jejak digital. Jejak digital itu gak bisa dihapus. Itu cerminan diri kita. Jadilah penyebar kebaikan, bukan penyebar kepanikan.

Ada siswa share info "Besok sekolah libur karena banjir".

Ternyata hoaks. 1500 murid gak masuk. Ruginya siapa? Kita semua.

Semua yang hebat,

HP di tangan kita itu kekuatannya luar biasa. Bisa dipakai untuk belajar, untuk dakwah, untuk menginspirasi. Tapi juga bisa dipakai untuk menyebar fitnah.Pilihannya ada di jempol kita.

Sumber: https://kalam.sindonews.com/berita/1486603/69/5-kriteria-sdm-unggul-menurut-al-quran

Mulai hari ini, yuk jadi generasi yang cerdas. Cerdas memakai teknologi, tapi tetap punya hati dan akal. Karena di era AI, manusia yang punya adab...adalah manusia yang paling unggul.

Sekian literasi kita hari ini. Mari bijak bermedia sosial.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Salam Literasi!


*) Guru Bahasa Indonesia sekaligus Kordinator MGMP Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan


Senin, 03 Agustus 2026

An Inspiring Story

 CERITA INSPIRATIF

Berawal dari Sedekah Subuh, Kisah Sukses Tukang Becak Menjadi Miliarder

Diceritakan Ulang Oleh: Diki Kandida, S.Pd  *)

 

Literasi kali ini Kita jalan-jalan ke kota Sumenep dan Pamekasan. Di Kota ini ada toko frozen food bernama Rajanya Sosis. Di Sumenep ada dua gerai, di Pandian dan Jl. Halim Perdana Kusuma. Sementara itu, di Pamekasan juga ada dua gerai, di Kepoh Pamekasan dan daerah Kota Pamekasan. 

Tapi, tahukah Anda siapa yang memilikinya dan bagaimana prosesnya hingga ia memiliki 4 gerai yang menguasai di dua kota Kabupaten itu? Banyak orang tidak mengira bahwa si pemilik gerai frozen food itu adalah seorang tukang becak. Orang desa lagi.  Sebut saja namanya Bukhari. Sekarang orang memanggilnya dengan Haji Bukhari.

 
Sumber: https://id.pngtree.com/so/becak

Di masa mudanya, bahkan sudah tidak muda lagi, di usianya yang hamper empat puluhan, lelaki berkulit hitam itu bekerja sebagai tukang becak di desa Kepoh Kabupaten Pamekasan. Istrinya bekerja jualan sosis goreng dari sekolah ke sekolah. Setiap selesai mengantarkan istrinya ke tempat jualan sosis, dia kembali ke tempat mangkal tukang becak.  Hingga suatu hari, ia mengantarkan seorang pelanggan. Laki-laki agak tua yang sedang duduk di becaknya itu kemudian bercerita banyak hal dan sebelum turun dari becak ia berpesan kepada Bukhari, “Kalau kamu mau kaya, shalatlah berjamaah ke masjid dan bersedekahlah di waktu subuh setiap hari. Insyaallah kamu akan dikayakan oleh Allah.”

Rupanya pesan itu terngiang-ngiang dalam pikiran Bukhari. Karena menurutnya pesannya baik, maka mulailah ia belajar menjalan shalat berjamaah ke masjid. Ia berupaya terus menerus menjalankannya, meski amat terasa berat. Di setiap subuh, ia juga bersedekah ke dalam kotak amal masjid. Tidak banyak yang dimasukkan kala itu, hanya kisaran seribu atau dua ribu saja, meski akhirnya semakin meningkat. Pekerjaan sehari-harinya tetap dijalani, yakni sebagai tukang becak dan isterinya jualan sosis keliling. Dan, tahukah Anda berapa modal Bukhari dan istrinya berjualan sosis saat itu? menurut penuturan Pak Haji Bukhari, modalnya hanya 30 ribu. Setelah itu naik 50 ribu. Naik lagi menjadi 100 ribu. Dengan disiplin menabung, akhirnya ia bisa membeli freezer untuk bisa berjualan sosis di rumah. Tentu saja, kulakannya juga sudah mulai bertambah.

 
Sumber: https://tribratanews.polri.go.id/blog/nasional-3/preman-tak-berarti-jahat-

Di desanya, ia terkenal sebagai seorang yang pemberani. Jangan coba-coba bermasalah dengannya. Ia juga termasuk orang yang masih percaya pada hal-hal yang sifatnya keramat. Ia percaya pada jimat yang menempel pada akik dan benda-benda tajam tertentu. Kendati begitu, ia tetap dan semakin kuat pada keyakinannya dengan nasehat orang tua yang pernah diantarkannya dengan becaknya itu. Semakin lama semakin dekat ia dengan masjid. Hingga pada saatnya, ia bersama istrinya ditakdirkan Allah bisa menunaikan ibadah haji.  Ia bisa menambah freezer satu persatu. Dan akhirnya ia bisa membangun gerai (toko) Rajanya Sosis di tempat kelahirannya. Ia mulai belajar menembus langsung ke perusahaan frozen food dengan pengambilan partai yang cukup besar. Sales perusahaan pun datang ke tokonya. 

Bonus demi bonus ia terima. Discount dan program promo pun ia terima. Karena merasa sudah sukses dengan tokonya itulah, Haji Bukhari membuka gerai baru ke kota Pamekasan hingga sukses. Dan dengan ijin Allah, sukses dan besar. Bonus dari Perusahaan bukan lagi hanya satu dua dan puluhan juta, tetapi satu unit mobil.  Sukses itu candu. Usahanya pun sudah tidak lagi di Pamekasan, tetapi mulai merambah Kota Sumenep. Awalnya ia membuka satu gerai Rajanya Sosis. Pada awal tahun 2023 ini sudah membuka gerai baru lagi di kota Sumenep.


 Sumber: ttps://maarifnujateng.or.id/2022/02/tobat-mengalir-sampai-kita/

Gaya hidupnya pun berubah. Rupanya, kekayaannya tidak menjadikannya ia menjadi sombong kepada orang lain, apalagi menjauhkannya dari masjid dan halaqah pengajian. Ia rajin datang ke pengajian. Ia bersedia menjadi takmir masjid, dengan tujuan agar semakin dekat dengan masjid. Anak-anaknya dipondokkan di pesantren dan dididik dengan sedekah subuh yang ia lakukan setiap harinya. Dia menekankan kepada anak-anaknya untuk menghafalkan Al-Quran. Dan yang paling menjadi perubahan keyakinannya adalah dia membuang dan membuang seluruh jimat yang dia pernah beli dan percayai. Dia bersihkan hati dan pikirannya dari hal-hal berbau syirik. Dia berkonsultasi dengan seorang ustadz yang dia percayai untuk membersihkan segala bentuk kesyirikannya itu.

Tentang sedekah subuh anaknya, ada kisah menarik. Di pondok pesantren di mana anak-anaknya menempa diri dilarang membawa uang cash. Tetapi, saat pemeriksaan, salah seorang ustadz pondok itu mengetahui ada beberapa puluh ribu uang yang disimpan di lemarinya. Maka, diambil dan dipanggillah anak-anak Bukhari. Bukhari sendiri dipanggil oleh pengasuh. Sesampai di pondok, Bukhari mengatakan bahwa ia memberikan uang kepada anaknya bukan untuk digunakan untuk jajan atau gaya-gayaan. Ia sengaja memberikan uang itu untuk dijadikan kebiasaan anak-anaknya agar terbiasa dengan sedekah subuh, sebagaimana yang dia lakukan selama ini. Bukhari pun kemudian bercerita kepada sang pengasuh tentang kisah hidupnya yang (seakan) diawali dari sedekah subuh dan shalat jamaah di masjid.


 Sumber: https://inilahfikih.com/2020/01/bolehkah-bercita-cita-menjadi-orang-kaya/

Anda ingin menjadi orang kaya? Contohlah Haji Bukhari dengan sedekah subuh dan shalat berjamaah ke masjid. Sandarkan dirimu kepada Allah dan tunaikan tugasmu sebagai seorang hamba. Allah tidak pernah melarang hamba-Nya untuk berdoa meminta apa saja kepada-Nya dengan dunia ini sesisinya. Mintalah kepada-Nya, karena Dia-lah Yang Maha Memiliki. Penyandaranmu kepada-Nya justru dan insyaallah akan mendekatkan dirimu kepada Allah. Engkau akan semakin datang ke masjid dan bergembira saat bersedekah kepada sesame dan fi sabilillah. Wallahu a’lamu.

 

*) Guru Ekonomi di SMAN 1 Pangalengan yang bercita-cita menjadi orang kaya dan soleh

**) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Berawal dari Sedekah Subuh: Kisah Sukses Tukang Becak Menjadi Miliarder, https://suaramuhammadiyah.id/read/berawal-dari-sedekah-subuh-kisah-sukses-tukang-becak-menjadi-miliarder

Minggu, 02 Agustus 2026

Matemagic

 HOW MATHEMATICS SHAPES YOUR FUTURE

Oleh: Edi Supiandi, S.Pd., M.M.Pd *)

 

 

  1. Hakikat Karakter di Era Modern

Pendidikan bukan hanya soal memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala, tetapi proses membentuk kepribadian yang utuh. Karakter siswa adalah kualitas pribadi yang terlihat dari sikap dan tindakan sehari-hari, seperti jujur, empati, dan kerja keras. Di zaman sekarang, tantangan karakter semakin berat:

·         Risiko Media Sosial: Paparan konten yang tidak sesuai dapat mengaburkan nilai benar dan salah.

·   Perubahan Sosial: Masyarakat yang semakin individualis bisa membuat kita kurang peduli pada sesama.

·   Kesiapan Hidup: Karakter yang kuat adalah modal utama untuk menjadi pemimpin masa depan yang beretika.

 
Sumber: https://stekom.ac.id/artikel/pentingnya-pendidikan-karakter-untuk-generasi-muda

  1. Lima "Kekuatan" Guru dalam Membimbingmu

Karakter seorang guru sangat berpengaruh karena siswa cenderung meniru perilaku gurunya. Berikut adalah lima kekuatan yang dimiliki guru untuk membantumu tumbuh:

·         The Power of Niat: Guru yang mengajar dengan niat tulus akan lebih efektif dalam memberikan motivasi.

·         The Power of Learning: Keberhasilan belajar bukan cuma soal nilai, tapi soal seberapa jauh kamu berkembang dan berdaya sebagai individu.

·         The Power of Motivasi: Guru memberikan dorongan agar kamu percaya diri menghadapi soal-soal sulit.

·         The Power of Emphaty: Guru yang memahami perasaan dan kesulitanmu akan menciptakan suasana belajar yang nyaman.

·         The Power of Comitmen: Guru yang punya prinsip akan membimbingmu secara kreatif agar potensimu keluar secara maksimal.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/Dba4HFvJHUM/

  1. Nilai Karakter dalam Setiap Rumus

Matematika sering dianggap membosankan, padahal setiap soal yang kamu kerjakan menyimpan nilai karakter yang penting bagi kehidupan:

·         Kedisiplinan: Melalui aturan dan pola angka, kamu belajar untuk bekerja secara teratur dan tertib.

·         Kejujuran: Dalam matematika, kamu dituntut jujur mengakui apa yang belum dipahami. Jika berbuat curang, kamu akan kesulitan di materi berikutnya karena pelajaran ini bersifat saling berkaitan.

·         Ketelitian: Kesalahan sekecil apapun bisa merusak hasil akhir. Ini melatihmu untuk selalu hati-hati dan memperhatikan detail dalam hal apapun.

·         Kemandirian: Saat mengerjakan tugas sendiri, kamu belajar mengatur waktu dan bertanggung jawab atas hasil usahamu.

·         Berpikir Logis: Kamu dilatih untuk mengamati data, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan logika, bukan sekadar perasaan.

 

Sumber: https://www.gramedia.com/literasi/daftar-rumus-matematika

 

  1. Kreativitas dan Inovasi dalam Matematika

Meskipun kelihatannya kaku, matematika sebenarnya sangat membutuhkan kreativitas. Kamu sering kali diajak untuk berpikir "di luar kotak" demi menemukan solusi yang tidak biasa untuk sebuah masalah. Proses pemecahan masalah secara kreatif ini sangat berguna saat kamu harus menghadapi masalah nyata di kehidupan sehari-hari.

  1. Cara Seru Belajar Matematika agar Tidak Bosan

Agar belajar matematika lebih menyenangkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

·   Belajar Kelompok (Kolaborasi): Berdiskusi dengan teman membantu kamu melihat berbagai sudut pandang dan melatih rasa solidaritas. Di sini kamu belajar menghargai pendapat orang lain.

·   Belajar di Luar Kelas: Keluar dari ruangan bisa menyegarkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.

·   Contoh: Cobalah mengukur jarak antara dua benda di halaman sekolah atau menghitung jumlah stok barang di toko terdekat. Ini membantu kamu melihat bahwa matematika itu nyata dan sangat berguna.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/DPxkD3xkhGY/

  1. Simpulan dan Harapan

Belajar matematika memang penuh tantangan, seperti rasa jenuh atau materi yang susah. Namun, dengan terus berusaha, berkolaborasi dengan teman, serta bimbingan guru yang inspiratif, matematika akan membantumu menjadi orang yang lebih logis, kritis, dan berkarakter kuat untuk menghadapi masa depan.

Yu… Kita belajar Matematika secara mendalam dan ingat buka pintu hatimu dulu untuk mau belajar, karena hatilah yang akan menentukan ilmu itu  masuk secara mendalam, ( te pa-ed )

 *) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Pernah diamanahi menjadi Waki Kepala sekolah bidag Kurikulum, Kesiswaan, dan Humas. Menjadi Pembina sekaligus peatih OSN Bidang Matematika

**) Sumber Referensi:

Fauzan, H., & Anshari, K. (2024). Studi Literatur: Peran Pembelajaran Matematika Dalam Pembentukan Karakter Siswa. JURRIPEN: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan, 3(1), 163-175.

Kamis, 30 Juli 2026

Practical Knowledge

"FOREVER CHEMICALS"

Oleh: Shafira Az Zahra Nurdianti  *)

 

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan kita tanpa wajan anti-lengket, jaket tahan air, atau kemasan makanan yang tidak tembus minyak?.Kemudahan yang kita nikmati dalam kehidupan modern saat ini sebenarnya berawal dari sebuah penemuan tidak sengaja di laboratorium perusahaan kimia DuPont pada tahun 1938. Saat itu, ilmuwan menemukan materi licin yang sangat kuat dan tidak mudah rusak oleh panas maupun bahan kimia, yang kemudian dipatenkan dengan nama Teflon. Perusahaan lain seperti 3M pjuga memproduksi bahan kimia serupa bernama PFOA dan PFOS untuk produk penolak noda terkenal seperti Scotchgard, pakaian tahan air, hingga busa pemadam kebakaran. Namun, di balik kepraktisan dan kesuksesan bisnis bernilah miliaran dolar tersebut, tersimpan rahasia kelam yang disembunyikan selama puluhan tahun.  Untuk memproduksi Teflon dalam jumlah besar, DuPont menggunakan bahan kimia pembantu yang termasuk dalam kelompok besar senyawa sintetis bernama PFAS. Karena memiliki ikatan kimia yang sangat kuat antara atom karbon dan fluor, zat ini hampir tidak bisa terurai secara alami oleh mikroorganisme maupun sinar matahari. Oleh karena itu, para ilmuwan menjuluki kelompok senyawa ini sebagai Forever Chemicals atau zat kimia abadi yang dapat bertahan di bumi selamanya dan terakumulasi di dalam tubuh manusia.


Sumber: https://www.nature.com/articles/s43017-025-00755-x

Tanpa disadari oleh masyarakat, pabrik milik DuPont dan produsen lain membuang ribuan ton limbah PFAS ke aliran sungai, tanah, dan udara. Kasus ini mulai terungkap ketika seorang peternak bernama Earl Tennant mencurigai adanya racun di sungai dekat pabrik DuPont karena ratusan hewan ternaknya sakit dan mati secara misterius. Penyelidikan hukum yang dipimpin pengacara Rob Bilott akhirnya berhasil membongkar puluhan ribu dokumen rahasia internal. Terungkap bahwa para ilmuwan di DuPont dan 3M sebenarnya sudah mengetahui sejak lama bahwa zat tersebut bersifat racun dan dapat memicu timbulnya penyakit serius seperti kanker ginjal, penyakit tiroid, dan kerusakan organ dalam, namun manajemen memilih merahasiakannya demi keuntungan bisnis.

 
Sumber: https://edspace.american.edu/ag7965a/what-are-pfas/chemical-composition/

Sebagai peringatan untuk kita semua, potensi paparan Forever Chemicals ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. PFAS dapat ditemukan pada peralatan masak anti-lengket yang terkelupas, kemasan makanan cepat saji seperti kantong popcorn mi instan atau bungkus burger, pakaian dan jaket tahan air (waterproof), kosmetik tahan air (waterproof makeup), produk benang gigi, hingga air minum yang bersumber dari wilayah tercemar. Zat kimia ini dapat berpindah ke makanan saat dipanaskan atau masuk ke tubuh saat kita mengonsumsi makanan yang terkontaminasi secara terus-menerus.


Sumber: https://water.co.id/en/artikel/apa-itu-pfas-dan-apa-yang-dapat-anda-lakukan-tentangnya/

Meskipun zat ini sudah menyebar secara global, kita dapat mengambil langkah-langkah praktis untuk mengurangi paparannya dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mengurangi penggunaan wadah makanan berbahan anti-minyak atau alat masak berbahan Teflon, serta beralih ke peralatan masak berbahan stainless steel, besi (cast iron), atau kaca. Selain itu, hindari memanaskan makanan langsung di dalam kemasan pembungkusnya, pilih produk perawatan diri atau kosmetik yang bebas bahan fluorinated (PFAS-free), dan gunakan filter air minum berbasis karbon aktif atau reverse osmosis jika tinggal di daerah dengan kualitas air yang meragukan. Melalui pemahaman risiko dan tindakan preventif ini, kita sebagai generasi muda dapat menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih.

*) Siswa Kelas XII A1 di SMAN 1 Pangalengan

**) Sumber : veritasium 

Rabu, 29 Juli 2026

Psikoedukasi

 MENEMUKAN CAHAYA DIBALIK EMOSI

Cognitive Reappraisal dan Hikmah Al-Qur'an dalam Mengelola Hati

Oleh: Yuli Yuliani, S.Pd *)

Setiap manusia pasti pernah merasakan marah, sedih, kecewa, iri, cemas, bahkan putus asa. Emosi-emosi tersebut sering datang tanpa diundang dan terkadang terasa begitu kuat hingga memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, bahkan mengambil keputusan. Tidak sedikit orang yang berusaha menghilangkan emosi negatif dengan cara menghindarinya, memendamnya, atau melupakannya. Namun, semakin ditekan, sering kali emosi itu justru semakin besar. Padahal, yang membuat sebuah emosi terasa begitu berat bukan semata-mata karena peristiwa yang terjadi, melainkan cara kita memaknai peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi memberikan respons emosional yang sangat berbeda. Perbedaannya terletak pada sudut pandang yang mereka gunakan.

 
Sumber: https://www.linkedin.com/pulse/what-emotions-types-emotional-responses-

Psikologi modern menjelaskan fenomena ini melalui konsep cognitive reappraisal, yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah cara memandang suatu peristiwa sehingga makna yang muncul menjadi lebih konstruktif. Menariknya, jauh sebelum konsep ini dikenal dalam ilmu psikologi, Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip yang sejalan: mengajak manusia melihat setiap kejadian dari perspektif hikmah dan kebijaksanaan Allah. Ketika seseorang mampu menemukan akar penyebab emosinya dan mengubah cara memaknainya, perlahan emosi negatif kehilangan sebagian kekuatannya. Bukan karena masalahnya hilang, melainkan karena hati tidak lagi memandang masalah sebagai akhir dari segalanya.

Ketika Emosi Berasal dari Cara Kita Memaknai Kehidupan

Sering kali kita mengira bahwa penyebab emosi negatif selalu berasal dari luar diri kita. Kita marah karena perilaku orang lain, sedih karena kehilangan, iri karena melihat keberhasilan orang lain, atau cemas karena masa depan yang belum pasti. Padahal, dalam banyak keadaan, emosi tersebut bukan muncul karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena interpretasi yang kita bangun terhadap peristiwa tersebut.

Misalnya:

  • Marah bukan selalu karena orang lain bersalah, tetapi karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang kita bangun.
  • Sedih bukan selalu karena kehilangan, tetapi karena kita terlalu melekat pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan akan menjadi milik kita selamanya.
  • Iri bukan karena orang lain lebih beruntung, melainkan karena kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik yang ditampilkan orang lain.
  • Cemas bukan karena masa depan sudah buruk, tetapi karena pikiran kita sibuk menyusun berbagai kemungkinan terburuk seolah-olah semuanya pasti terjadi.
  • Kecewa bukan selalu karena dunia tidak adil, tetapi karena kita menaruh harapan pada sesuatu yang memang tidak mampu memenuhi seluruh harapan kita.

 
Sumber: https://elsamara.id/cara-menemukan-makna-hidup/

Semakin kita mengenali akar emosi tersebut, semakin mudah kita memahami bahwa sumber penderitaan sering kali bukan fakta, melainkan cara pikiran menafsirkan fakta.

Memahami Cognitive Reappraisal

Dalam psikologi, terdapat sebuah strategi regulasi emosi yang disebut cognitive reappraisal. Istilah ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menilai kembali atau memaknai ulang suatu situasi sehingga menghasilkan respons emosional yang lebih sehat. Berbeda dengan menekan emosi (emotional suppression), cognitive reappraisal tidak mengajak seseorang berpura-pura bahagia atau mengingkari kesedihan. Sebaliknya, strategi ini mengajak seseorang mengakui emosinya terlebih dahulu, kemudian bertanya:

Sumber: https://www.instagram.com/p/DMiQA8OzM-e/

"Adakah cara lain untuk melihat peristiwa ini?"

Artinya, yang diubah bukanlah kenyataannya, tetapi cara kita memahami kenyataan tersebut.

Sebagai contoh, seseorang gagal mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya. Jika ia memaknainya sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga, maka yang muncul adalah putus asa, rendah diri, dan kehilangan semangat. Namun jika ia memaknainya sebagai kesempatan memperbaiki kemampuan atau sebagai isyarat bahwa Allah sedang mengarahkan kepada jalan yang lebih baik, maka emosi yang muncul berubah menjadi harapan, kesabaran, dan semangat untuk bangkit. Peristiwanya tetap sama. Yang berubah adalah makna yang diberikan terhadap peristiwa itu. Inilah inti dari cognitive reappraisalmengganti lensa, bukan mengubah kenyataan.

 Sumber: https://www.instagram.com/p/DZgrfsyEXn1/

Mengapa Cognitive Reappraisal Efektif?

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang terbiasa melakukan cognitive reappraisal cenderung:

  • lebih mampu mengendalikan stres;
  • memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah;
  • lebih mudah memaafkan;
  • lebih tangguh menghadapi kegagalan;
  • memiliki kesehatan mental yang lebih baik; dan
  • lebih mampu menjaga hubungan sosial.

Hal ini terjadi karena otak tidak hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi, tetapi juga terhadap makna yang diberikan pada kejadian tersebut. Ketika makna berubah, respons emosional ikut berubah. Dengan kata lain, emosi bukan sekadar hasil dari kenyataan, tetapi hasil dari dialog antara kenyataan dan cara berpikir kita.

Al-Qur'an Mengajarkan Reappraisal Melalui Keimanan

Prinsip ini ternyata memiliki keselarasan yang sangat indah dengan ajaran Al-Qur'an.

Allah berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)

 
Sumber: https://www.facebook.com/abdullah.sani.906/photos/boleh

Ayat ini tidak meminta manusia menghapus emosinya. Allah tidak melarang kita merasa sedih, kecewa, atau takut. Sebaliknya, Allah mengingatkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Apa yang hari ini terlihat sebagai musibah bisa menjadi pintu menuju kebaikan yang belum kita ketahui. Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap sebagai keberuntungan belum tentu membawa manfaat bagi kehidupan kita. Inilah bentuk cognitive reappraisal yang berlandaskan iman. Ketika seseorang meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, ia belajar menggeser pertanyaan dari:

"Mengapa ini terjadi kepadaku?"

menjadi:

"Pelajaran apa yang Allah sedang ajarkan melalui peristiwa ini?"

Perubahan satu pertanyaan saja sering kali mampu mengubah seluruh arah perjalanan emosi seseorang.

Mengubah Cara Pandang, Mengubah Kehidupan

Melatih cognitive reappraisal bukan berarti selalu berpikir positif secara berlebihan atau menolak kenyataan yang pahit. Justru sebaliknya, kita belajar menerima kenyataan apa adanya, kemudian mencari makna yang dapat membantu kita bertumbuh.

 
Sumber: https://dedyhidayatblog.wordpress.com/2018/06/05/kebahagiaan-sebuah-perubahan-sudut-pandang-dan-pola-pikir

Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengakui emosi tanpa menghakimi diri sendiri.
  2. Mengidentifikasi pikiran yang memicu emosi tersebut.
  3. Menguji apakah pikiran itu benar-benar fakta atau hanya asumsi.
  4. Mencari sudut pandang lain yang lebih objektif dan penuh hikmah.
  5. Mengembalikan hati kepada keyakinan bahwa Allah memiliki rencana terbaik.

Ketika latihan ini dilakukan berulang kali, seseorang akan lebih tenang menghadapi berbagai ujian kehidupan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena hati menjadi lebih kuat.

Ketika Mengingat Allah Menjadi Bentuk Reappraisal Tertinggi

Puncak dari cognitive reappraisal dalam perspektif Islam adalah ketika seseorang memandang seluruh kehidupannya melalui lensa tauhid.

Allah berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Mengingat Allah bukan sekadar melafalkan zikir dengan lisan. Mengingat Allah juga berarti mengingat sifat-sifat-Nya: bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Penyayang, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DMFjCeHhLVY/

Ketika keyakinan ini memenuhi hati, cara pandang terhadap masalah ikut berubah. Musibah tidak lagi hanya dipandang sebagai penderitaan, melainkan sebagai ujian. Kegagalan tidak lagi dipandang sebagai akhir perjalanan, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Penantian tidak lagi hanya terasa sebagai keterlambatan, tetapi sebagai waktu yang sedang dipersiapkan oleh Allah dengan penuh hikmah. Di sinilah ketenangan lahir. Bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena hati menemukan tempat kembali. Setiap emosi yang hadir dalam diri manusia membawa pesan. Marah mengingatkan adanya harapan yang belum terpenuhi. Sedih menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Cemas mengungkapkan keinginan untuk merasa aman. Kecewa mengajarkan bahwa tidak semua harapan layak disandarkan kepada makhluk.

Emosi negatif bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan tamu yang perlu dipahami. Ketika kita berani mencari akar penyebabnya, memeriksa cara berpikir kita, lalu memaknainya kembali dengan cahaya ilmu dan petunjuk Allah, perlahan emosi itu kehilangan daya untuk menguasai diri kita. Psikologi menyebutnya cognitive reappraisal; Islam mengajarkannya melalui husnuzan kepada Allah, kesabaran, tawakal, dan keyakinan bahwa setiap ketetapan-Nya mengandung hikmah.

Sumber: https://www.facebook.com/masjidsalmanitb/photos/ini-6-tanda-kamu-sudah-matang-secara-emosional

Pada akhirnya, kedewasaan emosional bukanlah ketika kita tidak pernah lagi marah, sedih, atau kecewa. Kedewasaan adalah ketika setiap emosi menjadi jalan untuk semakin mengenal diri, semakin bijaksana dalam berpikir, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Sebab hati yang mengenal Rabb-nya bukanlah hati yang bebas dari ujian, melainkan hati yang selalu tahu ke mana harus kembali ketika dunia terasa terlalu berat.

 

*) Guru layanan bimbingan konseling di SMAN 1 Pangalengan

**) Sumber  @maiyahindonesia

 

Selasa, 28 Juli 2026

Life Values

 “ NADA TERINDAH LAHIR DARI LUBANG-LUBANG SERULING “

{ P : P…Apa }

Oleh: Hery Purwanto, SE *)

 

PerNahkah kalian melihat sebuah Seruling ?

Kalau diperhatikan, seruling hanyalah sepotong bambu, bahkan disepanjang tubuhnya terdapat banyak lubang. Kalau ada orang yang belum tahu, mungkin Ia akan berkata, “Sayang sekali bambu ini sudah berlubang-lubang”. Tetapi justru karena lubang-lubang itulah, seruling mampu menghasilkan nada yang begitu indah. Bayangkan jika seruling tidak memiliki satu pun lubang, meskipun ditiup sekuat apapun, Ia tidak akan mampu memainkan sebuah lagu.

Sumber: https://www.mbizmarket.co.id/catalog/detail/alat-musik-tradisional-suling

Anak-anakku, begitu pula dengan kita.

Dalam hidup kita juga ada “lubang-lubang”. Lubang itu bisa berupa kegagalan, kesedihan, kritik, kesalahan, atau tantangan yang pernah kita alami. Mungkin ada yang pernah punya nilai jelek, mungkin ada yang pernah kalah lomba, mungkin ada yang pernah dimarahi karena melakukan kesalahan, bahkan ada yang merasa hidupnya tidak semudah teman-temannya. Orang yang tidak pernah gagal biasanya tidak belajar, orang yang tidak pernah dikritik biasanya tidak berkembang, orang yang tidak pernah mengalami kesulitan biasanya tidak menjadi kuat.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DaT5SVclIYX/

Seringkali kita menganggap semua itu adalah kekurangan, padahal bisa jadi itulah yang sedang membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Seruling tidak pernah malu karena memiliki banyak lubang, justru lubang-lubang itu menjadi jalan lahirnya melodi yang menghibur banyak orang. Karakter yang hebat tidak lahir dari kehidupan yang selalu mudah, tetapi dari keberanian menghadapi setiap tantangan.


 Sumber: https://www.kompasiana.com/mr.mail/54f789f6a3331119778b4602/ujian-kehidupan

Namun ada satu hal yang menarik lagi, seruling baru mengeluarkan nada ketika ada yang meniupnya. Tiupan itu bukanlah sesuatu yang nyaman, ada tekanan yang masuk ke dalamnya dan tanpa tekanan itu tidak akan pernah ada musik. Begitu pula hidup kita, kadang Allah memberikan tekanan, ujian dan kesulitan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi agar potensi terbaik dalam diri kita dapat keluar. Maka mulai saat ini, jangan mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan. Jangan menyerah ketika melakukan kesalahan. Jadikan setiap pengalaman sebagai proses belajar. Karena suatu saat nanti, semua perjuangan yang kalian alami akan menjadi “Nada Indah” yang menginspirasi banyak orang.

Ingatlah,

Seruling tidak indah karena bambunya, tetapi karena Ia mampu mengubah lubang-lubangnya menjadi melodi. Demikian juga manusia, bukan diukur dari seberapa sedikit kekurangannya, tetapi dari seberapa besar Ia mampu mengubah kekurangannya menjadi kekuatan. Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus belajar, terus bertumbuh dan mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

 

Sumber: http://hikmahalislam.blogspot.com/2018/03/teruslah-melangkah.html

Seorang bijak berkata : Teruslah melangkah dan jangan pernah berhenti untuk berproses, karena padi yang dipanen hari ini tidaklah di tanam kemarin sore.

Terima kasih. 

 

*) Guru Ekonomi di SMAN 1 Pangalengan, Pelaku dan penikmat Musik

**) dari beragam sumber

Enlightenment of Life

 BIJAK BERMEDIA SOSIAL  DI ERA AI Oleh: Hj. Lilis Karwasih, S.Pd *) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam Literasi! Salam sehat ...