"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Senin, 25 Mei 2026

Relationship

 “BAPER, BUCIN, DAN BATASAN” BOLEH BAPER, TAPI TETAP PUNYA ARAH

By Dede Santi


 

Apa itu Baper?

Baper (bawa perasaan) adalah kondisi ketika seseorang terlalu memasukkan perasaan ke dalam suatu hal. Contohnya:

Dikasih perhatian sedikit langsung mikir “dia suka aku”

Ditegur langsung merasa disakiti

Baper itu manusiawi, tapi kalau berlebihan bisa bikin kita. Salah paham,Mudah sakit hati dan Kehilangan fokus belajar

Apa itu Bucin?

Bucin (budak cinta) adalah kondisi ketika seseorang terlalu mengutamakan pasangan sampai lupa diri sendiri. Contohnya:

Selalu nurut walaupun salah,Mengorbankan waktu belajar demi pasangan dan terkadang tidak berani bilang “tidak”. Sekilas terlihat “setia”, tapi sebenarnya berbahaya karena: Menghilangkan jati diri,membuat ketergantungan dan bisa merugikan masa depan.

 

Pacaran di masa sekolah itu hal yang sering banget terjadi. Mulai dari sekadar kagum, sering tukar cerita, chat sampai larut, lalu muncul rasa nyaman yang bikin pengin punya status lebih dari teman. Semua itu wajar. Remaja memang sedang ada di fase mencari jati diri, belajar soal perasaan, dan mengenal arti kedekatan dengan lawan jenis. Tapi penting buat dipahami, pacaran di sekolah bukan cuma soal senang-senang. Ada tanggung jawab, ada batasan, dan ada dampak dari setiap keputuan yang diambil. Hubungan yang dijalani dengan cara yang salah bisa bikin capek mental, kehilangan fokus belajar, bahkan bikin masalah yang sebenarnya nggak perlu.

Pacaran Itu Soal Komitmen, Bukan Sekadar Status

Banyak yang nganggep pacaran cuma soal status: siapa pacarnya siapa, foto bareng, atau pamer di media sosial. Padahal, inti dari pacaran itu adalah komitmen dua orang untuk saling menghargai. Komitmen buat jaga perasaan, jaga sikap, dan jaga kepercayaan.


Pacaran yang sehat nggak bikin salah satu pihak merasa lebih rendah, dikontrol, atau takut kehilangan. Kalau pacaran isinya cuma curiga, marah tanpa alasan jelas, dan drama terus-menerus, itu bukan hubungan yang sehat.

Tetap Jadi Diri Sendiri

Sering kali, karena pacaran seseorang berubah total. Jadi jarang kumpul sama teman, ninggalin hobi, bahkan prestasi mulai turun. Padahal pacaran yang baik itu nggak menuntut kita buat kehilangan diri sendiri. Pasangan yang dewasa justru bakal dukung hal-hal positif: belajar, ikut kegiatan sekolah, berprestasi, dan tetap punya waktu buat keluarga serta teman. Hubungan yang sehat itu saling melengkapi, bukan saling menghilangkan.

 

Soal Batasan. Ini Penting Banget

Namanya juga lagi sayang-sayangnya, pasti pengin dekat terus. Tapi sebagai pelajar, ada batasan yang harus dijaga. Batasan itu bukan buat ngerusak hubungan, tapi buat melindungi diri sendiri dan pasangan. Jaga sikap di sekolah, jaga bahasa saat ngobrol, dan jaga perilaku supaya tetap sopan. Hubungan yang dewasa bukan diukur dari seberapa mesra kelihatannya, tapi dari seberapa bisa menghargai norma dan aturan.

Cemburu Itu Manusiawi, Posesif Itu Masalah

Cemburu dikit masih wajar. Tapi kalau cemburu berubah jadi posesif, mulai ngatur-ngatur, ngecek HP tanpa izin, atau marah gara-gara hal sepele, itu udah tanda bahaya. Pentingnya Batasan (Boundaries). Nah, di sinilah batasan jadi penting. Batasan adalah aturan yang kita buat untuk menjaga diri sendiri dalam hubungan. Contohnya:

Tetap punya waktu belajar,tidak membalas chat 24 jam nonstop. Berani bilang “aku nggak nyaman”,dan tidak melakukan hal yang melanggar nilai diri dan nilai nilai norma agama dan nilai nilai norma sosial.

Kenapa Harus Ada Batasan?

Tanpa batasan. Kita mudah dimanfaatkan,Kehilangan fokus masa depan dan Emosi jadi tidak stabil

Dengan adanya batasan,Kita lebih dihargai,hubungan jadi sehat dan hidup lebih seimbang. Hubungan yang sehat dibangun dari rasa percaya. Percaya bahwa pasangan bisa jaga diri, jaga sikap, dan jujur. Tanpa kepercayaan, pacaran bakal terasa melelahkan.

Pacaran Harusnya Bikin Berkembang

Pacaran yang baik seharusnya bikin dua-duanya berkembang. Saling nyemangatin buat belajar, saling ngingetin tugas, dan jadi tempat cerita yang aman. Kalau pacaran malah bikin sering bolos, nilai turun, atau emosi nggak stabil, berarti hubungan itu perlu dievaluasi.

Berani Bilang Tidak dan Jujur Sama Perasaan

Dalam pacaran, penting buat berani bilang “nggak” kalau ada hal yang bikin nggak nyaman. Menolak bukan berarti nggak sayang, tapi bentuk sayang sama diri sendiri. Komunikasi yang jujur dan sopan itu kunci. Daripada dipendem sampai meledak, lebih baik dibicarain baik-baik. Putus Bukan Akhir Segalanya. Nggak semua hubungan harus bertahan lama. Putus itu menyakitkan, tapi juga bagian dari proses belajar. Yang penting, tetap dewasa, nggak saling menjatuhkan, dan nggak menyebarkan cerita buruk.

Penutup

Pacaran di sekolah boleh aja, asal tahu batas dan arah. Jangan sampai baper ngalahin logika. Masa depan masih panjang, mimpi masih banyak, dan hubungan yang sehat adalah hubungan yang bikin kita tumbuh jadi pribadi yang lebih baik.hubungan itu penting tapi diri sendiri lebih penting.

*) Guru Bahasa Jepang di SMAN 1 Pangalengan

#disadur dari berbagai sumber terpercaya#

 

Minggu, 24 Mei 2026

Matemagic

 CACING CACING, NAGA NAGA. DI BALIK KEMENANGAN PERSIB BANDUNG ADA MATEMATIKA

Oleh: Dera Annisa Ratnasari, S.Pd *)

 

Ketika Strategi, Angka, dan Semangat Bobotoh Bertemu di Lapangan

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/DYrbdhMStoJ/

Kemenangan Persib Bandung pada laga pertama musim ini tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi para Bobotoh, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sepak bola sebenarnya sangat dekat dengan konsep matematika. Di balik setiap gol, operan, dan strategi permainan, terdapat pola-pola yang dapat dianalisis layaknya sebuah perhitungan. Sejak menit awal pertandingan, Persib tampil dengan permainan yang terorganisir. Intensitas serangan meningkat perlahan, seperti grafik fungsi matematika yang terus naik dari waktu ke waktu. Jika dianalogikan, performa Persib malam itu menyerupai fungsi sederhana:

 y = x²

 
Sumber: https://edurev.in/t/350911/year-7-maths-quadratic-graphs

Artinya, semakin besar usaha dan tekanan yang diberikan, maka hasil yang diperoleh juga semakin besar. Hal tersebut terlihat jelas ketika Persib mulai menguasai jalannya pertandingan dan membuat lawan kesulitan mengembangkan permainan. Konsistensi menjadi salah satu kunci utama kemenangan. Dalam matematika terdapat istilah konstanta, yaitu nilai tetap yang tidak berubah. Mental juara Persib pada pertandingan tersebut layak disebut sebagai sebuah konstanta. Walaupun mendapat tekanan dari lawan, para pemain tetap disiplin, fokus, dan percaya diri hingga peluit akhir dibunyikan.

Kemenangan itu juga menunjukkan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemampuan individu. Ada strategi, komunikasi, dan kerja sama yang berjalan secara bersamaan. Jika ditulis dalam bentuk sederhana, kemenangan Persib malam itu dapat dirumuskan sebagai:

Kemenangan = Strategi + Kerja Sama + Mental Juara

 

Sumber: https://www.google.com/search?tbnid=vQjyFDL9UqkuSM&tbnh=0&tbnw

Rumus sederhana tersebut menggambarkan bahwa kemenangan lahir dari proses panjang dan kerja kolektif seluruh tim. Selain itu, pertandingan juga memperlihatkan konsep probabilitas atau peluang dalam matematika. Tidak semua serangan menghasilkan gol, tetapi Persib mampu memanfaatkan peluang dengan efektif. Sedikit kesempatan yang didapat mampu dikonversi menjadi hasil nyata di papan skor. Hal ini membuktikan bahwa efektivitas jauh lebih penting dibandingkan jumlah peluang semata. Di sisi lain, lini pertahanan Persib tampil solid sepanjang pertandingan. Jika dianalogikan dalam konsep limit matematika, maka peluang lawan untuk mencetak gol perlahan mendekati nol.

Peluang Lawan → 0

Semakin lama pertandingan berlangsung, semakin sulit lawan menembus pertahanan Persib. Koordinasi antar pemain belakang berjalan sangat rapi sehingga serangan lawan dapat dipatahkan dengan baik. Atmosfer stadion juga menjadi bagian penting dari kemenangan tersebut. Dukungan Bobotoh terus menggema sepanjang pertandingan dan menjadi energi tambahan bagi para pemain. Sorakan yang terus meningkat dapat dianalogikan seperti nilai tak hingga dalam matematika.

 
Sumber: https://rri.co.id/bandung/sepak-bola/2438628/klok-apresiasi-bobotoh-usai-persib-juara-lagi

Semangat Bobotoh →

Dukungan tanpa henti itu membuat pertandingan terasa lebih hidup dan penuh semangat. Tidak berlebihan jika disebut bahwa Bobotoh menjadi “pemain ke-12” bagi Persib. Menariknya, sepak bola ternyata memiliki banyak hubungan dengan matematika dalam kehidupan nyata. Lapangan dapat diibaratkan sebagai bidang koordinat, pergerakan pemain membentuk pola geometri, sedangkan statistik pertandingan menjadi data yang dapat dianalisis untuk melihat efektivitas permainan.

 
Sumber: https://galamedia.pikiran-rakyat.com/olahraga/pr-359359852/rundown-pawai-persib-juara-hari-ini

Melalui kemenangan ini, kita belajar bahwa matematika tidak hanya hadir di ruang kelas melalui angka dan rumus, tetapi juga hidup dalam strategi permainan, kerjasama tim, dan perjuangan meraih kemenangan. Persib berhasil menunjukkan bahwa kemenangan bukan sekadar hasil akhir, melainkan kombinasi dari proses, konsistensi, strategi, dan semangat yang terus dijaga. Dan bagi Bobotoh, kemenangan pada laga pertama ini menjadi awal dari harapan besar untuk perjalanan panjang musim ini. Karena seperti dalam matematika, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa pada hasil yang besar:

Persib + Konsistensi = Juara

Sebagai penutup, kemenangan Persib Bandung pada musim Liga 1 tahun ini menjadi bukti bahwa kerja keras, konsistensi, strategi, dan semangat pantang menyerah akan selalu membuahkan hasil yang indah. Perjalanan panjang yang penuh perjuangan akhirnya berhasil membawa Persib kembali berdiri di puncak sebagai juara.

 
Sumber: https://bola.kompas.com/read/2026/05/23/21340368/berita-foto-persib-hattrick-juara-angkat-piala-di-gbla

Keberhasilan ini bukan hanya milik pemain dan pelatih, tetapi juga milik seluruh Bobotoh yang selalu setia memberikan dukungan di setiap keadaan. Sorakan, doa, dan loyalitas tanpa batas menjadi energi besar yang mengiringi setiap langkah Persib sepanjang musim. Selamat kepada Persib Bandung atas keberhasilannya menjuarai Liga 1 musim ini. Terima kasih telah menghadirkan kebanggaan, semangat, dan kebahagiaan bagi masyarakat Bandung dan seluruh pendukung di Indonesia. Semoga prestasi ini menjadi awal dari lebih banyak kemenangan dan sejarah baru untuk Maung Bandung di masa depan.

Persib Juara! Bobotoh Bahagia! Warga Jabar Sare Tibra!!

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Bobotoh  Sejati

**) Berbagai penyempurnan tulisan awal “Matematika di Balik Kemenangan Persib pada Laga Pertama Ketika Strategi, Angka, dan Semangat Bobotoh Bertemu di Lapangan”

Kamis, 21 Mei 2026

Teen Literacy

 LITERASI DIGITAL DASAR

Oleh: Syahla Kamila Putri *)

 


Sekarang ini, informasi di internet itu super cepat banget nyebarnya. Sekali scroll media sosial, kita bisa nemu banyak berita, video, atau postingan dari berbagai sumber. Tapi masalahnya, nggak semuanya bisa dipercaya. Derasnya informasi di internet menciptakan fenomena "banjir informasi" (information overload), di mana volume data yang diproduksi setiap detiknya jauh melampaui kapasitas otak manusia untuk  memprosesnya.

 
Sumber: https://booherresearch.com/making-sense-of-information-overload/

Berikut adalah deretan fakta menarik tentang fenomena ini:

·         Produksi Data Skala Zettabyte. Volume lalu lintas data global di internet telah mencapai skala zettabyte (1 zettabyte setara dengan 1 triliun gigabyte) per tahunnya.

·         Kecepatan Unggah Eksponensial. Setiap menitnya, pengguna internet di seluruh dunia mengirimkan jutaan pesan, mengunggah ratusan jam video baru ke platform seperti YouTube, dan memposting miliaran update di media sosial.

·         Google Hanya "Puncak Gunung Es". Mesin pencari seperti Google hanya mampu mengindeks sebagian kecil dari keseluruhan data di internet (sering disebut Surface Web). Sebagian besar informasi berada di Deep Web atau Dark Web yang tidak dapat diakses pencarian biasa.

·         Pergeseran Pola Pencarian. Generasi masa kini semakin mengandalkan platform video singkat dan media sosial (seperti TikTok atau Instagram) sebagai mesin pencari utama mereka untuk mencari rekomendasi dibandingkan mesin pencari konvensional.

·         Fenomena Information Fatigue. Terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat terbukti memicu Information Fatigue Syndrome.


 Sumber: https://kepunggoogle.biz.id/produk/712392/cara-cerdas-membedakan-berita-hoaks-dan-fakta

Hal ini dapat mengaburkan kemampuan berpikir kritis seseorang dan memicu stres akibat kesulitan memilah antara fakta (kebenaran) dan hoaks. Sebagai pelajar, kita nggak boleh langsung percaya sama informasi yang viral. Kadang judulnya dibuat heboh biar orang kepancing, padahal isinya belum tentu benar. Makanya penting banget buat cek dulu sumbernya sebelum percaya atau ikut-ikutan share.

Meskipun pelajar disebut sebagai "generasi native digital", faktanya penguasaan literasi digital mereka sering kali sebatas mengoperasikan aplikasi, bukan memahami konteks banyak pelajar masih kesulitan membedakan fakta dan hoaks, rentan terhadap kejahatan siber, dan menjadikannya sebagai keterampilan krusial untuk masa depan.

 
Sumber: https://www.gramedia.com/literasi/pengertian-literasi-digital/

Berikut adalah fakta-fakta menarik seputar literasi digital di kalangan pelajar:

  • Jago Gunakan Aplikasi, Kurang Analitis. Pelajar sangat cepat beradaptasi dengan fitur gawai, namun riset menunjukkan hanya sebagian kecil yang mampu mengevaluasi kredibilitas sumber informasi secara kritis. Mereka sering menerima informasi tanpa memverifikasi fakta lebih lanjut.
  • Rentan Terhadap Jebakan Hoaks. Kecepatan menerima informasi di media sosial justru membuat pelajar menjadi salah satu kelompok yang rentan terpapar hoaks. Hal ini menuntut perlunya Pentingnya Literasi Digital bagi Generasi Muda untuk mengasah cara berpikir kritis.
  • Kurangnya Kesadaran Privasi Data. Masih banyak pelajar yang membagikan informasi pribadi secara berlebihan di media sosial, sehingga membahayakan keamanan data diri dan rentan menjadi target kejahatan siber atau perundungan siber (cyberbullying).
  • Pintu Gerbang Sumber Belajar Global. Keunggulan utamanya adalah memberikan akses tanpa batas ke berbagai artikel, buku digital (e-book), dan jurnal ilmiah yang mendukung metode belajar berbasis proyek dan kelas virtual.
  • Empat Pilar Utama Kompetensi. Agar pelajar benar-benar melek digital, mereka harus menguasai empat pilar sekaligus: kecakapan digital (technical), budaya digital (culture), etika digital (ethics), dan keamanan digital (safety).

 

Sumber: https://www.kalananti.id/blog/kenali-bentuk-cyberbullying-agar-aman-dalam-bersosial-media

Literasi digital itu intinya kita harus lebih “aware” dan nggak gampang termakan info yang belum jelas. Kita juga harus bisa bedain mana info yang bermanfaat dan mana yang cuma hoaks atau opini doang. Kalau kita bijak, media sosial bisa jadi tempat yang positif buat belajar dan nambah "insight", bukan malah bikin salah paham. Jadi, kita harus jadi pengguna internet yang lebih smart dan nggak gampang FOMO sama informasi.

Aku ada sebuah pertanyaan nih, yang mau boleh jawab aja yaa ....Menurut kamu, apa yang biasanya bikin orang gampang percaya sama berita di media sosial?

 *) Murid X-C yang sedang belajar menulis

**) Dari berbagai sumber -  sambil memahami 

Rabu, 20 Mei 2026

Local Wisdom

ANTARA PAMALI, TAKHAYUL,DAN TEKNOLOGI JENIUS NENEK MOYANG KITA

Oleh: Nia Komalaningsih, S.Pd *)

 

Di era digital seperti sekarang, manusia hidup berdampingan dengan berbagai bentuk teknologi modern. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi lintas negara terjadi secara instan, dan hampir setiap aktivitas sehari-hari dibantu oleh perangkat digital. Namun jauh sebelum hadirnya internet, telepon pintar, atau kecerdasan buatan, nenek moyang telah lebih dahulu menciptakan “teknologi” mereka sendiri—bukan berupa mesin atau aplikasi, melainkan sistem pengetahuan, simbol budaya, dan aturan sosial yang mampu mengatur kehidupan masyarakat secara efektif. Salah satu bentuk teknologi sosial tersebut adalah pamali.

 
Sumber:anoname@C://user/Download/pamali.1.jpg

Dalam budaya Sunda, kata pamali merujuk pada larangan atau pantangan yang diwariskan secara turun-temurun. Biasanya pamali disampaikan oleh orang tua, kakek-nenek, atau tokoh adat kepada anak-anak sejak usia dini. Bentuknya sederhana, singkat, dan mudah diingat. Misalnya:

§   “Pamali duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.”

§   “Pamali makan sambil tiduran, nanti rezekinya seret.”

§   “Pamali menyapu malam hari, nanti rezeki hilang.”

§   “Pamali keluar rumah saat magrib.”

§   “Pamali memotong kuku malam-malam.”

§   “Pamali berbicara kasar kepada orang tua.”

Bagi sebagian generasi muda, kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar tidak masuk akal, bahkan dianggap sekadar mitos atau takhayul. Namun jika ditelusuri lebih dalam, pamali sebenarnya menyimpan logika, pengalaman empiris, serta kecerdasan sosial yang luar biasa.

 
Sumber: anoname@C://user/Download/pamali.2.jpg

Pamali sebagai Teknologi Sosial

Secara sederhana, teknologi adalah alat atau sistem yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupan. Jika saat ini teknologi hadir dalam bentuk aplikasi, mesin, atau perangkat elektronik, maka pada masa lalu teknologi hadir dalam bentuk aturan budaya. Pamali dapat disebut sebagai teknologi sosial karena berfungsi untuk:

§   mengatur perilaku masyarakat,

§   menjaga keselamatan,

§   menanamkan disiplin,

§   membangun karakter,

§   menjaga hubungan sosial,

§   melestarikan nilai budaya.

Dengan kata lain, pamali adalah “program sosial” yang dirancang leluhur agar masyarakat dapat hidup tertib tanpa harus selalu diawasi. Dalam kajian Sociology, hal ini dikenal sebagai kontrol sosial, yaitu proses yang dilakukan masyarakat untuk menjaga agar anggotanya bertindak sesuai nilai dan norma yang berlaku.

 
Sumber: https://www.facebook.com/photo/?fbid=1378069360995431&set=pcb.1378069467662087

Logika Ilmiah di Balik Beberapa Pamali

1. “Pamali duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.”

Sekilas kalimat ini terdengar tidak ada hubungannya antara duduk di pintu dengan jodoh. Namun jika dianalisis secara logis, pintu merupakan jalur mobilitas utama dalam rumah. Duduk di depan pintu dapat:

§  menghalangi orang keluar masuk,

§  mengganggu sirkulasi udara,

§  meningkatkan risiko tersenggol atau terjatuh,

§  menciptakan kesan kurang sopan terhadap tamu.

Daripada menjelaskan konsep etika, ruang, dan keselamatan kepada anak kecil secara panjang lebar, orang tua menggunakan pendekatan simbolik agar pesan lebih mudah diingat.

 
Sumber:anoname@C://user/Download/pamali.1.jpg

2. “Pamali makan sambil tiduran.”

Dalam ilmu kesehatan, makan sambil berbaring dapat menyebabkan:

§  makanan sulit turun secara optimal,

§  risiko tersedak,

§  gangguan pencernaan,

§  meningkatnya asam lambung.

Tanpa pendidikan medis formal, leluhur memahami pola ini melalui pengamatan dan pengalaman hidup.

3. “Pamali keluar rumah saat magrib.”

Pada masa lalu belum ada lampu jalan, kendaraan, atau sistem keamanan modern. Saat matahari terbenam, lingkungan menjadi lebih gelap dan rawan. Larangan ini bertujuan:

§  menjaga anak tetap aman,

§  menghindari tersesat,

§  melindungi dari binatang liar,

§  menjaga kebiasaan berkumpul bersama keluarga.

Dalam konteks keagamaan, waktu magrib juga identik dengan waktu ibadah dan refleksi diri.

4. “Pamali menyapu malam hari.”

Dahulu penerangan rumah sangat terbatas. Menyapu saat gelap berisiko:

§  barang kecil ikut terbuang,

§  rumah tidak benar-benar bersih,

§  energi terbuang untuk pekerjaan yang kurang efektif.

Artinya, larangan ini berkaitan dengan efisiensi kerja.

5. “Pamali memotong kuku malam hari.”

Pada masa lampau, alat potong kuku belum seaman sekarang. Memotong kuku saat gelap dapat menyebabkan:

§  jari terluka,

§  kuku tercecer,

§  risiko infeksi.

Larangan ini merupakan bentuk edukasi keselamatan.

 
Sumber: https://www.literasiliwangi.com/content/read/traveling/882/nilai-moral-dalam-pamali-sebagai-bentuk-kearifan-lokal

Pamali sebagai Media Pendidikan Karakter

Selain menjaga keselamatan, pamali juga berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui pamali anak diajarkan:

§  sopan santun,

§  menghormati orang tua,

§  menjaga kebersihan,

§  disiplin waktu,

§  tanggung jawab,

§  kepedulian terhadap lingkungan.

Misalnya larangan berkata kasar kepada orang tua bukan hanya persoalan adat, tetapi bagian dari pembentukan moral dan etika sosial. Dalam perspektif Sociology, pamali berkaitan erat dengan nilai sosial, norma sosial, dan proses sosialisasi, yaitu bagaimana individu belajar menjadi bagian dari masyarakat.

Apakah Semua Pamali harus dipercaya?

Pertanyaan ini penting bagi generasi muda. Tidak semua pamali harus diterima secara mentah. Sebagai masyarakat modern, kita perlu memiliki kemampuan berpikir kritis. Setiap pamali dapat dikaji:

§  Apa tujuan larangan ini?

§  Kondisi sosial apa yang melatarbelakanginya?

§  Apakah masih relevan dengan kehidupan sekarang?

§  Nilai apa yang ingin diwariskan?

Dengan cara berpikir seperti ini, generasi muda tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga penafsir budaya.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/aurelliatsany8634/661f5804de948f1b297a6f42/

Pamali di Era Modern

Meski zaman berubah, esensi pamali masih sangat relevan. Hanya bentuknya yang berbeda. Jika dahulu orang tua berkata “Pamali keluar malam,” sekarang mungkin berubah menjadi “Jangan pulang terlalu malam, lokasi rawan.” Jika dahulu ada “Pamali terlalu lama bermain di luar,” kini bisa berubah menjadi “Batasi screen time dan penggunaan media sosial.” Artinya, teknologi boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia terhadap aturan, nilai, dan kontrol sosial tetap sama. Nenek moyang mungkin tidak mengenal smartphone, algoritma, atau kecerdasan buatan. Namun mereka memahami satu hal penting: manusia membutuhkan sistem agar hidup tetap tertib. Dan melalui pamali, mereka berhasil menciptakan teknologi sosial yang sederhana, murah, mudah diingat, tetapi sangat efektif. Jadi,pamali dilakukan sekadar takhayul. Di balik kalimat sederhana yang diwariskan lintas generasi, tersimpan ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, pendidikan karakter, dan kecerdasan budaya yang tetap relevan hingga hari ini.

Terimakasih ..selamat membaca semoga bermanfaat!!

*) Guru Geografi & Sosiologi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Paskibra, pengamat masalah sosial dan dunia remaja

**) disarikan dari berbagai sumber

Relationship

  “BAPER, BUCIN, DAN BATASAN” BOLEH BAPER, TAPI TETAP PUNYA ARAH By Dede Santi   Apa itu Baper? Baper (bawa perasaan) adalah kondi...