"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Kamis, 12 Februari 2026

Preserving Culture

 ANTARA SASTRA, PERAN REMAJA, DAN PELESTARIAN BUDAYA

Oleh: XI D2

 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, tradisi, bahasa daerah, kesenian, dan karya sastra. Dari Sabang sampai Merauke, setiap daerah memiliki identitasnya masing-masing yang menjadi kekayaan sekaligus kebanggaan bangsa. Keberagaman tersebut bukan hanya sekadar warisan nenek moyang, tetapi juga menjadi jati diri bangsa Indonesia. Namun di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, budaya lokal perlahan mulai tergerus oleh budaya luar yang masuk tanpa batas melalui teknologi dan media sosial. Dalam kondisi seperti ini, peran remaja menjadi sangat penting dalam menjaga dan melestarikan budaya bangsa.

 
Sumber: https://online.flipbuilder.com/klwbr/twhn/files/basic-html/page6.html

Remaja adalah generasi penerus yang kelak akan memimpin dan menentukan arah bangsa. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri, sehingga apa yang dipelajari dan diyakini akan sangat berpengaruh pada masa depan. Jika remaja lebih mengenal budaya luar dibandingkan budaya sendiri, maka bukan tidak mungkin budaya Indonesia akan semakin terpinggirkan. Oleh karena itu, kesadaran untuk mencintai dan melestarikan budaya harus ditanamkan sejak dini. Remaja dapat memulai pelestarian budaya dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bangga menggunakan batik atau pakaian adat pada acara tertentu,mempelajari tarian daerah, memainkan alat musik tradisional, menjaga sopan santun sesuai nilai budaya, serta menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu, mengenal cerita rakyat, legenda, dan karya sastra Indonesia juga merupakan bentuk nyata dalam menjaga budaya bangsa.

 
Sumber: https://retizen.republika.co.id/posts/497165/peran-generasi-muda-dalam-pelestarian-budaya

Sastra memiliki peran yang sangat penting dalam pelestarian budaya. Sastra adalah cermin kehidupan, karena di dalamnya terdapat gambaran tentang realitas sosial, nilai moral, perjuangan hidup, hingga perasaan manusia yang paling dalam. Melalui puisi, cerpen, novel, maupun drama, kami dapat memahami kehidupan masyarakat pada suatu masa. Karya sastra juga mengajarkan empati, menghargai perbedaan, serta membantu kami mengambil hikmah dari berbagai peristiwa kehidupan.

Di era digital saat ini, remaja memiliki peluang besar untuk ikut melestarikan budaya dan sastra. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. Remaja dapat membuat konten edukatif tentang sejarah daerahnya, menulis puisi atau cerpen di platform digital, bahkan membuat video pembacaan puisi bertema budaya. Dengan cara ini, budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman. Menurut pendapat kami, menjadi remaja yang mencintai budaya bukan berarti menolak perkembangan zaman. Kami tetap bisa mengikuti tren dan menggunakan teknologi, tetapi harus memiliki identitas yang kuat. Budaya luar dapat dipelajari sebagai pengetahuan, namun budaya sendiri harus tetap menjadi dasar kepribadian.

 
Sumber: https://inspirasinusantara.id/gen-z-melestarikan-budaya-dengan-sentuhan-digital/

Simpulannya, remaja memiliki peran yang sangat besar dalam pelestarian budaya bangsa. Sastra sebagai cermin kehidupan dapat menjadi sarana untuk memahami nilai-nilai luhur dan menumbuhkan rasa cinta tanah air. Dengan memanfaatkan teknologi secara positif, kami sebagai generasi muda dapat menjaga sekaligus mengembangkan budaya Indonesia agar tetap hidup dan dikenal hingga masa depan.

 

**) Dikutif dari beragam sumber

LKM Drama II


lKM Drama II

Selasa, 10 Februari 2026

Apresiasi Drama 2026 (I)


LKM Drama 2026












Local Wisdom



 FILOSOFI DI BALIK LIPATAN IKET SUNDA DAN NILAI "BENER" DALAM PANCA WALUYA

Oleh: Rinie Mutia Widanengsih, S.Pd *)



 

Sumber: https://www.balebandung.com/iket-sunda-identitas-diri-dan-pelestarian-budaya

Bagi masyarakat Sunda, iket bukan sekadar aksesoris kepala atau pelengkap baju adat saat acara resepsi saja. Iket adalah simbol peradaban, jati diri, dan "pengikat" pikiran. Salah satu kaitan yang paling mendalam adalah hubungannya dengan konsep Panca Waluya (Lima Kesejahteraan/Kesehatan hidup), khususnya poin pertama: Bener (Benar).

Apa itu Nilai "Bener"?

Dalam ajaran Panca Waluya, Bener adalah fondasi utama. Hidup yang "Bener" berarti pikiran, ucapan, dan tindakan kita harus sesuai dengan aturan Tuhan, norma sosial, dan hati nurani. Tanpa nilai kebenaran, empat poin lainnya (Pinter, Pener, Pangger, dan Pager) tidak akan memiliki pijakan yang kuat.

 
Sumber: https://infobandungbarat.com/cageur-bageur-bener-singer-pinter-etos-dan-pendidikan-karakter-orang-sunda/

Mengapa Iket Melambangkan Kebenaran?

Secara fisik, iket dibentuk dari kain persegi empat yang dilipat-lipat sedemikian rupa hingga membungkus kepala. Mengapa kaitannya erat dengan nilai "Bener"?. Menjaga Pikiran Tetap Lurus Iket diletakkan di kepala, pusat logika dan pengambilan keputusan. Memakai iket secara simbolis berarti kita sedang "mengikat" pikiran agar tidak liar ke arah yang negatif. Orang yang hidupnya "Bener" adalah orang yang mampu mengendalikan pikirannya agar selalu jernih dan jujur.

 
Sumber: https://www.infobdg.com/v2/iket-sunda-bukan-sekedar-saceundeung-kaen/?amp=1

Simbol Integritas (Singget) Pernah perhatikan lipatan-lipatan pada iket? Ada kerapihan dan presisi di sana. Hal ini melambangkan bahwa seorang pemuda Sunda harus memiliki ketetapan hati. Jika sudah berkata A, maka tindakannya harus A. Itulah inti dari nilai "Bener" keselarasan antara hati dan perbuatan. Filosofi Segitiga (Pancer) Saat kain iket dilipat menjadi segitiga sebelum dipasang, itu melambangkan hubungan vertikal (Tuhan) dan horisontal (sesama manusia dan alam). Nilai "Bener" menuntut kita untuk adil dalam menjalankan kedua hubungan tersebut.

Relevansi buat Kita (Generasi Z)

Bener dalam Berkata. Tidak menyebarkan berita bohong di grup WhatsApp atau kolom komentar. Bener dalam Bertindak: Berani menolak ajakan yang melanggar aturan meskipun dianggap "nggak asik" oleh teman. Bener dalam Berpikir: Punya prinsip yang kuat dan tidak mudah terombang-ambing tren yang merusak diri sendiri. "Iket teh lain saukur papaes sirah, tapi panginget sangkan urang boga pikiran nu bener." (Iket bukan sekadar hiasan kepala, tapi pengingat agar kita memiliki pikiran yang benar.)

 
Sumber: https://www.medcom.id/rona/advis/yNLAmVWb-berpikir-positif-berpikir-negatif-dan-berpikir-benar

Simpulan

Memakai atau memahami filosofi iket Sunda berarti kita belajar untuk berkomitmen pada kebenaran. Nilai Bener dalam Panca Waluya mengajarkan kita bahwa sehebat apa pun kita (Pinter), tidak akan berguna jika kita tidak memiliki integritas. Jadi, yuk mulai tanamkan sifat jujur dan lurus dalam keseharian kita!

*) Guru Bahasa Sunda di SMAN I Pangalengan. Pembina Padantara. Sedang menyelesaikan Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa dan sastra Sunda di Universitas Oendidikan Indonesia.

**) dari beragam sumber

 

Preserving Culture

  ANTARA SASTRA, PERAN REMAJA, DAN PELESTARIAN BUDAYA Oleh: XI D2   Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, tradisi, bahasa da...