"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Kamis, 07 Mei 2026

Live My Way

 SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN

Oleh: Fijhar Restu Pertama *)


Hai semua! Kami dari kelas 10B mendapatkan kesempatan mengisi literasi hari ini. Pernah nggak sih kalian mendengar kalimat "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana"? Kalimat ini sebenarnya tamparan keras untuk kita semua, karena artinya harga diri kita itu tercermin dari apa yang keluar dari mulut kita sendiri. Tapi kenyataannya di sekolah, kadang kita lupa kalau lidah itu lebih tajam dari pada perbuatan, kok bisa?


 Sumber: https://www.kompasiana.com/image/didin26/604f68c9d541df170f30a4b2/bersenjata-lidah

"Ajining diri saka lathi"

Disebuah sekolah terdapat dua orang sahabat yang sering bercanda setiap harinya, pada saat jam istirahat A memukul punggung B hingga kesakitan. Namun setelah meminta maaf B pun melupakan kejadian itu. Kemudian saat mereka berkelahi, A mengata-ngatai B dengan perkataan yang kurang mengenakan di hati seperti "bodoh", "jelek", dan "miskin" dan itu membuat B sangat sakit   hati.

Sumber: https://ar.pinterest.com/pin/798614946404046659/

Kita juga sering mendengar kalimat hinaan yang dibungkus rapi memakai kata "bercanda". Mulai dari ngeledek fisik, cara ngomong, sampai masalah pribadi teman sendiri. Pas yang dikatain sakit hati dan suasananya jadi nggak enak, si pelaku dengan gampangnya bilang "Dih, baper banget sih, kan cuma bercanda" But, guys we should know that bercanda ada batasnya. Nah, di sinilah mental playing victim muncul. Bukannya minta maaf karena sudah kelewatan, eh malah balik nyalahin korbannya karena dianggap terlalu sensitif. Padahal, batas antara bercanda dan bullying itu sederhana banget: kalau yang diajak bercanda nggak merasa lucu dan malah merasa kecil, berarti itu sudah termasuk penindasan.

 
Sumber: https://rri.co.id/ranai/kesehatan/1507451/kenali-ciri-ciri-prilaku-playing-victim

Luka fisik mungkin bisa hilang dalam hitungan hari, tapi kalau hati yang disayat pakai kata-kata, bekasnya bisa dibawa sampai kita lulus nanti. Kita nggak pernah tahu kondisi mental orang lain saat mereka berangkat ke sekolah, bisa saja mereka baru saja mendapatkan hal buruk. Siapa tahu, kata-kata "bercanda" dari kita itu jadi beban terakhir yang nggak bisa lagi mereka tanggung. Menjaga lisan itu bukan berarti kita jadi orang yang kaku atau nggak asik, tapi itu justru menunjukkan kalau kita punya kelas. Orang yang berkelas nggak butuh ngerendahin orang lain cuma buat kelihatan hebat atau lucu di depan gengnya.

"Ajining diri saka busana"

Selain dari lisan, harga diri juga tercermin dari bagaimana kita membawa diri melalui penampilan. Busana bukan soal mahal atau bermerek, tapi tentang sopan santun, kerapihan, dan cara kita menghargai diri sendiri serta lingkungan sekitar. Seragam yang dipakai dengan rapi menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sekolah. Di lingkungan sekolah, kadang masih ada yang menilai atau merendahkan teman hanya dari penampilan mereka. Misalnya, mengejek sepatu yang sudah usang, tas yang sederhana, atau seragam yang tidak sebaik milik orang lain. Padahal, apa yang dikenakan seseorang bukan alasan untuk mengukur nilai dirinya. Busana seharusnya menjadi cerminan kepribadian, bukan bahan ejekan. Kita harus sadar bahwa tidak semua orang memiliki keadaan yang sama. Apa yang terlihat biasa bagi kita, bisa jadi adalah hasil perjuangan besar bagi orang lain. Menghina penampilan seseorang sama saja dengan merendahkan perjuangan mereka. Sebaliknya, menjaga cara berpakaian dengan baik adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Sumber: https://www.instagram.com/p/C-XE6_Fy5J7/?img_index=3

Pada akhirnya, pepatah "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan kita bahwa nilai seseorang bukan hanya dilihat dari penampilan luar, tapi juga dari tutur kata dan sikapnya. Percuma berpakaian rapi jika ucapan masih menyakiti, dan sebaliknya, penampilan yang baik akan lebih bermakna jika dibarengi hati serta lisan yang terjaga.      Jadi, mari mulai dari diri sendiri. Berkata yang baik, bercanda sewajarnya, berpakaian sopan, dan saling menghargai. Karena menjadi pelajar yang berkelas bukan tentang siapa yang paling keren, tapi siapa yang paling mampu menjaga sikap, ucapan, dan menghormati sesama.

Kesimpulannya, "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan bahwa harga diri seseorang tercermin dari ucapan, sikap, dan cara membawa dirinya. Perkataan yang baik menunjukkan kualitas diri, sedangkan penampilan yang rapi mencerminkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan lingkungan. Bercanda memang penting dalam pertemanan, tetapi harus tetap memiliki batas agar tidak berubah menjadi luka bagi orang lain. Dengan menjaga lisan, sikap, dan penampilan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih berkelas, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, positif, dan penuh rasa hormat.

*) Salam hangat dari 10B

 **) Dari berbagai sumber

Rabu, 06 Mei 2026

Sportscience

 PERAN ANTROPOMETRI DALAM DESAIN ERGONOMIS DAN KESEHATAN

Oleh: Dana Praja, S.Pd *)

 

Antropometri adalah studi pengukuran tubuh manusia untuk memahami variasi fisik antar individu maupun populasi. Dalam dunia desain, kesehatan, dan teknik, data ini sangat krusial agar produk atau lingkungan kerja sesuai dengan dimensi tubuh penggunanya. Berikut adalah ringkasan aspek utama dalam antropometri:

 
Sumber: https://mahasiswa.ung.ac.id/561421003/home/2022/9/15/antropometri.html

1.       Jenis Pengukuran

     Secara garis besar, pengukuran dibagi menjadi dua kategori utama:

-          Antropometri Statis: Pengukuran tubuh dalam posisi diam (misalnya: tinggi badan, panjang lengan, lingkar pinggang).

-          Antropometri Dinamis: Pengukuran saat tubuh melakukan gerakan atau aktivitas tertentu (misalnya: jangkauan tangan saat memutar kemudi, ruang gerak siku).

 

Sumber: https://soloabadi.com/kenali-3-data-antropometri-dan-penggunaannya/

2.       Dimensi Tubuh yang Umum Diukur

     Beberapa parameter yang paling sering digunakan meliputi:

-          Tinggi Badan: Untuk menentukan tinggi pintu atau langit-langit.

-          Tinggi Bahu & Siku: Penting untuk menentukan tinggi meja kerja agar ergonomis.

-          Lebar Pinggul: Digunakan untuk menentukan lebar kursi di transportasi umum atau kantor.

-          Panjang Popliteal (lipat lutut ke tumit): Untuk menentukan kedalaman dudukan kursi.

 

Sumber: https://testprepinsight.com/resources/how-is-the-lsat-scored/

3.       Konsep Persentil

      Dalam desain, jarang sekali produk dibuat untuk "rata-rata" orang. Sebaliknya, digunakan konsep persentil:

-          Persentil ke-5 (P5): Mewakili individu dengan dimensi tubuh kecil. Digunakan untuk menentukan keterjangkauan (misalnya: posisi tuas rem).

-          Persentil ke-95 (P95): Mewakili individu dengan dimensi tubuh besar. Digunakan untuk menentukan batas maksimum (misalnya: tinggi pintu atau lebar kursi).

 

*) Guru PJOK di SMAN 1 Pangalengan. Atlet Bola Basket pada PORPEMDA K. Provinsi JawaBarat mewakili Kab. Bandung. Aktif melatih Bola Volley.

**) Disarikan dari berbagai sumber

Selasa, 05 Mei 2026

Healthy Culinary

 KREASI MIE ALAMI DARI SAYUR, BUAH, DAN UMBI

Ditulis Ulang Oleh: Redaksi Literatsmansa

 

Kemarin (5 Mei 2026) kita kedatangan Tim Promo dari Indomie untuk Negeri….lumayan khan dapat sarapan pagi mie goreng feat telur ceplok dan sayur….gmana? enak apa enak buanget?. Ananda yang baik kebetulan pada kesempatan kali ini, redaksi mencoba mengupas kreasi mie lengkapdengan pernak pernikseputar mie…yuk kita Simak!!

 
Sumber: https://www.inews.id/finance/bisnis/50-tahun-berkarya-indomie

Mie memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai peradaban. Catatan arkeologis menunjukkan bahwa mie sudah dikonsumsi sejak lebih dari 4.000 tahun lalu di Tiongkok, dan kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia melalui jalur perdagangan, termasuk Jalur Sutra. Di Italia, mie berkembang menjadi pasta dengan beragam bentuk khas, sementara di Indonesia, mie diperkenalkan oleh pedagang Tionghoa dan bertransformasi menjadi berbagai hidangan populer seperti mie goreng dan mie ayam yang kini menjadi bagian dari kuliner sehari-hari Masyarakat.

 
Sumber: https://www.sfgate.com/food/article/noodle-work-to-be-a-show

Tokoh ahli mie terkemuka di dunia, diantaranya Tony Wu (ahli pembuat mie tarik tangan), Ivan Orkin (ahli teknik pembuat mie ramen Jepang), dan Evan Funke (Ahli spesialis pembuat mie pasta tradisional Italia). Misalnya Tony Wu, Chef spesialis mie tarik tangan (hand-pulled noodles) yang memiliki kemampuan ekstrem, mampu membuat ribuan helai mie dalam waktu singkat, menunjukkan tingkat keahlian tinggi dalam teknik tradisional mie Tiongkok. Mie bukan sekadar makanan pokok yang mengenyangkan - ia bisa menjadi kanvas kreatif yang penuh warna dan nutrisi. Dengan memanfaatkan pewarna alami dari sayur, buah, dan umbi-umbian, kita dapat menciptakan mie sendiri yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga lebih sehat.

 
Sumber: https://www.dream.co.id/culinary/4-cara-membuat-mie-sehat-dari-sayuran

Teknik Dasar Membuat Mie:

1.       Bahan Utama

·         250 gram (1/4 kg) tepung terigu protein tinggi

·         1 butir telur (opsional, untuk tekstur lebih kenyal)

·         1/2 sdt garam

·         ±80 ml cairan (air atau sari bahan alami yang diperas, baik dari sayur, buah, maupun umbi)

2.       Langkah Pembuatan

a.       Campurkan tepung dan garam dalam wadah.

b.       Tambahkan telur dan cairan pewarna alami dari buah, sayur, maupun umbi, sedikit demi sedikit sambil diuleni.

c.       Uleni hingga kalis dan tidak lengket.

d.       Diamkan adonan selama 30 menit (ditutup kain).

e.       Gilas adonan hingga tipis, lalu potong sesuai bentuk mie yang diinginkan.

f.        Taburi tepung agar tidak lengket.

g.       Rebus dalam air mendidih selama 2–3 menit.

 
Sumber: https://www.miburungdara.com/membuat-bahan-pewarna-alami-di-rumah/

Jenis-jenis Mie Berpewarna Alami:

a.       Mie Bayam (Hijau Tua). Blender bayam dengan sedikit air, saring, gunakan sarinya. Kaya zat besi dan klorofil.

b.       Mie Wortel (Oranye Cerah). Gunakan sari wortel. Mengandung beta-karoten yang baik untuk mata.

c.       Mie Bit (Merah Keunguan). Rebus atau blender bit, ambil sarinya. Memberi warna pekat dan rasa sedikit manis.

d.       Mie Kunyit (Kuning Keemasan). Campur bubuk kunyit atau air perasan kunyit. Memberi aroma khas dan bersifat anti-inflamasi.

e.       Mie Ubi Ungu (Ungu Lembut). Haluskan ubi ungu kukus. Tekstur lembut dan rasa sedikit manis.

f.        Mie Buah Naga (Pink Cerah). Gunakan daging buah naga merah. Warna cantik dan kaya antioksidan.

g.       Mie Daun Pandan (Hijau Muda). Blender daun pandan dengan air, saring. Memberi aroma harum alami.

h.       Mie Labu Kuning (Oranye Pastel). Haluskan labu kukus. Memberi rasa manis alami dan tekstur lembut.

i.         Mie Seledri (Hijau Segar). Blender daun seledri dengan air, saring. Memberi aroma segar khas dan warna hijau terang.

j.         Mie Daun Katuk (Hijau Pekat). Haluskan daun katuk, ambil sarinya. Warna lebih pekat, kaya nutrisi.

k.       Mie Daun Kelor (Hijau Tua Kehitaman). Gunakan bubuk atau sari daun kelor. Superfood tinggi vitamin dan mineral.

l.         Mie Jagung (Kuning Lembut). Gunakan sari jagung manis. Memberi rasa manis alami dan warna cerah.

 Tips Sukses Membuat Mie:

- Gunakan cairan pewarna alami sebagai pengganti air dalam adonan.

·         Jangan terlalu banyak cairan agar adonan tidak lembek.

·         Untuk warna lebih pekat, gunakan bahan dalam bentuk puree, bukan hanya airnya.

·         Simpan mie mentah di kulkas jika tidak langsung digunakan.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/C9Mg1fQJZwT/

Membuat mie berpewarna alami adalah cara kreatif untuk menghadirkan makanan sehat sekaligus menarik, terutama untuk keluarga dan anak-anak. Selain bebas bahan kimia, variasi warna ini juga memperkaya kandungan gizi dalam setiap sajian. Apakah Ananda Siap bereksperimen di dapur membuat mie?... Selamat mencoba..!!!

Referensi:

- Bodette, Melody & Lindholm, Jane. 2021. “Who Invented Noodles?”. Vermont Public.

- Cloake, Felicity. 2022. “From Fast Food to Fine Art: The US Chef Who Helped Ramen Conquer the World.” The Guardian.

Senin, 04 Mei 2026

Be a Good Person

 MENJELANG DEWASA

(Antara Mimpi, Ragu, dan Tanggung Jawab)

“Setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari versi terbaik dirimu di masa depan.”

Oleh :d”$h3  *)

Ada satu fase dalam hidup yang sering terasa membingungkan bukan lagi anak-anak, tapi juga belum sepenuhnya dewasa. Fase itu datang perlahan, tanpa pemberitahuan, namun dampaknya begitu terasa. Kita mulai mempertanyakan banyak hal: tentang masa depan, pilihan hidup, bahkan tentang diri sendiri. Inilah masa menjelang dewasa.

 
Sumber: https://paragram.id/berita/pembentukan-identitas-diri-kudu-kamu-kenali

Di masa ini, kamu mungkin merasa dunia tiba-tiba menjadi lebih serius. Hal-hal yang dulu terasa sederhana kini mulai dipenuhi pertimbangan. Dulu, kamu hanya perlu belajar dan bermain. Sekarang, kamu mulai berpikir: “Aku mau jadi apa nanti?”, “Apa aku sudah cukup baik?”, atau bahkan “Bagaimana kalau aku gagal?”

Perasaan ragu itu wajar. Bahkan, hampir semua orang dewasa pernah melewati fase ini. Menjelang dewasa bukan tentang sudah siap sepenuhnya, tetapi tentang proses belajar untuk siap. Kamu belajar mengambil keputusan, meskipun belum selalu benar. Kamu belajar bertanggung jawab, meskipun terkadang masih ingin menyerah.


 Sumber: https://pramudyaarif.wordpress.com/2016/07/08/ragu/

Di sinilah pentingnya mengenal diri sendiri. Apa yang kamu sukai? Apa yang membuatmu bersemangat? Apa nilai yang ingin kamu pegang dalam hidup? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi kompas yang membantumu melangkah, meskipun jalannya belum jelas. Namun, menjadi dewasa juga berarti menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Akan ada kegagalan, kekecewaan, bahkan kehilangan arah. Tapi justru dari situlah kamu tumbuh. Setiap kesalahan adalah pelajaran, setiap jatuh adalah kesempatan untuk bangkit dengan cara yang lebih kuat. Jangan terburu-buru ingin terlihat dewasa. Kedewasaan bukan tentang usia, melainkan tentang cara berpikir dan bersikap. Tentang bagaimana kamu menghargai waktu, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas pilihanmu sendiri. Yang juga penting untuk diingat: kamu tidak harus melewati semua ini sendirian. Berbagi cerita dengan teman, keluarga, atau guru bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian. Tidak ada salahnya meminta bantuan ketika kamu merasa lelah atau bingung.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DWyT1T1ADir/

Menjelang dewasa adalah perjalanan. Kadang terasa berat, kadang membingungkan, tapi juga penuh peluang. Di fase ini, kamu sedang membentuk versi terbaik dari dirimu sedikit demi sedikit, hari demi hari. Jadi, jika hari ini kamu merasa belum tahu arah, tidak apa-apa. Jika kamu merasa belum cukup baik, itu juga tidak apa-apa. Yang terpenting adalah kamu terus melangkah, terus belajar, dan terus percaya bahwa setiap proses yang kamu jalani sedang membawamu menuju kedewasaan yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, menjadi dewasa bukan tentang menjadi sempurna tetapi tentang berani bertumbuh.

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ekstrakurikuler Marching Band SMAN 1 Pangalengan

**) dikutip dari berbagai sumber

Matemagic

 MATEMATIKA DALAM DZIKIR

Oleh: Asep Yana Komarudin,S.Pd.,M.M.Pd *)

 

"Halo semuanya! Kenalin, saya Asep Yana Komarudin, Biasa dipanggil Pak Asep Yana. Saya ini Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan (SMANSA Pangalengan) baru 3 bulan mutasi dari SMAN 1 Kota Sukabumi (SMANSA Sukabumi)­. Enggak terasa, sudah mengabdi kepada bangsa dan negara 29 tahun 4 bulan. Mau tahu enggak, perjalanan mengajar saya itu seabreg (banyak banget!) dan seru. Mulai dari tahun 1994, saat masih kuliah, saya sudah mengajar di Pondok Pesantren Al-Basyariyah Bandung, bahkan sempat jadi Kepala Sekolah SD di sana. Tahun 1997, saya diangkat jadi PNS dan ditempatkan di MAN 2 Sukabumi. Nah, ini bagian paling menantang: siswanya cuma 28 orang dari dua angkatan, dan sekolahnya masih "numpang" alias belum punya gedung sendiri.


Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=JYk1LD9NAaI

Tapi, inilah saya, pejuang awal MAN 2 dari tahun1997-2006. Sekarang, tahun 2026, MAN 2 sudah berdiri megah, gedungnya bertingkat, siswanya lebih dari 1.500, dan prestasinya luar biasa, banyak yang diterima di PTN keren! Bangga banget! Sejak tahun 2006 sampai januari 2026, saya mengabdi di SMANSA Sukabumi. Kata orang, saya ini sudah termasuk guru senior dengan banyak pengalaman tentang cara mengajar dan belajar matematika yang asyik. Bersyukur kepada Sang Maha Kuasa Allah SWT. tahun ini 2026 Saya menjadi bagian keluarga besar SMANSA Pangalengan, Bapa Ibu Guru dan TU baik hati, ramah murah senyum, dan religius. Bagitu juga siswa-siswanya semangat belajar dan berakhlaq dalam versi Panca waluya siswa SMANSA Pangalengan (Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer).

 

Sumber: https://swaranasionalpos.com/sman-1-pangalengan-tingkatkan-kualitas-mutu-pendidikan/

Nah, boleh enggak saya cerita sedikit?

Saya punya pengalaman seru menggabungkan metode mengajar lama (seperti ceramah dan penugasan) dengan cara yang beda: menggabungkan Matematika dengan ajaran agama! Tujuannya, supaya Matematika jadi lebih bermakna dan relevan buat siswa. Singkatnya, saya mengajar Matematika dengan Pendekatan yang saya sebut "Dzikir". Metode ini baru saya praktikkan dibeberapa kelas di sekolah nan jauh disana. Penasaran kan, seperti apa Pendekatan Dzikir ini? Yuk, kita bahas!"

A. Pembuka Kelas. Sapaan Hangat dan Cek Kesiapan Diri

"ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ!

Apa kabar kalian hari ini? Semoga semuanya sehat dan semangat, ya!"

Doa dan Asmaul Husna: Ketua kelas memimpin doa sebelum belajar, lalu kita lanjutkan dengan membaca Asmaul Husna bersama-sama.

Mohon ijin Bapak akan mengecek kehadiran kalian ya!. Mari kita selalu bersyukur atas nikmat sehat yang memungkinkan kita belajar hari ini, dan kita doakan juga teman-teman yang sedang sakit agar segera diberi kesehatan.

Yuk, Isi Polling WA! Sebelum mulai, coba buka grup WA kelas, yuk! Kalian diminta mengisi polling singkat tentang ibadah yang kalian lakukan tadi malam ditugaskan di hari yang lalu. Pertanyaannya sederhana, seperti:

·         Apakah kamu salat Tahajud tadi malam?

·         Apakah kamu sempat membaca Al-Qur'an?

·         (Untuk yang laki-laki) Apakah kamu salat Subuh berjamaah di masjid?

Polling ini tujuannya untuk merefleksikan kesiapan spiritual kita sebelum belajar.

B. Inti Pembelajaran. Serunya Diskusi Statistika dan Al-Qur'an

1.       Tantangan Statistika dan Konsep Dasar

"Oke, sekarang kita masuk ke materi Statistika! Masih ingat kan, tugas kelompok yang saya berikan minggu lalu? Kalian sudah siap dong, untuk menjawab pertanyaan pertama ini: Apa sih bedanya statistik dan statistika? Ayo, siapa yang mau mencoba menjawab sambil menghubungkannya dengan ayat Al-Qur'an?"


Sumber: https://koran.pikiran-rakyat.com/opini/pr-3036489792/memaknai-pesan-tuhan-tentang-statistika?

Diskusi Kelompok Aktif. Ternyata, kalian luar biasa! Diskusi kelompoknya langsung "panas" dan seru. Semua anggota saling adu argumen, dan suasana kelas jadi hidup. Keren! Tidak ada yang mengantuk, tidak ada yang ngobrol di luar materi, dan HP-nya aman di tas. Semua fokus!

2. Statistika dalam Isyarat Al-Qur'an

"Meskipun Al-Qur'an tidak menyebut kata 'statistika' secara langsung, ternyata banyak, lho, ayat yang menjadi fondasi penting ilmu ini! Konsep-konsep statistika seperti pengumpulan data, ketelitian (akurasi), perhitungan, dan keadilan ternyata selaras dengan ajaran agama."

Prinsip Pencatatan dan Pengumpulan Data.Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa semua perbuatan, sekecil apa pun, dicatat dengan detail. Ini sama seperti tahap awal statistika, yaitu mengumpulkan data yang lengkap.

...Kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil maupun yang besar, melainkan tercatat semuanya.” (Q.S. Al-Kahf: 49)

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوْهُ فِى الزُّبُرِ

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.” (Q.S. Al-Qamar: 52)

Prinsip Perhitungan dan Ketelitian (Akurasi).Ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang Maha Teliti. Ini menjadi motivasi kita untuk teliti dan akurat dalam setiap perhitungan, termasuk dalam statistika.

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ 

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (ketetapan).” (Q.S. Al-Qamar: 49)

Pesan Penting: Prinsip-prinsip ini mendorong kita sebagai Muslim untuk selalu terstruktur, teliti, dan adil saat mengelola Informasi Dan Pengambilan Keputusan

 
Sumber: https://kantorku.id/blog/contoh-kalimat-feedback-positif/

Contoh Penerapan Praktis: "Bayangkan ini: Keluarga kalian mencatat semua pemasukan dan pengeluaran (ini namanya pengumpulan data). Setelah terkumpul, mereka menghitung rata-rata pengeluaran (ini analisis data). Dari situ, mereka bisa tahu pos mana yang paling boros, dan kemudian memutuskan cara menghemat bulan depan (ini pengambilan kesimpulan). Sama, kan, dengan langkah-langkah dalam Statistika?"

C. Penutup Kelas

"Alhamdulillah, kita sudah di akhir sesi. Bagaimana perasaan kalian setelah belajar Statistika sambil merenungkan kebesaran Sang Pencipta?"

·         Rasa Syukur. Pembelajaran ini kita tutup dengan mengucapkan syukur (tahmid) atas ilmu yang sudah kita dapatkan.

·         Refleksi Sukses. Kalian semua senang dan puas, metode belajarnya pun sukses! Kalian tidak hanya paham materi, tapi juga sadar bahwa ilmu itu adalah anugerah.

·         Matematika = Jalan Ibadah. Dengan menggabungkan Matematika dan nilai agama, semoga kalian melihat Matematika bukan lagi sebagai pelajaran yang menakutkan, melainkan sebagai jalan untuk merenungkan kebesaran Allah. Keren, kan?

Sampaikan kritik dan saran: asepyanakomarudinnew@gmail.com atau WA 081573446450

 

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan

**) Referensi dari beragam sumber

Live My Way

  SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN Oleh: Fijhar Restu Pertama *) Hai semua! Kami dari kelas 10B mendapatkan kesempatan mengisi li...