"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Senin, 24 Agustus 2026

MOMENTUM

 "MENJEMPUT CAHAYA CINTA - MENELADANI RASULULLAH MUHAMMAD SAW  MELALUI SIRAH DAN SHALAWAT”

Oleh Tim Redaksi Literatsmansa

 
Sumber: https://islamramah.co/2020/11/4579/tradisi-musyawarah-di-zaman-rasulullah-saw.html/kaligrafi-nabi-muhammad-saw-2

Al-Barzanji adalah kitab puji-pujian dan sejarah tentang Nabi Muhammad SAW yang dibaca saat peringatan hari lahir (maulid) nabi. Kitab ini berisi kisah hidup, silsilah, akhlak, dan doa.    Maulid, berarti hari lahir atau waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Al-Barzanji, yaitu nama kitab karya Sayyid Ja'far al-Barzanji. Nama ini berasal dari Barzan, sebuah tempat di Kurdistan, Irak.  Isi kitab Al-Barzanji berisi: kisah lahir Nabi Muhammad SAW, silsilah keluarga nabi sampai Nabi Adam AS, perjalanan hidup, sifat mulia, dan mukjizat nabi, berisi shalawat dan doa pujian kepada Nabi Muhammad SAW.      Waktu pembacaan kitab Al-Barzanji, biasanya ketika peeringatan Maulid Nabi SAW., acara 'Marhaba' cukur rambut bayi atau akikah, ketika syukuran dan doa penolak bala. Berikut ada salah satu puisi terkait puncak sebuah kerinduan seorang Muslim terhadap kekasih Allah Rasululullah Muhammad SAW.:

PUNCAK TERTINGGI SEBUAH KERINDUAN

Puncak tertinggi sebuah kerinduan,

bukanlah pada jauhnya perjalanan,

bukan pula pada indahnya pertemuan,

melainkan ketika hati bersimpuh dalam Mahalul Qiyam,

menyebut namamu dengan penuh kecintaan,

wahai junjungan, kekasih Allah,

Rasulullah Muhammad SAW

 

Dalam lantunan Al-Barzanji,

kami mengenang jejak langkahmu,

menyusuri sirah penuh cahaya,

menyebut akhlakmu yang mulia,

hingga air mata jatuh tanpa terasa, karena rindu yang tak mampu terucap

oleh kata-kata.

 

Ya Allah…

jika langkah kami terlalu jauh,

dekatkanlah kami kepada kekasih-Mu.

Jika hati kami masih penuh kekurangan,

sucikanlah dengan cinta kepada Rasul-Mu.

Jika amal kami belum sempurna,

limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu.

 

Ya Allah, pertemukan dan satukanlah kami

dengan kekasih-Mu, Rasulullah Muhammad SAW

di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.

 

Berkahilah setiap lantunan shalawat kami,

selamatkanlah kami dalam kehidupan dan kematian,

teguhkanlah hati kami di jalan kebaikan,

dan jadikanlah Al-Barzanji

bukan sekadar lantunan di bibir,

tetapi cahaya yang hidup

di dalam hati dan perilaku kami.

 

Rasulullah SAW

namamu kami sebut dalam kerinduan,

sirahmu kami kenang dalam kecintaan,

shalawat kepadamu kami lantunkan

dengan penuh harapan.

 

Semoga kelak,

di hari ketika segala kerinduan menemukan jawabnya,

Allah mempertemukan kami denganmu

dalam naungan rahmat-Nya,

di taman-taman surga-Nya,

bersama orang-orang yang mencintaimu.

 

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad,

wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

 

Wahai Allah…

jadikan cinta kepada Rasul-Mu

sebagai jalan menuju cinta-Mu,

dan jadikan kerinduan ini

sebagai doa yang Engkau kabulkan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    

Kitab Al-Barzanji berisi kisah hidup, silsilah keturunan, pujian, serta doa untuk Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bentuk prosa dan puisi bersastra tinggi untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah.      Pokok isi kitab Al-Barzanji, berisi: Silsilah Nabi, yang memuat nasab atau garis keturunan mulia Nabi Muhammad SAW hingga ke leluhur, kisah Kelahiran, yakni menceritakan detik-detik kelahiran, tanda-tanda kenabian, dan peristiwa masa kecil beliau, lalu perjalanan hidup menjelaskan masa remaja, dewasa, pernikahan dengan Siti Khadijah, hingga menerima wahyu, setelah itu bagian Dakwah dan Wafat, mengisahkan perjuangan menyebarkan Islam hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW. Terakhir, bagian Shalawat dan Doa, yakni berisi untaian pujian, kasidah, dan doa penutup.

Sumber: https://id.pinterest.com/ideas/kaligrafi-nabi-muhammad-saw/893354113793/

Ada banyak kitab yang menjelaskan kisah-kisah Nabi Muhammad Saw, mulai dari kelahirannya dan perjalanan dakwahnya. Salah satu kitab yang populer dinegeri ini yaitu Kitab Maulid Al-Barzanji, kitab yang berisikan kisah perjalanan Rasullulah saw, puji-pujian kepadanya, serta doa-doa.  Tidak hanya dijadikan bacaan ketika merayakan hari kelahiran Nabi saw, Maulid Barzanji juga dijadikan rutinan setiap malam Jumat atau malam Senin oleh mayoritas masyarakat, terutama warga Nahdliyin.  Kitab Maulid yang satu ini tersebar ke pelosok negeri, mulai dari Arab dan semua negara Islam. Bahkan banyak kita jumpai orang-orang yang menghafalnya.  Maulid Barzanji memiliki nama khusus, yaitu ‘Iqdul Jauhar fî Maulidin Nabiyyil Azhar, yang disusun untuk meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw. Namun seiring perkembangan zaman, kemudian lebih masyhur dengan sebutan Maulid Barzanji dengan penisbatan kepada penulisnya.

 
Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aplikita.maulid_barzanji_paling_lengkap&hl=id&pli=1

Biografi singkat penyusun kitab Al-Barzanji bernama lengkap Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau kelahiran Madinah al-Munawwarah pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan bersama dengan kakeknya di Baqi’ mennjadi satu dengan keturunan Rasulullah saw yang lain. (Muhammad al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashih wa I’tinâ’, halaman 12). Beliau memiliki nasab yang suci dan luhur, yaitu keturunan Rasulullah saw melalui jalur Sayyid Baqir bin Sayyid Zainal ‘Abidin ibn Sayyidina ‘Ali ra dan Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulillah saw. Menurut Syekh Nawawi Banten, nasab yang dimiliknya akan menjadi penyelamat kelak di akhirat dari siksa neraka dengan segala kesengsaraannya. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Madârijus Shu’ûd ilâ  Iktisâ’il Burûd, [Semarang, Thoha Putra], halaman 3).

Sayyid Ja’far al-Barzanji tumbuh besar dengan keilmuan. Semua waktu digunakannya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan menghafal hadits sekaligus memahaminya. Dalam catatan sejarahnya, Sayyid Ja’far menghafal Al-Quran 30 Juz kepada Syaikh Ismail al-Yamani dan ditashih kepada Syekh Yusuf al-Asha’idi. Setelah Al-Qur’an dihafalnya, ia mulai belajar ilmu tafsir Al-Qur’an dan hadits). Selanjutnya mempelajari berbagai cabang-cabang ilmu lainnya kepara ulama di Masjid Nabawi. Di antara guru-gurunya ialah Syekh ‘Atha-Allah bin Ahmad al-Azhari, Syekh Abdul Wahab ath-Thanthawi al-Ahmadi, Syekh Ahmad al-‘Asybuli dan ulama besar lainnya. Setelah semua cabang ilmu Islam dipelajari olehnya, ia menjadi ulama yang sangat alim yang diakui keluasan ilmunya oleh berbagai ulama. 

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dalam menuntut ilmu, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti (ahli fatwa) mazhab Syafi’iyah di Madinah, yaitu saat usianya mencapai 31 tahun, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Qhat’ani:

 وَعُمْرُهُ إِحْدَى وَثَلَاثِيْنَ عَامًا ثُمَّ صَارَ مُفْتِي الشَّافِعِيَّةِ فِي الْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ وَخَطِيْبًا فَقَدْ كَانَ يَخْطُبُ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِي الشَّرِيْفِ

“Dan pada umur 31 tahun, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti ulama mazhab Syafi’iyah di kota Madinah al-Munawwarah, dan juga menjadi khatib di Masjid Nabawi yang mulia.” (Al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashîh wa I’tinâ’, halaman 12).  Sayyid Ja’far al-Barzanji merupakan ulama yang punya suara merdu, tampan rupawan, mulia perilakunya, sangat sopan, tinggi cita-citanya, bersungguh-sungguh ketika membahas ilmu, dapat dipercaya. Karenanya banyak orang meminta pendapat dan fatwa kepadanya karena keluasan ilmunya.   Syekh Abil Fadl Muhammad Khalil bin ‘Ali al-Muradi menyifati Sayyid Ja’far sebagai figur kharismatik yang sangat mulia dan sangat alim, dan satu-satunya ulama luar biasa pada zamannya. Al-Muradi mengatakan:

 

هُوَ الْمُدْنِي الشَّافِعِي الشَّيْخُ الفَاضِلُ العَالِمُ البَارِعُ الأَوْحَدُ المُتَفَنِّنُ مُفَتِي السَّادَةِ الشَّافِعِيَّةِ بِالْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةِ. وَكَانَ فَرْدًا مِنْ أَفْرَادِ الْعُصْرِ

“Ia (Sayyid Ja’far al-Barzanji) adalah ulama Madinah, bermazhab Syafi’i, seorang syekh, orang mulia, alim, orator ulung, satu-satunya yang menguasai berbagai cabang ilmu, mufti para syadah mazhab Syafi’iyah di Madinah an-Nabawiyah. Ia juga menjadi satu-satunya ulama (yang memenuhi kriteria tersebut) pada zamannya.” (Al-Muradi, Silkud Durâr fî A’yânil Qurûnits Tsâni ‘Asyar, [Beirut, Dârul Basyâ-iril Islâmiyyah, cetakan ketiga: 1988], juz I, halaman 293).

Sekilas Maulid Barzanji

Pujian-pujian yang ditulis oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji murni atas dasar kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad saw sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada nabinya. Secara ringkas Maulid Barzanji memiliki paparan sebagai berikut:

·         menjelaskan silsilah keturunan Nabi Muhammad saw sampai pada moyangnya yang bernama ‘Adnan;

·         menjelaskan masa kecil dan kelebihannya saat itu;

·         mengisahkan kisah Nabi Muhammad saw saat ikut berdagang bersama pamannya ke kota Syam ketika berumur 12 tahun;

·         pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah ra pada umur 25 tahun; dan

·         pengangkatannya menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan dakwah Islamnya sampai umur 62 tahun.

·         Kemudian di akhir tulisan menjelaskan kewafatan Rasulullah saw setelah semua tugasnya selesai secara sempurna.

Maulid Barzanji juga menjelaskan beberapa keistimewaan saat kelahiran Nabi Muhammad saw. Di antaranya, ia lahir dalam keadaan langsung bersujud dan dalam keadaan bercelak. Dalam waktu yang sama berbagai simbol-simbol kemusyrikan dihancurkan oleh Allah, seperti hancurnya kerajaan Kisra yang besar, padamnya api sesembahan orang-orang Majusi yang diyakini tidak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun. Di saat itu pula, semua hewan dan dan makhluk selain manusia merasakan kemuliaan dan keagungannya. Hal ini ditandai dengan berbuahnya semua pohon-pohon yang tidak pernah berbuah dalam rangka menghormat dan menyambut kelahiran makhluk paling baik dan paling mulia. 

Keutamaan Maulid Barzanji

 Syekh Muhammad Nawawi Banten, dalam kitab Madârijus Shu’ûd mengatakan, Maulid Barzanji laksana media yang mampu menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan (sihrul halâl) dan orang yang membacanya akan mendapatkan keridhaan dari Allah swt. (Al-Bantani, Madârijus Shu’ûd, halaman 3).   Syekh Nawawi Banten seolah hendak mengatakan, dengan membaca Maulid Barzanji orang akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak, di antaranya akan digampangkan semua urusannya, sebagaimana sihir, namun Maulid Barzanji seolah sihir yang halal. Jika tujuan membacanya agar terhindar dari penyakit, maka ia akan dijauhkan dari penyakit oleh Allah swt. Tidak hanya itu, dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan kehormatan berupa keridhaan dari Allah SWT.

Cara Bacanya

Cara membacanya secara khusus yaitu dengan beberapa tahap sebagai berikut: Pertama, membaca surat al-Fatihah dihadiahkan kepada Rasulullah saw dan Sayyid Ja’far al-Barzanji.  Kedua, mengajak orang lain untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Rasulullah saw, sekaligus menyampaikan kepada mereka bahwa dengan membaca shalawat oleh Allah akan diberikan ganjaran berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya, dengan membaca bacaan sebagai berikut:

اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّي * وَيُسَلِّمُ وَيُبَارِكُ عَلَيه  

“Surga dan segala kenikmatannya merupakan kebahagiaan bagi orang-orang yang bershalawat, mendoakan keselamatan dan keberkahan baginya (Nabi Muhammad saw).”

Ketiga, setiap berpindah dari satu bab ke bab lain, sebagaimana tertera dalam Maulid Barzanji, diakhiri dengan membaca bacaan berikut:

عَطِّرِ اللهم قَبْرَهُ الكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَدِيٍ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْه  

“Ya Allah, berikanlah wewangian pada kuburnya yang mulia, dengan wangian dari shalawat dan salam. Ya Allah, berilah shalawat, salam dan keberkahan kepadanya.”

Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada hari Senin, 12 Rabiulawal, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah, sekitar tahun 570 - 571 Masehi. Beliau berasal dari Bani Hasyim, bagian dari suku Quraisy. Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum beliau lahir. Setelah kelahirannya, Nabi Muhammad SAW kemudian diasuh oleh Halimah As-Sa'diyah pada masa kecilnya. Ketika berusia enam tahun, ibunda beliau, Aminah, wafat. Selanjutnya beliau berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian pamannya, Abu Thalib.      Sejak kecil, Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau dikenal sebagai Al-Amin, yang berarti orang yang terpercaya. Kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan beliau menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Sejak saat itu, beliau menjalankan tugas sebagai Rasulullah untuk menyampaikan ajaran Islam, mengajak manusia menyembah Allah SWT, meninggalkan kemusyrikan, serta membangun kehidupan yang berlandaskan akhlak mulia.

 
Sumber: https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8089023/maulid-nabi-2025-berapa-hijriah

Keutamaan Membaca Shalawat

Shalawat merupakan bentuk penghormatan, doa, dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Membaca shalawat memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1.       Mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

2.       Menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Semakin sering mengingat dan bershalawat kepada beliau, semakin tumbuh rasa cinta terhadap pribadi, perjuangan, dan akhlak Rasulullah SAW.

3.       Menjadi sarana mengingat keteladanan Rasulullah.

Shalawat seharusnya tidak hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi juga mendorong kita meneladani kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan akhlak beliau.

4.       Mendapatkan ketenangan hati.

Mengingat Allah dan Rasul-Nya dapat menjadi bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah serta menenangkan hati.

5.       Menjadi ungkapan syukur atas diutusnya Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW membawa risalah Islam, mengajarkan tauhid, serta menjadi teladan bagi umat manusia.

Renungan

Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan mengenal sirahnya, memperbanyak shalawat, mencintai ajarannya, dan berusaha meneladani akhlaknya.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

 “Semoga setiap shalawat yang kita lantunkan menjadi jalan tumbuhnya cinta kepada Rasulullah SAW, cahaya bagi hati, dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

صَلَّى اللهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW.”

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

     Semoga shalawat yang kita lantunkan menjadi ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW dan menguatkan keinginan kita untuk mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak beliau. Semoga kita mendapatkan Syafaat Rasulullah SAW. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.

 

Sumber Rujukan:

-          Al-Barzanji, Sayyid Ja‘far bin Hasan. ‘Iqd al-Jawāhir fī Mawlid an-Nabiyy al-Azhar (Maulid al-Barzanji). - sebagai sumber utama mengenai isi, sirah, pujian, shalawat, dan doa dalam Maulid Al-Barzanji.

-          Al-Bantani, Muhammad Nawawi. Madārijus Shu‘ūd ilā Iktisā’il Burūd. Semarang: Thoha Putra. — sebagai rujukan yang digunakan dalam pembahasan tentang Sayyid Ja‘far al-Barzanji dan penjelasan mengenai Maulid Barzanji.

-          Al-Qhat‘ani, Muhammad. Maulidul Barzanji Tashīh wa I‘tinā’. Libya: Tajoura, 2013 M/1434 H. - sebagai rujukan biografi Sayyid Ja‘far al-Barzanji, termasuk kelahiran, wafat, pendidikan, dan kedudukannya sebagai ulama.

Minggu, 23 Agustus 2026

Short Story

 HIDUP JANGAN CUMA SCROLL, SESEKALI SOLVE

Oleh: Dera Anisa Ratnasari, S.Pd *)

Pagi di Pangalengan selalu punya cara sendiri untuk membangunkan orang. Udara dingin yang menyelinap dari celah jendela, kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan, dan suara kendaraan yang sesekali melewati jalan menuju sekolah membuat suasana pagi terasa berbeda.

Namun, bagi Liliana Cahya Ramdhani, semua itu bukan hal pertama yang ia lihat setiap pagi.

Yang pertama ia lihat adalah layar HP.

Alarm berbunyi pukul 05.00. Lili mematikan alarm, membuka Instagram, lalu berpindah ke TikTok. Awalnya hanya berniat melihat satu video. Lima belas menit kemudian, ia masih berada di tempat tidur.

“Lili! Bangun! Nanti kesiangan!”

Suara ibunya terdengar dari luar kamar.

“Iya, Bu!”

Lili bangkit dengan malas. Tangannya masih menggenggam HP.

Satu video lagi. Satu story lagi. Satu komentar lagi.

Begitulah setiap pagi.

Dan entah sejak kapan, “sebentar” menjadi satu jam.

1. KEHIDUPAN YANG ADA DI DALAM LAYAR 

 
Lili adalah siswi kelas XI yang sebentar lagi akan memasuki kelas XII di SMAN 1 Pangalengan. Ia sebenarnya bukan anak yang malas.

Kalau sedang tertarik pada sesuatu, ia bisa sangat bersemangat. Ia suka bercanda, mudah bergaul, dan punya banyak teman. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang sebenarnya punya kemampuan, hanya saja sering kehilangan fokus.

Masalahnya cuma satu.

HP.

Atau mungkin lebih tepatnya, cara Lili menggunakan HP.

Di sekolah, Lili hampir selalu membawa HP di tangannya. Saat menunggu guru datang, scroll. Saat istirahat, scroll. Saat menunggu teman membeli makanan di kantin, scroll. Bahkan saat guru sedang menjelaskan sesuatu yang menurutnya “sudah pernah dibahas”, HP menjadi tempat pelarian yang paling mudah.

Hari itu, Lili duduk di bangku dekat jendela bersama sahabatnya, Naya. Di luar kelas, langit Pangalengan terlihat mendung. Angin dingin masuk melalui jendela yang terbuka dan membuat tirai bergerak perlahan.

“Li, besok belajar, kan?”

“Belajar apa?”

“Matematika.”

“Ah, masih lama.”

“Besok ulangan.”

“Justru karena besok.”

Naya menatapnya heran. “Logika dari mana?”

“Kan kalau sekarang belajar, nanti lupa.”

Naya tertawa kecil. “Alasan.”

Lili hanya terkekeh sambil kembali menggeser layar.

Di layar HP-nya, seorang influencer sedang bercerita tentang perjalanan masuk universitas impiannya.

“Kalian harus mulai mempersiapkan masa depan sejak sekarang...”

Lili menonton sampai selesai.

Aneh.

Ia bisa menghabiskan sepuluh menit mendengarkan orang lain berbicara tentang masa depan, tetapi tidak sanggup menghabiskan sepuluh menit mengerjakan soal untuk masa depannya sendiri.

2. ANGKA 43 

 
Dua hari kemudian, kelas terasa lebih sunyi dari biasanya. Guru matematika berdiri di depan kelas sambil membawa tumpukan kertas ulangan. Suara kertas yang dibolak-balik terdengar jelas di tengah ruangan.

Lili duduk sambil memainkan ujung pulpen. Ia sebenarnya sudah tahu bahwa hasil ulangannya tidak akan bagus. Tetapi ia tetap berharap ada keajaiban.

Satu per satu kertas dibagikan. Sampai akhirnya sebuah kertas berhenti di mejanya.

Lili melihat angka di pojok kanan atas.

43.

Ia terdiam. Untuk beberapa detik, suara kelas seperti menghilang.

Tidak ada suara kursi. Tidak ada suara teman. Tidak ada suara guru. Yang ada hanya angka itu.

43.

Angka yang terasa seperti tamparan.

Naya melirik. “Li, berapa?”

“Biasa.”

“Biasa itu berapa?”

Lili buru-buru membalik kertas. “Udah, jangan kepo.”

Naya tertawa. “Jangan-jangan empat puluh.”

Lili langsung menatapnya. “Kenapa sih?”

Naya terdiam. “Aku cuma bercanda.”

“Tapi dari kemarin kamu kayak nge-judge aku terus.”

“Lho?”

“Ya udah.”

Lili memasukkan kertas ulangan ke dalam buku.

Percakapan selesai. Tapi perasaan tidak.

Sepanjang pelajaran berikutnya, Lili terus memikirkan perkataan Naya. Ia tahu Naya sebenarnya tidak bermaksud jahat. Namun ketika seseorang sedang kecewa pada dirinya sendiri, candaan sekecil apa pun bisa terdengar seperti sindiran.

3. SATU STORY, SERIBU KESIMPULAN

Beberapa hari setelah kejadian itu, hubungan Lili dan Naya mulai terasa berbeda. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya jarak kecil yang semakin lama semakin terasa.

Naya mulai sering belajar bersama Salsa, teman sekelas mereka. Mereka beberapa kali terlihat duduk di perpustakaan sambil membuka buku dan laptop.

Lili melihat semuanya. Awalnya ia tidak peduli. Setidaknya, itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Sampai suatu sore, ketika sedang rebahan di kamar, Lili melihat story Naya. Sebuah foto meja belajar. Ada buku matematika, dua botol minuman, dan laptop.

Caption-nya: “Study date. Semoga kita survive kelas XII.”

Lili menatap layar. Dadanya terasa tidak nyaman.

Study date sama Salsa?

Ia menekan layar sekali lagi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama dirinya.

Lili mulai berpikir macam-macam.

Jadi sekarang dia lebih nyaman sama Salsa? Berarti selama ini aku cuma teman kalau dia butuh? Atau jangan-jangan dia memang sudah bosan berteman sama aku?

Semakin dipikirkan, semakin banyak kesimpulan yang muncul.

Tanpa bertanya. Tanpa memastikan.

Lili membuat story sendiri: “Lucu ya, ada orang yang berubah setelah merasa punya circle baru.”

Ia menekan tombol unggah.

Beberapa menit kemudian, muncul balasan dari Naya: “Kalau mau ngomong, ngomong langsung.”

Lili langsung mengetik: “Nggak perlu. Aku sudah ngerti.”

Balasan datang cepat: “Ngerti apa?”

Lili menatap layar. Jarinya mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya menulis: “Udahlah.”

Ia mengunci HP. Namun lima menit kemudian, ia membukanya lagi. Tidak ada balasan.

Sepuluh menit. Masih tidak ada.

Lili membuka Instagram. Naya baru saja mengunggah story lain. Lili menatapnya, lalu mematikan HP.

Tetapi pikirannya tetap menyala.

4. MASALAH YANG MEMBESAR KARENA DIAM 

 
Keesokan harinya, suasana kelas terasa aneh. Lili duduk bersama teman-teman lain. Naya juga tidak menghampirinya.

Di grup kelas, pesan mengenai tugas kelompok mulai berdatangan.

Naya: “Bagian Lili sudah selesai?”

Lili membaca pesan itu. Ia merasa Naya sengaja menyindirnya di grup.

Ia membalas: “Tanya aja langsung ke orangnya.”

Beberapa detik kemudian grup menjadi sepi.

Lili menyesal. Tapi gengsi membuatnya tidak mau menghapus pesan itu.

Siangnya, guru meminta setiap kelompok mengumpulkan tugas. Ternyata bagian yang seharusnya dikerjakan Lili belum selesai.

Naya marah.

“Kita sudah kasih tahu dari kemarin.”

“Bukannya kamu yang nggak ngasih tahu?”

“Aku sudah kirim di grup.”

“Aku nggak lihat.”

“Ya karena kamu nggak baca!”

Kalimat itu membuat Lili terdiam. Ia tahu Naya benar. Tetapi mendengar kalimat itu tetap menyakitkan.

“Ya udah. Aku salah.”

Lili pergi.

Di koridor sekolah, langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia ingin menangis, tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Yang lebih menyebalkan adalah satu hal:

Lili tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia marahi.

Naya? Salsa? Nilainya? Atau dirinya sendiri?

5. KELAS XII SEMAKIN DEKAT

Waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun. Semester berganti. Kelas XII semakin dekat.

Di sekolah, pembicaraan mulai dipenuhi kata-kata seperti TKA, ujian, perguruan tinggi, jurusan, seleksi masuk, dan masa depan.

Teman-teman Lili mulai berubah. Ada yang membuat jadwal belajar. Ada yang mengikuti bimbingan belajar. Ada yang mulai mencari informasi kampus. Ada yang sudah tahu ingin menjadi dokter, guru, psikolog, arsitek, atau pengusaha.

Lili?

Ia masih belum tahu.

Setiap kali ditanya cita-citanya, jawabannya berubah. “Kayaknya psikologi.” Besoknya: “Kayaknya komunikasi.” Minggu berikutnya: “Belum tahu.”

Sebenarnya bukan tidak punya cita-cita. Lili hanya takut memilih.

Takut salah. Takut gagal. Takut tidak cukup pintar.

Dan yang paling ia takutkan adalah melihat teman-temannya melangkah lebih cepat sementara dirinya masih berdiri di tempat.

Malam itu, Lili membuka media sosial. Satu teman mengunggah sertifikat lomba. Teman lain mengunggah hasil try out. Teman lain lagi memamerkan persiapan kuliah.

Lili semakin merasa tertinggal. Ia scroll lebih cepat.

Tetapi semakin cepat ia scroll, semakin banyak hal yang membuatnya merasa kurang.

Akhirnya HP diletakkan di samping bantal. Lili menatap langit-langit kamar.

“Kenapa hidup orang lain kelihatannya gampang banget?”

Tidak ada yang menjawab.

6. PERCAKAPAN DENGAN IBU 

 
Malam semakin larut. Rumah sudah sunyi ketika ibunya masuk ke kamar. Lampu kamar Lili masih menyala.

“Belum tidur?”

“Belum, Bu.”

“Belajar?”

Lili terdiam. Ibunya melihat meja belajar. Buku matematika masih tertutup.

“Besok ada ulangan?”

“Iya.”

“Sudah belajar?”

Lili menggeleng.

Ibunya duduk di samping tempat tidur. Tidak marah. Tidak mengomel.

Justru ketenangan itu membuat Lili semakin merasa bersalah.

“Kamu sudah mau kelas XII, Li.”

“Iya.”

“Ibu nggak minta kamu harus selalu dapat nilai bagus.”

Lili menatap ibunya.

“Tapi Ibu ingin kamu bertanggung jawab sama pilihanmu sendiri.”

Lili diam.

“Kalau kamu mau main HP, silakan. Kalau mau istirahat, silakan. Tapi kamu juga harus siap menerima akibat dari pilihan itu.”

Kalimat itu sederhana. Namun malam itu terasa berat.

Setelah ibunya keluar, Lili mengambil kertas ulangannya.

43.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat angka itu sebagai nilai matematika. Ia melihatnya sebagai hasil dari pilihan-pilihannya.

Ia tidak belajar. Ia terlalu sering scroll. Ia menunda. Ia menghindari hal yang sulit.

Dan sekarang hasilnya ada di tangannya.

Lili menarik napas.

“Berarti yang harus diperbaiki bukan cuma nilai.”

7. SOLVE 

 
Besok paginya, Lili datang lebih awal. Udara sekolah masih dingin. Lapangan belum terlalu ramai. Beberapa siswa baru datang dan berjalan menuju kelas sambil membawa tas.

Lili menemukan Naya di perpustakaan.

“Nay.”

Naya menoleh.

“Aku mau ngomong.”

“Kenapa?”

Lili duduk di depannya.

“Aku minta maaf.”

Naya diam.

“Aku salah karena langsung menyimpulkan kamu ninggalin aku gara-gara Salsa.”

Naya menghela napas.

“Aku juga salah.”

Lili mengerutkan kening.

“Aku kira kamu marah sama aku karena nilai kamu jelek.”

Lili tertawa kecil.

“Jadi kita berdua sama-sama salah paham?”

“Iya.”

Mereka saling diam. Kemudian tertawa.

Ternyata study date itu memang hanya belajar bersama. Naya sedang meminta bantuan Salsa membuat jadwal belajar untuk menghadapi kelas XII.

Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada sahabat baru yang menggantikan siapa pun.

Hanya dua orang sahabat yang sama-sama terlalu cepat menyimpulkan.

Lili menghela napas lega.

Namun Naya kemudian bertanya, “Terus nilai kamu gimana?”

Lili langsung cemberut.

“Jangan bahas itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku malu.”

Naya tersenyum.

“Kalau mau, kita belajar bareng.”

Lili menatap buku matematika di meja.

“Boleh.”

8. TIDAK ADA PERUBAHAN DALAM SEMALAM

Lili mulai membuat aturan sederhana. Bukan aturan yang sempurna. Hanya realistis.

Sebelum membuka media sosial, ia harus belajar setidaknya satu jam.

HP diletakkan jauh dari meja. Notifikasi dimatikan.

Kalau tidak mengerti, bertanya. Kalau salah, mencari tahu. Kalau lelah, istirahat.

Dan yang paling sulit: tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.

Hari pertama tidak mudah. Lima belas menit belajar, tangannya ingin mengambil HP.

Hari kedua lebih baik.

Hari ketiga ia malah menghabiskan waktu menonton video motivasi tentang cara belajar efektif. Setelah satu jam menonton, ia baru sadar bahwa ia belum belajar.

“Ya ampun.”

Ia tertawa sendiri.

Ternyata kebiasaan tidak hilang hanya karena seseorang sudah berniat berubah.

Tetapi Lili mulai belajar satu hal penting:

Perubahan bukan tentang tidak pernah gagal. Perubahan adalah tentang kembali mencoba setelah gagal.

9. SOAL YANG SULIT

Suatu sore, Lili dan Naya belajar di perpustakaan. Di luar, hujan turun cukup deras. Atap sekolah terdengar dipukul oleh ribuan tetes air. Udara semakin dingin.

Lili menatap satu soal matematika selama hampir sepuluh menit.

“Aku nggak ngerti.”

Naya melihat bukunya.

“Coba dari langkah pertama.”

“Udah.”

“Terus?”

“Salah.”

“Ya perbaiki.”

Lili menghela napas.

“Aku benci matematika.”

Naya tertawa.

“Bukan matematikanya yang kamu benci.”

“Terus?”

“Kamu benci perasaan ketika nggak bisa.”

Lili terdiam. Kalimat itu tepat sasaran.

Ia memang sering menghindari sesuatu bukan karena tidak suka, tetapi karena takut merasa bodoh.

Akhirnya Lili mencoba lagi. Satu langkah. Salah. Diperbaiki. Langkah kedua. Salah lagi. Diperbaiki.

Sampai akhirnya jawabannya ditemukan.

Lili menatap buku.

“Eh.”

Naya tersenyum. “Kenapa?”

“Bener.”

“Terus?”

Lili tersenyum lebar.

“Aku bisa.”

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari scrolling: kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuatu.

10. HARI UJIAN 

 
Beberapa bulan kemudian, suasana sekolah berubah. Kelas XII semakin dekat dengan berbagai ujian dan asesmen. Jadwal belajar semakin padat. Guru-guru mulai memberikan latihan lebih banyak.

Lili masih merasa takut. Ia masih belum yakin dengan masa depannya. Ia masih kadang membuka HP terlalu lama.

Namun sekarang ia tidak lagi membiarkan satu kesalahan menentukan seluruh harinya.

Hari ujian tiba. Pagi itu langit Pangalengan terlihat cerah. Udara dingin terasa lebih segar dari biasanya.

Lili duduk di kelas. Tangannya sedikit berkeringat.

Lembar soal dibagikan.

Ia membalik kertas.

Soal pertama. Sulit.

Soal kedua. Lebih sulit.

Jantungnya berdebar.

Untuk beberapa detik, pikiran lamanya muncul.

Aku nggak bisa.

Namun ia berhenti. Ia menarik napas.

Kemudian mengingat sesuatu.

“Kalau belum menemukan jawaban, bukan berarti tidak ada jalan. Cari dulu masalahnya.”

Lili mulai mengerjakan.

Satu soal. Dua soal. Tiga soal.

Tidak semuanya mudah. Tidak semuanya bisa dijawab.

Tetapi ia tidak menyerah.

11. SETELAH SEMUA SELESAI

Selesai ujian, Lili keluar kelas bersama Naya.

“Gimana?”

“Jujur?”

“Jujur.”

“Beberapa soal bikin otak aku mau resign.”

Naya tertawa.

“Tapi?”

Lili tersenyum.

“Tapi aku ngerjain.”

Mereka berjalan menyusuri koridor. Beberapa siswa terlihat membicarakan soal ujian. Ada yang tertawa, ada yang mengeluh, ada yang sibuk membandingkan jawaban.

Lili mengambil HP dari dalam tas. Layar menyala. Notifikasi masuk bertubi-tubi.

Ia membuka Instagram.

Jempolnya bergerak otomatis.

Scroll.

Satu video.

Kemudian berhenti.

Lili memandang layar cukup lama. Ia teringat dirinya beberapa bulan lalu.

Gadis yang menghabiskan waktu berjam-jam melihat kehidupan orang lain. Gadis yang mudah membandingkan diri. Gadis yang marah karena salah paham. Gadis yang mendapatkan nilai 43 karena memilih tidak belajar.

Ia tersenyum kecil.

Lalu mematikan HP.

“Kenapa nggak scroll?” tanya Naya.

Lili memasukkan HP ke dalam tas.

“Boleh scroll.”

Naya mengangkat alis.

“Tapi?”

Lili tersenyum.

“Hidup aku jangan sampai cuma di situ.”

12. JAWABAN YANG TIDAK ADA DI BUKU 

 
Mereka berjalan menuju halaman sekolah. Angin Pangalengan bertiup pelan. Dari kejauhan terlihat pepohonan yang bergerak mengikuti arah angin. Suara siswa bercampur dengan suara kendaraan dan aktivitas sekolah.

Lili berhenti sebentar. Ia melihat sekolahnya.

Tempat yang beberapa bulan terakhir menjadi saksi banyak hal: nilai yang buruk, pertengkaran, kesalahpahaman, rasa takut, tawa, belajar, dan perubahan kecil yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Ia membuka aplikasi catatan di HP. Kemudian menulis:

“Hidup itu seperti matematika. Tidak semua soal mudah. Tidak semua jawaban langsung ditemukan. Kadang kita salah menghitung. Kadang kita harus mengulang dari awal. Kadang kita perlu bantuan orang lain.

Tapi satu hal yang pasti: kalau masalah hanya di-scroll, masalah itu tidak akan selesai.

Sesekali berhenti.

Pikirkan.

Cari tahu.

Kerjakan.

Solve.”

Lili membaca kembali tulisannya. Kemudian tersenyum.

Ia akhirnya memahami bahwa solve bukan hanya tentang menyelesaikan soal matematika.

Solve adalah ketika ia berani mengakui bahwa dirinya salah.

Solve adalah ketika ia memilih berbicara daripada membuat asumsi.

Solve adalah ketika ia belajar meskipun takut gagal.

Solve adalah ketika ia berhenti membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Dan solve adalah ketika ia sadar bahwa masa depan tidak akan berubah hanya karena ia terus menontonnya dari layar.

Masa depan harus dikerjakan.

Sedikit demi sedikit.

Satu langkah demi satu langkah.

Seperti mengerjakan soal matematika.

Lili memasukkan HP ke dalam tas.

“Yuk,” katanya.

“Ke mana?”

“Belajar.”

Naya menatapnya tidak percaya.

“Baru selesai ujian masih mau belajar?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Ngobrol dulu. Habis itu belajar.”

Naya tertawa.

“Lima menit?”

Lili menggeleng.

“Dua jam.”

“Ini benar-benar Lili?”

Lili tersenyum.

“Versi update.”

Mereka berjalan sambil tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, Lili tidak sedang mengejar kehidupan orang lain melalui layar.

Ia sedang menjalani kehidupannya sendiri.

Dengan segala kekurangannya. Dengan segala masalahnya. Dengan segala ketakutannya.

Karena pada akhirnya, hidup tidak pernah menjanjikan semua soal akan mudah.

Tetapi selalu ada pilihan untuk mencoba mencari jalan keluar.

Jangan cuma scroll kehidupan orang lain.

Sesekali, solve kehidupanmu sendiri.

Hidup jangan cuma scroll. Sesekali solve.

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi menjadi Staf Kurikulum. Alumni SM3T ntuk Penugasan di wilayah Kepuauan Nias

MOMENTUM

  "MENJEMPUT CAHAYA CINTA - MENELADANI RASULULLAH MUHAMMAD SAW  MELALUI SIRAH DAN SHALAWAT” Oleh Tim Redaksi Literatsmansa   Sumber...