"Freedom is not free. Salute to those who made it possible and keep their spirit alive."..#abuafifi

Kamis, 20 Agustus 2026

Public Health

 TEKNOLOGI MEDIS RAMAH LINGKUNGAN

Oleh Diffo Dwiputra Herrist  *)


Manusia Merupakan Makhluk Hidup yang sejatinya merupakan Pengurai bahan baku yang sudah disediakan oleh alam. Manusia tidak dapat merubah senyawa sederhana menjadi senyawa kompleks yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi seperti tumbuhan sehingga dalam prakteknya, manusia lebih sering menimbulkan “barang sampingan” yang tidak dapat di olah Kembali. Dalam dunia medis, banyak sekali alat medis yang dapat digunakan hanya sekali contohnya masker, wadah spesimen biologis, atau bahkan sarung tangan dalam alat pelindung diri ( APD). Tentunya banyak dari alat tersebut yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme sehingga menimbulkan banyak kerusakan lingkungan.


 Sumber: https://hospitalsmagazine.com/single-use-medical-devices/

Pasca Pandemi COVID – 19, sampah yang dihasilkan dari program vaksinasi masal tidak dapat terkelola dengan baik, mengingat setiap harinya 7 Miliar Jarum suntik digunakan untuk mengobati beragam penyakit yang hanya dapat ditangani dirumah, mencakup diabetes, HIV, dan penyakit yang dapat menular melalui media plastic lainnya. Teknologi Medis Sudah berkembang pesat dari penemuan Antibiotik pertama dari Jamur Penicillium notatum pada tahun 1920, hingga saat ini manusia sudah dapat “membuat” dan memodifikasi bagian bagian tubuh. Terdapat banayk sekali Teknologi Medis yang sudah Ramah Lingkungan yang akhirnya dapat memecahkan masalah diatas.

Bioplastik

 
Sumber: https://ftmm.unair.ac.id/inovasi-ramah-lingkungan-dalam-sistem-pengiriman-obat/

Dalam dunia medis, bioplastic sudah banyak digunakan dalma keperluan medis karena sifatnya yang mudah terurai oleh mikroorganisme. Bioplastik di dapatkan dari hasil pemanfaatan selulosa dan pati dari tumbuhan yang dapat mereplikasi struktur polimer dari plastic yang dihasikan dari minyak bumi. Bioplastik biasanay diguankan dalam bentuk Alat Pelindung Diri, Penyangga Tulang Patah, atau bahakan benang jahit yang akan terurai dengan sendirinya.

 Hasil Uji SEM Bioplastik (Nomor 1) dan Plastik berbasis Minyak Bumi (Nomor 2)

 

Sumber :

https://www.researchgate.net/figure/Gambar-2-Morfologi-permukaan-bioplastik-pengamatan-dengan-SEM_fig1_310844627 (1)

https://www.researchgate.net/figure/Scanning-electron-microscopy-SEM-images-of-the-polythene-strips-degraded-by-the_fig6_301215855 (2)

Peralatan Medis Ramah Lingkungan

 Alat-alat medis sekali pakai seperti kantong infus, sarung tangan, dan perlak kini mulai dibuat dari bahan bioplastik (seperti pati singkong atau jagung). Bahan ini mudah hancur secara alami di tanah sehingga tidak menumpuk menjadi sampah plastik yang merusak alam. Bahkan, ada benang jahit luka dan penyangga tulang yang bisa melebur sendiri di dalam tubuh setelah pasien sembuh. Artinya, pasien tidak perlu dioperasi lagi hanya untuk melepas implan tersebut. Inovasi ini sangat membantu mengurangi tumpukan sampah medis berbahaya yang sulit terurai di bumi.

Pembersih Alat Medis Bebas Racun

Sterilisasi adalah proses membersihkan alat operasi dari kuman. Biasanya, proses ini menggunakan banyak air, listrik tinggi, atau gas kimia beracun. Teknologi baru ini menggantinya dengan gas karbondioksida (CO₂) yang diolah khusus hingga bisa membersihkan sela-sela alat medis yang rumit. Cara ini jauh lebih hemat energi dan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Selain aman bagi petugas kesehatan, gas CO₂ yang dipakai bisa ditangkap kembali dan digunakan ulang, sehingga tidak membuang racun ke udara bebas maupun mencemari lingkungan sekitar rumah sakit.

 
Sumber: https://internasional.republika.co.id/berita/qudox5423/karbon-dioksida-di-atmosfer-capai-tingkat-tertinggi-pada-mei

Pengolah Sampah Medis Gelombang Mikro

Mengolah sampah medis seperti bekas jarum atau perban biasanya dilakukan dengan cara dibakar di dalam tungku raksasa. Namun, pembakaran ini menghasilkan asap hitam beracun yang mengotori udara. Teknologi baru ini bekerja mirip seperti microwave di dapur. sampah dicacah kecil-kecil, diberi uap, lalu dipanaskan dengan gelombang mikro hingga seluruh kuman dan bakteri mati total. Hasil akhirnya adalah sampah aman yang sudah bebas kuman tanpa menghasilkan asap beracun, bau menyengat, atau polusi udara yang membahayakan pemukiman warga di sekitar rumah sakit.

Penyedot Gas Pembius Operasi

Saat pasien dioperasi, dokter menggunakan gas pembius agar pasien tertidur. Selama ini, sisa gas yang dihembuskan pasien langsung dibuang ke udara luar. Padahal, gas bius ini sangat berbahaya bagi lapisan ozon dan memicu pemanasan global. Dengan teknologi ini, ada alat khusus yang menyedot sisa gas bius langsung dari mesin operasi sebelum keluar ke udara. Gas tersebut ditangkap, disaring hingga bersih, lalu diolah kembali agar bisa dipakai lagi. Lingkungan jadi terhindar dari polusi udara, dan rumah sakit pun bisa menghemat biaya obat-obatan.

 
Sumber: https://www.bee.id/blog/tips-menghemat-biaya-operasional-perusahaan-yang-efektif/

Teknologi Medis Manusia sudah memiliki kecepatan eksponensial yanga sangat luar biasa. Hampir 3 Abad lalu, Dokter masih mengira bahwa bayi belum bisa merasakan rasa sakit, Tapi Pada Hari Ini kita melihat manusia sudah dapat melawan berbagai penyakit, bahkan menjadi “pencipta” bagian tubuh yang hilang. Semakin maju teknologi kita seharusnya sadar, bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam semesta, dan kita harus ikut menjaga kelestarian bumi agar masih bisa dinikmati hingga anak cucu nanti.

*)  Siswa Kelas XII-A3

Source :

Phadke, R., Costa, A. C. D. S., Dapke, K., Ghosh, S., Ahmad, S., Tsagkaris, C., Raiya, S., Maheswari, M. S., Essar, M. Y., & Ahmad, S. (2021). Eco-friendly vaccination: Tackling an unforeseen adverse effect. The Journal of Climate Change and Health, 1, Article 100005. https://doi.org/10.1016/j.joclim.2021.100005

American Society of Anesthesiologists. (2020). Greening the operating room: Environmental sustainability in anesthesia practice. American Society of Anesthesiologists.

Doyle, D. J., & L'Hommedieu, C. (2021). Anesthetic gas scavenging systems and climate change: Reducing the carbon footprint of the operating theater. British Journal of Anaesthesia, 126(3), 542–549. https://doi.org/10.1016/j.bja.2020.11.025

Health Care Without Harm. (2019). Global green and healthy hospitals: Guidance on non-incineration medical waste treatment technologies. Health Care Without Harm. https://noharm.org/

White, A., Bernhardt, A., & Matyjaszewski, K. (2022). Advances in supercritical carbon dioxide () sterilization for heat-sensitive polymeric medical devices. Journal of Applied Polymer Science, 139(12), Article e51890. https://doi.org/10.1002/app.51890

World Health Organization. (2020). WHO guidance for climate resilient and environmentally sustainable health care facilities. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240012226

Yilmaz, S., & Sezar, M. (2021). Evaluation of microwave disinfection systems for bio-hazardous healthcare waste management. Waste Management, 120, 312–321. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2020.11.045

 

Rabu, 19 Agustus 2026

Psycologica

 SCROLL 5 MENIT YANG BERUBAH MENJADI 3 JAM

Oleh Idris Baihaqi, S.Pd.

“Cuma lima menit.”

Pernah mengucapkan kalimat itu saat membuka TikTok, Instagram, YouTube Shorts, atau media sosial lainnya?. Awalnya memang hanya ingin melihat satu atau dua video. Namun, setelah satu video selesai, muncul video berikutnya. Kita scroll lagi. Ada yang lucu, menarik, atau sedang viral. Tanpa terasa, lima menit berubah menjadi 30 menit. Lalu satu jam. “Lho, kok sudah tiga jam?”

Sumber: https://unair.ac.id/mudahnya-akses-sosial-media-di-kalangan-mahasiswa/

Kenapa Sulit Berhenti?

Media sosial dirancang untuk membuat kita terus tertarik. Setiap kali melakukan scroll, selalu ada konten baru. Ketika menemukan sesuatu yang menarik, kita merasa senang dan ingin melihat konten berikutnya. Akibatnya muncul kebiasaan: “Satu video lagi.” Kemudian satu lagi. Dan satu lagi.

Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/05/124110520/cara-mengendalikan

Masalahnya bukan karena menggunakan media sosial. Media sosial juga memiliki banyak manfaat, seperti mendapatkan informasi, belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Masalah muncul ketika kita kehilangan kendali terhadap waktu. Coba Hitung Waktumu. Jika kamu scrolling selama 3 jam sehari, dalam seminggu waktunya mencapai sekitar 21 jam. Bayangkan jika sebagian waktu tersebut digunakan untuk membaca, belajar keterampilan baru, berolahraga, membantu orang tua, berkarya, atau beristirahat. Jadi, ketika mengatakan: “Saya tidak punya waktu.” Coba tanyakan kembali: “Benarkah saya tidak punya waktu, atau waktu saya habis tanpa saya sadari?”. Bukan HP yang Harus Disalahkan. HP hanyalah alat. Internet bisa digunakan untuk belajar. Media sosial bisa digunakan untuk berkarya dan mendapatkan informasi. Yang menentukan manfaat atau kerugiannya adalah cara kita menggunakan teknologi tersebut. Mulai sekarang, sebelum membuka media sosial, tanyakan: “Saya membuka HP untuk apa?”. Jika hanya karena bosan, coba tunggu beberapa menit dan lakukan kegiatan lain.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DVaKQKpESEe/

Kamu juga bisa mencoba:

Menggunakan batas waktu (screen time).

Mematikan notifikasi yang tidak penting.

Tidak membuka media sosial saat belajar.

Menyimpan HP ketika sedang berbicara dengan orang lain.

Menentukan waktu khusus untuk scrolling.

Ingat!

Kamu boleh menggunakan media sosial. Kamu boleh menikmati hiburan. Kamu boleh scrolling. Tetapi jangan sampai media sosial yang mengatur waktumu. Karena lima menit mungkin terasa sebentar. Namun jika dilakukan berulang-ulang setiap hari, waktu yang hilang bisa menjadi sangat besar.

Sumber: https://doralhw.org/the-psychology-of-the-scroll-how-social-media-quietly

REFLEKSI

Setelah membaca artikel ini, jawab dengan jujur:

1. Aplikasi apa yang paling sering membuatmu lupa waktu?

2. Berapa jam sehari kamu menggunakan HP untuk hiburan?

3. Jika kamu memiliki tambahan 1 jam setiap hari, ingin kamu gunakan untuk apa?

Kamu tidak harus berhenti scrolling. Kamu hanya perlu belajar kapan harus berhenti.


*) Guru PABP dan Konselor Bimbingan Karir di SMAN 1 Pangalengan. Praktisi Public Speaking. Wirausaha Muda di bidang Kuliner. Pengisi Kajian di Majelis Taklim Pangalengan.

**) dari beragam sumber


Selasa, 18 Agustus 2026

Financial Literacy

 FINANCIAL SURVIVAL UNTUK GENERASI MUDA

“Uangku, Pilihanku, Masa Depanku”

Oleh: Iwan Dwiwan, SE *)

A. Pengantar

Pernahkah kalian merasa uang saku baru diberikan, tetapi beberapa hari kemudian sudah habis? Pernahkah kalian membeli sesuatu hanya karena sedang diskon, ikut teman, melihat tren di media sosial, atau karena takut ketinggalan? Di sinilah pentingnya literasi keuangan. Literasi keuangan bukan berarti kita harus memiliki banyak uang. Literasi keuangan adalah kemampuan untuk memahami, mengatur, menggunakan, dan mengambil keputusan yang tepat terhadap uang yang kita miliki. Sebagai generasi muda, kemampuan mengelola uang merupakan salah satu keterampilan penting untuk menghadapi kehidupan di masa depan.

 
Sumber: https://artofhealthyliving.com/from-paycheck-to-purpose-a-smarter-way-to-manage-money/

B. Apa Itu Financial Survival?

Financial survival dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara mengelola sumber daya keuangannya secara bijak. Prinsip sederhananya:

“Bukan seberapa banyak uang yang kita punya, tetapi seberapa bijak kita menggunakannya.” Seorang pelajar mungkin belum memiliki penghasilan sendiri. Namun, mereka sudah mulai belajar mengelola uang melalui:

         uang saku;

         uang transportasi;

         uang untuk membeli makanan;

         uang untuk membeli perlengkapan sekolah;

         uang untuk hiburan;

         uang pemberian orang tua;

         dan uang yang ditabung.

Kebiasaan mengelola uang sejak SMA dapat menjadi bekal ketika seseorang mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

 
Sumber: https://sidewaysthoughts.com/blog/2015/07/the-humanity-challenge-prioritising-the-purpose-of-profit/

C. Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu kemampuan dasar dalam mengelola uang adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. 

1.       Kebutuhan

Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjalani kehidupan atau melakukan aktivitas dengan baik.

Contohnya:

            makanan;

            minuman;

            transportasi;

            buku pelajaran;

            alat tulis;

            pakaian yang diperlukan;

            biaya pendidikan;

            kuota internet untuk pembelajaran.

2.       Keinginan

Keinginan adalah sesuatu yang ingin dimiliki atau dilakukan, tetapi sebenarnya masih dapat ditunda.

Contohnya:

            membeli minuman kekinian;

            membeli aksesori;

            membeli sepatu baru padahal sepatu lama masih baik;

            membeli skin atau item dalam game;

            nongkrong di kafe;

            membeli barang karena sedang tren.

Perlu diingat: Keinginan tidak selalu buruk. Yang penting adalah kita mampu mengendalikan dan menentukan prioritas.


 
Sumber: https://validnews.id/catatan-valid/menentukan-prioritas-terpenting-ala-eisenhower-matrix

D. Pengeluaran yang Tidak Perlu

Ada pengeluaran yang bukan merupakan kebutuhan utama dan bahkan tidak selalu merupakan keinginan yang benar-benar kita butuhkan. Contohnya:

“Saya membeli karena sedang diskon.” Padahal barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Atau:

“Teman-teman saya membeli, jadi saya ikut membeli.”

Pengeluaran seperti ini dapat terjadi karena:

         FOMO (Fear of Missing Out);

         ikut tren;

         pengaruh teman;

         iklan;

         promo;

         diskon;

         flash sale;

         atau keputusan spontan.

Ingat! Barang murah bukan berarti harus dibeli. Jika barang tersebut tidak diperlukan, uang yang dikeluarkan tetap merupakan pengeluaran.

E. Mengapa Uang Saku Cepat Habis?

Ada beberapa penyebab uang saku cepat habis.

1.       Tidak membuat rencana. Uang digunakan tanpa mengetahui berapa yang boleh dibelanjakan.

2.       Pengeluaran kecil yang berulang. Misalnya:Rp5.000 untuk jajan; Rp5.000 untuk minuman; Rp10.000 untuk makanan ringan. Terlihat kecil, tetapi jika dilakukan setiap hari jumlahnya dapat menjadi besar.

3.       Mengikuti teman. Teman mengajak makan, nongkrong, atau membeli sesuatu sehingga kita ikut mengeluarkan uang.

4.       Belanja karena emosi. Ketika bosan, sedih, atau senang, seseorang terkadang menggunakan belanja sebagai pelampiasan.

5.       Tergoda promo. Diskon dan promo dapat membuat seseorang merasa harus segera membeli. Padahal:Promo bukan alasan untuk membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.

 

Sumber: https://www.parapuan.co/read/532837319/tergoda-promo-17-agustus

F. Cara Sederhana Mengelola Uang

Pelajar dapat mulai menggunakan langkah sederhana berikut.

1.       Catat, catat setiap pengeluaran.

2.       Prioritaskan, dahulukan kebutuhan yang paling penting.

3.       Batasi, tentukan batas uang untuk jajan dan hiburan.

4.       Sisihkan, sisihkan sebagian uang untuk tabungan.

5.       Evaluasi, keriksa kembali pengeluaran setiap akhir minggu.

Contoh Kasus

Bayangkan seorang siswa mendapatkan uang saku: Rp30.000 per hari, dalam satu hari ia menggunakan:

         Transportasi = Rp10.000

         Makan = Rp10.000

         Minuman = Rp5.000

         Jajan = Rp5.000

         Total = Rp30.000

Tidak ada uang yang tersisa. Sekarang coba bayangkan jika siswa tersebut mengurangi salah satu pengeluaran yang sebenarnya dapat ditunda. Misalnya:

         Transportasi = Rp10.000

         Makan = Rp10.000

         Minuman = Rp3.000

         Jajan = Rp2.000

         Tabungan = Rp5.000

         Total = Rp30.000

Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat memenuhi kebutuhan dan mulai belajar menabung.

Sumber: https://www.loanmarket.co.id/news/susah-menabung-simak-tips-tips-berikut

H. Pertanyaan Penting Sebelum Membeli

Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkannya?” Kemudian tanyakan:

1.       Apakah barang ini memang diperlukan?

2.       Apakah saya masih memiliki barang yang sama?

3.       Apakah saya membeli karena kebutuhan atau karena ikut tren?

4.       Apakah saya mampu membelinya?

5.       Jika tidak membeli sekarang, apakah ada masalah?

6.       Apakah uang tersebut lebih bermanfaat jika ditabung?

Jika sebagian besar jawabannya menunjukkan bahwa barang tersebut tidak penting, mungkin lebih baik menunda pembelian.

I. Kebutuhan, Keinginan, atau Tidak Perlu?

Coba perhatikan beberapa contoh berikut: Pengeluaran kategori

         Membeli buku Pelajaran kebutuhan

         Membeli makanan     Kebutuhan

         Membayar transportasi sekolah kebutuhan

         Membeli sepatu karena sepatu lama rusak kebutuhan

         Membeli sepatu baru karena model terbaru keinginan

         Membeli minuman kekinian keinginan

         Membeli barang karena sedang diskon belum tentu perlu

         Membeli karena takut ketinggalan tren tidak perlu jika tidak dibutuhkan

         Menabung     Prioritas keuangan

         Menyimpan uang untuk keadaan mendesak cadangan

Namun, perlu dipahami bahwa kategori tersebut dapat berbeda tergantung situasi seseorang.

Misalnya, membeli kuota internet dapat menjadi kebutuhan jika digunakan untuk pembelajaran, tetapi penggunaan internet yang berlebihan untuk hiburan merupakan hal yang perlu dikendalikan.


 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DPi78VCktmN/

J. Financial Survival Bukan Berarti Pelit

Mengelola uang bukan berarti tidak boleh menikmati hasil yang kita miliki. Kita tetap boleh:

         jajan;

         bermain;

         nongkrong;

         membeli barang yang disukai;

         memberikan hadiah kepada orang lain.

Yang penting adalah mengetahui batas dan prioritas. Orang yang mampu mengelola uang bukan berarti orang yang tidak pernah mengeluarkan uang. Sebaliknya, ia tahu: Kapan harus menggunakan uang, kapan harus menunda, dan kapan harus menyimpan.

 

K. Tantangan untuk Generasi Muda

Generasi sekarang hidup dalam lingkungan yang sangat mudah untuk berbelanja. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, seseorang dapat:

         melihat produk;

         membandingkan harga;

         membeli barang;

         membayar secara digital;

         dan menerima barang di rumah.

Kemudahan tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan pengendalian diri.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki tiga kemampuan:

         Berpikir sebelum membeli, jangan langsung mengikuti keinginan.

         Mengatur uang, ketahui berapa uang yang dimiliki dan ke mana uang tersebut digunakan.

         Menentukan prioritas, dahulukan kebutuhan dan tujuan yang lebih penting.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalengan. Praktisi di bidang Manajemen Pemasaran, Koperasi dan Enterprenership.

**) dari beragam sumber

Public Health

  TEKNOLOGI MEDIS RAMAH LINGKUNGAN Oleh Diffo Dwiputra Herrist   *) Manusia Merupakan Makhluk Hidup yang sejatinya merupakan Pengurai ba...