"To the wonderful community of SMAN 1 Pangalengan, Happy Kartini Day! Celebrating the legacy of Raden Ajeng Kartini is about more than just remembering history; it is about honoring the spirit of progress, equality, and the pursuit of knowledge that lives within every student and teacher. Here is a formal greeting and some inspirational quotes to share: Happy Kartini Day 2026....abuafifi"

Kamis, 23 April 2026

Sportscience

 JALAN KAKI DAN JOGGING KUNCI SUKSES PELAJAR MELANGKAH MENUJU MASA DEPAN  

Oleh: Angga Sastra Sutiana, S.Pd. *)

 

Sering merasa lelah meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat? Atau mungkin, kamu merasa sulit berkonsentrasi saat guru menjelaskan di depan kelas? Di balik meja belajar yang panjang dan tumpukan buku, tubuhmu sebenarnya merindukan satu hal sederhana: bergerak. Jalan kaki dan jogging bukan sekadar kegiatan memindahkan kaki dari titik A ke titik B. Bagi seorang pelajar, ini adalah "bahan bakar" tersembunyi yang bisa meningkatkan kualitas hidup, kesehatan, dan prestasi akademis. Mari kita bedah lebih dalam mengapa dua aktivitas ini harus menjadi bagian dari keseharianmu.

 
Sumber: https://tribratanews.polri.go.id/blog/kesehatan-7/ini-alasan-kenapa-jalan-kaki-30-menit-bikin-mood-naik-89432

Manfaat Utama Keringat bagi Tubuh

Sering kali kita menganggap olahraga harus berupa permainan tim yang rumit atau latihan beban yang berat. Padahal, jalan kaki dan jogging menawarkan manfaat fundamental yang sering terlupakan:

1.       Peningkatan Metabolisme dan Stamina

Saat kamu rutin berjalan cepat atau jogging, tubuhmu belajar untuk menggunakan energi dengan lebih efisien. Ini meningkatkan laju metabolisme, yang berarti tubuhmu lebih mampu membakar kalori dan mempertahankan berat badan yang sehat selama masa pertumbuhan remaja. Stamina yang meningkat juga membuatmu tidak mudah merasa "drop" saat harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang padat.

2.       Membangun Kekuatan Tulang

Masa remaja adalah waktu emas untuk membangun kepadatan tulang. Aktivitas yang menumpu beban tubuh (weight-bearing exercise) seperti berjalan dan jogging memicu tulang untuk menjadi lebih kuat dan padat. Ini adalah investasi jangka panjang agar kamu tetap aktif dan bugar hingga masa tua nanti.

3.       Sistem Imun yang Tangguh

Pelajar sering kali rentan jatuh sakit karena kelelahan, kurang tidur, atau stres ujian. Aktivitas fisik teratur membantu meningkatkan sirkulasi sel darah putih dalam tubuh, yang berfungsi sebagai benteng pertahanan melawan virus dan bakteri. Artinya, lebih sedikit waktu yang terbuang karena sakit, dan lebih banyak waktu untuk belajar serta bermain.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DNNvvZYyKHg/

Otak Bugar dan Pikiran Cerdas

Apakah kamu tahu bahwa olahraga adalah "makanan" terbaik bagi otak? Inilah yang terjadi pada pikiranmu saat kamu melangkah:

-          Peningkatan Fokus. Jogging meningkatkan aliran darah ke otak, membawa lebih banyak oksigen dan nutrisi. Hasilnya? Kamu akan merasa lebih terjaga, fokus, dan mampu menyerap materi pelajaran dengan jauh lebih baik.

-          Pengatur Emosi. Saat stres melanda karena tugas atau masalah pertemanan, jalan kaki santai bisa menjadi terapi alami. Tubuh melepaskan endorfin, hormon yang secara instan meredakan rasa cemas dan meningkatkan suasana hati. Kamu akan merasa lebih tenang dan objektif dalam melihat masalah.

-          Kualitas Tidur. Pelajar yang rutin berolahraga cenderung memiliki pola tidur yang lebih teratur. Tidur yang berkualitas akan membuatmu terbangun dengan kondisi pikiran yang segar, siap untuk tantangan baru di sekolah keesokan harinya.

-           
Sumber: https://republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/03/26/mk89nl-otak-cerdas-bermula-dari-pencernaan-yang-sehat

Panduan Mengubah Niat Menjadi Aksi

Banyak siswa gagal memulai karena merasa harus langsung berlari sejauh 5 kilometer. Ingat, kuncinya adalah konsistensi, bukan intensitas. Berikut adalah strategi untuk memulainya:

-          Mulai dari "Zona Nyaman" Jangan paksa dirimu berlari jika belum terbiasa. Mulailah dengan jalan cepat selama 15 menit. Jika sudah merasa nyaman, perlahan tingkatkan durasi menjadi 20-30 menit.

-          Pemanasan adalah Kewajiban. Jangan pernah melewatkan pemanasan! Lakukan peregangan dinamis selama 5 menit (memutar sendi, ayunan kaki) untuk menyiapkan otot dan mencegah cedera lanjutkan dengan  pendinginan untuk  merecoveri tubuh.

-          Pemulihan. Setelah selesai, lakukan pendinginan dengan berjalan santai dan peregangan statis. Ini membantu detak jantung kembali normal dan mengurangi rasa pegal setelah olahraga.

-          Jadikan Aktivitas Sosial. Ajak teman atau anggota keluarga. Berjalan kaki sambil mengobrol membuat waktu terasa lebih cepat dan aktivitas ini jadi jauh lebih menyenangkan.

-          Dengarkan Tubuhmu. Jika merasa pusing, nyeri tajam, atau sangat sesak, segera berhenti dan beristirahat. Jangan memaksakan diri melampaui batas kemampuanmu saat ini.

 
Sumber: https://risna.info/2022/03/08/tips-mengubah-niat-menjadi-aksi/

Menghilangkan Alasan "Tidak Ada Waktu". Kita semua memiliki kesibukan, tapi kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa ditunda. Kamu bisa menyelipkan aktivitas ini di sela-sela waktu:

-          Berjalan kaki ke sekolah jika jarak memungkinkan.

-          Mengambil rute tangga daripada lift di sekolah.

-          Jalan santai selama 15 menit setelah pulang sekolah sebagai transisi antara waktu belajar dan waktu santai di rumah.

Simpulan

Menjaga kesehatan dengan jalan kaki atau jogging adalah tindakan "mencintai diri sendiri" yang paling nyata. Kamu tidak perlu peralatan mewah atau biaya mahal. Kamu hanya perlu sepasang sepatu, niat, dan langkah pertama. Mulailah hari ini, meski hanya 15 menit. Ingat, satu langkah kecil yang kamu ambil hari ini adalah fondasi bagi kesehatanmu di masa depan. Jadi, kapan kamu akan mulai melangkah?

 *) Guru PJOK di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi membantu dan membina Kesiswaa/OSIS

**)  dari berbagai sumber

Rabu, 22 April 2026

Socialpreneur

 PENTINGNYA ADAB DALAM ECOFRIENDLY SPEAKING

Oleh: Tim Redaksi Literatsmansa

 

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah go green atau ramah lingkungan. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa bukan hanya lingkungan fisik yang perlu dijaga, tetapi juga lingkungan sosial melalui cara kita berbicara? Inilah yang disebut dengan ecofriendly speaking, yakni berbicara dengan adab, bijak, dan tidak menyakiti orang lain.

Lisan adalah cerminan hati. Banyak konflik, kesalahpahaman, bahkan luka batin bermula dari ucapan yang tidak terjaga. Dalam sebuah nasihat yang masyhur disebutkan bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada lisannya (baik buruknya dampak banyak ditentukan oleh apa yang diucapkan). Oleh karena itu, menjaga adab dalam berbicara bukan hanya etika lingkungan, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral.


Sumber: https://web.facebook.com/ecovibeapparell/posts/your-uniform-is-speaking-even-when-your-staff

Mengapa Ecofriendly Speaking Itu Penting?

Ecofriendly speaking membantu:

-    Menciptakan hubungan yang sehat dan harmonis

-    Menghindari konflik yang tidak perlu

-    Menjaga perasaan dan harga diri orang lain

-    Membangun citra diri sebagai pribadi yang bijak

Sebaliknya, ucapan yang kasar, membicarakan orang lain, atau sindiran dapat menjadi “polusi verbal” yang mencemari suasana dan melukai hati orang lain, bahkan tanpa disadari.

Ecofriendly Speaking menuntut beberapa prinsip utama, yakni:

1.       Kesadaran (Awareness)

Menyadari dampak dari setiap kata yang diucapkan. Apakah kata tersebut membangun atau justru merusak dan menjatuhkan mental?

2.       Empati (Empathy)

Menempatkan diri pada posisi hati orang lain sebelum berbicara. Ini membantu menghindari ucapan yang menyakitkan.

3.       Kesederhanaan (Simplicity)

Menghindari bahasa yang berlebihan, manipulatif, atau penuh emosi negatif yang tidak perlu.

4.       Tanggung Jawab (Responsibility)

Mengakui bahwa setiap ucapan adalah bentuk tindakan moral yang memiliki konsekuensi.

 
Sumber: https://pls.fip.unesa.ac.id/post/tutur-santun-cerminan-isi-hati-dan-kehormatan-diri

"Polusi Verbal" tidak hanya berdampak pada individu yang menerima ucapan tersebut, tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang toksik. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hubungan personal, memicu konflik, dan bahkan merusak kesehatan mental seseorang. Dalam analogi lingkungan, seperti halnya limbah yang dibuang sembarangan tidak dibuang ke tempat sampah yang tepat maka akan dapat mencemari air, tanah, maupun lingkungan, begitu pun kata-kata tidak beradab akan mencemari kepercayaan, asa aman, dan nyaman dalam masyarakat. Maka dengan demikian dibutuhkan "Budaya Berbahasa yang Berkelanjutan" untuk membangun budaya ecofriendly speaking sebagai upaya menciptakan keberlanjutan sosial (social sustainability).

 
Sumber: https://www.social-life.co/publication/designing_for_social_sustainability/

Penerapan 4 Prinsip Ecofriendly Speaking dalam contoh kalimat: 

1. Berbicara dengan Empati (Think before You Speak)

Sebelum berbicara, pertimbangkan perasaan orang lain. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah kata-kata ini akan menyakiti atau membantu?”

Contoh:

“Kamu kok lambat banget sih, yang lain sudah selesai dari tadi.”

“Kalau kamu butuh bantuan, aku bisa bantu supaya lebih cepat selesai.”

Ucapan yang kedua lebih membangun, tanpa merendahkan.

2. Menghindari Membicarakan Orang Lain dan Harus Pandai Mengalihkan Pembicaraan

Membicarakan keburukan orang lain adalah salah satu bentuk polusi verbal yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar. Ecofriendly speaking mengajarkan kita untuk tidak ikut menyebarkan hal negatif. Ia bukan sekadar obrolan ringan, namun ia dapat menjadi bentuk ketidakadilan sosial yang merugikan banyak pihak.

Bagi yang dibicarakan: Reputasi bisa rusak di mata orang lain, menimbulkan tekanan psikologis, berpotensi dijauhi atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain secara tidak objektif.

Bagi yang membicarakan: Menanggung dosa karena menyebarkan hal yang belum tentu benar, kehilangan kepercayaan dari orang lain jika diketahui dia suka membicarakan keburukan orang lain, membentuk kebiasaan buruk dalam menjaga lisan.

Contoh cara mengalihkan pembicaraan:

“Eh kamu tahu nggak si C itu katanya….”

“Aku kurang nyaman membahas itu. Ngomong-ngomong, kamu sudah lihat proyek terbaru kita belum?”

Atau:

“Mungkin lebih baik kita fokus ke hal yang bisa kita pelajari atau perbaiki, ya.”

Ini menunjukkan kedewasaan pemikiran tanpa menghakimi.


 Sumber: https://aktual.com/adab-bicara-seorang-muslim-yang-benar-3/

3. Menghindari Polusi Verbal (Kata-kata yang Menyakiti atau Merendahkan)

Polusi verbal tidak selalu berupa kata kasar, tetapi juga bisa berupa sindiran, candaan yang menyinggung, atau komentar yang meremehkan.

Contoh:

“Ah, itu sih gampang, masa kamu nggak bisa?”

“Kalau kamu mau, kita bisa coba pelajari bareng.”

Ucapan sederhana bisa terasa sangat berbeda tergantung cara penyampaiannya.

4. Berkata yang Baik atau Diam

Tidak semua hal perlu diucapkan atau dibicarakan. Dalam ecofriendly speaking, diam adalah pilihan bijak jika ucapan tidak membawa kebaikan.

Contoh:

Saat emosi:

“Kamu selalu bikin masalah!”

(diam sejenak, lalu) “Aku butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri, nanti kita bicarakan baik-baik.”

Saat ingin mengkritik:

“Kerjaanmu berantakan banget.”

“Mungkin ada beberapa bagian yang bisa kita rapikan supaya hasilnya lebih maksimal.”

Ecofriendly speaking bukan sekadar teknik komunikasi, tetapi bentuk adab yang mencerminkan kualitas diri seseorang. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menghindari menyakiti orang lain, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih ramah, damai, dan saling menghargai layaknya bahasa surga. Bahasa surga itu adalah salam, yang melambangkan kedamaian, penghormatan, dan keselamatan abadi bagi penghuninya. Salam ini merupakan sapaan langsung dari Allah SWT dan para malaikat, sebagaimana tercantum dalam QS. Yasin: 58, yang menegaskan bahwa penghuni surga akan menerima ucapan "Salam" sebagai bentuk penghormatan tertinggi. 


 Sumber: https://dhanalestari.com/2025/07/14/5-soft-skill-hebat-yang-menentukan-kualitas-dirimu/

Setiap kata yang kita ucapkan memiliki dampak. Maka, pilihlah kata yang menenangkan, membangun, dan membawa kebaikan. Karena pada akhirnya, keselamatan dan kehormatan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia berujar menjaga lisannya.

**) Referensi: dari berbagai sumber

Selasa, 21 April 2026

Psikopedia

 SENI MENEMUKAN RUMAH DI DALAM DIRI. PERJALANAN MENCINTAI TANPA SYARAT

Oleh: Widiana, S.Pd  *)

 

Seringkali kita menghabiskan sebagian besar hidup kita dengan berlari. Kita berlari mengejar validasi, berlari mencari persetujuan di mata orang lain, dan berlari menuju definisi "bahagia" yang dikonstruksi oleh standar sosial. Kita merasa seolah-olah diri kita adalah sebuah proyek yang tidak pernah selesai, sebuah draf yang selalu butuh revisi agar layak dicintai. Namun, pada satu titik di tengah kelelahan itu, muncul sebuah kesadaran yang tenang namun tajam. Bahagia yang digantungkan pada pundak orang lain adalah beban yang rapuh.

 
Sumber: ttps://www.flickr.com/photos/duniajilbab/24410076011

“Menerima diri sendiri, mencintai diri sendiri, dan menciptakan kebahagiaan mandiri bukanlah sebuah destinasi yang sekali sampai lalu selesai. Ia adalah sebuah perjalanan pulang ke dalam diri sendiri’

Melepaskan Topeng dan Menerima Retakan

Perjalanan ini selalu dimulai dari titik yang paling sulit: Penerimaan. Banyak yang salah kaprah mengira bahwa menerima diri berarti menyukai segala hal tentang kita. Faktanya, menerima diri adalah tentang mengakui seluruh spektrum keberadaan kita, termasuk bagian-bagian yang selama ini ingin kita sembunyikan. Kita semua memiliki "ruang gelap" kegagalan masa lalu, rasa iri yang sesekali muncul, atau ketidaksempurnaan fisik yang membuat kita minder. Selama bertahun-tahun, kita mencoba menambal retakan itu dengan pencapaian atau pujian orang lain. Namun, seperti bejana yang pecah, air kebahagiaan akan selalu bocor jika retakannya tidak kita terima terlebih dahulu. Menerima diri berarti berhenti berperang dengan kenyataan. Ini adalah momen ketika kita berkata, "Ya, saya memiliki kekurangan ini, saya pernah gagal di titik itu, dan itu tidak membuat nilai saya sebagai manusia berkurang." Ketika kita berhenti menolak diri sendiri, energi yang selama ini habis untuk "berpura-pura" tiba-tiba kembali kepada kita. Itulah awal dari kekuatan yang sesungguhnya.

Sumber: https://www.lemon8-app.com/@fernandovalentino8787/7575506492556673554?region=id

Mencintai Diri Tanpa Syarat (Self-Love)

Setelah menerima, kita melangkah ke tahap yang lebih dalam: Mencintai. Jika penerimaan adalah tentang pengakuan, maka cinta adalah tentang aksi dan perlakuan. Sayangnya, kita seringkali menjadi kritikus paling kejam bagi diri sendiri. Kita mengucapkan kata-kata kasar kepada diri sendiri di depan cermin yang tidak akan pernah berani kita ucapkan kepada sahabat karib kita.

 “Mencintai diri sendiri bukan berarti narsisme. Mencintai diri sendiri adalah tentang belas kasih (compassion)”

Sumber: https://www.kompasiana.com/linguaayzaara4711/61867c3e06310e68f109b922/mencintai-diri-sendiri-self-love

·         Menetapkan Batasan (Boundaries). Mencintai diri berarti berani berkata "tidak" pada hal-hal yang menguras energi mental kita, meski itu berarti mengecewakan orang lain.

·         Dialog Internal yang Sehat. Mengganti kalimat "Kenapa aku bodoh sekali?" menjadi "Aku melakukan kesalahan, dan itu adalah kesempatan untuk belajar."

·         Merawat Tubuh dan Jiwa. Bukan karena ingin terlihat cantik di mata orang lain, tapi karena tubuh ini adalah satu-satunya "kendaraan" yang kita miliki untuk mengarungi hidup.

·         Cinta diri adalah sebuah janji untuk tidak meninggalkan diri sendiri, terutama saat keadaan sedang sulit. Saat dunia luar sedang berisik dan menghakimi, kita harus menjadi tempat teraman bagi diri kita sendiri.

Ekspektasi dan Kebahagiaan Mandiri

Salah satu sumber penderitaan terbesar manusia adalah ekspektasi kepada orang lain. Kita sering membuat skenario di kepala tentang bagaimana orang lain seharusnya memperlakukan kita, menghargai kita, atau mencintai kita. Saat kenyataan tidak sesuai dengan naskah yang kita buat, kita hancur. Menciptakan bahagia tanpa berharap kepada orang lain adalah bentuk kebebasan tertinggi. Ini bukan berarti kita menjadi manusia dingin yang tidak butuh sosialisasi. Manusia tetaplah makhluk sosial. Namun, ada perbedaan besar antara berbagi kebahagiaan dengan orang lain dan meminta kebahagiaan dari orang lain.

"Jika kamu memerlukan orang lain untuk merasa utuh, kamu akan selalu merasa kurang saat mereka pergi."

Sumber: https://senyummandiri.org/bahagia-itu-sederhana-dengan-menikmati-hidup

Ketika kita berhenti menjadikan orang lain sebagai sumber utama kebahagiaan, kita mengambil kembali kendali atas remot kontrol emosi kita. Kita tidak lagi menjadi tawanan dari pesan singkat yang tidak dibalas, pujian yang tidak diucapkan, atau apresiasi yang tidak kunjung datang. Kita belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal kecil yang kita ciptakan sendiri: aroma kopi di pagi hari, buku yang menarik, atau sekadar ketenangan saat duduk diam sendirian.

Menjadi Utuh, Bukan Setengah

Ada mitos romantis yang mengatakan bahwa kita adalah "setengah bagian" yang mencari "setengah bagian lainnya" untuk menjadi utuh. Ini adalah konsep yang menyesatkan. Kita bukan setengah. Kita adalah individu yang utuh sejak lahir. Perjalanan menerima diri mengajarkan kita bahwa hubungan dengan orang lain seharusnya adalah pertemuan antara dua individu yang sudah selesai dengan dirinya masing-masing. Dua orang yang utuh akan menciptakan sinergi, sementara dua orang yang merasa "setengah" hanya akan saling menuntut untuk mengisi lubang di hati mereka. Menciptakan bahagia secara mandiri berarti kita menanam taman kita sendiri, alih-alih menunggu seseorang membawakan bunga untuk kita. Saat taman itu sudah hijau dan asri, siapapun yang datang berkunjung adalah tamu yang disambut dengan hangat, namun jika mereka pergi, taman kita tetap akan tumbuh dan berkembang.

Sumber: https://persaudaraanmatahari.org/pijar-kesadaran/manusia-seutuhnya/

Penutup. Rumah yang Sesungguhnya

Perjalanan ini tidak memiliki garis finis. Akan ada hari-hari di mana keraguan kembali datang, di mana suara-suara sumbang di luar sana terasa lebih kencang daripada suara hati kita. Itu wajar. Namun, bedanya adalah sekarang kita tahu jalan pulang.

Menerima diri, mencintai tanpa syarat, dan melepaskan ketergantungan emosional adalah bentuk revolusi internal. Kita berhenti mencari konfirmasi dari dunia yang selalu berubah dan mulai membangun fondasi di atas karang yang kokoh, yaitu diri kita sendiri. Pada akhirnya, kebahagiaan yang paling murni adalah ketika kita bisa duduk sendirian di sebuah ruangan, tanpa pencapaian luar biasa, tanpa tepuk tangan orang lain, dan merasa cukup. Merasa bahwa berada di dalam kulit kita sendiri adalah tempat paling nyaman di seluruh alam semesta.

 “Jadilah sahabat terbaik bagi dirimu sendiri. Sebab pada akhirnya, orang yang akan selalu bersamamu dari napas pertama hingga terakhir adalah dirimu sendiri. Cintailah ia dengan hebat”.

 

*) Guru Sejarah SMAN 1 Pangalengan

**) dari berbagai sumber

Senin, 20 April 2026

HONESTY

 "KEJUJURAN”  FONDASI HIDUP YANG TIDAK PERNAH RUNTUH"

Oleh:  Ade Sobari, M.M.Pd *)

Kejujuran adalah keselarasan antara kata, pikiran, dan perbuatan. Ia bukan sekadar tidak berbohong, tapi keberanian untuk menampilkan kebenaran apa adanya, bahkan ketika kebenaran itu pahit atau merugikan diri sendiri.

1. Mengapa kejujuran penting?

-          Membangun kepercayaan: Sekali kepercayaan hilang karena dusta, butuh waktu sangat lama untuk membangunnya kembali. Satu kebohongan kecil bisa merusak seribu kebenaran.

-          Meringankan beban mental: Orang yang berbohong harus mengingat kebohongannya seumur hidup. Orang yang jujur hanya perlu mengingat faktanya. Jujur itu membebaskan.

-          Menjadi kompas moral: Di dunia yang abu-abu, kejujuran adalah patokan. Ia membuat kita tidak mudah goyah saat godaan untuk curang datang.

-          Menciptakan hubungan yang sehat: Keluarga, pertemanan, bisnis, semua hanya bisa bertahan lama di atas kejujuran. Tanpa itu, yang ada cuma sandiwara.


 Sumber: https://www.kompasiana.com/adiputra8317/63d6c0a308a8b57d770f3782/aspek-moral

2. Wujud kejujuran dalam kehidupan sehari-hari

-          Jujur pada diri sendiri: Mengakui kelemahan dan kesalahan. Tidak membenarkan yang salah hanya karena kita yang melakukannya.

-          Jujur dalam perkataan: Tidak menambah atau mengurangi fakta. Tidak diam saat tahu kebenaran harus disuarakan.

-          Jujur dalam perbuatan: Tidak mengambil yang bukan hak, tidak curang saat ujian, tidak korupsi waktu kerja, tidak manipulasi laporan.

-          Jujur dalam niat: Melakukan sesuatu karena memang benar, bukan karena ingin dipuji atau takut dihukum.

-    

-          Sumber: https://pasarsantri.com/teladan-kejujuran/

3. Harga yang harus dibayar untuk jujur

Jujur sering kali tidak enak. Orang jujur bisa dibenci, disisihkan, atau kehilangan keuntungan sesaat. Kejujuran bisa membuat kita ditolak saat wawancara karena mengakui kekurangan, atau dimusuhi karena tidak ikut arus curang. Tapi itu harga yang murah dibanding kehilangan harga diri.


Sumber: https://stekom.ac.id/artikel/kejujuran-sebagai-pondasi-karyawan-yang-berintegritas

4. Akibat jika kejujuran hilang

Masyarakat tanpa kejujuran akan runtuh. Hukum bisa dibeli, ijazah bisa dipalsukan, janji jadi basa-basi. Ujungnya, tidak ada yang bisa dipercaya lagi. Kita hidup curiga pada semua orang, dan semua orang curiga pada kita.


 Sumber: https://www.instagram.com/p/DPBeQvQk6nL/

Penutup

     Kejujuran itu seperti akar pohon. Tidak terlihat, tapi dia yang membuat pohon tetap berdiri saat badai datang. Kamu boleh tidak kaya, tidak pintar, tidak populer. Tapi kalau kamu jujur, kamu punya sesuatu yang tidak bisa dibeli: ketenangan saat tidur malam dan wajah yang berani menatap cermin.

     Karena pada akhirnya, kita semua akan diminta pertanggungjawaban bukan atas seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa lurus jalan yang kita tempuh untuk mendapatkannya.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. Aktivis Kepramukaan, pemegang lisensi Mahir Lanjutan (KML).

**) dari berbagai sumber

Sportscience

  JALAN KAKI DAN JOGGING KUNCI SUKSES PELAJAR MELANGKAH MENUJU MASA DEPAN   Oleh: Angga Sastra Sutiana, S.Pd. *)   Sering merasa lelah m...