The beautiful thing about learning is that no one can take it away from you." – B.B. King "

Kamis, 30 Juli 2026

Practical Knowledge

"FOREVER CHEMICALS"

Oleh: Shafira Az Zahra Nurdianti  *)

 

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan kita tanpa wajan anti-lengket, jaket tahan air, atau kemasan makanan yang tidak tembus minyak?.Kemudahan yang kita nikmati dalam kehidupan modern saat ini sebenarnya berawal dari sebuah penemuan tidak sengaja di laboratorium perusahaan kimia DuPont pada tahun 1938. Saat itu, ilmuwan menemukan materi licin yang sangat kuat dan tidak mudah rusak oleh panas maupun bahan kimia, yang kemudian dipatenkan dengan nama Teflon. Perusahaan lain seperti 3M pjuga memproduksi bahan kimia serupa bernama PFOA dan PFOS untuk produk penolak noda terkenal seperti Scotchgard, pakaian tahan air, hingga busa pemadam kebakaran. Namun, di balik kepraktisan dan kesuksesan bisnis bernilah miliaran dolar tersebut, tersimpan rahasia kelam yang disembunyikan selama puluhan tahun.  Untuk memproduksi Teflon dalam jumlah besar, DuPont menggunakan bahan kimia pembantu yang termasuk dalam kelompok besar senyawa sintetis bernama PFAS. Karena memiliki ikatan kimia yang sangat kuat antara atom karbon dan fluor, zat ini hampir tidak bisa terurai secara alami oleh mikroorganisme maupun sinar matahari. Oleh karena itu, para ilmuwan menjuluki kelompok senyawa ini sebagai Forever Chemicals atau zat kimia abadi yang dapat bertahan di bumi selamanya dan terakumulasi di dalam tubuh manusia.


Sumber: https://www.nature.com/articles/s43017-025-00755-x

Tanpa disadari oleh masyarakat, pabrik milik DuPont dan produsen lain membuang ribuan ton limbah PFAS ke aliran sungai, tanah, dan udara. Kasus ini mulai terungkap ketika seorang peternak bernama Earl Tennant mencurigai adanya racun di sungai dekat pabrik DuPont karena ratusan hewan ternaknya sakit dan mati secara misterius. Penyelidikan hukum yang dipimpin pengacara Rob Bilott akhirnya berhasil membongkar puluhan ribu dokumen rahasia internal. Terungkap bahwa para ilmuwan di DuPont dan 3M sebenarnya sudah mengetahui sejak lama bahwa zat tersebut bersifat racun dan dapat memicu timbulnya penyakit serius seperti kanker ginjal, penyakit tiroid, dan kerusakan organ dalam, namun manajemen memilih merahasiakannya demi keuntungan bisnis.

 
Sumber: https://edspace.american.edu/ag7965a/what-are-pfas/chemical-composition/

Sebagai peringatan untuk kita semua, potensi paparan Forever Chemicals ternyata sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. PFAS dapat ditemukan pada peralatan masak anti-lengket yang terkelupas, kemasan makanan cepat saji seperti kantong popcorn mi instan atau bungkus burger, pakaian dan jaket tahan air (waterproof), kosmetik tahan air (waterproof makeup), produk benang gigi, hingga air minum yang bersumber dari wilayah tercemar. Zat kimia ini dapat berpindah ke makanan saat dipanaskan atau masuk ke tubuh saat kita mengonsumsi makanan yang terkontaminasi secara terus-menerus.


Sumber: https://water.co.id/en/artikel/apa-itu-pfas-dan-apa-yang-dapat-anda-lakukan-tentangnya/

Meskipun zat ini sudah menyebar secara global, kita dapat mengambil langkah-langkah praktis untuk mengurangi paparannya dalam kehidupan sehari-hari. Langkah pertama adalah mengurangi penggunaan wadah makanan berbahan anti-minyak atau alat masak berbahan Teflon, serta beralih ke peralatan masak berbahan stainless steel, besi (cast iron), atau kaca. Selain itu, hindari memanaskan makanan langsung di dalam kemasan pembungkusnya, pilih produk perawatan diri atau kosmetik yang bebas bahan fluorinated (PFAS-free), dan gunakan filter air minum berbasis karbon aktif atau reverse osmosis jika tinggal di daerah dengan kualitas air yang meragukan. Melalui pemahaman risiko dan tindakan preventif ini, kita sebagai generasi muda dapat menjaga kesehatan tubuh sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih.

*) Siswa Kelas XII A1 di SMAN 1 Pangalengan

**) Sumber : veritasium 

Rabu, 29 Juli 2026

Psikoedukasi

 MENEMUKAN CAHAYA DIBALIK EMOSI

Cognitive Reappraisal dan Hikmah Al-Qur'an dalam Mengelola Hati

Oleh: Yuli Yuliani, S.Pd *)

Setiap manusia pasti pernah merasakan marah, sedih, kecewa, iri, cemas, bahkan putus asa. Emosi-emosi tersebut sering datang tanpa diundang dan terkadang terasa begitu kuat hingga memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, bahkan mengambil keputusan. Tidak sedikit orang yang berusaha menghilangkan emosi negatif dengan cara menghindarinya, memendamnya, atau melupakannya. Namun, semakin ditekan, sering kali emosi itu justru semakin besar. Padahal, yang membuat sebuah emosi terasa begitu berat bukan semata-mata karena peristiwa yang terjadi, melainkan cara kita memaknai peristiwa tersebut. Dua orang dapat mengalami kejadian yang sama, tetapi memberikan respons emosional yang sangat berbeda. Perbedaannya terletak pada sudut pandang yang mereka gunakan.

 
Sumber: https://www.linkedin.com/pulse/what-emotions-types-emotional-responses-

Psikologi modern menjelaskan fenomena ini melalui konsep cognitive reappraisal, yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah cara memandang suatu peristiwa sehingga makna yang muncul menjadi lebih konstruktif. Menariknya, jauh sebelum konsep ini dikenal dalam ilmu psikologi, Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip yang sejalan: mengajak manusia melihat setiap kejadian dari perspektif hikmah dan kebijaksanaan Allah. Ketika seseorang mampu menemukan akar penyebab emosinya dan mengubah cara memaknainya, perlahan emosi negatif kehilangan sebagian kekuatannya. Bukan karena masalahnya hilang, melainkan karena hati tidak lagi memandang masalah sebagai akhir dari segalanya.

Ketika Emosi Berasal dari Cara Kita Memaknai Kehidupan

Sering kali kita mengira bahwa penyebab emosi negatif selalu berasal dari luar diri kita. Kita marah karena perilaku orang lain, sedih karena kehilangan, iri karena melihat keberhasilan orang lain, atau cemas karena masa depan yang belum pasti. Padahal, dalam banyak keadaan, emosi tersebut bukan muncul karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena interpretasi yang kita bangun terhadap peristiwa tersebut.

Misalnya:

  • Marah bukan selalu karena orang lain bersalah, tetapi karena kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang kita bangun.
  • Sedih bukan selalu karena kehilangan, tetapi karena kita terlalu melekat pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan akan menjadi milik kita selamanya.
  • Iri bukan karena orang lain lebih beruntung, melainkan karena kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik yang ditampilkan orang lain.
  • Cemas bukan karena masa depan sudah buruk, tetapi karena pikiran kita sibuk menyusun berbagai kemungkinan terburuk seolah-olah semuanya pasti terjadi.
  • Kecewa bukan selalu karena dunia tidak adil, tetapi karena kita menaruh harapan pada sesuatu yang memang tidak mampu memenuhi seluruh harapan kita.

 
Sumber: https://elsamara.id/cara-menemukan-makna-hidup/

Semakin kita mengenali akar emosi tersebut, semakin mudah kita memahami bahwa sumber penderitaan sering kali bukan fakta, melainkan cara pikiran menafsirkan fakta.

Memahami Cognitive Reappraisal

Dalam psikologi, terdapat sebuah strategi regulasi emosi yang disebut cognitive reappraisal. Istilah ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menilai kembali atau memaknai ulang suatu situasi sehingga menghasilkan respons emosional yang lebih sehat. Berbeda dengan menekan emosi (emotional suppression), cognitive reappraisal tidak mengajak seseorang berpura-pura bahagia atau mengingkari kesedihan. Sebaliknya, strategi ini mengajak seseorang mengakui emosinya terlebih dahulu, kemudian bertanya:

Sumber: https://www.instagram.com/p/DMiQA8OzM-e/

"Adakah cara lain untuk melihat peristiwa ini?"

Artinya, yang diubah bukanlah kenyataannya, tetapi cara kita memahami kenyataan tersebut.

Sebagai contoh, seseorang gagal mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya. Jika ia memaknainya sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga, maka yang muncul adalah putus asa, rendah diri, dan kehilangan semangat. Namun jika ia memaknainya sebagai kesempatan memperbaiki kemampuan atau sebagai isyarat bahwa Allah sedang mengarahkan kepada jalan yang lebih baik, maka emosi yang muncul berubah menjadi harapan, kesabaran, dan semangat untuk bangkit. Peristiwanya tetap sama. Yang berubah adalah makna yang diberikan terhadap peristiwa itu. Inilah inti dari cognitive reappraisalmengganti lensa, bukan mengubah kenyataan.

 Sumber: https://www.instagram.com/p/DZgrfsyEXn1/

Mengapa Cognitive Reappraisal Efektif?

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang terbiasa melakukan cognitive reappraisal cenderung:

  • lebih mampu mengendalikan stres;
  • memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah;
  • lebih mudah memaafkan;
  • lebih tangguh menghadapi kegagalan;
  • memiliki kesehatan mental yang lebih baik; dan
  • lebih mampu menjaga hubungan sosial.

Hal ini terjadi karena otak tidak hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi, tetapi juga terhadap makna yang diberikan pada kejadian tersebut. Ketika makna berubah, respons emosional ikut berubah. Dengan kata lain, emosi bukan sekadar hasil dari kenyataan, tetapi hasil dari dialog antara kenyataan dan cara berpikir kita.

Al-Qur'an Mengajarkan Reappraisal Melalui Keimanan

Prinsip ini ternyata memiliki keselarasan yang sangat indah dengan ajaran Al-Qur'an.

Allah berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)

 
Sumber: https://www.facebook.com/abdullah.sani.906/photos/boleh

Ayat ini tidak meminta manusia menghapus emosinya. Allah tidak melarang kita merasa sedih, kecewa, atau takut. Sebaliknya, Allah mengingatkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Apa yang hari ini terlihat sebagai musibah bisa menjadi pintu menuju kebaikan yang belum kita ketahui. Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap sebagai keberuntungan belum tentu membawa manfaat bagi kehidupan kita. Inilah bentuk cognitive reappraisal yang berlandaskan iman. Ketika seseorang meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, ia belajar menggeser pertanyaan dari:

"Mengapa ini terjadi kepadaku?"

menjadi:

"Pelajaran apa yang Allah sedang ajarkan melalui peristiwa ini?"

Perubahan satu pertanyaan saja sering kali mampu mengubah seluruh arah perjalanan emosi seseorang.

Mengubah Cara Pandang, Mengubah Kehidupan

Melatih cognitive reappraisal bukan berarti selalu berpikir positif secara berlebihan atau menolak kenyataan yang pahit. Justru sebaliknya, kita belajar menerima kenyataan apa adanya, kemudian mencari makna yang dapat membantu kita bertumbuh.

 
Sumber: https://dedyhidayatblog.wordpress.com/2018/06/05/kebahagiaan-sebuah-perubahan-sudut-pandang-dan-pola-pikir

Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Mengakui emosi tanpa menghakimi diri sendiri.
  2. Mengidentifikasi pikiran yang memicu emosi tersebut.
  3. Menguji apakah pikiran itu benar-benar fakta atau hanya asumsi.
  4. Mencari sudut pandang lain yang lebih objektif dan penuh hikmah.
  5. Mengembalikan hati kepada keyakinan bahwa Allah memiliki rencana terbaik.

Ketika latihan ini dilakukan berulang kali, seseorang akan lebih tenang menghadapi berbagai ujian kehidupan. Bukan karena hidup menjadi mudah, tetapi karena hati menjadi lebih kuat.

Ketika Mengingat Allah Menjadi Bentuk Reappraisal Tertinggi

Puncak dari cognitive reappraisal dalam perspektif Islam adalah ketika seseorang memandang seluruh kehidupannya melalui lensa tauhid.

Allah berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Mengingat Allah bukan sekadar melafalkan zikir dengan lisan. Mengingat Allah juga berarti mengingat sifat-sifat-Nya: bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, Maha Penyayang, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DMFjCeHhLVY/

Ketika keyakinan ini memenuhi hati, cara pandang terhadap masalah ikut berubah. Musibah tidak lagi hanya dipandang sebagai penderitaan, melainkan sebagai ujian. Kegagalan tidak lagi dipandang sebagai akhir perjalanan, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran. Penantian tidak lagi hanya terasa sebagai keterlambatan, tetapi sebagai waktu yang sedang dipersiapkan oleh Allah dengan penuh hikmah. Di sinilah ketenangan lahir. Bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena hati menemukan tempat kembali. Setiap emosi yang hadir dalam diri manusia membawa pesan. Marah mengingatkan adanya harapan yang belum terpenuhi. Sedih menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Cemas mengungkapkan keinginan untuk merasa aman. Kecewa mengajarkan bahwa tidak semua harapan layak disandarkan kepada makhluk.

Emosi negatif bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan tamu yang perlu dipahami. Ketika kita berani mencari akar penyebabnya, memeriksa cara berpikir kita, lalu memaknainya kembali dengan cahaya ilmu dan petunjuk Allah, perlahan emosi itu kehilangan daya untuk menguasai diri kita. Psikologi menyebutnya cognitive reappraisal; Islam mengajarkannya melalui husnuzan kepada Allah, kesabaran, tawakal, dan keyakinan bahwa setiap ketetapan-Nya mengandung hikmah.

Sumber: https://www.facebook.com/masjidsalmanitb/photos/ini-6-tanda-kamu-sudah-matang-secara-emosional

Pada akhirnya, kedewasaan emosional bukanlah ketika kita tidak pernah lagi marah, sedih, atau kecewa. Kedewasaan adalah ketika setiap emosi menjadi jalan untuk semakin mengenal diri, semakin bijaksana dalam berpikir, dan semakin dekat kepada Allah SWT.

Sebab hati yang mengenal Rabb-nya bukanlah hati yang bebas dari ujian, melainkan hati yang selalu tahu ke mana harus kembali ketika dunia terasa terlalu berat.

 

*) Guru layanan bimbingan konseling di SMAN 1 Pangalengan

**) Sumber  @maiyahindonesia

 

Selasa, 28 Juli 2026

Life Values

 “ NADA TERINDAH LAHIR DARI LUBANG-LUBANG SERULING “

{ P : P…Apa }

Oleh: Hery Purwanto, SE *)

 

PerNahkah kalian melihat sebuah Seruling ?

Kalau diperhatikan, seruling hanyalah sepotong bambu, bahkan disepanjang tubuhnya terdapat banyak lubang. Kalau ada orang yang belum tahu, mungkin Ia akan berkata, “Sayang sekali bambu ini sudah berlubang-lubang”. Tetapi justru karena lubang-lubang itulah, seruling mampu menghasilkan nada yang begitu indah. Bayangkan jika seruling tidak memiliki satu pun lubang, meskipun ditiup sekuat apapun, Ia tidak akan mampu memainkan sebuah lagu.

Sumber: https://www.mbizmarket.co.id/catalog/detail/alat-musik-tradisional-suling

Anak-anakku, begitu pula dengan kita.

Dalam hidup kita juga ada “lubang-lubang”. Lubang itu bisa berupa kegagalan, kesedihan, kritik, kesalahan, atau tantangan yang pernah kita alami. Mungkin ada yang pernah punya nilai jelek, mungkin ada yang pernah kalah lomba, mungkin ada yang pernah dimarahi karena melakukan kesalahan, bahkan ada yang merasa hidupnya tidak semudah teman-temannya. Orang yang tidak pernah gagal biasanya tidak belajar, orang yang tidak pernah dikritik biasanya tidak berkembang, orang yang tidak pernah mengalami kesulitan biasanya tidak menjadi kuat.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DaT5SVclIYX/

Seringkali kita menganggap semua itu adalah kekurangan, padahal bisa jadi itulah yang sedang membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih baik. Seruling tidak pernah malu karena memiliki banyak lubang, justru lubang-lubang itu menjadi jalan lahirnya melodi yang menghibur banyak orang. Karakter yang hebat tidak lahir dari kehidupan yang selalu mudah, tetapi dari keberanian menghadapi setiap tantangan.


 Sumber: https://www.kompasiana.com/mr.mail/54f789f6a3331119778b4602/ujian-kehidupan

Namun ada satu hal yang menarik lagi, seruling baru mengeluarkan nada ketika ada yang meniupnya. Tiupan itu bukanlah sesuatu yang nyaman, ada tekanan yang masuk ke dalamnya dan tanpa tekanan itu tidak akan pernah ada musik. Begitu pula hidup kita, kadang Allah memberikan tekanan, ujian dan kesulitan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi agar potensi terbaik dalam diri kita dapat keluar. Maka mulai saat ini, jangan mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan. Jangan menyerah ketika melakukan kesalahan. Jadikan setiap pengalaman sebagai proses belajar. Karena suatu saat nanti, semua perjuangan yang kalian alami akan menjadi “Nada Indah” yang menginspirasi banyak orang.

Ingatlah,

Seruling tidak indah karena bambunya, tetapi karena Ia mampu mengubah lubang-lubangnya menjadi melodi. Demikian juga manusia, bukan diukur dari seberapa sedikit kekurangannya, tetapi dari seberapa besar Ia mampu mengubah kekurangannya menjadi kekuatan. Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus belajar, terus bertumbuh dan mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

 

Sumber: http://hikmahalislam.blogspot.com/2018/03/teruslah-melangkah.html

Seorang bijak berkata : Teruslah melangkah dan jangan pernah berhenti untuk berproses, karena padi yang dipanen hari ini tidaklah di tanam kemarin sore.

Terima kasih. 

 

*) Guru Ekonomi di SMAN 1 Pangalengan, Pelaku dan penikmat Musik

**) dari beragam sumber

Senin, 27 Juli 2026

A Reflective Poem

 SECERCAH HARAPAN ...

Oleh: Nurul Hidayah, S.Pd *)

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan hapan. Ada saatnya ketika mimpi terasa begitu jauh,  usaha seakan sia sia,  dan kegagalan datang silih berganti. Aku pernah dititik itu, saat semangat perlahan perlahan memudar dan keyakinan pada diri sendiri mulai runtuh. 

Hari hari terasa berat.  Setiap langkah yang kuambil seolah menemui jalan buntu.  Aku mulai bertanya tanya, apakah semua perjuangan ini akan berakhir dengan hasil yang berarti? Di tengah kekecewaan yang menumpuk,aku hampir menyerah pada keadaan. 

Namun, ketika harapan mulai redup, sebuah cahaya kecil tanpa diduga. Kata sederhana dari orang orang yang peduli, doa yang terus dipanjatkan, dan tekad yang masih tersisa di dalam hati menjadi kekuatan baru bagiku.  Secercah harapan itu datang bukan sebagai keajaiban yang langsung mengubah keadaan, melainkan sebagai keberanian untuk bangkit sekali lagi.

Aku mulai menyadari bahwa kegagalan…..

bukanlah akhir dari perjalanan. Setiap jatuh mengajarkan pelajaran,  setiap air mata menguatkan langkah, dan setiap kesulitan membentuk pribadi yang lebih tangguh. 

Harapan membuatku percaya bahwa masa depan tidak ditentukan oleh seberapa sering aku gagal, tetapi oleh seberapa kuat aku bangkit setelah terjatuh.

Kini aku mengerti bahwa harapan adalah nyala kecil yang mampu mengalahkan gelapnya keputusasaan. Selama harapan masih hidup di dalam hati, tidak ada alasan untuk berhenti berjuang. Sebab, sering kali berhasil datang kepada mereka yang memilih bertahan ketika orang lain memutuskan menyerah. 

Jangan pernah mematikan harapan dalam dirimu. Sekecil apapun harapan itu, ia mampu menjadi cahaya yang menuntutmu keluar dari kegelapan menuju masa depan yang lebih baik….semoga!!


*) Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan


Minggu, 26 Juli 2026

Psikologica

 PENTINGNYA PENGENDALIAN DIRI PADA REMAJA

Oleh: Endah Purwanti, S.Pd., M.M.Pd *)


Remaja  merupakan sosok pada masa transisi yang penuh dinamika, di mana ananda mengalami berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Masa ini sering disebut sebagai masa pencarian jati diri, di mana ananda cenderung mengalami fluktuasi emosi dan impuls yang tinggi. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi hal yang sangat penting agar ananda dapat menjalani kehidupan yang sehat, bertanggung jawab, dan produktif. Pengendalian diri tidak hanya berkaitan dengan aspek moral dan etika, melainkan juga sangat erat kaitannya dengan sistem saraf dan hormon yang ada dalam tubuh .

Sumber: https://www.google.com/search?sca_esv=bf8d1079fea3cfca&sxsrf=APpeQntJm3

Peran Sistem Saraf dalam Pengendalian Diri

Sistem saraf, khususnya otak, memainkan peran utama dalam mengatur perilaku dan emosi remaja. Otak manusia terdiri dari berbagai bagian yang memiliki fungsi berbeda, namun bagian yang paling berperan dalam pengendalian diri adalah prefrontal cortex.

 
Sumber : https://www.flintrehab.com/prefrontal-cortex-damage/

Prefrontal Cortex: Bagian ini terletak di bagian depan otak dan berfungsi untuk pengambilan keputusan, perencanaan, penilaian risiko, serta pengendalian impuls. Pada masa remaja, bagian ini masih dalam tahap perkembangan dan belum sepenuhnya matang, sehingga ananda cenderung lebih impulsif dan emosional.

Limbic System: Bagian otak ini lebih cepat berkembang selama masa remaja dan bertanggung jawab untuk emosi dan motivasi. Ketidakseimbangan antara limbic system yang aktif dan prefrontal cortex yang belum matang sering menyebabkan remaja sulit mengendalikan impuls dan emosi mereka.


Sumber :https://en.wikipedia.org/wiki/Limbic_system

Peran Hormon dalam Pengendalian Diri

Selain sistem saraf, hormon juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan emosi ananda. Beberapa hormon utama yang berperan adalah:

Dopamin: Hormon ini terkait dengan rasa bahagia, motivasi, dan penghargaan. Pada masa remaja, kadar dopamin meningkat, yang membuat mereka cenderung mencari sensasi dan pengalaman baru. Kadar dopamin yang tinggi ini dapat menyebabkan impulsif dan sulit menahan keinginan.

Sumber : https://www.istockphoto.com/id/vektor/dopamin-terminal-axon-presinaptik-closeup-sumbing-sinaptik-dan-saraf-penerima-gm1149911309-311104215

Kortisol: Hormon stres yang meningkat saat remaja menghadapi tekanan, baik dari lingkungan maupun internal. Peningkatan kortisol dapat memicu reaksi emosional berlebihan dan mempengaruhi kemampuan pengendalian diri.


Sumber : https://dietpartner.id/hormon-kortisol-alarm-senyap-yang-mengatur-keseimbangan-tubuh-wanita/

Hormon Pertumbuhan dan Estrogen/Testosteron: Perubahan hormon ini menyebabkan perubahan fisik dan juga memengaruhi suasana hati dan perilaku.

Dampak Fluktuasi Hormon:

Perubahan hormon yang cepat selama masa remaja menyebabkan ananda lebih sensitif terhadap rangsangan emosional dan cenderung mengalami naik turunnya suasana hati. Hal ini membuat pengendalian diri menjadi tantangan tersendiri. Pengendalian diri merupakan kemampuan mengendalikan impuls, emosi, dan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu baik. Mengapa pengendalian diri sangat penting?

Mencegah perilaku berisiko:  seperti penyalahgunaan narkoba, kekerasan, seks bebas, dan perilaku merugikan lainnya.

Membantu pengambilan keputusan yang tepat:agar remaja tidak terjebak dalam keputusan impulsif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Mengelola emosi: agar tidak mudah marah, cemas, atau stres berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan mental.

Membangun hubungan yang sehat: dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial.

Mencapai tujuan jangka panjang:  seperti pendidikan, karir, dan pengembangan pribadi.

Pengendalian diri tidak tumbuh secara otomatis, melainkan harus dilatih dan dikembangkan melalui berbagai cara:

1. Edukasi Emosi: Pahami tentang emosi dan cara mengelolanya. Ananda harus belajar untuk mengenali emosi diri dan mencari cara yang sehat untuk mengekspresikannya.

2. Latihan Mindfulness dan Relaksasi: Teknik meditasi, pernapasan dalam, dan kesadaran diri membantu meningkatkan konsentrasi dan kemampuan pengendalian impuls.

3. Pengaturan Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti menghindari situasi yang memicu impuls, memberi batasan yang jelas, dan memberikan ruang untuk refleksi.

4. Pilih Kebiasaan Positif: Kegiatan yang bermanfaat seperti berolahraga, membaca, berkarya seni, dan berinteraksi secara positif.

5. Dapatkan dukungan Sosial dan Pengawasan: Jalin kedekatan dengan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar, terima arahan, contoh, atau pengawasan.   Tingkatkan kemampuan mengendalikan emosi dan perilaku.

6. Pengembangan Keterampilan Sosial: Belajar berkomunikasi secara efektif dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.

Pengendalian diri adalah kemampuan penting yang harus dikembangkan remaja agar mampu menghadapi berbagai tekanan dan perubahan selama masa transisi ini. Sistem saraf dan hormon yang aktif selama masa remaja memengaruhi perilaku dan emosi ananda. Oleh karena itu, pengelolaan yang baik melalui pendidikan, dukungan sosial, dan latihan keterampilan sangat diperlukan agar remaja dapat menjadi individu yang bertanggung jawab, sehat secara mental dan emosional, serta mampu mencapai potensi terbaiknya.

“Pengendalian diri, Kunci Harmoni sekolah”


*) Guru Biologi yang mendapat Amanah menjadi Kepala SMAN 1 Pangalengan Kab. Bandung. Alumni Pertukaran Guru Indonesia da Australia.

**) dari beragam sumber


Kamis, 18 Juni 2026

Religious Spirit

 ANTARA SUUDZON, HUSNUDZON DAN TABAYUN DI ERA DIGITAL

Oleh: Rizki Maulana *)

 

Pernah nggak sih kalian mendengar kabar tentang seseorang, lalu tanpa mencari tahu kebenarannya langsung percaya dan ikut menceritakannya kepada orang lain? Atau mungkin pernah melihat teman melakukan sesuatu yang menurut kita aneh, kemudian langsung beranggapan negatif? Jika iya, bisa jadi kita sedang terjebak dalam sikap suudzon atau prasangka buruk. Di era media sosial seperti sekarang, informasi menyebar dengan sangat cepat. Hanya dengan beberapa kali klik, sebuah kabar dapat tersebar ke banyak orang. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar adalah benar. Banyak orang yang langsung mempercayai suatu berita tanpa melakukan tabayun atau mencari kejelasan terlebih dahulu. Akibatnya, muncul fitnah yang dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk selalu husnudzon atau berprasangka baik agar terhindar dari dosa dan tindakan aniaya terhadap sesama.

 
Sumber: https://www.dluha.co.id/2023/01/memilih-berprasangka-baik-terhadap.html

Husnudzon, Akhlak Mulia yang Menjaga Persaudaraan

Husnudzon berarti berprasangka baik terhadap Allah SWT maupun terhadap sesama manusia. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru menilai seseorang hanya berdasarkan dugaan atau informasi yang belum jelas kebenarannya. Sebagai contoh, ketika seorang teman tidak menyapa kita di sekolah, jangan langsung berpikir bahwa ia sedang marah atau membenci kita. Bisa saja ia sedang memiliki masalah pribadi, sedang tidak fokus, atau bahkan tidak melihat keberadaan kita. Dengan husnudzon, hati menjadi lebih tenang dan hubungan dengan orang lain tetap terjaga dengan baik.

Sumber: https://amalmatahati.id/menjaga-ukhuwah-islamiyah-kunci-kekuatan-umat/

Suudzon, Awal Mula Fitnah dan Permusuhan

Banyak konflik yang terjadi berawal dari suudzon. Ketika seseorang terlalu mudah berprasangka buruk, ia cenderung mencari-cari kesalahan orang lain dan mempercayai kabar yang belum tentu benar. Yang lebih berbahaya lagi, prasangka buruk sering berkembang menjadi fitnah. Seseorang yang mendengar informasi tanpa bukti kemudian menyebarkannya kepada orang lain dapat menyebabkan rusaknya nama baik seseorang. Padahal, orang yang difitnah mungkin tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya. Akibat fitnah, persahabatan dapat hancur, keluarga bisa bertengkar, bahkan kehidupan seseorang dapat terganggu. Karena itu, Islam sangat melarang suudzon dan fitnah.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DSojiHJDfnJ/

Dosa Menyebarkan Fitnah Akibat Suudzon

Fitnah merupakan salah satu perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Ketika seseorang menyebarkan tuduhan atau informasi yang belum jelas kebenarannya, ia tidak hanya merugikan orang lain tetapi juga menanggung dosa atas perbuatannya.Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus berhati-hati dalam berbicara dan bertindak.

·         Menyebarkan fitnah dapat menyebabkan:

·         Rusaknya kehormatan dan nama baik seseorang.

·         Putusnya hubungan persaudaraan dan pertemanan.

·         Timbulnya kebencian dan permusuhan.

·         Hilangnya kepercayaan dalam masyarakat.

·         Bertambahnya dosa karena telah menyebarkan informasi yang belum tentu benar.

Karena dampaknya yang sangat besar, setiap muslim wajib menjaga lisan, tulisan, dan unggahan di media sosial agar tidak menjadi sarana penyebaran fitnah.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DPr68-QEscZ/

Pentingnya Tabayun di Era Digital

Saat ini, banyak berita viral yang ternyata tidak sesuai fakta. Oleh karena itu, sikap tabayun atau mencari kejelasan informasi menjadi sangat penting. Sebelum membagikan berita atau menuduh seseorang, kita perlu memastikan bahwa informasi tersebut berasal dari sumber yang terpercaya. Sebagai pelajar, kita juga harus berhati-hati terhadap gosip di lingkungan sekolah. Jangan sampai kita ikut menyebarkan kabar yang belum jelas hanya karena ingin dianggap mengetahui banyak hal. Sikap seperti itu justru dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.


Sumber: https://popers.id/2025/08/20/h-28921/jangan-asal-share-pentingnya-tabayyun-dalam-islam-di-era-digital

Penutup

Husnudzon merupakan akhlak mulia yang harus dimiliki setiap muslim. Dengan berprasangka baik, kita dapat menjaga persaudaraan, menghindari kesalahpahaman, serta terhindar dari dosa akibat fitnah dan tuduhan yang tidak berdasar. Sebaliknya, suudzon dapat menjadi pintu masuk bagi fitnah, permusuhan, dan berbagai bentuk aniaya terhadap sesama. Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri untuk berpikir positif, melakukan tabayun terhadap setiap informasi, dan menjaga lisan maupun tulisan agar tidak menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Dengan demikian, kita dapat menjadi pribadi yang lebih bijaksana, adil, dan membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar.

 "Berprasangka baik akan mendatangkan kedamaian, sedangkan prasangka buruk yang disebarkan tanpa bukti hanya akan melahirkan penyesalan.”


*) Murid kelas X-L SMAN 1 Pangalengan

**) dari beragam sumber

 

Rabu, 17 Juni 2026

Literature Around Us

SASTRA BIKIN KITA LEBIH PEDULI

Oleh: Adelard Raditya Putra Prataya  *)

 

Halo, teman-teman!

Di tengah kesibukan sekolah, tugas, media sosial, dan berbagai hiburan digital, pernah nggak sih kita meluangkan waktu untuk membaca cerita, puisi, atau mendengarkan dongeng dari orang tua dan kakek-nenek? Mungkin terlihat sederhana, tetapi kegiatan tersebut sebenarnya memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya adalah membantu kita menjadi pribadi yang lebih empati dan peduli terhadap orang lain. Sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa untuk menyampaikan ide, perasaan, pengalaman, hingga imajinasi manusia. Lewat sastra, seseorang bisa menceritakan kebahagiaan, kesedihan, perjuangan, harapan, bahkan kritik terhadap kehidupan sosial. Karena itulah, sastra bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana belajar tentang kehidupan. Secara umum, sastra dibedakan menjadi dua bentuk utama, yaitu sastra tulis dan sastra lisan.

 
Sumber: https://arifsastra.blogspot.com/2016/09/sastra-lisan-pengertian-jenis-jenis-dan.html

Membaca Dunia dari Berbagai Sudut Pandang

Sastra tulis adalah karya sastra yang disampaikan melalui tulisan. Contohnya antara lain puisi, cerpen, novel, drama, hingga esai sastra. Saat membaca novel atau cerpen, kita akan bertemu dengan berbagai tokoh yang memiliki latar belakang, karakter, dan masalah yang berbeda-beda. Misalnya, ketika membaca novel tentang seorang anak yang harus berjuang membantu keluarganya, kita akan ikut merasakan kesulitan yang dialaminya. Ketika membaca puisi tentang kehilangan, kita bisa memahami bagaimana perasaan seseorang yang sedang berduka. Dari situ, tanpa sadar kita belajar memahami perasaan orang lain. Kelebihan sastra tulis adalah kita dapat membacanya berulang kali. Setiap kali membaca ulang, sering kali kita menemukan makna baru yang sebelumnya terlewat. Hal ini membuat pemahaman kita terhadap isi cerita menjadi lebih mendalam.

Sumber: https://islamiccenterkaltim.org/posts/detail/persepsi-memahami-dunia-dari-sudut-pandang-berbeda

Sastra Lisan Warisan Budaya yang Penuh Nilai

Selain sastra tulis, Indonesia juga kaya akan sastra lisan. Sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita yang disampaikan secara langsung. Contohnya adalah dongeng, pantun, legenda, mitos, hikayat, dan cerita rakyat. Siapa yang tidak pernah mendengar cerita Malin Kundang, Sangkuriang, atau Timun Mas? Cerita-cerita tersebut bukan hanya menarik untuk didengarkan, tetapi juga mengandung banyak pelajaran hidup. Ada nilai kejujuran, kerja keras, rasa hormat kepada orang tua, hingga pentingnya bertanggung jawab atas tindakan kita.Sastra lisan juga menjadi bagian penting dari identitas budaya bangsa. Melalui cerita rakyat, kita bisa mengenal tradisi, adat istiadat, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh nenek moyang. Dengan melestarikan sastra lisan, kita ikut menjaga kekayaan budaya Indonesia agar tidak hilang ditelan zaman.

 
Sumber: https://www.rumahliterasi.org/2026/05/sastra-lisan-madura-napas-budaya-yang.html

Sastra dan Empati, Hubungan yang Tidak Terpisahkan

Lalu, apa hubungan sastra dengan empati? Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kemampuan ini sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika kita berinteraksi dengan teman, keluarga, maupun masyarakat. Saat membaca novel, puisi, atau mendengarkan cerita rakyat, kita diajak masuk ke dalam dunia tokohnya. Kita melihat masalah dari sudut pandang mereka, memahami alasan di balik tindakan mereka, dan merasakan emosi yang mereka alami. Proses inilah yang membantu kita melatih empati.

 
Sumber: https://www.planetspark.in/personality-development/develop-empathy-and-critical-thinking

Di era digital seperti sekarang, informasi datang begitu cepat. Namun, tidak semua orang mampu memahami perasaan orang lain. Banyak konflik muncul karena kurangnya rasa peduli dan saling memahami. Sastra hadir sebagai jembatan yang membantu kita melihat bahwa setiap orang memiliki cerita perjuangannya masing-masing. Ketika empati tumbuh, kita akan lebih mudah menghargai perbedaan, membantu teman yang sedang kesulitan, dan bersikap lebih bijak dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, sastra tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter yang lebih manusiawi.

Sastra tulis maupun sastra lisan sama-sama memiliki peran penting dalam kehidupan. Keduanya bukan hanya menyimpan keindahan bahasa dan budaya, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sangat berharga. Melalui sastra, kita belajar memahami diri sendiri sekaligus memahami orang lain. Yuk, mulai biasakan membaca novel, cerpen, puisi, atau mendengarkan cerita rakyat dari daerah kita. Semakin banyak kisah yang kita kenal, semakin luas pula cara pandang kita terhadap kehidupan. Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati, kepedulian, dan rasa kemanusiaan yang tinggi.

 Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, tetapi juga orang-orang yang mampu memahami dan peduli terhadap sesamanya.

 

*) Murid Kelas X-K (ditulis ulang dan dikembangkan oleh Tim redaksi)

**) - Kosasih, E. 2012. "Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra". Bandung: Yrama Widya.

      - Wellek, RenĂ© & Warren, Austin. 2016. "Teori Kesusastraan". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 

Practical Knowledge

"FOREVER CHEMICALS" Oleh: Shafira Az Zahra Nurdianti  *)   Pernahkah kamu membayangkan bagaimana kehidupan kita tanpa wajan an...