MENANG TANPA CURANG
Oleh:
Selli N Somantri, S.Pd *)

Sumber: https://financialcrimeacademy.org/fraud-investigation-and-tools/
Berkaitan dengan teori kebutuhan abraham maslow, diketahui bahwa manusia memiliki kebutuhan yang tersusun secara hierarkis, mulai dari kebutuhan dasar hingga aktualisasi diri. Ketika suatu kebutuhan belum terpenuhi, seseorang dapat mencari berbagai cara untuk memenuhinya, termasuk melalui perilaku yang tidak jujur seperti menyontek.
Menyontek dalam Perspektif Hierarki Kebutuhan Maslow
o
Kebutuhan Fisiologis
Siswa
yang kurang istirahat, kelelahan, atau tidak memiliki waktu belajar yang cukup
mungkin memilih menyontek sebagai jalan pintas untuk tetap mendapatkan nilai
yang diharapkan.
o
Kebutuhan Akan Rasa Aman (Safety
Needs)
Ketakutan
terhadap hukuman, nilai buruk, tidak naik kelas, atau dimarahi orang tua dapat
mendorong siswa menyontek demi merasa aman dari konsekuensi tersebut.
o
Kebutuhan Sosial (Love and
Belongingness)
Seorang
siswa mungkin menyontek karena ingin diterima dalam kelompok teman. Misalnya,
ketika teman-temannya saling berbagi jawaban saat ujian, ia ikut melakukannya
agar tidak dianggap berbeda atau dikucilkan.
o
Kebutuhan Penghargaan (Esteem
Needs)
Keinginan
memperoleh pengakuan, prestise, pujian, atau status sebagai siswa berprestasi
dapat mendorong seseorang menyontek ketika merasa tidak mampu mencapai nilai
tinggi melalui usahanya sendiri.
o
Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization)
Pada
tingkat ini, seseorang seharusnya mengembangkan potensi dirinya secara maksimal
melalui usaha yang jujur. Menyontek justru menghambat aktualisasi diri karena
keberhasilan yang diperoleh bukan hasil kemampuan yang sebenarnya.
Sumber: https://www.ideapers.com/2021/09/abraham-maslow-dan-proses-aktualisasi-diri.html
Berdasarkan
teori Maslow tersebut, tindakan
menyontek dapat muncul ketika seseorang berusaha memenuhi kebutuhan tertentu,
terutama kebutuhan akan rasa aman, penerimaan sosial, dan penghargaan. Namun,
menyontek bukanlah cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena
dapat merugikan diri sendiri, menghambat perkembangan potensi, dan bertentangan
dengan nilai kejujuran. Sebaliknya, pemenuhan kebutuhan melalui usaha, kerja
keras, dan integritas akan membantu seseorang mencapai aktualisasi diri yang
sesungguhnya. Dalam perspektif sosiologi, kejujuran merupakan salah satu nilai
sosial yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai sosial
adalah sesuatu yang dianggap baik, benar, dan diharapkan oleh masyarakat.
Ketika seseorang bersikap jujur, ia akan mendapatkan kepercayaan dari orang
lain. Sebaliknya, perilaku curang dapat merusak kepercayaan dan mengganggu
hubungan sosial. Jika budaya menyontek dibiarkan, maka norma kejujuran akan
semakin lemah dan dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Sumber: https://kumparan.com/kumparannews/budaya-menyontek-di-kalangan-pelajar
Menang
tanpa curang menunjukkan bahwa seseorang menghargai proses, menghormati aturan,
dan bertanggung jawab atas hasil usahanya sendiri. Sikap ini menjadi modal
penting untuk membangun masyarakat yang adil dan saling percaya. Dalam
kehidupan bermasyarakat, orang yang jujur cenderung lebih dihargai dibandingkan
orang yang memperoleh keberhasilan melalui cara-cara yang tidak benar. Yang
paling utama, dari sudut pandang agama, kejujuran merupakan akhlak mulia. Dalam
Islam, misalnya, kejujuran atau ṣidq termasuk sifat yang dicintai Allah.
Setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk cara
memperoleh keberhasilan. Nilai yang tinggi hasil menyontek mungkin terlihat
membanggakan di hadapan manusia, tetapi tidak memiliki nilai yang baik di
hadapan Allah karena diperoleh dengan cara yang tidak jujur. Kejujuran dan
amanah merupakan nilai
yang paling menonjol
dalam kehidupan Rasulullah, sebagaimana terlihat dari gelar al-Amin yang
beliau miliki. Nilai ini
menegaskan pentingnya
integritas pribadi dan
kepercayaan sosial sebagai
pondasi moral yang harus dibentuk
sejak dini dalam diri peserta didik.

Sumber: https://news.detik.com/foto-news/d-4590702/massa-aksi-damai-di-patung-kuda-kompak-pakai-masker
Agama mengajarkan
bahwa hasil yang baik harus diperoleh melalui usaha yang baik pula. Ketika
seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, berdoa, dan menerima hasil sesuai
kemampuannya, maka ia telah menunjukkan sikap syukur, tanggung jawab, dan
kejujuran. Sebaliknya, kecurangan dapat menjadi kebiasaan buruk yang merugikan
diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, setiap siswa perlu menanamkan
prinsip "Menang Tanpa Curang". Prestasi yang diperoleh melalui
usaha sendiri mungkin tidak selalu sempurna, tetapi akan memberikan kebanggaan,
kepercayaan diri, dan keberkahan. Kejujuran bukan hanya nilai sosial yang
menjaga keharmonisan masyarakat, tetapi juga nilai agama yang menjadi pedoman
dalam menjalani kehidupan. Dengan membiasakan diri untuk jujur sejak di bangku
sekolah, kita sedang mempersiapkan diri menjadi pribadi yang berintegritas dan
bermanfaat bagi masyarakat.
*)
Guru Sosiologi dan Antropologi di SMAN 1 Pangalengan. Pembina IREMA Putri
**)
Sumber rujukan
https://www.gramedia.com/literasi/teori-kebutuhan-maslow/
https://www.ruangguru.com/blog/nilai-dan-norma-di-masyarakat
https://www.risetcendikia.com/index.php/jurnal-arruhul-ilmi/article/view/55/55











