"Freedom is not free. Salute to those who made it possible and keep their spirit alive."..#abuafifi

Selasa, 18 Agustus 2026

Financial Literacy

 FINANCIAL SURVIVAL UNTUK GENERASI MUDA

“Uangku, Pilihanku, Masa Depanku”

Oleh: Iwan Dwiwan, SE *)

A. Pengantar

Pernahkah kalian merasa uang saku baru diberikan, tetapi beberapa hari kemudian sudah habis? Pernahkah kalian membeli sesuatu hanya karena sedang diskon, ikut teman, melihat tren di media sosial, atau karena takut ketinggalan? Di sinilah pentingnya literasi keuangan. Literasi keuangan bukan berarti kita harus memiliki banyak uang. Literasi keuangan adalah kemampuan untuk memahami, mengatur, menggunakan, dan mengambil keputusan yang tepat terhadap uang yang kita miliki. Sebagai generasi muda, kemampuan mengelola uang merupakan salah satu keterampilan penting untuk menghadapi kehidupan di masa depan.

 
Sumber: https://artofhealthyliving.com/from-paycheck-to-purpose-a-smarter-way-to-manage-money/

B. Apa Itu Financial Survival?

Financial survival dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup dengan cara mengelola sumber daya keuangannya secara bijak. Prinsip sederhananya:

“Bukan seberapa banyak uang yang kita punya, tetapi seberapa bijak kita menggunakannya.” Seorang pelajar mungkin belum memiliki penghasilan sendiri. Namun, mereka sudah mulai belajar mengelola uang melalui:

         uang saku;

         uang transportasi;

         uang untuk membeli makanan;

         uang untuk membeli perlengkapan sekolah;

         uang untuk hiburan;

         uang pemberian orang tua;

         dan uang yang ditabung.

Kebiasaan mengelola uang sejak SMA dapat menjadi bekal ketika seseorang mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri.

 
Sumber: https://sidewaysthoughts.com/blog/2015/07/the-humanity-challenge-prioritising-the-purpose-of-profit/

C. Kebutuhan dan Keinginan

Salah satu kemampuan dasar dalam mengelola uang adalah membedakan kebutuhan dan keinginan. 

1.       Kebutuhan

Kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjalani kehidupan atau melakukan aktivitas dengan baik.

Contohnya:

            makanan;

            minuman;

            transportasi;

            buku pelajaran;

            alat tulis;

            pakaian yang diperlukan;

            biaya pendidikan;

            kuota internet untuk pembelajaran.

2.       Keinginan

Keinginan adalah sesuatu yang ingin dimiliki atau dilakukan, tetapi sebenarnya masih dapat ditunda.

Contohnya:

            membeli minuman kekinian;

            membeli aksesori;

            membeli sepatu baru padahal sepatu lama masih baik;

            membeli skin atau item dalam game;

            nongkrong di kafe;

            membeli barang karena sedang tren.

Perlu diingat: Keinginan tidak selalu buruk. Yang penting adalah kita mampu mengendalikan dan menentukan prioritas.


 
Sumber: https://validnews.id/catatan-valid/menentukan-prioritas-terpenting-ala-eisenhower-matrix

D. Pengeluaran yang Tidak Perlu

Ada pengeluaran yang bukan merupakan kebutuhan utama dan bahkan tidak selalu merupakan keinginan yang benar-benar kita butuhkan. Contohnya:

“Saya membeli karena sedang diskon.” Padahal barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan. Atau:

“Teman-teman saya membeli, jadi saya ikut membeli.”

Pengeluaran seperti ini dapat terjadi karena:

         FOMO (Fear of Missing Out);

         ikut tren;

         pengaruh teman;

         iklan;

         promo;

         diskon;

         flash sale;

         atau keputusan spontan.

Ingat! Barang murah bukan berarti harus dibeli. Jika barang tersebut tidak diperlukan, uang yang dikeluarkan tetap merupakan pengeluaran.

E. Mengapa Uang Saku Cepat Habis?

Ada beberapa penyebab uang saku cepat habis.

1.       Tidak membuat rencana. Uang digunakan tanpa mengetahui berapa yang boleh dibelanjakan.

2.       Pengeluaran kecil yang berulang. Misalnya:Rp5.000 untuk jajan; Rp5.000 untuk minuman; Rp10.000 untuk makanan ringan. Terlihat kecil, tetapi jika dilakukan setiap hari jumlahnya dapat menjadi besar.

3.       Mengikuti teman. Teman mengajak makan, nongkrong, atau membeli sesuatu sehingga kita ikut mengeluarkan uang.

4.       Belanja karena emosi. Ketika bosan, sedih, atau senang, seseorang terkadang menggunakan belanja sebagai pelampiasan.

5.       Tergoda promo. Diskon dan promo dapat membuat seseorang merasa harus segera membeli. Padahal:Promo bukan alasan untuk membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.

 

Sumber: https://www.parapuan.co/read/532837319/tergoda-promo-17-agustus

F. Cara Sederhana Mengelola Uang

Pelajar dapat mulai menggunakan langkah sederhana berikut.

1.       Catat, catat setiap pengeluaran.

2.       Prioritaskan, dahulukan kebutuhan yang paling penting.

3.       Batasi, tentukan batas uang untuk jajan dan hiburan.

4.       Sisihkan, sisihkan sebagian uang untuk tabungan.

5.       Evaluasi, keriksa kembali pengeluaran setiap akhir minggu.

Contoh Kasus

Bayangkan seorang siswa mendapatkan uang saku: Rp30.000 per hari, dalam satu hari ia menggunakan:

         Transportasi = Rp10.000

         Makan = Rp10.000

         Minuman = Rp5.000

         Jajan = Rp5.000

         Total = Rp30.000

Tidak ada uang yang tersisa. Sekarang coba bayangkan jika siswa tersebut mengurangi salah satu pengeluaran yang sebenarnya dapat ditunda. Misalnya:

         Transportasi = Rp10.000

         Makan = Rp10.000

         Minuman = Rp3.000

         Jajan = Rp2.000

         Tabungan = Rp5.000

         Total = Rp30.000

Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat memenuhi kebutuhan dan mulai belajar menabung.

Sumber: https://www.loanmarket.co.id/news/susah-menabung-simak-tips-tips-berikut

H. Pertanyaan Penting Sebelum Membeli

Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah saya benar-benar membutuhkannya?” Kemudian tanyakan:

1.       Apakah barang ini memang diperlukan?

2.       Apakah saya masih memiliki barang yang sama?

3.       Apakah saya membeli karena kebutuhan atau karena ikut tren?

4.       Apakah saya mampu membelinya?

5.       Jika tidak membeli sekarang, apakah ada masalah?

6.       Apakah uang tersebut lebih bermanfaat jika ditabung?

Jika sebagian besar jawabannya menunjukkan bahwa barang tersebut tidak penting, mungkin lebih baik menunda pembelian.

I. Kebutuhan, Keinginan, atau Tidak Perlu?

Coba perhatikan beberapa contoh berikut: Pengeluaran kategori

         Membeli buku Pelajaran kebutuhan

         Membeli makanan     Kebutuhan

         Membayar transportasi sekolah kebutuhan

         Membeli sepatu karena sepatu lama rusak kebutuhan

         Membeli sepatu baru karena model terbaru keinginan

         Membeli minuman kekinian keinginan

         Membeli barang karena sedang diskon belum tentu perlu

         Membeli karena takut ketinggalan tren tidak perlu jika tidak dibutuhkan

         Menabung     Prioritas keuangan

         Menyimpan uang untuk keadaan mendesak cadangan

Namun, perlu dipahami bahwa kategori tersebut dapat berbeda tergantung situasi seseorang.

Misalnya, membeli kuota internet dapat menjadi kebutuhan jika digunakan untuk pembelajaran, tetapi penggunaan internet yang berlebihan untuk hiburan merupakan hal yang perlu dikendalikan.


 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DPi78VCktmN/

J. Financial Survival Bukan Berarti Pelit

Mengelola uang bukan berarti tidak boleh menikmati hasil yang kita miliki. Kita tetap boleh:

         jajan;

         bermain;

         nongkrong;

         membeli barang yang disukai;

         memberikan hadiah kepada orang lain.

Yang penting adalah mengetahui batas dan prioritas. Orang yang mampu mengelola uang bukan berarti orang yang tidak pernah mengeluarkan uang. Sebaliknya, ia tahu: Kapan harus menggunakan uang, kapan harus menunda, dan kapan harus menyimpan.

 

K. Tantangan untuk Generasi Muda

Generasi sekarang hidup dalam lingkungan yang sangat mudah untuk berbelanja. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, seseorang dapat:

         melihat produk;

         membandingkan harga;

         membeli barang;

         membayar secara digital;

         dan menerima barang di rumah.

Kemudahan tersebut memberikan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan pengendalian diri.

Karena itu, generasi muda perlu memiliki tiga kemampuan:

         Berpikir sebelum membeli, jangan langsung mengikuti keinginan.

         Mengatur uang, ketahui berapa uang yang dimiliki dan ke mana uang tersebut digunakan.

         Menentukan prioritas, dahulukan kebutuhan dan tujuan yang lebih penting.

 

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalengan. Praktisi di bidang Manajemen Pemasaran, Koperasi dan Enterprenership.

**) dari beragam sumber

Senin, 17 Agustus 2026

Momentum

 17–08–1945. DARI ANGKA SEJARAH KE GENERASI BERNALAR

(Peringatan Kemerdekaan, Literasi Numerasi, dan Transformasi Bahasa Indonesia dalam Upaya Mewujudkan Jati Diri Bangsa Abad Ini)

Oleh: Hj. Ani Haelani, SS., M.Pd., MIL *)

 

Ada yang istimewa dari angka 17–08–1945. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya sebuah tanggal. Namun bagi bangsa Indonesia, angka tersebut adalah jejak sejarah yang mengandung makna luar biasa. 17 adalah tanggal, 08 adalah bulan Agustus, sedangkan 1945 adalah tahun ketika bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Jika angka tersebut dibaca melalui perspektif numerasi, kita tidak hanya melihat deretan angka, tetapi juga melihat sebuah perjalanan bangsa. Angka dapat membawa kita kepada sejarah; sejarah membawa kita kepada kesadaran; kesadaran mengajak kita berpikir; dan berpikir mendorong kita menentukan apa yang harus dilakukan untuk masa depan. Dengan demikian, 17–08–1945 bukan hanya angka sejarah, melainkan angka yang mengajak generasi muda untuk bernalar. Angka dapat dihitung, tetapi sejarah harus dimaknai. (Angka + Sejarah + Bahasa + Nilai = Literasi Kehidupan).

Inilah alasan mengapa peringatan HUT Republik Indonesia tidak seharusnya berhenti pada upacara, pengibaran bendera, lagu kebangsaan, dan kemeriahan perlombaan. Di balik setiap kegiatan terdapat nilai yang dapat dibaca, direnungkan, dan ditransformasikan menjadi pembelajaran.

 Ketika Angka Membaca Sejarah dan Perlombaan Membaca Kehidupan

Tahun ini, 81 tahun perjalanan Indonesia kembali diperingati dengan semangat yang meriah. Di berbagai daerah, suasana kemerdekaan mulai terasa melalui aneka perlombaan. Panjat pinang dengan hadiah di atas kolam, tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, balap kelereng, dan berbagai permainan tradisional lainnya kembali menghidupkan kebersamaan masyarakat.

Di SMAN 1 Pangalengan, semangat tersebut hadir melalui lomba makan kerupuk, injak balon, karet tepung, estafet samping, lingkaran air, balap lari, hingga voli air. Sekilas, semua itu hanyalah permainan. Namun apabila kita mau membaca lebih dalam, sesungguhnya perlombaan HUT RI adalah sekolah kehidupan yang berlangsung dalam suasana gembira.

Panjat pinang, misalnya, bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mencapai hadiah di puncak. Di sana terdapat strategi, keseimbangan, keberanian, kepercayaan, dan kerja sama. Ketika dilakukan dengan tantangan kolam di bawahnya, peserta juga belajar bahwa keberanian harus ditemani perhitungan dan kehati-hatian. Hadiah di atas dapat dibaca sebagai simbol cita-cita: sesuatu yang ingin dicapai, tetapi membutuhkan usaha bersama.

Tarik tambang pun demikian. Kekuatan tidak akan berarti tanpa kekompakan. Setiap anggota harus memahami posisi, ritme, dan tanggung jawabnya. Satu orang yang bergerak tidak seirama dapat memengaruhi keseluruhan tim. Bukankah kehidupan berbangsa juga demikian? Indonesia dibangun oleh manusia yang berbeda-beda, tetapi memiliki tujuan yang sama.

 Berbeda kekuatan, berbeda peran, tetapi tetap satu Indonesia.

Balap karung mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Langkah peserta memang dibatasi oleh karung, tetapi mereka tetap harus mencari cara untuk mencapai garis akhir. Dalam kehidupan, generasi muda pun menghadapi keterbatasan, perubahan, persaingan, dan berbagai tantangan. Yang menentukan bukan selalu kondisi awal, melainkan kemampuan untuk beradaptasi, belajar, dan terus bergerak maju.

Pada lomba makan kerupuk, kita melihat pentingnya fokus. Di tengah suasana yang ramai, peserta harus tetap berkonsentrasi pada tujuan. Nilai ini menjadi semakin relevan di tengah kehidupan digital yang dipenuhi informasi. Generasi muda tidak cukup hanya mampu menerima informasi dengan cepat. Mereka harus mampu memilah, membaca, memahami, memeriksa, dan menentukan informasi mana yang layak dipercaya.

Balap kelereng mengajarkan ketelitian. Kecepatan saja tidak cukup apabila tidak disertai keseimbangan. Nilai ini sangat dekat dengan kehidupan di era AI. Teknologi dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi manusia tetap harus bertanya: Benarkah informasi itu? Logiskah jawabannya? Sesuaikah dengan konteks? Dapatkah dipertanggungjawabkan?

 Di sinilah kecepatan teknologi harus diimbangi dengan ketelitian manusia.

Injak balon mengajarkan bahwa bergerak cepat tetap membutuhkan kecermatan. Karet tepung mengajarkan kesabaran dan koordinasi. Estafet samping mengingatkan bahwa keberhasilan merupakan hasil dari keterhubungan antarmanusia. Lingkaran air menuntut komunikasi dan kekompakan. Balap lari mengajarkan daya juang dan sportivitas. Sementara voli air menghadirkan pengalaman untuk beradaptasi dengan kondisi yang tidak biasa.

Semua permainan tersebut akhirnya mengarah pada satu kesimpulan, yakni kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan kegembiraan, tetapi juga dipelajari melalui pengalaman.

·         Kita belajar menang tanpa merendahkan.

·         Kita belajar kalah tanpa menyerah.

·         Kita belajar berkompetisi tanpa kehilangan persahabatan.

·         Dan kita belajar bahwa tujuan bersama sering kali lebih penting daripada kemenangan pribadi.

·         Dari Perlombaan ke Literasi dan Numerasi

Menariknya, seluruh kegiatan tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran yang sangat kaya. Siswa dapat mengamati jumlah peserta, menghitung waktu, membandingkan skor, menentukan selisih hasil pertandingan, mencatat urutan pemenang, menghitung rata-rata, membuat tabel, menyusun grafik, dan membaca data.

·         Dari angka-angka tersebut, lahirlah teks.

·         Data dapat menjadi laporan.

·         Pengalaman dapat menjadi berita.

·         Pengamatan dapat menjadi teks eksplanasi.

·         Pendapat dapat menjadi artikel argumentatif.

·         Suasana kemerdekaan dapat menjadi puisi.

Dengan demikian, numerasi tidak berhenti pada angka, sedangkan literasi tidak berhenti pada membaca teks. Keduanya bertemu ketika siswa menggunakan angka dan bahasa untuk memahami realitas. Inilah pembelajaran yang dekat dengan kehidupan.

Siswa tidak hanya bertanya, “Berapa?”, tetapi juga belajar bertanya “Mengapa?”, “Bagaimana?”, dan “Apa maknanya bagi kehidupan?”

 Dari sinilah lahir generasi bernalar.

“Di Bawah Merah Putih”: Ketika Puisi Menjadi Cermin Kemerdekaan

Di tengah semarak perlombaan, ada satu hal yang tidak boleh terlupakan, yakni makna kemerdekaan itu sendiri.

Hal tersebut terasa kuat dalam puisi “Di Bawah Merah Putih”. Puisi ini tidak sekadar berbicara tentang bendera Merah Putih dan suasana HUT RI. Lebih dalam dari itu, puisi tersebut mengajak pembaca melihat kemerdekaan sebagai amanah, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, pengabdian, dan harapan untuk Indonesia.

Puisi itu dibuka dengan kesadaran tentang perjalanan waktu:

“Delapan puluh satu tahun telah berlalu, merah putih masih berkibar di langit biru.”

Angka 81 kemudian tidak hanya menjadi penanda usia Republik Indonesia. Ia menjadi angka refleksi.

Delapan puluh satu tahun telah berlalu. Lalu, apa yang telah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan?

Pertanyaan itu semakin kuat ketika puisi mengatakan:

“Kemerdekaan bukan sekadar kata, ia adalah amanah yang harus dijaga.”

Kalimat tersebut membawa kita keluar dari kemeriahan menuju perenungan.

Kemerdekaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan.

Kemerdekaan adalah amanah yang harus dirawat oleh setiap generasi.

Para pejuang telah memberikan kemerdekaan melalui perjuangan mereka. Generasi sekarang menerima tongkat estafet tersebut. Tugas kita bukan hanya mengenangnya, tetapi meneruskan nilai-nilai perjuangannya melalui pendidikan, kejujuran, kerja keras, kepedulian, dan karya.

Puisi itu juga menyuarakan kegelisahan terhadap hilangnya kejujuran:

“Maka jangan biarkan kejujuran kalah, oleh kepentingan yang datang sesaat.”

Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Di era digital, informasi dapat dibuat dan disebarkan dengan sangat cepat. Teknologi kecerdasan artifisial bahkan mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan berbagai bentuk konten dalam waktu singkat. Namun semakin canggih teknologi, semakin besar pula kebutuhan terhadap integritas manusia.

·         AI dapat membantu menulis, tetapi manusia harus bertanggung jawab atas apa yang ditulis.

·         AI dapat membantu mencari gagasan, tetapi manusia harus memeriksa kebenarannya.

·         AI dapat membantu menghasilkan karya, tetapi manusia harus memastikan karya tersebut tidak digunakan untuk menipu, menyebarkan kebohongan, atau merugikan orang lain.

Dengan demikian, teknologi membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan mesin, yakni: nurani.

 Bahasa Indonesia. Dari Alat Komunikasi Menjadi Alat Bernalar

Di sinilah transformasi peran Bahasa Indonesia menjadi semakin penting.

Bahasa Indonesia dahulu sering dipahami terutama sebagai alat komunikasi dan pemersatu bangsa. Namun di tengah perkembangan teknologi dan AI, perannya menjadi jauh lebih strategis.

·         Bahasa adalah alat untuk berpikir.

·         Dengan bahasa kita menyusun gagasan.

·         Dengan bahasa kita menjelaskan data.

·         Dengan bahasa kita membangun argumentasi.

·         Dengan bahasa kita mempertanyakan informasi.

·         Dengan bahasa kita menyampaikan kritik.

·         Dengan bahasa kita menciptakan karya.

Dan melalui bahasa pula kita membentuk karakter serta menjaga jati diri bangsa.

Ketika seorang siswa membaca puisi “Di Bawah Merah Putih”, ia tidak hanya membaca kata demi kata.

·         Ia menafsirkan.

·         Ia merasakan.

·         Ia menghubungkan kata dengan realitas.

·         Ia bertanya tentang keadilan.

·         Ia berpikir tentang kejujuran.

·         Ia merenungkan tanggung jawab.

·         Ia kemudian menentukan sikap.

Inilah hakikat pembelajaran Bahasa Indonesia yang sesungguhnya:

Membaca kata untuk memahami makna, memahami makna untuk membaca kehidupan.

Bahasa Indonesia di Era AI: Semakin Canggih Teknologi, Semakin Penting Nalar.

Kehadiran AI tidak seharusnya membuat manusia berhenti berpikir. Sebaliknya, AI harus menjadi alat yang membantu manusia memperluas kemampuan berpikir.

Dahulu kita mungkin bertanya:

“Bagaimana menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?”

Kini pertanyaannya berkembang menjadi:

“Bagaimana menggunakan Bahasa Indonesia untuk berpikir dengan baik, bernalar secara kritis, berkomunikasi secara santun, membangun karakter, menciptakan karya, dan menjaga jati diri bangsa?”

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia tidak kehilangan relevansinya di era AI.

Justru sebaliknya. Semakin canggih teknologi, semakin penting kemampuan manusia dalam menggunakan bahasa.

Sebab sebelum manusia menggunakan AI, ia harus mampu merumuskan apa yang ingin dicari.

Sebelum menerima jawaban AI, ia harus mampu menilai.

Sebelum menyebarkan hasilnya, ia harus mampu memeriksa.

Dan sebelum menjadikannya karya, ia harus mampu mempertanggungjawabkannya.

Karena itu:

AI boleh membantu manusia berpikir, tetapi manusia tidak boleh berhenti berpikir karena AI.

 Dari Angka Sejarah Menuju Generasi Bernalar

Angka 17–08–1945 pada akhirnya membawa kita pada perjalanan yang jauh lebih luas.

·         Dari angka kita belajar numerasi.

·         Dari sejarah kita belajar identitas.

·         Dari perlombaan kita belajar kebersamaan dan sportivitas.

·         Dari puisi kita belajar rasa, nilai, dan karakter.

·         Dari Bahasa Indonesia kita belajar berpikir, bernalar, berkomunikasi, dan berkarya.

·         Dari AI kita belajar beradaptasi tanpa kehilangan kendali.

·         Dan dari kemerdekaan kita belajar bertanggung jawab terhadap masa depan.

Inilah yang seharusnya menjadi semangat literasi pada abad ini.

Literasi bukan hanya kegiatan membaca buku. Literasi adalah kemampuan membaca dunia.

Numerasi bukan sekadar menghitung. Numerasi adalah kemampuan memahami angka untuk membaca kenyataan dan mengambil keputusan.

Bahasa bukan hanya alat berbicara. Bahasa adalah alat berpikir dan membangun peradaban.

 Mewujudkan Jati Diri Bangsa Abad Ini

Indonesia membutuhkan generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan akar budayanya.

Generasi yang mampu menggunakan AI tanpa kehilangan daya nalar. Generasi yang mampu membaca data tanpa kehilangan nurani.

Generasi yang mampu berkomunikasi secara global tanpa meninggalkan Bahasa Indonesia. Generasi yang mampu berkompetisi secara internasional tetapi tetap memahami nilai-nilai kebangsaan.

Inilah tantangan pendidikan Indonesia hari ini.

Kemerdekaan tidak cukup hanya diwariskan. Kemerdekaan harus dihidupkan kembali melalui karya setiap generasi.

Maka, mari kita jadikan HUT RI bukan sekadar momentum untuk bersenang-senang, tetapi kesempatan untuk membaca kembali perjalanan bangsa.

·         Mari kita hitung usia Indonesia.

·         Mari kita baca datanya.

·         Mari kita pahami sejarahnya.

·         Mari kita renungkan maknanya.

·         Mari kita abadikan dalam bahasa.

Dan mari kita gunakan teknologi untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan tanggung jawab manusia.

Semarak Kemerdekaan, Semarak Literasi

·         Mari semarakkan HUT RI dengan kebersamaan.

·         Mari berlomba dengan sportif.

·         Mari menang tanpa merendahkan.

·         Mari kalah tanpa menyerah.

·         Mari menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan.

·         Mari menggunakan AI tanpa kehilangan daya pikir.

Dan mari menggunakan Bahasa Indonesia bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk membaca dunia, memahami persoalan, mengolah informasi, bernalar, berkarya, membangun karakter, serta menjaga jati diri bangsa.

Sebab angka 17–08–1945 bukan sekadar tanggal yang kita hafalkan. Ia adalah angka yang mengingatkan kita bahwa sebuah bangsa pernah memilih untuk berdiri sendiri.

Kini, setelah 81 tahun, pertanyaannya bukan lagi sekadar:

“Kapan Indonesia merdeka?”

Tetapi:

“Apa yang akan kita lakukan dengan kemerdekaan itu?”

Jawabannya ada pada pendidikan. Ada pada karakter. Ada pada karya. Ada pada literasi. Ada pada numerasi. Ada pada kemampuan bernalar. Ada pada cara kita menggunakan Bahasa Indonesia. Dan ada pada cara kita menggunakan teknologi.

·         Angka mengajarkan kita menghitung.

·         Sejarah mengajarkan kita mengingat.

·         Bahasa mengajarkan kita memahami.

·         Literasi mengajarkan kita berpikir.

·         Numerasi mengajarkan kita bernalar.

·         Perlombaan mengajarkan kita bekerja sama.

·         Sportivitas mengajarkan kita menghargai.

·         Kemerdekaan mengajarkan kita bertanggung jawab.

Dan AI mengingatkan kita bahwa secanggih apa pun teknologi, manusia tetap harus menjadi pengendali arah dan tujuan.

 Dirgahayu Republik Indonesia ke-81

Mari terus membaca untuk mengetahui. Berpikir untuk memahami. Bernalar untuk menentukan. Berkarya untuk menginspirasi. Berbahasa untuk membangun peradaban. Dan berteknologi untuk menghadirkan masa depan Indonesia yang lebih unggul, berkarakter, dan bermartabat.

MERDEKA!

*) Ani Haelani merupakan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan, Koordinator Literasi, Pemerhati Lingkungan/AK3LH, Pengasuh SSTF, Pustakawan).

**) Daftar Pustaka:

Keraf, Gorys. “Diksi dan Gaya Bahasa”. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tarigan, Henry Guntur. “Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa”. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. “Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa”. Bandung: Angkasa.

Financial Literacy

  FINANCIAL SURVIVAL UNTUK GENERASI MUDA “Uangku, Pilihanku, Masa Depanku” Oleh: Iwan Dwiwan, SE *) A. Pengantar Pernahkah kalian m...