The beautiful thing about learning is that no one can take it away from you." – B.B. King "

Minggu, 26 Juli 2026

Psikologica

 PENTINGNYA PENGENDALIAN DIRI PADA REMAJA

Oleh: Endah Purwanti, S.Pd., M.M.Pd *)


Remaja  merupakan sosok pada masa transisi yang penuh dinamika, di mana ananda mengalami berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Masa ini sering disebut sebagai masa pencarian jati diri, di mana ananda cenderung mengalami fluktuasi emosi dan impuls yang tinggi. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi hal yang sangat penting agar ananda dapat menjalani kehidupan yang sehat, bertanggung jawab, dan produktif. Pengendalian diri tidak hanya berkaitan dengan aspek moral dan etika, melainkan juga sangat erat kaitannya dengan sistem saraf dan hormon yang ada dalam tubuh .

Sumber: https://www.google.com/search?sca_esv=bf8d1079fea3cfca&sxsrf=APpeQntJm3

Peran Sistem Saraf dalam Pengendalian Diri

Sistem saraf, khususnya otak, memainkan peran utama dalam mengatur perilaku dan emosi remaja. Otak manusia terdiri dari berbagai bagian yang memiliki fungsi berbeda, namun bagian yang paling berperan dalam pengendalian diri adalah prefrontal cortex.

 
Sumber : https://www.flintrehab.com/prefrontal-cortex-damage/

Prefrontal Cortex: Bagian ini terletak di bagian depan otak dan berfungsi untuk pengambilan keputusan, perencanaan, penilaian risiko, serta pengendalian impuls. Pada masa remaja, bagian ini masih dalam tahap perkembangan dan belum sepenuhnya matang, sehingga ananda cenderung lebih impulsif dan emosional.

Limbic System: Bagian otak ini lebih cepat berkembang selama masa remaja dan bertanggung jawab untuk emosi dan motivasi. Ketidakseimbangan antara limbic system yang aktif dan prefrontal cortex yang belum matang sering menyebabkan remaja sulit mengendalikan impuls dan emosi mereka.


Sumber :https://en.wikipedia.org/wiki/Limbic_system

Peran Hormon dalam Pengendalian Diri

Selain sistem saraf, hormon juga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan emosi ananda. Beberapa hormon utama yang berperan adalah:

Dopamin: Hormon ini terkait dengan rasa bahagia, motivasi, dan penghargaan. Pada masa remaja, kadar dopamin meningkat, yang membuat mereka cenderung mencari sensasi dan pengalaman baru. Kadar dopamin yang tinggi ini dapat menyebabkan impulsif dan sulit menahan keinginan.

Sumber : https://www.istockphoto.com/id/vektor/dopamin-terminal-axon-presinaptik-closeup-sumbing-sinaptik-dan-saraf-penerima-gm1149911309-311104215

Kortisol: Hormon stres yang meningkat saat remaja menghadapi tekanan, baik dari lingkungan maupun internal. Peningkatan kortisol dapat memicu reaksi emosional berlebihan dan mempengaruhi kemampuan pengendalian diri.


Sumber : https://dietpartner.id/hormon-kortisol-alarm-senyap-yang-mengatur-keseimbangan-tubuh-wanita/

Hormon Pertumbuhan dan Estrogen/Testosteron: Perubahan hormon ini menyebabkan perubahan fisik dan juga memengaruhi suasana hati dan perilaku.

Dampak Fluktuasi Hormon:

Perubahan hormon yang cepat selama masa remaja menyebabkan ananda lebih sensitif terhadap rangsangan emosional dan cenderung mengalami naik turunnya suasana hati. Hal ini membuat pengendalian diri menjadi tantangan tersendiri. Pengendalian diri merupakan kemampuan mengendalikan impuls, emosi, dan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak selalu baik. Mengapa pengendalian diri sangat penting?

Mencegah perilaku berisiko:  seperti penyalahgunaan narkoba, kekerasan, seks bebas, dan perilaku merugikan lainnya.

Membantu pengambilan keputusan yang tepat:agar remaja tidak terjebak dalam keputusan impulsif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Mengelola emosi: agar tidak mudah marah, cemas, atau stres berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan mental.

Membangun hubungan yang sehat: dengan keluarga, teman, dan lingkungan sosial.

Mencapai tujuan jangka panjang:  seperti pendidikan, karir, dan pengembangan pribadi.

Pengendalian diri tidak tumbuh secara otomatis, melainkan harus dilatih dan dikembangkan melalui berbagai cara:

1. Edukasi Emosi: Pahami tentang emosi dan cara mengelolanya. Ananda harus belajar untuk mengenali emosi diri dan mencari cara yang sehat untuk mengekspresikannya.

2. Latihan Mindfulness dan Relaksasi: Teknik meditasi, pernapasan dalam, dan kesadaran diri membantu meningkatkan konsentrasi dan kemampuan pengendalian impuls.

3. Pengaturan Lingkungan: Menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti menghindari situasi yang memicu impuls, memberi batasan yang jelas, dan memberikan ruang untuk refleksi.

4. Pilih Kebiasaan Positif: Kegiatan yang bermanfaat seperti berolahraga, membaca, berkarya seni, dan berinteraksi secara positif.

5. Dapatkan dukungan Sosial dan Pengawasan: Jalin kedekatan dengan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar, terima arahan, contoh, atau pengawasan.   Tingkatkan kemampuan mengendalikan emosi dan perilaku.

6. Pengembangan Keterampilan Sosial: Belajar berkomunikasi secara efektif dan menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.

Pengendalian diri adalah kemampuan penting yang harus dikembangkan remaja agar mampu menghadapi berbagai tekanan dan perubahan selama masa transisi ini. Sistem saraf dan hormon yang aktif selama masa remaja memengaruhi perilaku dan emosi ananda. Oleh karena itu, pengelolaan yang baik melalui pendidikan, dukungan sosial, dan latihan keterampilan sangat diperlukan agar remaja dapat menjadi individu yang bertanggung jawab, sehat secara mental dan emosional, serta mampu mencapai potensi terbaiknya.

“Pengendalian diri, Kunci Harmoni sekolah”


*) Guru Biologi yang mendapat Amanah menjadi Kepala SMAN 1 Pangalengan Kab. Bandung. Alumni Pertukaran Guru Indonesia da Australia.

**) dari beragam sumber


Psikologica

 PENTINGNYA PENGENDALIAN DIRI PADA REMAJA Oleh: Endah Purwanti, S.Pd., M.M.Pd *) Remaja  merupakan sosok pada masa transisi yang penuh dinam...