"Leaders are not born, they are made. And they are made just like anything else, through hard work and determination." @abuafifi

Rabu, 21 Agustus 2024

CIVILATION

 

TINJAUAN TERHADAP NILAI, NORMA, MORAL, ETIKA, DAN PANDANGAN HIDUP, PERLU DIPAHAMI OLEH SETIAP WARGA NEGARA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

oleh Zenal Muttaqin, S.HI*)

 

     Sebagai makhluk individu dan sosial tidaklah mungkin manusia dapat memenuhi segala kebutuhannya sendiri,oleh karena itu untuk dapat memenuhi kebutuhannya ia senantiasa memerlukan batuan atau keberadaan orang lain. Dalam pengertian inilah maka manusia sebagai pribadi hidup sebagai bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas secara berturut-turut hidup dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, bangsa, dan lingkungan negara yang merupakan lembaga-lembaga masyarakat utama yang diharapkan mampu menyalurkan dan mewujudkan pandangan hidupnya. Dengan demikian, dalam kehidupan bersama warga negara itu membutuhkan suatu tekad untuk mewujudkannya apa yang menjadi cita-citanya (cita-cita bersama). Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, perlu kesadaran warga negara untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara yang baik, Bersama dengan warga yang lain untuk mendukung dan melaksanakan program-program yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

 
Sumber: https://radarkepahiang.disway.id/read/660838/legenda-burung-garuda-menjadi-simbol-keagungan

      Bagi bangsa Indonesia sendiri mempunyai banyak pengalaman dalam upaya menjadikan warga Negara yang baik dengan serangkaian Pendidikan yang diselenggarakan dinegara kita (Indonesia), yaitu lewat matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hal ini terbukti sebagaimana kita lihat dalam tujuan umum dari Pendidikan Kewarganegaraan pada dasarnya adalah bagaimana menjadikan warga negara yang baik, mampu mendukung bangsa dan Negara. (Winarno; 2007:V). Upaya mewarga-negarakan individu atau orang-orang yang hidup dalam suatu Negara merupakan tugas utama dari negara.      Konsep warga Negara yang baik (good citizen) tentunya tidak lepas dari pandangan hidup suatu bangsa yang dilandasi oleh nilai, norma, moral, dan etika dari warga Negara itu sendiri. Pada era sekarang ini tentunya diperlukan Pendidikan Kewarganegaraan yang bertujuan membentuk warga Negara yang cerdas, berkepribadian, bertanggung jawab bagi kelangsungan kehidupan bangsa Negara Indonesia. Inilah kiranya sebagai ukuran/kriteria untuk masa sekarang ini. Untuk itu, maka setiap kehidupan warga negara perlu dilandasi pemahaman akan pengertian nilai, norma, moral, etika dan pandangan hidup yang kokoh untuk terwujudnya seorang warga Negara yang baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perlu diketahui bahwa warga Negara yang baik itu tidak semata-mata warga Negara yang cerdas, berkepribadian, dan bertanggung jawab saja, namun perlu juga dilandasai dengan pengertian nilai, norma, moral, etika, dan pandangan hidup dari suatu warga negara itu sendiri, sehingga dalam sikap perbuatannya tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan norma/aturan yang berlaku. Lebih dari itu harus juga dilandasi oleh adanya suatu pandangan hidup yang kokoh agar supaya tidak terombang-ambingkan oleh situasi yang tidak menyenangkan.

Sumber: https://www.alodokter.com/kerap-dianggap-sama-kenali-perbedaan-moral-dan-etika

Pemahaman Nilai, Norma, Moral, Etika, dan Pandangan Hidup

1. Nilai/value

Apakah nilai atau value itu? Nilai merupakan masalah yang penting yang dibahas oleh filsafat tepatnya oleh cabang filsafat aksiologi. Tidaklah mengherankan apabila aksiologi sebagai problem of human value

oleh Lois O Kattsoft dalam (Dardji Darmodiharjdo; 1996:50), mengartikan aksiologi sebagai ilmu yang menyelidiki hakekat nilai yang pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Cabang filsafat ini merupakan salah satu dari tiga cabang pokok filsafat, dua yang lainnya, yaitu ontologi dan epistimologi. Sesuatu dikatakan mempunyai nilai apabila ia bermanfaat dalam kaca mata manusia yang memberikan penilaian. Jadi nilai tidak lain sebenarnya adalah kualitas dari sesuatu. Jika dikatakan lukisan (sesuatu) itu indah, maka yang dimaksud dengan nilai "indah” adalah kualitas dari lukisan tersebut, bukan benda lukisannya. Jadi ukuran dari kualitas itu adalah bermanfaat atau tidak, bermanfaat bagi kepentingan manusia, baik kepentingan itu bersifat lahiriah atau batiniah. Selanjutnya apakah nilai itu sebenarnya? Secara etimologis, nilai berasal dari kata value(inggris) dan yang berasal dari kata value(Latin) yang berarti kuat, baik, berharga. Dengan demikian secara sederhana nilai adalah sesuatu yang berharga baik menurut standard logika (baik-jelek), estetika (bagus-buruk), etika (adil-tidak adil), agama (haram dan halal), dan hukum (sah-absah), serta menjadi acuan dan atau system keyakinan diri maupun kehidupan.

     Menilai berarti menimbang-nimbang dan membandingkan sesuatu dengan yang lain untuk kemudian dijadikan dasar mengambil sikap atau keputusan. Hasil pertimbangan dan perbandingan yang dibuat itulah yang disebut nilai. Karena ada unsur pertimbangan dan perbandingan berarti sesungguhnya objek yang diberi penilaian tersebut tidak tunggal. Objek di sini dapat berupa suatu yang bersifat jasmaniah atau rohaniah, misalnya benda, sikap, dan tindakan tertentu. Di sini berarti subjek berhadapan dengan objek, dan pada dasarnya subjeknya yang pada akhirnya memerlukan keputusan tentang nilai, misalnya; apakah nilai itu positif atau negatif. Dalam memberikan penilaian itu subjek dapat menggunakan segala alat/kelengkapan, analisis yang ada pada diri orang itu (si penilai):

1)    Indera yang dimilikinya (akan menghasilkan nilai nikmat dan sebaliknya nilai kesengsaraan);

2)    Rasa etis (menghasilkan nilai baik dan buruk atau adil tidak adil)

3)    Rasio (ini menghasilkan nilai benar dan salah);

4)    Rasa estetika (akan menghasilkan nilai indah dan tidak indah);

5)    Iman (menghasilkan nilai suci-haram dan halal).

  

Sumber: https://retizen.republika.co.id/posts/11495/pentingnya-etika-dan-morality-dalam-diri

     Klasifikasi Nilai

      Nilai dapat diklasifikasikan dalam banyak hal atau cara. Menurut Lois O Kattsoft antara lain membedakan nilai dalam dua macam, yaitu nilai instrinsik dan nilai instrumental. Nilai Instrinsik adalah nilai dari sesuatu yang sejak semula sudah bernilai, sedangkan nilai Instrumental adalah nilai dari sesuatu

karena dapat dipakai sebagai sarana untuk mencapai tujuan sesuatu. Untuk menjelaskan hal ini Kattsoft memberikan contoh sebelah pisau, suatu pisau dikatakan bernilai instrinsik baik apabila pisau tersebut mengandung kualitas-kualitas pengirisan di dalam dirinya (pisau itu). Disisi lain, ia (pisau) dikatakan bernilai instrumental yang baik apabila pisau itu dapat digunakan oleh si subjek untuk mengiris. Menurut Radbruch Ketika menjelaskan tentang tiga tujuan hukum, yaitu kepastian hukum, keadilan, dan daya guna, menguraikan pada tujuan ketiga (daya guna), yaitu bahwa hukum perlu menuju pada tujuan yang penuh

harga. Menurut Radbruch ada tiga nilai yang penting bagi hukum, yaitu:

1)    Individualwerte, yakni nilai-nilai pribadi untuk mewujudkan kerpibadian manusia;

2)    Gemeinsckaftwerte, yakni nilai-nilai masyarakat, yaitu nilai yang hanya dapat diwujudkan dalam masyarakat manusia;

3)    Werkwerte, yakni nilai-nilai dalam karya manusia (ilmu, kesenian) dan pada umumnya dalam kebudayaan. (Dardji Darmodihardjo, 1996:57).

Selanjutnya nilai juga mengandung harapan sesuatu yang diinginkan, misalnya; nilai keadilan, nilai kesederhanaan. Orang hidup mengharapkan mendapatkan keadilan, begitu juga kemakmuran adalah suatu keinginan setiap orang. Jadi nilai bersifat normatif suatu keharusan (das sollen) yang menuntut diwujudkan dalam tingkah laku. Di samping itu, nilai juga menjadi pendorong/sebagai motivator hidup manusia. Tindakan manusia digerakkan oleh nilai. (Winarno, 2007:4). Misalnya; kepandaian setiap manusia (siswa) berharap/ menginginkan pandai/ pintar. Karena mengharapkan nilai itu,  setiap manusia/siswa tergerak untuk melakukan berbagai perilaku supaya menjadi pandai. Menurut Prof. Notonegoro, nilai ada tiga macam, yaitu: 1) Nilai materiil, adalah segala sesuatu yang berguna bagi unsur jasmani manusia. Sesuatu dikatakan bernilai vital jika berguna bagi manusia untuk mengadakan kegiatan (beraktivitas). Sesuatu dikatakan bernilai kerohanian apabila ia berguna bagi rohani manusia, Nilai kerohanian ini selanjutnya dapat dibedakan menjadi:

a.     Nilai kebenaran atau kenyataan yang bersumber pada unsur akal (rasio) manusia.

b.     Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa (estetis) manusia, nilai kebaikan moral yang bersumber pada kehendak (karsa) manusia

c.     Nilai kebaikan (nilai moral) yang bersumber pada kehendak karsa, karsa hati nurani manusia

d.     Nilai religius yang bersumber pada kepercayaan manusia dengan disertai penghayatan melalui akal dan budi manusia.

Max Scheler membagi nilai dalam empat tingkat, mulai dari yang menurutnya paling rendah sampai yang

paling tinggi. Tingkat nilai pertama, adalah nilai keselamatan. Dalam Tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang menyebabkan orang senang ataupun tidak senang. Kedua, nilai kehidupan. Termasuk kelompok ini adalah nilai kesehatan, kesegaran jasmani, dan kesejahteraan umum. Tingkat ketiga, adalah nilai kejiwaan, seperti keindahan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat. Tingkat keempat,  adalah nilai-nilai kerohanian, yang didalamnya terkandung nilai suci dan tidak suci

2. Norma

Agar sistem nilai yang ada pada orang (masyarakat) itu dapat diangkat ke permukaan, sehingga tidak menghasilkan sikap dan perilaku yang diskriminasif, perlu ada wujud nilai yang konkret.

3. Moral

Kata moral bersal dari latin mores yang artinya kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat yang kemudian berarti kaidah-kaidah tingkah laku. Seseorang (individu) yang tingkah lakunya menaati kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat disebut baik secara moral, dan jika sebaliknya jika tidak baik adalah amoral (immoral) (L. Pramuda. 1995:15).

4. Etika

Setiap orang sudah pasti mempunyai moral, tetapi belum tentu setiap orang mengadakan pemikiran secara kritis tentang moralnya. Pemikiran yang kritis tentang moral inilah yang disebut etika. Istilah “Etika” berasal dari bahasa Yunani, berasal dari kata “Ethos” yang berarti kebiasaan, perilaku, kelakuan. Etika adalah ilmu pengetahuan filsafat tentang perilaku manusia, dapat disebut ilmu kesusilaan atau ilmu akhlak (Listyo Sukamto, 1994:4). Hampir senada pendapat ini, menurut Prof. Drs. Sumarjo Wreksosuhardjo dalam bukunya yang berjudul Pancasila Sebagai Etika Politik hal 1) menyatakan Etika adalah cabang filsafat yang membicarakan masalah perilaku/perbuatan manusia untuk dinilai dari segi baik-buruknya. Studi filosofik atas manusia sebagai keutuhan menimbulkan cabang filsafat yang dinamakan manusia atau philosophical anthropology. Mengenai manusia ini, apabila ditinjau secara filosofik, aspek kognitif/rasionalitasnya menimbulkan cabang filsafat yang dinamakan epistimologi dan logika, apabila ditinjau secara filosofik, aspek emosionalitasnya menimbulkan cabang filsafat yang dinamakan estetika, dan apabila ditinjau secara filosofik,  aspek konasi atau kemauannya menimbulkan cabang filsafat yang dinamakan etika. Jadi, persoalan etika itu adalah persoalan kemauan manusia. Orang sanggup berbuat baik atau tidak, itu erat kaitannya dengan masalah kemauan, sebaliknya, orang yang kemauannya kuat, cenderung untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik itu, memerlukan perjuangan, maka dari tanpa adanya kemauan untuk berjuang, seorang manusia (sebagai warga negara) tidak akan melaksanakan sesuatu yang berkaitan dengan segi kemanusiaan. Karena etika melakukan pemikiran kritis tentang moral, maka dapat dikatakan bahwa moral adalah bagian dari cabang filsafat yang Bernama etika itu. Sedangkan pengkaji moral, etika selalu mendudukkan dirinya pada sudut yang netral. Ia tidak akan berpihak pada salah satu tipe moral. Kendati demikian, etika akan berusaha menerangkan karakteristik tiap-tiap moral yang dikajinya, selanjutnya terserah kepada masing-masing individu atau pihak masyarakat tertentu untuk memilihnya.

  

Sumber: https://www.utakatikotak.com/Perbedaan-Makna-Pancasila-Sebagai-Dasar-Negara-dan-Pandangan-Hidup

5. Pandangan Hidup

Hasil pilihan atas moral yang telah dikaji etika secara kritis tersebut diharapkan menjadi moral dari pribadi

atau masyarakat yang memilikinya. tentu saja moral yang dipilih melalui proses pengkajian tersebut telah berbeda kualitasnya. Dalam hal ini, satu unsur yang membedakannya, yaitu adanya kesadaran yang penuh atas pilihan itu.

Simpulannya:

1. Jika kita bicara nilai, norma, moral, etika dan pandangan hidup, nampak erat sekali hubungannya seakan-akan suatu rangkaian yang sulit dipisahkan, sebab antara satu dengan lainnya sangat melengkapi untuk dilaksanakan oleh setiap manusia (warga negara) dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dalam suatu negara.

2. Apabila kita berbicara tentang nilai dalam hal ini berarti kita bicara tentang penilaian atau sesuatu yang paling baik untuk diwujudkan dalam sikap dan perilaku oleh setiap manusia (warga negara).

3. Usaha untuk mewujudkan nilai, misal nilai dasar selalu melalui proses dalam bentuk norma (sebagai nilai instrumental) yang mana norma ini selalu menuntut setiap manusia (warga negara) untuk menaati.

4. Bicara tentang moral dan etika ini hubungannya sangat erat sekali, sering keduannya dianggap sama.

Namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Moral merupakan suatu ajaran atau wejangan, patokan-patokan, kumpulan peraturan, baik lisan maupun tertulis tentang bagaimana mausia harus hidup dan bertindak menjadi manusia yang baik (Kaelan, 2002:180). Adapun etika, adalah suatu cabang filsafat, yaitu suatu pemikiran kritis dan mendasar tentan ajaran dan pandangan-pandangan moral tersebut (Kramer, 1988, Darmodihardjo, 1966 dalamKaelan, 2002:180).

5. Dengan pandangan hidup yang jelas dan mantap, maka suatu bangsa (indonesia) termasuk warga negaranya akan memiliki pegangan dan pedoman bagaimana suatu bangsa itu mengenal dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi, yang menyangkut segala spek kehidupan.

 

*) Guru Mapel PKn di SMAN 1 Pangalengan, aktivis masjid, pengamat social politik

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. ISSN. 0216-7018. Mimbar 76/XIII/1995/6.Mimbar Pemasyarakatan dan Pembudayaan P4.

A. Kosasih Djahiri, A. Azis Wahab. 1996. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Jakarta: Depdikbud.

Dardji Darmodihardjo. Mimbar 76/XIII/1995/6. Pengertian tentang Nilai, Norma, Moral, Etika dan Pandangan Hidup. Manggala BP7.

Hassan Suryono. 2005. Pancasila Progresif. Surakarta: Pustaka Cakra.

Kaelan, H. MS. 2002. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.

Listyo Sukamto. 1994. Etika Pancasila dan 36 Butir P.4. Surakarta: UNS Press.

Pramuda. L. 1995. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Surakarta: UNS.

Sri Haryati. dkk. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Surakarta: PSG Rayon 13.

Sumarjo Wreksosoehardjo. 2004. Pancasila sebagai Etika Politik. Surakarta: UNS.

Winarno, S.Pd, M.Si. 2007. Paradigma Baru Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: Bumi Aksara.

Suyatno. 2024. "Nilai, Norma, Moral, Etika, dan Pandangan Hidup Perlu Dipahami oleh Setiap Warga Negara dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara." Bandung: Sebuah Tinjauan terhadap Abstrak Suyatno.

Selasa, 20 Agustus 2024

The Creative Economy and Tourism

 

SEJARAH NAMA PANGALENGAN: JEJAK MASA LALU SEBUAH DAERAH

DI KABUPATEN BANDUNG

Oleh: Insan Sani, SE., MM *)


Pangalengan, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang tercermin dalam namanya. Daerah ini terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, perkebunan teh yang luas, dan udara sejuk khas pegunungan. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan kisah menarik tentang asal-usul nama Pangalengan yang berakar pada legenda dan sejarah lokal.

 

Sumber: https://www.visitpangalengan.com/2017/07/profil-pangalengan-bandung-selatan.html

Asal Usul Nama Pangalengan

Nama Pangalengan berasal dari bahasa Sunda, yang merupakan bahasa asli masyarakat di daerah tersebut. Ada beberapa versi mengenai asal-usul nama ini, yang masing-masing memiliki cerita dan latar belakang yang unik.

  1. Versi "Pangangonan Kalenglengan"

Salah satu versi yang paling populer menyebutkan bahwa nama Pangalengan berasal dari kata "Pangangonan Kalenglengan". "Pangangonan" dalam bahasa Sunda berarti padang rumput atau tempat menggembalakan ternak, sedangkan "Kalenglengan" berarti termenung atau terpesona.

Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu, daerah ini merupakan padang rumput yang luas dan indah. Para pengembala yang membawa ternak mereka ke daerah ini seringkali terpesona oleh keindahan alamnya hingga termenung. Lama-kelamaan, "Pangangonan Kalenglengan" disingkat menjadi "Pangalengan".

 

Sumber: https://kabarsingaparna.pikiran-rakyat.com/pariwisata/pr-3237725831/wisata-padang-rumput-bandung

  1. Versi "Panggalangan"

Versi lain menyebutkan bahwa nama Pangalengan berasal dari kata "Panggalangan", yang berarti tempat penggalangan atau pengumpulan. Menurut versi ini, pada masa penjajahan Belanda, daerah ini menjadi tempat pengumpulan hasil bumi, terutama teh, yang akan dikirim ke kota-kota besar.

 

Sumber: https://analisadaily.com/berita/arsip/2019/7/11/763495/panen-sayur-kubis/

  1. Versi "Pangleungan"

Ada pula yang berpendapat bahwa nama Pangalengan berasal dari kata "Pangleungan", yang dalam bahasa Sunda berarti tempat untuk merenung atau menyepi. Hal ini berkaitan dengan kondisi alam Pangalengan yang tenang dan cocok untuk melakukan perenungan.

Sejarah Perkembangan Pangalengan

Terlepas dari berbagai versi mengenai asal-usul namanya, Pangalengan memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri.

  1. Masa Pra-Kolonial

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, daerah Pangalengan sudah dihuni oleh masyarakat Sunda. Mereka hidup dari bercocok tanam dan beternak. Daerah ini menjadi bagian dari Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran.

 

Sumber: ttps://jabar.inews.id/berita/sejarah-bandung-penghasil-susu-sapi-favorit-orang-belanda

  1. Masa Kolonial Belanda

Perubahan signifikan terjadi pada masa kolonial Belanda. Pada abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda mulai mengembangkan perkebunan teh di daerah Pangalengan. Kondisi iklim dan tanah yang cocok membuat teh dari daerah ini menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

 

Sumber: https://rakyatbengkulu.disway.id/read/663005/sejarah-kopi-kopi-jawa-arabika-

Pada tahun 1878, perkebunan teh pertama di Pangalengan didirikan oleh K.A.R. Boscha. Ini menjadi titik awal perkembangan Pangalengan sebagai daerah penghasil teh. Selain teh, Belanda juga memperkenalkan tanaman kina dan sayuran.

  1. Masa Pendudukan Jepang

Selama pendudukan Jepang (1942-1945), Pangalengan tidak luput dari dampak perang. Banyak perkebunan teh yang terbengkalai, dan masyarakat mengalami masa-masa sulit.

 

Sumber: https://kumparan.com/berita-hari-ini/perlawanan-rakyat-pada-masa-pendudukan-jepang

  1. Masa Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, pengelolaan perkebunan teh di Pangalengan diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Beberapa perkebunan kemudian dikelola oleh PTPN (PT Perkebunan Nusantara), sementara yang lain dikelola oleh perusahaan swasta.

Perkembangan Modern Pangalengan

Seiring berjalannya waktu, Pangalengan tidak hanya dikenal sebagai penghasil teh, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata yang populer. Keindahan alam pegunungan, danau, pemandian air panas, dan perkebunan teh yang luas menarik banyak wisatawan.

 

Sumber: https://jabarekspres.com/berita/2022/07/31/4-rekomendasi-tempat-wisata-hits-di-pangalengan

Beberapa objek wisata terkenal di Pangalengan antara lain:

  1. Situ Cileunca: Sebuah danau buatan yang indah, sering digunakan untuk aktivitas air seperti memancing dan berperahu.
  2. Perkebunan Teh Malabar: Salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia yang masih beroperasi hingga saat ini.
  3. Pemandian Air Panas Cibolang: Pemandian Air panas ditengah Perkebunan teh dengan pemandangan alam sekitarnya yang asri.
  4. Wisata Agro Gunung Tilu: Tempat wisata yang menawarkan pengalaman berkebun dan menikmati keindahan alam pegunungan.

Selain pariwisata, Pangalengan juga dikenal sebagai penghasil sayuran dan susu. Banyak petani di daerah ini yang mengembangkan pertanian sayuran dataran tinggi dan peternakan sapi perah.

 

Sumber: https://bandung.kompas.com/read/2022/09/23/180048078/jelang-hari-tani-nasional-petani-sayur-di-pangalengan-

Simpulan

Nama Pangalengan, dengan berbagai versi asal-usulnya, mencerminkan kekayaan sejarah dan budaya daerah ini. Dari padang rumput yang mempesona pengembala, hingga menjadi salah satu produsen teh terkemuka dan destinasi wisata populer, Pangalengan telah mengalami perjalanan panjang dalam sejarahnya.

Terlepas dari perkembangan modern, Pangalengan tetap mempertahankan pesona alamnya yang menakjubkan dan warisan budayanya yang kaya. Nama Pangalengan bukan hanya sekadar label geografis, tetapi juga merupakan cerminan dari perjalanan sejarah, perjuangan masyarakat, dan keindahan alam yang telah memikat hati banyak orang selama berabad-abad.

Saat ini, Pangalengan terus berkembang, menyeimbangkan antara pelestarian alam dan budaya dengan kemajuan ekonomi. Namanya akan terus hidup, tidak hanya sebagai pengingat akan masa lalu yang kaya, tetapi juga sebagai simbol harapan untuk masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat dan lingkungannya.

*) Guru Prakarya Kewirausahaan, Ekonomi, Pembina Paskibra SMAN 1 Pangalengan Praktisi di bidang Pemasaran, pelaku ekonomi kreatif dan jasa wisata.

**) dikutif dari berbagai sumber

 

Senin, 19 Agustus 2024

Bahasa & Humaniora

 

TOXIC RELATIONSHIP

Oleh: Hj. Lilis Karwasih,S.Pd *)

 

Toxic relationship  atau hubungan beracun adalah hubungan tidak sehat yang membuat seseorang tidak dipahami dan didukung atau merasa direndahkan. Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada sepasang kekasih, tetapi juga dalam lingkungan pertemanan bahkan keluarga.

 

Sumber: https://therapydave.com/toxic-relationship-recovery/

Ciri-ciri Toxic relationship

Berikut ini adalah ciri-ciri toxic relationship uang bisa ditemukan kalau kamau terjebak di dalamnya:

a.     Selalu dikontrol oleh pasangan.

Tanda yang paling jelas terlihat dari hubungan ini adalah salah satu pihak selalu mengontrol  pihak lainnya. Contohnya pasanganmu memaksakan kehendaknya  terhadap hidup uang kamu jalani, walaupun mungkin keinginanmu tidak sejalan. Ia juga mugkin keinginanmu tidak sejalan. Ia juga mungkin akan mengutarakannya  kalimat yang membuatmu harus menuruti kemauannya. 

b.     Tidak dapat dukungan

Hubungan yang sehat selalu memberi dukungan satu sama lain. Namun ,pada toxic relationship setiap pencapaian yang diperoleh akan dianggap menjadi kompeisi.

c.     Selalu dicurigai dan dikekang

Rasa cemburu  sebenarnya merupakan reaksi yang normal sebagai salah satbentuk kepedulian, namun hubungan akan menjdi tokic jika cemburu sudah berlebihan atau membuat pasangan melakukan hal yang ekstrem.

 
Sumber: https://thewell.northwell.edu/relationships-sexual-health/toxic-relationships-vs-abusive-relationships

d.     Sering dibohongi

Kejujuran merupakan salah satu pondasi untuk membentuk hubungan yang sehat, jika  dalam pertemanan  ada kebohongan, itu tandanya ada dalam toxic relationship.

e.     Menerima kekerasan pisik

Suatu hubungan dikatakan toksik jika sudah ada kekerasan pisik.

 

Sumber: https://radarbanyumas.disway.id/read/89336/mengenal-toxic-relationship-beserta-ciri-ciri-dan-cara-menghindarinya

Dampak toxic relationship

Dalam menjalani suatu hubungan, idealnya setiap individu akan saling menyayangi, mengasihi, dan memberikan rasa aman. Namun pada toxic relationship salah satu pihak biasanya akan berupaya untuk mendominasi, memanipulasi, mempermainkan, tidak menghargai. Akibat toxic relationship korbannya merasa rendah diri hingga memicu gangguan  kesehatan mental, seperti kecemasan, beban mental, juga dapat mengganggu kesehatan fisik, misalnya gangguan psikomotorik atau penyakit jantung.

 

Sumber: https://campaign.com/SayNotoToxicRelationship

Cara mengatasi toxic relationship.

Terjebak dalam hubungan toxic sangat merugikan diri sendiri. Jadi penting bagi kita untuk mengenali tanda tanda toxic relationship serta orang toxic dan segera mengambil keputusan yang tepat jika itu terjadi pada lingkungan kita.  Baik untuk mengakhirinya.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/C904jiyS8kL/

 Referensi: dr. Merry Dame Cristy Pane

*) Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan, senang mengcover lagu-lagu yang sedang hits saat ini di laman youtube, tiktok, dan media social lainnya.

NATIONALITY

 SAATNYA BANGGA BERBAHASA INDONESIA

Oleh: Literatsmansa


Mumpung dalam euphoria 17 Agustusan, penulis mencoba mengangkat sisi lain dari bahasa Indonesia sebagai bahasa perjuanagn bangsa kita. 79 tahun bangsa ini “Merdeka” , kita kenali peran bahasa Indonesia sebagai bahasa perjuagan….yuk kita mulai!!

Sumber: https://www.haibunda.com/moms-life/20240817175813-76-345108/cek-bun-20

Sumber: ttps://jakarta.tribunnews.com/2024/07/17/99-ide-lomba-17-agustus

Ananda yang baik, bahasa mencerdaskan kehidupan bangsa dan kita semua sudah mengakui pentingnya peranan bahasa Indonesia. Dalam perjalanan kehidupan bangsa, bahasa Indonesia telah terbukti membawa bangsa Indonesia ini pada kemajuan peradaban. Lahirnya organisasi perjuangan kemerdekaan, Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 mampu menumbuhkan kesadaran beroganisasi dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sejak itu lahirlah organisasi-organisasi perjuangan kemerdekaan di wilayah Nusantara ini (kalau masih kurang yakin…tanya pa pepi, pa rifki, atau bu widi..he..he). Pada masa itu bahasa Melayu (yang menurut identifikasi para ahli adalah bahasa Melayu Pasar) berperan dalam konsolidasi internal organisasi ataupun dalam membangun sinergi antarorganisasi menyusun kekuatan melawan penjajahan menuju kemerdekaan. Pada sisi lain, penerbitan bacaan rakyat dalam bahasa Melayu dan penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan telah mendorong para pejuang kemerdekaan mencetuskan pernyataan sikap politik pengakuan terhadap tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Pada saat itu nama bahasa Indonesia dicetuskan dan ditetapkan menjadi bahasa nasional atau bahasa kebangsaan.

 

Sumber: https://alharaki.sch.id/yuk-cari-tahu-isi-dan-makna-sumpah-pemuda/

Peran bahasa Indonesia telah menyatukan berbagai kelompok etnis ke dalam satu kesatuan bangsa Indonesia (yang menurut sensus penduduk Indonesia 2010, jumlah etnis/suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia kurleb 1.340 yang merupakan hasil silsilah 300 etnik di negara kita). Bahasa Indonesia telah menjadi sarana perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, menumbuhkan dan memelihara rasa kesetiakawanan dan kenasionalan, dan membangun peradaban baru tentang Indonesia. Sepuluh tahun kemudian diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia Pertama (1938) di Surakarta yang pada kongres itu diserukan perlunya pengembangan bahasa Indonesia melalui penciptaan istilah-istilah baru. Kemudian, puncak perkembangan peran bahasa terwujud setelah kemerdekaan karena bahasa itu telah diangkat sebagai bahasa negara (UUD 1945 Pasal 36). Pengangkatan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara telah menempatkan peran bahasa sebagai bahasa resmi dalam menjalankan pemerintahan dan sebagai sarana mengembangkan ilmu dan teknologi serta kebudayaan Indonesia (banyak negara-negera besar di dunia tidak memiliki bahasa nasional seperti India, Malaysia, Filipina, Amerika Serikat sendiri yang lebih  “pe-de” menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasionalnya…keren kan bangsa kita!!).

 

Sumber: https://www.merdeka.com/jabar/bentuk-pemerintahan-republik-beserta-jenis-dan-conto

Pada perjalanan selanjutnya bahasa Indonesia mengalami berbagai tampilan wajah dan kondisi pemakaian di tengah berbagai situasi politik yang berbeda, mulai masa orde lama, kemudian masa orde lama, sampai masa reformasi. Yang pasti peran bahasa Indonesia tetap kokoh sebagai alat komunikasi nasional, alat persatuan dan pembangunan, dan sebagai bahasa pengantar pendidikan anak bangsa. Peran itu dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang di dalamnya menyebutkan bahwa bahasa pengantar pendidikan nasional ialah bahasa Indonesia. Sebagai bahasa pengantar pendidikan, bahasa Indonesia mampu menjadi penghela pengetahuan dan sebagai sarana pembentukan kepribadian dan pengembangan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual bagi anak bangsa sehingga bangsa Indonesia menjadi lebih maju seperti sekarang ini. Jangan salah, dibeberapa negara (Australia, Canada, Jepang, Amerika, dll. bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa yang diajarkan di sekolah-sekolah bahkan sampai ke perguruan tinggi)….Jadi saatnya kita bangga dengan bahasa Indonesia…Identitas pemersatu bangsa menuju Indonesia maju…setujukan? Komen ya!!

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/sutarnoharjosentono/617f4dc001019029c82da662/bangga-menjadi-indonesia

**) dikutip dan disarikan dari berbagai sumber

 

Minggu, 18 Agustus 2024

Motivational

 

MOTIVATOR TERBAIK ADALAH DIRIMU SENDIRI

Oleh: Asep Sobandi, M.Pd


Motivasi adalah sebuah dorongan semangat atau perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Artinya, dalam hidup ini kita akan selalu membutuhkan motivasi untuk melakukan berbagai hal dalam mencapai tujuan-tujuan kita.

Motivasi terbagi bermacam-macam bentuknya, ada orang yang semangat dan termotivasi karena uang, ada juga karena pujian, ada juga yang memang ingin berbagi manfaat dan kebaikan. Bisa juga orang termotivasi karena ingin mengikuti langkah pencapaian seseorang yang dia sukai misalnya ingin seperti Mark Zuckerberg.

 

Sumber:https://www.inc.com/paul-jarvis/do-motivational-quotes-on-social-media-actually-motivate.html

Biasanya, orang yang selalu termotivasi akan terus menerus berusaha melangkah bahkan berlari untuk mengejar cita-citanya. Sayangnya ternyata motivasi terkadang tidak hadir dalam diri kita. Akhirnya timbulah hal-hal negatif pada kehidupan sehari-hari, seperti rasa malas, sedih, takut, merasa tidak sanggup dan berbagai hal negatif lainnya. Sehingga kita membutuhkan Motivator dalam hidup kita.

Selama ini kita mengenal berbagai motivator yang bisa menimbulkan semangat motivasi dalam diri dengan berbagai semiar dan trainingnya. Pertanyaannya berapa lama motivasinya akan timbul dalam diri kita? Apakah selamanya? Hanya sesaat bukan. Nah, lalu siapakah Motivator terbaik yang akan selalu bisa memotivasi kita setiap saat?

 

Sumber: https://www.deskera.com/blog/motivational-sales-quotes/

Kalau sedang galau, misalnya karena cinta, biasanya apa yang dilakukan? Tanpa sadar, biasanya kita akan mencari motivasi dari berbagai motivator disekeliling kita. Ada yang curhat dengan teman dan berharap mendapatkan solusi, ada juga yang curhat di twitter dengan berharap ada yang memperhatikan. Ketika kita bertemu dengan teman kita, kemudian curhat menceritakan perasaan galau dan gundah gulana kita kepadanya. Kemudian teman kita biasanya akan tiba-tiba bijaksana dan berkata, “Sudahlah, gue yakin lo pantes dapetin yang lebih baik”. Kemudian tiba-tiba timbul motivasi dan semangat untuk move on.

Ketika selesai curhat, biasanya ada perasaan lega. Tapi tentunya, teman kita tidak bisa selamanya hadir disamping kita. Ketika dia pulang atau berpisah dengan kita. Apakah motivasi itu tetap hidup? Ternyata mulai meredup dan menghilang, akhirnya galau lagi. Karena ingin mendapat perasaan lega lagi, biasanya curhat berlanjut di telpon. Selesai telponan, perasaan kembali lega. Satu menit dua menit, sepuluh menit, perasaan galau kembali muncul. Akhirnya berbagai cara kita lakukan untuk mendapat motivasi dari teman kita itu dan tetap tidak membuat hati kita benar-benar tenang. Justru malah membuat kita addicted untuk terus curhat melebar kemana-mana, tapi tidak benar-benar memberikan solusi.

 

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/motivational-quotes

Maka, kalau kita hanya mengandalkan motivasi dari luar, sedangkan diri kita masih galau itu hanya akan mampu memotivasi kita beberapa saat saja. Namun jika motivasi itu benar-benar kita munculkan dari dalam diri sendiri. Maka kapanpun kita sedih, galau, gundah, kita bisa memotivasi diri kita kapanpun kita mau. Karena Motivator Terbaik adalah Diri Kita Sendiri.

*) Guru Mata Pelajaran Matematika di SMAN 1 Pangalengan, Pengurus PGRI Kecamatan Pangalengan, Ketua Koperasi Amanah SMAN 1 Pangalengan

**)  dikutip dari beragam sumber

Lifestyle of the Future

  𝑴𝑰𝑲𝑹𝑢𝑷𝑳𝑨𝑺𝑻𝑰𝑲 , 𝑰𝑡𝑢𝑽𝑨𝑺𝑰 𝑲𝑬π‘ͺ𝑰𝑳 𝑼𝑡𝑻𝑼𝑲 𝑴𝑨𝑺𝑨 𝑫𝑬𝑷𝑨𝑡 𝑩𝑼𝑴𝑰 Oleh:   Fijhar Restu Pertama Kelas XI-...