MENEMUKAN CAHAYA DIBALIK EMOSI
Cognitive Reappraisal dan
Hikmah Al-Qur'an dalam Mengelola Hati
Oleh:
Yuli Yuliani, S.Pd *)

Sumber:
https://www.linkedin.com/pulse/what-emotions-types-emotional-responses-
Psikologi modern
menjelaskan fenomena ini melalui konsep cognitive reappraisal,
yaitu kemampuan seseorang untuk mengubah cara memandang suatu
peristiwa sehingga makna yang muncul menjadi lebih konstruktif.
Menariknya, jauh sebelum konsep ini dikenal dalam ilmu psikologi,
Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip yang sejalan: mengajak manusia
melihat setiap kejadian dari perspektif hikmah dan
kebijaksanaan Allah. Ketika seseorang mampu menemukan akar
penyebab emosinya dan mengubah cara memaknainya, perlahan emosi
negatif kehilangan sebagian kekuatannya. Bukan karena
masalahnya hilang, melainkan karena hati tidak lagi memandang
masalah sebagai akhir dari segalanya.
Ketika Emosi Berasal dari Cara Kita Memaknai Kehidupan
Sering kali kita mengira
bahwa penyebab emosi negatif selalu berasal dari luar diri kita. Kita
marah karena perilaku orang lain, sedih karena kehilangan, iri karena
melihat keberhasilan orang lain, atau cemas karena masa depan
yang belum pasti. Padahal, dalam banyak keadaan, emosi
tersebut bukan muncul karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena
interpretasi yang kita bangun terhadap peristiwa tersebut.
Misalnya:
- Marah bukan selalu
karena orang lain bersalah, tetapi karena kenyataan tidak sesuai
dengan harapan yang kita bangun.
- Sedih bukan selalu
karena kehilangan, tetapi karena kita terlalu melekat pada
sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dijanjikan akan
menjadi milik kita selamanya.
- Iri bukan karena
orang lain lebih beruntung, melainkan karena kita membandingkan
kehidupan nyata kita dengan bagian terbaik yang ditampilkan
orang lain.
- Cemas bukan
karena masa depan sudah buruk, tetapi karena pikiran kita
sibuk menyusun berbagai kemungkinan terburuk seolah-olah semuanya
pasti terjadi.
- Kecewa bukan selalu
karena dunia tidak adil, tetapi karena kita menaruh harapan
pada sesuatu yang memang tidak mampu
memenuhi seluruh harapan kita.

Sumber:
https://elsamara.id/cara-menemukan-makna-hidup/
Semakin kita
mengenali akar emosi tersebut, semakin mudah kita memahami bahwa
sumber penderitaan sering kali bukan fakta, melainkan cara
pikiran menafsirkan fakta.
Memahami Cognitive Reappraisal
Dalam psikologi,
terdapat sebuah strategi regulasi emosi yang disebut cognitive
reappraisal. Istilah ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
menilai kembali atau memaknai ulang suatu situasi
sehingga menghasilkan respons emosional yang lebih sehat. Berbeda
dengan menekan emosi (emotional suppression), cognitive
reappraisal tidak mengajak seseorang berpura-pura bahagia atau
mengingkari kesedihan. Sebaliknya, strategi ini
mengajak seseorang mengakui emosinya terlebih dahulu,
kemudian bertanya:
Sumber:
https://www.instagram.com/p/DMiQA8OzM-e/
"Adakah cara
lain untuk melihat peristiwa ini?"
Artinya, yang
diubah bukanlah kenyataannya, tetapi cara kita memahami
kenyataan tersebut.
Sebagai contoh,
seseorang gagal mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya. Jika ia
memaknainya sebagai bukti bahwa dirinya tidak berharga, maka
yang muncul adalah putus asa, rendah diri, dan kehilangan semangat.
Namun jika ia memaknainya sebagai kesempatan
memperbaiki kemampuan atau sebagai isyarat bahwa Allah sedang
mengarahkan kepada jalan yang lebih baik, maka emosi yang muncul
berubah menjadi harapan, kesabaran, dan semangat untuk bangkit. Peristiwanya
tetap sama. Yang berubah adalah makna yang diberikan terhadap peristiwa
itu. Inilah inti dari cognitive reappraisal: mengganti
lensa, bukan mengubah kenyataan.
Mengapa Cognitive Reappraisal Efektif?
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa orang terbiasa
melakukan cognitive reappraisal cenderung:
- lebih mampu mengendalikan stres;
- memiliki tingkat kecemasan yang lebih
rendah;
- lebih mudah memaafkan;
- lebih tangguh menghadapi kegagalan;
- memiliki kesehatan mental yang lebih
baik; dan
- lebih mampu menjaga hubungan sosial.
Hal ini terjadi karena
otak tidak hanya bereaksi terhadap apa yang terjadi, tetapi juga
terhadap makna yang diberikan pada kejadian tersebut.
Ketika makna berubah, respons emosional ikut berubah. Dengan kata
lain, emosi bukan sekadar hasil dari kenyataan, tetapi hasil
dari dialog antara kenyataan dan cara berpikir kita.
Al-Qur'an Mengajarkan Reappraisal Melalui Keimanan
Prinsip ini
ternyata memiliki keselarasan yang sangat indah dengan ajaran
Al-Qur'an.
Allah berfirman:
"Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu
menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan
kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)

Sumber:
https://www.facebook.com/abdullah.sani.906/photos/boleh
Ayat ini tidak meminta
manusia menghapus emosinya. Allah tidak melarang kita
merasa sedih, kecewa, atau takut. Sebaliknya, Allah
mengingatkan bahwa pengetahuan manusia sangat terbatas. Apa yang
hari ini terlihat sebagai musibah bisa menjadi pintu menuju
kebaikan yang belum kita ketahui. Sebaliknya, sesuatu yang kita
anggap sebagai keberuntungan belum tentu membawa manfaat bagi
kehidupan kita. Inilah bentuk cognitive reappraisal yang
berlandaskan iman. Ketika seseorang meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu, ia belajar menggeser pertanyaan dari:
"Mengapa ini
terjadi kepadaku?"
menjadi:
"Pelajaran apa
yang Allah sedang ajarkan melalui peristiwa ini?"
Perubahan satu pertanyaan saja
sering kali mampu mengubah seluruh arah perjalanan emosi
seseorang.
Mengubah Cara Pandang, Mengubah Kehidupan
Melatih cognitive
reappraisal bukan berarti selalu berpikir positif
secara berlebihan atau menolak kenyataan yang pahit. Justru
sebaliknya, kita belajar menerima kenyataan apa adanya,
kemudian mencari makna yang dapat membantu kita bertumbuh.

Sumber:
https://dedyhidayatblog.wordpress.com/2018/06/05/kebahagiaan-sebuah-perubahan-sudut-pandang-dan-pola-pikir
Langkah-langkah
sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengakui emosi tanpa menghakimi diri
sendiri.
- Mengidentifikasi pikiran yang
memicu emosi tersebut.
- Menguji apakah pikiran itu
benar-benar fakta atau hanya asumsi.
- Mencari sudut pandang lain yang
lebih objektif dan penuh hikmah.
- Mengembalikan hati kepada keyakinan
bahwa Allah memiliki rencana terbaik.
Ketika latihan
ini dilakukan berulang kali, seseorang akan lebih tenang menghadapi
berbagai ujian kehidupan. Bukan karena hidup menjadi mudah,
tetapi karena hati menjadi lebih kuat.
Ketika Mengingat Allah Menjadi Bentuk Reappraisal Tertinggi
Puncak dari cognitive
reappraisal dalam perspektif Islam adalah ketika
seseorang memandang seluruh kehidupannya melalui lensa tauhid.
Allah berfirman:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Mengingat Allah bukan sekadar melafalkan
zikir dengan lisan. Mengingat Allah juga berarti
mengingat sifat-sifat-Nya: bahwa Dia Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,
Maha Penyayang, dan tidak pernah menzalimi hamba-Nya.

Sumber:
https://www.instagram.com/p/DMFjCeHhLVY/
Ketika keyakinan
ini memenuhi hati, cara pandang terhadap masalah ikut berubah.
Musibah tidak lagi hanya dipandang sebagai penderitaan, melainkan
sebagai ujian. Kegagalan tidak lagi dipandang sebagai
akhir perjalanan, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Penantian tidak lagi hanya terasa sebagai keterlambatan, tetapi
sebagai waktu yang sedang dipersiapkan oleh Allah dengan penuh
hikmah. Di sinilah ketenangan lahir. Bukan karena semua persoalan
selesai, tetapi karena hati menemukan tempat kembali. Setiap emosi
yang hadir dalam diri manusia membawa pesan.
Marah mengingatkan adanya harapan yang belum terpenuhi. Sedih
menunjukkan adanya sesuatu yang berharga. Cemas mengungkapkan
keinginan untuk merasa aman. Kecewa mengajarkan bahwa tidak semua
harapan layak disandarkan kepada makhluk.
Emosi negatif bukanlah musuh
yang harus dimusnahkan, melainkan tamu yang perlu dipahami.
Ketika kita berani mencari akar penyebabnya, memeriksa cara
berpikir kita, lalu memaknainya kembali dengan cahaya ilmu dan
petunjuk Allah, perlahan emosi itu kehilangan daya untuk menguasai
diri kita. Psikologi menyebutnya cognitive reappraisal; Islam
mengajarkannya melalui husnuzan kepada Allah, kesabaran, tawakal, dan
keyakinan bahwa setiap ketetapan-Nya mengandung hikmah.
Sumber:
https://www.facebook.com/masjidsalmanitb/photos/ini-6-tanda-kamu-sudah-matang-secara-emosional
Pada akhirnya, kedewasaan
emosional bukanlah ketika kita tidak pernah lagi marah, sedih,
atau kecewa. Kedewasaan adalah ketika setiap emosi menjadi
jalan untuk semakin mengenal diri, semakin bijaksana dalam
berpikir, dan semakin dekat kepada Allah SWT.
Sebab hati yang mengenal Rabb-nya bukanlah
hati yang bebas dari ujian, melainkan hati yang selalu tahu
ke mana harus kembali ketika dunia terasa terlalu berat.
*) Guru layanan bimbingan
konseling di SMAN 1 Pangalengan
**) Sumber @maiyahindonesia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar