"I hope that before the test, God will always protect you and give you the strength of patience that is so strong...by abuafifi "

Rabu, 10 Juni 2026

Peak Moment

 ARTAPELA, SURGA SAVANA TERSEMBUNYI DI SELATAN BANDUNG

Oleh: Redaksi Literatsmansa

 

Liburan akhir tahun selalu punya cerita tersendiri. Bagi sebagian orang, momen ini adalah waktu terbaik untuk healing dan lepas sejenak dari penatnya rutinitas kerja, sekaligus memanfaatkan libur sekolah anak-anak. Namun, rasanya ada yang kurang jika liburan panjang hanya dihabiskan dengan rebahan di kasur. Prinsip "sambil menyelam minum air" tampaknya paling pas untuk menggambarkan petualangan kami kali ini: liburan murah, fisik terlatih, dan bonus visual yang luar biasa. Tujuan kami adalah Gunung Artapela, sebuah gunung tropis tidak aktif dengan ketinggian 2194 mdpl yang terletak di daerah Kertasari, berbatasan langsung dengan kawasan sejuk Pangalengan, Kabupaten Bandung. Bagi sebagian pendaki, nama Artapela mungkin belum sepopuler Gunung Gede atau Cikuray. Namun jangan salah, belakangan ini Artapela bertransformasi menjadi salah satu destinasi hits yang mulai diburu oleh para pencinta alam ibu pertiwi, terutama mereka yang menyukai konsep tektok (mendaki tektok langsung turun di hari yang sama).

Sumber: Dokumen Pribadi

Memulai Perjalanan Menembus Jalur Menantang

Petualangan kami dimulai pukul 07.00 pagi, tepat saat sang fajar mulai menghangatkan suasana. Kami berangkat dari Banjaran menuju arah Pangalengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan ini sama sekali tidak membosankan karena mata kami langsung dimanjakan oleh pemandangan khas perbukitan Bandung Selatan yang asri.

 
Sumber: Dokumen Pribadi

Kami memilih rute melalui jalur Cimaung–Cikalong. Waktu tempuh berkendara hanya sekitar 1 jam, namun medannya cukup bervariasi dan menantang adrenalin. Anda akan merasakan transisi jalanan, mulai dari aspal mulus perkotaan, jalan beton yang kokoh, hingga jalur berbatu khas pedesaan yang memaksa pengendara harus ekstra fokus. Titik awal pendakian kami mulai dari Desa Kertamanah, tepatnya menuju ke arah utara Mes Karyawan Wayang Windu. Sesampainya di basecamp, kami memarkirkan kendaraan dan membayar retribusi yang sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 per motor. Setelah persiapan logistik dirasa aman, langkah kaki pun resmi dimulai.

Menjelajahi Savana Hijau Seluas 40 Hektar

Awal trek pendakian langsung menyuguhkan pemandangan vegetasi yang unik. Kami berjalan melintasi kawasan hutan tipis dan perkebunan warga yang hijau subur. Pohon-pohon endemik berdiri kokoh di kanan-kiri jalur, seolah-olah menjadi saksi bisu perjuangan kami menapaki ketinggian. Daya tarik utama dari Gunung Artapela adalah hamparan padang savana ilalangnya yang sangat luas, mencapai kurang lebih 40 hektar. Berada di tengah savana ini sungguh menakjubkan sekaligus kontemplatif. Hamparan rumput hijau yang bergoyang ditiup angin mengingatkan kita pada padatnya manusia di perkotaan, namun di sini, suasananya begitu damai dan menenangkan jiwa. Di sepanjang jalur perkebunan, kami kerap berpapasan dengan para petani lokal yang sedang menggarap lahan. Keramahan khas masyarakat Sunda langsung terasa saat mereka menyapa dengan logat yang kental, "Bade ka Artapela, Kang?" (Mau ke Artapela, Kak?). Sapaan sederhana ini menjadi suntikan energi tersendiri yang membakar semangat kami untuk terus melangkah maju.

 
Sumber: Dokumen Pribadi

Seven Field vs Datar Jamuju

Untuk mencapai puncak Gunung Artapela, para pendaki umumnya dihadapkan pada dua pilihan jalur utama:

  • Jalur Seven Field (Kebun 7). Jalur ini terkenal dengan treknya yang terus menanjak dan hampir tanpa bonus (jalan datar). Sangat cocok untuk Anda yang menyukai tantangan fisik dan ingin merasakan sensasi mendaki yang sesungguhnya.
  • Jalur Datar Jamuju. Jalur ini jauh lebih ramah untuk pemula atau pendaki santai. Treknya cenderung landai dan tidak memiliki banyak tanjakan yang ekstrem.

Karena kami mencari sensasi petualangan yang ringan, kami memutuskan untuk melewati jalur Datar Jamuju. Oh ya, satu hal penting yang perlu diingat: manajemen navigasi di sini agak unik. Meskipun minim patok resmi atau papan petunjuk arah, Anda tidak perlu khawatir tersesat. Jalur trekking Artapela ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayur terbuka dan tidak memasuki hutan lebat sama sekali. Jika ragu, bertanyalah kepada para petani yang beraktivitas di sana; mereka dengan senang hati akan menunjukkan arah. Tips Tambahan, karena jalurnya didominasi ruang terbuka tanpa kanopi pohon, sangat disarankan membawa topi, sunscreen, dan jas hujan. Cuaca di pegunungan Bandung Selatan bisa berubah dengan sangat cepat dari panas terik menjadi hujan deras.

 

Sumber: Dokumen Pribadi

Artapela kami Datang!!

Mendaki di tengah gerimis tipis dan hamparan kebun di ketinggian memberikan sensasi romantis sekaligus melelahkan. Namun, semua peluh dan rasa lelah itu langsung menguap begitu kaki ini menapak di Puncak Artapela, atau yang sering disebut oleh warga sebagai Puncak Sulibra.


Sumber: Dokumen Pribadi

Setelah berjuang berjalan kaki selama kurang lebih 3 jam, impian untuk berdiri di titik tertinggi Artapela akhirnya terwujud. Dari atas sini, sejauh mata memandang, Anda akan disuguhi panorama 360 derajat berupa lautan awan tipis, lekukan perbukitan Pangalengan, dan udara bersih yang menyegarkan paru-paru. Rasa lelah terbayar tuntas, membuktikan bahwa petualangan tektok murah meriah ini jauh lebih berkesan daripada sekadar berdiam diri di rumah…..giliran kamu kapan muncak???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peak Moment

  ARTAPELA, SURGA SAVANA TERSEMBUNYI DI SELATAN BANDUNG Oleh: Redaksi Literatsmansa   Liburan akhir tahun selalu punya cerita tersendiri...