ARTAPELA, SURGA SAVANA TERSEMBUNYI DI SELATAN BANDUNG
Oleh: Redaksi Literatsmansa
Sumber: Dokumen Pribadi
Memulai Perjalanan Menembus Jalur Menantang
Petualangan kami dimulai pukul 07.00 pagi, tepat saat
sang fajar mulai menghangatkan suasana. Kami berangkat dari Banjaran menuju
arah Pangalengan menggunakan sepeda motor. Perjalanan ini sama sekali tidak
membosankan karena mata kami langsung dimanjakan oleh pemandangan khas
perbukitan Bandung Selatan yang asri.
Kami memilih rute melalui jalur Cimaung–Cikalong.
Waktu tempuh berkendara hanya sekitar 1 jam, namun medannya cukup bervariasi
dan menantang adrenalin. Anda akan merasakan transisi jalanan, mulai dari aspal
mulus perkotaan, jalan beton yang kokoh, hingga jalur berbatu khas pedesaan
yang memaksa pengendara harus ekstra fokus. Titik awal pendakian kami mulai
dari Desa Kertamanah, tepatnya menuju ke arah utara Mes Karyawan Wayang Windu.
Sesampainya di basecamp, kami memarkirkan kendaraan dan membayar
retribusi yang sangat terjangkau, yaitu Rp15.000 per motor. Setelah
persiapan logistik dirasa aman, langkah kaki pun resmi dimulai.
Menjelajahi Savana Hijau Seluas 40 Hektar
Awal trek pendakian langsung menyuguhkan pemandangan
vegetasi yang unik. Kami berjalan melintasi kawasan hutan tipis dan perkebunan
warga yang hijau subur. Pohon-pohon endemik berdiri kokoh di kanan-kiri jalur,
seolah-olah menjadi saksi bisu perjuangan kami menapaki ketinggian. Daya tarik
utama dari Gunung Artapela adalah hamparan padang savana ilalangnya yang sangat
luas, mencapai kurang lebih 40 hektar. Berada di tengah savana ini
sungguh menakjubkan sekaligus kontemplatif. Hamparan rumput hijau yang
bergoyang ditiup angin mengingatkan kita pada padatnya manusia di perkotaan,
namun di sini, suasananya begitu damai dan menenangkan jiwa. Di sepanjang jalur
perkebunan, kami kerap berpapasan dengan para petani lokal yang sedang
menggarap lahan. Keramahan khas masyarakat Sunda langsung terasa saat mereka
menyapa dengan logat yang kental, "Bade ka Artapela, Kang?"
(Mau ke Artapela, Kak?). Sapaan sederhana ini menjadi suntikan energi
tersendiri yang membakar semangat kami untuk terus melangkah maju.
Seven Field vs Datar Jamuju
Untuk mencapai puncak Gunung Artapela, para pendaki
umumnya dihadapkan pada dua pilihan jalur utama:
- Jalur Seven Field (Kebun 7). Jalur ini
terkenal dengan treknya yang terus menanjak dan hampir tanpa bonus (jalan
datar). Sangat cocok untuk Anda yang menyukai tantangan fisik dan ingin
merasakan sensasi mendaki yang sesungguhnya.
- Jalur Datar Jamuju. Jalur ini jauh
lebih ramah untuk pemula atau pendaki santai. Treknya cenderung landai dan
tidak memiliki banyak tanjakan yang ekstrem.
Karena kami mencari sensasi petualangan yang ringan,
kami memutuskan untuk melewati jalur Datar Jamuju. Oh ya, satu hal penting yang
perlu diingat: manajemen navigasi di sini agak unik. Meskipun minim patok resmi
atau papan petunjuk arah, Anda tidak perlu khawatir tersesat. Jalur trekking
Artapela ini hampir sepenuhnya melewati bukit-bukit perkebunan sayur terbuka
dan tidak memasuki hutan lebat sama sekali. Jika ragu, bertanyalah
kepada para petani yang beraktivitas di sana; mereka dengan senang hati akan
menunjukkan arah. Tips Tambahan, karena jalurnya didominasi ruang
terbuka tanpa kanopi pohon, sangat disarankan membawa topi, sunscreen,
dan jas hujan. Cuaca di pegunungan Bandung Selatan bisa berubah dengan sangat
cepat dari panas terik menjadi hujan deras.
Artapela kami Datang!!
Mendaki di tengah gerimis tipis dan hamparan kebun di
ketinggian memberikan sensasi romantis sekaligus melelahkan. Namun, semua peluh
dan rasa lelah itu langsung menguap begitu kaki ini menapak di Puncak Artapela,
atau yang sering disebut oleh warga sebagai Puncak Sulibra.
Sumber: Dokumen Pribadi
Setelah berjuang berjalan kaki selama kurang lebih 3
jam, impian untuk berdiri di titik tertinggi Artapela akhirnya terwujud.
Dari atas sini, sejauh mata memandang, Anda akan disuguhi panorama 360 derajat
berupa lautan awan tipis, lekukan perbukitan Pangalengan, dan udara bersih yang
menyegarkan paru-paru. Rasa lelah terbayar tuntas, membuktikan bahwa
petualangan tektok murah meriah ini jauh lebih berkesan daripada sekadar
berdiam diri di rumah…..giliran kamu kapan muncak???





.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar