DEEP TALK SAMA ALAM, RAHASIA SUKSES EKOWISATA GARUT LEWAT MATA HATI
Oleh: Hj. Ani Haelani, SS, M.Pd.MIL *)
Halo, Sobat Gen-Z! Pernah dengar istilah "Ngaji Rasa"? Kedengarannya mungkin berat banget kayak tugas filsafat, tapi sebenarnya ini adalah skill paling penting buat kita yang lagi proses jadi dewasa. Artikel yang Ibu sajikan ini ngajak kita buat nggak cuma melihat dunia pakai mata, tapi juga pakai hati, terutama dalam menjaga alam kita.
Sumber: https://relaxteacher.wordpress.com/2013/09/13/falsafah-ngaji-rasa/
Yuk, kita bahas ringkasannya dengan gaya yang lebih
santai!
1. Mata Hati Level Up Cara Kita Memandang Dunia
Belajar itu nggak ada kata finish-nya. Kalau
kata artikel ini, semakin kita dewasa, kita harus semakin sadar kalau ilmu itu
luas banget. Ada perbedaan besar antara "Mata" dan "Mata
Hati".
- Mata, Cuma bisa melihat apa yang tertulis di buku atau
layar smartphone.
- Mata Hati, Bisa merasakan proses
kehidupan sebagai "kitab" yang nggak ada habisnya.
Contoh simpelnya: Sampah. Kalau cuma pakai
mata, kita cuma lihat benda kotor. Tapi kalau pakai mata hati, kita bakal punya
kesadaran (mindfulness) kalau satu sampah plastik yang kita buang
sembarangan itu bisa merusak ekosistem masa depan. Melakukan hal baik bukan
cuma karena aturan, tapi karena kita merasa itu bentuk pengabdian kita kepada
Tuhan. Deep banget, kan?
Sumber: https://itb.ac.id/berita/dosen-itb-pantai-sayang-heulang-punya-potensi-jadi-lokasi-agrowisata/58813
2. Realita Pahit di Pantai Garut Selatan
Sekarang kita coba aplikasikan ilmu "Ngaji
Rasa" ini ke kasus nyata. Pantai Selatan Garut. Siapa yang nggak
tahu indahnya Pantai Sayang Heulang atau Santolo? Tapi sayangnya,
pengelolaannya masih jauh dari kata "estetik" dan profesional.
Ada beberapa masalah toxic yang sering
dikeluhkan pengunjung:
- Tiket yang "Digetok": Harusnya
sesuai aturan cuma Rp15.000, tapi di lapangan bisa jadi Rp45.000. Ini
jelas nggak jujur.
- Fasilitas yang "Zonk": Bayar
mahal tapi sampah berserakan di mana-mana dan fasilitasnya nggak bikin
nyaman.
- Oknum Galak: Masih ada oknum petugas atau
"preman" yang bicaranya kasar. Padahal, orang ke pantai itu mau healing
dan menikmati ciptaan Tuhan, bukannya malah kena mental karena dibentak.
Sumber: https://validnews.id/kultura/mengintip-indahnya-bahari-garut-di-pantai-santolo
3. Eco-Tourism Masa Depan Ekonomi yang Keren
Kalau kita pakai ilmu ekonomi yang dibarengi kesadaran
lingkungan, Pantai Garut Selatan itu punya potensi jadi Ekowisata kelas
dunia. Ada istilah namanya Valuasi Ekonomi. Intinya, kalau tempat wisata
dikelola dengan rapi, ramah, dan bersih, keuntungannya bakal berkali-kali
lipat!
Bayangin deh hitung-hitungannya:
- Kalau satu kawasan didatangi 1.000 orang dengan tarif standar
Rp15.000, pendapatannya Rp15 juta.
- Tapi kalau dikelola jadi Ekowisata yang keren (ada edukasi
alam, UMKM lokal yang rapi, penginapan estetik, dan pelayanan ramah),
seorang turis bisa menghabiskan Rp75.000 sampai Rp150.000 dengan senang
hati.
- Hasilnya? Pendapatan harian bisa melonjak jadi Rp75 juta
sampai Rp150 juta! Uang ini bisa banget buat menyejahterakan warga lokal
dan memperbaiki fasilitas.
4. Harmoni Alam dan Cuan
Jadi, intinya "Mengaji Rasa" itu ngajarin
kita kalau alam bukan cuma objek buat foto-foto doang, tapi "Ayat
Tuhan" yang harus dijaga.
Sumber: https://www.liputan6.com/regional/read/4893635/pesona-pantai-sayang-heulang-garut
Ketika kita mengelola alam dengan ilmu dan rasa
tanggung jawab, kita nggak cuma dapat pemandangan indah, tapi juga dapet
manfaat ekonomi yang berkelanjutan. Antara ibadah, menjaga alam, dan mencari
rezeki itu bisa jalan barengan kalau kita punya kesadaran.
Gimana, menarik banget kan bahasannya? Kalau kamu penasaran gimana cara menghitung valuasi ekonomi lingkungan secara lebih detail, atau mau tips gimana cara mulai menerapkan mindfulness di kehidupan sehari-hari, kasih tahu aku ya!
*) Guru Bahasa Indonesia, Koordinator Gerakan Literasi
Sekolah, Tim Redaksi Literasmansa
**) Disarikan dari beberapa artikel terkait judul




Tidak ada komentar:
Posting Komentar