"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Senin, 11 Mei 2026

LINGUA

 'BAHASA ANAK JAKSEL' CODE-SWITCHING DI KALANGAN ANAK MUDA

Oleh: Mesi Putri Meriam, S.Pd *)

Pernahkah Anda mendengar percakapan seperti ini: "Jujur ya, gue sebenernya fine-fine aja, tapi secara mental gue ngerasa burnt out banget after meeting tadi"? Bagi masyarakat perkotaan, gaya bicara yang mencampurkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris sudah menjadi makanan sehari-hari. Fenomena ini dalam ilmu linguistik disebut dengan Code-Switching (alih kode) dan Code-Mixing (campur kode). Mengapa tren ini begitu menjamur di kalangan Generasi Z dan Milenial? Apakah ini tanda kemunduran bahasa, atau justru bentuk evolusi komunikasi?

 
Sumber: https://id.linkedin.com/pulse/code-switching-consulting-anne-hendrickson-kszuc?tl=id

Apa Itu Code-Switching?

Secara sederhana, code-switching adalah penggunaan lebih dari satu bahasa atau kode dalam satu percakapan. Di Indonesia, hal ini paling sering terlihat pada penyisipan kosakata Bahasa Inggris ke dalam struktur kalimat Bahasa Indonesia. Secara teknis, ada dua jenis yang sering terjadi:

·         Intersentential: Pergantian bahasa yang terjadi di jeda antar kalimat.

·         Intrasentential: Penyisipan kata atau frasa asing di dalam satu kalimat yang sama (sering disebut campur kode).

Mengapa Anak Muda Melakukannya?

Ada beberapa alasan psikologis dan sosiologis di balik tren ini:

1.       Keterbatasan Padanan Kata (Economy of Expression)

Banyak anak muda merasa beberapa istilah Bahasa Inggris lebih praktis dan mampu menyampaikan nuansa perasaan yang tepat. Kata "Relate" terasa lebih ringkas daripada harus mengatakan "Saya memiliki pengalaman yang serupa sehingga saya memahami perasaanmu." Begitu juga dengan kata seperti "Burnout", "Triggered", atau "Healing".

2.       Eksposur Media Sosial dan Budaya Populer

Anak muda saat ini tumbuh besar dengan YouTube, TikTok, Netflix, dan Spotify. Konten yang mereka konsumsi mayoritas berbahasa Inggris. Secara tidak sadar, otak mereka memproses informasi dalam bahasa tersebut, sehingga saat berbicara, kata-kata itulah yang paling cepat muncul di kepala (brain retrieval).

3.       Identitas Sosial dan Prestise

Bahasa sering kali digunakan sebagai alat untuk menunjukkan identitas. Menggunakan Bahasa Inggris sering kali diasosiasikan dengan pendidikan yang baik, keterbukaan informasi, dan modernitas. Inilah yang memunculkan stereotip "Anak Jaksel" (Jakarta Selatan) sebagai pelopor tren ini.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DXRNZhDlJYT/

Dampak terhadap Bahasa Indonesia

Fenomena ini sering mengundang perdebatan. Kritikus berpendapat bahwa code-switching dapat mengancam kelestarian Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada kekhawatiran bahwa generasi muda akan kehilangan kemampuan untuk berbicara secara formal atau tidak tahu padanan kata asli dalam bahasa ibu mereka. Namun, dari sudut pandang linguistik yang lebih cair, code-switching dipandang sebagai bukti kemampuan kognitif yang tinggi. Seseorang harus memahami dua sistem tata bahasa sekaligus untuk bisa mencampurkannya secara selaras.


Sumber: https://engconvo.com/blog/professional-personality-traits/

Simpulan

 Code-switching bukan sekadar tren gaya-gayaan. Ia adalah cerminan dari dunia yang semakin terhubung secara global. Selama kita masih bisa menempatkan diri kapan harus menggunakan bahasa formal dan kapan bisa menggunakan bahasa santai, code-switching justru memperkaya cara kita berekspresi. Jadi, tidak perlu terlalu judgmental (menghakimi). Yang terpenting adalah pesan yang disampaikan bisa diterima dengan jelas oleh lawan bicara. At the end of the day, communication is about connection, right?.

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan. Pembina Ektrakurikuler English Club

**)  dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LINGUA

  'BAHASA ANAK JAKSEL' CODE-SWITCHING DI KALANGAN ANAK MUDA Oleh: Mesi Putri Meriam, S.Pd *) ​ Pernahkah Anda mendengar percaka...