"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Rabu, 21 Januari 2026

Psikologika

 “Sang Penakluk Hati. Simfoni Adab Salahuddin al-Ayyubi”

Oleh: Yuli Yuliani, S.Pd*)


Sejarah seringkali ditulis dengan tinta darah dan narasi dendam. Namun, di abad ke-12, ketika cakrawala Palestina memerah oleh api peperangan antara Timur dan Barat, muncul sebuah nama yang tidak hanya menaklukkan benteng, tetapi juga menaklukkan kebencian. Ia adalah Salahuddin, seorang lelaki yang memahami bahwa pedang mungkin bisa memenangkan tanah, namun hanya adab yang mampu memenangkan keabadian. Di bawah bayang-bayang zirah yang dingin, ia membawa kehangatan yang tak masuk akal bagi musuhnya; membuktikan bahwa di puncak kejayaan sekalipun, kemanusiaan adalah mahkota tertinggi yang tak boleh tanggal." Prinsip inilah yang kemudian menjelma dalam langkah-langkah nyata sang jenderal di medan laga.

 
Sumber: https://rri.co.id/iptek/963898/raja-salahuddin-al-ayyubi-sang-penakluk-yang-mengukir-sejarah

Di abad ke-12, ketika debu peperangan mengepul hebat di tanah Palestina, langit menjadi saksi benturan dua peradaban besar antara Timur dan Barat. Di tengah nyala api konflik yang melahap kedamaian, muncul satu nama yang melampaui sekat-sekat kebencian: Salahuddin al-Ayyubi. Ia bukan sekadar pemegang pedang yang ulung, melainkan arsitek peradaban yang membangun fondasi kepemimpinan di atas pilar adab. Bagi Salahuddin, medan perang adalah ujian bagi jiwa, bukan sekadar ajang unjuk kekuatan. Ia adalah perpaduan antara ketegasan baja dan kelembutan sutra. Di matanya, kemenangan sejati tidak diraih saat musuh tersungkur tak bernyawa, melainkan ketika kehormatan dan nilai-nilai luhur tetap tegak berdiri di atas puing-puing pertikaian.

Puncaknya terjadi pada tahun 1187. Setelah debu pertempuran di Hattin mengendap, Yerusalem kembali ke pelukan pasukannya. Sejarah mencatat bahwa kota itu pernah direbut dengan genangan darah, namun di tangan Salahuddin, Yerusalem disambut dengan dekapan kasih sayang. Ketika dunia mengira badai pembalasan akan datang, ia justru menghadirkan fajar keadilan. Tak ada jerit kematian; yang ada hanyalah perlindungan. Ia memerintahkan agar setiap jiwa bahkan mereka yang pernah menghunuskan pedang ke arahnya agar dijaga martabatnya. Gereja-gereja tetap menjadi tempat suci yang sunyi dari penjarahan, sementara perempuan dan anak-anak mendapatkan keamanan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

 
Sumber: https://nusantaranews.co/pertempuran-hittin-perang-pembebasan-palestina/

Keluasan hatinya melampaui batas garis depan. Saat seteru besarnya, Raja Richard si Hati Singa, terbaring lemah oleh penyakit, Salahuddin tidak mengirimkan maut, melainkan penawar. Buah-buahan segar dan tabib terbaik ia kirimkan melintasi batas kamp lawan. Baginya, Richard bukanlah sekadar objek kebencian, melainkan seorang manusia yang memiliki hak atas kemanusiaan saat raga tak lagi berdaya.

Seorang perwira yang kebingungan melihat kemuliaan ini bertanya, Wahai Tuanku, mengapa kita menyemai kebaikan di ladang musuh kita?” Salahuddin menjawab dengan kalimat yang menggetarkan zaman:

“Karena kita berperang untuk menegakkan nilai, bukan untuk memupuk kebiadaban. Kemenangan tanpa akhlak hanyalah kekalahan yang tertunda.”

Keberaniannya memang membuat pasukan patuh, namun adabnya membuat dunia tunduk dalam rasa hormat. Hingga hari ini, namanya tidak hanya terukir di batu nisan sejarah, tetapi abadi dalam sanubari manusia sebagai pengingat: bahwa pemimpin sejati adalah ia yang mampu menaklukkan dunia tanpa harus kehilangan sisi kemanusiaannya.

Analisis narasi Salahuddin al-Ayyubi dari perspektif psikologi memberikan gambaran tentang sosok pemimpin yang telah mencapai tingkat kematangan emosional dan kognitif yang luar biasa. Berikut adalah kajian psikologis berdasarkan kisah tersebut:

 
Sumber: https://lainspirationtravel.blogspot.com/2015/06/7-kata-bijak-salahuddin-al-ayyubi.html

1. Kajian Psikologis. Profil Sang Jenderal

Dari kisah di atas, kita dapat membedah karakter Salahuddin melalui beberapa konsep psikologi modern:

  • Kecerdasan Emosional (EQ) yang Tinggi. Salahuddin menunjukkan kontrol diri (self-regulation) yang sempurna. Di tengah euforia kemenangan ; situasi di mana banyak orang kehilangan kendali dan melakukan pembalasan, ia tetap tenang dan berempati. Kemampuannya mengirimkan tabib kepada Richard the Lionheart menunjukkan kapasitas empati kognitif yang melampaui batas identitas kelompok (in-group vs out-group).
  • Moral Reasoning (Penalaran Moral) Tingkat Pasca-Konvensional. Berdasarkan teori Lawrence Kohlberg, Salahuddin berada pada tahap tertinggi moralitas. Ia tidak bertindak berdasarkan aturan perang yang lazim (konvensional) atau rasa takut akan hukuman, melainkan berdasarkan prinsip etika universal. Baginya, martabat manusia adalah nilai mutlak yang tidak bisa ditawar oleh situasi perang sekalipun.
  • Integritas dan Autentisitas. Ungkapannya, "Kemenangan tanpa akhlak hanyalah kekalahan yang tertunda," mencerminkan keselarasan antara nilai internal dengan tindakan eksternal. Secara psikologis, ini membangun kepercayaan (trust) yang luar biasa, tidak hanya bagi pasukannya tetapi juga bagi musuhnya.

 

Sumber: https://iibs-ri.com/adab-di-atas-ilmu/

2. Pentingnya Adab di Atas Segalanya

Kisah tersebut menegaskan bahwa adab adalah fondasi dari segala pencapaian. Tanpa adab, kesuksesan hanyalah sebuah penaklukan fisik yang hambar. Berikut adalah mengapa adab menempati posisi tertinggi:

  • Adab sebagai Pembeda Manusia dengan Kebiadaban. Salahuddin menyadari bahwa tanpa aturan moral (adab), perang hanyalah ekspresi dari insting hewani. Adab adalah apa yang menjaga sisi kemanusiaan tetap hidup bahkan dalam kondisi paling brutal sekalipun.
  • Memenangkan Hati, Bukan Sekadar Tanah. Secara psikologis, kekerasan hanya akan melahirkan dendam baru (lingkaran setan). Namun, adab yang ditunjukkan melalui perlindungan warga Yerusalem dan pengobatan musuh menciptakan rasa hormat yang mendalam. Kemenangan melalui adab bersifat permanen karena ia menaklukkan jiwa, bukan sekadar raga.
  • Kepemimpinan yang Menginspirasi (Transformational Leadership). Adab adalah magnet kepemimpinan. Pasukan Salahuddin patuh bukan karena takut akan pedangnya, melainkan karena kagum pada kemuliaan pribadinya. Adab memberikan legitimasi moral bagi seorang pemimpin untuk diikuti dengan setia.
  • Menjaga Kesehatan Mental dan Jiwa Pemimpin. Dengan mengedepankan adab, seorang pemimpin terhindar dari rasa bersalah atau trauma psikologis yang muncul akibat tindakan keji. Adab menjaga hati nurani tetap bersih, sehingga kemenangan mendatangkan kedamaian sejati, bukan kegelisahan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan tanpa adab adalah tirani, sedangkan adab tanpa kekuatan adalah kelemahan. Salahuddin menggabungkan keduanya. Ia membuktikan bahwa di puncak kejayaan, ujian terbesarnya bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menjaga agar "mahkota kemanusiaan" tidak tanggal dari kepala.

Adab adalah mata uang yang berlaku di seluruh dunia, bahkan di medan perang yang paling gelap sekalipun.

Pada akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang memegang tonggak kekuasaan, melainkan tentang jejak apa yang ditinggalkan di dalam hati manusia. Salahuddin al-Ayyubi telah lama tiada, namun ia mewariskan sebuah kebenaran yang melampaui zaman: bahwa kekuatan tanpa adab hanyalah kehancuran yang menyamar sebagai kemenangan.

 
Sumber: https://bimbinganislam.com/poster/jangan-sedikitpun-meremehkan-adab-atau-akhlak-mulia/

Di dunia kita hari ini tempat di mana kata-kata seringkali menjadi pedang yang melukai dan ambisi kerap melibas Nurani, kita dipanggil untuk menjadi "Salahuddin" dalam peperangan batin kita sendiri. Menjadi beradab bukan berarti menjadi lemah. Sebaliknya, adab adalah keberanian tertinggi untuk tetap memanusiakan manusia, bahkan ketika kita memiliki kuasa untuk merendahkannya.

Adab adalah jangkar saat badai emosi melanda, dan kompas saat ego mencoba menyesatkan arah. Ia mengajarkan kita bahwa memenangkan argumen tidak ada artinya jika kita kehilangan kehormatan, dan meraih puncak kesuksesan akan terasa hambar jika kita memanjatnya dengan menginjak martabat sesama.

Jadilah manusia yang kehadirannya memberi rasa aman dan ketiadaannya menumbuhkan rindu. Karena pada titik terjauh perjalanan hidup nanti, bukan harta atau gelar yang akan dikenang, melainkan seberapa besar kehangatan adab yang pernah kita bagikan di tengah dinginnya dunia. Sebab pemimpin sejati, pemenang sejati, dan manusia sejati, adalah mereka yang mampu menaklukkan hari tanpa sedikit pun menanggalkan mahkota kemanusiaannya.

"Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang sukses yang rakus, namun dunia sangat merindukan orang-orang beradab yang mampu membawa kedamaian bagi sekelilingnya."

"Jika hari ini seluruh pencapaian, gelar, dan kekuasaanmu ditanggalkan hingga hanya menyisakan caramu memperlakukan sesama; akankah dunia mengenalmu sebagai pemenang sejati, atau sekadar penguasa yang asing bagi kemanusiaan?"

*)  Konselor di SMAN I Pangalengan. Koordinator MGMP Bimbingan Konseling.

**) Sumber : https://gemini.google.com/app/kisahSalahuddinal-Ayyubi

29 komentar:

  1. terimakasih linterasinya
    keysha x-c

    BalasHapus
  2. makasih bu alfirji x-d

    BalasHapus
  3. terimakasih literasi nya
    x-L

    BalasHapus
  4. terimakasih atas literasinya ibu

    BalasHapus
  5. Terima kasih ibu karena telah menyajikan sejarah dengan narasi yang begitu indah dan mudah dipahami

    BalasHapus
  6. terimakasih atas literasinya sangattt bermanfaat

    BalasHapus
  7. terimakasih atas literasi nya
    -Rizka X-A

    BalasHapus
  8. Terimakasih atas literasinya

    BalasHapus
  9. terimakasih atas literasinya

    BalasHapus
  10. Terimakasih atas literasinya
    -Laila X-A

    BalasHapus
  11. amirah azzah dhawiyah xb22 Januari 2026 pukul 06.54

    terimakasih atas literasi nya bu🙏🏻

    BalasHapus
  12. Terima kasih buu atas litesinya

    BalasHapus
  13. terimakasihh atasa literasinyaa buu

    SALVA ANGGRAENI X-D

    BalasHapus
  14. Lathifah Fauziah F X-B22 Januari 2026 pukul 06.55

    terimakasih banyak ibuu literasinya sangat bermanfaat✨️

    BalasHapus
  15. Terima kasih buu atas literasinya

    BalasHapus
  16. Terimakasih karna telah memberikan informasi yang bermanfaat

    BalasHapus
  17. terimakasih literasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  18. Terimakasih ibu atas literasinya

    BalasHapus
  19. Ananda batistuta X -B22 Januari 2026 pukul 07.03

    Terimakasih banyak ibu atas literasinya

    BalasHapus
  20. terimakasih atas literasinya, sangat bermanfaat
    aprilia xe

    BalasHapus
  21. terimakasih atas literasinya sangat bermanfaat sekali

    Amanda Risma Ayu X-E

    BalasHapus
  22. terimakasih ibu atas literasi nya

    BalasHapus
  23. Amanda Nur rispa XB22 Januari 2026 pukul 07.07

    terimakasih atas literasinya buu

    BalasHapus
  24. terimakasih bu atas literasi nyaa ibrahim XB

    BalasHapus
  25. Fijhar R. Pertama X-B22 Januari 2026 pukul 07.16

    Terimakasih literasi nya, Bu.

    BalasHapus
  26. Nabila M. Ilmi X-B22 Januari 2026 pukul 07.17

    Terimakasih literasi nya, Bu.

    BalasHapus
  27. Terimakasih atas literasinya ibu, ini salah satu pembelajaran yang sangat berarti, kesan dan pesan yang mudah untuk didapatkan 🌹

    BalasHapus
  28. Terimakasih literasinya sangat bermanfaat
    Wafiq xe

    BalasHapus
  29. Amanda Nur rispa Xb27 Januari 2026 pukul 06.57

    terimakasih atas literasinya

    BalasHapus

Our Culture

  DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA Oleh: Rusmana *)   Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua ata...