“Sang Penakluk Hati. Simfoni Adab Salahuddin al-Ayyubi”
Oleh: Yuli Yuliani, S.Pd*)

Sumber: https://rri.co.id/iptek/963898/raja-salahuddin-al-ayyubi-sang-penakluk-yang-mengukir-sejarah
Di
abad ke-12, ketika debu peperangan mengepul hebat di tanah Palestina, langit
menjadi saksi benturan dua peradaban besar antara Timur dan Barat. Di tengah
nyala api konflik yang melahap kedamaian, muncul satu nama yang melampaui
sekat-sekat kebencian: Salahuddin al-Ayyubi. Ia bukan sekadar
pemegang pedang yang ulung, melainkan arsitek peradaban yang membangun fondasi
kepemimpinan di atas pilar adab. Bagi Salahuddin, medan perang adalah ujian
bagi jiwa, bukan sekadar ajang unjuk kekuatan. Ia adalah perpaduan antara
ketegasan baja dan kelembutan sutra. Di matanya, kemenangan sejati tidak diraih
saat musuh tersungkur tak bernyawa, melainkan ketika kehormatan dan nilai-nilai
luhur tetap tegak berdiri di atas puing-puing pertikaian.
Puncaknya
terjadi pada tahun 1187. Setelah debu pertempuran di Hattin mengendap,
Yerusalem kembali ke pelukan pasukannya. Sejarah mencatat bahwa kota itu pernah
direbut dengan genangan darah, namun di tangan Salahuddin, Yerusalem disambut
dengan dekapan kasih sayang. Ketika dunia mengira badai pembalasan akan datang,
ia justru menghadirkan fajar keadilan. Tak ada jerit kematian; yang ada
hanyalah perlindungan. Ia memerintahkan agar setiap jiwa bahkan mereka yang
pernah menghunuskan pedang ke arahnya agar dijaga martabatnya. Gereja-gereja
tetap menjadi tempat suci yang sunyi dari penjarahan, sementara perempuan dan
anak-anak mendapatkan keamanan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sumber: https://nusantaranews.co/pertempuran-hittin-perang-pembebasan-palestina/
Keluasan
hatinya melampaui batas garis depan. Saat seteru besarnya, Raja Richard
si Hati Singa, terbaring lemah oleh penyakit, Salahuddin tidak
mengirimkan maut, melainkan penawar. Buah-buahan segar dan tabib terbaik ia
kirimkan melintasi batas kamp lawan. Baginya, Richard bukanlah sekadar objek
kebencian, melainkan seorang manusia yang memiliki hak atas kemanusiaan saat
raga tak lagi berdaya.
Seorang
perwira yang kebingungan melihat kemuliaan ini bertanya, “Wahai Tuanku,
mengapa kita menyemai kebaikan di ladang musuh kita?” Salahuddin
menjawab dengan kalimat yang menggetarkan zaman:
“Karena
kita berperang untuk menegakkan nilai, bukan untuk memupuk kebiadaban.
Kemenangan tanpa akhlak hanyalah kekalahan yang tertunda.”
Keberaniannya
memang membuat pasukan patuh, namun adabnya membuat dunia tunduk dalam rasa
hormat. Hingga hari ini, namanya tidak hanya terukir di batu nisan sejarah,
tetapi abadi dalam sanubari manusia sebagai pengingat: bahwa pemimpin sejati
adalah ia yang mampu menaklukkan dunia tanpa harus kehilangan sisi
kemanusiaannya.
Analisis
narasi Salahuddin al-Ayyubi dari perspektif psikologi memberikan gambaran
tentang sosok pemimpin yang telah mencapai tingkat kematangan emosional dan
kognitif yang luar biasa. Berikut adalah kajian psikologis berdasarkan kisah
tersebut:

Sumber: https://lainspirationtravel.blogspot.com/2015/06/7-kata-bijak-salahuddin-al-ayyubi.html
1.
Kajian Psikologis. Profil Sang Jenderal
Dari
kisah di atas, kita dapat membedah karakter Salahuddin melalui beberapa konsep
psikologi modern:
- Kecerdasan
Emosional (EQ) yang Tinggi. Salahuddin menunjukkan kontrol diri (self-regulation)
yang sempurna. Di tengah euforia kemenangan ; situasi di mana banyak orang
kehilangan kendali dan melakukan pembalasan, ia tetap tenang dan
berempati. Kemampuannya mengirimkan tabib kepada Richard the Lionheart
menunjukkan kapasitas empati kognitif yang melampaui batas identitas
kelompok (in-group vs out-group).
- Moral Reasoning
(Penalaran Moral) Tingkat Pasca-Konvensional. Berdasarkan teori Lawrence
Kohlberg, Salahuddin berada pada tahap tertinggi moralitas. Ia tidak
bertindak berdasarkan aturan perang yang lazim (konvensional) atau rasa
takut akan hukuman, melainkan berdasarkan prinsip etika universal.
Baginya, martabat manusia adalah nilai mutlak yang tidak bisa ditawar oleh
situasi perang sekalipun.
- Integritas dan
Autentisitas. Ungkapannya, "Kemenangan tanpa akhlak hanyalah
kekalahan yang tertunda," mencerminkan keselarasan antara
nilai internal dengan tindakan eksternal. Secara psikologis, ini membangun
kepercayaan (trust) yang luar biasa, tidak hanya bagi pasukannya
tetapi juga bagi musuhnya.
Sumber: https://iibs-ri.com/adab-di-atas-ilmu/
2.
Pentingnya Adab di Atas Segalanya
Kisah
tersebut menegaskan bahwa adab adalah fondasi dari segala pencapaian. Tanpa
adab, kesuksesan hanyalah sebuah penaklukan fisik yang hambar. Berikut adalah
mengapa adab menempati posisi tertinggi:
- Adab sebagai
Pembeda Manusia dengan Kebiadaban. Salahuddin menyadari bahwa tanpa aturan
moral (adab), perang hanyalah ekspresi dari insting hewani. Adab adalah
apa yang menjaga sisi kemanusiaan tetap hidup bahkan dalam kondisi paling
brutal sekalipun.
- Memenangkan
Hati, Bukan Sekadar Tanah. Secara psikologis, kekerasan hanya akan
melahirkan dendam baru (lingkaran setan). Namun, adab yang ditunjukkan
melalui perlindungan warga Yerusalem dan pengobatan musuh menciptakan rasa
hormat yang mendalam. Kemenangan melalui adab bersifat permanen karena ia
menaklukkan jiwa, bukan sekadar raga.
- Kepemimpinan
yang Menginspirasi (Transformational Leadership). Adab adalah
magnet kepemimpinan. Pasukan Salahuddin patuh bukan karena takut akan
pedangnya, melainkan karena kagum pada kemuliaan pribadinya. Adab
memberikan legitimasi moral bagi seorang pemimpin untuk diikuti dengan
setia.
- Menjaga
Kesehatan Mental dan Jiwa Pemimpin. Dengan mengedepankan adab, seorang
pemimpin terhindar dari rasa bersalah atau trauma psikologis yang muncul
akibat tindakan keji. Adab menjaga hati nurani tetap bersih, sehingga
kemenangan mendatangkan kedamaian sejati, bukan kegelisahan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan tanpa adab
adalah tirani, sedangkan adab tanpa kekuatan adalah kelemahan. Salahuddin
menggabungkan keduanya. Ia membuktikan bahwa di puncak kejayaan, ujian
terbesarnya bukanlah mengalahkan lawan, melainkan menjaga agar "mahkota
kemanusiaan" tidak tanggal dari kepala.
Adab adalah
mata uang yang berlaku di seluruh dunia, bahkan di medan perang yang paling
gelap sekalipun.
Pada
akhirnya, sejarah bukan hanya tentang siapa yang memegang tonggak kekuasaan,
melainkan tentang jejak apa yang ditinggalkan di dalam hati manusia. Salahuddin
al-Ayyubi telah lama tiada, namun ia mewariskan sebuah kebenaran yang melampaui
zaman: bahwa kekuatan tanpa adab hanyalah kehancuran yang menyamar sebagai
kemenangan.

Sumber: https://bimbinganislam.com/poster/jangan-sedikitpun-meremehkan-adab-atau-akhlak-mulia/
Di
dunia kita hari ini tempat di mana kata-kata seringkali menjadi pedang yang
melukai dan ambisi kerap melibas Nurani, kita dipanggil untuk menjadi
"Salahuddin" dalam peperangan batin kita sendiri. Menjadi beradab
bukan berarti menjadi lemah. Sebaliknya, adab adalah keberanian tertinggi untuk
tetap memanusiakan manusia, bahkan ketika kita memiliki kuasa untuk merendahkannya.
Adab
adalah jangkar saat badai emosi melanda, dan kompas saat ego mencoba
menyesatkan arah. Ia mengajarkan kita bahwa memenangkan argumen tidak ada
artinya jika kita kehilangan kehormatan, dan meraih puncak kesuksesan akan
terasa hambar jika kita memanjatnya dengan menginjak martabat sesama.
Jadilah
manusia yang kehadirannya memberi rasa aman dan ketiadaannya menumbuhkan rindu.
Karena pada titik terjauh perjalanan hidup nanti, bukan harta atau gelar yang
akan dikenang, melainkan seberapa besar kehangatan adab yang pernah kita
bagikan di tengah dinginnya dunia. Sebab pemimpin sejati, pemenang sejati, dan
manusia sejati, adalah mereka yang mampu menaklukkan hari tanpa sedikit pun
menanggalkan mahkota kemanusiaannya.
"Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang sukses yang rakus,
namun dunia sangat merindukan orang-orang beradab yang mampu membawa kedamaian
bagi sekelilingnya."
"Jika hari ini seluruh pencapaian, gelar, dan kekuasaanmu
ditanggalkan hingga hanya menyisakan caramu memperlakukan sesama; akankah dunia
mengenalmu sebagai pemenang sejati, atau sekadar penguasa yang asing bagi
kemanusiaan?"
*) Konselor di SMAN I Pangalengan. Koordinator
MGMP Bimbingan Konseling.
**) Sumber : https://gemini.google.com/app/kisahSalahuddinal-Ayyubi

terimakasih linterasinya
BalasHapuskeysha x-c
makasih bu alfirji x-d
BalasHapusterimakasih literasi nya
BalasHapusx-L
terimakasih atas literasinya ibu
BalasHapusTerima kasih ibu karena telah menyajikan sejarah dengan narasi yang begitu indah dan mudah dipahami
BalasHapusterimakasih atas literasinya sangattt bermanfaat
BalasHapusterimakasih atas literasi nya
BalasHapus-Rizka X-A
Terimakasih atas literasinya
BalasHapusterimakasih atas literasinya
BalasHapusTerimakasih atas literasinya
BalasHapus-Laila X-A
terimakasih atas literasi nya bu🙏🏻
BalasHapusTerima kasih buu atas litesinya
BalasHapusterimakasihh atasa literasinyaa buu
BalasHapusSALVA ANGGRAENI X-D
terimakasih banyak ibuu literasinya sangat bermanfaat✨️
BalasHapusTerima kasih buu atas literasinya
BalasHapusTerimakasih karna telah memberikan informasi yang bermanfaat
BalasHapusterimakasih literasinya sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih ibu atas literasinya
BalasHapusTerimakasih banyak ibu atas literasinya
BalasHapusterimakasih atas literasinya, sangat bermanfaat
BalasHapusaprilia xe
terimakasih atas literasinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusAmanda Risma Ayu X-E
terimakasih ibu atas literasi nya
BalasHapusterimakasih atas literasinya buu
BalasHapusterimakasih bu atas literasi nyaa ibrahim XB
BalasHapusTerimakasih literasi nya, Bu.
BalasHapusTerimakasih literasi nya, Bu.
BalasHapusTerimakasih atas literasinya ibu, ini salah satu pembelajaran yang sangat berarti, kesan dan pesan yang mudah untuk didapatkan 🌹
BalasHapusTerimakasih literasinya sangat bermanfaat
BalasHapusWafiq xe
terimakasih atas literasinya
BalasHapus