DARI KIOS KECIL KE MIMPI BESAR
Oleh:
Diki Kandida, S.Pd *)
Pagi
itu, matahari baru saja muncul di balik atap-atap rumah sederhana di sebuah
kampung pinggiran kota. Udara masih sejuk, tetapi Damar sudah sibuk mengangkat
dus berisi gorengan ke kios kecil milik ibunya. Kios itu berdiri di depan
rumah, hanya berukuran dua kali tiga meter, dengan rak kayu yang catnya mulai
mengelupas. Di sanalah Damar belajar tentang kehidupan, kerja keras, dan arti
ekonomi sejak usia belia.
Ayah
Damar meninggal ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ibunya
menjadi tulang punggung keluarga. Dengan modal seadanya, sang ibu membuka kios
kecil yang menjual gorengan, minuman, dan kebutuhan harian. Penghasilannya
tidak besar, tetapi cukup untuk makan sederhana dan biaya sekolah Damar. Setiap
pagi sebelum berangkat sekolah, Damar membantu menggoreng tempe dan tahu, lalu
sore hari ia kembali membantu menjaga kios.
Di
sekolah, Damar termasuk murid yang rajin, meskipun sering mengantuk karena
harus membantu ibunya hingga malam. Ia sangat menyukai pelajaran ekonomi.
Baginya, ekonomi bukan sekadar teori tentang permintaan dan penawaran, tetapi
cerita nyata tentang hidupnya sendiri. Ketika guru menjelaskan tentang
kelangkaan, Damar teringat betapa ibunya harus memilih antara membeli minyak
goreng atau membayar listrik tepat waktu. Suatu hari, gurunya memberikan tugas
membuat rencana usaha sederhana. Banyak teman Damar menuliskan usaha kafe,
butik, atau bisnis online. Damar menulis tentang kios ibunya. Ia menggambarkan
bagaimana kios kecil itu bisa berkembang jika dikelola lebih baik: menambah
variasi produk, mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, serta melayani
pembeli dengan ramah.
Saat
tugas itu dikumpulkan, sang guru memuji Damar. “Kamu tidak hanya memahami
teori, tapi juga realitas ekonomi,” kata beliau. Kalimat itu tertanam kuat di
benak Damar dan menumbuhkan kepercayaan diri yang selama ini tersembunyi.
Tantangan
terbesar datang ketika Damar lulus SMA. Ia ingin melanjutkan kuliah di jurusan
ekonomi, tetapi biaya menjadi penghalang besar. Banyak malam ia terjaga,
memikirkan masa depannya. Ia takut mimpinya harus berhenti di kios kecil itu.
Namun, ibunya selalu menguatkannya. “Jangan takut bermimpi. Ekonomi mengajarkan
kita tentang pilihan dan usaha,” ucapnya.
Damar
pun mencari beasiswa. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, mencari informasi,
mengisi formulir, dan menulis esai tentang pengalamannya membantu usaha kecil
ibunya. Dalam esai itu, ia menulis dengan jujur tentang bagaimana kemiskinan
tidak mematahkan semangatnya, tetapi justru mengajarkannya nilai kerja keras,
perencanaan, dan tanggung jawab.
Beberapa
bulan kemudian, kabar baik datang. Damar diterima sebagai penerima beasiswa
penuh di sebuah universitas negeri. Tangis haru pecah di kios kecil itu. Ibunya
memeluk Damar erat-erat, seolah seluruh lelah bertahun-tahun terbayar lunas.
Cerita Damar mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peluang dalam dunia ekonomi, apa pun latar belakangnya. Dengan semangat belajar, disiplin, dan ketekunan, keterbatasan ekonomi dapat diubah menjadi kekuatan. Ekonomi bukan sekadar angka dan teori, melainkan kisah manusia tentang harapan, usaha, dan masa depan yang diperjuangkan.
*)
Guru Ekonomi di SMAN I Pangalengan, Pengelola keuangan sekolah. Kepala layanan
Perpustakaan di SMAN I Pangalengan






Terimakasih untuk literasi nya๐
BalasHapusterimakasih literasi nya๐๐ป
BalasHapusterimakasih literasinya ๐๐
BalasHapusTerimaksih bapak atas literasinya sangat bermanfaat
BalasHapusFarisa X-E
Terimkasih bapak atas .literasinya
BalasHapusAprilX-E
Terimakasih bapak atas literasinya
BalasHapusAmanda X-E
terimakasih atas literasi nya
BalasHapusterimakasih bapa literasi nyaa
BalasHapusTerimakasih atas literasinya bapak
BalasHapusTerimakasih bapak atas literasi nya.
BalasHapusterimakasih bapak literasinya
BalasHapusFira X-B
terimakasih bapak untuk literasi nya
BalasHapusMantap pak sangat keren
BalasHapusTerimakasih atas literasinya
BalasHapusterimakasih bapak atas literasinya ๐๐ป
BalasHapusBermanfaat
BalasHapusterimakasih untuk literasi hari ini bapak, dari kisah ini saya belajar bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berusaha
BalasHapusterimakasih bapa atas literasi nya
BalasHapusTerimakasih literasinya sangat bermanfaat
BalasHapusWafiq xe
makasih bu alfirji x-d
BalasHapus