"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Rabu, 28 Januari 2026

Economic PoV

 DARI KIOS KECIL KE MIMPI BESAR

Oleh: Diki Kandida, S.Pd *)

 Biar makin  dapat "feel-nya" sambil dengerin lagu di samping!!!!!

 


Pagi itu, matahari baru saja muncul di balik atap-atap rumah sederhana di sebuah kampung pinggiran kota. Udara masih sejuk, tetapi Damar sudah sibuk mengangkat dus berisi gorengan ke kios kecil milik ibunya. Kios itu berdiri di depan rumah, hanya berukuran dua kali tiga meter, dengan rak kayu yang catnya mulai mengelupas. Di sanalah Damar belajar tentang kehidupan, kerja keras, dan arti ekonomi sejak usia belia.

Ayah Damar meninggal ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Dengan modal seadanya, sang ibu membuka kios kecil yang menjual gorengan, minuman, dan kebutuhan harian. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup untuk makan sederhana dan biaya sekolah Damar. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Damar membantu menggoreng tempe dan tahu, lalu sore hari ia kembali membantu menjaga kios.

 

Damar sering memperhatikan bagaimana ibunya menghitung uang dengan sangat teliti. Setiap lembar rupiah dicatat dalam buku kecil. Ia belum sepenuhnya memahami istilah ekonomi, tetapi ia tahu satu hal: uang yang sedikit harus dikelola dengan bijak agar cukup untuk banyak kebutuhan. Ibunya selalu berkata, “Uang bukan cuma soal jumlah, tapi soal bagaimana kita menggunakannya.”

Di sekolah, Damar termasuk murid yang rajin, meskipun sering mengantuk karena harus membantu ibunya hingga malam. Ia sangat menyukai pelajaran ekonomi. Baginya, ekonomi bukan sekadar teori tentang permintaan dan penawaran, tetapi cerita nyata tentang hidupnya sendiri. Ketika guru menjelaskan tentang kelangkaan, Damar teringat betapa ibunya harus memilih antara membeli minyak goreng atau membayar listrik tepat waktu. Suatu hari, gurunya memberikan tugas membuat rencana usaha sederhana. Banyak teman Damar menuliskan usaha kafe, butik, atau bisnis online. Damar menulis tentang kios ibunya. Ia menggambarkan bagaimana kios kecil itu bisa berkembang jika dikelola lebih baik: menambah variasi produk, mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, serta melayani pembeli dengan ramah.

Saat tugas itu dikumpulkan, sang guru memuji Damar. “Kamu tidak hanya memahami teori, tapi juga realitas ekonomi,” kata beliau. Kalimat itu tertanam kuat di benak Damar dan menumbuhkan kepercayaan diri yang selama ini tersembunyi.

 

Sejak saat itu, Damar mulai membantu ibunya dengan cara berbeda. Ia membuat catatan keuangan yang lebih rapi, memisahkan uang modal dan keuntungan, serta mengamati barang apa saja yang paling laku. Ia menyarankan ibunya untuk menambah produk yang sering dicari pelanggan, seperti telur dan mie instan. Awalnya ibunya ragu, tetapi Damar meyakinkannya dengan perhitungan sederhana. Perlahan, kios itu mulai berubah. Penghasilannya memang tidak langsung melonjak drastis, tetapi lebih stabil. Ibunya tidak lagi kebingungan saat harus membeli bahan baku karena tahu berapa modal yang tersedia. Dari kios kecil itu, Damar belajar bahwa ekonomi bukan sesuatu yang jauh dan rumit, melainkan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tantangan terbesar datang ketika Damar lulus SMA. Ia ingin melanjutkan kuliah di jurusan ekonomi, tetapi biaya menjadi penghalang besar. Banyak malam ia terjaga, memikirkan masa depannya. Ia takut mimpinya harus berhenti di kios kecil itu. Namun, ibunya selalu menguatkannya. “Jangan takut bermimpi. Ekonomi mengajarkan kita tentang pilihan dan usaha,” ucapnya.

Damar pun mencari beasiswa. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, mencari informasi, mengisi formulir, dan menulis esai tentang pengalamannya membantu usaha kecil ibunya. Dalam esai itu, ia menulis dengan jujur tentang bagaimana kemiskinan tidak mematahkan semangatnya, tetapi justru mengajarkannya nilai kerja keras, perencanaan, dan tanggung jawab.

Beberapa bulan kemudian, kabar baik datang. Damar diterima sebagai penerima beasiswa penuh di sebuah universitas negeri. Tangis haru pecah di kios kecil itu. Ibunya memeluk Damar erat-erat, seolah seluruh lelah bertahun-tahun terbayar lunas.

 

Di bangku kuliah, Damar semakin memahami konsep ekonomi secara lebih luas. Ia belajar tentang mikroekonomi, makroekonomi, kewirausahaan, dan ekonomi kerakyatan. Namun, ia tidak pernah melupakan akar perjalanannya. Setiap libur kuliah, ia pulang dan membantu kios ibunya. Ia mulai menerapkan ilmu yang dipelajari, seperti menentukan harga yang tepat, menghitung keuntungan bersih, dan mempertimbangkan risiko usaha. Damar juga aktif mengikuti kegiatan kewirausahaan di kampus. Bersama teman-temannya, ia mengembangkan usaha kecil berbasis produk lokal. Ia percaya bahwa ekonomi yang kuat tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga masyarakat sekitar. Prinsip itu ia pegang teguh karena ia tahu bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.
Setelah lulus kuliah, Damar tidak langsung mencari pekerjaan di perusahaan besar, meskipun banyak kesempatan terbuka. Ia memilih kembali ke kampungnya. Ia ingin membangun usaha yang dapat membuka lapangan kerja dan membantu ekonomi masyarakat kecil. Bersama ibunya, kios kecil itu kini berkembang menjadi toko sembako yang lebih besar, bahkan mempekerjakan beberapa warga sekitar.

Suatu sore, Damar duduk di depan toko, memandangi aktivitas pembeli yang datang silih berganti. Ia teringat masa kecilnya, ketika kios itu hanya sebuah ruang sempit dengan rak kayu tua. Perjalanan ekonomi hidupnya tidak selalu mudah, tetapi penuh pelajaran berharga. Ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan titik awal untuk berjuang. Damar sadar bahwa motivasi ekonomi bukan hanya tentang menjadi kaya, tetapi tentang bertahan, berkembang, dan memberi manfaat. Kerja keras, pengelolaan keuangan yang bijak, serta keberanian bermimpi telah membawanya melangkah jauh. Dari kios kecil, ia membangun mimpi besar bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Cerita Damar mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peluang dalam dunia ekonomi, apa pun latar belakangnya. Dengan semangat belajar, disiplin, dan ketekunan, keterbatasan ekonomi dapat diubah menjadi kekuatan. Ekonomi bukan sekadar angka dan teori, melainkan kisah manusia tentang harapan, usaha, dan masa depan yang diperjuangkan.

 

*) Guru Ekonomi di SMAN I Pangalengan, Pengelola keuangan sekolah. Kepala layanan Perpustakaan di SMAN I Pangalengan

20 komentar:

  1. Terimakasih untuk literasi nya๐Ÿ™

    BalasHapus
  2. terimakasih literasi nya๐Ÿ™๐Ÿป

    BalasHapus
  3. terimakasih literasinya ๐Ÿ™๐Ÿ™

    BalasHapus
  4. Terimaksih bapak atas literasinya sangat bermanfaat
    Farisa X-E

    BalasHapus
  5. Terimkasih bapak atas .literasinya
    AprilX-E

    BalasHapus
  6. Terimakasih bapak atas literasinya
    Amanda X-E

    BalasHapus
  7. terimakasih atas literasi nya

    BalasHapus
  8. terimakasih bapa literasi nyaa

    BalasHapus
  9. Terimakasih atas literasinya bapak

    BalasHapus
  10. Terimakasih bapak atas literasi nya.

    BalasHapus
  11. terimakasih bapak literasinya
    Fira X-B

    BalasHapus
  12. terimakasih bapak untuk literasi nya

    BalasHapus
  13. Mantap pak sangat keren

    BalasHapus
  14. Terimakasih atas literasinya

    BalasHapus
  15. terimakasih bapak atas literasinya ๐Ÿ™๐Ÿป

    BalasHapus
  16. terimakasih untuk literasi hari ini bapak, dari kisah ini saya belajar bahwa setiap orang memiliki peluang untuk berusaha

    BalasHapus
  17. amirah azzah dhawiyah xb29 Januari 2026 pukul 07.12

    terimakasih bapa atas literasi nya

    BalasHapus
  18. Terimakasih literasinya sangat bermanfaat
    Wafiq xe

    BalasHapus
  19. makasih bu alfirji x-d

    BalasHapus

Our Culture

  DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA Oleh: Rusmana *)   Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua ata...