"May the essence of International Day of Peace inspire us to be ambassadors of peace, spreading love, tolerance, and understanding wherever we go" @abuafifi

Rabu, 23 September 2026

Life Wisdom

 AKU, ILMU, DAN APA YANG SAYA LAKUKAN DENGAN ILMU

Oleh: Rendi Rusdiana, S.Pd  *)



كُنِ ابنَ مَن شئتَ واكتسِبْ أدبًا

يُغْنيكَ مَحمودُه عنِ النّسَبِ

إنّ الفتى مَن يقول: ها أنا ذا

ليس الفتى مَن يقولُ: كان أبي

"Jadilah anak siapa saja yang kamu mau, dan carilah adab (ilmu/akhlak)... karena pujian atas adab itu akan mencukupimu dari sekadar mengandalkan keturunan. Sesungguhnya pemuda sejati adalah yang berkata, 'Inilah aku (berdasarkan kemampuannya sendiri),' dan bukanlah pemuda sejati yang berkata, 'Dulu ayahku (sambil membanggakan leluhur).'”

Ungkapan di atas merupakan bait syair yang sering dinisbatkan kepada sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib, yang dalam kesempatan kali ini kita tidak akan membahas tentang benar atau tidaknya kata tersebut berasal dari para sahabat nabi (yang juga biasa disebut atsar), tetapi dalam kesempatan kali ini kita akan sama-sama membahas tentang isi kandungan dan juga hikmah yang terdapat dalam bait syair tersebut.

1.       Setiap Orang Memiliki Jalan dan Privilege yang Berbeda

Setiap manusia lahir dalam kondisi yang berbeda. Ada yang tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan, memiliki orang tua yang berpendidikan, mendapatkan akses pendidikan yang baik, atau memiliki lingkungan yang mendukung. Semua itu dapat disebut sebagai privilege, yaitu berbagai kemudahan atau keuntungan yang diperoleh seseorang karena keadaan yang melekat pada dirinya dan lingkungan tempat ia tumbuh. Namun, adanya privilege bukan berarti seseorang otomatis memiliki kualitas diri yang lebih tinggi daripada orang lain.

 
Sumber: https://wahyuindah.com/problematika-privilege-dan-cara-menyikapinya/

Sebaliknya, keterbatasan yang dimiliki seseorang juga bukan alasan untuk berhenti berusaha. Kita tidak selalu dapat menentukan dari mana kita memulai, tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana kita menjalani perjalanan hidup. Karena itu, jangan terlalu sibuk membandingkan keadaan diri dengan orang lain. Jadikan apa yang kita miliki sebagai modal untuk berkembang dan apa yang belum kita miliki sebagai alasan untuk terus belajar dan berusaha.


2.       Kita Tidak Memilih dari Mana Kita Dilahirkan, tetapi Kita Dapat Menentukan Akan Menjadi Apa

Tidak seorangpun dapat memilih akan dilahirkan dari keluarga siapa, di lingkungan seperti apa, atau dalam keadaan bagaimana. Semua itu merupakan bagian dari ketentuan Allah Swt. yang berada di luar pilihan manusia. Ada yang terlahir dalam keluarga sederhana, ada yang lahir dalam keluarga berada; ada yang mendapatkan dukungan besar sejak kecil, sementara yang lain harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.

 
Sumber: https://web.facebook.com/warta.ekonomi/posts/kita-tak-bisa-memilih-di-mana-kita-dilahirkan

Namun, keadaan ketika kita dilahirkan bukanlah alasan untuk menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya penentu masa depan. Syair tersebut mengingatkan kita untuk tidak berhenti pada kalimat “كان أبي” — “dulu ayahku”. Yang lebih penting adalah “ها أنا ذا” — “inilah aku”. Artinya, seseorang harus berani menunjukkan kualitas dirinya melalui usaha, ilmu, akhlak, dan karya yang ia hasilkan.

 

3.       Kualitas Diri Ditentukan oleh Ilmu, Akhlak, dan Amal, Bukan Sekadar Keturunan

Nama besar keluarga, status sosial, kekayaan, maupun keturunan dapat memberikan seseorang berbagai kemudahan dalam hidup. Akan tetapi, semua itu tidak secara otomatis menjadikan seseorang berilmu, berakhlak, atau memiliki kemampuan. Kemuliaan seseorang tidak seharusnya hanya diukur dari siapa orang tuanya, tetapi juga dari apa yang ia pelajari, bagaimana ia bersikap, serta apa yang ia lakukan dengan kesempatan yang dimilikinya.

Sumber: https://www.instagram.com/reels/DAWx0mYg6Tg/

Karena itu, generasi muda perlu membangun identitasnya sendiri melalui ilmu dan akhlak. Prestasi orang tua boleh menjadi inspirasi, tetapi bukan sesuatu yang cukup untuk dibanggakan tanpa usaha pribadi. Prinsipnya sederhana: jangan hanya menjadi “anak dari seseorang yang hebat”, tetapi berusahalah menjadi seseorang yang juga memiliki kehebatan melalui ilmu, karakter, dan karya.

 

4.       Generasi Muda Harus Berani Berusaha, Berinovasi, dan Pantang Menyerah

Menjadi generasi muda berarti memiliki kesempatan untuk belajar, mencoba, dan menciptakan sesuatu yang baru. Dunia terus berubah sehingga seseorang tidak cukup hanya mengandalkan apa yang sudah dimiliki oleh generasi sebelumnya. Ilmu harus terus dikembangkan, keterampilan harus terus diasah, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru perlu ditumbuhkan. Kesalahan dan kegagalan dalam proses belajar bukanlah tanda bahwa seseorang tidak mampu, melainkan bagian dari proses menuju kematangan.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DT9jQyfia87/

Semangat tersebut sejalan dengan pesan “ها أنا ذا” — “inilah aku.” Kalimat itu menggambarkan keberanian untuk berdiri atas kemampuan sendiri dan menunjukkan apa yang mampu dilakukan. Karena itu, generasi muda hendaknya memiliki etos kerja, kreativitas, inovasi, dan ketangguhan. Bukan sekadar bertanya, “Saya berasal dari keluarga siapa?”, tetapi lebih penting bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan dengan ilmu, kesempatan, dan kemampuan yang Allah berikan kepada saya?”

 

*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi menjadi Ketua DKM Masjid Al Ijtihad SMAN 1 Pangalengan

**) dari berbagai sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Life Wisdom

  AKU, ILMU, DAN APA YANG SAYA LAKUKAN DENGAN ILMU Oleh: Rendi Rusdiana, S.Pd   *) كُنِ ابنَ مَن شئتَ واكتسِبْ أدبًا يُغْنيكَ مَحمودُه عنِ...