first article
GAYA BAHASA MIX-AND-MATCH GEN Z
Oleh: Karmila, SS
*)

Sumber: https://bilingualkidspot.com/2018/04/04/code-switching-sophisticated-linguistic-tool/
Bedanya Code-Switching &
Code-Mixing
Sering disangka sama, padahal
konsep sosiolinguistiknya beda:
- Alih Kode (Code-Switching). Code switching adalah fenomena di mana seorang
penutur berpindah sepenuhnya dari satu bahasa ke bahasa lain selama
percakapan, biasanya antara kalimat atau klausa yang berbeda. Pergantian
ini dapat terjadi secara disengaja untuk menyesuaikan diri dengan konteks
sosial, audiens atau situasi tertentu. Pada umumnya, tujuan penggunaan
code switching adalah untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara,
misalnya, untuk membuat orang merasa lebih nyaman dengan penggunaan bahasa
tertentu, dan untuk menekankan atau memperkuat makna suatu pesan.
"Besok kita ada rapat. By
the way, don't forget to bring the report."
- Campur Kode (Code-Mixing): Code mixing adalah pencampuran dua atau lebih
bahasa dalam satu kalimat atau frasa tanpa berganti sepenuhnya ke bahasa
lain. Fenomena ini sering terjadi pada masyarakat bilingual, di mana kata
atau frasa dari bahasa lain disisipkan dalam kalimat. Biasanya, code
mixing tidak mengikuti aturan sintaksis yang ketat karena penutur lebih
fokus pada ekspresi atau keakraban. Contoh code mixing antara lain:
"Aku harus submit tugas
ini malam ini."

Sumber: https://www.kompasiana.com/ekyrahmawati3105/674932d8c925c476f8386db3/semiotika-generasi-z
Seberapa Sering Gen Z Pakai Gaya
Ini?
Riset tahun 2026 yang menganalisis
1.200 unggahan dan komentar Instagram (data 2024) nemuin fakta menarik tentang
kebiasaan komunikasi digital Gen Z:
|
Fenomena |
Persentase |
|
Campur kode |
82,1% |
|
Alih kode |
68,4% |
|
Alih kode dalam satu kalimat (intrasentential) |
47,3% |
|
Alih kode antarkalimat (intersentential) |
38,6% |
|
Alih kode eksternal |
14,1% |
|
Campur kode berupa kosakata Bahasa Inggris |
63,2% |
Catatan: Data di atas menggambarkan
sampel 1.200 unggahan/komentar Instagram, bukan total seluruh populasi Gen Z
Indonesia.
Alasan Gen Z Hobi English-Indonesia Mix
- Eksposure Media Sosial & Budaya Global: Sering terpapar konten, musik, film, dan gim
internasional.
- Kepraktisan & Efisiensi: Istilah kayak deadline, meeting, update,
atau feedback kerasa lebih simpel.
- Identitas & Persona Digital: Membantu ngebentuk kesan modern, terdidik, atau
sekadar menyesuaikan vibes pergaulan.
- Ekspresi Emosi: Beberapa ungkapan kerasa lebih pas disampaiin pakai Bahasa
Inggris (misal: "I'm so happy today!").

Sumber: https://pbindoftk.uin-suska.ac.id/2024/09/25/ancaman-kehilangan-warisan-bahasa
Bikin Bahasa Indonesia Terancam?
Enggak selalu. Fenomena ini bukan
tanda berkurangnya rasa cinta tanah air, melainkan bentuk kemampuan adaptasi
multibahasa (multilingualism).
Kuncinya ada di kesadaran
linguistik—tahu tempat dan situasi:
- Situasi Santai/Medsos: Code-mixing sah-sah aja buat ekspresi
diri.
- Situasi Formal/Akademis: Wajib pakai Bahasa Indonesia yang baku dan
sesuai kaidah.
Peluang buat Pembelajaran Bahasa
Fenomena ini justru bisa
dimanfaatin di kelas Bahasa Inggris:
- Guru bisa pakai Bahasa Indonesia sebagai jembatan
pemahaman.
- Bahasa medsos bisa dijadikan bahan diskusi kritis
untuk bedah makna, tata bahasa, dan konteks formalnya.

Sumber: https://bdkjakarta.kemenag.go.id/fenomena-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/
Simpulannya: Bahasa bakal terus berkembang ngikutin zaman.
Fenomena alih kode Gen Z membuktikan kalau cara komunikasi kita emang adaptif.
Yang paling penting bukan ngelarang, tapi paham kapan harus pakai gaya kasual
dan kapan harus berbahasa formal.
*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1
Pangalengan
**) dari beragam sumber
second article
DARI TANAH LIAT KE
LAYAR PONSEL, JEJAK AKSARA PENGUKIR PERADABAN
Dari Goresan Paku Di
Tanah Liat Sekitar 3200 SM, Sampai Jempol Kita Yang Scroll Di HP Hari
Ini.
Oleh: Regina *)
Pada awalnya, banyak hal tentu hanya
disampaikan lewat lisan. Orang mengingat apa yang mereka dengar, lalu
menyampaikannya kepada orang lain. Tapi semakin lama kehidupan manusia
berkembang. Mereka mulai berdagang, bercocok tanam, membangun kota, dan mengatur
banyak hal.
Masalahnya, manusia punya satu
keterbatasan: Lupa.

Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6848513/teks-tertulis-pertama-di-dunia-dituliskan-pada-lempengan-batu-kapur-3-500-sm
Bayangkan seorang pedagang harus
mengingat berapa banyak barang yang ia punya, siapa yang membeli, berapa
jumlahnya, dan apa yang masih harus dibayar. Kalau semuanya hanya mengandalkan
ingatan, pasti akan mudah terjadi kesalahan.
Karena itulah, manusia mulai membutuhkan
sesuatu yang bisa menyimpan informasi. Salah satunya adalah tulisan.
Dan salah satu tempat paling menarik
untuk melihat awal perkembangan tulisan adalah Mesopotamia, wilayah yang
sekarang termasuk Irak.
Awal Mula Aksara Paku
dari Sumeria
Sekitar 3200 SM, masyarakat di Mesopotamia
sudah menggunakan salah satu sistem tulisan paling awal yang diketahui manusia.
Tulisan ini dikenal sebagai cuneiform, atau yang sering disebut aksara paku.

Sumber: https://share.google/images/mCMsLvPVVa4pZZ9BU
Kenapa disebut aksara paku? Karena bentuk tandanya memang terlihat seperti baji atau paku kecil. Cara membuatnya juga cukup unik. Mereka menggunakan tanah liat yang masih lunak, kemudian menekannya dengan alat bernama stylus. Setiap tekanan meninggalkan bentuk tertentu pada permukaan tanah liat.
Sumber: https://share.google/images/VXNMayROMQvzvc5Hr
Jadi, mereka bukan menulis dengan cara menggores seperti kita menggunakan pensil. Mereka lebih seperti menekan-nekan tanah liat untuk membuat tanda. Awalnya, tulisan banyak digunakan untuk hal-hal yang sederhana dan praktis. Misalnya mencatat barang, hasil panen, perdagangan, atau urusan administrasi. Namun ternyata manusia tidak berhenti di situ. Lama-kelamaan, tulisan digunakan untuk mencatat cerita, doa, aturan, pengetahuan, bahkan kisah tentang raja dan pahlawan.
Yang menarik, beberapa tablet tanah liat
itu masih bisa kita temukan sampai sekarang. Sebagian tablet yang terkena
kebakaran justru menjadi lebih keras karena panas. Jadi, sesuatu yang
seharusnya menghancurkan sebuah kota pada akhirnya malah membantu menyelamatkan
sebagian catatan dari masa lalu. Bayangkan. Seseorang ribuan tahun lalu mungkin
hanya sedang mencatat sesuatu yang menurutnya biasa saja. Ia mungkin tidak
pernah membayangkan bahwa ribuan tahun kemudian, manusia akan menemukan
tulisannya dan mencoba memahami kehidupannya.
Tulisan Ternyata Ada di Banyak Tempat. Mesopotamia bukan satu-satunya tempat manusia mengembangkan tulisan. Di Mesir, berkembang hieroglif, tulisan yang menggunakan berbagai simbol untuk menyampaikan bunyi, benda, maupun gagasan. Di wilayah lain, muncul sistem tulisan yang berbeda lagi. Ada aksara Fenisia yang kemudian memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan alfabet. Ada juga aksara Indus yang sampai sekarang masih belum berhasil dibaca dengan pasti. Di wilayah Yunani Mycenaean, ada Linear B, yang ternyata digunakan untuk menulis bentuk awal bahasa Yunani. Sementara itu, di Mesoamerika, berkembang berbagai tradisi simbol dan tulisan yang kemudian mencapai bentuk yang sangat kompleks pada peradaban Maya. Mereka hidup di tempat yang berbeda. Bahasa mereka berbeda. Bentuk tulisannya juga berbeda. Tapi ada satu hal yang terasa sama. Mereka semua menemukan cara untuk membuat sesuatu yang awalnya hanya ada di pikiran manusia menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan disimpan.
Tulisan Bukan Hanya
untuk Mencatat Barang
Kalau mendengar tentang tulisan kuno,
mungkin yang langsung terbayang adalah catatan perdagangan atau simbol-simbol
yang sulit dimengerti. Memang, pada awal perkembangannya, tulisan banyak
digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi semakin lama, tulisan menjadi lebih
dari sekadar catatan. Manusia mulai menulis tentang apa yang mereka percaya.
Tentang kehidupan. Tentang dewa-dewa. Tentang raja dan pahlawan. Tentang
pengetahuan yang mereka miliki. Ada kisah Gilgamesh, misalnya. Ada juga doa,
himne, aturan, catatan matematika, hingga pengamatan tentang langit. Di titik
itu, tulisan mulai melakukan sesuatu yang luar biasa. Manusia tidak hanya
menyimpan barang dan angka. Mereka mulai menyimpan pikiran. Dan ketika pikiran
bisa ditulis, pengetahuan tidak harus berhenti ketika seseorang meninggal.
Seseorang bisa menulis sesuatu hari ini. Lalu orang lain membacanya
bertahun-tahun kemudian. Bahkan ribuan tahun kemudian.
Sumber: https://www.agungkomputer.com/news/manfaat-menggunakan-stylus-pen
Dari Stylus ke Jempol
Sekarang coba kita kembali ke zaman
sekarang. Kalau lima ribu tahun lalu seseorang ingin menyimpan sebuah pesan, ia
mungkin mengambil tanah liat, memegang stylus, lalu membuat tanda satu demi
satu. Hari ini? Kita mengambil HP. Buka layar. Ketik. Scroll. Kirim. Sederhana
sekali. Alatnya berubah. Medianya berubah. Cara kita menulis juga berubah. Tapi
kalau dipikir-pikir, mungkin ada satu hal yang sebenarnya masih sama. Kita
masih ingin meninggalkan sesuatu. Kita menulis pesan supaya orang lain tahu apa
yang kita pikirkan. Kita menulis catatan supaya tidak lupa. Kita menulis cerita
supaya sesuatu yang kita rasakan bisa diketahui orang lain. Ribuan tahun lalu,
manusia menekan stylus ke tanah liat. Hari ini, kita menekan layar dengan
jempol.
Dari tanah liat sampai layar ponsel,
manusia terus mencari cara untuk melakukan hal yang sama: menyimpan apa yang
ingin kita ingat. Dan mungkin, suatu hari nanti, tulisan yang kita anggap biasa
hari ini juga akan menjadi bagian dari sejarah. Lalu pertanyaannya adalah: Kalau
5.000 tahun lagi manusia menemukan tulisan kita, kira-kira apa yang akan mereka
pikirkan tentang kita?
*) Siswa Kelas X-H SMAN 1 Pangalengan
TP. 2026-2027
**) dari beragam sumber




Terimakasih atas literasinya ibu
BalasHapusTrimakasih Bu atas literasinya
BalasHapusTerimakasih bu literasinya, sangat menambah wawasan
BalasHapusTerimakasih literasi nya sangat bermanfaat
BalasHapusMutia XB
BalasHapusTerimakasih atas literasinya 🙏
Terimakasih ibu atas literasinya,sangat bermanfaat sekali
BalasHapusFarisa XI-A2
thank youu for the information ibu dan teteh 🤩
BalasHapusthank you bu, alpirji xi b2
BalasHapusGood Article
BalasHapusterimakasii bu atas literasinya
BalasHapusPutri Hoerunnisa XII-B2
thank you miss, intan XII b2
BalasHapusthank you miss, Fatma XII B2
BalasHapusterimakasih atas literasinya ibu 🌟
BalasHapusterimakasih ibu,Farrel XII b2
BalasHapusMantap 🔥🔥🔥
BalasHapuswah thank you so much untuk literasi hari ini ibuu 💕💕
BalasHapusterimakasih juga reginaa 💕
BalasHapusTerima kasih atas literasi nya
BalasHapusCinthya Khairunnisa xii B2 terimakasih ibuu
BalasHapusthank you Miss 🤍🌸 Natasya XII-D1
BalasHapusterimakasih ibu atas literasinya
BalasHapusAura Maharani Putri XII D1
menarik
BalasHapusTerimakasih ibu literasinyaaa🤍🤍
BalasHapusterimakasih ibu
BalasHapusMANTAP BU ALHAMDULILLAH SEMOGA SELALU BERKAH ALLAHHUAKBAR SUBHANALLAH WALLHAMDULILLAH
BalasHapusTerimakasih ibu literasi nya Delia X-E
BalasHapusTerima kasih ibu, sangat bagus article nya 🙌
BalasHapus
BalasHapusMenurut saya, kedua artikel ini cukup menarik karena pembahasannya dekat dengan kehidupan kita. Artikel pertama tentang Gen Z yang sering mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menurut saya relate banget. Saya sendiri sering menemukan gaya bahasa seperti itu di media sosial. Menurut saya, hal tersebut wajar karena pengaruh teknologi dan pergaulan, tetapi tetap harus tahu tempat. Jangan sampai kebiasaan bahasa santai dibawa ke tugas atau situasi formal.
Artikel kedua juga menarik karena menjelaskan perkembangan tulisan dari tanah liat sampai HP. Dulu manusia harus susah payah menulis menggunakan stylus, sedangkan sekarang tinggal mengetik pakai jempol. Walaupun teknologinya berubah jauh, tujuan menulis tetap sama, yaitu menyimpan informasi dan menyampaikan pikiran.
Dari kedua artikel ini, saya jadi sadar bahwa bahasa dan tulisan memang akan terus berkembang. Menurut saya, kita nggak perlu takut dengan perubahan tersebut, tetapi harus tetap bisa menggunakan bahasa dengan tepat. Sebagai pelajar, kita juga perlu punya kemampuan literasi yang baik supaya nggak cuma bisa membaca dan menulis, tetapi juga bisa memahami dan berpikir kritis terhadap informasi yang kita terima.
Terima kasih ibu literasinya🙏
BalasHapusTerimakasih teteh regina dan ibu untuk literasinya
BalasHapusMenurutku:
BalasHapusMenurutku, kedua artikel tersebut sangat menarik dan memberikan banyak pengetahuan tentang perkembangan bahasa dan tulisan dari masa ke masa. Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena digunakan untuk berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi dengan orang lain. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, cara manusia menggunakan bahasa juga ikut berubah. Salah satunya adalah kebiasaan Gen Z yang sering mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Menurutku, hal tersebut merupakan bentuk perkembangan bahasa yang wajar, tetapi kita tetap harus mengetahui kapan menggunakan bahasa yang santai dan kapan menggunakan bahasa yang baik dan formal.
Selain itu, perkembangan tulisan dari zaman dahulu hingga sekarang juga menunjukkan bahwa manusia terus menciptakan cara yang lebih mudah dan praktis untuk menyampaikan informasi. Dari tulisan pada masa lalu hingga penggunaan ponsel dan media digital saat ini, semuanya memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Menurutku, kita boleh mengikuti perkembangan bahasa dan teknologi, tetapi tetap harus menjaga, menghargai, dan melestarikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas bangsa. Dengan mempelajari kedua artikel ini, aku menjadi lebih sadar bahwa bahasa dan tulisan memiliki sejarah serta perkembangan yang panjang dan menarik.
Terima kasih atas materi yang diberikan karena telah menambah wawasan, pengetahuan, dan pemahaman aku tentang perkembangan bahasa dan tulisan.