APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026?
BELAJAR MITIGASI DARI
SEJARAH KRAKATAU
Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau
(dokumentasi ilustratif)
Awal September 2026, warga di Bandung Raya, Jakarta, sampai
Banten dikejutkan oleh suara dentuman rendah yang terdengar hingga menggetarkan
jendela rumah. Tidak lama kemudian, tersiar kabar: Gunung Anak Krakatau di
Selat Sunda kembali erupsi. Media sosial pun ramai membicarakannya. Ada yang
panik, ada yang penasaran, dan tidak sedikit yang langsung teringat pada
bencana besar tahun 1883 yang pernah mengguncang dunia.
Ada satu pertanyaan menarik untuk kita pikirkan bersama:
apa sebenarnya yang kita ketahui tentang letusan 1883 itu, dan dari mana
pengetahuan itu berasal? Lalu, apa yang sudah berubah dari cara manusia
menghadapi bencana serupa, dari zaman itu sampai hari ini?
Siapa yang Mencatat Sejarah
Letusan 1883?
Letusan Krakatau tahun 1883 termasuk salah satu bencana
alam yang paling banyak dicatat pada zamannya. Tapi coba kita perhatikan
baik-baik: siapa sebenarnya yang menulis catatan-catatan itu?
Sebagian besar laporan yang sampai kepada kita berasal dari
pemerintah kolonial Hindia Belanda, awak kapal yang kebetulan sedang melintasi
Selat Sunda, dan pengamat asing yang punya alat pencatat serta akses mengirim
berita ke Eropa. Sementara itu, suara masyarakat pribumi di pesisir Banten dan
Lampung Selatan, yang justru menjadi korban paling langsung dari gelombang
tsunami akibat letusan itu, hampir tidak tercatat langsung dalam dokumen resmi.

Sumber: https://www.inilah.com/mengingat-sejarah-meletusnya-gunung-krakatau-1883-yang-menggemparkan-dunia
Inilah yang dipelajari dalam ilmu sejarah sebagai
historiografi, yaitu cara sejarah itu ditulis. Sejarah tidak pernah ditulis
oleh semua orang yang mengalami suatu peristiwa. Sejarah biasanya ditulis oleh
mereka yang punya alat, akses, dan kepentingan untuk mencatat. Bukan berarti
catatan kolonial itu salah, tapi kita perlu sadar bahwa catatan itu hanya satu
sudut pandang, bukan keseluruhan cerita. Pertanyaan seperti ini penting untuk
dibiasakan: siapa yang bicara dalam sebuah catatan sejarah, siapa yang diam,
dan kenapa bisa begitu?
Bencana yang Tidak Pernah
Benar-Benar Selesai
Banyak orang mengira letusan 1883 adalah akhir dari kisah
Krakatau. Padahal, lubang besar bekas letusan itu (disebut kaldera) justru
menjadi tempat lahirnya gunung baru. Pada akhir 1927, muncul aktivitas vulkanik
dari bawah laut, dan pada 1929 gunung baru ini resmi diberi nama Anak Krakatau.
Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh, meletus, dan berubah bentuk selama
puluhan tahun. Pada Desember 2018, sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut dan
memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan dini
yang memadai. Kini, pada September 2026, gunung ini kembali erupsi
terus-menerus disertai semburan lava dan lontaran abu vulkanik yang tingginya
sempat mencapai puluhan ribu kaki, sampai menyebar ke wilayah Jakarta, Jawa
Barat, dan Lampung.

Garis waktu peristiwa penting Gunung
Krakatau, 1883–2026
Dari sini kita bisa belajar satu hal penting: bencana
geologi bukan peristiwa tunggal yang selesai begitu saja setelah beritanya
hilang dari media. Bencana seperti ini adalah bagian dari siklus alam yang
panjang dan berulang. Belajar sejarah membantu kita melihat pola tersebut,
bukan sekadar bereaksi setiap kali ada berita yang sedang viral.
Ketika Legenda Rakyat Bertemu
Sains Modern
Sebelum ada laporan resmi dan alat pemantau canggih,
masyarakat di sekitar Selat Sunda sudah lama menyimpan cerita turun-temurun
tentang gunung berapi yang mereka tinggali sejak dulu. Salah satu yang paling
terkenal adalah kisah dalam Pustaka Raja Purwa, naskah yang ditulis pujangga
Jawa Ronggowarsito pada 1869. Menurut kisah ini, dahulu kala Jawa dan Sumatra
masih menyatu sebagai satu daratan, diperintah oleh seorang raja bernama Prabu
Rakata. Karena khawatir akan terjadi perebutan takhta, sang raja membagi
kerajaannya untuk kedua putranya, Raden Sundana dan Raden Taba Baruna. Tidak
lama setelah itu, menurut cerita ini, terjadi letusan gunung berapi dahsyat
yang memisahkan daratan menjadi dua pulau seperti yang kita kenal sekarang.
Menariknya, para ahli geologi modern, termasuk dari Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah meluruskan bahwa
terpisahnya Jawa dan Sumatra sebenarnya lebih disebabkan oleh pergerakan
lempeng bumi selama puluhan ribu tahun, bukan oleh satu letusan tunggal seperti
dalam legenda tersebut. Meski begitu, para ahli juga mengakui bahwa Gunung
Krakatau purba memang pernah beberapa kali meletus sangat besar jauh sebelum
letusan 1883. Bukan tidak mungkin, legenda ini menyimpan ingatan kolektif
masyarakat tentang bencana besar yang pernah benar-benar terjadi, meski detail
waktu dan sebabnya sudah bercampur dengan unsur mitos.

Sumber: https://web.facebook.com/pendakilawas01/posts/gunung-krakatau-purba-diperkirakan-pernah-meletus-dasyat
Di sinilah nilai sejarah lisan dan kearifan lokal terlihat.
Cerita rakyat tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi ia sering menjadi cara
masyarakat mewariskan ingatan tentang bencana dari satu generasi ke generasi
berikutnya, jauh sebelum ada catatan tertulis atau alat pemantau modern.
Masyarakat pesisir Lampung Selatan dan Banten yang tinggal berdekatan dengan
Anak Krakatau hingga hari ini pun mewarisi kewaspadaan serupa: banyak dari
mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung ini dan mengenali
tanda-tanda alam di sekitarnya, sembari tetap mengikuti informasi resmi dari
pos pengamatan gunung api sebagai pelengkap.
Bagi generasi sekarang, kisah seperti Prabu Rakata
mengingatkan kita bahwa sains dan kearifan lokal sebenarnya bisa saling
melengkapi. Sains memberi kita data dan penjelasan yang bisa diuji
kebenarannya, sementara cerita rakyat menjaga ingatan kolektif tetap hidup dan
mudah diteruskan dari mulut ke mulut, dari kakek-nenek ke cucu, jauh sebelum
generasi itu sempat membaca laporan ilmiah mana pun.
Dari Telegraf ke Data Real-Time:
Bagaimana Mitigasi Berubah
Perbedaan paling terlihat antara tahun 1883 dan 2026 bukan
pada gunungnya, melainkan pada cara manusia meresponsnya. Pada 1883, belum ada
sistem peringatan dini. Kabar letusan menyebar lewat kapal dan telegraf yang
jangkauannya sangat terbatas. Akibatnya, banyak korban di pesisir tidak sempat
mendapat peringatan apa pun sebelum gelombang tsunami datang.
Sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20180520/79/797118/letusan-krakatau-1883-bulan-berwarna-biru
Bandingkan dengan situasi hari ini. Sejak 2 Juli 2026, jauh
sebelum erupsi besar terjadi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah
ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Ada
dua pos pengamatan yang memantau gunung ini selama 24 jam, yaitu di Kalianda
(Lampung Selatan) dan Pasauran (Banten). Hasil pemantauannya juga
dipublikasikan secara berkala lewat platform resmi seperti MAGMA Indonesia.
Ketika masyarakat mulai khawatir soal potensi tsunami susulan, pejabat Badan Geologi
pun cepat memberi penjelasan berbasis data, bahwa pertumbuhan tubuh gunung
setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi memicu
keruntuhan besar.
Namun, ada satu tantangan lama yang ternyata belum
sepenuhnya hilang, yaitu penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Kalau pada 1883 masalahnya adalah kurangnya informasi, pada 2026 masalahnya
justru sebaliknya: informasi yang terlalu banyak dan cepat menyebar, termasuk
rumor di media sosial, sehingga pihak berwenang harus berulang kali mengimbau
masyarakat untuk tidak mudah percaya kabar yang belum resmi. Ternyata,
kemampuan memilah informasi yang benar tetap penting di setiap zaman, hanya bentuk
tantangannya saja yang berubah.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sejarah letusan Krakatau, dari 1883 sampai 2026, bukan
sekadar daftar tanggal dan angka. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia
mencatat suatu peristiwa, kadang melupakannya, lalu belajar lagi dari awal.
Belajar sejarah bencana mengajak kita bertanya lebih jauh dari sekadar “apa
yang terjadi”, tetapi juga “siapa yang mencatatnya”, “siapa yang suaranya tidak
terdengar”, dan “bagaimana pengetahuan itu akhirnya membentuk cara kita
bertahan hidup hari ini”. Anak Krakatau kemungkinan besar akan terus tumbuh dan
meletus lagi di masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana itu akan
terjadi lagi, tetapi apakah kita sudah cukup belajar dari sejarah untuk
menghadapinya dengan lebih baik.

Sumber: https://mongabay.co.id/2022/04/26/gunung-anak-krakatau-level-siaga-masyarakat-diminta-waspada/
Aktivitas Literasi
1.
Bandingkan
sumber sejarah letusan 1883 (catatan kolonial Belanda) dengan sumber informasi
erupsi 2026 (laporan BMKG/PVMBG). Apa perbedaan cara keduanya diverifikasi dan
disebarkan ke masyarakat?
2.
Menurutmu,
mengapa suara masyarakat pribumi jarang tercatat dalam sejarah bencana pada
masa kolonial? Apa dampaknya bagi cara kita memahami sejarah hari ini?
3.
Jika
kamu tinggal di pesisir Selat Sunda hari ini, informasi apa yang akan kamu cari
terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengungsi atau tidak?
4.
Menurutmu,
apakah banyaknya informasi di media sosial saat ini justru membantu atau malah
mempersulit penanganan bencana? Jelaskan alasanmu.
5.
Bandingkan
legenda Prabu Rakata dengan penjelasan ilmiah PVMBG tentang terpisahnya Jawa
dan Sumatra. Menurutmu, apa manfaat cerita rakyat semacam ini meski tidak
sepenuhnya akurat secara sains?
*) Guru Sejarah SMAN 1 Pangalengan
Referensi
Dari berbagai sumber, termasuk Badan Geologi Kementerian
ESDM, BMKG, dan pemberitaan media nasional terkait erupsi Gunung Anak Krakatau
September 2026.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar