"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Selasa, 08 September 2026

Historyca

 APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026?

BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU

Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)

 

 

 

Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau (dokumentasi ilustratif)

Awal September 2026, warga di Bandung Raya, Jakarta, sampai Banten dikejutkan oleh suara dentuman rendah yang terdengar hingga menggetarkan jendela rumah. Tidak lama kemudian, tersiar kabar: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi. Media sosial pun ramai membicarakannya. Ada yang panik, ada yang penasaran, dan tidak sedikit yang langsung teringat pada bencana besar tahun 1883 yang pernah mengguncang dunia.

Ada satu pertanyaan menarik untuk kita pikirkan bersama: apa sebenarnya yang kita ketahui tentang letusan 1883 itu, dan dari mana pengetahuan itu berasal? Lalu, apa yang sudah berubah dari cara manusia menghadapi bencana serupa, dari zaman itu sampai hari ini?

Siapa yang Mencatat Sejarah Letusan 1883?

Letusan Krakatau tahun 1883 termasuk salah satu bencana alam yang paling banyak dicatat pada zamannya. Tapi coba kita perhatikan baik-baik: siapa sebenarnya yang menulis catatan-catatan itu?

Sebagian besar laporan yang sampai kepada kita berasal dari pemerintah kolonial Hindia Belanda, awak kapal yang kebetulan sedang melintasi Selat Sunda, dan pengamat asing yang punya alat pencatat serta akses mengirim berita ke Eropa. Sementara itu, suara masyarakat pribumi di pesisir Banten dan Lampung Selatan, yang justru menjadi korban paling langsung dari gelombang tsunami akibat letusan itu, hampir tidak tercatat langsung dalam dokumen resmi.

 
Sumber: https://www.inilah.com/mengingat-sejarah-meletusnya-gunung-krakatau-1883-yang-menggemparkan-dunia

Inilah yang dipelajari dalam ilmu sejarah sebagai historiografi, yaitu cara sejarah itu ditulis. Sejarah tidak pernah ditulis oleh semua orang yang mengalami suatu peristiwa. Sejarah biasanya ditulis oleh mereka yang punya alat, akses, dan kepentingan untuk mencatat. Bukan berarti catatan kolonial itu salah, tapi kita perlu sadar bahwa catatan itu hanya satu sudut pandang, bukan keseluruhan cerita. Pertanyaan seperti ini penting untuk dibiasakan: siapa yang bicara dalam sebuah catatan sejarah, siapa yang diam, dan kenapa bisa begitu?

Bencana yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Banyak orang mengira letusan 1883 adalah akhir dari kisah Krakatau. Padahal, lubang besar bekas letusan itu (disebut kaldera) justru menjadi tempat lahirnya gunung baru. Pada akhir 1927, muncul aktivitas vulkanik dari bawah laut, dan pada 1929 gunung baru ini resmi diberi nama Anak Krakatau. Sejak saat itu, Anak Krakatau terus tumbuh, meletus, dan berubah bentuk selama puluhan tahun. Pada Desember 2018, sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut dan memicu tsunami yang menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan dini yang memadai. Kini, pada September 2026, gunung ini kembali erupsi terus-menerus disertai semburan lava dan lontaran abu vulkanik yang tingginya sempat mencapai puluhan ribu kaki, sampai menyebar ke wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.

 
Garis waktu peristiwa penting Gunung Krakatau, 1883–2026

Dari sini kita bisa belajar satu hal penting: bencana geologi bukan peristiwa tunggal yang selesai begitu saja setelah beritanya hilang dari media. Bencana seperti ini adalah bagian dari siklus alam yang panjang dan berulang. Belajar sejarah membantu kita melihat pola tersebut, bukan sekadar bereaksi setiap kali ada berita yang sedang viral.

Ketika Legenda Rakyat Bertemu Sains Modern

Sebelum ada laporan resmi dan alat pemantau canggih, masyarakat di sekitar Selat Sunda sudah lama menyimpan cerita turun-temurun tentang gunung berapi yang mereka tinggali sejak dulu. Salah satu yang paling terkenal adalah kisah dalam Pustaka Raja Purwa, naskah yang ditulis pujangga Jawa Ronggowarsito pada 1869. Menurut kisah ini, dahulu kala Jawa dan Sumatra masih menyatu sebagai satu daratan, diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Rakata. Karena khawatir akan terjadi perebutan takhta, sang raja membagi kerajaannya untuk kedua putranya, Raden Sundana dan Raden Taba Baruna. Tidak lama setelah itu, menurut cerita ini, terjadi letusan gunung berapi dahsyat yang memisahkan daratan menjadi dua pulau seperti yang kita kenal sekarang.

Menariknya, para ahli geologi modern, termasuk dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), telah meluruskan bahwa terpisahnya Jawa dan Sumatra sebenarnya lebih disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi selama puluhan ribu tahun, bukan oleh satu letusan tunggal seperti dalam legenda tersebut. Meski begitu, para ahli juga mengakui bahwa Gunung Krakatau purba memang pernah beberapa kali meletus sangat besar jauh sebelum letusan 1883. Bukan tidak mungkin, legenda ini menyimpan ingatan kolektif masyarakat tentang bencana besar yang pernah benar-benar terjadi, meski detail waktu dan sebabnya sudah bercampur dengan unsur mitos.

 
Sumber: https://web.facebook.com/pendakilawas01/posts/gunung-krakatau-purba-diperkirakan-pernah-meletus-dasyat

Di sinilah nilai sejarah lisan dan kearifan lokal terlihat. Cerita rakyat tidak selalu akurat secara ilmiah, tetapi ia sering menjadi cara masyarakat mewariskan ingatan tentang bencana dari satu generasi ke generasi berikutnya, jauh sebelum ada catatan tertulis atau alat pemantau modern. Masyarakat pesisir Lampung Selatan dan Banten yang tinggal berdekatan dengan Anak Krakatau hingga hari ini pun mewarisi kewaspadaan serupa: banyak dari mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gunung ini dan mengenali tanda-tanda alam di sekitarnya, sembari tetap mengikuti informasi resmi dari pos pengamatan gunung api sebagai pelengkap.

Bagi generasi sekarang, kisah seperti Prabu Rakata mengingatkan kita bahwa sains dan kearifan lokal sebenarnya bisa saling melengkapi. Sains memberi kita data dan penjelasan yang bisa diuji kebenarannya, sementara cerita rakyat menjaga ingatan kolektif tetap hidup dan mudah diteruskan dari mulut ke mulut, dari kakek-nenek ke cucu, jauh sebelum generasi itu sempat membaca laporan ilmiah mana pun.

Dari Telegraf ke Data Real-Time: Bagaimana Mitigasi Berubah

Perbedaan paling terlihat antara tahun 1883 dan 2026 bukan pada gunungnya, melainkan pada cara manusia meresponsnya. Pada 1883, belum ada sistem peringatan dini. Kabar letusan menyebar lewat kapal dan telegraf yang jangkauannya sangat terbatas. Akibatnya, banyak korban di pesisir tidak sempat mendapat peringatan apa pun sebelum gelombang tsunami datang.

Sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20180520/79/797118/letusan-krakatau-1883-bulan-berwarna-biru

Bandingkan dengan situasi hari ini. Sejak 2 Juli 2026, jauh sebelum erupsi besar terjadi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau sudah ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Ada dua pos pengamatan yang memantau gunung ini selama 24 jam, yaitu di Kalianda (Lampung Selatan) dan Pasauran (Banten). Hasil pemantauannya juga dipublikasikan secara berkala lewat platform resmi seperti MAGMA Indonesia. Ketika masyarakat mulai khawatir soal potensi tsunami susulan, pejabat Badan Geologi pun cepat memberi penjelasan berbasis data, bahwa pertumbuhan tubuh gunung setelah keruntuhan 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi memicu keruntuhan besar.

Namun, ada satu tantangan lama yang ternyata belum sepenuhnya hilang, yaitu penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya. Kalau pada 1883 masalahnya adalah kurangnya informasi, pada 2026 masalahnya justru sebaliknya: informasi yang terlalu banyak dan cepat menyebar, termasuk rumor di media sosial, sehingga pihak berwenang harus berulang kali mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya kabar yang belum resmi. Ternyata, kemampuan memilah informasi yang benar tetap penting di setiap zaman, hanya bentuk tantangannya saja yang berubah.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sejarah letusan Krakatau, dari 1883 sampai 2026, bukan sekadar daftar tanggal dan angka. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia mencatat suatu peristiwa, kadang melupakannya, lalu belajar lagi dari awal. Belajar sejarah bencana mengajak kita bertanya lebih jauh dari sekadar “apa yang terjadi”, tetapi juga “siapa yang mencatatnya”, “siapa yang suaranya tidak terdengar”, dan “bagaimana pengetahuan itu akhirnya membentuk cara kita bertahan hidup hari ini”. Anak Krakatau kemungkinan besar akan terus tumbuh dan meletus lagi di masa depan. Pertanyaannya bukan lagi apakah bencana itu akan terjadi lagi, tetapi apakah kita sudah cukup belajar dari sejarah untuk menghadapinya dengan lebih baik.

 
Sumber: https://mongabay.co.id/2022/04/26/gunung-anak-krakatau-level-siaga-masyarakat-diminta-waspada/

Aktivitas Literasi

1.       Bandingkan sumber sejarah letusan 1883 (catatan kolonial Belanda) dengan sumber informasi erupsi 2026 (laporan BMKG/PVMBG). Apa perbedaan cara keduanya diverifikasi dan disebarkan ke masyarakat?

2.       Menurutmu, mengapa suara masyarakat pribumi jarang tercatat dalam sejarah bencana pada masa kolonial? Apa dampaknya bagi cara kita memahami sejarah hari ini?

3.       Jika kamu tinggal di pesisir Selat Sunda hari ini, informasi apa yang akan kamu cari terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengungsi atau tidak?

4.       Menurutmu, apakah banyaknya informasi di media sosial saat ini justru membantu atau malah mempersulit penanganan bencana? Jelaskan alasanmu.

5.       Bandingkan legenda Prabu Rakata dengan penjelasan ilmiah PVMBG tentang terpisahnya Jawa dan Sumatra. Menurutmu, apa manfaat cerita rakyat semacam ini meski tidak sepenuhnya akurat secara sains?

*) Guru Sejarah SMAN 1 Pangalengan

Referensi

Dari berbagai sumber, termasuk Badan Geologi Kementerian ESDM, BMKG, dan pemberitaan media nasional terkait erupsi Gunung Anak Krakatau September 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Historyca

  APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026? BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)       Ilustrasi erupsi ...