"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Senin, 07 September 2026

Collaborative Publication (On Language and Script)

 first article

GAYA BAHASA MIX-AND-MATCH GEN Z

Oleh: Karmila, SS  *)

 

Bahasa tuh dinamis banget dan ngikutin perkembangan zaman. Sekarang, gaya ngobrol yang campur-campur Bahasa Indonesia sama Bahasa Inggris (code-switching dan code-mixing) makin sering kita temuin, terutama di kalangan Gen Z.

 
Sumber: https://bilingualkidspot.com/2018/04/04/code-switching-sophisticated-linguistic-tool/

Bedanya Code-Switching & Code-Mixing

Sering disangka sama, padahal konsep sosiolinguistiknya beda:

  • Alih Kode (Code-Switching). Code switching adalah fenomena di mana seorang penutur berpindah sepenuhnya dari satu bahasa ke bahasa lain selama percakapan, biasanya antara kalimat atau klausa yang berbeda. Pergantian ini dapat terjadi secara disengaja untuk menyesuaikan diri dengan konteks sosial, audiens atau situasi tertentu. Pada umumnya, tujuan penggunaan code switching adalah untuk menyesuaikan diri dengan lawan bicara, misalnya, untuk membuat orang merasa lebih nyaman dengan penggunaan bahasa tertentu, dan untuk menekankan atau memperkuat makna suatu pesan.

                 "Besok kita ada rapat. By the way, don't forget to bring the report."

  • Campur Kode (Code-Mixing): Code mixing adalah pencampuran dua atau lebih bahasa dalam satu kalimat atau frasa tanpa berganti sepenuhnya ke bahasa lain. Fenomena ini sering terjadi pada masyarakat bilingual, di mana kata atau frasa dari bahasa lain disisipkan dalam kalimat. Biasanya, code mixing tidak mengikuti aturan sintaksis yang ketat karena penutur lebih fokus pada ekspresi atau keakraban. Contoh code mixing antara lain:

                 "Aku harus submit tugas ini malam ini."

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/ekyrahmawati3105/674932d8c925c476f8386db3/semiotika-generasi-z

Seberapa Sering Gen Z Pakai Gaya Ini?

Riset tahun 2026 yang menganalisis 1.200 unggahan dan komentar Instagram (data 2024) nemuin fakta menarik tentang kebiasaan komunikasi digital Gen Z:

Fenomena

Persentase

Campur kode

82,1%

Alih kode

68,4%

Alih kode dalam satu kalimat (intrasentential)

47,3%

Alih kode antarkalimat (intersentential)

38,6%

Alih kode eksternal

14,1%

Campur kode berupa kosakata Bahasa Inggris

63,2%

Catatan: Data di atas menggambarkan sampel 1.200 unggahan/komentar Instagram, bukan total seluruh populasi Gen Z Indonesia.

Alasan Gen Z Hobi English-Indonesia Mix

  1. Eksposure Media Sosial & Budaya Global: Sering terpapar konten, musik, film, dan gim internasional.
  2. Kepraktisan & Efisiensi: Istilah kayak deadline, meeting, update, atau feedback kerasa lebih simpel.
  3. Identitas & Persona Digital: Membantu ngebentuk kesan modern, terdidik, atau sekadar menyesuaikan vibes pergaulan.
  4. Ekspresi Emosi: Beberapa ungkapan kerasa lebih pas disampaiin pakai Bahasa Inggris (misal: "I'm so happy today!").

 
Sumber: https://pbindoftk.uin-suska.ac.id/2024/09/25/ancaman-kehilangan-warisan-bahasa

Bikin Bahasa Indonesia Terancam?

Enggak selalu. Fenomena ini bukan tanda berkurangnya rasa cinta tanah air, melainkan bentuk kemampuan adaptasi multibahasa (multilingualism).

Kuncinya ada di kesadaran linguistik—tahu tempat dan situasi:

  • Situasi Santai/Medsos: Code-mixing sah-sah aja buat ekspresi diri.
  • Situasi Formal/Akademis: Wajib pakai Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai kaidah.

Peluang buat Pembelajaran Bahasa

Fenomena ini justru bisa dimanfaatin di kelas Bahasa Inggris:

  • Guru bisa pakai Bahasa Indonesia sebagai jembatan pemahaman.
  • Bahasa medsos bisa dijadikan bahan diskusi kritis untuk bedah makna, tata bahasa, dan konteks formalnya.

 
Sumber: https://bdkjakarta.kemenag.go.id/fenomena-bahasa-gaul-di-kalangan-remaja/

Simpulannya: Bahasa bakal terus berkembang ngikutin zaman. Fenomena alih kode Gen Z membuktikan kalau cara komunikasi kita emang adaptif. Yang paling penting bukan ngelarang, tapi paham kapan harus pakai gaya kasual dan kapan harus berbahasa formal.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan

**) dari beragam sumber


 second article

DARI TANAH LIAT KE LAYAR PONSEL, JEJAK AKSARA PENGUKIR PERADABAN

Dari Goresan Paku Di Tanah Liat Sekitar 3200 SM, Sampai Jempol Kita Yang Scroll Di HP Hari Ini.

Oleh: Regina *)


Pernah nggak sih kita berpikir, sebelum ada alfabet, buku, bahkan HP, manusia dulu kalau mau menyimpan sesuatu bagaimana caranya? Sekarang, menulis itu gampang banget. Mau mencatat sesuatu, tinggal buka HP. Mau mengirim pesan, tinggal ketik. Bahkan kalau malas mengetik, kita bisa langsung kirim suara. Tapi ribuan tahun lalu, keadaannya tentu jauh berbeda. Belum ada HP. Belum ada buku. Belum ada kertas seperti yang kita kenal sekarang. Kalau begitu, bagaimana manusia zaman dulu menyimpan informasi?

Pada awalnya, banyak hal tentu hanya disampaikan lewat lisan. Orang mengingat apa yang mereka dengar, lalu menyampaikannya kepada orang lain. Tapi semakin lama kehidupan manusia berkembang. Mereka mulai berdagang, bercocok tanam, membangun kota, dan mengatur banyak hal.

Masalahnya, manusia punya satu keterbatasan: Lupa.

 
Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6848513/teks-tertulis-pertama-di-dunia-dituliskan-pada-lempengan-batu-kapur-3-500-sm

Bayangkan seorang pedagang harus mengingat berapa banyak barang yang ia punya, siapa yang membeli, berapa jumlahnya, dan apa yang masih harus dibayar. Kalau semuanya hanya mengandalkan ingatan, pasti akan mudah terjadi kesalahan.

Karena itulah, manusia mulai membutuhkan sesuatu yang bisa menyimpan informasi. Salah satunya adalah tulisan.

Dan salah satu tempat paling menarik untuk melihat awal perkembangan tulisan adalah Mesopotamia, wilayah yang sekarang termasuk Irak.

Awal Mula Aksara Paku dari Sumeria

Sekitar 3200 SM, masyarakat di Mesopotamia sudah menggunakan salah satu sistem tulisan paling awal yang diketahui manusia. Tulisan ini dikenal sebagai cuneiform, atau yang sering disebut aksara paku.

 
Sumber: https://share.google/images/mCMsLvPVVa4pZZ9BU

Kenapa disebut aksara paku? Karena bentuk tandanya memang terlihat seperti baji atau paku kecil. Cara membuatnya juga cukup unik. Mereka menggunakan tanah liat yang masih lunak, kemudian menekannya dengan alat bernama stylus. Setiap tekanan meninggalkan bentuk tertentu pada permukaan tanah liat.

Sumber: https://share.google/images/VXNMayROMQvzvc5Hr

Jadi, mereka bukan menulis dengan cara menggores seperti kita menggunakan pensil. Mereka lebih seperti menekan-nekan tanah liat untuk membuat tanda. Awalnya, tulisan banyak digunakan untuk hal-hal yang sederhana dan praktis. Misalnya mencatat barang, hasil panen, perdagangan, atau urusan administrasi. Namun ternyata manusia tidak berhenti di situ.  Lama-kelamaan, tulisan digunakan untuk mencatat cerita, doa, aturan, pengetahuan, bahkan kisah tentang raja dan pahlawan.

Yang menarik, beberapa tablet tanah liat itu masih bisa kita temukan sampai sekarang. Sebagian tablet yang terkena kebakaran justru menjadi lebih keras karena panas. Jadi, sesuatu yang seharusnya menghancurkan sebuah kota pada akhirnya malah membantu menyelamatkan sebagian catatan dari masa lalu. Bayangkan. Seseorang ribuan tahun lalu mungkin hanya sedang mencatat sesuatu yang menurutnya biasa saja. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa ribuan tahun kemudian, manusia akan menemukan tulisannya dan mencoba memahami kehidupannya.

Tulisan Ternyata Ada di Banyak Tempat. Mesopotamia bukan satu-satunya tempat manusia mengembangkan tulisan. Di Mesir, berkembang hieroglif, tulisan yang menggunakan berbagai simbol untuk menyampaikan bunyi, benda, maupun gagasan. Di wilayah lain, muncul sistem tulisan yang berbeda lagi. Ada aksara Fenisia yang kemudian memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan alfabet. Ada juga aksara Indus yang sampai sekarang masih belum berhasil dibaca dengan pasti. Di wilayah Yunani Mycenaean, ada Linear B, yang ternyata digunakan untuk menulis bentuk awal bahasa Yunani. Sementara itu, di Mesoamerika, berkembang berbagai tradisi simbol dan tulisan yang kemudian mencapai bentuk yang sangat kompleks pada peradaban Maya. Mereka hidup di tempat yang berbeda. Bahasa mereka berbeda. Bentuk tulisannya juga berbeda. Tapi ada satu hal yang terasa sama. Mereka semua menemukan cara untuk membuat sesuatu yang awalnya hanya ada di pikiran manusia menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan disimpan.

Tulisan Bukan Hanya untuk Mencatat Barang

Kalau mendengar tentang tulisan kuno, mungkin yang langsung terbayang adalah catatan perdagangan atau simbol-simbol yang sulit dimengerti. Memang, pada awal perkembangannya, tulisan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi semakin lama, tulisan menjadi lebih dari sekadar catatan. Manusia mulai menulis tentang apa yang mereka percaya. Tentang kehidupan. Tentang dewa-dewa. Tentang raja dan pahlawan. Tentang pengetahuan yang mereka miliki. Ada kisah Gilgamesh, misalnya. Ada juga doa, himne, aturan, catatan matematika, hingga pengamatan tentang langit. Di titik itu, tulisan mulai melakukan sesuatu yang luar biasa. Manusia tidak hanya menyimpan barang dan angka. Mereka mulai menyimpan pikiran. Dan ketika pikiran bisa ditulis, pengetahuan tidak harus berhenti ketika seseorang meninggal. Seseorang bisa menulis sesuatu hari ini. Lalu orang lain membacanya bertahun-tahun kemudian. Bahkan ribuan tahun kemudian.

Sumber: https://www.agungkomputer.com/news/manfaat-menggunakan-stylus-pen

Dari Stylus ke Jempol

Sekarang coba kita kembali ke zaman sekarang. Kalau lima ribu tahun lalu seseorang ingin menyimpan sebuah pesan, ia mungkin mengambil tanah liat, memegang stylus, lalu membuat tanda satu demi satu. Hari ini? Kita mengambil HP. Buka layar. Ketik. Scroll. Kirim. Sederhana sekali. Alatnya berubah. Medianya berubah. Cara kita menulis juga berubah. Tapi kalau dipikir-pikir, mungkin ada satu hal yang sebenarnya masih sama. Kita masih ingin meninggalkan sesuatu. Kita menulis pesan supaya orang lain tahu apa yang kita pikirkan. Kita menulis catatan supaya tidak lupa. Kita menulis cerita supaya sesuatu yang kita rasakan bisa diketahui orang lain. Ribuan tahun lalu, manusia menekan stylus ke tanah liat. Hari ini, kita menekan layar dengan jempol.

Dari tanah liat sampai layar ponsel, manusia terus mencari cara untuk melakukan hal yang sama: menyimpan apa yang ingin kita ingat. Dan mungkin, suatu hari nanti, tulisan yang kita anggap biasa hari ini juga akan menjadi bagian dari sejarah. Lalu pertanyaannya adalah: Kalau 5.000 tahun lagi manusia menemukan tulisan kita, kira-kira apa yang akan mereka pikirkan tentang kita?

 

*) Siswa Kelas X-H SMAN 1 Pangalengan TP. 2026-2027

**) dari beragam sumber

31 komentar:

  1. Risqi Setiawan XI-D18 September 2026 pukul 06.28

    Trimakasih Bu atas literasinya

    BalasHapus
  2. Faiza Hasna A XI.D28 September 2026 pukul 06.34

    Terimakasih bu literasinya, sangat menambah wawasan

    BalasHapus
  3. Terimakasih literasi nya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Mutia XB
    Terimakasih atas literasinya 🙏

    BalasHapus
  5. Terimakasih ibu atas literasinya,sangat bermanfaat sekali
    Farisa XI-A2

    BalasHapus
  6. Nafhiisa Firzana X-L8 September 2026 pukul 06.47

    thank youu for the information ibu dan teteh 🤩

    BalasHapus
  7. thank you bu, alpirji xi b2

    BalasHapus
  8. terimakasii bu atas literasinya
    Putri Hoerunnisa XII-B2

    BalasHapus
  9. thank you miss, intan XII b2

    BalasHapus
  10. thank you miss, Fatma XII B2

    BalasHapus
  11. Fildzah Dhyas Alwani XII-A48 September 2026 pukul 06.56

    terimakasih atas literasinya ibu 🌟

    BalasHapus
  12. terimakasih ibu,Farrel XII b2

    BalasHapus
  13. wah thank you so much untuk literasi hari ini ibuu 💕💕

    BalasHapus
  14. terimakasih juga reginaa 💕

    BalasHapus
  15. Abin nul hakim XI D28 September 2026 pukul 06.58

    Terima kasih atas literasi nya

    BalasHapus
  16. Cinthya Khairunnisa xii B2 terimakasih ibuu

    BalasHapus
  17. thank you Miss 🤍🌸 Natasya XII-D1

    BalasHapus
  18. terimakasih ibu atas literasinya
    Aura Maharani Putri XII D1

    BalasHapus
  19. Terimakasih ibu literasinyaaa🤍🤍

    BalasHapus
  20. MANTAP BU ALHAMDULILLAH SEMOGA SELALU BERKAH ALLAHHUAKBAR SUBHANALLAH WALLHAMDULILLAH

    BalasHapus
  21. Terimakasih ibu literasi nya Delia X-E

    BalasHapus
  22. Muhamad Zahran Rozak XI B18 September 2026 pukul 07.13

    Terima kasih ibu, sangat bagus article nya 🙌

    BalasHapus


  23. Menurut saya, kedua artikel ini cukup menarik karena pembahasannya dekat dengan kehidupan kita. Artikel pertama tentang Gen Z yang sering mencampur Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menurut saya relate banget. Saya sendiri sering menemukan gaya bahasa seperti itu di media sosial. Menurut saya, hal tersebut wajar karena pengaruh teknologi dan pergaulan, tetapi tetap harus tahu tempat. Jangan sampai kebiasaan bahasa santai dibawa ke tugas atau situasi formal.

    Artikel kedua juga menarik karena menjelaskan perkembangan tulisan dari tanah liat sampai HP. Dulu manusia harus susah payah menulis menggunakan stylus, sedangkan sekarang tinggal mengetik pakai jempol. Walaupun teknologinya berubah jauh, tujuan menulis tetap sama, yaitu menyimpan informasi dan menyampaikan pikiran.

    Dari kedua artikel ini, saya jadi sadar bahwa bahasa dan tulisan memang akan terus berkembang. Menurut saya, kita nggak perlu takut dengan perubahan tersebut, tetapi harus tetap bisa menggunakan bahasa dengan tepat. Sebagai pelajar, kita juga perlu punya kemampuan literasi yang baik supaya nggak cuma bisa membaca dan menulis, tetapi juga bisa memahami dan berpikir kritis terhadap informasi yang kita terima.

    BalasHapus
  24. Terima kasih ibu literasinya🙏

    BalasHapus
  25. Khafizah Khanza f XG8 September 2026 pukul 09.05

    Terimakasih teteh regina dan ibu untuk literasinya

    BalasHapus
  26. Menurutku:

    Menurutku, kedua artikel tersebut sangat menarik dan memberikan banyak pengetahuan tentang perkembangan bahasa dan tulisan dari masa ke masa. Bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia karena digunakan untuk berkomunikasi, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi dengan orang lain. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, cara manusia menggunakan bahasa juga ikut berubah. Salah satunya adalah kebiasaan Gen Z yang sering mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Menurutku, hal tersebut merupakan bentuk perkembangan bahasa yang wajar, tetapi kita tetap harus mengetahui kapan menggunakan bahasa yang santai dan kapan menggunakan bahasa yang baik dan formal.

    Selain itu, perkembangan tulisan dari zaman dahulu hingga sekarang juga menunjukkan bahwa manusia terus menciptakan cara yang lebih mudah dan praktis untuk menyampaikan informasi. Dari tulisan pada masa lalu hingga penggunaan ponsel dan media digital saat ini, semuanya memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Menurutku, kita boleh mengikuti perkembangan bahasa dan teknologi, tetapi tetap harus menjaga, menghargai, dan melestarikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan identitas bangsa. Dengan mempelajari kedua artikel ini, aku menjadi lebih sadar bahwa bahasa dan tulisan memiliki sejarah serta perkembangan yang panjang dan menarik.

    Terima kasih atas materi yang diberikan karena telah menambah wawasan, pengetahuan, dan pemahaman aku tentang perkembangan bahasa dan tulisan.

    BalasHapus

Historyca

  APA YANG BERUBAH DARI 1883 KE 2026? BELAJAR MITIGASI DARI SEJARAH KRAKATAU Oleh: Pepi M. Hafidz, S.Pd *)       Ilustrasi erupsi ...