MELAWAN HAWA NAFSU DAN BERTEMAN HANYA DENGAN ORANG BAIK
Oleh: H. Asep Rosadi, S.Ag *)
أَصْلُ كُلِّ
مَعْصِيَةٍ وَغَفْلَةٍ
وَشَهْوَةٍ الرِّضَا
عَنِ النَّفْسِ،
وَأَصْلُ كُلِّ
طَاعَةٍ وَيَقَظَةٍ
وَعِفَّةٍ عَدَمُ
الرِّضَا مِنْكَ
عَنْهَا. وَلَأَنْ
تَصْحَبَ جَاهِلًا
لَا يَرْضَى
عَنْ نَفْسِهِ
خَيْرٌ لَكَ
مِنْ أَنْ
تَصْحَبَ عَالِمًا
يَرْضَى عَنْ
نَفْسِهِ. فَأَيُّ
عِلْمٍ لِعَالِمٍ
يَرْضَى عَنْ
نَفْسِهِ وَأَيُّ
جَهْلٍ لِجَاهِلٍ
لَا يَرْضَى
عَنْ نَفْسِهِ
(Pangkal dari semua
jenis maksiat, lupa, dan syahwat adalah rida atas nafsu. Dan pangkal dari
setiap ketaatan, ingat, dan menjaga diri adalah tidak rida atas nafsu. Apabila
engkau bersahabat dengan orang yang bodoh tetapi tidak menuruti keinginan
nafsunya, itu lebih baik bagimu daripada berteman dengan orang yang pandai
tetapi menuruti hawa nafsunya. Apakah masih dikatakan orang pandai, jika ia
menuruti hawa nafsunya? Dan apakah masih dikatakan bodoh, orang yang tidak
menuruti keinginan nafsunya?)

Sumber: https://mahasiswaindonesia.id/pentingnya-perangi-hawa-nafsu-untuk-masa-depan/
Syarah:
Rida atas nafsu dapat menutupi mata hati.
Sehingga, baginya yang buruk akan terlihat baik. Namun jika ia tidak menuruti
nafsunya, maka akan terbuka mata hatinya. Sehingga ia akan melihat yang buruk
itu buruk dan yang baik itu baik. Barangsiapa yang rida atas nafsunya, maka ia
akan dikuasai oleh lupa kepada Allah. Sehingga ia tidak akan memerhatikan dan
mengawasi hal-hal yang dapat mengotori hatinya. Syahwat akan senantiasa
mengalahkannya, sebab ia tidak memiliki alat pengawas dalam hatinya. Dan pada akhirnya
ia akan terjatuh dalam jurang kemaksiatan. Sesungguhnya lupa dan syahwat adalah
sebab maksiat, sedangkan ingat dan menjaga diri adalah sebab taat. Rida pada
ajakan hawa nafsu adalah dasar dari segala macam jenis kemaksiatan.

Sumber: https://www.hidupkatolik.com/2020/05/25/45187/buka-mata-hati.php
Rasulullah
Saw. bersabda, "Musuhmu yang terbesar adalah nafsumu yang terletak di
antara kedua lambungmu." Yusuf berkata di dalam firman Allah,
وَمَا أُبَرِّئُ
نَفْسِي ۚ
إِنَّ النَّفْسَ
لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
إِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّي
ۚ إِنَّ
رَبِّي غَفُورٌ
رَحِيمٌ
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari
kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Yusuf: 53)
Karena rida pada ajakan hawa nafsu menjadi
kebiasaan orang-orang yang mendalami ilmu-ilmu lahir - yaitu orang-orang yang
tidak dapat menunjukkan penyakit-penyakit hatinya, maka pengarang mencegah kita
untuk berteman dengan mereka. Sesungguhnya berteman dengan orang bodoh (baca:
yang tidak menguasai ilmu lahir), tetapi tidak menuruti hawa nafsunya, lebih
memberikan manfaat bagimu, daripada berteman dengan orang-orang yang menguasai
ilmu lahir, tetapi menuruti ajakan hawa nafsu. Sesungguhnya ukuran kemanfaatan
dalam pertemanan adalah bertambahnya keyakīnan kita akan keagungan, kebesaran,
dan kebaikan Allah Swt. Dan itu tidak mungkin terjadi kecuali berteman dengan
orang-orang yang bisa melihat penyakit-penyakit hatinya lalu mengobatinya, dan
bukan berteman dengan orang yang menguasai ilmu akal dan ilmu syariat.

Sumber: https://kipmi.or.id/memilih-teman-pergaulan-saat-menuntut-ilmu-syari.html
Apakah dikatakan alim, seseorang yang masih
menuruti hawa nafsunya? Dan apakah dikatakan bodoh, seseorang yang menolak
ajakan hawa nafsunya? Hendaknya seorang murid tidak berteman kecuali dengan
orang-orang arif, karena mereka mengetahui cara-cara untuk melepaskan diri dari
ajakan hawa nafsu.
*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan. Pembian
Ekstrakurikuler Badminton. Wirausahawan Muda. Pengisi kajian di beberapa
Majelis Taklim

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBapak terima kasih atas literasinya. Hari ini berkat baca tulisan bapak saya jadi belajar bahwa menuruti hawa nafsu itu tidak baik.. apabila hawa nafsu itu membawa kita pada kemaksiatan. Dan saya juga belajar untuk tidak mengikuti hawa nafsu yang membawa keburukan lalu pilihlah teman yang tidak mengikuti hawa nafsunya. Karna jika kita berteman dengan orang yang memakai wewangian ikutlah tercium wewangian itu dari kita, sebaliknya kita berteman dengan orang yang berbau tak sedap maka ikut pula tercium aroma itu dari kita. Karena itu pentingnya memilih teman.
BalasHapusmakasih pa, alpirji xib2
BalasHapusTerimakasih atas literasinya pak
BalasHapusterimakasih atas literasinya bapakk
BalasHapusterimakasih literasi nya bapak💗💗
BalasHapusTerimakasih atas literasi nya
BalasHapusterimakasih atas literasi nya bapak -XI A1
BalasHapusmakasi bapa
BalasHapusterimakasih bapa atas literasinya
BalasHapus-nayla XI-A1
Terimakasih bapak atas literasinya sangat bermanfaat
BalasHapusFarisa XI-A2
terimakasih atas literasinya bapa
BalasHapusNaura XI.A1
terimakasih pak atas ilmunya
BalasHapusGhaisa adia p XI A1
terimakasih banyak pak atas literasi nya
BalasHapusifnu fajar XI-D2
BalasHapusterimakasih atas literasinya bapak
Terima kasih pa atas literasi nyaa
BalasHapusterimakasih pak atas literasi nya, sungguh sangat bermanfaat bagi kehidupan, dan saya bisa memilih hubungan pertemanan yang baik dan buruk
BalasHapusPutri Bilqis XI C1
BalasHapusterimakasih pak atas literasinya,