"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Minggu, 30 Agustus 2026

Teen Issues

 FENOMENA SECOND ACCOUNT PADA MEDIA SOSIAL

Oleh: Lilis Gartika, S.Pd *)


Di era digital saat ini, memiliki lebih dari satu akun di media sosial bukanlah hal yang aneh dan tentunya bukan tanpa alasan. Pada kesempatan ini penulis akan mengulas fenomena ini agar kita semua dapat memahaminya secara bijak dan tidak menimbulkan dampak negatif. Berdasarkan sumber yang penulis baca, ada 3 faktor utama yang menjadi latar belakang pengguna media sosial khususnya remaja pelajar  untuk membuat second account.

  1. Kebutuhan Ruang Ekspresi,

Remaja membutuhkan wadah untuk menyampaikan pikiran, emosi serta kreativitas mereka tanpa merasa diawasi oleh guru, orang tua, maupun khalayak umum.

  1. Manajemen Identitas Sosial

Dengan memisahkan audiens, remaja dapat menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan kelompok.

  1. Kontrol Privasi

Dengan second account, remaja dapat menyeleksi siapa saja yang dapat mengakses informasi pribadi mereka.


Akan tetapi perlu diwaspadai bahwa ketiga hal  ini perlu dibarengi dengan ‘kontrol diri dan literasi digital’ agar tidak menimbulkan dampak negatif. Second account kadang atau mungkin sering digunakan untuk menjadi ruang untuk menyindir, menggosipkan seseorang atau hal-hal tertentu, bahkan memberi komentar yang tidak etis yang akhirnya mengarah pada Cyber Bullying. Pelaku  merasa nyaman melakukan hal ini karena merasa tidak akan teridentifikasi. Akan tetapi sadarkah kita bila pada suatu waktu mungkin saja terjadi perselisihan diantara teman ‘satu ruang’ di second account kita, kemudian setiap unggahan atau komentar kita di screenshot lalu disebar luaskan? Hal ini tentunya akan beresiko merusak nama baik kita bahkan institusi tempat kita belajar.  Perlu diingat bahwa konten yang berisi ujaran kebencian, perundungan atau provokasi dapat berimplikasi pada pelanggaran Permendikdasmen No.6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Kemudian, second account membawa kita berada dalam sebuah kelompok kecil yang memiliki pandangan yang sama. Dengan obrolan serta pandangan yang kita utarakan dalam ‘ruang kecil’ tersebut, dapat membawa kita pada ‘menguatnya bias serta menurunnya kemampuan berpikir kritis serta empati’.

Agar second account memberikan manfaat dan tidak merugikan, gunakan beberapa prinsip berikut:

       Ajukan pertanyaan sebelum mengunggah atau berkomentar,”Beranikah saya nanti mempertanggung jawabkannya di depan umum?”

       Tetap gunakan bahasa yang santun, bahkan di ruang yang kita anggap privat sekalipun.

       Pastikan second account yang kita buat ditujukan untuk sarana refleksi diri dan membangun relasi positif, bukan untuk melampiaskan emosi negatif. Ingat, jejak digital bersifat permanen, sekalipun pernah kita hapus.

 

*) Purna Tugas Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan. gemar menulis di berbagai media. Tulisannya sering di muat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Galamedia,dll.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teen Issues

  FENOMENA SECOND ACCOUNT PADA MEDIA SOSIAL Oleh: Lilis Gartika, S.Pd *) Di era digital saat ini, memiliki lebih dari satu akun di medi...