FENOMENA
SECOND ACCOUNT PADA MEDIA SOSIAL
Oleh:
Lilis Gartika, S.Pd *)
Di era digital saat
ini, memiliki lebih dari satu akun di media sosial bukanlah hal yang aneh dan
tentunya bukan tanpa alasan. Pada kesempatan ini penulis akan mengulas fenomena
ini agar kita semua dapat memahaminya secara bijak dan tidak menimbulkan dampak
negatif. Berdasarkan sumber yang penulis baca, ada 3 faktor utama yang menjadi
latar belakang pengguna media sosial khususnya remaja pelajar untuk membuat second account.
- Kebutuhan
Ruang Ekspresi,
Remaja
membutuhkan wadah untuk menyampaikan pikiran, emosi serta kreativitas mereka
tanpa merasa diawasi oleh guru, orang tua, maupun khalayak umum.
- Manajemen
Identitas Sosial
Dengan
memisahkan audiens, remaja dapat menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai
dengan kelompok.
- Kontrol
Privasi
Dengan
second account, remaja dapat menyeleksi siapa saja yang dapat mengakses
informasi pribadi mereka.

Akan tetapi perlu
diwaspadai bahwa ketiga hal ini perlu
dibarengi dengan ‘kontrol diri dan literasi digital’ agar tidak menimbulkan
dampak negatif. Second account kadang atau mungkin sering digunakan
untuk menjadi ruang untuk menyindir, menggosipkan seseorang atau hal-hal
tertentu, bahkan memberi komentar yang tidak etis yang akhirnya mengarah pada Cyber
Bullying. Pelaku merasa nyaman
melakukan hal ini karena merasa tidak akan teridentifikasi. Akan tetapi
sadarkah kita bila pada suatu waktu mungkin saja terjadi perselisihan diantara
teman ‘satu ruang’ di second account kita, kemudian setiap unggahan atau
komentar kita di screenshot lalu disebar luaskan? Hal ini tentunya akan
beresiko merusak nama baik kita bahkan institusi tempat kita belajar. Perlu diingat bahwa konten yang berisi ujaran
kebencian, perundungan atau provokasi dapat berimplikasi pada pelanggaran
Permendikdasmen No.6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Kemudian, second account membawa kita berada dalam sebuah kelompok kecil
yang memiliki pandangan yang sama. Dengan obrolan serta pandangan yang kita
utarakan dalam ‘ruang kecil’ tersebut, dapat membawa kita pada ‘menguatnya bias
serta menurunnya kemampuan berpikir kritis serta empati’.

Agar second account
memberikan manfaat dan tidak merugikan, gunakan beberapa prinsip berikut:
●
Ajukan pertanyaan sebelum
mengunggah atau berkomentar,”Beranikah saya nanti mempertanggung jawabkannya di
depan umum?”
●
Tetap gunakan bahasa yang
santun, bahkan di ruang yang kita anggap privat sekalipun.
●
Pastikan second account
yang kita buat ditujukan untuk sarana refleksi diri dan membangun relasi
positif, bukan untuk melampiaskan emosi negatif. Ingat, jejak digital bersifat
permanen, sekalipun pernah kita hapus.
*) Purna Tugas Guru
Bahasa Indonesia di SMAN 1 Pangalengan. gemar menulis di berbagai media. Tulisannya
sering di muat di Harian Umum Pikiran Rakyat, Galamedia,dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar