"Qatadah reported: I said to Aisha, “O mother of the believers, tell me about the character of the Messenger of Allah, peace and blessings be upon him.” Aisha said, “Have you not read the Quran?” I said, “Of course.” Aisha said, “Verily, the character of the Prophet of Allah was the Quran.” Source: Ṣaḥīḥ Muslim 746

Senin, 24 Agustus 2026

MOMENTUM

 "MENJEMPUT CAHAYA CINTA - MENELADANI RASULULLAH MUHAMMAD SAW  MELALUI SIRAH DAN SHALAWAT”

Oleh Tim Redaksi Literatsmansa

 
Sumber: https://islamramah.co/2020/11/4579/tradisi-musyawarah-di-zaman-rasulullah-saw.html/kaligrafi-nabi-muhammad-saw-2

Al-Barzanji adalah kitab puji-pujian dan sejarah tentang Nabi Muhammad SAW yang dibaca saat peringatan hari lahir (maulid) nabi. Kitab ini berisi kisah hidup, silsilah, akhlak, dan doa.    Maulid, berarti hari lahir atau waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Al-Barzanji, yaitu nama kitab karya Sayyid Ja'far al-Barzanji. Nama ini berasal dari Barzan, sebuah tempat di Kurdistan, Irak.  Isi kitab Al-Barzanji berisi: kisah lahir Nabi Muhammad SAW, silsilah keluarga nabi sampai Nabi Adam AS, perjalanan hidup, sifat mulia, dan mukjizat nabi, berisi shalawat dan doa pujian kepada Nabi Muhammad SAW.      Waktu pembacaan kitab Al-Barzanji, biasanya ketika peeringatan Maulid Nabi SAW., acara 'Marhaba' cukur rambut bayi atau akikah, ketika syukuran dan doa penolak bala. Berikut ada salah satu puisi terkait puncak sebuah kerinduan seorang Muslim terhadap kekasih Allah Rasululullah Muhammad SAW.:

PUNCAK TERTINGGI SEBUAH KERINDUAN

Puncak tertinggi sebuah kerinduan,

bukanlah pada jauhnya perjalanan,

bukan pula pada indahnya pertemuan,

melainkan ketika hati bersimpuh dalam Mahalul Qiyam,

menyebut namamu dengan penuh kecintaan,

wahai junjungan, kekasih Allah,

Rasulullah Muhammad SAW

 

Dalam lantunan Al-Barzanji,

kami mengenang jejak langkahmu,

menyusuri sirah penuh cahaya,

menyebut akhlakmu yang mulia,

hingga air mata jatuh tanpa terasa, karena rindu yang tak mampu terucap

oleh kata-kata.

 

Ya Allah…

jika langkah kami terlalu jauh,

dekatkanlah kami kepada kekasih-Mu.

Jika hati kami masih penuh kekurangan,

sucikanlah dengan cinta kepada Rasul-Mu.

Jika amal kami belum sempurna,

limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu.

 

Ya Allah, pertemukan dan satukanlah kami

dengan kekasih-Mu, Rasulullah Muhammad SAW

di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.

 

Berkahilah setiap lantunan shalawat kami,

selamatkanlah kami dalam kehidupan dan kematian,

teguhkanlah hati kami di jalan kebaikan,

dan jadikanlah Al-Barzanji

bukan sekadar lantunan di bibir,

tetapi cahaya yang hidup

di dalam hati dan perilaku kami.

 

Rasulullah SAW

namamu kami sebut dalam kerinduan,

sirahmu kami kenang dalam kecintaan,

shalawat kepadamu kami lantunkan

dengan penuh harapan.

 

Semoga kelak,

di hari ketika segala kerinduan menemukan jawabnya,

Allah mempertemukan kami denganmu

dalam naungan rahmat-Nya,

di taman-taman surga-Nya,

bersama orang-orang yang mencintaimu.

 

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad,

wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

 

Wahai Allah…

jadikan cinta kepada Rasul-Mu

sebagai jalan menuju cinta-Mu,

dan jadikan kerinduan ini

sebagai doa yang Engkau kabulkan.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

    

Kitab Al-Barzanji berisi kisah hidup, silsilah keturunan, pujian, serta doa untuk Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bentuk prosa dan puisi bersastra tinggi untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah.      Pokok isi kitab Al-Barzanji, berisi: Silsilah Nabi, yang memuat nasab atau garis keturunan mulia Nabi Muhammad SAW hingga ke leluhur, kisah Kelahiran, yakni menceritakan detik-detik kelahiran, tanda-tanda kenabian, dan peristiwa masa kecil beliau, lalu perjalanan hidup menjelaskan masa remaja, dewasa, pernikahan dengan Siti Khadijah, hingga menerima wahyu, setelah itu bagian Dakwah dan Wafat, mengisahkan perjuangan menyebarkan Islam hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW. Terakhir, bagian Shalawat dan Doa, yakni berisi untaian pujian, kasidah, dan doa penutup.

Sumber: https://id.pinterest.com/ideas/kaligrafi-nabi-muhammad-saw/893354113793/

Ada banyak kitab yang menjelaskan kisah-kisah Nabi Muhammad Saw, mulai dari kelahirannya dan perjalanan dakwahnya. Salah satu kitab yang populer dinegeri ini yaitu Kitab Maulid Al-Barzanji, kitab yang berisikan kisah perjalanan Rasullulah saw, puji-pujian kepadanya, serta doa-doa.  Tidak hanya dijadikan bacaan ketika merayakan hari kelahiran Nabi saw, Maulid Barzanji juga dijadikan rutinan setiap malam Jumat atau malam Senin oleh mayoritas masyarakat, terutama warga Nahdliyin.  Kitab Maulid yang satu ini tersebar ke pelosok negeri, mulai dari Arab dan semua negara Islam. Bahkan banyak kita jumpai orang-orang yang menghafalnya.  Maulid Barzanji memiliki nama khusus, yaitu ‘Iqdul Jauhar fî Maulidin Nabiyyil Azhar, yang disusun untuk meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw. Namun seiring perkembangan zaman, kemudian lebih masyhur dengan sebutan Maulid Barzanji dengan penisbatan kepada penulisnya.

 
Sumber: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aplikita.maulid_barzanji_paling_lengkap&hl=id&pli=1

Biografi singkat penyusun kitab Al-Barzanji bernama lengkap Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau kelahiran Madinah al-Munawwarah pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan bersama dengan kakeknya di Baqi’ mennjadi satu dengan keturunan Rasulullah saw yang lain. (Muhammad al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashih wa I’tinâ’, halaman 12). Beliau memiliki nasab yang suci dan luhur, yaitu keturunan Rasulullah saw melalui jalur Sayyid Baqir bin Sayyid Zainal ‘Abidin ibn Sayyidina ‘Ali ra dan Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulillah saw. Menurut Syekh Nawawi Banten, nasab yang dimiliknya akan menjadi penyelamat kelak di akhirat dari siksa neraka dengan segala kesengsaraannya. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Madârijus Shu’ûd ilâ  Iktisâ’il Burûd, [Semarang, Thoha Putra], halaman 3).

Sayyid Ja’far al-Barzanji tumbuh besar dengan keilmuan. Semua waktu digunakannya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan menghafal hadits sekaligus memahaminya. Dalam catatan sejarahnya, Sayyid Ja’far menghafal Al-Quran 30 Juz kepada Syaikh Ismail al-Yamani dan ditashih kepada Syekh Yusuf al-Asha’idi. Setelah Al-Qur’an dihafalnya, ia mulai belajar ilmu tafsir Al-Qur’an dan hadits). Selanjutnya mempelajari berbagai cabang-cabang ilmu lainnya kepara ulama di Masjid Nabawi. Di antara guru-gurunya ialah Syekh ‘Atha-Allah bin Ahmad al-Azhari, Syekh Abdul Wahab ath-Thanthawi al-Ahmadi, Syekh Ahmad al-‘Asybuli dan ulama besar lainnya. Setelah semua cabang ilmu Islam dipelajari olehnya, ia menjadi ulama yang sangat alim yang diakui keluasan ilmunya oleh berbagai ulama. 

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dalam menuntut ilmu, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti (ahli fatwa) mazhab Syafi’iyah di Madinah, yaitu saat usianya mencapai 31 tahun, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Qhat’ani:

 وَعُمْرُهُ إِحْدَى وَثَلَاثِيْنَ عَامًا ثُمَّ صَارَ مُفْتِي الشَّافِعِيَّةِ فِي الْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ وَخَطِيْبًا فَقَدْ كَانَ يَخْطُبُ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِي الشَّرِيْفِ

“Dan pada umur 31 tahun, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti ulama mazhab Syafi’iyah di kota Madinah al-Munawwarah, dan juga menjadi khatib di Masjid Nabawi yang mulia.” (Al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashîh wa I’tinâ’, halaman 12).  Sayyid Ja’far al-Barzanji merupakan ulama yang punya suara merdu, tampan rupawan, mulia perilakunya, sangat sopan, tinggi cita-citanya, bersungguh-sungguh ketika membahas ilmu, dapat dipercaya. Karenanya banyak orang meminta pendapat dan fatwa kepadanya karena keluasan ilmunya.   Syekh Abil Fadl Muhammad Khalil bin ‘Ali al-Muradi menyifati Sayyid Ja’far sebagai figur kharismatik yang sangat mulia dan sangat alim, dan satu-satunya ulama luar biasa pada zamannya. Al-Muradi mengatakan:

 

هُوَ الْمُدْنِي الشَّافِعِي الشَّيْخُ الفَاضِلُ العَالِمُ البَارِعُ الأَوْحَدُ المُتَفَنِّنُ مُفَتِي السَّادَةِ الشَّافِعِيَّةِ بِالْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةِ. وَكَانَ فَرْدًا مِنْ أَفْرَادِ الْعُصْرِ

“Ia (Sayyid Ja’far al-Barzanji) adalah ulama Madinah, bermazhab Syafi’i, seorang syekh, orang mulia, alim, orator ulung, satu-satunya yang menguasai berbagai cabang ilmu, mufti para syadah mazhab Syafi’iyah di Madinah an-Nabawiyah. Ia juga menjadi satu-satunya ulama (yang memenuhi kriteria tersebut) pada zamannya.” (Al-Muradi, Silkud Durâr fî A’yânil Qurûnits Tsâni ‘Asyar, [Beirut, Dârul Basyâ-iril Islâmiyyah, cetakan ketiga: 1988], juz I, halaman 293).

Sekilas Maulid Barzanji

Pujian-pujian yang ditulis oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji murni atas dasar kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad saw sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada nabinya. Secara ringkas Maulid Barzanji memiliki paparan sebagai berikut:

·         menjelaskan silsilah keturunan Nabi Muhammad saw sampai pada moyangnya yang bernama ‘Adnan;

·         menjelaskan masa kecil dan kelebihannya saat itu;

·         mengisahkan kisah Nabi Muhammad saw saat ikut berdagang bersama pamannya ke kota Syam ketika berumur 12 tahun;

·         pernikahannya dengan Sayyidah Khadijah ra pada umur 25 tahun; dan

·         pengangkatannya menjadi rasul pada usia 40 tahun, dan dakwah Islamnya sampai umur 62 tahun.

·         Kemudian di akhir tulisan menjelaskan kewafatan Rasulullah saw setelah semua tugasnya selesai secara sempurna.

Maulid Barzanji juga menjelaskan beberapa keistimewaan saat kelahiran Nabi Muhammad saw. Di antaranya, ia lahir dalam keadaan langsung bersujud dan dalam keadaan bercelak. Dalam waktu yang sama berbagai simbol-simbol kemusyrikan dihancurkan oleh Allah, seperti hancurnya kerajaan Kisra yang besar, padamnya api sesembahan orang-orang Majusi yang diyakini tidak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun. Di saat itu pula, semua hewan dan dan makhluk selain manusia merasakan kemuliaan dan keagungannya. Hal ini ditandai dengan berbuahnya semua pohon-pohon yang tidak pernah berbuah dalam rangka menghormat dan menyambut kelahiran makhluk paling baik dan paling mulia. 

Keutamaan Maulid Barzanji

 Syekh Muhammad Nawawi Banten, dalam kitab Madârijus Shu’ûd mengatakan, Maulid Barzanji laksana media yang mampu menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan (sihrul halâl) dan orang yang membacanya akan mendapatkan keridhaan dari Allah swt. (Al-Bantani, Madârijus Shu’ûd, halaman 3).   Syekh Nawawi Banten seolah hendak mengatakan, dengan membaca Maulid Barzanji orang akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak, di antaranya akan digampangkan semua urusannya, sebagaimana sihir, namun Maulid Barzanji seolah sihir yang halal. Jika tujuan membacanya agar terhindar dari penyakit, maka ia akan dijauhkan dari penyakit oleh Allah swt. Tidak hanya itu, dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan kehormatan berupa keridhaan dari Allah SWT.

Cara Bacanya

Cara membacanya secara khusus yaitu dengan beberapa tahap sebagai berikut: Pertama, membaca surat al-Fatihah dihadiahkan kepada Rasulullah saw dan Sayyid Ja’far al-Barzanji.  Kedua, mengajak orang lain untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Rasulullah saw, sekaligus menyampaikan kepada mereka bahwa dengan membaca shalawat oleh Allah akan diberikan ganjaran berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya, dengan membaca bacaan sebagai berikut:

اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّي * وَيُسَلِّمُ وَيُبَارِكُ عَلَيه  

“Surga dan segala kenikmatannya merupakan kebahagiaan bagi orang-orang yang bershalawat, mendoakan keselamatan dan keberkahan baginya (Nabi Muhammad saw).”

Ketiga, setiap berpindah dari satu bab ke bab lain, sebagaimana tertera dalam Maulid Barzanji, diakhiri dengan membaca bacaan berikut:

عَطِّرِ اللهم قَبْرَهُ الكَرِيْم، بِعَرْفٍ شَدِيٍ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْه  

“Ya Allah, berikanlah wewangian pada kuburnya yang mulia, dengan wangian dari shalawat dan salam. Ya Allah, berilah shalawat, salam dan keberkahan kepadanya.”

Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad SAW

Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada hari Senin, 12 Rabiulawal, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah, sekitar tahun 570 - 571 Masehi. Beliau berasal dari Bani Hasyim, bagian dari suku Quraisy. Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum beliau lahir. Setelah kelahirannya, Nabi Muhammad SAW kemudian diasuh oleh Halimah As-Sa'diyah pada masa kecilnya. Ketika berusia enam tahun, ibunda beliau, Aminah, wafat. Selanjutnya beliau berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib, kemudian pamannya, Abu Thalib.      Sejak kecil, Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau dikenal sebagai Al-Amin, yang berarti orang yang terpercaya. Kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan beliau menjadi teladan bagi seluruh umat manusia. Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Sejak saat itu, beliau menjalankan tugas sebagai Rasulullah untuk menyampaikan ajaran Islam, mengajak manusia menyembah Allah SWT, meninggalkan kemusyrikan, serta membangun kehidupan yang berlandaskan akhlak mulia.

 
Sumber: https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8089023/maulid-nabi-2025-berapa-hijriah

Keutamaan Membaca Shalawat

Shalawat merupakan bentuk penghormatan, doa, dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT sendiri memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Membaca shalawat memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

1.       Mendapatkan rahmat dari Allah SWT.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang bershalawat kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.

2.       Menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Semakin sering mengingat dan bershalawat kepada beliau, semakin tumbuh rasa cinta terhadap pribadi, perjuangan, dan akhlak Rasulullah SAW.

3.       Menjadi sarana mengingat keteladanan Rasulullah.

Shalawat seharusnya tidak hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi juga mendorong kita meneladani kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan akhlak beliau.

4.       Mendapatkan ketenangan hati.

Mengingat Allah dan Rasul-Nya dapat menjadi bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah serta menenangkan hati.

5.       Menjadi ungkapan syukur atas diutusnya Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW membawa risalah Islam, mengajarkan tauhid, serta menjadi teladan bagi umat manusia.

Renungan

Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan menyebut namanya, tetapi dengan mengenal sirahnya, memperbanyak shalawat, mencintai ajarannya, dan berusaha meneladani akhlaknya.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

 “Semoga setiap shalawat yang kita lantunkan menjadi jalan tumbuhnya cinta kepada Rasulullah SAW, cahaya bagi hati, dan motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.”

صَلَّى اللهُ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW.”

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

     Semoga shalawat yang kita lantunkan menjadi ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW dan menguatkan keinginan kita untuk mengenal, mencintai, dan meneladani akhlak beliau. Semoga kita mendapatkan Syafaat Rasulullah SAW. Aamiin Ya Rabbal'alamiin.

 

Sumber Rujukan:

-          Al-Barzanji, Sayyid Ja‘far bin Hasan. ‘Iqd al-Jawāhir fī Mawlid an-Nabiyy al-Azhar (Maulid al-Barzanji). - sebagai sumber utama mengenai isi, sirah, pujian, shalawat, dan doa dalam Maulid Al-Barzanji.

-          Al-Bantani, Muhammad Nawawi. Madārijus Shu‘ūd ilā Iktisā’il Burūd. Semarang: Thoha Putra. — sebagai rujukan yang digunakan dalam pembahasan tentang Sayyid Ja‘far al-Barzanji dan penjelasan mengenai Maulid Barzanji.

-          Al-Qhat‘ani, Muhammad. Maulidul Barzanji Tashīh wa I‘tinā’. Libya: Tajoura, 2013 M/1434 H. - sebagai rujukan biografi Sayyid Ja‘far al-Barzanji, termasuk kelahiran, wafat, pendidikan, dan kedudukannya sebagai ulama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MOMENTUM

  "MENJEMPUT CAHAYA CINTA - MENELADANI RASULULLAH MUHAMMAD SAW  MELALUI SIRAH DAN SHALAWAT” Oleh Tim Redaksi Literatsmansa   Sumber...