"MENJEMPUT CAHAYA CINTA - MENELADANI RASULULLAH MUHAMMAD SAW MELALUI SIRAH DAN SHALAWAT”
Oleh
Tim Redaksi Literatsmansa

Sumber:
https://islamramah.co/2020/11/4579/tradisi-musyawarah-di-zaman-rasulullah-saw.html/kaligrafi-nabi-muhammad-saw-2
Al-Barzanji adalah kitab puji-pujian dan sejarah tentang Nabi Muhammad SAW yang dibaca saat peringatan hari lahir (maulid) nabi. Kitab ini berisi kisah hidup, silsilah, akhlak, dan doa. Maulid, berarti hari lahir atau waktu kelahiran Nabi Muhammad SAW. Al-Barzanji, yaitu nama kitab karya Sayyid Ja'far al-Barzanji. Nama ini berasal dari Barzan, sebuah tempat di Kurdistan, Irak. Isi kitab Al-Barzanji berisi: kisah lahir Nabi Muhammad SAW, silsilah keluarga nabi sampai Nabi Adam AS, perjalanan hidup, sifat mulia, dan mukjizat nabi, berisi shalawat dan doa pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Waktu pembacaan kitab Al-Barzanji, biasanya ketika peeringatan Maulid Nabi SAW., acara 'Marhaba' cukur rambut bayi atau akikah, ketika syukuran dan doa penolak bala. Berikut ada salah satu puisi terkait puncak sebuah kerinduan seorang Muslim terhadap kekasih Allah Rasululullah Muhammad SAW.:
PUNCAK TERTINGGI SEBUAH KERINDUAN
Puncak tertinggi sebuah kerinduan,
bukanlah pada jauhnya perjalanan,
bukan pula pada indahnya pertemuan,
melainkan ketika hati bersimpuh dalam Mahalul
Qiyam,
menyebut namamu dengan penuh kecintaan,
wahai junjungan, kekasih Allah,
Rasulullah Muhammad SAW
Dalam lantunan Al-Barzanji,
kami mengenang jejak langkahmu,
menyusuri sirah penuh cahaya,
menyebut akhlakmu yang mulia,
hingga air mata jatuh tanpa terasa, karena
rindu yang tak mampu terucap
oleh kata-kata.
Ya Allah…
jika langkah kami terlalu jauh,
dekatkanlah kami kepada kekasih-Mu.
Jika hati kami masih penuh kekurangan,
sucikanlah dengan cinta kepada Rasul-Mu.
Jika amal kami belum sempurna,
limpahkanlah rahmat dan ampunan-Mu.
Ya Allah, pertemukan dan satukanlah kami
dengan kekasih-Mu, Rasulullah Muhammad SAW
di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.
Berkahilah setiap lantunan shalawat kami,
selamatkanlah kami dalam kehidupan dan
kematian,
teguhkanlah hati kami di jalan kebaikan,
dan jadikanlah Al-Barzanji
bukan sekadar lantunan di bibir,
tetapi cahaya yang hidup
di dalam hati dan perilaku kami.
Rasulullah SAW…
namamu kami sebut dalam kerinduan,
sirahmu kami kenang dalam kecintaan,
shalawat kepadamu kami lantunkan
dengan penuh harapan.
Semoga kelak,
di hari ketika segala kerinduan menemukan
jawabnya,
Allah mempertemukan kami denganmu
dalam naungan rahmat-Nya,
di taman-taman surga-Nya,
bersama orang-orang yang mencintaimu.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad,
wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Wahai Allah…
jadikan cinta kepada Rasul-Mu
sebagai jalan menuju cinta-Mu,
dan jadikan kerinduan ini
sebagai doa yang Engkau kabulkan.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Kitab Al-Barzanji berisi kisah hidup, silsilah
keturunan, pujian, serta doa untuk Nabi Muhammad SAW, yang ditulis dalam bentuk
prosa dan puisi bersastra tinggi untuk menumbuhkan rasa cinta kepada
Rasulullah. Pokok isi kitab Al-Barzanji,
berisi: Silsilah Nabi, yang memuat nasab atau garis keturunan mulia Nabi
Muhammad SAW hingga ke leluhur, kisah Kelahiran, yakni menceritakan detik-detik
kelahiran, tanda-tanda kenabian, dan peristiwa masa kecil beliau, lalu
perjalanan hidup menjelaskan masa remaja, dewasa, pernikahan dengan Siti
Khadijah, hingga menerima wahyu, setelah itu bagian Dakwah dan Wafat,
mengisahkan perjuangan menyebarkan Islam hingga wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Terakhir, bagian Shalawat dan Doa, yakni berisi untaian pujian, kasidah, dan
doa penutup.
Sumber:
https://id.pinterest.com/ideas/kaligrafi-nabi-muhammad-saw/893354113793/
Ada banyak kitab yang menjelaskan kisah-kisah
Nabi Muhammad Saw, mulai dari kelahirannya dan perjalanan dakwahnya. Salah satu
kitab yang populer dinegeri ini yaitu Kitab Maulid Al-Barzanji, kitab yang
berisikan kisah perjalanan Rasullulah saw, puji-pujian kepadanya, serta
doa-doa. Tidak hanya dijadikan bacaan
ketika merayakan hari kelahiran Nabi saw, Maulid Barzanji juga dijadikan
rutinan setiap malam Jumat atau malam Senin oleh mayoritas masyarakat, terutama
warga Nahdliyin. Kitab Maulid yang satu
ini tersebar ke pelosok negeri, mulai dari Arab dan semua negara Islam. Bahkan
banyak kita jumpai orang-orang yang menghafalnya. Maulid Barzanji memiliki nama khusus, yaitu
‘Iqdul Jauhar fî Maulidin Nabiyyil Azhar, yang disusun untuk meningkatkan rasa
cinta kepada Nabi Muhammad saw. Namun seiring perkembangan zaman, kemudian
lebih masyhur dengan sebutan Maulid Barzanji dengan penisbatan kepada
penulisnya.

Sumber:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aplikita.maulid_barzanji_paling_lengkap&hl=id&pli=1
Biografi singkat penyusun kitab Al-Barzanji
bernama lengkap Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim
al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau kelahiran Madinah al-Munawwarah
pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada
Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan bersama
dengan kakeknya di Baqi’ mennjadi satu dengan keturunan Rasulullah saw yang
lain. (Muhammad al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashih wa I’tinâ’, halaman 12).
Beliau memiliki nasab yang suci dan luhur, yaitu keturunan Rasulullah saw
melalui jalur Sayyid Baqir bin Sayyid Zainal ‘Abidin ibn Sayyidina ‘Ali ra dan
Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulillah saw. Menurut Syekh Nawawi Banten,
nasab yang dimiliknya akan menjadi penyelamat kelak di akhirat dari siksa neraka
dengan segala kesengsaraannya. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Madârijus Shu’ûd
ilâ Iktisâ’il Burûd, [Semarang, Thoha
Putra], halaman 3).
Sayyid Ja’far al-Barzanji tumbuh besar dengan
keilmuan. Semua waktu digunakannya untuk mencari ilmu, menghafal Al-Qur’an, dan
menghafal hadits sekaligus memahaminya. Dalam catatan sejarahnya, Sayyid Ja’far
menghafal Al-Quran 30 Juz kepada Syaikh Ismail al-Yamani dan ditashih kepada
Syekh Yusuf al-Asha’idi. Setelah Al-Qur’an dihafalnya, ia mulai belajar ilmu
tafsir Al-Qur’an dan hadits). Selanjutnya mempelajari berbagai cabang-cabang
ilmu lainnya kepara ulama di Masjid Nabawi. Di antara guru-gurunya ialah Syekh
‘Atha-Allah bin Ahmad al-Azhari, Syekh Abdul Wahab ath-Thanthawi al-Ahmadi,
Syekh Ahmad al-‘Asybuli dan ulama besar lainnya. Setelah semua cabang ilmu
Islam dipelajari olehnya, ia menjadi ulama yang sangat alim yang diakui
keluasan ilmunya oleh berbagai ulama.
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dalam
menuntut ilmu, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti (ahli fatwa) mazhab
Syafi’iyah di Madinah, yaitu saat usianya mencapai 31 tahun, sebagaimana
disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Qhat’ani:
وَعُمْرُهُ
إِحْدَى وَثَلَاثِيْنَ
عَامًا ثُمَّ
صَارَ مُفْتِي
الشَّافِعِيَّةِ فِي
الْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ
وَخَطِيْبًا فَقَدْ
كَانَ يَخْطُبُ
فِي الْمَسْجِدِ
النَّبَوِي الشَّرِيْفِ
“Dan pada umur 31 tahun, Sayyid Ja’far
al-Barzanji menjadi mufti ulama mazhab Syafi’iyah di kota Madinah
al-Munawwarah, dan juga menjadi khatib di Masjid Nabawi yang mulia.”
(Al-Qhat’ani, Maulidul Barzanji Tashîh wa I’tinâ’, halaman 12). Sayyid Ja’far al-Barzanji merupakan ulama yang
punya suara merdu, tampan rupawan, mulia perilakunya, sangat sopan, tinggi
cita-citanya, bersungguh-sungguh ketika membahas ilmu, dapat dipercaya.
Karenanya banyak orang meminta pendapat dan fatwa kepadanya karena keluasan
ilmunya. Syekh Abil Fadl Muhammad
Khalil bin ‘Ali al-Muradi menyifati Sayyid Ja’far sebagai figur kharismatik
yang sangat mulia dan sangat alim, dan satu-satunya ulama luar biasa pada
zamannya. Al-Muradi mengatakan:
هُوَ الْمُدْنِي
الشَّافِعِي الشَّيْخُ
الفَاضِلُ العَالِمُ
البَارِعُ الأَوْحَدُ
المُتَفَنِّنُ مُفَتِي
السَّادَةِ الشَّافِعِيَّةِ
بِالْمَدِيْنَةِ النَّبَوِيَّةِ.
وَكَانَ فَرْدًا
مِنْ أَفْرَادِ
الْعُصْرِ
“Ia (Sayyid Ja’far al-Barzanji) adalah ulama
Madinah, bermazhab Syafi’i, seorang syekh, orang mulia, alim, orator ulung,
satu-satunya yang menguasai berbagai cabang ilmu, mufti para syadah mazhab
Syafi’iyah di Madinah an-Nabawiyah. Ia juga menjadi satu-satunya ulama (yang
memenuhi kriteria tersebut) pada zamannya.” (Al-Muradi, Silkud Durâr fî A’yânil
Qurûnits Tsâni ‘Asyar, [Beirut, Dârul Basyâ-iril Islâmiyyah, cetakan ketiga:
1988], juz I, halaman 293).
Sekilas Maulid Barzanji
Pujian-pujian yang ditulis oleh Sayyid Ja’far
al-Barzanji murni atas dasar kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad saw
sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada nabinya.
Secara ringkas Maulid Barzanji memiliki paparan sebagai berikut:
·
menjelaskan silsilah keturunan
Nabi Muhammad saw sampai pada moyangnya yang bernama ‘Adnan;
·
menjelaskan masa kecil dan
kelebihannya saat itu;
·
mengisahkan kisah Nabi
Muhammad saw saat ikut berdagang bersama pamannya ke kota Syam ketika berumur
12 tahun;
·
pernikahannya dengan Sayyidah
Khadijah ra pada umur 25 tahun; dan
·
pengangkatannya menjadi rasul
pada usia 40 tahun, dan dakwah Islamnya sampai umur 62 tahun.
·
Kemudian di akhir tulisan
menjelaskan kewafatan Rasulullah saw setelah semua tugasnya selesai secara
sempurna.
Maulid Barzanji juga menjelaskan beberapa
keistimewaan saat kelahiran Nabi Muhammad saw. Di antaranya, ia lahir dalam
keadaan langsung bersujud dan dalam keadaan bercelak. Dalam waktu yang sama
berbagai simbol-simbol kemusyrikan dihancurkan oleh Allah, seperti hancurnya
kerajaan Kisra yang besar, padamnya api sesembahan orang-orang Majusi yang
diyakini tidak bisa dipadamkan oleh siapapun selama ribuan tahun. Di saat itu
pula, semua hewan dan dan makhluk selain manusia merasakan kemuliaan dan
keagungannya. Hal ini ditandai dengan berbuahnya semua pohon-pohon yang tidak
pernah berbuah dalam rangka menghormat dan menyambut kelahiran makhluk paling
baik dan paling mulia.
Keutamaan Maulid Barzanji
Syekh
Muhammad Nawawi Banten, dalam kitab Madârijus Shu’ûd mengatakan, Maulid
Barzanji laksana media yang mampu menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan
(sihrul halâl) dan orang yang membacanya akan mendapatkan keridhaan dari Allah
swt. (Al-Bantani, Madârijus Shu’ûd, halaman 3). Syekh Nawawi Banten seolah hendak
mengatakan, dengan membaca Maulid Barzanji orang akan mendapatkan keutamaan
yang sangat banyak, di antaranya akan digampangkan semua urusannya, sebagaimana
sihir, namun Maulid Barzanji seolah sihir yang halal. Jika tujuan membacanya
agar terhindar dari penyakit, maka ia akan dijauhkan dari penyakit oleh Allah
swt. Tidak hanya itu, dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan kehormatan
berupa keridhaan dari Allah SWT.
Cara Bacanya
Cara membacanya secara khusus yaitu dengan
beberapa tahap sebagai berikut: Pertama, membaca surat al-Fatihah dihadiahkan
kepada Rasulullah saw dan Sayyid Ja’far al-Barzanji. Kedua, mengajak orang lain untuk bersama-sama
membaca shalawat kepada Rasulullah saw, sekaligus menyampaikan kepada mereka
bahwa dengan membaca shalawat oleh Allah akan diberikan ganjaran berupa surga
dan segala kenikmatan di dalamnya, dengan membaca bacaan sebagai berikut:
اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا
سَعْدٌ لِمَنْ
يُصَلِّي * وَيُسَلِّمُ
وَيُبَارِكُ عَلَيه
“Surga dan segala kenikmatannya merupakan kebahagiaan bagi orang-orang yang bershalawat, mendoakan keselamatan dan keberkahan baginya (Nabi Muhammad saw).”
Ketiga, setiap berpindah dari satu bab ke bab
lain, sebagaimana tertera dalam Maulid Barzanji, diakhiri dengan membaca bacaan
berikut:
عَطِّرِ اللهم
قَبْرَهُ الكَرِيْم،
بِعَرْفٍ شَدِيٍ
مِنْ صَلَاةٍ
وَتَسْلِيمٍ. اَللهم
صَلِّ وَسَلِّمْ
وَبَارِكْ عَلَيْه
“Ya Allah, berikanlah wewangian pada kuburnya
yang mulia, dengan wangian dari shalawat dan salam. Ya Allah, berilah shalawat,
salam dan keberkahan kepadanya.”
Sejarah Lahirnya Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Makkah pada
hari Senin, 12 Rabiulawal, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah, sekitar
tahun 570 - 571 Masehi. Beliau berasal dari Bani Hasyim, bagian dari suku
Quraisy. Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya
bernama Aminah binti Wahab. Ayah Nabi Muhammad SAW wafat sebelum beliau lahir.
Setelah kelahirannya, Nabi Muhammad SAW kemudian diasuh oleh Halimah
As-Sa'diyah pada masa kecilnya. Ketika berusia enam tahun, ibunda beliau,
Aminah, wafat. Selanjutnya beliau berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib,
kemudian pamannya, Abu Thalib. Sejak
kecil, Nabi Muhammad SAW dikenal memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau
dikenal sebagai Al-Amin, yang berarti orang yang terpercaya. Kejujuran, amanah,
kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan beliau menjadi teladan bagi seluruh umat
manusia. Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama dari
Allah SWT melalui Malaikat Jibril di Gua Hira. Sejak saat itu, beliau
menjalankan tugas sebagai Rasulullah untuk menyampaikan ajaran Islam, mengajak
manusia menyembah Allah SWT, meninggalkan kemusyrikan, serta membangun
kehidupan yang berlandaskan akhlak mulia.

Sumber: https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-8089023/maulid-nabi-2025-berapa-hijriah
Keutamaan Membaca Shalawat
Shalawat merupakan bentuk penghormatan, doa,
dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT sendiri memerintahkan
orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi dalam QS. Al-Ahzab ayat 56:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu
untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
Membaca shalawat memiliki banyak keutamaan, di antaranya:
1. Mendapatkan
rahmat dari Allah SWT.
Dalam
hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa siapa yang bershalawat
kepada beliau satu kali, Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.
2.
Menumbuhkan kecintaan kepada
Rasulullah SAW.
Semakin
sering mengingat dan bershalawat kepada beliau, semakin tumbuh rasa cinta
terhadap pribadi, perjuangan, dan akhlak Rasulullah SAW.
3.
Menjadi sarana mengingat
keteladanan Rasulullah.
Shalawat
seharusnya tidak hanya menjadi ucapan di lisan, tetapi juga mendorong kita
meneladani kejujuran, kesabaran, kasih sayang, amanah, dan akhlak beliau.
4.
Mendapatkan ketenangan hati.
Mengingat
Allah dan Rasul-Nya dapat menjadi bagian dari usaha mendekatkan diri kepada
Allah serta menenangkan hati.
5.
Menjadi ungkapan syukur atas
diutusnya Rasulullah SAW.
Rasulullah
SAW membawa risalah Islam, mengajarkan tauhid, serta menjadi teladan bagi umat
manusia.
Renungan
Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya dengan
menyebut namanya, tetapi dengan mengenal sirahnya, memperbanyak shalawat,
mencintai ajarannya, dan berusaha meneladani akhlaknya.
اللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَىٰ مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَىٰ
إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ
آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ
عَلَىٰ مُحَمَّدٍ
وَعَلَىٰ آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ عَلَىٰ
إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ
آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ
مَجِيدٌ
صَلَّى اللهُ
عَلَىٰ مُحَمَّدٍ،
صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam,
dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW.”
اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ وَبَارِكْ
عَلَىٰ سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ
Semoga shalawat yang kita lantunkan menjadi ungkapan cinta kepada
Rasulullah SAW dan menguatkan keinginan kita untuk mengenal, mencintai, dan
meneladani akhlak beliau. Semoga kita mendapatkan Syafaat Rasulullah SAW.
Aamiin Ya Rabbal'alamiin.
Sumber Rujukan:
-
Al-Barzanji, Sayyid Ja‘far bin
Hasan. ‘Iqd al-Jawāhir fī Mawlid an-Nabiyy al-Azhar (Maulid al-Barzanji). -
sebagai sumber utama mengenai isi, sirah, pujian, shalawat, dan doa dalam
Maulid Al-Barzanji.
-
Al-Bantani, Muhammad Nawawi.
Madārijus Shu‘ūd ilā Iktisā’il Burūd. Semarang: Thoha Putra. — sebagai rujukan
yang digunakan dalam pembahasan tentang Sayyid Ja‘far al-Barzanji dan
penjelasan mengenai Maulid Barzanji.
-
Al-Qhat‘ani, Muhammad.
Maulidul Barzanji Tashīh wa I‘tinā’. Libya: Tajoura, 2013 M/1434 H. - sebagai
rujukan biografi Sayyid Ja‘far al-Barzanji, termasuk kelahiran, wafat,
pendidikan, dan kedudukannya sebagai ulama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar