HIDUP JANGAN CUMA SCROLL, SESEKALI SOLVE
Oleh:
Dera Anisa Ratnasari, S.Pd *)
Namun,
bagi Liliana Cahya Ramdhani, semua itu bukan hal pertama yang ia lihat setiap
pagi.
Yang
pertama ia lihat adalah layar HP.
Alarm
berbunyi pukul 05.00. Lili mematikan alarm, membuka Instagram, lalu berpindah
ke TikTok. Awalnya hanya berniat melihat satu video. Lima belas menit kemudian,
ia masih berada di tempat tidur.
“Lili!
Bangun! Nanti kesiangan!”
Suara
ibunya terdengar dari luar kamar.
“Iya,
Bu!”
Lili
bangkit dengan malas. Tangannya masih menggenggam HP.
Satu
video lagi. Satu story lagi. Satu komentar lagi.
Begitulah
setiap pagi.
Dan
entah sejak kapan, “sebentar” menjadi satu jam.
1. KEHIDUPAN
YANG ADA DI DALAM LAYAR

Kalau
sedang tertarik pada sesuatu, ia bisa sangat bersemangat. Ia suka bercanda,
mudah bergaul, dan punya banyak teman. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang
sebenarnya punya kemampuan, hanya saja sering kehilangan fokus.
Masalahnya
cuma satu.
HP.
Atau
mungkin lebih tepatnya, cara Lili menggunakan HP.
Di
sekolah, Lili hampir selalu membawa HP di tangannya. Saat menunggu guru datang,
scroll. Saat istirahat, scroll. Saat menunggu teman membeli makanan di kantin,
scroll. Bahkan saat guru sedang menjelaskan sesuatu yang menurutnya “sudah
pernah dibahas”, HP menjadi tempat pelarian yang paling mudah.
Hari
itu, Lili duduk di bangku dekat jendela bersama sahabatnya, Naya. Di luar
kelas, langit Pangalengan terlihat mendung. Angin dingin masuk melalui jendela
yang terbuka dan membuat tirai bergerak perlahan.
“Li,
besok belajar, kan?”
“Belajar
apa?”
“Matematika.”
“Ah,
masih lama.”
“Besok
ulangan.”
“Justru
karena besok.”
Naya
menatapnya heran. “Logika dari mana?”
“Kan
kalau sekarang belajar, nanti lupa.”
Naya
tertawa kecil. “Alasan.”
Lili
hanya terkekeh sambil kembali menggeser layar.
Di
layar HP-nya, seorang influencer sedang bercerita tentang perjalanan masuk
universitas impiannya.
“Kalian
harus mulai mempersiapkan masa depan sejak sekarang...”
Lili
menonton sampai selesai.
Aneh.
Ia
bisa menghabiskan sepuluh menit mendengarkan orang lain berbicara tentang masa
depan, tetapi tidak sanggup menghabiskan sepuluh menit mengerjakan soal untuk
masa depannya sendiri.
2. ANGKA 43

Lili
duduk sambil memainkan ujung pulpen. Ia sebenarnya sudah tahu bahwa hasil
ulangannya tidak akan bagus. Tetapi ia tetap berharap ada keajaiban.
Satu
per satu kertas dibagikan. Sampai akhirnya sebuah kertas berhenti di mejanya.
Lili
melihat angka di pojok kanan atas.
43.
Ia
terdiam. Untuk beberapa detik, suara kelas seperti menghilang.
Tidak
ada suara kursi. Tidak ada suara teman. Tidak ada suara guru. Yang ada hanya
angka itu.
43.
Angka
yang terasa seperti tamparan.
Naya
melirik. “Li, berapa?”
“Biasa.”
“Biasa
itu berapa?”
Lili
buru-buru membalik kertas. “Udah, jangan kepo.”
Naya
tertawa. “Jangan-jangan empat puluh.”
Lili
langsung menatapnya. “Kenapa sih?”
Naya
terdiam. “Aku cuma bercanda.”
“Tapi
dari kemarin kamu kayak nge-judge aku terus.”
“Lho?”
“Ya
udah.”
Lili
memasukkan kertas ulangan ke dalam buku.
Percakapan
selesai. Tapi perasaan tidak.
Sepanjang
pelajaran berikutnya, Lili terus memikirkan perkataan Naya. Ia tahu Naya
sebenarnya tidak bermaksud jahat. Namun ketika seseorang sedang kecewa pada
dirinya sendiri, candaan sekecil apa pun bisa terdengar seperti sindiran.
3. SATU STORY,
SERIBU KESIMPULAN
Beberapa
hari setelah kejadian itu, hubungan Lili dan Naya mulai terasa berbeda. Tidak
ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya jarak kecil yang
semakin lama semakin terasa.
Naya
mulai sering belajar bersama Salsa, teman sekelas mereka. Mereka beberapa kali
terlihat duduk di perpustakaan sambil membuka buku dan laptop.
Lili
melihat semuanya. Awalnya ia tidak peduli. Setidaknya, itu yang ia katakan
kepada dirinya sendiri.
Sampai
suatu sore, ketika sedang rebahan di kamar, Lili melihat story Naya. Sebuah
foto meja belajar. Ada buku matematika, dua botol minuman, dan laptop.
Caption-nya:
“Study date. Semoga kita survive kelas XII.”
Lili
menatap layar. Dadanya terasa tidak nyaman.
Study
date sama Salsa?
Ia
menekan layar sekali lagi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama dirinya.
Lili
mulai berpikir macam-macam.
Jadi
sekarang dia lebih nyaman sama Salsa? Berarti selama ini aku cuma teman kalau
dia butuh? Atau jangan-jangan dia memang sudah bosan berteman sama aku?
Semakin
dipikirkan, semakin banyak kesimpulan yang muncul.
Tanpa
bertanya. Tanpa memastikan.
Lili
membuat story sendiri: “Lucu ya, ada orang yang berubah setelah merasa punya
circle baru.”
Ia
menekan tombol unggah.
Beberapa
menit kemudian, muncul balasan dari Naya: “Kalau mau ngomong, ngomong
langsung.”
Lili
langsung mengetik: “Nggak perlu. Aku sudah ngerti.”
Balasan
datang cepat: “Ngerti apa?”
Lili
menatap layar. Jarinya mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Akhirnya
ia hanya menulis: “Udahlah.”
Ia
mengunci HP. Namun lima menit kemudian, ia membukanya lagi. Tidak ada balasan.
Sepuluh
menit. Masih tidak ada.
Lili
membuka Instagram. Naya baru saja mengunggah story lain. Lili menatapnya, lalu
mematikan HP.
Tetapi
pikirannya tetap menyala.
4. MASALAH YANG
MEMBESAR KARENA DIAM

Di
grup kelas, pesan mengenai tugas kelompok mulai berdatangan.
Naya:
“Bagian Lili sudah selesai?”
Lili
membaca pesan itu. Ia merasa Naya sengaja menyindirnya di grup.
Ia
membalas: “Tanya aja langsung ke orangnya.”
Beberapa
detik kemudian grup menjadi sepi.
Lili
menyesal. Tapi gengsi membuatnya tidak mau menghapus pesan itu.
Siangnya,
guru meminta setiap kelompok mengumpulkan tugas. Ternyata bagian yang
seharusnya dikerjakan Lili belum selesai.
Naya
marah.
“Kita
sudah kasih tahu dari kemarin.”
“Bukannya
kamu yang nggak ngasih tahu?”
“Aku
sudah kirim di grup.”
“Aku
nggak lihat.”
“Ya
karena kamu nggak baca!”
Kalimat
itu membuat Lili terdiam. Ia tahu Naya benar. Tetapi mendengar kalimat itu
tetap menyakitkan.
“Ya
udah. Aku salah.”
Lili
pergi.
Di
koridor sekolah, langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia ingin
menangis, tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Yang
lebih menyebalkan adalah satu hal:
Lili
tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia marahi.
Naya?
Salsa? Nilainya? Atau dirinya sendiri?
5. KELAS XII
SEMAKIN DEKAT
Waktu
berjalan tanpa menunggu siapa pun. Semester berganti. Kelas XII semakin dekat.
Di
sekolah, pembicaraan mulai dipenuhi kata-kata seperti TKA, ujian, perguruan
tinggi, jurusan, seleksi masuk, dan masa depan.
Teman-teman
Lili mulai berubah. Ada yang membuat jadwal belajar. Ada yang mengikuti
bimbingan belajar. Ada yang mulai mencari informasi kampus. Ada yang sudah tahu
ingin menjadi dokter, guru, psikolog, arsitek, atau pengusaha.
Lili?
Ia
masih belum tahu.
Setiap
kali ditanya cita-citanya, jawabannya berubah. “Kayaknya psikologi.” Besoknya:
“Kayaknya komunikasi.” Minggu berikutnya: “Belum tahu.”
Sebenarnya
bukan tidak punya cita-cita. Lili hanya takut memilih.
Takut
salah. Takut gagal. Takut tidak cukup pintar.
Dan
yang paling ia takutkan adalah melihat teman-temannya melangkah lebih cepat
sementara dirinya masih berdiri di tempat.
Malam
itu, Lili membuka media sosial. Satu teman mengunggah sertifikat lomba. Teman
lain mengunggah hasil try out. Teman lain lagi memamerkan persiapan kuliah.
Lili
semakin merasa tertinggal. Ia scroll lebih cepat.
Tetapi
semakin cepat ia scroll, semakin banyak hal yang membuatnya merasa kurang.
Akhirnya
HP diletakkan di samping bantal. Lili menatap langit-langit kamar.
“Kenapa
hidup orang lain kelihatannya gampang banget?”
Tidak
ada yang menjawab.
6. PERCAKAPAN
DENGAN IBU

“Belum
tidur?”
“Belum,
Bu.”
“Belajar?”
Lili
terdiam. Ibunya melihat meja belajar. Buku matematika masih tertutup.
“Besok
ada ulangan?”
“Iya.”
“Sudah
belajar?”
Lili
menggeleng.
Ibunya
duduk di samping tempat tidur. Tidak marah. Tidak mengomel.
Justru
ketenangan itu membuat Lili semakin merasa bersalah.
“Kamu
sudah mau kelas XII, Li.”
“Iya.”
“Ibu
nggak minta kamu harus selalu dapat nilai bagus.”
Lili
menatap ibunya.
“Tapi
Ibu ingin kamu bertanggung jawab sama pilihanmu sendiri.”
Lili
diam.
“Kalau
kamu mau main HP, silakan. Kalau mau istirahat, silakan. Tapi kamu juga harus
siap menerima akibat dari pilihan itu.”
Kalimat
itu sederhana. Namun malam itu terasa berat.
Setelah
ibunya keluar, Lili mengambil kertas ulangannya.
43.
Untuk
pertama kalinya, ia tidak melihat angka itu sebagai nilai matematika. Ia
melihatnya sebagai hasil dari pilihan-pilihannya.
Ia
tidak belajar. Ia terlalu sering scroll. Ia menunda. Ia menghindari hal yang
sulit.
Dan
sekarang hasilnya ada di tangannya.
Lili
menarik napas.
“Berarti
yang harus diperbaiki bukan cuma nilai.”
7. SOLVE

Lili
menemukan Naya di perpustakaan.
“Nay.”
Naya
menoleh.
“Aku
mau ngomong.”
“Kenapa?”
Lili
duduk di depannya.
“Aku
minta maaf.”
Naya
diam.
“Aku
salah karena langsung menyimpulkan kamu ninggalin aku gara-gara Salsa.”
Naya
menghela napas.
“Aku
juga salah.”
Lili
mengerutkan kening.
“Aku
kira kamu marah sama aku karena nilai kamu jelek.”
Lili
tertawa kecil.
“Jadi
kita berdua sama-sama salah paham?”
“Iya.”
Mereka
saling diam. Kemudian tertawa.
Ternyata
study date itu memang hanya belajar bersama. Naya sedang meminta bantuan Salsa
membuat jadwal belajar untuk menghadapi kelas XII.
Tidak
ada pengkhianatan. Tidak ada sahabat baru yang menggantikan siapa pun.
Hanya
dua orang sahabat yang sama-sama terlalu cepat menyimpulkan.
Lili
menghela napas lega.
Namun
Naya kemudian bertanya, “Terus nilai kamu gimana?”
Lili
langsung cemberut.
“Jangan
bahas itu.”
“Kenapa?”
“Karena
aku malu.”
Naya
tersenyum.
“Kalau
mau, kita belajar bareng.”
Lili
menatap buku matematika di meja.
“Boleh.”
8. TIDAK ADA
PERUBAHAN DALAM SEMALAM
Lili
mulai membuat aturan sederhana. Bukan aturan yang sempurna. Hanya realistis.
Sebelum
membuka media sosial, ia harus belajar setidaknya satu jam.
HP
diletakkan jauh dari meja. Notifikasi dimatikan.
Kalau
tidak mengerti, bertanya. Kalau salah, mencari tahu. Kalau lelah, istirahat.
Dan
yang paling sulit: tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.
Hari
pertama tidak mudah. Lima belas menit belajar, tangannya ingin mengambil HP.
Hari
kedua lebih baik.
Hari
ketiga ia malah menghabiskan waktu menonton video motivasi tentang cara belajar
efektif. Setelah satu jam menonton, ia baru sadar bahwa ia belum belajar.
“Ya
ampun.”
Ia
tertawa sendiri.
Ternyata
kebiasaan tidak hilang hanya karena seseorang sudah berniat berubah.
Tetapi
Lili mulai belajar satu hal penting:
Perubahan
bukan tentang tidak pernah gagal. Perubahan adalah tentang kembali mencoba
setelah gagal.
9. SOAL YANG
SULIT
Suatu
sore, Lili dan Naya belajar di perpustakaan. Di luar, hujan turun cukup deras.
Atap sekolah terdengar dipukul oleh ribuan tetes air. Udara semakin dingin.
Lili
menatap satu soal matematika selama hampir sepuluh menit.
“Aku
nggak ngerti.”
Naya
melihat bukunya.
“Coba
dari langkah pertama.”
“Udah.”
“Terus?”
“Salah.”
“Ya
perbaiki.”
Lili
menghela napas.
“Aku
benci matematika.”
Naya
tertawa.
“Bukan
matematikanya yang kamu benci.”
“Terus?”
“Kamu
benci perasaan ketika nggak bisa.”
Lili
terdiam. Kalimat itu tepat sasaran.
Ia
memang sering menghindari sesuatu bukan karena tidak suka, tetapi karena takut
merasa bodoh.
Akhirnya
Lili mencoba lagi. Satu langkah. Salah. Diperbaiki. Langkah kedua. Salah lagi.
Diperbaiki.
Sampai
akhirnya jawabannya ditemukan.
Lili
menatap buku.
“Eh.”
Naya
tersenyum. “Kenapa?”
“Bener.”
“Terus?”
Lili
tersenyum lebar.
“Aku
bisa.”
Dan
untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia
dapatkan dari scrolling: kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuatu.
10. HARI UJIAN

Lili
masih merasa takut. Ia masih belum yakin dengan masa depannya. Ia masih kadang
membuka HP terlalu lama.
Namun
sekarang ia tidak lagi membiarkan satu kesalahan menentukan seluruh harinya.
Hari
ujian tiba. Pagi itu langit Pangalengan terlihat cerah. Udara dingin terasa
lebih segar dari biasanya.
Lili
duduk di kelas. Tangannya sedikit berkeringat.
Lembar
soal dibagikan.
Ia
membalik kertas.
Soal
pertama. Sulit.
Soal
kedua. Lebih sulit.
Jantungnya
berdebar.
Untuk
beberapa detik, pikiran lamanya muncul.
Aku
nggak bisa.
Namun
ia berhenti. Ia menarik napas.
Kemudian
mengingat sesuatu.
“Kalau
belum menemukan jawaban, bukan berarti tidak ada jalan. Cari dulu masalahnya.”
Lili
mulai mengerjakan.
Satu
soal. Dua soal. Tiga soal.
Tidak
semuanya mudah. Tidak semuanya bisa dijawab.
Tetapi
ia tidak menyerah.
11. SETELAH
SEMUA SELESAI
Selesai
ujian, Lili keluar kelas bersama Naya.
“Gimana?”
“Jujur?”
“Jujur.”
“Beberapa
soal bikin otak aku mau resign.”
Naya
tertawa.
“Tapi?”
Lili
tersenyum.
“Tapi
aku ngerjain.”
Mereka
berjalan menyusuri koridor. Beberapa siswa terlihat membicarakan soal ujian.
Ada yang tertawa, ada yang mengeluh, ada yang sibuk membandingkan jawaban.
Lili
mengambil HP dari dalam tas. Layar menyala. Notifikasi masuk bertubi-tubi.
Ia
membuka Instagram.
Jempolnya
bergerak otomatis.
Scroll.
Satu
video.
Kemudian
berhenti.
Lili
memandang layar cukup lama. Ia teringat dirinya beberapa bulan lalu.
Gadis
yang menghabiskan waktu berjam-jam melihat kehidupan orang lain. Gadis yang
mudah membandingkan diri. Gadis yang marah karena salah paham. Gadis yang
mendapatkan nilai 43 karena memilih tidak belajar.
Ia
tersenyum kecil.
Lalu
mematikan HP.
“Kenapa
nggak scroll?” tanya Naya.
Lili
memasukkan HP ke dalam tas.
“Boleh
scroll.”
Naya
mengangkat alis.
“Tapi?”
Lili
tersenyum.
“Hidup
aku jangan sampai cuma di situ.”
12. JAWABAN
YANG TIDAK ADA DI BUKU

Lili
berhenti sebentar. Ia melihat sekolahnya.
Tempat
yang beberapa bulan terakhir menjadi saksi banyak hal: nilai yang buruk,
pertengkaran, kesalahpahaman, rasa takut, tawa, belajar, dan perubahan kecil
yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Ia
membuka aplikasi catatan di HP. Kemudian menulis:
“Hidup
itu seperti matematika. Tidak semua soal mudah. Tidak semua jawaban langsung
ditemukan. Kadang kita salah menghitung. Kadang kita harus mengulang dari awal.
Kadang kita perlu bantuan orang lain.
Tapi
satu hal yang pasti: kalau masalah hanya di-scroll, masalah itu tidak akan
selesai.
Sesekali
berhenti.
Pikirkan.
Cari
tahu.
Kerjakan.
Solve.”
Lili
membaca kembali tulisannya. Kemudian tersenyum.
Ia
akhirnya memahami bahwa solve bukan hanya tentang menyelesaikan soal
matematika.
Solve
adalah ketika ia berani mengakui bahwa dirinya salah.
Solve
adalah ketika ia memilih berbicara daripada membuat asumsi.
Solve
adalah ketika ia belajar meskipun takut gagal.
Solve
adalah ketika ia berhenti membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Dan
solve adalah ketika ia sadar bahwa masa depan tidak akan berubah hanya karena
ia terus menontonnya dari layar.
Masa
depan harus dikerjakan.
Sedikit
demi sedikit.
Satu
langkah demi satu langkah.
Seperti
mengerjakan soal matematika.
Lili
memasukkan HP ke dalam tas.
“Yuk,”
katanya.
“Ke
mana?”
“Belajar.”
Naya
menatapnya tidak percaya.
“Baru
selesai ujian masih mau belajar?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Ngobrol
dulu. Habis itu belajar.”
Naya
tertawa.
“Lima
menit?”
Lili
menggeleng.
“Dua
jam.”
“Ini
benar-benar Lili?”
Lili
tersenyum.
“Versi
update.”
Mereka
berjalan sambil tertawa.
Dan
untuk pertama kalinya, Lili tidak sedang mengejar kehidupan orang lain melalui
layar.
Ia
sedang menjalani kehidupannya sendiri.
Dengan
segala kekurangannya. Dengan segala masalahnya. Dengan segala ketakutannya.
Karena
pada akhirnya, hidup tidak pernah menjanjikan semua soal akan mudah.
Tetapi
selalu ada pilihan untuk mencoba mencari jalan keluar.
Jangan
cuma scroll kehidupan orang lain.
Sesekali,
solve kehidupanmu sendiri.
Hidup
jangan cuma scroll. Sesekali solve.
*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi menjadi Staf Kurikulum. Alumni SM3T ntuk Penugasan di wilayah Kepuauan Nias

Tidak ada komentar:
Posting Komentar