"Freedom is not free. Salute to those who made it possible and keep their spirit alive."..#abuafifi

Minggu, 23 Agustus 2026

Short Story

 HIDUP JANGAN CUMA SCROLL, SESEKALI SOLVE

Oleh: Dera Anisa Ratnasari, S.Pd *)

Pagi di Pangalengan selalu punya cara sendiri untuk membangunkan orang. Udara dingin yang menyelinap dari celah jendela, kabut tipis yang masih menggantung di antara pepohonan, dan suara kendaraan yang sesekali melewati jalan menuju sekolah membuat suasana pagi terasa berbeda.

Namun, bagi Liliana Cahya Ramdhani, semua itu bukan hal pertama yang ia lihat setiap pagi.

Yang pertama ia lihat adalah layar HP.

Alarm berbunyi pukul 05.00. Lili mematikan alarm, membuka Instagram, lalu berpindah ke TikTok. Awalnya hanya berniat melihat satu video. Lima belas menit kemudian, ia masih berada di tempat tidur.

“Lili! Bangun! Nanti kesiangan!”

Suara ibunya terdengar dari luar kamar.

“Iya, Bu!”

Lili bangkit dengan malas. Tangannya masih menggenggam HP.

Satu video lagi. Satu story lagi. Satu komentar lagi.

Begitulah setiap pagi.

Dan entah sejak kapan, “sebentar” menjadi satu jam.

1. KEHIDUPAN YANG ADA DI DALAM LAYAR 

 
Lili adalah siswi kelas XI yang sebentar lagi akan memasuki kelas XII di SMAN 1 Pangalengan. Ia sebenarnya bukan anak yang malas.

Kalau sedang tertarik pada sesuatu, ia bisa sangat bersemangat. Ia suka bercanda, mudah bergaul, dan punya banyak teman. Guru-guru mengenalnya sebagai anak yang sebenarnya punya kemampuan, hanya saja sering kehilangan fokus.

Masalahnya cuma satu.

HP.

Atau mungkin lebih tepatnya, cara Lili menggunakan HP.

Di sekolah, Lili hampir selalu membawa HP di tangannya. Saat menunggu guru datang, scroll. Saat istirahat, scroll. Saat menunggu teman membeli makanan di kantin, scroll. Bahkan saat guru sedang menjelaskan sesuatu yang menurutnya “sudah pernah dibahas”, HP menjadi tempat pelarian yang paling mudah.

Hari itu, Lili duduk di bangku dekat jendela bersama sahabatnya, Naya. Di luar kelas, langit Pangalengan terlihat mendung. Angin dingin masuk melalui jendela yang terbuka dan membuat tirai bergerak perlahan.

“Li, besok belajar, kan?”

“Belajar apa?”

“Matematika.”

“Ah, masih lama.”

“Besok ulangan.”

“Justru karena besok.”

Naya menatapnya heran. “Logika dari mana?”

“Kan kalau sekarang belajar, nanti lupa.”

Naya tertawa kecil. “Alasan.”

Lili hanya terkekeh sambil kembali menggeser layar.

Di layar HP-nya, seorang influencer sedang bercerita tentang perjalanan masuk universitas impiannya.

“Kalian harus mulai mempersiapkan masa depan sejak sekarang...”

Lili menonton sampai selesai.

Aneh.

Ia bisa menghabiskan sepuluh menit mendengarkan orang lain berbicara tentang masa depan, tetapi tidak sanggup menghabiskan sepuluh menit mengerjakan soal untuk masa depannya sendiri.

2. ANGKA 43 

 
Dua hari kemudian, kelas terasa lebih sunyi dari biasanya. Guru matematika berdiri di depan kelas sambil membawa tumpukan kertas ulangan. Suara kertas yang dibolak-balik terdengar jelas di tengah ruangan.

Lili duduk sambil memainkan ujung pulpen. Ia sebenarnya sudah tahu bahwa hasil ulangannya tidak akan bagus. Tetapi ia tetap berharap ada keajaiban.

Satu per satu kertas dibagikan. Sampai akhirnya sebuah kertas berhenti di mejanya.

Lili melihat angka di pojok kanan atas.

43.

Ia terdiam. Untuk beberapa detik, suara kelas seperti menghilang.

Tidak ada suara kursi. Tidak ada suara teman. Tidak ada suara guru. Yang ada hanya angka itu.

43.

Angka yang terasa seperti tamparan.

Naya melirik. “Li, berapa?”

“Biasa.”

“Biasa itu berapa?”

Lili buru-buru membalik kertas. “Udah, jangan kepo.”

Naya tertawa. “Jangan-jangan empat puluh.”

Lili langsung menatapnya. “Kenapa sih?”

Naya terdiam. “Aku cuma bercanda.”

“Tapi dari kemarin kamu kayak nge-judge aku terus.”

“Lho?”

“Ya udah.”

Lili memasukkan kertas ulangan ke dalam buku.

Percakapan selesai. Tapi perasaan tidak.

Sepanjang pelajaran berikutnya, Lili terus memikirkan perkataan Naya. Ia tahu Naya sebenarnya tidak bermaksud jahat. Namun ketika seseorang sedang kecewa pada dirinya sendiri, candaan sekecil apa pun bisa terdengar seperti sindiran.

3. SATU STORY, SERIBU KESIMPULAN

Beberapa hari setelah kejadian itu, hubungan Lili dan Naya mulai terasa berbeda. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya jarak kecil yang semakin lama semakin terasa.

Naya mulai sering belajar bersama Salsa, teman sekelas mereka. Mereka beberapa kali terlihat duduk di perpustakaan sambil membuka buku dan laptop.

Lili melihat semuanya. Awalnya ia tidak peduli. Setidaknya, itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Sampai suatu sore, ketika sedang rebahan di kamar, Lili melihat story Naya. Sebuah foto meja belajar. Ada buku matematika, dua botol minuman, dan laptop.

Caption-nya: “Study date. Semoga kita survive kelas XII.”

Lili menatap layar. Dadanya terasa tidak nyaman.

Study date sama Salsa?

Ia menekan layar sekali lagi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada nama dirinya.

Lili mulai berpikir macam-macam.

Jadi sekarang dia lebih nyaman sama Salsa? Berarti selama ini aku cuma teman kalau dia butuh? Atau jangan-jangan dia memang sudah bosan berteman sama aku?

Semakin dipikirkan, semakin banyak kesimpulan yang muncul.

Tanpa bertanya. Tanpa memastikan.

Lili membuat story sendiri: “Lucu ya, ada orang yang berubah setelah merasa punya circle baru.”

Ia menekan tombol unggah.

Beberapa menit kemudian, muncul balasan dari Naya: “Kalau mau ngomong, ngomong langsung.”

Lili langsung mengetik: “Nggak perlu. Aku sudah ngerti.”

Balasan datang cepat: “Ngerti apa?”

Lili menatap layar. Jarinya mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya menulis: “Udahlah.”

Ia mengunci HP. Namun lima menit kemudian, ia membukanya lagi. Tidak ada balasan.

Sepuluh menit. Masih tidak ada.

Lili membuka Instagram. Naya baru saja mengunggah story lain. Lili menatapnya, lalu mematikan HP.

Tetapi pikirannya tetap menyala.

4. MASALAH YANG MEMBESAR KARENA DIAM 

 
Keesokan harinya, suasana kelas terasa aneh. Lili duduk bersama teman-teman lain. Naya juga tidak menghampirinya.

Di grup kelas, pesan mengenai tugas kelompok mulai berdatangan.

Naya: “Bagian Lili sudah selesai?”

Lili membaca pesan itu. Ia merasa Naya sengaja menyindirnya di grup.

Ia membalas: “Tanya aja langsung ke orangnya.”

Beberapa detik kemudian grup menjadi sepi.

Lili menyesal. Tapi gengsi membuatnya tidak mau menghapus pesan itu.

Siangnya, guru meminta setiap kelompok mengumpulkan tugas. Ternyata bagian yang seharusnya dikerjakan Lili belum selesai.

Naya marah.

“Kita sudah kasih tahu dari kemarin.”

“Bukannya kamu yang nggak ngasih tahu?”

“Aku sudah kirim di grup.”

“Aku nggak lihat.”

“Ya karena kamu nggak baca!”

Kalimat itu membuat Lili terdiam. Ia tahu Naya benar. Tetapi mendengar kalimat itu tetap menyakitkan.

“Ya udah. Aku salah.”

Lili pergi.

Di koridor sekolah, langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia ingin menangis, tetapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.

Yang lebih menyebalkan adalah satu hal:

Lili tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia marahi.

Naya? Salsa? Nilainya? Atau dirinya sendiri?

5. KELAS XII SEMAKIN DEKAT

Waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun. Semester berganti. Kelas XII semakin dekat.

Di sekolah, pembicaraan mulai dipenuhi kata-kata seperti TKA, ujian, perguruan tinggi, jurusan, seleksi masuk, dan masa depan.

Teman-teman Lili mulai berubah. Ada yang membuat jadwal belajar. Ada yang mengikuti bimbingan belajar. Ada yang mulai mencari informasi kampus. Ada yang sudah tahu ingin menjadi dokter, guru, psikolog, arsitek, atau pengusaha.

Lili?

Ia masih belum tahu.

Setiap kali ditanya cita-citanya, jawabannya berubah. “Kayaknya psikologi.” Besoknya: “Kayaknya komunikasi.” Minggu berikutnya: “Belum tahu.”

Sebenarnya bukan tidak punya cita-cita. Lili hanya takut memilih.

Takut salah. Takut gagal. Takut tidak cukup pintar.

Dan yang paling ia takutkan adalah melihat teman-temannya melangkah lebih cepat sementara dirinya masih berdiri di tempat.

Malam itu, Lili membuka media sosial. Satu teman mengunggah sertifikat lomba. Teman lain mengunggah hasil try out. Teman lain lagi memamerkan persiapan kuliah.

Lili semakin merasa tertinggal. Ia scroll lebih cepat.

Tetapi semakin cepat ia scroll, semakin banyak hal yang membuatnya merasa kurang.

Akhirnya HP diletakkan di samping bantal. Lili menatap langit-langit kamar.

“Kenapa hidup orang lain kelihatannya gampang banget?”

Tidak ada yang menjawab.

6. PERCAKAPAN DENGAN IBU 

 
Malam semakin larut. Rumah sudah sunyi ketika ibunya masuk ke kamar. Lampu kamar Lili masih menyala.

“Belum tidur?”

“Belum, Bu.”

“Belajar?”

Lili terdiam. Ibunya melihat meja belajar. Buku matematika masih tertutup.

“Besok ada ulangan?”

“Iya.”

“Sudah belajar?”

Lili menggeleng.

Ibunya duduk di samping tempat tidur. Tidak marah. Tidak mengomel.

Justru ketenangan itu membuat Lili semakin merasa bersalah.

“Kamu sudah mau kelas XII, Li.”

“Iya.”

“Ibu nggak minta kamu harus selalu dapat nilai bagus.”

Lili menatap ibunya.

“Tapi Ibu ingin kamu bertanggung jawab sama pilihanmu sendiri.”

Lili diam.

“Kalau kamu mau main HP, silakan. Kalau mau istirahat, silakan. Tapi kamu juga harus siap menerima akibat dari pilihan itu.”

Kalimat itu sederhana. Namun malam itu terasa berat.

Setelah ibunya keluar, Lili mengambil kertas ulangannya.

43.

Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat angka itu sebagai nilai matematika. Ia melihatnya sebagai hasil dari pilihan-pilihannya.

Ia tidak belajar. Ia terlalu sering scroll. Ia menunda. Ia menghindari hal yang sulit.

Dan sekarang hasilnya ada di tangannya.

Lili menarik napas.

“Berarti yang harus diperbaiki bukan cuma nilai.”

7. SOLVE 

 
Besok paginya, Lili datang lebih awal. Udara sekolah masih dingin. Lapangan belum terlalu ramai. Beberapa siswa baru datang dan berjalan menuju kelas sambil membawa tas.

Lili menemukan Naya di perpustakaan.

“Nay.”

Naya menoleh.

“Aku mau ngomong.”

“Kenapa?”

Lili duduk di depannya.

“Aku minta maaf.”

Naya diam.

“Aku salah karena langsung menyimpulkan kamu ninggalin aku gara-gara Salsa.”

Naya menghela napas.

“Aku juga salah.”

Lili mengerutkan kening.

“Aku kira kamu marah sama aku karena nilai kamu jelek.”

Lili tertawa kecil.

“Jadi kita berdua sama-sama salah paham?”

“Iya.”

Mereka saling diam. Kemudian tertawa.

Ternyata study date itu memang hanya belajar bersama. Naya sedang meminta bantuan Salsa membuat jadwal belajar untuk menghadapi kelas XII.

Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada sahabat baru yang menggantikan siapa pun.

Hanya dua orang sahabat yang sama-sama terlalu cepat menyimpulkan.

Lili menghela napas lega.

Namun Naya kemudian bertanya, “Terus nilai kamu gimana?”

Lili langsung cemberut.

“Jangan bahas itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku malu.”

Naya tersenyum.

“Kalau mau, kita belajar bareng.”

Lili menatap buku matematika di meja.

“Boleh.”

8. TIDAK ADA PERUBAHAN DALAM SEMALAM

Lili mulai membuat aturan sederhana. Bukan aturan yang sempurna. Hanya realistis.

Sebelum membuka media sosial, ia harus belajar setidaknya satu jam.

HP diletakkan jauh dari meja. Notifikasi dimatikan.

Kalau tidak mengerti, bertanya. Kalau salah, mencari tahu. Kalau lelah, istirahat.

Dan yang paling sulit: tidak membandingkan dirinya dengan orang lain.

Hari pertama tidak mudah. Lima belas menit belajar, tangannya ingin mengambil HP.

Hari kedua lebih baik.

Hari ketiga ia malah menghabiskan waktu menonton video motivasi tentang cara belajar efektif. Setelah satu jam menonton, ia baru sadar bahwa ia belum belajar.

“Ya ampun.”

Ia tertawa sendiri.

Ternyata kebiasaan tidak hilang hanya karena seseorang sudah berniat berubah.

Tetapi Lili mulai belajar satu hal penting:

Perubahan bukan tentang tidak pernah gagal. Perubahan adalah tentang kembali mencoba setelah gagal.

9. SOAL YANG SULIT

Suatu sore, Lili dan Naya belajar di perpustakaan. Di luar, hujan turun cukup deras. Atap sekolah terdengar dipukul oleh ribuan tetes air. Udara semakin dingin.

Lili menatap satu soal matematika selama hampir sepuluh menit.

“Aku nggak ngerti.”

Naya melihat bukunya.

“Coba dari langkah pertama.”

“Udah.”

“Terus?”

“Salah.”

“Ya perbaiki.”

Lili menghela napas.

“Aku benci matematika.”

Naya tertawa.

“Bukan matematikanya yang kamu benci.”

“Terus?”

“Kamu benci perasaan ketika nggak bisa.”

Lili terdiam. Kalimat itu tepat sasaran.

Ia memang sering menghindari sesuatu bukan karena tidak suka, tetapi karena takut merasa bodoh.

Akhirnya Lili mencoba lagi. Satu langkah. Salah. Diperbaiki. Langkah kedua. Salah lagi. Diperbaiki.

Sampai akhirnya jawabannya ditemukan.

Lili menatap buku.

“Eh.”

Naya tersenyum. “Kenapa?”

“Bener.”

“Terus?”

Lili tersenyum lebar.

“Aku bisa.”

Dan untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari scrolling: kepuasan karena berhasil menyelesaikan sesuatu.

10. HARI UJIAN 

 
Beberapa bulan kemudian, suasana sekolah berubah. Kelas XII semakin dekat dengan berbagai ujian dan asesmen. Jadwal belajar semakin padat. Guru-guru mulai memberikan latihan lebih banyak.

Lili masih merasa takut. Ia masih belum yakin dengan masa depannya. Ia masih kadang membuka HP terlalu lama.

Namun sekarang ia tidak lagi membiarkan satu kesalahan menentukan seluruh harinya.

Hari ujian tiba. Pagi itu langit Pangalengan terlihat cerah. Udara dingin terasa lebih segar dari biasanya.

Lili duduk di kelas. Tangannya sedikit berkeringat.

Lembar soal dibagikan.

Ia membalik kertas.

Soal pertama. Sulit.

Soal kedua. Lebih sulit.

Jantungnya berdebar.

Untuk beberapa detik, pikiran lamanya muncul.

Aku nggak bisa.

Namun ia berhenti. Ia menarik napas.

Kemudian mengingat sesuatu.

“Kalau belum menemukan jawaban, bukan berarti tidak ada jalan. Cari dulu masalahnya.”

Lili mulai mengerjakan.

Satu soal. Dua soal. Tiga soal.

Tidak semuanya mudah. Tidak semuanya bisa dijawab.

Tetapi ia tidak menyerah.

11. SETELAH SEMUA SELESAI

Selesai ujian, Lili keluar kelas bersama Naya.

“Gimana?”

“Jujur?”

“Jujur.”

“Beberapa soal bikin otak aku mau resign.”

Naya tertawa.

“Tapi?”

Lili tersenyum.

“Tapi aku ngerjain.”

Mereka berjalan menyusuri koridor. Beberapa siswa terlihat membicarakan soal ujian. Ada yang tertawa, ada yang mengeluh, ada yang sibuk membandingkan jawaban.

Lili mengambil HP dari dalam tas. Layar menyala. Notifikasi masuk bertubi-tubi.

Ia membuka Instagram.

Jempolnya bergerak otomatis.

Scroll.

Satu video.

Kemudian berhenti.

Lili memandang layar cukup lama. Ia teringat dirinya beberapa bulan lalu.

Gadis yang menghabiskan waktu berjam-jam melihat kehidupan orang lain. Gadis yang mudah membandingkan diri. Gadis yang marah karena salah paham. Gadis yang mendapatkan nilai 43 karena memilih tidak belajar.

Ia tersenyum kecil.

Lalu mematikan HP.

“Kenapa nggak scroll?” tanya Naya.

Lili memasukkan HP ke dalam tas.

“Boleh scroll.”

Naya mengangkat alis.

“Tapi?”

Lili tersenyum.

“Hidup aku jangan sampai cuma di situ.”

12. JAWABAN YANG TIDAK ADA DI BUKU 

 
Mereka berjalan menuju halaman sekolah. Angin Pangalengan bertiup pelan. Dari kejauhan terlihat pepohonan yang bergerak mengikuti arah angin. Suara siswa bercampur dengan suara kendaraan dan aktivitas sekolah.

Lili berhenti sebentar. Ia melihat sekolahnya.

Tempat yang beberapa bulan terakhir menjadi saksi banyak hal: nilai yang buruk, pertengkaran, kesalahpahaman, rasa takut, tawa, belajar, dan perubahan kecil yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.

Ia membuka aplikasi catatan di HP. Kemudian menulis:

“Hidup itu seperti matematika. Tidak semua soal mudah. Tidak semua jawaban langsung ditemukan. Kadang kita salah menghitung. Kadang kita harus mengulang dari awal. Kadang kita perlu bantuan orang lain.

Tapi satu hal yang pasti: kalau masalah hanya di-scroll, masalah itu tidak akan selesai.

Sesekali berhenti.

Pikirkan.

Cari tahu.

Kerjakan.

Solve.”

Lili membaca kembali tulisannya. Kemudian tersenyum.

Ia akhirnya memahami bahwa solve bukan hanya tentang menyelesaikan soal matematika.

Solve adalah ketika ia berani mengakui bahwa dirinya salah.

Solve adalah ketika ia memilih berbicara daripada membuat asumsi.

Solve adalah ketika ia belajar meskipun takut gagal.

Solve adalah ketika ia berhenti membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.

Dan solve adalah ketika ia sadar bahwa masa depan tidak akan berubah hanya karena ia terus menontonnya dari layar.

Masa depan harus dikerjakan.

Sedikit demi sedikit.

Satu langkah demi satu langkah.

Seperti mengerjakan soal matematika.

Lili memasukkan HP ke dalam tas.

“Yuk,” katanya.

“Ke mana?”

“Belajar.”

Naya menatapnya tidak percaya.

“Baru selesai ujian masih mau belajar?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Ngobrol dulu. Habis itu belajar.”

Naya tertawa.

“Lima menit?”

Lili menggeleng.

“Dua jam.”

“Ini benar-benar Lili?”

Lili tersenyum.

“Versi update.”

Mereka berjalan sambil tertawa.

Dan untuk pertama kalinya, Lili tidak sedang mengejar kehidupan orang lain melalui layar.

Ia sedang menjalani kehidupannya sendiri.

Dengan segala kekurangannya. Dengan segala masalahnya. Dengan segala ketakutannya.

Karena pada akhirnya, hidup tidak pernah menjanjikan semua soal akan mudah.

Tetapi selalu ada pilihan untuk mencoba mencari jalan keluar.

Jangan cuma scroll kehidupan orang lain.

Sesekali, solve kehidupanmu sendiri.

Hidup jangan cuma scroll. Sesekali solve.

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan. Diamanahi menjadi Staf Kurikulum. Alumni SM3T ntuk Penugasan di wilayah Kepuauan Nias

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Short Story

  HIDUP JANGAN CUMA SCROLL , SESEKALI SOLVE Oleh: Dera Anisa Ratnasari, S.Pd *) Pagi di Pangalengan selalu punya cara sendiri untuk memb...