"I hope that before the test, God will always protect you and give you the strength of patience that is so strong...by abuafifi "

Senin, 18 Mei 2026

Artphedia

  “KINTSUGI” SENI MERAYAKAN LUKA DAN KETIDAKSEMPURNAAN HIDUP VERSI JEPANG

Oleh: Lia Nurpalah, S.Pd  *)

Minasan coba perhatikan mangkuk di bawah ini

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto-foto/kintsugi

Mangkuk di atas merupakan salah satu contoh dari seni Kintsugi . Secara harfiah kata Kintsugi berarti “menyambung dengan emas”. Kintsugi merupakan seni merangkai kembali keramik yang pecah dengan menggunakan emas agar kembali menjadi utuh dan menjadi karya seni baru serta bernilai tinggi.

 
Sumber: https://samuraiwr.com/persons/ashikaga-yoshimasa

Seni Kintsugi lahir pada abad ke 15. Pada saat itu Shogun Ashikaga Yoshimaya memecahkan mangkok teh kesayangannya. Lalu mangkok tersebut dikirim ke China untuk diperbaiki. Namun mangkok tersebut distaples dengan menggunakan besi jelek.

 

Sumber: https://x.com/ForceMaterial/status/1111276504049045504

Kecewa dengan hasilnya, pengrajin Jepang mencari cara lain yang lebih estetis. Maka lahirlah seni kintsugi, dimana kerusakan tidak disembunyikan melainkan dipamerkan sebagai bagian dari sejarah barang tersebut. Pada artikel ini tidak akan dibahas mengenai teknik mengelem keramik, namun mengenai Filosopi dari Kintsugi itu sendiri.

                Manusia di dunia ini pernah mengalami kegagalan, baik di dunia kerja, keluarga maupun percintaan. Kegagalan membuat manusia kecewa, hancur dan tidak mungkin bisa “disatukan “ kembali. Dari seni kintsugi, kita bisa belajar bahwa diri yang hancur karena kegagalan bisa kembali utuh kembali. Mari kita lihat Filosopi lainnya yang bisa dijadikan pedoman atau pegangan hidup.

  1. Menerima Kekurangan (Wabi sabi).

Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Kekurangan hadir diiringi dengan kelebihan. Kelebihan hadir untuk menutupi kekurangan kita. Kelebihan yang dimiliki tidak akan muncul kalau tidak ada kekurangan.

 

Sumber: https://derekjwheeler.wordpress.com/2023/09/28/kintsugi

Penerimaan merupakan salah satu gerbang kebahagiaan. Kebanyakan dari kita menolak kekurangan, kegagalan, dan kekecewaan. Jadikan kegagalan sebagai warna dalam kehidupan kita. Tanpa kegagalan kita tidak akan pernah berhasil. Bangkit dan kita perbaiki mana yang bisa diperbaiki.

  1. Luka adalah sejarah, bukan hal yang memalukan.

umber: https://newmedia.calcalist.co.il/magazine-15-09-22/m05.html

Setiap goresan dan kepingan luka kita rajut dengan harapan. Harapan itu masih ada selagi kita diberi nafas. Luka itu mengajarkan bahwa kita harus waspada dan berhati hati dalam bertindak. Selain itu luka adalah sejarah yang mana kita bisa belajar dari peristiwa tersebut. Jadikan sejarah sebagai kompas dan cermin untuk kita melangkah ke depan.

  1. Menghargai Proses penyembuhan.

Merajut asa merakit kepingan kepingan luka supaya sembuh, tidak akan begitu mudah. Sama halnya dengan merakit kembali kepingan kepingan keramik yang pecah,butuh waktu dan proses yang sedikit panjang.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menerima luka tersebut secara sadar. Lalu lepaskan emosi negatif yang ada di dalam diri, dengan journaling menulis semua emosi yang dirasakan. Setelah itu kita merekonstruksi diri dan membangun kembali rutinitas hidup yang sempat hancur. Berikutnya adalah menunggu dengan sabar proses rekonstruksi tersebut. Terakhir menemukan hikmah dan kekuatan baru untuk maju dan melangkah.

Simpulan yang bisa diambil dari Filosopi Kintsugi adalah sesakit apapun sehancur apapun hidup dan diri manusia pasti ada hikmah pelajaran yang bisa diambil dan dijadikan acuan untuk melangkah dan melanjutkan hidup. Allah menciptakan manusia untuk bahagia. Jadi minasan 

BERBAHAGIALAH !!!!KITA RAYAKAN HIDUP INI DENGAN SUKA CITA!!!

 

*) Guru Bahasa Jepang di SMAN 1 Pangalengan. Pembina ekstrakurikuler Japanese Club

**) dirangkum dari beberapa sumber

18 komentar:

  1. makasih bu alpirji x-d

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas literasinyaa, sangat bermanfaat 🙇🏻‍♀️🙇🏻‍♀️
    - Thalia umuri x-a

    BalasHapus
  3. Terimakasih Ibu atas literasinya
    Dara XB

    BalasHapus
  4. terimakasih ibu literasinya sangat bermanfaat
    Fira X-B

    BalasHapus
  5. terimakasih atas literasinya

    BalasHapus
  6. Trimakasih untuk literasi nya🙏

    BalasHapus
  7. terimakasih atas literasinya rizty nurul X-A

    BalasHapus
  8. terimakasih atas literasinya bu🙏🏻
    Laila X-A

    BalasHapus
  9. terimakasih atas literasinya, sangat bermanfaat
    Aprilia xe

    BalasHapus
  10. Terimakasih ibu atas literasinya,sangat bermanfaat
    Farisa X-E

    BalasHapus
  11. Terimakasih ibu atas literasinya
    Wafiq X-E

    BalasHapus
  12. terimakasih atas literasinya ibu

    BalasHapus
  13. terimakasih atas literasinya
    -susi anjani x-a

    BalasHapus
  14. terimakasih literasinya
    qiran x-a

    BalasHapus
  15. terimakasih ibu atas literasinya
    -nayla X-A

    BalasHapus
  16. Alisya Ekarahma Novita X-A19 Mei 2026 pukul 07.00

    Terimakasi atas literasinya, sangatt bermanfaat 😆🙏

    BalasHapus
  17. terima kasih atas literasinya
    ayra x-e

    BalasHapus

Family Values

  IBU, PILAR UTAMA KELUARGA YANG TAK TERGANTIKAN Oleh: Rina Marlina, S.Pd *) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang memiliki...