"Leaders are not born, they are made. And they are made just like anything else, through hard work and determination." @abuafifi

Kamis, 28 Agustus 2025

Industrial Revolution 4.0

 DAMPAK DAN PERAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0  DALAM KEHIDUPAN

Oleh: XII B1

 

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah Revolusi Industri. Namun, apa sebenarnya arti dari revolusi ini, dan apakah kita menyadari kapan serta berapa kali dunia telah mengalaminya? Revolusi Industri adalah proses perubahan besar dalam bidang ekonomi yang ditandai dengan kemajuan mesin, manufaktur, dan teknologi. Sepanjang sejarah, dunia telah mengalami empat fase revolusi. Fase pertama ditandai dengan mekanisasi di bidang tekstil, fase kedua dengan penggunaan listrik yang mempercepat produksi, fase ketiga dengan hadirnya komputer dan mesin otomatis, dan fase keempat, yang kita alami saat ini ditandai dengan perkembangan teknologi digital seperti internet, IoT, dan kecerdasan buatan (AI).Mari kita bahas lebih dalam mengenai Revolusi Industri 4.0.


 Sumber:https://pattae.com/revolusi-industri-mengubah-cara-hidup/

Revolusi Industri 4.0 adalah istilah yang merujuk pada tahap evolusi industri yang ditandai oleh adopsi luas teknologi digital, kecerdasan buatan, konektivitas, dan integrasi sistem dalam berbagai aspek produksi dan kehidupan manusia. Segala Perubahan tentu memiliki dampak positif dan negatif yang dirasakan.

a.       Dampak Positif

·         Memudahkan komunikasi dan akses informasi.

·         Munculnya lapangan kerja baru berbasis teknologi digital.

·         Mempercepat inovasi dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

b.       Dampak Negatif

·         Ancaman hilangnya tenaga kerja manusia karena digantikan mesin.

·         Meningkatnya kesenjangan digital antara yang menguasai teknologi dan yang tidak.

·         Risiko keamanan data.

 
Sumber: https://www.maxmanroe.com/revolusi-industri-4-0.html

Dampak teknologi tidak hanya soal mempermudah dan mempersulit hidup manusia, tetapi juga dapat digunakan untuk mengatasi berbagai persoalan sosial. Beberapa contoh pemanfaatannya adalah:

a.       Internet of Things atau IoT

Merupakan sebuah konsep dimana sebuah objek yang memiliki kemampuan untuk dapat mentransfer data yang ada melalui jaringan tanpa diperlukannya interaksi antar manusia. Contoh pemanfaatannya untuk persoalan sosial adalah digunakan dalam sistem pemantauan lalu lintas, mengatur lampu jalan otomatis,

b.      Big Data

Big Data merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan volume data dalam jumlah yang besar, baik data yang terstruktur maupun tidak terstruktur.

Pemanfaatan big data dalam kehidupan sehari-hari sangat luas, termasuk rekomendasi konten dan produk yang dipersonalisasi, layanan transportasi dan navigasi yang lebih efisien,

c.       Artificial Intelligence atau AI

AI sendiri merupakan sebuah bentuk teknologi komputer maupun sebuah mesin yang memiliki kecerdasan layaknya seorang manusia. Pemanfaatannya dapat Membantu dalam pelayanan kesehatan dengan diagnosis penyakit lebih cepat, chatbot pelayanan publik, hingga sistem keamanan cerdas.

 

Sumber: https://www.neilsahota.com/what-is-artificial-intelligence-how-does-it-work/

d.      Cloud Computing

Cloud computing yang merupakan sebuah teknologi yang menjadikan internet saat ini sebagai pusat pengelolaan data maupun aplikasi. Memudahkan akses data dari mana saja dan kapan saja, penyimpanan data yang besar secara online (misalnya di Google Drive atau iCloud)

Peran revolusi industri sangat terasa diberbagai sektor kehidupan. Dampaknya meliputi bidang

·   Manufaktur

Penggunaan robotik dan kecerdasan buatan (AI) mengotomatisasi proses produksi, meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

·   Kesehatan

Aplikasi online untuk mengakses jaminan kesehatan dan sistem rujukan yang berbasis IT dapat mempermudah pelayanan.

·   Perbankan

Adanya dompet digital dan bank digital yang dapat memudahkan transaksi di mana saja juga kapan saja.

Sumber: https://latinia.com/en/resources/artificial-intelligence-banking-comprehensive-outlook-2024

·   Pendidikan

Sistem E learning yang dapat mengefisienkan pembelajaran. Berbagai macam inovasi pembelajaran sehingga memicu kreativitas siswa dan guru.

 

Dengan demikian, Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi manusia untuk beradaptasi, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi secara bijak demi terciptanya kehidupan yang lebih efisien, maju, dan seimbang.

 

Sumber Rujukan:

-       https://www.ad-ins.com/id/our-story/kisah-adins/apa-itu-revolusi-industri-4-0/

-       https://www.gramedia.com/best-seller/revolusi-industri-4- 0/?srsltid=AfmBOoret5tIOgsT7obSK9OY9wwuG- mGFPoxLM1MqAD0zeWZXPJ0JwTf#Jenis_Teknologi_di_Dalam_Revolusi_I ndustri_40

-       https://lpkia.ac.id/peningkatan-kompetensi-era-revolusi-industri-4-0/

https://sahabat.pegadaian.co.id/artikel/wirausaha/revolusi-industri-adalah

Rabu, 27 Agustus 2025

CITIZENSHIP

 Unsur-Unsur Terbentuknya Negara dalam Perspektif Hukum Ketatanegaraan

Oleh:  Zenal Muttaqin, S.H.I *)

 

Negara bukanlah entitas yang muncul begitu saja. Dari sudut pandang hukum ketatanegaraan, terbentuknya sebuah negara diakui secara legal dan sah jika memenuhi unsur-unsur konstitutif (pembentuk) dan unsur-unsur deklaratif (pengakuan). Kedua jenis unsur ini saling melengkapi dan menjadi syarat mutlak bagi eksistensi sebuah negara dalam tatanan internasional. 

 
Sumber: https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=ZRH%2BT9Ju&id=

Unsur Konstitutif. Fondasi Berdirinya Negara 

Unsur konstitutif adalah syarat mutlak yang harus terpenuhi secara internal agar suatu negara dapat berdiri. Tanpa salah satu dari unsur ini, suatu entitas tidak dapat dikategorikan sebagai negara. Tiga unsur konstitutif tersebut adalah:

  1. Rakyat (Penduduk). Rakyat adalah kelompok individu yang secara permanen mendiami suatu wilayah dan bersedia tunduk pada aturan yang dibuat oleh pemerintah. Mereka adalah pilar utama yang membentuk identitas kolektif dan menciptakan komunitas politik. Unsur rakyat ini tidak hanya mencakup warga negara, tetapi juga semua individu yang tinggal di wilayah tersebut, termasuk orang asing.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/girilu/54f37570745513902b6c75a9/bu-kalau-antri-di-belakang-bukan-di-samping

  1. Wilayah (Teritorial). Wilayah adalah batas geografis yang menjadi tempat tinggal rakyat dan tempat berlakunya kekuasaan negara. Wilayah ini mencakup darat, laut (jika memiliki pantai), dan udara. Kedaulatan negara meluas hingga ke batas-batas teritorial ini, dan pemerintah memiliki yurisdiksi penuh atasnya.
  1. Pemerintah yang Berdaulat. Pemerintah yang berdaulat adalah lembaga atau sistem yang memiliki kekuasaan tertinggi untuk mengatur, mengelola, dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan di dalam negara. Kedaulatan ini bersifat ke dalam (untuk mengatur rakyat dan wilayahnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain) dan ke luar (untuk menjalin hubungan dengan negara lain secara setara). Keberadaan pemerintah yang efektif dan stabil menjadi kunci utama berfungsinya negara.

Sumber: https://pascasarjana.umsu.ac.id/birokrasi-pemerintahan-ciri-beserta-perannya/

Unsur Deklaratif. Pengakuan Internasional 

Unsur deklaratif adalah pengakuan dari negara lain bahwa suatu entitas politik telah memenuhi unsur-unsur konstitutif dan merupakan sebuah negara yang sah. Pengakuan ini tidak menciptakan negara, tetapi menyatakan (mendeklarasikan) eksistensinya secara resmi dalam hubungan internasional. Unsur deklaratif dibagi menjadi dua jenis:

  1. Pengakuan De Facto: Pengakuan ini diberikan berdasarkan fakta bahwa suatu negara telah berdiri dan mampu menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan secara efektif. Ini adalah pengakuan sementara dan seringkali menjadi langkah awal sebelum pengakuan yang lebih formal.
  1. Pengakuan De Jure: Pengakuan ini diberikan secara resmi berdasarkan hukum internasional. Dengan pengakuan de jure, negara yang baru diakui secara penuh sebagai subjek hukum internasional, memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan negara-negara lain, dan dapat menjalin hubungan diplomatik secara formal.

Sumber: https://isif.ac.id/penegakan-hukum-di-jepang-dan-indonesia/

Simpulan

Berdasarkan hukum ketatanegaraan, terbentuknya sebuah negara adalah proses yang kompleks dan berjenjang. Negara harus memenuhi tiga unsur konstitutif, yaitu rakyat, wilayah, dan pemerintahan yang berdaulat. Setelah itu, eksistensinya disempurnakan dengan unsur deklaratif, yaitu pengakuan dari negara-negara lain. Keterpenuhan semua unsur ini tidak hanya menjamin keberadaan suatu negara, tetapi juga memberikan landasan hukum yang kuat bagi kedudukannya di panggung internasional, memastikan ia dapat berinteraksi, berdiplomasi, dan berpartisipasi dalam komunitas global. 

*) Guru Pendidikan Kewarganegaraan di SMAN 1 Pangalengan, pengamat politik dan sosial

Sumber: dari berbagai sumber

Selasa, 26 Agustus 2025

ENTERPRENEUR

 "PKWU, JEMBATAN PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN"

Oleh: Dadan Triatna, SE., S.Pd *)


Pendidikan seringkali kerap diidentikkan dengan teori dan hafalan, tetapi Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) hadir untuk mendobrak stigma tersebut. Di PKWU bukan sekadar mata pelajaran, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan realitas bisnis dan kreativitas. Tujuan utamanya sederhana namun berdampak besar: membekali siswa dengan keterampilan praktis dan pola pikir wirausaha sejak dini.

 
Sumber: https://koinworks.com/blog/keterampilan-sederhana/

Lebih dari Sekadar Nilai di Rapor.

      Di kelas PKWU, siswa tidak hanya belajar dari buku. Mereka diajak untuk "bermain" dengan ide, mencoba hal-hal baru, dan menciptakan produk nyata. Dari membuat kerajinan tangan dari limbah, mengolah makanan khas daerah, hingga merencanakan budidaya tanaman, setiap kegiatan adalah simulasi dari sebuah proses bisnis.

 
Sumber: https://stekom.ac.id/artikel/cara-jitu-menemukan-ide-bisnis

Melalui materi seperti perencanaan usaha, perhitungan biaya, dan strategi pemasaran, siswa didorong untuk berpikir seperti seorang pengusaha. Mereka belajar bahwa sebuah ide bagus tidak akan berhasil tanpa perhitungan yang matang dan pemahaman akan pasar. Ini adalah pembelajaran yang sangat relevan, di mana kegagalan dan keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai, tetapi dari kemampuan untuk berkreasi, berinovasi, dan menyelesaikan masalah.


Sumber: https://fisipol.uma.ac.id/5-inovasi-teknologi-di-tahun-2020-yang-muncul-di-kehidupan-kita/

Menumbuhkan Mental Pengusaha Sejak Dini

     PKWU secara efektif menumbuhkan mental wirausaha yang kuat pada siswa. Mereka dilatih untuk:

·         Berpikir Kritis dan Kreatif. Mencari peluang dari masalah yang ada di sekitar mereka. Misalnya, mengubah sampah plastik menjadi produk bernilai jual.

·         Berani Mengambil Risiko. Menghitung untung rugi dan berani memulai, meskipun ada kemungkinan gagal.

·         Mandiri dan Bertanggung Jawab. Merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proyek mereka sendiri.


 Sumber: https://unair.ac.id/ingin-sukses-berbisnis-pastikan-kalian-memiliki-growth-mindset/

Dengan bekal ini, lulusan SMA tidak lagi hanya berorientasi untuk mencari pekerjaan, melainkan juga bisa menjadi pencipta lapangan kerja. PKWU membuktikan bahwa pendidikan tidak hanya mempersiapkan siswa untuk masa depan, tetapi juga memberikan mereka alat untuk membangun masa depan mereka sendiri. Ini merupakan investasi nyata dalam menciptakan generasi muda yang inovatif, mandiri, dan siap menghadapi tantangan zaman.

*) Guru Ekonomi dan Prakarya di SMA Negeri 1 Pangalengan. Praktisi Urbanfarming, diamanahi sebagai Pembina Ekstakurikuler Pencinta Alaman (HISPALA)

**) dari berbagai sumber

Senin, 25 Agustus 2025

HUMANIORA

 GADGET DAN EMPATI YANG “MULAI” HILANG

Oleh: Dra. HJ. Garliantika *)


Di sebuah kamar yang sepi, seorang nenek tengah menelpon cucunya yang bernama Reno yang berada di rumah temannya. Ajakan temannya untuk mabar selepas  sekolah membuatnya lupa untuk cepat-cepat pulang .

Nenek:

"Nak, tadi Nenek jatuh di dapur. Lutut Nenek sakit sekali."

Reno (tanpa menoleh dari ponsel):

"Iya, Nek... Tapi Nenek kan sudah biasa jatuh. Nanti juga sembuh sendiri."

Nenek:

"Tapi tadi Nenek sempat pingsan sebentar. Nenek takut kalau—"

Reno(memotong):

"Aduh, Nek... bentar ya, ini lagi war di game. Tim aku butuh aku banget sekarang."

Nenek (terdiam, suaranya mengecil):

"Lebih butuh dari Nenek, ya?"

 


Reno lupa bahwa di rumah tak ada siapa-siapa selain neneknya. Hari ini ibunya tengah berada di rumah sakit menemani  si bungsu yang harus opname karena demam tinggi, sementara si bibi yang biasa membantu pekerjaan di rumah pulang ke kampung halamannya karena keluarga besarnya sedang mengadakan syukuran pernikahan adiknya.

Telpon Reno berdering sekali lagi. "Arghh, apalagi ini, kenapa sih nggak boleh aja aku tamatin dulu gamenya, nanggung nih!". Ia pun abaikan telepon yang terus berdering memanggilnya. Neneknya, ibunya, dan satu nomor yang tak dikenalnya.

Satu setengah jam berlalu. Game pun selesai dengan kemenangan tim Reno. Ia pun  beranjak pulang dengan senyum kemenangan. Pujian dari partner main pun ia terima. Reno tersenyum bangga karenanya.

Saat sampai ke rumah, ia mendapati pagar rumahnya terbuka, kondisi yang tak biasanya. Siapa pun di rumah ini selalu menjaga agar pagar  tertutup rapat.


Setelah memarkir motornya di teras rumah, Reno pun segera membuka pintu, tapi ternyata pintu rumah terkunci. Handle pintu ia gerakkan berkali-kali. Tapi pintu tetap tak terbuka. Perasaan tak menentu pun muncul, "Jangan- jangan......"

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Penggalan cerita dan dialog ini memperlihatkan bagaimana fokus berlebihan pada teknologi atau hiburan digital bisa membuat anak muda abai terhadap kondisi dan perasaan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga sendiri.

Meski hanya berupa  cerita fiktif,  namun  cukup relate dengan perilaku sebagian pengguna gadget  saat ini.  Ya, gadget sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir , gaya hidup manusia dewasa ini. Terlepas dari segala manfaat yang didapat dari perangkat tersebut,  kita juga harus waspada akan dampak negatif yang ditimbulkannya. Tak sedikit kasus yang terjadi akibat kurang bijaknya kita dalam menggunakan  gadget baik dalam berinteraksi dengan sesama, maupun penggunaan secara pribadi. Sebut saja kasus cyber bullying, penculikan, radiasi, bahkan kasus overweight pun bisa terjadi karena penggunaan gadget yang berlebihan. Singkat kata, gadget dapat memberi pengaruh secara fisik maupun psikis.

Penulis kali ini akan membidik salah satu dampak psikis yang mungkin terjadi akibat penggunaan gadget yang berlebihan yaitu berkurangnya  empati  atau bahkan bisa saja hilang. Dari penggalan cerita di atas dapat kita simak bahwa Reno abai akan keadaan neneknya yang sakit sehingga hal yang tak diinginkan pun terjadi. Reno tak lagi memiliki empati akan situasi yang terjadi pada saat ini karena ia lebih memilih melanjutkan bermain game di gadgetnya. Ia tak memikirkan apa yang mungkin akan terjadi bila dia tak segera pulang. Ia bahkan tak memikirkan pula perasaan neneknya.

Ya, Reno sudah tak lagi memiliki empati. 

Lalu, apa itu empati? Empati merupakan suatu kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain, mengerti pandangan dan perasaan orang lain atau merasakan apa yang dialami oleh orang lain dan hal ini membutuhkan suatu kesadaran (Hasibuan, 2022).

Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan gadget yang terlalu lama serta tidak dilakukan untuk keperluan belajar atau hal yang bermanfaat dapat memunculkan berbagai perilaku terhadap anak, salah satunya terhambatnya proses perkembangan perilaku empati anak terhadap sesama.

Pembaca yang budiman, khususnya remaja, pernahkan kalian merasa kesal ketika sedang asyik  bermain game, scrolling medsos, melakukan siaran langsung atau hal lain, tiba-tiba ayah atau ibu kalian meminta kalian untuk membantu mereka mengerjakan sesuatu, bahkan saat disuruh makan sekalipun! Pernahkan kalian berkata, "Sebentar Ma, Pah, tanggung nih, lagi main, nggak bisa di jeda, ntar aku kalah dong!". Atau pernahkah kalian marah dan berkata,"Tuh kan. Jadi kalah deh. Mama sih pake nyuruh-nyuruh aku makan bareng segala, ah!". 

Tahukah kalian bahwasanya perilaku seperti itu salah. Selain membantah perintah orang tua kita pun secara tidak sadar telah menyakiti hati mereka pula. Dan yang lebih parah lagi,  kita  tak sayang pada diri kita sendiri. Bukankah makan adalah kebutuhan kita?

 


Pakar psikologi mengatakan bahwa anak muda yang lebih sering berinteraksi lewat layar cenderung sulit untuk membaca ekspresi wajah dan emosi orang lain dalam interaksi tatap muka. Selain itu, banyaknya konten kekerasan atau penderitaan yang tersebar di media sosial dapat membuat mereka terbiasa dan tidak lagi peka terhadap perasaan orang lain (dan beberapa game tertentu kadang mengekspos kekerasan pula). Hal ini dapat terlihat dari reaksi beberapa anak muda terhadap konten yang seharusnya menuai empati pemirsa, mereka hanya memberi reaksi "like" atau komentar singkat tanpa benar benar memahami makna di balik peristiwa yang mereka. Bahkan mereka memberi komentar yang sama sekali tidak layak, bahkan tidak sopan.

Empati adalah dasar dari interaksi sosial yang sehat. Tanpa kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain, hubungan antar individu akan tergerus. Dalam kehidupan nyata, empati memungkinkan kita untuk saling mendukung, memahami, dan berkomunikasi secara lebih efektif. Ketika seseorang tidak mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain, komunikasi menjadi dangkal dan kurang bermakna. Maka dari itu, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak-anak dan remaja bagaimana cara berinteraksi secara langsung, membaca bahasa tubuh, dan menghargai perasaan orang lain. Selain itu, perlu juga diberikan pemahaman tentang pentingnya memilih konten yang konstruktif dan positif agar mereka tidak hanya terpapar pada kekerasan atau peristiwa yang menurunkan sensitivitas terhadap penderitaan orang lain. Empati bukan hanya tentang merasakan apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga tentang bertindak untuk menciptakan perubahan yang lebih baik dalam lingkungan sosial kita.

Lalu, seberapa penting empati itu bagi generasi muda ?

Generasi muda, yang kini tengah berkembang, adalah calon pemimpin dan pembentuk masa depan kita. Mereka harus mampu menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan beragam di dunia nyata. Tanpa empati, mereka akan kesulitan untuk berkolaborasi, membangun hubungan profesional, atau memahami kebutuhan serta perasaan orang lain dalam kehidupan sosial dan pekerjaan. Sebuah dunia yang dipenuhi oleh interaksi digital tanpa adanya kedalaman emosional tidak akan melahirkan pemimpin yang bijaksana atau inovator yang peduli dengan dampak sosial dari keputusan mereka. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk mengasah keterampilan empati agar mereka tidak hanya siap dengan perkembangan teknologi, tetapi juga dengan tantangan manusiawi yang selalu ada, seperti menyelesaikan konflik dengan bijak, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta bertindak dengan rasa tanggung jawab terhadap sesama. Empati adalah keterampilan yang akan membekali mereka untuk tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas.


Seiring dengan kemajuan teknologi, generasi muda memang harus siap dengan berbagai inovasi dan alat digital yang berkembang pesat. Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan gadget harus dilakukan dengan bijak. Gadget adalah alat yang bisa mendukung perkembangan, tetapi jika digunakan secara berlebihan atau tidak hati-hati, bisa mempengaruhi kualitas hidup, terutama dalam hal interaksi sosial dan pengembangan empati. Menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar bisa mengurangi kesempatan untuk berinteraksi secara langsung, yang justru lebih efektif dalam memperkuat ikatan emosional dan memahami perasaan orang lain.

Oleh karena itu, generasi muda perlu belajar untuk menetapkan batasan waktu penggunaan gadget, memilih konten yang positif dan mendidik, serta menciptakan waktu untuk berinteraksi langsung dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Jangan sampai dunia maya menggantikan dunia nyata, karena keseimbangan antara keduanya sangat penting. Ingatlah, teknologi seharusnya mendukung, bukan menghalangi, kemampuan kita untuk menjadi pribadi yang empatik dan memahami perasaan orang lain.

So, jadilah pengguna gadget yang bijak, dengan memprioritaskan hubungan manusia dan kesejahteraan emosional agar kita tak jadi “Generasi mati empati”.

 

*) Guru Bahasa Inggris di SMAN 1 Pangalengan, pengamat masalah psikologi remaja

Minggu, 24 Agustus 2025

MATEMAGIC

 MENGAPA MATEMATIKA TERLALU SULIT BAGI SAYA?

Oleh: Risman Firmansyah, M.Pd *)

 


Anggap saja artikel ini sebagai catatan singkat. Setelah membacanya, kalian bisa langsung menuju daftar pustaka untuk membaca sumber lengkapnya secara langsung

Rasa Bingung Itu Nyata

Pernahkah kamu duduk di kelas saat guru menjelaskan materi atau soal matematika, menatap papan tulis, lalu merasa semua angka dan simbol yang muncul seperti bahasa alien?


Kamu membaca soal cerita, tapi bahkan sebelum sempat menulis rumus, otakmu sudah penuh tanda tanya:

“Sebenarnya apa yang ditanya? Dari mana aku harus mulai?”

Kalau iya, tenang. Kamu nggak sendirian. Banyak penelitian bilang, kesulitan paling mendasar siswa dalam matematika bukan di hitungannya, tapi di mendefinisikan dan menemukan inti masalah dari soal (Sternberg & Ben-Zeev, 1996).

1. Saat Soal Cerita Jadi “Tembok Besar”

Contoh soal:

“Bona punya 12 kelereng, lalu membeli lagi sebanyak dua kali lipat jumlah kelereng awalnya. Berapa total kelereng Ani sekarang?”

Banyak siswa langsung bingung: ini dikali dulu atau ditambah dulu? Padahal soal sederhana.

Masalahnya bukan hitungan, tapi cara mendefinisikan apa yang ditanya.

Penelitian menyebut kesalahan seperti ini sebagai rational errors — kesalahan yang masuk akal di kepala, tapi salah di konteks (Sternberg & Ben-Zeev, 1996).

2. Masalah Mendefinisikan Konsep

Kamu pernah diminta menjelaskan apa itu fungsi kontinu?

Buku teks bilang: “fungsi kontinu di titik a jika limit f(x) saat x mendekati a sama dengan f(a)”.
Tapi buat banyak siswa, itu cuma hafalan. Saat ditanya “Apa maksudnya kontinu?”, jawabannya: “Eee… lupa, Bu.”

Peneliti bilang, pemahaman sejati muncul kalau siswa bisa membuat definisi versinya sendiri pakai contoh dan anti-contoh (Brijlall & Maharaj, 2011).

Misalnya: “Kontinu itu grafiknya mulus, gak ada yang bolong, atau gak putus-putus.”

               


3. Identitas “Gagal” yang Diam-Diam Nempel

Setiap kali merasa nggak bisa mendefinisikan atau bingung apa yang ditanya, lama-lama muncul identitas:

“Aku emang bodoh di matematika.”

Studi terbaru menyebut ini sebagai attractor state: pikiran yang terus berulang, bikin siswa yakin dirinya memang nggak mampu (Heyd-Metzuyanim, 2025). Padahal, masalahnya cuma di tahap membaca & mendefinisikan.

4. Kenapa Susah Banget?

Beberapa alasan kenapa otak suka nge-blank:

Bahasa matematika beda dengan bahasa sehari-hari.

Otak cari jalan pintas: lihat kata “dua kali lipat”, langsung dikali tanpa baca konteks.

Abstraksi terlalu cepat: diminta paham rumus tanpa cukup contoh nyata (Pasaribu dkk., 2023).

5. Bagaimana Rasanya di Kepala?

Begini biasanya alurnya:

Baca soal sekali → “kayaknya ngerti.”

Mulai nulis rumus → ragu-ragu.

Muncul pikiran: “Ini salah deh, tapi apa yang salah ya?”

Akhirnya: nebak aja atau nyerah.

Bukan karena nggak bisa hitung, tapi karena nggak bisa definisikan inti masalah.

6. Contoh Nyata: Siswa yang Paham vs yang Bingung

Soal:
Sebuah toko jual buku Rp25.000/buah. Dina beli 3 buku, lalu dapat diskon Rp10.000 untuk total belanja. Berapa harus dibayar?

Versi Orang yang Paham

Data: harga per buku = 25.000, jumlah = 3, diskon = 10.000.

Hitung harga awal: 3×25.000=75.0003 × 25.000 = 75.000.

Kurangi diskon: 75.000–10.000=65.00075.000 – 10.000 = 65.000.

Jawaban: Rp65.000.

Mereka pause dulu buat mendefinisikan masalah, baru ngitung.

Versi Orang yang Bingung

Fokus ke angka: 25.000, 3, 10.000.

Langsung operasi random:

25.000 × 3 = 75.000 → bingung diskonnya diapain.

Salah kaprah: (25.000 – 10.000) × 3 = 45.000.

Atau: 75.000 × 10.000 = 750 juta .

Hitungannya benar secara prosedur, tapi salah definisi masalahnya.


7. Tips Buat Kamu yang Sering Bingung

Kalau sering nge-blank pas ngerjain soal, coba:

·         Parafrase soal: tulis ulang dengan bahasa sendiri.

·         Tandai data & yang ditanya.

·         Bikin contoh kecil (misalnya ganti 100 jadi 2 biar lebih simpel).

·         Buat definisi versimu dulu, baru cocokin sama buku.

Langkah kecil ini terbukti bikin siswa lebih gampang nyambung ke inti masalah (Kapur, 2014).

Penutup: Susah Bukan Berarti Bodoh

Matematika emang sering terasa kayak dinding tebal. Tapi faktanya, kesulitannya bukan di operasi hitungnya, melainkan di cara mendefinisikan masalah.

Jadi, kalau kamu sering bilang “matematika terlalu sulit buat aku”, sebenarnya yang perlu diasah adalah cara membaca, mendefinisikan, dan menyusun masalah. Begitu itu bisa, hitungannya jadi lebih masuk akal.


*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan, Staf Kesiswaan, serta pengelola SMA Terbuka TKB SMAN 1 Pangalengan

 

Daftar Pustaka

Borromeo Ferri, R. (2012). Mathematical Thinking Styles and Their Influence on Teaching and Learning Mathematics. ICME-12.

Brijlall, D., & Maharaj, A. (2011). A Framework for the Development of Mathematical Thinking. US-China Education Review B.

Heyd-Metzuyanim, E. (2025). Failure to Teach/Learn Mathematics: A Complexity-Discursive Perspective. Educational Studies in Mathematics.

Kapur, M. (2014). Productive Failure in Learning Math. Cognitive Science.

Pasaribu, R., Sinaga, B., & Mulyono. (2023). Analisis Kesulitan Berfikir Pola dan Keterampilan Algoritma Matematis. Jurnal Cendekia.

Purbaningrum, M., Ramadhan, S., & Thauzahra, R. (2023). Why is Math Difficult? Beliefs That Affecting Students’ Mathematics Skills. Jurnal Paedagogy.

Reusser, K. (2000). Success and Failure in School Mathematics: Effects of Instruction and School Environment. European Child & Adolescent Psychiatry.

Sternberg, R. J., & Ben-Zeev, T. (1996). The Nature of Mathematical Thinking. Lawrence Erlbaum.

 

Lifestyle of the Future

  𝑴𝑰𝑲𝑹𝑢𝑷𝑳𝑨𝑺𝑻𝑰𝑲 , 𝑰𝑡𝑢𝑽𝑨𝑺𝑰 𝑲𝑬π‘ͺ𝑰𝑳 𝑼𝑡𝑻𝑼𝑲 𝑴𝑨𝑺𝑨 𝑫𝑬𝑷𝑨𝑡 𝑩𝑼𝑴𝑰 Oleh:   Fijhar Restu Pertama Kelas XI-...