"Leaders are not born, they are made. And they are made just like anything else, through hard work and determination." @abuafifi

Rabu, 06 Agustus 2025

SOSIOPEDIA

 “ROJALI” DAN “ROHANA” POTRET PSIKOLOGI SOSIAL REMAJA MASA KINI

Oleh: Redaksi Literatsmansa

 

Ananda yang Ayahanda sayangi, dalam era digital dan dominasi media sosial, muncul istilah-istilah baru yang merepresentasikan perilaku masyarakat, terutama remaja, dalam kehidupan sehari-hari. Dua istilah yang cukup populer adalah “Rojali” (Rombongan Jarang Beli) dan “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya). Fenomena ini biasanya ditemukan di pusat perbelanjaan, toko online, atau gerai makanan, di mana sekelompok remaja datang hanya untuk melihat-lihat atau bertanya harga, tanpa niat untuk membeli. Walau terlihat sebagai candaan atau fenomena ringan, perilaku ini menyimpan makna psikologis yang dalam, terutama jika dikaitkan dengan aspek identitas sosial, tekanan kelompok sebaya, serta pola konsumsi simbolik remaja….yuk kita kupas lebih detail!!

 
Sumber: https://www.erakini.id/bung-erki/era-WT5yD/bung-erki-now--fenomena-rojali-dan-rohana

“Rojali” dan “Rohana” dalam Definisi Sosial

Ananda yang baik, istilah ini sebenarnya merupakan bentuk humor sarkastik atau ironi sosial atas kebiasaan konsumen, khususnya anak muda, yang sering datang secara berkelompok (rombongan) ke tempat usaha (offline atau online), namun tidak melakukan pembelian. Mereka hanya menanyakan produk, melihat-lihat, atau sekadar nongkrong tanpa transaksi. Fenomena ini sering menjadi keluhan para pelaku UMKM atau pedagang kecil yang berharap interaksi akan berujung pada penjualan. Namun dalam kacamata psikologi sosial, ini bukan sekadar tentang perilaku konsumsi—melainkan juga cerminan dinamika identitas, kelas sosial, dan interaksi sosial anak muda masa kini.

 

Sumber: https://kalimantanlive.com/2025/08/05/fenomena-rojali-dan-rohana-merebak-ojk-sebut-hal-wajar/

1. Perspektif Psikologi Sosial

a.       Identitas Sosial dan Gengsi Konsumtif

Remaja berada pada fase pencarian jati diri (Erikson, 1968). Dalam konteks ini, identitas sosial terbentuk melalui interaksi dengan kelompok sebaya. Pergi berbelanja bersama atau sekadar "lihat-lihat" dapat menjadi bentuk ekspresi diri, memperlihatkan afiliasi sosial, dan menunjukkan gaya hidup yang dianggap keren.

Menurut teori konsumsi simbolik (Featherstone, 1991), barang tidak hanya dibeli karena fungsi, tetapi juga karena simbol yang dikandungnya. Meski tidak membeli, dengan “berada di tempat mahal” atau “nanya harga barang branded”, remaja bisa menunjukkan citra tertentu kepada kelompoknya.

b.      Tekanan Kelompok Sebaya

Fenomena Rojali dan Rohana juga sering dipengaruhi oleh peer pressure. Dalam kelompok remaja, ada dorongan untuk tetap terlihat sejalan dengan teman-teman sebaya, termasuk dalam cara berinteraksi di ruang publik. Meski tidak punya uang cukup, seorang remaja bisa ikut "main ke mall" agar tidak tersisih dari pergaulan.

c.       Fear of Missing Out (FoMO)

Fenomena FoMO (Przybylski et al., 2013) menjelaskan rasa takut tertinggal informasi atau pengalaman sosial. Rojali dan Rohana bisa dilihat sebagai bentuk manifestasi FoMO, di mana remaja ingin tetap terlibat dalam kegiatan kelompok walaupun tidak berbelanja.

Sumber: https://rri.co.id/cek-fakta/1001728/fenomena-dampak-dari-fear-of-missing-out-fomo

2. Perspektif Ekonomi dan Budaya Konsumsi

a.       Keterbatasan Ekonomi

Banyak remaja di Indonesia berasal dari keluarga dengan keterbatasan finansial. Meski begitu, paparan gaya hidup mewah dari media sosial mendorong keinginan untuk "merasakan" pengalaman konsumtif, meski tidak mampu secara ekonomi. Hal ini melahirkan perilaku simbolik seperti hanya datang atau bertanya harga tanpa membeli.

b.      Budaya Window Shopping dan Komodifikasi Gaya Hidup

Window shopping adalah bagian dari budaya modern di mana individu menikmati aktivitas konsumsi tanpa melakukan pembelian. Ini diperparah oleh komodifikasi gaya hidup di media sosial yang mendorong remaja untuk “berpenampilan kaya” demi eksistensi digital.


Sumber: https://lifestyle.viva.co.id/cuan/3359-fenomena-window-shopping-di-tengah-virus-rojali-dan-rohana

3. Implikasi Sosial dan Psikologis

a.       Dampak terhadap Usaha Mikro

Secara langsung, fenomena ini menjadi tantangan bagi pelaku UMKM yang berharap pengunjung akan membeli. Kehadiran rombongan yang hanya bertanya atau duduk-duduk bisa mengurangi kenyamanan pembeli lain atau menciptakan persepsi negatif terhadap bisnis.

b.      Dampak terhadap Remaja Sendiri

Dalam jangka panjang, perilaku ini bisa memperkuat pola konsumsi semu dan tekanan sosial yang tidak sehat. Remaja bisa merasa rendah diri bila tidak bisa memenuhi standar konsumsi kelompoknya, yang berujung pada stres atau keinginan membentuk citra palsu.

 
Sumber: https://www.kompasiana.com/ajrilsabillah1093/64e0858a4addee06b0044202/

4. Strategi Solutif dan Edukasi

  1. Edukasi Literasi Finansial Sejak Dini

Mengajarkan remaja tentang pengelolaan uang, nilai dari sebuah transaksi, serta pentingnya bijak dalam konsumsi.

  1. Peningkatan Kesadaran Identitas Diri

Melalui pendidikan karakter dan konseling, remaja diarahkan untuk membentuk identitas yang tidak tergantung pada pengakuan sosial berbasis konsumsi.

  1. Kampanye Positif di Media Sosial

Mengubah narasi media sosial dari "pamer" menjadi "berbagi nilai positif", agar remaja tidak terpaku pada citra konsumtif.

 
Sumber: https://ruangberita.com/gadget/cara-efektif-menghadapi-komentar-negatif-di-media-sosial/

Ananda yang pinter, fenomena "Rojali" dan "Rohana" bukan sekadar guyonan di media sosial, tetapi mencerminkan realitas psikologis dan sosial anak muda masa kini. Perilaku tersebut menunjukkan dinamika identitas, tekanan sosial, serta konsumsi simbolik yang menjadi bagian dari proses pembentukan diri remaja. Memahami akar psikologis dan sosialnya dapat membantu masyarakat, pendidik, dan orang tua dalam mendampingi remaja agar lebih bijak dalam bersikap dan berperilaku…… Wallahualam bishawab!!

 

Rujukan

  • Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. New York: Norton.
  • Featherstone, M. (1991). Consumer Culture and Postmodernism. London: Sage.
  • Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
  • Santrock, J. W. (2018). Adolescence (16th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  • Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (2022). Laporan Indeks Remaja Indonesia.

Selasa, 05 Agustus 2025

ECONOMIC VIEW

 "PERAYAAN KEMERDEKAAN KE-80 DIBAYANGI KRISIS? TINJAUAN EKONOMI INDONESIA DARI PAJAK, SUMBER DAYA ALAM, DAN BUMN"

oleh Insan Sani, S.E., M.M *)

 

Indonesia sedang menghadapi sejumlah tantangan fiskal dan ekonomi yang memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Salah satu isu utama adalah ketergantungan yang sangat besar terhadap pajak sebagai sumber penerimaan negara. Apakah ini tanda negara menuju krisis? Artikel ini mengulas ciri-ciri negara menuju krisis dan bagaimana kondisi Indonesia saat ini jika dilihat dari APBN, pajak, pengelolaan sumber daya alam (SDA), dan kinerja BUMN.

·         Struktur APBN Indonesia Saat Ini

·         Pajak menyumbang sekitar 80% dari total penerimaan negara.

·         Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari SDA dan BUMN hanya sekitar 15%.

·         Sisanya, sekitar 5% berasal dari hibah dan utang luar negeri.

Sumber: https://alokop.id/peta-ekonomi-indonesia-2025-umkm-koperasi/

Masalahnya, jika sektor pajak terganggu akibat perlambatan ekonomi, maka APBN akan sangat rentan karena sumber lainnya belum dioptimalkan.

Apa Itu PNBP?

PNBP merupakan sumber penerimaan negara selain pajak, seperti:

 

·         Royalti dan iuran dari SDA (tambang, migas, kehutanan)

·         Dividen dari BUMN

·         Biaya layanan publik (paspor, SIM, STNK, dll)

·         Denda administratif

Sayangnya, masih banyak potensi PNBP yang belum dimaksimalkan oleh negara.


 Sumber: https://www.pajak.com/pajak/apa-itu-pnbp-jenis-tarif-dan-cara-membayarnya/

Ciri-Ciri Negara Menuju Krisis

 

1.       Ketergantungan Tinggi pada Pajak Negara menjadi rapuh saat ekonomi melambat dan penerimaan pajak anjlok.

2.       Korupsi dan Pemborosan Anggaran Dengan indeks persepsi korupsi yang masih buruk (IPK 34/100), belanja negara sering tidak efektif karena kebocoran.

3.       Utang Pemerintah yang Terus Meningkat Utang Indonesia tahun 2025 diperkirakan menembus Rp 9.000 triliun dengan pembayaran bunga tahunan lebih dari Rp 500 triliun.

4.       Kinerja BUMN yang Lemah Banyak BUMN merugi atau minim kontribusi, bahkan beberapa masih bergantung pada dana talangan pemerintah.

5.       Eksploitasi SDA tanpa Nilai Tambah untuk Negara SDA banyak dikuasai pihak swasta atau asing, dan produk yang diekspor masih berupa bahan mentah dengan royalti kecil.

6.       Ketimpangan Sosial yang Tinggi Rakyat menghadapi beban hidup berat karena kenaikan harga dan pajak, sementara subsidi terus dikurangi.

Apakah Indonesia Sudah Krisis?

Belum. Namun berbagai gejala krisis fiskal dan ekonomi sudah mulai tampak. Indonesia masih punya peluang mencegah krisis jika:

·         SDA dan BUMN dikelola dengan efisien dan transparan

·         Pajak diarahkan pada keadilan sosial, bukan sekadar target angka

·         Korupsi diberantas serius

·         Sumber pendapatan negara lebih beragam dan berkelanjutan

Sumber: https://www.law-justice.co/artikel/185541/prospek-ekonomi-2025-2026-sulit-perlu-reformasi-kebijakan-fiskal/

Solusi dan Rekomendasi

·         Optimalkan SDA dengan hilirisasi dan industrialisasi dalam negeri.

·         Reformasi BUMN agar lebih efisien, untung, dan kompetitif.

·         Tingkatkan transparansi dan pengawasan keuangan negara.

·         Bangun sistem perpajakan yang adil dan progresif.

 


Sumber: https://www.antaranews.com/infografik/4105617/strategi-pemerintah-cegah-resesi-ekonomi

Kekuatan negara bukan hanya dari besar kecilnya pajak yang dikumpulkan, tapi dari bagaimana pemerintah mengelola kekayaan negara dan rakyatnya secara adil, efisien, dan berdaulat. Jangan sampai Indonesia bergantung pada satu sumber, sementara potensi besar lainnya dibiarkan terbengkalai.

*) Guru Ekonomi dan Prakarya Kewirausahaan di SMAN 1 Pangalengan, Praktisi dan Pelaku usaha Jasa Wisata dan Produk Olahan Pertanian

**) dari berbagai sumber

Senin, 04 Agustus 2025

HUMANIORA

Menjaga Bahasa, Merawat Bangsa. 

Refleksi di Ulang Tahun ke-80 Indonesia Merdeka

Oleh: Rusmana *)


 Sambil baca dengerin yuukkkk!!

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=ez86-BPVpTs&list=RDez86-BPVpTs&start_radio=1

Ananda yang baik, Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga jiwa dari sebuah bangsa. Ia menyimpan nilai, norma, dan jati diri. Di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, saat bendera merah putih berkibar megah dan lagu kebangsaan menggema, kita diingatkan kembali bahwa bahasa Indonesia adalah simbol persatuan dan cermin keluhuran budaya bangsa. Sebagai remaja, kita hidup di era globalisasi yang membuka akses ke berbagai budaya asing. Namun, di tengah kemajuan teknologi dan budaya digital, penting bagi kita untuk tetap menjaga dan mencintai bahasa Indonesia sebagai bagian dari identitas nasional. Bahasa asing seperti Inggris, Korea, atau Jepang semakin sering kita dengar di media sosial, film, dan lagu. Akibatnya, tanpa sadar, banyak remaja mulai meninggalkan bahasa Indonesia, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

 
Sumber: https://www.liputan6.com/citizen6/read/2578649/masih-malu-ini-6-alasan-kamu-harus-bangga-berbahasa-indonesia

Ananda perlu ingat, bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah identitas dan pemersatu bangsa. Dalam bahasa Indonesia, tersimpan nilai-nilai budaya, kesopanan, serta semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa kita. Menurut Sumpah Pemuda 1928, kita sudah berikrar menjunjung bahasa persatuan—bahasa Indonesia. Menjaga bahasa Indonesia berarti menjaga jati diri. Bukan berarti menolak bahasa asing, tetapi menempatkan bahasa Indonesia di posisi utama dalam kehidupan sehari-hari. Karena bangsa yang besar bukan hanya yang merdeka secara politik, tapi juga yang bangga dengan bahasanya sendiri.

 
Sumber: https://www.instagram.com/p/DGdJ75bTOx8/

Bahasa dan Budaya Layaknya Dua Sisi Mata Uang

Ananda perlu garis bawahi bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama budaya masyarakat yang menggunakannya. Dalam setiap ungkapan, peribahasa, dan kosakata, tersembunyi nilai-nilai luhur seperti gotong royong, sopan santun, musyawarah, hingga rasa hormat kepada orang tua. Misalnya:

  • Ungkapan “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” menunjukkan semangat kebersamaan.
  • Kata sapaan seperti “anda,” “bapak,” “ibu,” “kakak,” “adek” mencerminkan penghormatan terhadap sesama.

Menurut ahli bahasa Harimurti Kridalaksana (2001), bahasa adalah sistem lambang arbitrer yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Artinya, setiap bahasa membawa serta cara berpikir dan cara hidup masyarakatnya.

 
Sumber: Dokumen Pribadi

Bahasa Indonesia. Simbol Persatuan dan Identitas Bangsa

Ananda yang baik, ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, kita sudah memiliki satu tekad besar yang lebih dulu dirumuskan dalam Sumpah Pemuda 1928: “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Artinya, jauh sebelum kita merdeka secara politik, kita sudah merdeka secara budaya melalui bahasa. Sejak diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia telah menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai suku, budaya, dan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Saat kita berbicara dengan bahasa yang sama, kita merasa satu, merasa sebangsa. Di sekolah, di media, bahkan dalam pemerintahan, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa resmi. Ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya milik satu daerah, tapi milik semua rakyat Indonesia.

 

Sumber: https://money.kompas.com/read/2025/07/24/070247226/logo-80-tahun-indonesia-dirilis-ini-arti-dan-link-download-resminya

Di ulang tahun ke-80 ini, kita patut bangga bahwa bahasa Indonesia telah menjadi alat pemersatu lebih dari 700 bahasa daerah di nusantara. Bahkan, kini bahasa Indonesia telah diajarkan di lebih dari 45 negara sebagai bahasa asing (Badan Bahasa, 2023). Artinya, dunia pun mulai melihat bahwa bahasa Indonesia memiliki nilai penting secara global.

Remaja dan Bahasa

Ananda sebagai remaja adalah generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan bangsa, termasuk masa depan bahasa Indonesia. Di era globalisasi dan digital seperti sekarang, remaja semakin akrab dengan bahasa asing—baik lewat media sosial, game, musik, maupun film. Tantangannya, banyak remaja mulai mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan istilah asing atau bahasa gaul yang kadang mengaburkan makna dan kesantunan. Jika tidak hati-hati, hal ini bisa mengikis rasa cinta terhadap bahasa sendiri.

Sumber: https://eventkampus.com/blog/detail/3382/bahasa-gaul-yang-sering-digunakan-anak-jaksel

Ananda tercinta, di masa depan, tantangan bahasa Indonesia bukan hanya soal penggunaannya yang benar, tetapi juga soal menjaga jati diri bangsa di tengah pengaruh budaya luar yang semakin kuat. Bahasa Indonesia harus tetap hidup, berkembang, dan dibanggakan. Sayangnya, saat ini banyak remaja lebih suka menggunakan bahasa campuran (misalnya: "Bahasa Jaksel") atau mengadopsi bahasa asing dalam percakapan sehari-hari. Tidak salah, tapi harus disadari bahwa terlalu sering melupakan bahasa sendiri bisa menjauhkan kita dari akar budaya bangsa.

Sebagai generasi muda, kita bisa berperan aktif dengan:

  1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan santun dalam media sosial dan percakapan sehari-hari.
  2. Mengenali dan melestarikan peribahasa, pantun, dan sastra daerah sebagai warisan budaya.
  3. Mendukung literasi bahasa dengan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia.

 
Sumber: https://www.liputan6.com/citizen6/read/3876530/fungsi-bahasa-indonesia-sebagai-pemersatu-dan-sejarahnya

Menjaga Bahasa, Merawat Indonesia

So....Ananda yang baik, Bahasa Indonesia adalah jembatan antar generasi dan penjaga keluhuran budaya kita. Di usia kemerdekaan yang ke-80 ini, mari kita jadikan bahasa Indonesia sebagai alat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, memperkuat karakter bangsa, dan menapaki masa depan dengan kebanggaan sebagai bangsa yang bermartabat.

Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal, mencintai, dan menjaga bahasanya sendiri!!

 *) Guru yang sedang “belajar” menulis 

Daftar Rujukan

  • Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2023). Bahasa Indonesia di Dunia Internasional. https://badanbahasa.kemdikbud.go.id
  • Kridalaksana, H. (2001). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
  • Koentjaraningrat. (2009). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Sugono, D. (2007). Santun Berbahasa Cermin Kepribadian Bangsa. Jakarta: Pusat Bahasa.

 

Minggu, 03 Agustus 2025

MATEMAGIC

 Matematika Itu Seru! Belajar Angka Sambil Membangun Karakter

Oleh: Edi Supiandi, S.Pd.M.M.Pd *)

 


 Halo Teman-Teman Pelajar!

Apa kabar? Kali ini kita akan membahas sesuatu yang keren tentang pelajaran matematika. Jangan kabur dulu! Meski sering dianggap sulit, ternyata matematika itu seperti pisau Swiss Army - punya banyak kegunaan dalam kehidupan kita, termasuk untuk membentuk karakter kuat. Yuk kita kupas bersama!

 
Sumber: https://www.linkedin.com/pulse/importance-mathematics-our-daily-life-sathya-selvarajan/

Kenapa Matematika Bisa Membentuk Karakter?

Penelitian Wijayanti dkk. (2023) menunjukkan bahwa proses belajar matematika sebenarnya melatih banyak nilai karakter penting. Setiap kali kita mengerjakan soal matematika, tanpa sadar kita sedang:

  1. Melatih Ketekunan

Pernah nggak sih mengerjakan soal terus salah terus? Nah, saat kita terus mencoba sampai dapat jawaban benar, itu melatih kita untuk pantang menyerah. Seperti atlet yang terus berlatih meski lelah!

  1. Belajar Kejujuran

Di matematika, 5 + 5 selalu 10, tidak bisa kita bohongi. Ini mengajarkan kejujuran karena kita tidak bisa memanipulasi hasil. Kalau salah ya salah, harus diakui dan diperbaiki.

  1. Mengembangkan Kerja Sama

Saat diskusi kelompok mengerjakan soal matematika, kita belajar mendengar pendapat teman, menghargai perbedaan cara berpikir, dan bersama-sama mencari solusi terbaik.

 

Sumber: https://pm.teknokrat.ac.id/membangun-masa-depan-dengan-matematika-lebih-dari-sekadar-angka/

Contoh Nyata dalam Kehidupan:

  • Saat mengatur uang jajan: belajar disiplin menghitung pengeluaran
  • Waktu membuat jadwal belajar: melatih tanggung jawab mengatur waktu
  • Ketika bermain game strategi: mengasah logika dan kreativitas

5 Manfaat Tersembunyi Belajar Matematika

  1. Otokritik Diri

Matematika mengajarkan kita berani mengakui kesalahan. Saat jawaban kita salah, tidak ada gunanya menyalahkan orang lain. Kita harus introspeksi: "Di mana letak kesalahanku?"

  1. Problem Solving Skill

Pola pikir matematika (memahami masalah → mencari solusi → mengevaluasi) bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, seperti menyelesaikan konflik dengan teman.

  1. Ketelitian Tingkat Tinggi

Salah tanda minus saja bisa membuat seluruh jawaban salah. Ini melatih kita untuk teliti dalam segala hal, termasuk saat menulis atau membaca instruksi.

  1. Kreativitas Tersembunyi

Ternyata matematika itu kreatif lho! Saat kita mencari berbagai cara untuk menyelesaikan satu soal, itu sama dengan melatih otak untuk berpikir out of the box.

  1. Komunikasi Efektif

Matematika mengajarkan kita menyampaikan ide secara sistematis. Contohnya saat mempresentasikan hasil proyek matematika di depan kelas.

 
Sumber: https://www.thinksphysics.com/2024/07/mengapa-jasa-tugas-matematika-penting.html

Tips Seru Belajar Matematika

  1. Matematika di Sekitar Kita
    • Hitung diskon saat belanja
    • Ukur bahan saat membantu ibu memasak
    • Hitung kecepatan saat naik sepeda
  2. Metode CERIA

Coba pendekatan ini saat belajar:

    • Cari: Pahami soal dengan baik
    • Eksplor: Coba berbagai cara penyelesaian
    • Runding: Diskusikan dengan teman
    • Investigasi: Cek kebenaran jawaban
    • Aplikasikan: Gunakan dalam kehidupan nyata
  1. Belajar dengan Games

Mainkan game matematika seperti:

    • Teka-teki matematika
    • Aplikasi Math Riddles
    • Permainan strategi berbasis angka

 

Sumber: https://www.savannahr3.com/o/helena/article/231618

Kata Para Ahli

Menurut Prof. Rahmi (2014), "Matematika adalah gymnasium untuk otak - melatih karakter sekaligus kecerdasan." Pemerintah bahkan memasukkan pembentukan karakter sebagai tujuan pembelajaran matematika dalam Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2022.

Tantangan Seru!

  1. Proyek Matematika Kelas

Hitung luas ruang kelas kalian, lalu desain tata letak baru yang lebih nyaman!

  1. Diskusi Kelompok

"Jika jadi walikota, bagaimana menggunakan matematika untuk mengatasi kemacetan?"

 

Sumber: https://skuling.id/tips-mengerjakan-soal-penalaran-matematika/

Penutup
Jadi, Dalam kesimpulan, pembelajaran matematika memiliki peran yang penting dalam pembentukan pola pikir siswa yang logis, kritis, dan kreatif. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran matematika, seperti kurangnya minat siswa, kesulitan belajar, dan ketersediaan sumber daya yang memadai. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang terus-menerus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika, baik melalui peningkatan kualitas pengajaran, pengembangan kurikulum yang lebih relevan, maupun pemanfaatan metode pembelajaran yang inovatif dan interaktif. Pendekatan pembelajaran matematika sebaiknya dikembangkan dengan memperhatikan kebutuhan dan minat siswa, serta memanfaatkan teknologi dan sumber daya pembelajaran yang tersedia. Guru juga perlu dilengkapi dengan keterampilan dan pengetahuan yang memadai dalam menyampaikan materi matematika secara menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan pihak terkait lainnya juga penting untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan mendukung perkembangan siswa dalam matematika. Dengan demikian, diharapkan pembelajaran matematika dapat menjadi lebih bermakna dan efektif dalam membentuk karakter siswa serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan. Di balik topeng angka dan rumusnya, tersimpan kekuatan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang:

·         Pantang menyerah

·         Jujur dan bertanggung jawab

·         Kreatif dalam menyelesaikan masalah

·         Disiplin dan teliti

Mulai sekarang, mari lihat matematika dengan cara baru. Siapa tahu kamu akan menemukan keseruan yang selama ini terlewatkan!

"Mathematics is not just about numbers, it's about building better versions of ourselves."

 

*) Guru Matematika di SMAN 1 Pangalengan, Pembina Olimpiade Matematika, pernah diamanahi menjadi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Humas, dan Kurikulum

Referensi:

Fauzan, Husnul dan Anshari, Khairul (2024) Studi Literatur: Peran Pembelajaran Matematika Dalam Pembentukan Karakter Siswa. JURRIPEN: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan. 3(1), 163-175, https://doi.org/10.55606/jurripen.v3i1.2802

Lifestyle of the Future

  𝑴𝑰𝑲𝑹𝑢𝑷𝑳𝑨𝑺𝑻𝑰𝑲 , 𝑰𝑡𝑢𝑽𝑨𝑺𝑰 𝑲𝑬π‘ͺ𝑰𝑳 𝑼𝑡𝑻𝑼𝑲 𝑴𝑨𝑺𝑨 𝑫𝑬𝑷𝑨𝑡 𝑩𝑼𝑴𝑰 Oleh:   Fijhar Restu Pertama Kelas XI-...