# DARI TIKTOK KE PETA
## Bagaimana Media Sosial Mengubah Geografi Suatu Tempat?

Sumber: https://www.yangcanggih.com/2020/04/24/inilah-5-fitur-kamera-unggulan-oppo-reno3-pro
### 1. Dari Video Menjadi Perjalanan
Bayangkan sebuah pantai yang sebelumnya hanya dikunjungi oleh masyarakat sekitar. Kemudian seseorang membuat video tentang keindahan pantai tersebut dan mengunggahnya ke TikTok. Video tersebut mendapatkan banyak penonton dan dibagikan berulang kali. Orang-orang mulai mencari lokasi pantai tersebut melalui Google Maps atau aplikasi peta lainnya. Tidak lama kemudian, wisatawan dari berbagai daerah mulai berdatangan. Di sinilah hubungan antara *TikTok dan geografi* mulai terlihat. Media sosial dapat memengaruhi keputusan manusia tentang *ke mana mereka pergi, bagaimana mereka melakukan perjalanan, dan tempat mana yang menjadi pusat aktivitas baru.*
### 2. Mengapa Tempat Bisa Menjadi Viral?
Ada beberapa alasan sebuah destinasi wisata
dapat menjadi viral.
- Pertama, visual yang menarik.* Pemandangan alam yang indah lebih mudah menarik perhatian pengguna media sosial.
- Kedua, rasa penasaran.* Ketika seseorang
melihat banyak orang mengunjungi suatu tempat, muncul keinginan untuk mencoba
pengalaman yang sama.
- Ketiga, influencer dan kreator konten.*
Rekomendasi dari orang yang memiliki banyak pengikut dapat membuat sebuah
tempat semakin dikenal.
- Keempat, tren dan hashtag.* Penggunaan hashtag seperti #wisataindonesia atau #exploreindonesia membantu sebuah konten ditemukan oleh lebih banyak orang.
### 3. Ketika Viral Mengubah Geografi
Tempat wisata yang menjadi viral tidak hanya
mengalami perubahan jumlah pengunjung. Kondisi ruang di sekitarnya juga dapat
berubah. Ketika wisatawan semakin banyak, masyarakat dan pemerintah dapat
membangun berbagai fasilitas seperti jalan, tempat parkir, penginapan,
restoran, toko oleh-oleh, dan tempat hiburan. Akibatnya, terjadi *perubahan
penggunaan lahan*. Lahan yang sebelumnya berupa sawah, kebun, atau ruang
terbuka dapat berubah menjadi kawasan perdagangan dan pariwisata.

Sumber: https://www.bing.com/images/search?view=detailV2&ccid=l%2bSTmPc0&id=93B3525C892FCDE0F1F35EE499CE23FF42EE0563&thid
Mobilitas manusia juga meningkat. Jalan yang
sebelumnya sepi menjadi lebih ramai dan muncul berbagai layanan transportasi
menuju lokasi wisata. Dengan demikian, sebuah video di media sosial dapat
memberikan dampak nyata terhadap *ruang dan aktivitas manusia*.
### 4. Ketika Wisatawan Terlalu Banyak
Popularitas juga memiliki sisi lain. Jika
jumlah wisatawan melebihi kemampuan suatu tempat untuk menerima pengunjung,
dapat terjadi *overtourism*. Overtourism adalah kondisi ketika
jumlah wisatawan terlalu banyak sehingga menimbulkan tekanan terhadap
lingkungan, masyarakat, dan fasilitas yang tersedia.
Beberapa dampaknya antara lain:
·
meningkatnya jumlah sampah;
·
kemacetan lalu lintas;
·
kerusakan ekosistem;
·
meningkatnya penggunaan air dan energi;
·
terganggunya kehidupan masyarakat lokal;
·
perubahan fungsi lahan;
·
berkurangnya kenyamanan wisatawan.
Sumber: https://sustainabletravel.org/what-is-overtourism/
Tempat yang awalnya viral karena keindahannya
justru dapat kehilangan daya tarik jika tidak dikelola dengan baik.
### 5. Dari TikTok ke Peta
Lalu, apa hubungan semua fenomena tersebut
dengan peta? Peta tidak hanya digunakan untuk menunjukkan lokasi suatu tempat.
Dalam geografi, peta dapat digunakan untuk melihat *pola dan perubahan ruang*.
Kita dapat membuat peta yang menunjukkan:
·
persebaran destinasi wisata yang viral;
·
asal daerah wisatawan;
·
jaringan jalan menuju destinasi;
·
perubahan penggunaan lahan;
·
lokasi fasilitas wisata;
·
kepadatan pengunjung;
·
kawasan yang mengalami tekanan lingkungan.
Dengan bantuan teknologi seperti *Sistem
Informasi Geografis (SIG)*, berbagai data tersebut dapat digabungkan sehingga
kita dapat melihat bagaimana aktivitas manusia mengubah suatu wilayah. Jadi,
ketika sebuah tempat menjadi viral di TikTok, sebenarnya sedang terjadi
perubahan dalam *interaksi manusia dengan ruang*.
### 6. Wisata Viral Harus Tetap Berkelanjutan
Menjadi viral bukan berarti sebuah tempat harus
menerima sebanyak-banyaknya wisatawan. Pariwisata perlu dikelola dengan
mempertimbangkan *daya dukung lingkungan*. Jumlah wisatawan harus disesuaikan
dengan kemampuan lingkungan dan fasilitas yang tersedia. Masyarakat lokal juga
perlu mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata. Pada saat yang sama,
lingkungan harus tetap dijaga. Sebagai generasi yang tumbuh bersama media
sosial, kita memiliki peran penting. Sebelum mengunjungi tempat yang sedang
viral, kita dapat mencari informasi tentang aturan berkunjung, menjaga
kebersihan, menghormati masyarakat lokal, dan tidak melakukan aktivitas yang
merusak lingkungan.

Sumber: https://bookstore.ub.ac.id/shop/teknik/daya-dukung-dan-daya-tampung-untuk-pengelolaan-lingkungan/
### Kesimpulan
TikTok mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk membuat sebuah tempat menjadi viral, tetapi dampaknya terhadap ruang dapat berlangsung jauh lebih lama. Dari sebuah video, orang mencari lokasi. Dari lokasi, manusia melakukan perjalanan. Dari perjalanan, muncul aktivitas ekonomi. Selanjutnya, ruang dapat berubah dan lingkungan dapat mengalami tekanan. Inilah salah satu contoh bahwa *geografi bukan hanya tentang membaca peta, tetapi tentang memahami hubungan antara manusia, ruang, dan lingkungan.*
*“Bagus
nggak tempatnya?”*
Cobalah
bertanya:
*“Apa
yang terjadi pada tempat itu setelah menjadi viral?”*
Karena
dari satu video TikTok, kita bisa membaca sebuah perubahan geografi.
**) dari
beragam sumber


Tidak ada komentar:
Posting Komentar