SABUN VS MINYAK. PERTARUNGAN YANG DIJELASKAN KIMIA
Oleh:
Subagja, S.Pd *)
Sumber: https://radarmukomuko.disway.id/news/read/671409/cara-fungsi-air-dan-minyak-selalu-bersatu
Mengapa Air dan Minyak Tidak Bisa Bersatu?
Air dan minyak sulit bercampur karena keduanya
memiliki sifat molekul yang berbeda. Air merupakan zat yang bersifat polar,
sedangkan minyak pada umumnya tersusun atas molekul yang bersifat nonpolar. Molekul air memiliki bagian yang bermuatan
sebagian positif dan negatif sehingga dapat saling berinteraksi dengan molekul
air lainnya. Sementara itu, molekul minyak tidak memiliki sifat polar yang
sama. Sederhananya, “yang memiliki
sifat mirip cenderung lebih mudah bercampur.” Karena air dan minyak memiliki
sifat yang berbeda, keduanya cenderung memisahkan diri. Hal ini sebenarnya bisa
kita lihat dengan mudah. Coba masukkan sedikit minyak ke dalam segelas air dan
aduk. Awalnya minyak mungkin terlihat seperti menyebar, tetapi tidak lama
kemudian minyak akan kembali membentuk lapisan tersendiri.

Sumber: https://anakbertanya.com/mengapa-air-dan-minyak-tidak-menyatu/
Peran Sabun
Nah, di sinilah sabun
berperan. Molekul sabun memiliki dua bagian dengan sifat yang berbeda. Bagian
pertama disebut kepala hidrofilik, yaitu bagian yang menyukai atau dapat
berinteraksi dengan air. Bagian kedua disebut ekor hidrofobik, yaitu bagian
yang cenderung menghindari air dan lebih mudah berinteraksi dengan minyak. Karena
memiliki dua bagian tersebut, sabun dapat menjadi penghubung antara air dan
minyak. Ketika kita mencuci tangan dengan sabun, bagian ekor sabun akan
berinteraksi dengan minyak dan kotoran yang menempel pada kulit. Sementara itu,
bagian kepala sabun tetap berinteraksi dengan air. Dengan bantuan gerakan
menggosok dan air yang mengalir, minyak dan kotoran akhirnya dapat terangkat
dari permukaan kulit dan terbawa saat dibilas. Jadi, sabun bukan sekadar membuat tangan
menjadi wangi dan berbusa. Di balik busanya, terdapat proses kimia yang cukup
menarik!

Sumber: https://www.republika.id/posts/48939/science-apakah-air-dan-minyak-dapat-bersatu
Misel: “Tim” Sabun yang Mengurung Minyak
Salah satu bagian paling menarik dari proses
ini adalah terbentuknya misel. Ketika jumlah molekul sabun cukup banyak di
dalam air, molekul-molekul tersebut dapat berkumpul membentuk struktur seperti
bola kecil. Bagian ekor yang hidrofobik mengarah ke bagian dalam dan
berinteraksi dengan minyak, sedangkan kepala hidrofilik menghadap ke luar dan
berinteraksi dengan air. Dengan demikian, minyak dan kotoran dapat “terjebak”
di bagian dalam misel. Saat tangan dibilas, misel yang membawa minyak dan
kotoran dapat ikut terbawa oleh air. Inilah salah satu alasan mengapa mencuci
tangan menggunakan sabun jauh lebih efektif untuk menghilangkan minyak
dibandingkan hanya menggunakan air.
Sumber: https://web.facebook.com/hellosehat/posts/-infografik-cuci-tangan-dengan-sabun
Fakta Unik Kimia
1. Sabun
memiliki dua “sisi”
Satu bagian
berinteraksi dengan air, sedangkan bagian lainnya berinteraksi dengan minyak.
Sifat inilah yang membuat sabun efektif membersihkan.
2. Busa bukan
penentu utama daya bersih
Sabun yang
menghasilkan banyak busa belum tentu selalu lebih efektif membersihkan. Busa
lebih banyak berkaitan dengan keberadaan gas yang terperangkap dalam cairan.
3. Air saja
kurang efektif menghilangkan minyak
Karena air
dan minyak berbeda sifat, air sulit membawa minyak pergi. Sabun membantu
mengatasi masalah tersebut dengan membentuk misel.
4. Proses
mencuci tangan sebenarnya melibatkan kimia
Saat kita
menggosok tangan dengan sabun, terjadi interaksi antara molekul sabun, air,
minyak, dan kotoran. Jadi, kegiatan sederhana seperti mencuci tangan ternyata
merupakan contoh kimia yang kita lakukan setiap hari.

Sumber: https://unnu.com/blog/cuci-tangan-menurut-who
Hubungan antara air dan minyak memang seperti
kisah yang sulit dipertemukan. Keduanya memiliki sifat molekul yang berbeda
sehingga tidak mudah bercampur. Namun, sabun hadir sebagai “perantara” yang
membantu menghubungkan keduanya. Molekul sabun memiliki kepala hidrofilik yang
berinteraksi dengan air dan ekor hidrofobik yang berinteraksi dengan minyak.
Molekul-molekul tersebut kemudian dapat membentuk misel, sehingga minyak dan
kotoran dapat terperangkap dan terbawa oleh air saat dibilas. Dari sini kita
bisa melihat bahwa kimia ternyata tidak selalu tentang rumus dan perhitungan.
Dari mencuci tangan saja, kita sudah bisa menemukan konsep polaritas, interaksi
molekul, dan misel. Jadi, kalau Acha dan Iqbal punya cerita Mariposa, air dan
minyak juga punya cerita mereka sendiri. Bedanya, dalam cerita air dan minyak,
sabunlah yang menjadi “mak comblang”-nya!
**) Referensi: dari berbagai sumber



terima kasih pak bu atas literasinya.
BalasHapusTerimakasih bapak atas literasinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusFarisa XI-A2
Terimakasih atas literasi nya sangat bermanfaat
BalasHapus