"Go confidently in the direction of your dreams. Live the life you have imagined." — Henry David Thoreau."

Kamis, 07 Mei 2026

Live My Way

 SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN

Oleh: Fijhar Restu Pertama *)


Hai semua! Kami dari kelas 10B mendapatkan kesempatan mengisi literasi hari ini. Pernah nggak sih kalian mendengar kalimat "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana"? Kalimat ini sebenarnya tamparan keras untuk kita semua, karena artinya harga diri kita itu tercermin dari apa yang keluar dari mulut kita sendiri. Tapi kenyataannya di sekolah, kadang kita lupa kalau lidah itu lebih tajam dari pada perbuatan, kok bisa?


 Sumber: https://www.kompasiana.com/image/didin26/604f68c9d541df170f30a4b2/bersenjata-lidah

"Ajining diri saka lathi"

Disebuah sekolah terdapat dua orang sahabat yang sering bercanda setiap harinya, pada saat jam istirahat A memukul punggung B hingga kesakitan. Namun setelah meminta maaf B pun melupakan kejadian itu. Kemudian saat mereka berkelahi, A mengata-ngatai B dengan perkataan yang kurang mengenakan di hati seperti "bodoh", "jelek", dan "miskin" dan itu membuat B sangat sakit   hati.

Sumber: https://ar.pinterest.com/pin/798614946404046659/

Kita juga sering mendengar kalimat hinaan yang dibungkus rapi memakai kata "bercanda". Mulai dari ngeledek fisik, cara ngomong, sampai masalah pribadi teman sendiri. Pas yang dikatain sakit hati dan suasananya jadi nggak enak, si pelaku dengan gampangnya bilang "Dih, baper banget sih, kan cuma bercanda" But, guys we should know that bercanda ada batasnya. Nah, di sinilah mental playing victim muncul. Bukannya minta maaf karena sudah kelewatan, eh malah balik nyalahin korbannya karena dianggap terlalu sensitif. Padahal, batas antara bercanda dan bullying itu sederhana banget: kalau yang diajak bercanda nggak merasa lucu dan malah merasa kecil, berarti itu sudah termasuk penindasan.

 
Sumber: https://rri.co.id/ranai/kesehatan/1507451/kenali-ciri-ciri-prilaku-playing-victim

Luka fisik mungkin bisa hilang dalam hitungan hari, tapi kalau hati yang disayat pakai kata-kata, bekasnya bisa dibawa sampai kita lulus nanti. Kita nggak pernah tahu kondisi mental orang lain saat mereka berangkat ke sekolah, bisa saja mereka baru saja mendapatkan hal buruk. Siapa tahu, kata-kata "bercanda" dari kita itu jadi beban terakhir yang nggak bisa lagi mereka tanggung. Menjaga lisan itu bukan berarti kita jadi orang yang kaku atau nggak asik, tapi itu justru menunjukkan kalau kita punya kelas. Orang yang berkelas nggak butuh ngerendahin orang lain cuma buat kelihatan hebat atau lucu di depan gengnya.

"Ajining diri saka busana"

Selain dari lisan, harga diri juga tercermin dari bagaimana kita membawa diri melalui penampilan. Busana bukan soal mahal atau bermerek, tapi tentang sopan santun, kerapihan, dan cara kita menghargai diri sendiri serta lingkungan sekitar. Seragam yang dipakai dengan rapi menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sekolah. Di lingkungan sekolah, kadang masih ada yang menilai atau merendahkan teman hanya dari penampilan mereka. Misalnya, mengejek sepatu yang sudah usang, tas yang sederhana, atau seragam yang tidak sebaik milik orang lain. Padahal, apa yang dikenakan seseorang bukan alasan untuk mengukur nilai dirinya. Busana seharusnya menjadi cerminan kepribadian, bukan bahan ejekan. Kita harus sadar bahwa tidak semua orang memiliki keadaan yang sama. Apa yang terlihat biasa bagi kita, bisa jadi adalah hasil perjuangan besar bagi orang lain. Menghina penampilan seseorang sama saja dengan merendahkan perjuangan mereka. Sebaliknya, menjaga cara berpakaian dengan baik adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.

Sumber: https://www.instagram.com/p/C-XE6_Fy5J7/?img_index=3

Pada akhirnya, pepatah "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan kita bahwa nilai seseorang bukan hanya dilihat dari penampilan luar, tapi juga dari tutur kata dan sikapnya. Percuma berpakaian rapi jika ucapan masih menyakiti, dan sebaliknya, penampilan yang baik akan lebih bermakna jika dibarengi hati serta lisan yang terjaga.      Jadi, mari mulai dari diri sendiri. Berkata yang baik, bercanda sewajarnya, berpakaian sopan, dan saling menghargai. Karena menjadi pelajar yang berkelas bukan tentang siapa yang paling keren, tapi siapa yang paling mampu menjaga sikap, ucapan, dan menghormati sesama.

Kesimpulannya, "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan bahwa harga diri seseorang tercermin dari ucapan, sikap, dan cara membawa dirinya. Perkataan yang baik menunjukkan kualitas diri, sedangkan penampilan yang rapi mencerminkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan lingkungan. Bercanda memang penting dalam pertemanan, tetapi harus tetap memiliki batas agar tidak berubah menjadi luka bagi orang lain. Dengan menjaga lisan, sikap, dan penampilan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih berkelas, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, positif, dan penuh rasa hormat.

*) Salam hangat dari 10B

 **) Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Live My Way

  SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN Oleh: Fijhar Restu Pertama *) Hai semua! Kami dari kelas 10B mendapatkan kesempatan mengisi li...