SAAT PERKATAAN TAK LAGI MENJADI CANDAAN
Oleh:
Fijhar Restu Pertama *)
Sumber: https://www.kompasiana.com/image/didin26/604f68c9d541df170f30a4b2/bersenjata-lidah
"Ajining
diri saka lathi"
Disebuah
sekolah terdapat dua orang sahabat yang sering bercanda setiap harinya, pada
saat jam istirahat A memukul punggung B hingga kesakitan. Namun setelah meminta
maaf B pun melupakan kejadian itu. Kemudian saat mereka berkelahi, A
mengata-ngatai B dengan perkataan yang kurang mengenakan di hati seperti
"bodoh", "jelek", dan "miskin" dan itu membuat B
sangat sakit hati.
Sumber: https://ar.pinterest.com/pin/798614946404046659/
Kita
juga sering mendengar kalimat hinaan yang dibungkus rapi memakai kata
"bercanda". Mulai dari ngeledek fisik, cara ngomong, sampai masalah
pribadi teman sendiri. Pas yang dikatain sakit hati dan suasananya jadi
nggak enak, si pelaku dengan gampangnya bilang "Dih, baper banget sih, kan
cuma bercanda" But, guys we should know that bercanda ada batasnya.
Nah, di sinilah mental playing victim muncul. Bukannya minta maaf karena
sudah kelewatan, eh malah balik nyalahin korbannya karena dianggap
terlalu sensitif. Padahal, batas antara bercanda dan bullying itu sederhana
banget: kalau yang diajak bercanda nggak merasa lucu dan malah merasa kecil,
berarti itu sudah termasuk penindasan.

Sumber: https://rri.co.id/ranai/kesehatan/1507451/kenali-ciri-ciri-prilaku-playing-victim
Luka
fisik mungkin bisa hilang dalam hitungan hari, tapi kalau hati yang disayat
pakai kata-kata, bekasnya bisa dibawa sampai kita lulus nanti. Kita nggak
pernah tahu kondisi mental orang lain saat mereka berangkat ke sekolah, bisa
saja mereka baru saja mendapatkan hal buruk. Siapa tahu, kata-kata
"bercanda" dari kita itu jadi beban terakhir yang nggak bisa lagi
mereka tanggung. Menjaga lisan itu bukan berarti kita jadi orang yang kaku atau
nggak asik, tapi itu justru menunjukkan kalau kita punya kelas. Orang yang
berkelas nggak butuh ngerendahin orang lain cuma buat kelihatan hebat atau lucu
di depan gengnya.
"Ajining diri saka busana"
Selain
dari lisan, harga diri juga tercermin dari bagaimana kita membawa diri melalui
penampilan. Busana bukan soal mahal atau bermerek, tapi tentang sopan santun,
kerapihan, dan cara kita menghargai diri sendiri serta lingkungan sekitar.
Seragam yang dipakai dengan rapi menunjukkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan
rasa hormat kepada sekolah. Di lingkungan sekolah, kadang masih ada yang
menilai atau merendahkan teman hanya dari penampilan mereka. Misalnya, mengejek
sepatu yang sudah usang, tas yang sederhana, atau seragam yang tidak sebaik
milik orang lain. Padahal, apa yang dikenakan seseorang bukan alasan untuk
mengukur nilai dirinya. Busana seharusnya menjadi cerminan kepribadian, bukan
bahan ejekan. Kita harus sadar bahwa tidak semua orang memiliki keadaan yang
sama. Apa yang terlihat biasa bagi kita, bisa jadi adalah hasil perjuangan
besar bagi orang lain. Menghina penampilan seseorang sama saja dengan
merendahkan perjuangan mereka. Sebaliknya, menjaga cara berpakaian dengan baik
adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri.
Sumber: https://www.instagram.com/p/C-XE6_Fy5J7/?img_index=3
Pada akhirnya, pepatah "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan kita bahwa nilai seseorang bukan hanya dilihat dari penampilan luar, tapi juga dari tutur kata dan sikapnya. Percuma berpakaian rapi jika ucapan masih menyakiti, dan sebaliknya, penampilan yang baik akan lebih bermakna jika dibarengi hati serta lisan yang terjaga. Jadi, mari mulai dari diri sendiri. Berkata yang baik, bercanda sewajarnya, berpakaian sopan, dan saling menghargai. Karena menjadi pelajar yang berkelas bukan tentang siapa yang paling keren, tapi siapa yang paling mampu menjaga sikap, ucapan, dan menghormati sesama.
Kesimpulannya, "Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana" mengajarkan bahwa harga diri seseorang tercermin dari ucapan, sikap, dan cara membawa dirinya. Perkataan yang baik menunjukkan kualitas diri, sedangkan penampilan yang rapi mencerminkan rasa hormat terhadap diri sendiri dan lingkungan. Bercanda memang penting dalam pertemanan, tetapi harus tetap memiliki batas agar tidak berubah menjadi luka bagi orang lain. Dengan menjaga lisan, sikap, dan penampilan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih berkelas, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman, positif, dan penuh rasa hormat.
*) Salam hangat dari 10B
**) Dari berbagai sumber




Tidak ada komentar:
Posting Komentar