SCROLL TERUS, BUMI TERGERUS . GAYA HIDUP REMAJA DI TENGAH KRISIS IKLIM
Oleh : Iis Masriah, M.Pd *)
Pernah nggak sih kamu
ngerasa cuaca sekarang makin aneh? Pagi panas banget, siang tiba-tiba hujan
deras. Bahkan kadang hujan turun disertai petir dan angin kencang, turun disaat
yang seharusnya musim kemarau. Ini bukan kebetulan. Ini tanda kalau krisis iklim
lagi terjadi, dan kita semua lagi ngerasain dampaknya.
Tahukah teman-teman? Pada bulan Maret 2026, secara umum, Indonesia mengalami kenaikan suhu udara dibanding normalnya, dan merupakan nilai anomali tertinggi keenam untuk bulan yang sama sejak tahun 1991 (BMKG. 2026).
Apa ya arti dari pernyataan tersebut? Artinya Angka 'tertinggi keenam' ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ia merupakan bukti nyata bahwa tren pemanasan global telah merambah ke wilayah kepulauan kita secara konsisten. Anomali ini mengindikasikan bahwa suhu rata-rata kita terus bergeser menjauhi angka normal.
Di Indonesia,
perubahan pola hujan makin terasa. Curah hujan jadi nggak menentu: bisa sangat
tinggi dalam waktu singkat, lalu lama kering. Akibatnya? Banjir makin sering
terjadi. Kita pasti sering lihat berita tentang banjir di berbagai daerah, dari
kota besar sampai desa. Jalanan tergenang, rumah warga terendam, aktivitas
terganggu. Itu semua bukan cuma karena “hujan deras”, tapi karena perubahan
iklim yang bikin cuaca makin ekstrem. Tapi yang jarang disadari, krisis ini
nggak cuma disebabkan oleh pabrik besar atau kendaraan industri. Gaya hidup
kita sebagai remaja juga ikut berkontribusi, bahkan dari hal-hal yang
kelihatannya sepele.
Selain itu, aktivitas scrolling yang terus-menerus
membuat otak terbiasa menerima rangsangan instan, sehingga kemampuan fokus dan
mengolah informasi mendalam menjadi menurun. Secara neurologis, scrolling
berlebihan memicu pelepasan hormon dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan
rasa senang dan ketagihan. Otak yang terbiasa menerima konten cepat akan kesulitan membedakan mana
informasi penting dan mana yang hanya bersifat hiburan sementara. Akibatnya,
daya analisis dan kreativitas menurun, yang dalam jangka panjang dapat
mempengaruhi kemampuan akademik maupun sosial seseorang (UNESA. 2025).
Hal tersebut ngaruh ke kesehatan mental ya….
Selain itu, kebiasaan lain seperti sering belanja online karena “lapar mata”, mengikuti tren fast fashion, atau sering ganti gadget juga ikut menyumbang masalah. Produksi barang-barang tersebut membutuhkan energi dan menghasilkan emisi. Belum lagi sampah kemasan yang dihasilkan, plastik, kardus, bubble wrap,yang sering kita buang begitu saja.
Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan kita untuk tidak berlebihan. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31 disebutkan:
“Makan
dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Ayat ini bukan cuma
tentang makan, tapi juga gaya hidup secara keseluruhan. Termasuk cara kita
menggunakan waktu, energi, dan sumber daya. Scroll berlebihan, belanja
berlebihan, dan konsumsi berlebihan semuanya bisa berdampak pada lingkungan.
Selain itu, dalam QS. Ar-Rum ayat 41 juga dijelaskan:
“Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia...”
Kalau kita hubungkan dengan kondisi sekarang, kerusakan itu bisa berupa banjir, perubahan cuaca ekstrem, hingga krisis iklim yang kita rasakan. Semua itu tidak lepas dari aktivitas manusia, termasuk gaya hidup kita sehari-hari.
Krisis iklim juga memperparah kejadian banjir di Indonesia. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat membuat sungai meluap. Ditambah lagi dengan sampah yang menyumbat saluran air dan kurangnya daerah resapan, banjir jadi semakin sulit dihindari. Jadi, bukan cuma “hujan deras”, tapi juga akibat kebiasaan manusia yang kurang peduli lingkungan.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Nggak harus langsung
jadi aktivis lingkungan kok. Mulai aja dari hal kecil:
● Kurangi waktu
scrolling yang nggak perlu
● Gunakan gadget lebih
bijak dan lebih lama (nggak sering ganti)
● Kurangi belanja
impulsif
● Bawa tumbler sendiri
● Buang sampah pada
tempatnya
● Hemat listrik
Hal-hal sederhana ini
kalau dilakukan bersama-sama bisa berdampak besar.
Intinya, krisis iklim itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Ia ada di sekitar kita, di udara yang kita hirup, di hujan yang turun tiba-tiba, bahkan di kebiasaan kita sehari-hari. Jadi, mulai sekarang, yuk lebih sadar. Karena setiap scroll, setiap klik, dan setiap pilihan kita bisa ikut menentukan masa depan kita dan masa depan bumi tercinta🌱
*) Guru Biologi di SMAN 1 Pangalengan. Koordinator Program Sekolah Berketahanan Iklim.
Referensi :
- BMKG. 2026.
Fakta Perubahan Iklim, Monitoring Suhu Bulan Maret 2026. BMKG. Link : .https://www.bmkg.go.id/iklim/fakta-perubahan-iklim-bulan-maret-2026
- UNESA.2025. Efek
Scrolling Media Sosial Secara Berlebihan terhadap Tumbuh Kembang Otak.
UNESA.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar