"To the wonderful community of SMAN 1 Pangalengan, Happy Kartini Day! Celebrating the legacy of Raden Ajeng Kartini is about more than just remembering history; it is about honoring the spirit of progress, equality, and the pursuit of knowledge that lives within every student and teacher. Here is a formal greeting and some inspirational quotes to share: Happy Kartini Day 2026....abuafifi"

Minggu, 19 April 2026

ECO GUARDIAN I

 SCROLL TERUS, BUMI TERGERUS . GAYA HIDUP REMAJA DI TENGAH KRISIS IKLIM

Oleh : Iis Masriah, M.Pd *)

 

Pernah nggak sih kamu ngerasa cuaca sekarang makin aneh? Pagi panas banget, siang tiba-tiba hujan deras. Bahkan kadang hujan turun disertai petir dan angin kencang, turun disaat yang seharusnya musim kemarau. Ini bukan kebetulan. Ini tanda kalau krisis iklim lagi terjadi, dan kita semua lagi ngerasain dampaknya.

 

 Tahukah teman-teman? Pada bulan Maret 2026,  secara umum, Indonesia mengalami kenaikan suhu udara dibanding normalnya, dan merupakan nilai anomali tertinggi keenam untuk bulan yang sama sejak tahun 1991 (BMKG. 2026). 

Apa ya arti dari pernyataan tersebut? Artinya Angka 'tertinggi keenam' ini bukan sekadar statistik di atas kertas; ia merupakan bukti nyata bahwa tren pemanasan global telah merambah ke wilayah kepulauan kita secara konsisten. Anomali ini mengindikasikan bahwa suhu rata-rata kita terus bergeser menjauhi angka normal.

Di Indonesia, perubahan pola hujan makin terasa. Curah hujan jadi nggak menentu: bisa sangat tinggi dalam waktu singkat, lalu lama kering. Akibatnya? Banjir makin sering terjadi. Kita pasti sering lihat berita tentang banjir di berbagai daerah, dari kota besar sampai desa. Jalanan tergenang, rumah warga terendam, aktivitas terganggu. Itu semua bukan cuma karena “hujan deras”, tapi karena perubahan iklim yang bikin cuaca makin ekstrem. Tapi yang jarang disadari, krisis ini nggak cuma disebabkan oleh pabrik besar atau kendaraan industri. Gaya hidup kita sebagai remaja juga ikut berkontribusi, bahkan dari hal-hal yang kelihatannya sepele.


Coba jujur, berapa jam sehari kamu habiskan untuk scrolling media sosial atau main game?  
Aktivitas ini memang kelihatan “ringan”, tapi sebenarnya tetap butuh energi listrik. Server internet, data center, hingga perangkat yang kita pakai semuanya menggunakan listrik, dan sebagian besar listrik di Indonesia masih berasal dari bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon.Semakin lama kita online, semakin besar juga jejak karbon digital kita. Memang kelihatannya kecil, tapi kalau jutaan remaja melakukan hal yang sama setiap hari, dampaknya jadi besar banget.

Selain itu, aktivitas scrolling yang terus-menerus membuat otak terbiasa menerima rangsangan instan, sehingga kemampuan fokus dan mengolah informasi mendalam menjadi menurun. Secara neurologis, scrolling berlebihan memicu pelepasan hormon dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan ketagihan. Otak yang terbiasa menerima konten cepat akan kesulitan membedakan mana informasi penting dan mana yang hanya bersifat hiburan sementara. Akibatnya, daya analisis dan kreativitas menurun, yang dalam jangka panjang dapat mempengaruhi kemampuan akademik maupun sosial seseorang (UNESA. 2025). Hal tersebut ngaruh ke kesehatan mental ya….

Selain itu, kebiasaan lain seperti sering belanja online karena “lapar mata”, mengikuti tren fast fashion, atau sering ganti gadget juga ikut menyumbang masalah. Produksi barang-barang tersebut membutuhkan energi dan menghasilkan emisi. Belum lagi sampah kemasan yang dihasilkan, plastik, kardus, bubble wrap,yang sering kita buang begitu saja.

Dalam Al-Qur’an, Allah sudah mengingatkan kita untuk tidak berlebihan. Dalam QS. Al-A’raf ayat 31 disebutkan:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Ayat ini bukan cuma tentang makan, tapi juga gaya hidup secara keseluruhan. Termasuk cara kita menggunakan waktu, energi, dan sumber daya. Scroll berlebihan, belanja berlebihan, dan konsumsi berlebihan semuanya bisa berdampak pada lingkungan.

Selain itu, dalam QS. Ar-Rum ayat 41 juga dijelaskan:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”

Kalau kita hubungkan dengan kondisi sekarang, kerusakan itu bisa berupa banjir, perubahan cuaca ekstrem, hingga krisis iklim yang kita rasakan. Semua itu tidak lepas dari aktivitas manusia, termasuk gaya hidup kita sehari-hari.

Krisis iklim juga memperparah kejadian banjir di Indonesia. Curah hujan yang tinggi dalam waktu singkat membuat sungai meluap. Ditambah lagi dengan sampah yang menyumbat saluran air dan kurangnya daerah resapan, banjir jadi semakin sulit dihindari. Jadi, bukan cuma “hujan deras”, tapi juga akibat kebiasaan manusia yang kurang peduli lingkungan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Nggak harus langsung jadi aktivis lingkungan kok. Mulai aja dari hal kecil:

       Kurangi waktu scrolling yang nggak perlu

       Gunakan gadget lebih bijak dan lebih lama (nggak sering ganti)

       Kurangi belanja impulsif

       Bawa tumbler sendiri

       Buang sampah pada tempatnya

       Hemat listrik

Hal-hal sederhana ini kalau dilakukan bersama-sama bisa berdampak besar.


Intinya, krisis iklim itu bukan sesuatu yang jauh dari kita. Ia ada di sekitar kita, di udara yang kita hirup, di hujan yang turun tiba-tiba, bahkan di kebiasaan kita sehari-hari. Jadi, mulai sekarang, yuk lebih sadar. Karena setiap scroll, setiap klik, dan setiap pilihan kita bisa ikut menentukan masa depan kita dan masa depan bumi tercinta🌱

*) Guru Biologi di SMAN 1 Pangalengan. Koordinator Program Sekolah Berketahanan Iklim.

 Referensi :

  1. BMKG. 2026. Fakta Perubahan Iklim, Monitoring Suhu Bulan Maret 2026. BMKG. Link : .https://www.bmkg.go.id/iklim/fakta-perubahan-iklim-bulan-maret-2026
  2. UNESA.2025. Efek Scrolling Media Sosial Secara Berlebihan terhadap Tumbuh Kembang Otak. UNESA.

 Link ; https://agridigi.fkp.unesa.ac.id/post/efek-scrolling-media-sosial-secara-berlebihan-terhadap-tumbuh-kembang-otak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ECO GUARDIAN I

  SCROLL TERUS, BUMI TERGERUS . GAYA HIDUP REMAJA DI TENGAH KRISIS IKLIM Oleh : Iis Masriah, M.Pd *)   Pernah nggak sih kamu ngerasa ...