SUARA YANG AKHIRNYA MENEMUKAN JALAN
Oleh: Deliana
A. F *)

Sumber: https://minanews.net/mentimun-menuntut-ilmu-anti-melamun/
Namun, Kamis minggu ini rasanya agak beda. Ibu Hajah Ani,
guru Bahasa Indonesia yang terkenal ramah, masuk ke kelas dengan senyum
misterius. Beliau menuliskan sebuah kalimat besar di papan tulis putih dengan
spidol hitam: "Menulis untuk Ekspresi Diri."
"Anak-anak, hari ini tugas kalian simpel,"
ujar Ibu Hajah Ani sambil mengetuk papan tulis. "Ibu nggak butuh analisis
struktur teks yang kaku. Ibu cuma mau kalian menulis apa pun yang benar-benar
sedang kalian rasakan saat ini. Tumpahkan saja semua ke kertas."
Kirana langsung terdiam. Dia menatap lembaran kertas
putih kosong di atas mejanya yang mendadak terasa begitu mengintimidasi. Di
kelas X-D, Kirana itu ibarat karakter NPC (Non playable Character) di
dalam game. Dia dikenal sebagai anak yang super pendiam, tipe siswi yang kalau
duduk di pojokan kelas hampir nggak bakal disadari keberadaannya oleh guru.
Kirana selalu lebih suka menjadi pendengar yang baik daripada harus angkat
bicara di depan umum. Jangankan buat presentasi, buat angkat tangan nanya ke
guru saja jantungnya sudah bisa ngos ngosan kayak habis marathon.
Sumber: https://www.magnific.com/idn/vektor-premium/vektor
Tapi jujur, isi kepala Kirana sebenarnya nggak pernah
sepi. Di dalam kepalanya, ada pesta kembang api pikiran yang riuh banget. Ada
banyak sekali hal yang pengin dia teriakkan. Dia sering merasa cemas setengah
mati memikirkan masa depan tentang nanti kuliah jurusan apa, atau mau jadi apa
dia setelah lulus. Di sisi lain, dia juga merasakan serunya masa-masa SMA,
tentang bagaimana rasanya menemukan sahabat sejati yang bisa diajak gila-gilaan
bareng di kantin. Dan yang paling menguras energinya adalah usahanya setiap
hari untuk bisa berani tampil apa adanya, tanpa rasa minder.
Kirana menarik napas dalam-dalam. Dia memegang
pulpennya erat-erat, lalu mulai menggoreskan tinta di atas kertas.
Glek. Awalnya terasa berat. Tapi setelah kalimat
pertama berhasil ditulis, jarinya mendadak bergerak sendiri. Kalimat demi
kalimat mengalir begitu saja, deras banget kayak air bah yang tanggulnya jebol.
Kirana mulai menumpahkan segala keluh kesahnya tentang realitas menjadi remaja
di era sekarang.
Dia menulis tentang "penjara" bernama media
sosial. Tentang bagaimana rasanya dikejar-kejar tuntutan untuk selalu terlihat
sempurna di Instagram atau TikTok. Harus punya aesthetic feeds, baju yang
selalu gonta-ganti, dan hidup yang kelihatan selalu bahagia tanpa beban.
Padahal, di balik layar smartphone yang menyala itu, di dunia nyata, Kirana
tahu betul banyak remaja seumurannya termasuk dirinya sendiri yang sedang
berjuang keras, menangis diam-diam di kamar, dan babak belur demi menggapai
mimpi serta ekspektasi orang tua.

Sumber: https://www.magnific.com/idn/vektor-premium/vektor
Kirana menulis dengan jujur. Tanpa filter, tanpa jaim.
Dia menulis tentang rasa kesepian, rasa tidak aman, tapi juga tentang secercah
harapan kecil yang selalu dia simpan dalam hati. Setiap kata yang keluar dari
pulpennya terasa seperti beban berat yang perlahan-lahan diangkat dari
pundaknya.
"Kita sering kali dipaksa memakai topeng 'aku
baik-baik saja' di dunia maya, sampai kita lupa bagaimana caranya jujur pada
diri sendiri di dunia nyata," tulis Kirana di paragraf terakhirnya.
Saat titik terakhir selesai digoreskan, Kirana
langsung menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia mengembuskan napas panjang,
sebuah helaan napas yang terasa sangat lega. Dadanya yang semula terasa sesak
kini mendadak plong.
Dia melihat lembaran kertasnya yang kini sudah penuh
dengan tulisan tangannya yang agak berantakan karena ditulis dengan penuh
emosi. Kirana tersenyum tipis. Hari itu, dia mendapatkan sebuah pelajaran
berharga yang nggak ada di buku paket mana pun. Ternyata, mengekspresikan diri
dan menunjukkan siapa kita yang sebenarnya itu nggak harus selalu lewat
teriakan lantang. Nggak harus juga lewat panggung megah dengan lampu sorot yang
bikin silau, atau lewat video yang viral di media sosial.
Lewat coretan tulisan sederhana di atas selembar
kertas ini, Kirana akhirnya merasa menang. Suaranya yang selama ini
terperangkap di dalam kepala, kini akhirnya menemukan jalan untuk keluar. Dan
untuk pertama kalinya dalam hidup, Kirana merasa bahwa suaranya yang sunyi itu
akhirnya didengar oleh dunia.
*) Penghuni kelas
X-D SMAN 1 Pangalengan
**) Dikembangkan
redaksi untuk Pembaca Litertsmansa



Tidak ada komentar:
Posting Komentar