"I hope that before the test, God will always protect you and give you the strength of patience that is so strong...by abuafifi "

Kamis, 28 Mei 2026

Teenage Story

 SUARA YANG AKHIRNYA MENEMUKAN JALAN

Oleh:  Deliana A. F *)

 

Bagi Kirana, seorang siswi kelas sepuluh di SMAN 1 Pangalengan, jam literasi setiap hari Kamis selalu jadi momen yang paling membosankan. Biasanya, waktu satu jam itu cuma dia pakai buat dua hal: kalau nggak terpaksa baca bab lanjutan buku Biologi yang tebalnya mirip bantal, ya paling cuma dipakai buat melamun kosong sambil menatap lapangan upacara sekolah. Dari jendela kelas X-D, dia sering memperhatikan anak-anak cowok yang asyik main futsal di lapangan upacara, atau gerombolan siswi yang asyik bergosip di koridor.

 
Sumber: https://minanews.net/mentimun-menuntut-ilmu-anti-melamun/

Namun, Kamis minggu ini rasanya agak beda. Ibu Hajah Ani, guru Bahasa Indonesia yang terkenal ramah, masuk ke kelas dengan senyum misterius. Beliau menuliskan sebuah kalimat besar di papan tulis putih dengan spidol hitam: "Menulis untuk Ekspresi Diri."

"Anak-anak, hari ini tugas kalian simpel," ujar Ibu Hajah Ani sambil mengetuk papan tulis. "Ibu nggak butuh analisis struktur teks yang kaku. Ibu cuma mau kalian menulis apa pun yang benar-benar sedang kalian rasakan saat ini. Tumpahkan saja semua ke kertas."

Kirana langsung terdiam. Dia menatap lembaran kertas putih kosong di atas mejanya yang mendadak terasa begitu mengintimidasi. Di kelas X-D, Kirana itu ibarat karakter NPC (Non playable Character) di dalam game. Dia dikenal sebagai anak yang super pendiam, tipe siswi yang kalau duduk di pojokan kelas hampir nggak bakal disadari keberadaannya oleh guru. Kirana selalu lebih suka menjadi pendengar yang baik daripada harus angkat bicara di depan umum. Jangankan buat presentasi, buat angkat tangan nanya ke guru saja jantungnya sudah bisa ngos ngosan kayak habis marathon.


Sumber: https://www.magnific.com/idn/vektor-premium/vektor

Tapi jujur, isi kepala Kirana sebenarnya nggak pernah sepi. Di dalam kepalanya, ada pesta kembang api pikiran yang riuh banget. Ada banyak sekali hal yang pengin dia teriakkan. Dia sering merasa cemas setengah mati memikirkan masa depan tentang nanti kuliah jurusan apa, atau mau jadi apa dia setelah lulus. Di sisi lain, dia juga merasakan serunya masa-masa SMA, tentang bagaimana rasanya menemukan sahabat sejati yang bisa diajak gila-gilaan bareng di kantin. Dan yang paling menguras energinya adalah usahanya setiap hari untuk bisa berani tampil apa adanya, tanpa rasa minder.

Kirana menarik napas dalam-dalam. Dia memegang pulpennya erat-erat, lalu mulai menggoreskan tinta di atas kertas.

Glek. Awalnya terasa berat. Tapi setelah kalimat pertama berhasil ditulis, jarinya mendadak bergerak sendiri. Kalimat demi kalimat mengalir begitu saja, deras banget kayak air bah yang tanggulnya jebol. Kirana mulai menumpahkan segala keluh kesahnya tentang realitas menjadi remaja di era sekarang.

Dia menulis tentang "penjara" bernama media sosial. Tentang bagaimana rasanya dikejar-kejar tuntutan untuk selalu terlihat sempurna di Instagram atau TikTok. Harus punya aesthetic feeds, baju yang selalu gonta-ganti, dan hidup yang kelihatan selalu bahagia tanpa beban. Padahal, di balik layar smartphone yang menyala itu, di dunia nyata, Kirana tahu betul banyak remaja seumurannya termasuk dirinya sendiri yang sedang berjuang keras, menangis diam-diam di kamar, dan babak belur demi menggapai mimpi serta ekspektasi orang tua.

 
Sumber: https://www.magnific.com/idn/vektor-premium/vektor

Kirana menulis dengan jujur. Tanpa filter, tanpa jaim. Dia menulis tentang rasa kesepian, rasa tidak aman, tapi juga tentang secercah harapan kecil yang selalu dia simpan dalam hati. Setiap kata yang keluar dari pulpennya terasa seperti beban berat yang perlahan-lahan diangkat dari pundaknya.

"Kita sering kali dipaksa memakai topeng 'aku baik-baik saja' di dunia maya, sampai kita lupa bagaimana caranya jujur pada diri sendiri di dunia nyata," tulis Kirana di paragraf terakhirnya.

Saat titik terakhir selesai digoreskan, Kirana langsung menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa sangat lega. Dadanya yang semula terasa sesak kini mendadak plong.

Dia melihat lembaran kertasnya yang kini sudah penuh dengan tulisan tangannya yang agak berantakan karena ditulis dengan penuh emosi. Kirana tersenyum tipis. Hari itu, dia mendapatkan sebuah pelajaran berharga yang nggak ada di buku paket mana pun. Ternyata, mengekspresikan diri dan menunjukkan siapa kita yang sebenarnya itu nggak harus selalu lewat teriakan lantang. Nggak harus juga lewat panggung megah dengan lampu sorot yang bikin silau, atau lewat video yang viral di media sosial.

 Sumber: https://id.pngtree.com/freepng/cute-happy-muslimah-illustration

Lewat coretan tulisan sederhana di atas selembar kertas ini, Kirana akhirnya merasa menang. Suaranya yang selama ini terperangkap di dalam kepala, kini akhirnya menemukan jalan untuk keluar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Kirana merasa bahwa suaranya yang sunyi itu akhirnya didengar oleh dunia.

 

*) Penghuni kelas X-D SMAN 1 Pangalengan

**) Dikembangkan redaksi untuk Pembaca Litertsmansa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teenage Story

  SUARA YANG AKHIRNYA MENEMUKAN JALAN Oleh:  Deliana A. F *)   Bagi Kirana, seorang siswi kelas sepuluh di SMAN 1 Pangalengan, jam liter...