ANTARA KITA, PERANG DUNIA, DAN GEOPOLITIK SEKARANG
Oleh:
Redaksi Literatsmansa
Jika
Ananda mendengar istilah “Perang Dunia”, yang terbayang
biasanya film-film perang, tank, dan adegan heroik. Tapi di balik itu semua,
Perang Dunia I (1914–1918) dan Perang Dunia II (1939–1945) lahir dari cerita
yang jauh lebih rumit, persaingan negara, ambisi kekuasaan, teknologi,
propaganda, dan salah perhitungan para pemimpin dunia. Menariknya, banyak pola
yang dulu ada… masih terasa gaungnya sampai sekarang, di era geopolitik modern
ketika Amerika Serikat menjadi kekuatan global yang sangat dominan…beberap
hari ini kita dihadapkan dengan berita seputar president Trump yang menculik
presiden Venezuela “Nicolas Maduro” disambung lagi keinginan Trump “mencaplok
wilayah Greenland” yang merupakan wilayah otoritas Denmark. Kali ini Bapak
mencoba membuat benang merah antara pemicu perang dunia kesatu, kedua,…dan bisa
jadi kita sekarang di hadapkan pada perang dunia ketiga….Naudzubillah…semoga
menjadi referensi ilmu buat ananda yang soleh solehah ini.

Sumber: https://web.facebook.com/sindonews/posts/ketegangan-asvenezuela-kembali-memanas
Perang
Dunia I “Efek Domino” dari Sebuah Tembakan
Cerita
Perang Dunia I sering dimulai dari satu peristiwa dramatis, terbunuhnya
Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria di Sarajevo pada 28 Juni 1914.
Tapi jujur saja, itu hanya “pemicu”. Bahan bakarnya sudah ditumpuk jauh
sebelumnya. Beberapa faktor
pentingnya:
·
Aliansi yang saling
mengikat.Ada dua blok besar. Triple Entente (Inggris, Prancis, Rusia) dan Triple
Alliance (Jerman, Austria-Hongaria, Italia). Kalau satu negara berperang,
negara sekutunya ikut terseret.
·
Nasionalisme tinggi. Banyak
bangsa ingin merdeka atau merasa “lebih hebat” daripada yang lain. Eropa
seperti panggung persaingan geng raksasa.
·
Militerisme dan
perlombaan senjata. Negara-negara Eropa berlomba membangun kapal perang,
senjata, dan tentara. Semua siap tempur, tinggal menunggu alasan.
·
Imperialisme
Perebutan koloni di Afrika dan Asia membuat negara-negara saling curiga dan
tegang.
Setelah
penembakan di Sarajevo, sistem aliansi tadi bekerja seperti kartu domino. Satu
per satu negara menyatakan perang. Hasilnya? Tragedi global pertama dengan
korban puluhan juta jiwa dan trauma berkepanjangan.

Sumber: https://www.belajarsampaimati.com/2014/08/apa-penyebab-dan-dampak-perang-dunia-i.html
Perang
Dunia II Luka Lama, Ideologi, dan Ambisi Besar
Perang
Dunia II tidak muncul tiba-tiba. Ia kemunculannya berawal dari beberapa peristiwa penting yang
mendahuluinya.
·
kekecewaan Jerman
terhadap Perjanjian Versailles. Setelah kalah di Perang Dunia I, Jerman dihukum
berat: harus membayar ganti rugi besar, kehilangan wilayah, dan dibatasi
militernya. Banyak rakyat merasa dipermalukan.
·
munculnya rezim
totaliter. Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini di Italia, serta
militerisme Jepang memadukan nasionalisme ekstrem dan ekspansi wilayah.
·
krisis ekonomi global
(Depresi Besar 1930-an). Pengangguran dan kemiskinan membuat masyarakat mudah
terpengaruh ideologi radikal.
·
politik “mengalah” (appeasement).
Negara-negara Barat awalnya membiarkan Hitler memperluas wilayah, berharap ia
berhenti. Ternyata, justru makin berani.
Perang
meledak pada 1939 ketika Jerman menyerbu Polandia, diikuti rangkaian invasi dan
pertempuran di Eropa, Afrika, hingga Asia Pasifik. Bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki pada 1945 menutup babak paling “kelam” dalam sejarah modern.

Sumber: https://www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofBritain/World-War-2-Timeline-1945/
Hasil
dari dua perang besar itu sederhana tapi penting. kekuatan global
bergeser. Eropa hancur secara ekonomi dan politik, sementara Amerika Serikat
dan Uni Soviet bangkit sebagai dua superpower. Dunia pun masuk ke era Perang
Dingin, persaingan ideologi, nuklir, teknologi, dan pengaruh antar-blok. Di
sinilah mulai tampak pola yang masih terasa hingga saat ini negara besar mempengaruhi negara lain lewat aliansi
militer, bantuan ekonomi, pinjaman, atau sanksi, pengaruh politik, media, dan
teknologi.
Geopolitik
Hari Ini
Sekarang,
setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika Serikat sering disebut sebagai kekuatan
dominan dalam sistem internasional. Mereka punya ekonomi raksasa, teknologi
tinggi, jaringan militer global (pangkalan dan sekutu), pengaruh budaya lewat
film, musik, dan media sosial.
Sumber: https://www.kompasiana.com/frans36286/67fdb9dced64151f4919be53/bedah-kekuatan-dagang
Banyak
pengamat menilai bahwa Amerika mampu “mengontrol” atau setidaknya menekan
negara-negara yang tidak sejalan dengan kebijakannya, misalnya lewat sanksi
ekonomi, bantuan militer yang bersyarat, tekanan diplomatik, pengaruh lembaga
internasional. Namun, cerita tidak sesederhana hitam-putih. Dunia saat ini
semakin multipolar. Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, India, dan negara-negara
kawasan lain juga mulai memainkan peran penting. Persaingan bukan hanya soal
tank dan rudal, tetapi juga perdagangan dan teknologi, energi, internet dan
informasi, pengaruh di organisasi internasional. Di sinilah hubungannya dengan
Perang Dunia. Sejarah mengajarkan bahwa aliansi yang rumit, nasionalisme
berlebihan, perlombaan senjata dapat memicu konflik besar jika tidak dikelola
dengan bijak. Bedanya, sekarang ada senjata nuklir dan teknologi canggih taruhannya jauh lebih besar.
Sumber: https://www.instagram.com/p/DTTyyjsDUPi/
Benang
merah Apa yang Bisa Ananda Pelajari Sebagai Pelajar?
Ananda
yang baik, kita hari ini hidup di dunia yang saling terhubung. Konflik di satu
tempat bisa muncul di layar ponsel dalam hitungan detik. Beberapa pelajaran
penting dari sejarah Perang Dunia:
·
Konflik besar sering
berawal dari masalah kecil yang dibiarkan membesar. Komentar rasis, kebencian,
intoleransi awal dari jurang besar.
·
Propaganda itu nyata.
Dulu lewat poster, sekarang lewat media sosial. Kritis itu penting: jangan
mudah percaya informasi yang memecah belah.
·
Kerja sama
internasional itu penting. Organisasi seperti PBB mungkin tidak sempurna, tapi
dibuat agar tragedi Perang Dunia tidak terulang.
·
Dominasi satu negara
saja rawan menimbulkan ketegangan. Dunia lebih aman jika negara-negara belajar
menghormati kepentingan satu sama lain.
Pada
akhirnya, sejarah bukan sekadar hafalan tanggal dan nama tokoh….tanya ke pa Pepi, Pa Rifki
atau bu Widi…beliau-beliau pasti menjawab belajar sejarah adalah cermin. memperlihatkan betapa mudah manusia mengulang
kesalahan ketika lupa belajar dari masa lalu. Hari
ini kita melihat begitu dunia di ambang perang dunia ketiga…dengan pemicu yang
sama dengan perang dunia sebelumnya. SEmoga Allah SWT melindungi kita dan
bangsa Indonesia dari berbagai ancaman perang yang akan menyengsarakan semua…Aamiin
yra.
Rujukan:
·
Clark, Christopher. The
Sleepwalkers: How Europe Went to War in 1914. HarperCollins.
·
Taylor, A. J. P. The
Origins of the Second World War. Penguin.
·
Kershaw, Ian. To
Hell and Back: Europe 1914–1949. Penguin.
·
Kennedy, Paul. The
Rise and Fall of the Great Powers. Vintage.
·
Mearsheimer, John J. The
Tragedy of Great Power Politics. W.W. Norton.



Terimakasih atas literasinya ๐๐
BalasHapusTerima kasih atas literasi nya ๐๐ป
BalasHapus-Rizka X-A
Terimakasih untuk literasi nya๐
BalasHapusterima kasih literasinya ๐
BalasHapusmakasih bu alfirji x-d
BalasHapusterimakasih atas literasinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusAmanda Risma Ayu X-E