"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Minggu, 25 Januari 2026

Applied Science

 KAMBING HITAM ITU NAMANYA APHELION DAN PERIHELION

Oleh: Redaksi Literatsmansa

 

Ananda yang baik, ngerasa gak…beberapa hari terakhir ini udara lebih dingin dari biasanya?...hayoooo mandi gak tadi pas mo berangkat ke sekolah?...kali ini tim redaksi akan menampilkan tulisan sekaitan dengan fenomena alam yang menyertai cuaca dingin yang Ananda rasakan…yuk Simak biar nambah ilmunya!!!


Sumber:smansa_pangalengan

Pasti Ananda pernah dengerin penjelasan Bu Dea, Bu Pipit atau Pa Restu bahwa Bumi mengelilingi Matahari dalam lintasan elips, bukan lingkaran sempurna. Karena bentuk orbit tersebut, terdapat dua titik penting dalam satu tahun revolusi Bumi, yaitu aphelion dan perihelion. Aphelion adalah kondisi ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, sementara perihelion adalah saat Bumi berada di titik terdekat. Aphelion umumnya terjadi pada awal Juli, dengan jarak Bumi ke Matahari mencapai sekitar 152,1 juta kilometer. Sebaliknya, perihelion terjadi pada awal Januari, saat jarak Bumi ke Matahari menyempit menjadi sekitar 147,1 juta kilometer. Meskipun terdapat selisih jarak sekitar 5 juta kilometer, atau sekitar 3,3% dari jarak rata-rata Bumi-Matahari, perbedaan tersebut tidak serta merta berdampak besar pada suhu permukaan Bumi. Variasi intensitas radiasi Matahari yang diterima akibat fenomena ini hanya sekitar 6–7 persen, dan dampaknya terhadap iklim harian sangat kecil, apalagi kita berada di wilayah tropis.

 
Sumber: https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-7461767/matahari-semakin-menjauhi-bumi-benarkah-ternyata-ini-faktanya

Ananda yang baik, banyak yang beranggapan bahwa saat Bumi lebih dekat ke Matahari, suhu akan terasa lebih panas, dan sebaliknya saat lebih jauh, suhu menjadi dingin. Namun, pada kenyataannya, musim dan suhu di Bumi justru lebih ditentukan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat, bukan oleh jarak Bumi terhadap Matahari. Saat perihelion terjadi di bulan Januari, justru negara-negara di belahan Bumi utara seperti Eropa dan sebagian besar Asia sedang mengalami musim dingin. Di sisi lain, saat aphelion terjadi di bulan Juli, wilayah selatan Bumi seperti Australia sedang berada dalam musim dingin pula, meskipun Bumi sedang berada di titik terjauh dari Matahari.

 
Sumber: https://bobo.grid.id/read/081297282/hari-ini-bumi-ada-di-jarak-terdekat-dengan-matahari-inilah-perihelion

Di Indonesia, yang berada di wilayah tropis, tidak terjadi empat musim seperti di negara-negara lintang tinggi. Indonesia mengalami dua musim utama, yaitu musim hujan dan kemarau, yang sangat bergantung pada pola sirkulasi angin muson dan kelembapan udara. Hal ini menjelaskan mengapa peristiwa aphelion dan perihelion tidak membawa perubahan suhu atau cuaca yang mencolok di Indonesia.

 
Sumber: https://www.shutterstock.com/id/image-generated/equator-axial-tilt

Perlu Ananda ketahui, ketika aphelion terjadi pada awal Juli, sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Kondisi cuaca kering dengan langit cerah memungkinkan panas dari permukaan Bumi cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari, menyebabkan suhu udara turun drastis menjelang pagi. Hal ini membuat suhu udara di pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya, terutama di daerah pedalaman atau dataran tinggi. Fenomena pendinginan malam hari ini dikenal dalam istilah lokal sebagai “bediding”.

Namun, penting untuk dicatat sama Ananda yang cuakep  bahwa suhu dingin yang dirasakan bukan akibat aphelion secara langsung. Penyebab utama adalah masuknya angin muson timur dari Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia. so, meskipun secara kebetulan aphelion dan cuaca sejuk terjadi di waktu yang sama, keduanya tidak memiliki hubungan kausal yang kuat.

Berbeda dengan bulan Juli, saat perihelion terjadi pada Januari, sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim hujan. Suhu udara terasa hangat dan lembab, dengan curah hujan yang tinggi. Namun, kondisi ini bukan karena Bumi lebih dekat ke Matahari. Perihelion hanya berkontribusi sangat kecil terhadap peningkatan radiasi Matahari. Cuaca lembab dan hujan deras di Indonesia pada periode tersebut justru lebih dipengaruhi oleh angin muson barat dari Samudra Hindia yang membawa uap air dalam jumlah besar ke wilayah Nusantara termasuk ke Pangalengan kampung halaman kita ini.

 
Sumber: https://roboguru.ruangguru.com/question/wilayah-indonesia-mengalami-angin-muson

Dengan tutupan awan yang tebal dan kelembapan udara tinggi, panas Matahari yang masuk ke permukaan Bumi juga terperangkap, membuat suhu udara terasa hangat bahkan meskipun sinar matahari tidak selalu tampak. Lagi-lagi, perihelion bukanlah faktor utama dalam penentuan suhu atau curah hujan di wilayah Indonesia.

Ananda yang pinter, di tengah beredarnya fenomena astronomi ini, masyarakat kita kerap menerima informasi keliru, seperti anggapan bahwa aphelion menyebabkan suhu ekstrem, penyakit kulit, bahkan gangguan tubuh tertentu. Para peneliti juga para ahli geofisika telah berulang kali menegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara aphelion/perihelion dengan cuaca ekstrem ataupun gangguan kesehatan!!!

 
Sumber: https://sulut.inews.id/berita/waspada-cuaca-ekstrem-bmkg

Fakta ilmiah menunjukkan bahwa aphelion dan perihelion adalah bagian alami dari orbit tahunan Bumi dan selalu terjadi pada periode yang sama setiap tahun. Kedua fenomena ini penting secara astronomis, tetapi tidak berbahaya secara klimatologis maupun biologis. Ananda sebagai Masyarakat ilmiah dan literat  diimbau untuk tetap tenang dan terus mencari informasi dari sumber resmi, bukan dari pesan berantai atau unggahan yang belum diverifikasi.


 Sumber: https://www.liputan6.com/photo/read/6264714/longsor-cisarua-bandung-barat

Perlu Ananda renungkan, fenomena aphelion dan perihelion memberikan gambaran tentang keteraturan alam semesta dan dinamika gerak planet dalam sistem tata surya maha karya Sang Pencipta. Meski tidak berpengaruh besar terhadap iklim di Indonesia, memahami kedua peristiwa ini tetap penting sebagai bagian dari literasi sains Masyarakat termasuk juga dalam mengantisipasi beragam bencana klimatologi yang sering melanda wilayah kita (kemarin  kita dikejutkan dengan bencana tanah longsor yang melanda wilayah Cisarua Bandung Barat…yang disinyalir dampak dari curah hujan serta perubahan fungsi lahan).

So…dengan pemahaman yang tepat, Ananda dapat terhindar dari kekhawatiran yang tidak berdasar, sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap sains dan literasi kritis dalam memberikan informasi yang kredibel. Di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan memilah fakta dan mitos adalah bentuk kecerdasan yang sangat dibutuhkan, setelah baca artikel ini jauhkan suudzhon kita yang mengkambinghitamkan aphelion dan perihelion  sebagai biang cuaca dingin saat ini….terima kasih semoga bermanfaat, jangan lupa ngomen ya!!!

Daftar Referensi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (2025). Fenomena Aphelion Tidak Berdampak Signifikan terhadap Cuaca di Indonesia. [Siaran Pers]. https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/fenomena-aphelion-berdampak-ke-cuaca-indonesia-bgini-penjelasannya

Kompas.com. (2025, 7 Juli). Benarkah Fenomena Aphelion Picu Suhu Dingin? Ini Penjelasan BMKG.
https://www.kompas.com/tren/read/2025/07/07/173000265/benarkah-fenomena-aphelion-picu-suhu-dingin-ini-penjelasan-bmkg

Detik.com. (2025). Fenomena Aphelion dan Perihelion, Simak Dampaknya bagi Bumi.
https://news.detik.com/berita/d-7999691/fenomena-aphelion-dan-perihelion-simak-dampaknya-bagi-bumi

Tempo.co. (2025). Mengenal Fenomena Aphelion: Penjelasan BMKG.
https://www.tempo.co/sains/mengenal-fenomena-aphelion-penjelasan-bmkg--1948515

Tazkia.ac.id. (2025). BMKG Tegaskan Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Utama Cuaca Dingin di Indonesia. https://tazkia.ac.id/berita/populer/1401-bmkg-tegaskan-fenomena-aphelion-bukan-penyebab-utama-cuaca-dingin-di-indonesia

27 komentar:

  1. makasih bu alfirji x-d

    BalasHapus
  2. terimakasih atas literasinya
    hadad x-d

    BalasHapus
  3. Terimakasih untuk literasi nya🙏

    BalasHapus
  4. terimakasih literasi nya sangat brmanfaat

    BalasHapus
  5. Terimakasih atas Literasi nya ini sangat membantu dan sangat bermanfaat

    BalasHapus
  6. Terimakasih atas literasinya sangat bermanfaat
    Farisa X-E

    BalasHapus
  7. Terimakasih atas literasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  8. terimakasih atas literasi nya bu 🙏 ( Cessa X-C )

    BalasHapus
  9. sangat bermanfaat terimakasih

    BalasHapus
  10. sangat bermanfaat terimakasih
    farhan xc

    BalasHapus
  11. TERIMAKASIH ATAS LITERASINYA, SANGAT BERMANFAAT 🔥🔥🔥

    BalasHapus
  12. sangat bermanfaat terimakasih
    queensha xc

    BalasHapus
  13. terimakasih atas literasi nya
    citra xc

    BalasHapus
  14. terimakasih atas literasinya | sahla xc

    BalasHapus
  15. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  16. terimakasih atas literasi nya bu
    silva xc

    BalasHapus
  17. terimakasih atas literasinya |keysa xc

    BalasHapus
  18. terimakasih atas literasinya ibu
    Gia X-B

    BalasHapus
  19. terimakasih atas literasinyaa ..

    BalasHapus
  20. literasinya sangat bermanfaat
    Fira X-B

    BalasHapus
  21. Terimakasih atas literasinya
    Dara X-B

    BalasHapus
  22. terimakasih ibu atas literasi nyaa

    BalasHapus
  23. terimakasih atas literasinya, bermanfaat sekali..

    Meysa X-B

    BalasHapus
  24. Terimakasih bapa literasinya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  25. Terimakasih atas literasinya
    Wafiq X-E

    BalasHapus
  26. Amanda Nur rispa XB27 Januari 2026 pukul 07.00

    terimakasih atas literasinya

    BalasHapus

Our Culture

  DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA Oleh: Rusmana *)   Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua ata...