MENGAMBIL DUNIA UNTUK KESELAMATAN DI AKHIRAT
Oleh: Asep Istiqlal,
S.Pd *)
Dari
Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah saw memegang pundak kedua
pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing
atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan
tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari,
gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk
kematianmu “ (Riwayat Bukhori).

Sumber: https://alhaqcentremalaysia.com/?p=6987
Pelajaran yang terdapat di dalam hadist:
1.
Bersegera mengerjakan
pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena
dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2.
Menggunakan berbagai
kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu .
3.
Zuhud di dunia berarti tidak
bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah Ta’ala untuk
kehidupan akhirat.
4.
Hati-hati dan khawatir dari
azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati
agar tidak tersesat.
5.
Waspada dari teman yang buruk
hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6.
Pekerjaan dunia dituntut untuk
menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan
semua itu untuk tujuan akhirat.
7.
Bersungguh-sungguh menjaga
waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal
shaleh.
8.
Rasulullah memegang kedua
pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau
sampaikan. Menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian
gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya.
Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan
kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya
dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.

Sumber: https://pwmu.co/saat-sehat-dan-waktu-luang-terbuang-penyesalan-pun-datang/
Tema
hadits yang berkaitan dengan Al qur'an
1. Hakikat kehidupan
كُلُّ نَفْسٍ
ذائِقَةُ الْمَوْتِ
وَإِنَّما تُوَفَّوْنَ
أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيامَةِ فَمَنْ
زُحْزِحَ عَنِ
النَّارِ وَأُدْخِلَ
الْجَنَّةَ فَقَدْ
فازَ وَمَا
الْحَياةُ الدُّنْيا
إِلاَّ مَتاعُ
الْغُرُورِ
Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan
ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali-Imron:185].
Sumber: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210430114611-284-636863/pentingnya-membalas-keburukan-dengan-kebaikan
2.
Optimalisasi setiap kesempatan :
فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانْصَبْ
وَإِلَى رَبِّكَ
فَارْغَبْ
Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu
berharap. [Alam Nasyrah: 7-8].
*) Guru PABP di SMAN 1 Pangalengan. Koordinator
MBG. Aktivis olah raga Alam terbuka
**) dari berbagai sumber
PRIA BERTOMPEL DAN PRIA BERPARANG DI PIPI
Oleh: Regina Atha Bhanuwaty Putrizal (X-H)
Jakarta, malam 04 Oktober 1965.
Beberapa waktu lalu, 30 September 1965. Aku dengar ibu-ibu desa ngobrol di warung. Katanya ada jendral-jendral yang diculik, dihabisi nyawanya. Aku gak ngerti dihabisi itu apa, Kata Ari, diculik itu artinya aku gak bisa bertemu ibu dan adik wulan.
Serem.
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/53761789290899713/
Umurku 10 tahun. Ibu memanggilku raharni. Ibu sedang duduk termenung di depan pintu. Ini dini hari yang dingin "Bu...tadi aku denger ada suara keras, kenapa bu?" Suara kecil raharni memecah lamunan sang ibu. "Ndhok, kamu kaget yah? Gak ada apa apa, paling kamu salah denger" ucap sang ibu lalu menyuruhku kembali ke tempat tidurnya. Aku yang masih setengah mengantuk itu mengangguk dan berjalan kembali ke kamar.
Keesokan paginya ketika aku akan berangkat ke sekolah aku bertanya pada ibu "Ibu, bapak kemana? Kok aku gak liat, bapak belum bangun?" Tanyaku "Bapak sudah pergi duluan tadi" ucap ibu tanpa banyak menjelaskan. Dan lagi lagi aku hanya kembali menganggukkan kepala. Di sekolah, teman-teman raharni sibuk menceritakan hal yang dialami masing-masing anak di rumah. Ari temanku yang bapaknya petani bawang memulai pembicaraan lebih dulu. "tadi malam gaduh sekali, katanya para pemuda dan bapak-bapak diangkut menggunakan truk dibawa entah kemana" jelasnya Dimas "benar! Karna itu ayah dan pamanku lari ke gua jepang di belakang bukit sawi!
Suasananya mencekam sekali semalam!" Timpalnya. Aku yang mendengar obrolan teman teman merasa aneh, karna bapak juga tidak terlihat pagi ini. Tapi aku memilih untuk tidak mengambil pusing dan memilih mengerjakan tugas yang belum selesai.Ketika hari Minggu tiba, biasanya anak-anak desa akan pergi berenang di sungai desa mereka. Tapi
pagi ini ketika aku seperti biasa meminta izin kepada ibu untuk diizinkan bermain ibu menolaknya.
"Bu, aku mau main di sungai belakang sama temen. Biasaaa..."ucapku manja
"Jangan, Ndhok. Airnya lagi sakit, anak anak yang lain juga gak akan ada yang datang. Orang tua
mereka juga pasti ngelarang"ucap ibu sambil mengaduk sayur di wajan.
"Tapi bu, banyak ikan disana, rani mau mancing sambil berenang..."bujukku pada ibu
"Ibu bilang gak ya gak, sudah balik kamar saja. Belajar! Besok kau ada ulangan bukan? Jangan malu
maluin ibu kau dapat nilai jelek"omel ibu
"Iya bu iya..."desahku kecewa.
Padahal ibu raharni tau, air sakit yang dimaksud adalah air sungai yang berubah warna menjadi
merah dan berbau amis darah pekat. Beberapa hari ini kebelakang di temukan beberapa tubuh
terdampar di pinggir sungai. Ada yang bagian tubuhnya tak lengkap. Karena air merah itu banyak
ikan-ikan mengambang mati, dan membuat warga desa tak bisa pergi memancing, mandi ataupun
mengambil air.
Ini sudah seminggu bapak tidak pulang, aku mulai bertanya-tanya pada ibu. Karna setiap malam
ketika sehabis makan selalu ada segerombolan pria paruh baya berjumlah sekitar 4-6 orang
mendatangi rumah dan menghujani ibu dengan beragam pertanyaan, tak jarang ibu dan gerombolan
pria paruh baya itu sampai adu mulut karena mereka memaksa ibu untuk menjawab pertanyaan
mereka. Pernah satu hari satu orang pria paruh baya dalam kelompok itu, yang punya tompel di atas
bibirnya bersikap terlalu keras sampai membanting kursi di ruang tamu sampai membangunkan adik
wulan yang masih bayi tertidur dan menangis. Ibu yang marah langsung membentak dan menunjuk
setiap orang itu "Saya benar benar tidak tau! Jangan ganggu saya! Di sini hanya ada saya dan kedua
putri saya! Pergilah! Saya tidak takut! Pergi! "Berang ibu. Kemudian salah seorang pria paruh baya
yang memiliki bekas parang di pipinya menarik pria tompel itu dan pamit.
Rasa takut selalu menjalarku ketika gerombolan pria itu datang setiap malam. Karena itu setiap habis
makan dimalam hari ibu selalu menyuruh ku masuk kamar dan mengunci pintu.
Keesokan paginya, aku terbangun karena mendengar suara teriakan. Itu ibu Surindah, ibunya Ari.
Ketika rumahnya di datangi warga yang membawa tubuh ayah ari. Ku lihat dari jendela ruang tamu,
ku lihat tubuh ayah ari yang biasanya mengangkut karung kini berbaring di pelantaran rumah,
tubuhnya seperti daging merah yang ibu dapat ketika kurban. Aku baru tau orang tidur matanya gak
harus tertutup.
Dan di dadanya terdapat 2 buah lubang kecil yang tak ku ketahui apa sebabnya.
Pagi itu tak ada anak di desaku yang pergi sekolah, semuanya pergi melayat ke rumah Ari.
Di sore hari ketika aku baru pulang dari mengaji bersama ustadz Rohman di masjid bersama Mirah.
Kami lihat lagi para pria dan dimas sedang menggotong beberapa orang yang dari kelihatannya itu
dari sungai. Kami langsung membelalakkan mata itu adalah Pak Rojid dan Pak Anson. Mereka
semua teman bapak, kupikir bapak pergi bersama mereka. Seingat ku mereka punya beberapa buku
dengan gambar palu dan arit berwarna merah dan kuning.

Sumber: https://kitaabnow.com/product/the-communist-manifesto-2/
Kemudian aku lihat ibu berlari ke arahku dan menyuruhku segara pulang ke rumah jangan keluyuran
kemana mana katanya dimas teman sekolah ku menghilang, ibunya mencari kemana kemari tak jua
ketemu si empu anak itu. Awalnya dipikir hanya bermain ke sungai atau hutan kebun di belakang tapi
sampai malam tak juga kembali. Itulah yang membuat pak RT menyuruh beberapa warga laki laki
yang masih tersisa untuk turut menbantu mencari dimas. Walau menurut ibu, si dimas ini diangkut
truk ketika main terlalu jauh.
Malam hari, ketika kami makan malam bersama. Aku kembali menanyakan bapak pada ibu
"Bu, bapak sebenarnya kemana? Ini udah lebih dari seminggu...
Rani kangen bapak" ucap rani sambil mengaduk nasi di piringnya
"Ibu juga gak tau, rani. Bapakmu gak ngasih kabar, doain aja semoga bapakmu baik baik aja dan
segera pulang" ucap ibu sambil memomong adik Wulan
Aku hanya memoyongkan bibirku cemberut. Kemudian kembali melahap makan malam buatan ibuku
itu.
Tapi sebelum sempat makanan di piringku habis. Suara ketukan terdengar dari balik pintu. Ibu seraya
bangkit dan berkata "Sudahi makanmu, rani. Pergi masuk kamar. Kunci." Ucap ibu singkat kemudian
menggendong adik Wulan ke luar bersamanya.
Di kamar, karena masih belum mengantuk aku memutuskan untuk membuka buku pelajaran ku saja
seingatku bu Lingga menyuruh kami menyelesaikan tugas penjumlahan matematika. Ini mudah sekali
bagiku. Pikirku.
Tapi ketika sedang asyik mengerjakan soal. Fokusku buyar. Terdengar suara ibu yang beradu mulut
dengan pria bertompel dan dihalangi pria berparang di pipi. Dengan suara adik Wulan yang
menangis di pelukan ibu.
Aku takut, karena pria bertompel itu benar benar marah kali ini. Dia membanting meja dan kursi, dia
memaksa ibu untuk menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Dimana bapak" tapi ibu
mengelak dan menjawab. Sampai akhirnya mereka tak sabar lagi dan merangsek masuk ke dalam.
Mereka mendobrak setiap pintu dan mengacak-acak setiap sudut rumah.
"Cari si tua itu! Dia pasti sembunyi di dalam! Kalau dia tidak ketemu kita bisa kena pukul!" Ucap pria
dengan tompel di pipi memerintah.
Aku gemetar. Aku segara meninggalkan meja belajarku dan masuk ke dalam lemari dan berusaha
tidak menimbulkan suara apapun.

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/foto/gadis-kecil-menutup-mulutnya-dengan-tangannya
Derap langkah mereka kini menuju kamarku pintu yang tadi ku kunci mereka dobrak dengan sekali
tendang. Brak!
"Dimana si tua itu sembunyi sebenarnya! Cari dibawah kolong atau sudut!" Ucap pria bertompel. Aku
menahan nafas dan menutup mulutku dengan tangan berusaha tidak menimbulkan suara apapun.
Sampai telingaku menangkap suara seseorang yang tak kukenal berdiri di depan lemari tempat ku
bersembunyi. Saat itu juga aku menyebut nama tuhanku, membaca dalam hati segala doa yang
kuingat. "Allahumma bariklana, alluhama aya bismika...." batinku berdoa. Semakin dekat suara itu
dengan lemari tempatku bersembunyi. Dret...dret..dret
"Si tua itu tidak ada dimanapun, kata wanita itu dia punya dua putri satu lagi dimana?" Ucap pria
dengan bertompel yang bisa kutangkap.
Kemudian sebelum sempat aku menahan nafas pintu lemari yang menjadi tempat terakhir ku
bersembunyi dibuka.
Kulihat wajah pria bertompel dengan jelas dan berparang yang sedang berdiri dekat pintu kamarku
menatap ke arahku dengan alis mengeryit. Sedangkan pria bertompel itu menahan jijik.
Kurasakan hangat diantara kedua pahaku. Kulirik ke bawah. Ternyata aku tak bisa menahan kandung
kemih ku karena rasa takut yang menjalar.
*) Ditulis untuk mengingat bahwa sejarah tidak hanya tertulis di buku. Tapi juga bisa dirasakan,
mengenang peristiwa ketidakadilan dan kekerasan di tahun 1965 yang sebelumnya terlupakan



Tidak ada komentar:
Posting Komentar