PENTINGNYA ADAB DALAM ECOFRIENDLY SPEAKING
Oleh:
Tim Redaksi Literatsmansa
Lisan
adalah cerminan hati. Banyak konflik, kesalahpahaman, bahkan luka batin bermula
dari ucapan yang tidak terjaga. Dalam sebuah nasihat yang masyhur disebutkan
bahwa keselamatan seseorang sangat bergantung pada lisannya (baik buruknya
dampak banyak ditentukan oleh apa yang diucapkan). Oleh karena itu, menjaga
adab dalam berbicara bukan hanya etika lingkungan, tetapi juga bentuk tanggung
jawab moral.
Sumber: https://web.facebook.com/ecovibeapparell/posts/your-uniform-is-speaking-even-when-your-staff
Mengapa
Ecofriendly Speaking Itu Penting?
Ecofriendly
speaking
membantu:
- Menciptakan
hubungan yang sehat dan harmonis
- Menghindari
konflik yang tidak perlu
- Menjaga
perasaan dan harga diri orang lain
- Membangun
citra diri sebagai pribadi yang bijak
Sebaliknya,
ucapan yang kasar, membicarakan orang lain, atau sindiran dapat menjadi “polusi
verbal” yang mencemari suasana dan melukai hati orang lain, bahkan tanpa
disadari.
Ecofriendly Speaking menuntut beberapa prinsip utama, yakni:
1. Kesadaran (Awareness)
Menyadari dampak dari setiap kata yang
diucapkan. Apakah kata tersebut membangun atau justru merusak dan menjatuhkan
mental?
2. Empati (Empathy)
Menempatkan diri pada posisi hati orang
lain sebelum berbicara. Ini membantu menghindari ucapan yang menyakitkan.
3. Kesederhanaan
(Simplicity)
Menghindari bahasa yang berlebihan,
manipulatif, atau penuh emosi negatif yang tidak perlu.
4. Tanggung
Jawab (Responsibility)
Mengakui bahwa setiap ucapan adalah bentuk
tindakan moral yang memiliki konsekuensi.

Sumber: https://pls.fip.unesa.ac.id/post/tutur-santun-cerminan-isi-hati-dan-kehormatan-diri
"Polusi
Verbal" tidak hanya berdampak pada individu yang menerima ucapan tersebut,
tetapi juga menciptakan lingkungan sosial yang toksik. Dalam jangka panjang,
hal ini dapat menurunkan kualitas hubungan personal, memicu konflik, dan bahkan
merusak kesehatan mental seseorang. Dalam analogi lingkungan, seperti halnya
limbah yang dibuang sembarangan tidak dibuang ke tempat sampah yang tepat maka
akan dapat mencemari air, tanah, maupun lingkungan, begitu pun kata-kata tidak
beradab akan mencemari kepercayaan, asa aman, dan nyaman dalam masyarakat. Maka
dengan demikian dibutuhkan "Budaya Berbahasa yang Berkelanjutan"
untuk membangun budaya ecofriendly speaking sebagai upaya menciptakan
keberlanjutan sosial (social sustainability).

Sumber: https://www.social-life.co/publication/designing_for_social_sustainability/
Penerapan
4 Prinsip Ecofriendly Speaking dalam contoh kalimat:
1.
Berbicara dengan Empati (Think before You Speak)
Sebelum berbicara, pertimbangkan perasaan orang
lain. Tanyakan pada diri sendiri: “Apakah kata-kata ini akan menyakiti atau
membantu?”
Contoh:
❌ “Kamu kok
lambat banget sih, yang lain sudah selesai dari tadi.”
✅ “Kalau kamu
butuh bantuan, aku bisa bantu supaya lebih cepat selesai.”
Ucapan yang kedua lebih membangun, tanpa
merendahkan.
2.
Menghindari Membicarakan Orang Lain dan Harus Pandai Mengalihkan Pembicaraan
Membicarakan keburukan orang lain adalah salah
satu bentuk polusi verbal yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat
besar. Ecofriendly speaking mengajarkan kita untuk tidak ikut
menyebarkan hal negatif. Ia bukan sekadar obrolan ringan, namun ia dapat
menjadi bentuk ketidakadilan sosial yang merugikan banyak pihak.
Bagi yang dibicarakan: Reputasi bisa
rusak di mata orang lain, menimbulkan tekanan psikologis, berpotensi dijauhi
atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain secara tidak objektif.
Bagi yang membicarakan: Menanggung dosa
karena menyebarkan hal yang belum tentu benar, kehilangan kepercayaan dari
orang lain jika diketahui dia suka membicarakan keburukan orang lain, membentuk
kebiasaan buruk dalam menjaga lisan.
Contoh cara mengalihkan pembicaraan:
❌ “Eh kamu
tahu nggak si C itu katanya….”
✅ “Aku kurang
nyaman membahas itu. Ngomong-ngomong, kamu sudah lihat proyek terbaru kita
belum?”
Atau:
“Mungkin lebih baik kita fokus ke hal
yang bisa kita pelajari atau perbaiki, ya.”
Ini menunjukkan kedewasaan pemikiran tanpa
menghakimi.
Sumber: https://aktual.com/adab-bicara-seorang-muslim-yang-benar-3/
3.
Menghindari Polusi Verbal (Kata-kata yang Menyakiti atau Merendahkan)
Polusi verbal tidak selalu berupa kata kasar,
tetapi juga bisa berupa sindiran, candaan yang menyinggung, atau komentar yang
meremehkan.
Contoh:
❌ “Ah, itu
sih gampang, masa kamu nggak bisa?”
✅ “Kalau kamu
mau, kita bisa coba pelajari bareng.”
Ucapan sederhana bisa terasa sangat berbeda
tergantung cara penyampaiannya.
4.
Berkata yang Baik atau Diam
Tidak semua hal perlu diucapkan atau
dibicarakan. Dalam ecofriendly speaking, diam adalah pilihan bijak jika
ucapan tidak membawa kebaikan.
Contoh:
Saat emosi:
❌ “Kamu
selalu bikin masalah!”
✅ (diam
sejenak, lalu) “Aku butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri, nanti kita
bicarakan baik-baik.”
Saat ingin mengkritik:
❌ “Kerjaanmu
berantakan banget.”
✅ “Mungkin
ada beberapa bagian yang bisa kita rapikan supaya hasilnya lebih maksimal.”
Ecofriendly speaking bukan sekadar teknik komunikasi, tetapi bentuk adab yang mencerminkan kualitas diri seseorang. Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menghindari menyakiti orang lain, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih ramah, damai, dan saling menghargai layaknya bahasa surga. Bahasa surga itu adalah salam, yang melambangkan kedamaian, penghormatan, dan keselamatan abadi bagi penghuninya. Salam ini merupakan sapaan langsung dari Allah SWT dan para malaikat, sebagaimana tercantum dalam QS. Yasin: 58, yang menegaskan bahwa penghuni surga akan menerima ucapan "Salam" sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
Sumber: https://dhanalestari.com/2025/07/14/5-soft-skill-hebat-yang-menentukan-kualitas-dirimu/
Setiap
kata yang kita ucapkan memiliki dampak. Maka, pilihlah kata yang menenangkan,
membangun, dan membawa kebaikan. Karena pada akhirnya, keselamatan dan
kehormatan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia berujar menjaga
lisannya.
**) Referensi: dari berbagai sumber




Tidak ada komentar:
Posting Komentar