"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Senin, 02 Februari 2026

Our Culture

 DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA

Oleh: Rusmana *)

 

Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua atau kakek-nenek di rumah? Atau justru lebih sering pakai bahasa Indonesia, bahkan campur-campur sama bahasa gaul dan istilah asing? Tenang, itu wajar kok. Tapi di balik kebiasaan itu, ada satu hal penting yang sering kita lupa bahasa daerah termasuk dialeknya adalah bagian dari identitas kita. Mempelajari dialek bahasa Sunda bukan cuma soal bisa ngomong “punten” atau “hatur nuhun”, tapi juga soal menjaga warisan budaya dan menunjukkan cinta pada daerah asal.

 
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/722053752797392839/

Ananda yang baik, Bahasa bukan cuma alat komunikasi. Bahasa menyimpan cara berpikir, nilai, dan kebiasaan suatu masyarakat. Dalam bahasa Sunda, misalnya, kita mengenal tingkatan tutur seperti lemes, loma, dan kasar yang mengajarkan sopan santun dan rasa hormat kepada lawan bicara. Dari sini kita belajar bahwa berbicara itu bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga menjaga perasaan orang lain. Jadi, ketika remaja belajar bahasa Sunda beserta dialeknya, sebenarnya kita sedang belajar etika, empati, dan tata krama khas budaya Sunda.

Apa Sih Dialek Itu?

Dialek bisa dibilang “rasa lokal” dari sebuah bahasa. Bahasa Sunda di Bandung, Cianjur, Garut, atau Cirebon punya perbedaan pengucapan, kosakata, dan intonasi. Semuanya tetap Sunda, tapi punya warna sendiri. Dialek ini lahir dari sejarah, kondisi geografis, dan interaksi sosial yang berbeda-beda. Keren, kan? Dengan mempelajari dialek, kita jadi tahu bahwa budaya itu hidup dan beragam, bukan sesuatu yang kaku.

 
Sumber: https://www.instagram.com/reels/DA-nyt6yuab/

Mengapa kita harus peduli terhadap Bahasa Sunda khususnya? Pertama, karena bahasa daerah sedang menghadapi tantangan serius. Di era media sosial dan globalisasi, banyak remaja lebih nyaman pakai bahasa Indonesia atau bahasa asing. Akibatya, penggunaan bahasa Sunda di rumah dan lingkungan makin berkurang. Kalau generasi muda tidak mau belajar dan memakainya, siapa lagi yang akan meneruskan?. Kedua, belajar dialek Sunda bisa bikin kita lebih pede dengan identitas sendiri. Nggak perlu minder jadi “anak daerah”. Justru, punya kemampuan berbahasa daerah itu nilai plus. Bayangin kamu bisa switch dari bahasa Indonesia ke Sunda halus dengan lancer itu menunjukkan kamu punya kecakapan budaya. Ketiga, ada manfaat akademik dan sosial. Penelitian tentang bilingualisme menunjukkan bahwa orang yang terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa cenderung punya fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Selain itu, kemampuan berbahasa Sunda memudahkan kita berbaur dengan masyarakat lokal, ikut kegiatan adat, atau sekadar ngobrol akrab dengan tetangga dan orang tua.

Ananda yang cuakeepppp, Setiap dialek punya cerita. Misalnya, dialek Priangan dikenal dengan penggunaan lemes yang kuat, sementara di daerah pesisir bisa ditemukan kosakata serapan dari bahasa lain karena sejarah perdagangan. Dari sini, kita belajar bahwa bahasa Sunda tidak berdiri sendiri; ia berinteraksi dengan sejarah. Mempelajari dialek berarti membuka jendela ke masa lalu: bagaimana orang-orang dulu hidup, berdagang, bermigrasi, dan membangun komunitas.

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/384776361937452479/

Masih banyak yang beranggapan jika pakai bahasa daerah itu “jadul”. Padahal, sekarang banyak konten kreator yang mengemas bahasa Sunda secara modern: dari komedi pendek, musik, sampai podcast. Dialek Sunda bisa jadi bahan konten yang unik dan relatable. Bayangin bikin video sketsa dengan dialog Sunda Cianjuran atau Bandung pasti ada rasa khas yang bikin penonton senyum. Lebih jauh lagi, melestarikan bahasa daerah sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia kuat justru karena beragam. Kalau satu per satu bahasa daerah hilang, kita bukan jadi lebih maju kita justru kehilangan kekayaan.

 

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/696439529920408695/

Di masa yang akan datang, dunia akan makin terhubung. Bahasa asing memang penting, tapi bahasa daerah adalah akar. Pohon yang kuat butuh akar yang kuat. Dengan mempelajari dialek Sunda, remaja tidak hanya menjaga warisan, tapi juga membangun jati diri yang kokoh: terbuka pada dunia, tapi tetap tahu dari mana kita berasal. Akhirnya, mencintai bahasa Sunda termasuk dialeknya bukan soal nostalgia. Ini soal tanggung jawab generasi. Kita bisa jadi generasi yang membiarkan bahasa daerah memudar, atau generasi yang membuatnya tetap hidup, relevan, dan dibanggakan. Pilihannya ada di tangan kita. Jadi, mulai hari ini, coba Ananda sapa temanmu dengan, “Kumaha damang?” Siapa tahu, dari obrolan kecil itu, cinta pada budaya sendiri tumbuh makin besar….selamat mencoba.

*) Guru di SMAN I Pangalengan yang sedang belajar menulis

**) Daftar Rujukan

Alwasilah, A. Chaedar. Pokoknya Sunda: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Sumarsono & Partana, Paina. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

UNESCO. Language Vitality and Endangerment. (Dokumen tentang pentingnya pelestarian bahasa).

Minggu, 01 Februari 2026

Matemagic

 # *Diskon 50% Itu Beneran Untung? Matematika Menjawab*

Oleh: Dera Annisa Ratnasari, S.Pd  *)

 

Pernah nggak sih kamu lihat tulisan *“DISKON 50%!!!”* lalu refleks mikir,  “Wah, ini murah banget. Sayang kalau dilewatkan!” Apalagi menjelang *bulan puasa dan Lebaran. Mall penuh, notifikasi e-commerce bunyi terus, dan hampir semua barang kelihatan “lebih murah”. Tapi… **apa benar diskon 50% itu selalu menguntungkan?*. Di sinilah matematika diam-diam bekerja  bahkan saat kamu lagi belanja 😄

Sumber: https://www.instagram.com/p/DD0r-06SYav/

## 🛒 Diskon dan Perasaan. Kenapa Kita Mudah Tergoda?

Saat melihat diskon besar, otak kita langsung fokus ke *angka 50%, bukan ke **harga awal* atau *kebutuhan sebenarnya. Ini disebut *bias psikologis. Matematika justru membantu kita *berpikir lebih jernih*, bukan cuma ikut perasaan. Sekarang, kita cek bareng-bareng pakai hitungan sederhana.

## Diskon 50%. Contoh yang Kelihatannya Untung

Sumber: https://www.instagram.com/p/C1bRyf1R87M/

Misalnya:

* Harga awal baju Lebaran: *Rp200.000* * Diskon: *50%* Hitungannya:

 50% × 200.000 = 100.000.Harga akhir: 200.000 − 100.000 = *Rp100.000*

✔️ *Ini memang untung*, karena harga awalnya jelas dan potongannya masuk akal.

## ⚠️ Tapi Hati-hati: Diskon Bisa “Menipu”

Sekarang contoh lain. Sebuah toko menulis: > *“Diskon 50%! Harga normal Rp400.000”*

Padahal, di toko lain (atau minggu lalu), harga barang itu *Rp220.000* tanpa diskon.

Kalau didiskon:

> 50% × 400.000 = 200.000

> Harga akhir = *Rp200.000*

Secara matematika,  Kamu “hemat” 200 ribu dari harga label, * Tapi *sebenarnya cuma beda 20 ribu* dari harga wajar 👉 Di sini matematika menyelamatkan kamu dari *ilusi diskon*.

## 🧮 Diskon Bertingkat: Lebih Ribet, Lebih Menjebak

 


Sumber: https://www.instagram.com/p/DROHJcjjw3K/

Menjelang Lebaran, sering muncul tulisan: > *Diskon 30% + 20%*

Banyak yang mengira:> 30% + 20% = *50%* Padahal *SALAH*.

Contoh:

* Harga awal: Rp100.000 * Diskon 30% → jadi Rp70.000 * Diskon 20% dari 70.000 → Rp14.000

Harga akhir: > 70.000 − 14.000 = *Rp56.000* Total diskon: > 44% (BUKAN 50%)

📌 Ini contoh nyata *persentase dalam kehidupan sehari-hari*, bukan cuma di buku matematika.

## 🌙 Puasa, Lebaran, dan Keputusan Cerdas

Menjelang puasa dan Lebaran:

* Kita belanja *lebih sering* * Godaan diskon *lebih besar* Pengeluaran gampang membengkak

Dengan matematika, kamu bisa:

✔️ Membandingkan harga ✔️ Menghitung diskon sebenarnya ✔️ Menentukan mana kebutuhan, mana keinginan. Belanja jadi *lebih rasional*, bukan impulsif.

## 🧠 Jadi, Matematika Itu Dipakai Tanpa Disadari?

Jawabannya: *IYA, setiap hari.*

Saat kamu: * Menghitung diskon * Membandingkan harga * Menentukan budget THR * Memilih promo paling untung 👉 Itu semua adalah *matematika praktis*.

 
Sumber: https://lms.unipol.ac.id/course/index.php?categoryid=11

## Penutup

Matematika bukan cuma soal angka di papan tulis atau soal ujian. Ia hadir diam-diam di momen sederhana  bahkan saat kamu memilih baju Lebaran. Jadi lain kali melihat tulisan:

> *“DISKON 50%!!!”*

Jangan cuma senang duluan. Ajak matematika berpikir bareng kamu 😉Karena *orang yang paham matematika bukan yang paling cepat menghitung, tapi yang paling jarang tertipu.* 🧠💡

*) Guru Matematika di SMAN I Pangalengan, Alumnus SM3T Kemendikbud rI untuk penugasan di wilayah Pulau Nias Symuatera Utara.

**) dari berbagai sumber

Our Culture

  DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA Oleh: Rusmana *)   Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua ata...