"Selamat datang kembali di bangku sekolah! Semoga tahun ini penuh keceriaan , pengetahuan baru serta prestasi yang membanggakan"

Rabu, 14 Januari 2026

Life Skills

 Yuk…Kita Menulis! ! !

Oleh: Redaksi Literatsmansa

Ananda yang baik, menulis bukan sekadar tugas sekolah atau cara mengisi waktu luang. Bagi banyak orang, menulis adalah alat penting yang membantu kita memahami diri sendiri, menjaga kesehatan mental, bahkan membangun karier yang menjanjikan di masa depan. Kegiatan ini ternyata memiliki kekuatan besar baik secara psikologis maupun praktis terutama untuk generasi muda seperti Ananda sekalian yang sedang mencari arah hidup. Sebelum kita bahas soal karier, mari kita lihat dulu apa yang terjadi di dalam diri ketika kita menulis.

 
Sumber: https://makanmasakcom.wordpress.com/minum/

Menulis sebagai terapi psikologis

Menulis ekspresif yaitu menuliskan perasaan, pengalaman, atau pikiran terdalam telah dibuktikan oleh banyak penelitian sebagai cara yang efektif meningkatkan kesejahteraan mental. Hasil riset menunjukkan bahwa orang yang menulis tentang pengalaman hidupnya secara teratur cenderung memiliki suasana hati yang lebih baik dan fungsi psikologis yang lebih sehat dibanding yang tidak menulis…so, kalua Ananda gabut or suntuk, menulis menjadi pilihan menghilangkan perasaan tersebut.

 
Sumber: https://nasmedia.id/blog/jadikan-tulisan-sebagai-terapi-pikiran-dan-emosi/

Mengurangi stres dan kecemasan

Berbagai studi, termasuk penelitian di Journal of Research in Personality, menemukan bahwa menulis tentang tujuan hidup atau kehidupan dapat mengurangi kunjungan ke fasilitas kesehatan dan memperbaiki kondisi mental secara keseluruhan.

Membantu mengenali diri sendiri

Aktivitas seperti journaling (menulis jurnal pribadi) bisa membantu kita memahami apa yang kita rasakan dan alami, serta memberi kita ruang untuk memproses emosi yang kompleks dengan cara yang sehat. Hal ini penting terutama saat Ananda menghadapi tekanan sekolah, hubungan sosial, atau perubahan besar di hidup.

 
Sumber: https://nasmedia.id/blog/menulis-sebagai-proses-menyembuhkan-diri/

Menulis Juga Baik untuk Kesehatan Fisik

Ananda yang soleh, menulis tidak hanya berdampak pada pikiran, tapi juga bisa memberi efek pada tubuh. Beberapa penelitian seperti yang dirangkum dalam jurnal psikologi medis menunjukkan bahwa menulis pengalaman hidup dapat membantu memperbaiki fungsi sistem kekebalan tubuh, mengurangi peradangan, hingga menurunkan tingkat stres fisik….hayoh siapa yang suka sakit-sakitan…menulis bisa jadi alternatif pengobatan yang murag meriah. Ya, meskipun kedengarannya tidak langsung, tulisanmu bisa “menenangkan tubuhmu” melalui efeknya pada pikiran dan emosi.

Menulis Meningkatkan Keterampilan Hidup

Menulis melatih beberapa kemampuan penting yang tak hanya berguna di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan profesional:

  • Kemampuan berpikir kritis & analitis  kamu belajar menyusun argumen dan berpikir jernih.
  • Komunikasi efektif  belajar menyampaikan ide dengan jelas dan menarik.
  • Kreativitas  latihan menulis cerita atau ide mengasah imajinasi. Semua keterampilan ini adalah fondasi penting saat kamu memasuki dunia kerja atau kuliah kelak.

Menulis Bisa Jadi Profesi dan Sumber Penghasilan Menjanjikan

Banyak orang berpikir “penulis cuma orang yang bikin novel”. Padahal, kegiatan menulis membuka pintu ke banyak profesi menarik yang saat ini sangat dibutuhkan di berbagai bidang. Berikut beberapa contohnya:

 
Sumber: https://id.tun.com/blog/Pekerjaan-12-untuk-jurusan-jurnalisme/

 Contoh Profesi Berkaitan Dengan Menulis (dan Peluang Pendapatannya)

Profesi

Deskripsi Singkat

Perkiraan Penghasilan

Content Writer (Penulis Konten)

Menulis artikel atau konten untuk situs web, blog, media sosial.

Rp 4.500.000 – Rp 6.130.000/bulan di Indonesia (rata-rata)

Copywriter

Menulis teks promosi dan iklan.

Rp 3.000.000 – Rp 8.000.000/bulan tergantung pengalaman

Technical Writer

Menulis panduan teknis seperti manual produk atau dokumentasi perusahaan.

Rp 5.000.000 – Rp 10.000.000/bulan (menengah)

Journalist (Jurnalis)

Melaporkan berita dan informasi untuk media.

Rp 2.000.000 – Rp 8.300.000/bulan di Indonesia

Freelance Writer

Penulis lepas, bisa menulis berbagai topik di banyak tempat sekaligus.

Variatif, tergantung proyek & klien

Author (Penulis Buku)

Menulis buku fiksi atau non-fiksi; bisa dapat advance + royalti.

Bervariasi; sebagian penulis buku internasional rata-rata ~$72,000/tahun (~Rp 1 miliar+)

Scriptwriter / Screenwriter

Menulis naskah untuk film, iklan, atau pertunjukan.

Potensi penghasilan tinggi tergantung kontrak proyek

Ghostwriter

Menulis tulisan untuk orang lain tanpa namamu tercantum di karya itu.

Bisa dibayar tinggi per proyek

Selain itu, banyak ahli menulis seperti editor, content strategist, proofreader, dan grant writer yang juga bergantung pada keterampilan menulis mereka untuk berkarier.

Mengapa Menulis Disebut sebagai Investasi Masa Depan untuk Remaja

Fleksibel dan bisa dilakukan di mana saja kamu bisa menulis dari kamar, perpustakaan, atau kafe.
Peluang kerja di masa digital  perusahaan besar dan kecil selalu butuh penulis konten untuk menarik audiens. Belajar menulis sejak dini = keterampilan kompetitif  di banyak bidang termasuk marketing, teknologi, dan media, keterampilan menulis sangat dihargai.

 
Sumber: https://kumparan.com/kumparanbisnis/begini-cara-investasi-reksa-dana

Menulis adalah investasi besar untuk masa depanmu  bukan sekedar hobi, tapi juga alat kuat untuk hidup yang lebih sehat dan karier yang sukses…so, yukk kita menulis! ! !.

**) dari berbagai referensi online

Selasa, 13 Januari 2026

Learn from History

 ANTARA KITA, PERANG DUNIA, DAN GEOPOLITIK SEKARANG

Oleh: Redaksi Literatsmansa

 


Jika Ananda mendengar istilah “Perang Dunia”, yang terbayang biasanya film-film perang, tank, dan adegan heroik. Tapi di balik itu semua, Perang Dunia I (1914–1918) dan Perang Dunia II (1939–1945) lahir dari cerita yang jauh lebih rumit, persaingan negara, ambisi kekuasaan, teknologi, propaganda, dan salah perhitungan para pemimpin dunia. Menariknya, banyak pola yang dulu ada… masih terasa gaungnya sampai sekarang, di era geopolitik modern ketika Amerika Serikat menjadi kekuatan global yang sangat dominan…beberap hari ini kita dihadapkan dengan berita seputar president Trump yang menculik presiden Venezuela “Nicolas Maduro” disambung lagi keinginan Trump “mencaplok wilayah Greenland” yang merupakan wilayah otoritas Denmark. Kali ini Bapak mencoba membuat benang merah antara pemicu perang dunia kesatu, kedua,…dan bisa jadi kita sekarang di hadapkan pada perang dunia ketiga….Naudzubillah…semoga menjadi referensi ilmu buat ananda yang soleh solehah ini.

 
Sumber: https://web.facebook.com/sindonews/posts/ketegangan-asvenezuela-kembali-memanas

Perang Dunia I “Efek Domino” dari Sebuah Tembakan

Cerita Perang Dunia I sering dimulai dari satu peristiwa dramatis, terbunuhnya Pangeran Franz Ferdinand dari Austria-Hongaria di Sarajevo pada 28 Juni 1914. Tapi jujur saja, itu hanya “pemicu”. Bahan bakarnya sudah ditumpuk jauh sebelumnya. Beberapa faktor pentingnya:

·         Aliansi yang saling mengikat.Ada dua blok besar. Triple Entente (Inggris, Prancis, Rusia) dan Triple Alliance (Jerman, Austria-Hongaria, Italia). Kalau satu negara berperang, negara sekutunya ikut terseret.

·         Nasionalisme tinggi. Banyak bangsa ingin merdeka atau merasa “lebih hebat” daripada yang lain. Eropa seperti panggung persaingan geng raksasa.

·         Militerisme dan perlombaan senjata. Negara-negara Eropa berlomba membangun kapal perang, senjata, dan tentara. Semua siap tempur, tinggal menunggu alasan.

·         Imperialisme
Perebutan koloni di Afrika dan Asia membuat negara-negara saling curiga dan tegang.

Setelah penembakan di Sarajevo, sistem aliansi tadi bekerja seperti kartu domino. Satu per satu negara menyatakan perang. Hasilnya? Tragedi global pertama dengan korban puluhan juta jiwa dan trauma berkepanjangan.

 
Sumber: https://www.belajarsampaimati.com/2014/08/apa-penyebab-dan-dampak-perang-dunia-i.html

Perang Dunia II Luka Lama, Ideologi, dan Ambisi Besar

Perang Dunia II tidak muncul tiba-tiba. Ia kemunculannya  berawal dari beberapa peristiwa penting yang mendahuluinya.

·         kekecewaan Jerman terhadap Perjanjian Versailles. Setelah kalah di Perang Dunia I, Jerman dihukum berat: harus membayar ganti rugi besar, kehilangan wilayah, dan dibatasi militernya. Banyak rakyat merasa dipermalukan.

·         munculnya rezim totaliter. Adolf Hitler di Jerman, Benito Mussolini di Italia, serta militerisme Jepang memadukan nasionalisme ekstrem dan ekspansi wilayah.

·         krisis ekonomi global (Depresi Besar 1930-an). Pengangguran dan kemiskinan membuat masyarakat mudah terpengaruh ideologi radikal.

·         politik “mengalah” (appeasement). Negara-negara Barat awalnya membiarkan Hitler memperluas wilayah, berharap ia berhenti. Ternyata, justru makin berani.

Perang meledak pada 1939 ketika Jerman menyerbu Polandia, diikuti rangkaian invasi dan pertempuran di Eropa, Afrika, hingga Asia Pasifik. Bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 menutup babak paling kelam dalam sejarah modern.

 
Sumber: https://www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofBritain/World-War-2-Timeline-1945/

Hasil dari dua perang besar itu sederhana tapi penting. kekuatan global bergeser. Eropa hancur secara ekonomi dan politik, sementara Amerika Serikat dan Uni Soviet bangkit sebagai dua superpower. Dunia pun masuk ke era Perang Dingin, persaingan ideologi, nuklir, teknologi, dan pengaruh antar-blok. Di sinilah mulai tampak pola yang masih terasa hingga saat ini  negara besar mempengaruhi negara lain lewat aliansi militer, bantuan ekonomi, pinjaman, atau sanksi, pengaruh politik, media, dan teknologi.

Geopolitik Hari Ini

Sekarang, setelah Uni Soviet runtuh pada 1991, Amerika Serikat sering disebut sebagai kekuatan dominan dalam sistem internasional. Mereka punya ekonomi raksasa, teknologi tinggi, jaringan militer global (pangkalan dan sekutu), pengaruh budaya lewat film, musik, dan media sosial.

Sumber: https://www.kompasiana.com/frans36286/67fdb9dced64151f4919be53/bedah-kekuatan-dagang

Banyak pengamat menilai bahwa Amerika mampu “mengontrol” atau setidaknya menekan negara-negara yang tidak sejalan dengan kebijakannya, misalnya lewat sanksi ekonomi, bantuan militer yang bersyarat, tekanan diplomatik, pengaruh lembaga internasional. Namun, cerita tidak sesederhana hitam-putih. Dunia saat ini semakin multipolar. Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, India, dan negara-negara kawasan lain juga mulai memainkan peran penting. Persaingan bukan hanya soal tank dan rudal, tetapi juga perdagangan dan teknologi, energi, internet dan informasi, pengaruh di organisasi internasional. Di sinilah hubungannya dengan Perang Dunia. Sejarah mengajarkan bahwa aliansi yang rumit, nasionalisme berlebihan, perlombaan senjata dapat memicu konflik besar jika tidak dikelola dengan bijak. Bedanya, sekarang ada senjata nuklir dan teknologi canggih taruhannya jauh lebih besar.

Sumber: https://www.instagram.com/p/DTTyyjsDUPi/

Benang merah Apa yang Bisa Ananda Pelajari Sebagai Pelajar?

Ananda yang baik, kita hari ini hidup di dunia yang saling terhubung. Konflik di satu tempat bisa muncul di layar ponsel dalam hitungan detik. Beberapa pelajaran penting dari sejarah Perang Dunia:

·         Konflik besar sering berawal dari masalah kecil yang dibiarkan membesar. Komentar rasis, kebencian, intoleransi awal dari jurang besar.

·         Propaganda itu nyata. Dulu lewat poster, sekarang lewat media sosial. Kritis itu penting: jangan mudah percaya informasi yang memecah belah.

·         Kerja sama internasional itu penting. Organisasi seperti PBB mungkin tidak sempurna, tapi dibuat agar tragedi Perang Dunia tidak terulang.

·         Dominasi satu negara saja rawan menimbulkan ketegangan. Dunia lebih aman jika negara-negara belajar menghormati kepentingan satu sama lain.

Pada akhirnya, sejarah bukan sekadar hafalan tanggal dan nama tokoh.tanya ke pa Pepi, Pa Rifki atau bu Widi…beliau-beliau pasti menjawab belajar sejarah adalah cermin. memperlihatkan betapa mudah manusia mengulang kesalahan ketika lupa belajar dari masa lalu. Hari ini kita melihat begitu dunia di ambang perang dunia ketiga…dengan pemicu yang sama dengan perang dunia sebelumnya. SEmoga Allah SWT melindungi kita dan bangsa Indonesia dari berbagai ancaman perang yang akan menyengsarakan semua…Aamiin yra.

 

Rujukan:

·         Clark, Christopher. The Sleepwalkers: How Europe Went to War in 1914. HarperCollins.

·         Taylor, A. J. P. The Origins of the Second World War. Penguin.

·         Kershaw, Ian. To Hell and Back: Europe 1914–1949. Penguin.

·         Kennedy, Paul. The Rise and Fall of the Great Powers. Vintage.

·         Mearsheimer, John J. The Tragedy of Great Power Politics. W.W. Norton.

Senin, 12 Januari 2026

CARPON

 KATRESNA NU TEU KUNGSI KEDAL

Ku Rusmana *)

 

Dayeuhkolot, 23 Maret 1946.

Langit ngempur ku cahaya ngabebela seuneu nu ngahiji jeung haseup hideung. Sora tembakan bedil jeung ngabeledugna sora granat kadéngé tarik silih tembal, campur jeung sora takbir ti pasukan Laskar Hizbullah.

Di sisi walungan Citarum handapeun dapuran awi, Kang Jajang, saurang pamuda 20 taun, anggahota Laskar Hizbullah, keur ngetok bedil Lee-Enfield buatan Inggris menang ngarebut ti tantara walanda nu geus luntur catna. Tarangna baseuh ku kesang, haténa panas campur gugup. Ti sagigireunana, Nyi Uneh, wanoja desa Bojongasih umur 19 taun, nyolendang kantong bodas natrat aya bacaan jeung gambar palang beureum, aneprok bari ngéntépkeun kain kasa jeung ubar sapuratina.

 

“Kang Jajang,” ceuk Nyi Uneh, sora na rada dareuda, “kumaha lamun Walanda nyerang deui peuting ayeuna, bejana maranehna tos dugi ka wewengkon Cigereleng, bari mawa pasukan anu lengkep, urang mundur wé heula ka wewengkong Banjaran atawa ka Soréang sabari maheutkeun rarancang narajang maranéhna?”

Kang Jajang ngajawab bari nyeuseup napas jero.

“Nyi, lamun urang mundur ayeuna, naha urang rék ninggalkeun padumukan sorangan ditempatan ku panjajah Walanda? Ieu Dayeuhkolot kudu bébas, naha kumaha ogé carana.”

Ti sabudeureun tempat maranehka ngobrol, Ceu Tarmini, nu miboga warung kopi leutik di Balero gigir tangsi Walanda, datang bari mawa termos jeung dua cangkir seng. Ceu Tarmini téh Randa boga anak hiji, umur 24 taun nu boga wanda jeung rupa kawilang geulis, sok pirajeunan utamana para pamuda ngadon ngopi jeung ngawangkong di warungna lantaran kopi na kawentar ngeunah tur nu bogana soméah cenah. Salian ti eta, Ceu Tarmini teh pananyaan para pajoang ngenaan informasi kaayaan pasukan Walanda jeung gurak gerikna.

 

“Kang Jajang… ieu kopi panas. Abdi terang akang can tuang leueut ti  tadi,” ceuk Ceu Tarmini, ngadeketan bari masrahkeun gelas nu eusina cikopi panas tur lalawuhna.

Kang Jajang nampa gelasna, sabari ngawalon lirih, “Hatur nuhun, Ceu. Kopi Eceu sok ngajadikeun haté kuring leuwih tenang.”

Nyi Uneh ngarérét, haténa kerasa panas. Aya rasa timuru nu disumputkeun, tapi ceuk ijeurana teu pantes nunjukkeun ayeuna. Hiji sisi haténa bogoh ka Kang Jajang, tapi dina waktu nu sarua, Ceu Tarmini ogé siga sarua neundeun haté kadua leutik ka Kang Jajang.

***

Peuting éta, Kang Oha (Mohamad Toha) jeung kang Udan (Mohamad Ramdan), komandan Laskar Hizbullah, ngumpulkeun pasukan di saung gedé gigireun sawah tungtung kampung Ciodéng.

“Sadayana kudu siap,” ceuk Kang Oha tegas bari nunjukkeun peta gudang senjata Walanda di Dayeuhkolot.
“Isuk urang bakal ngabeledugkeun gudang ieu. Ieu tugas penting, sabab lamun hasil, pasukan NICA anu ngabongcéng Walanda bakal mundur ti Bandung kidul….ieu mangrupa paréntah ti pupuhu urang kolonel Nasution”

Kang Jajang nuturkeun sagala paréntahna bari haté galécok mikiran résiko nu kudu disanghareupan. Sanggeus gempungan réngsé, anjeunna kaluar saung jeung manggihan Nyi Uneh anu keur nyusun pakakas P3K.

“Nyi,” ceuk Kang Jajang bari nyampeurkeun, “lamun serangan isuk dimimitian, Nyai kudu tetep di tukang. Ulah deukeut deukeut teuing ka daerah pangperangan.”

Nyi Uneh langsung nempas. “Teu, Kang. Abdi kudu aya di ditu. Mun aya nu tatu, saha deui nu nulungan lamun lain abdi jeung saparakanca ti palang merah?”

Kang Jajang meseum ipis, matana neuteup jero kana panonna Nyi Uneh.
“Mun kitu, jangji, Nyai tong nepi ka ngorbankeun nyawa.”

Ti salah sahiji juru saung, Ceu Tarmini nguping paguneman éta bari nahan haté karasa nyesek teu aya papadana. Anjeunna ogé hayang ngomong yén anjeunna sieun kaleungitan Kang Jajang, tapi sora na teu kebat kaluar. Anjeunna ngan ukur muterkeun awak, leumpang balik ka warungna bari ngusap cimata ku tungtung kabaya nu murag tanpa ijin.

Dayeuhkolot, 24 Maret 1946.

Bandung kidul disimbutan haseup jeung seuneu. Gedong-gedong kolonial nu tadina tohaga ayeuna kaléntab seuneu. Pasukan Hizbullah jeung Barisan Rakyat ngajorag Dayeuhkolot, nyanghareupan bedil-bedil tantara NICA jeung Walanda nu nyebar ti tukangeun benteng jeung kandaraan perang nu rongkah.

 

Kang Jajang lumpat ngarahkeun pasukan leutikna. “Allahu Akbar! Ulah mundur! Jaga posisi!”

Pelor ngabelesat di sisi sirahna, tapi anjeunna teu eureun lumpat.

Di tempat séjén, Nyi Uneh keur ngabantu relawan Palang Merah mindahkeun korban tatu ka sisi walungan Citarum sagigireun kampung Ciputat. Leungeun kenca jeung katuhuna baloboran ku getih, tapi sorana tetep pertela.

“Buru-buru! Kudu diselametkeun ayeuna!”

Samentara éta, Ceu Tarmini tetep nyumput di warungna nu ngan ukur sabara ratusan méter ti tangsi Walanda. Anjeunna ngintip tina sela-sela bilik warungna bari merhatikeun para pajoang  nu datang narajang tangsi Walanda, tapi haténa hésé tenang. Unggal sora ngabeledagna pelor karasa siga ngabeulah dadana.

***

Wanci pecat sawed, sora ngabeledag ngoyagkeun langit Dayeuhkolot. Kang Oha ngabeledugkeun gudang senjata Walanda ti jero, ngorbankeun dirina sorangan pikeun nyegah pasokan senjata ka pasukan musuh.

Sakabeh pasukan Hizbullah nu aya di luar benteng sempet eureun saheulaanan, kaget ku beledugan nu ngenderken taneuh.

“Asupkeun! Kang Oha… Kang Oha jeung Kang Udan aya di jero!” gorowok saurang pajuang bari ngahelas.

Kang Jajang nyoba maju ngadeukeutan lokasi gudang, tapi bedil musuh terus ngutahkeun pelor ti sagala arah. Anjeunna teu boga kasempetan pikeun nyalametkeun komandanna Kang Oha jeung Kang Udan. pelor ngenaan beuteung jeung dada Kang Jajang, ngabalukarkeun tisungkruk tijurahroh kana taneuh.

Nyi Uneh nu harita ngudag ti tukang, nyanghareupan hiji tetempoan nu ketir kacida dina hirupna. Kang Jajang ngagoler di taneuh, getih ngalembereh ti dada jeung beuteungna. Nyi Uneh lumpat ngadeukeutan bari ceurik,

 

“Kang… tahan, Kang! Abdi di dieu, abdi bakal nulungan Akang!”

Kang Jajang nempo Nyi Uneh, biwirna seuri leutik, sora na peura pisan.
“Nyi U..neh… ulah ceu….rik Nyi. Ieu… ieu jalanna. Urang geus ngalaku….keun na..on nu kudu dilakukeun… pi…keun lemah ca..i...”

Teu lila, Ceu Tarmini ogé datang, pamenteuna sepa, legeuna ngageter. Ningali Kang Jajang dina kaayaan kitu, anjeunna teu bisa nahan piceurikeun.

“Kang Jajang… tong tinggalkeun abdi. Abdi… abdi henteu sanggem taya Kang Jajang…”

Kang Jajang ngarérét ka Ceu Tarmini, napasna ngap-ngapan. “Ceu… haa…tur nu…hun… kang..go..saa..gala..na…haaa..pun..teun..aa..bb..di.. muu..gia pinagg..ih..ka… bagja…an”

Sanggeus kecap éta kaluar, Kang Jajang mungkas ucapan “La..illaha..il..lalohhh….” panon Kang Jajang perem, napasna eureun. Dina wanci anu barengan, sora ngabeledag ti tangsi Walanda masih terus kadéngé, tanda perang can réngsé. Tapi pikeun Nyi Uneh jeung Ceu Tarmini, alam dunya jadi poék mongkleng…alatan pamuda nu dipicangcam…perlaya di medan laga…narohkeun nyawa keur lemah cai nu dipicintana.

Peuting éta, Dayeuhkolot simpé. Haseup masih ngapung di langit, bau mesiu jeung kai kaduruk kénéh nyirorot dina hawa. Di sagigireun warung, Nyi Uneh jeung Ceu Tarmini aniprek babarengan bari ceurik pa ungku-ungku.

“Ceu…” ceuk Nyi Uneh bari sora na dareuda, “Kang Oha… Kang Jajang… sadayana tos perlaya. Kumaha carana urang neraskeun hirup?”

Ceu Tarmini nyepeng leungeunna pageuh, cimata masih nyurucud.

“Nyi… urang kudu neraskeun perjuangan aranjeuna. Sanajan haté hancur, ieu lemah cai… kudu tetep nepi ka bébas merdéka.”

Angin peuting masih ngahiliwir……dua wanoja nu sungkawa, dibarengan langit Bandung kidul ngagedur ku seuneu, nyimpen sajarah, antara dua katresna. jeung leungitna hareupan ka nu dipikatresna.

Dayeuhkolot, 25 Maret 1946

Wanci haneut moyan, ti kejauhan,sora ciciak cai Citarum ngagalumbang nalangsa ngajajap nu nyengceurikan miangna para pajoang. Perang tacan rengse, nanging haté maranehanana kaleungitan hiji katresna anu can ka kedalkeun.

 

*) pamilon pasanggiri ngarang carpon sajarah ‘mangle 2025

Minggu, 11 Januari 2026

New Spirit

              
TAHUN BARU, RESOLUSI BARU

Oleh: Redaksi Literatsmansa

Tahun baru 2026 membawa semangat baru bagi kita semua, terutama Ananda sebagai pelajar. Momen ini merupakan kesempatan untuk merefleksikan pencapaian masa lalu, mengevaluasi kekuatan dan kelemahan, serta merencanakan masa depan yang lebih cerah. Resolusi tahun baru membantu kita fokus pada tujuan, mengembangkan disiplin, dan meningkatkan motivasi untuk mencapai kesuksesan. Tahun baru juga menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen, membangun kebiasaan positif, serta meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, penting bagi Ananda sebagai pelajar untuk memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.

 

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2025/12/27/13350017/100-ucapan-tahun-baru-2026

Manfaat Resolusi Tahun Baru 2026

1.       Meningkatkan motivasi dan semangat belajar. Membangun semangat baru dalam mencapai tujuan akademik, meningkatkan kualitas belajar dan memperbaiki prestasi akademik secara keseluruhan.

2.       Mengembangkan disiplin dan konsistensi. Membangun kebiasaan disiplin, konsistensi dan tanggung jawab dalam mencapai tujuan, sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

3.       Mencapai tujuan akademik dan pribadi. Membantu mencapai tujuan akademik dan pribadi dengan lebih efektif, efisien dan terarah, serta meningkatkan kesadaran akan prioritas.

4.       Mengurangi stres dan meningkatkan keseimbangan hidup. Mengelola waktu dan prioritas dengan baik, mengurangi stres, serta meningkatkan keseimbangan antara kehidupan akademik, pribadi dan sosial.

5.       Membangun kepercayaan diri dan kesadaran diri. Meningkatkan kepercayaan diri, kesadaran diri dan kemampuan menghadapi tantangan, sehingga memperkuat mental dan emosi.


 Sumber: https://www.tempo.co/gaya-hidup/80-contoh-resolusi-tahun-baru

Resolusi Tahun Baru untuk Pelajar

Resolusi Akademik

·         Meningkatkan prestasi akademik. Tentukan target nilai atau ranking kelas, buat rencana belajar efektif, pantau kemajuan, dan evaluasi secara berkala untuk mencapai kesuksesan.

·         Mengembangkan keterampilan baru. Pelajari bahasa, coding, atau seni untuk meningkatkan kemampuan, memperluas kesempatan karir, dan meningkatkan daya saing.

 
Sumber: ttps://sevima.com/3-resolusi-mudah-perguruan-tinggi

Resolusi Kesehatan dan Keseimbangan

·         Membangun kebiasaan sehat. Olahraga teratur, makan seimbang, tidur cukup, hindari kebiasaan buruk, dan lakukan pemeriksaan kesehatan rutin.

·         Mengelola waktu efektif. Buat jadwal belajar dan istirahat seimbang, prioritas tugas, gunakan waktu luang secara produktif, dan istirahat yang cukup.

Resolusi Pengembangan Diri

·         Membaca lebih banyak. Targetkan jumlah buku per bulan, catat ringkasan, diskusikan dengan teman, dan ikuti book club untuk meningkatkan pengetahuan.

·         Mengembangkan jaringan. Bergabung dengan komunitas atau organisasi, hadiri seminar, bangun relasi, dan jaga komunikasi untuk memperluas kesempatan.

·         Mengembangkan kreativitas. Tulis, lukis, main musik, atau kegiatan kreatif lainnya untuk mengembangkan bakat dan mengurangi stres.

·         Membangun kepercayaan diri. Berlatih public speaking, presentasi, atau kegiatan lainnya untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan memimpin.

 
Sumber: https://medium.com/@habibaainina/roadmap-agenda-pengembangan-diri-

Resolusi Kehidupan Sehari-hari

·         Mengurangi Penggunaan Media Sosial. Batasi waktu scrolling, gunakan aplikasi pemblokir, gantikan dengan kegiatan produktif, dan fokus pada interaksi nyata.

·         Mengelola Keuangan. Buat anggaran, hemat, investasikan, dan pantau pengeluaran untuk mencapai kestabilan finansial dan kesadaran keuangan.

 
Sumber: https://www.umkt.ac.id/berita/2026-01-02-tips-agar-resolusi-tahun-barumu

Tahun baru adalah kesempatan untuk memulai kembali dengan semangat baru. Resolusi yang tepat dapat membantu Ananda sebagai seorang pelajar mencapai tujuan akademik dan pribadi. Ingatlah untuk membuat resolusi yang realistis, konsisten, dan berkelanjutan. Semoga tahun baru ini membawa kesuksesan dan kebahagiaan bagi kita semua….selamat mencoba, semoga sukses.

**) Disarikan dari berbagai sumber

Life Skills

  Yuk …Kita Menulis! ! ! Oleh: Redaksi Literatsmansa Ananda yang baik, menulis bukan sekadar tugas sekolah atau cara mengisi waktu luang...