DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA
Oleh: Rusmana *)

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/722053752797392839/
Ananda
yang baik, Bahasa bukan cuma alat komunikasi. Bahasa menyimpan cara berpikir,
nilai, dan kebiasaan suatu masyarakat. Dalam bahasa Sunda, misalnya, kita
mengenal tingkatan tutur seperti lemes, loma, dan kasar
yang mengajarkan sopan santun dan rasa hormat kepada lawan bicara. Dari sini
kita belajar bahwa berbicara itu bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga menjaga
perasaan orang lain. Jadi, ketika remaja belajar bahasa Sunda beserta
dialeknya, sebenarnya kita sedang belajar etika, empati, dan tata krama khas
budaya Sunda.
Apa
Sih Dialek Itu?
Dialek
bisa dibilang “rasa lokal” dari sebuah bahasa. Bahasa Sunda di Bandung,
Cianjur, Garut, atau Cirebon punya perbedaan pengucapan, kosakata, dan
intonasi. Semuanya tetap Sunda, tapi punya warna sendiri. Dialek ini lahir
dari sejarah, kondisi geografis, dan interaksi sosial yang berbeda-beda. Keren,
kan? Dengan mempelajari dialek, kita jadi tahu bahwa budaya itu hidup dan
beragam, bukan sesuatu yang kaku.

Sumber: https://www.instagram.com/reels/DA-nyt6yuab/
Mengapa
kita harus peduli terhadap Bahasa Sunda khususnya? Pertama, karena bahasa
daerah sedang menghadapi tantangan serius. Di era media sosial dan
globalisasi, banyak remaja lebih nyaman pakai bahasa Indonesia atau bahasa
asing. Akibatya, penggunaan bahasa Sunda di rumah dan lingkungan makin
berkurang. Kalau generasi muda tidak mau belajar dan memakainya, siapa lagi
yang akan meneruskan?. Kedua, belajar dialek Sunda bisa bikin kita lebih
pede dengan identitas sendiri. Nggak perlu minder jadi “anak daerah”.
Justru, punya kemampuan berbahasa daerah itu nilai plus. Bayangin kamu bisa switch
dari bahasa Indonesia ke Sunda halus dengan lancer itu menunjukkan kamu punya kecakapan
budaya. Ketiga, ada manfaat akademik dan sosial. Penelitian tentang
bilingualisme menunjukkan bahwa orang yang terbiasa menggunakan lebih dari satu
bahasa cenderung punya fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Selain
itu, kemampuan berbahasa Sunda memudahkan kita berbaur dengan masyarakat
lokal, ikut kegiatan adat, atau sekadar ngobrol akrab dengan tetangga dan
orang tua.
Ananda
yang cuakeepppp, Setiap dialek punya cerita. Misalnya, dialek Priangan
dikenal dengan penggunaan lemes yang kuat, sementara di daerah pesisir
bisa ditemukan kosakata serapan dari bahasa lain karena sejarah perdagangan.
Dari sini, kita belajar bahwa bahasa Sunda tidak berdiri sendiri; ia berinteraksi
dengan sejarah. Mempelajari dialek berarti membuka jendela ke masa lalu:
bagaimana orang-orang dulu hidup, berdagang, bermigrasi, dan membangun
komunitas.
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/384776361937452479/
Masih
banyak yang beranggapan jika pakai bahasa daerah itu “jadul”. Padahal, sekarang
banyak konten kreator yang mengemas bahasa Sunda secara modern: dari
komedi pendek, musik, sampai podcast. Dialek Sunda bisa jadi bahan konten yang
unik dan relatable. Bayangin bikin video sketsa dengan dialog Sunda Cianjuran
atau Bandung pasti ada rasa khas yang bikin penonton senyum. Lebih jauh lagi,
melestarikan bahasa daerah sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Indonesia kuat justru karena beragam. Kalau satu per satu bahasa daerah hilang,
kita bukan jadi lebih maju kita justru kehilangan kekayaan.

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/696439529920408695/
Di
masa yang akan datang, dunia akan makin terhubung. Bahasa asing memang penting,
tapi bahasa daerah adalah akar. Pohon yang kuat butuh akar yang kuat.
Dengan mempelajari dialek Sunda, remaja tidak hanya menjaga warisan, tapi juga
membangun jati diri yang kokoh: terbuka pada dunia, tapi tetap tahu dari mana
kita berasal. Akhirnya, mencintai bahasa Sunda termasuk dialeknya bukan soal
nostalgia. Ini soal tanggung jawab generasi. Kita bisa jadi generasi
yang membiarkan bahasa daerah memudar, atau generasi yang membuatnya tetap
hidup, relevan, dan dibanggakan. Pilihannya ada di tangan kita. Jadi, mulai
hari ini, coba Ananda sapa temanmu dengan, “Kumaha damang?” Siapa tahu, dari
obrolan kecil itu, cinta pada budaya sendiri tumbuh makin besar….selamat
mencoba.
*)
Guru di SMAN I Pangalengan yang sedang belajar menulis
**)
Daftar Rujukan
Alwasilah,
A. Chaedar. Pokoknya Sunda: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat
Buku Utama.
Sumarsono
& Partana, Paina. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
UNESCO.
Language Vitality and Endangerment. (Dokumen tentang pentingnya
pelestarian bahasa).


























