"Kreativitas adalah kecerdasan yang bersenang-senang, menjadikan masa muda waktu terbaik untuk belajar, berinovasi, dan membangun masa depan dengan berani bereksperimen...abuafifi"

Senin, 02 Februari 2026

Our Culture

 DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA

Oleh: Rusmana *)

 

Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua atau kakek-nenek di rumah? Atau justru lebih sering pakai bahasa Indonesia, bahkan campur-campur sama bahasa gaul dan istilah asing? Tenang, itu wajar kok. Tapi di balik kebiasaan itu, ada satu hal penting yang sering kita lupa bahasa daerah termasuk dialeknya adalah bagian dari identitas kita. Mempelajari dialek bahasa Sunda bukan cuma soal bisa ngomong “punten” atau “hatur nuhun”, tapi juga soal menjaga warisan budaya dan menunjukkan cinta pada daerah asal.

 
Sumber: https://id.pinterest.com/pin/722053752797392839/

Ananda yang baik, Bahasa bukan cuma alat komunikasi. Bahasa menyimpan cara berpikir, nilai, dan kebiasaan suatu masyarakat. Dalam bahasa Sunda, misalnya, kita mengenal tingkatan tutur seperti lemes, loma, dan kasar yang mengajarkan sopan santun dan rasa hormat kepada lawan bicara. Dari sini kita belajar bahwa berbicara itu bukan hanya menyampaikan pesan, tapi juga menjaga perasaan orang lain. Jadi, ketika remaja belajar bahasa Sunda beserta dialeknya, sebenarnya kita sedang belajar etika, empati, dan tata krama khas budaya Sunda.

Apa Sih Dialek Itu?

Dialek bisa dibilang “rasa lokal” dari sebuah bahasa. Bahasa Sunda di Bandung, Cianjur, Garut, atau Cirebon punya perbedaan pengucapan, kosakata, dan intonasi. Semuanya tetap Sunda, tapi punya warna sendiri. Dialek ini lahir dari sejarah, kondisi geografis, dan interaksi sosial yang berbeda-beda. Keren, kan? Dengan mempelajari dialek, kita jadi tahu bahwa budaya itu hidup dan beragam, bukan sesuatu yang kaku.

 
Sumber: https://www.instagram.com/reels/DA-nyt6yuab/

Mengapa kita harus peduli terhadap Bahasa Sunda khususnya? Pertama, karena bahasa daerah sedang menghadapi tantangan serius. Di era media sosial dan globalisasi, banyak remaja lebih nyaman pakai bahasa Indonesia atau bahasa asing. Akibatya, penggunaan bahasa Sunda di rumah dan lingkungan makin berkurang. Kalau generasi muda tidak mau belajar dan memakainya, siapa lagi yang akan meneruskan?. Kedua, belajar dialek Sunda bisa bikin kita lebih pede dengan identitas sendiri. Nggak perlu minder jadi “anak daerah”. Justru, punya kemampuan berbahasa daerah itu nilai plus. Bayangin kamu bisa switch dari bahasa Indonesia ke Sunda halus dengan lancer itu menunjukkan kamu punya kecakapan budaya. Ketiga, ada manfaat akademik dan sosial. Penelitian tentang bilingualisme menunjukkan bahwa orang yang terbiasa menggunakan lebih dari satu bahasa cenderung punya fleksibilitas kognitif yang lebih baik. Selain itu, kemampuan berbahasa Sunda memudahkan kita berbaur dengan masyarakat lokal, ikut kegiatan adat, atau sekadar ngobrol akrab dengan tetangga dan orang tua.

Ananda yang cuakeepppp, Setiap dialek punya cerita. Misalnya, dialek Priangan dikenal dengan penggunaan lemes yang kuat, sementara di daerah pesisir bisa ditemukan kosakata serapan dari bahasa lain karena sejarah perdagangan. Dari sini, kita belajar bahwa bahasa Sunda tidak berdiri sendiri; ia berinteraksi dengan sejarah. Mempelajari dialek berarti membuka jendela ke masa lalu: bagaimana orang-orang dulu hidup, berdagang, bermigrasi, dan membangun komunitas.

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/384776361937452479/

Masih banyak yang beranggapan jika pakai bahasa daerah itu “jadul”. Padahal, sekarang banyak konten kreator yang mengemas bahasa Sunda secara modern: dari komedi pendek, musik, sampai podcast. Dialek Sunda bisa jadi bahan konten yang unik dan relatable. Bayangin bikin video sketsa dengan dialog Sunda Cianjuran atau Bandung pasti ada rasa khas yang bikin penonton senyum. Lebih jauh lagi, melestarikan bahasa daerah sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia kuat justru karena beragam. Kalau satu per satu bahasa daerah hilang, kita bukan jadi lebih maju kita justru kehilangan kekayaan.

 

Sumber: https://id.pinterest.com/pin/696439529920408695/

Di masa yang akan datang, dunia akan makin terhubung. Bahasa asing memang penting, tapi bahasa daerah adalah akar. Pohon yang kuat butuh akar yang kuat. Dengan mempelajari dialek Sunda, remaja tidak hanya menjaga warisan, tapi juga membangun jati diri yang kokoh: terbuka pada dunia, tapi tetap tahu dari mana kita berasal. Akhirnya, mencintai bahasa Sunda termasuk dialeknya bukan soal nostalgia. Ini soal tanggung jawab generasi. Kita bisa jadi generasi yang membiarkan bahasa daerah memudar, atau generasi yang membuatnya tetap hidup, relevan, dan dibanggakan. Pilihannya ada di tangan kita. Jadi, mulai hari ini, coba Ananda sapa temanmu dengan, “Kumaha damang?” Siapa tahu, dari obrolan kecil itu, cinta pada budaya sendiri tumbuh makin besar….selamat mencoba.

*) Guru di SMAN I Pangalengan yang sedang belajar menulis

**) Daftar Rujukan

Alwasilah, A. Chaedar. Pokoknya Sunda: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Sumarsono & Partana, Paina. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

UNESCO. Language Vitality and Endangerment. (Dokumen tentang pentingnya pelestarian bahasa).

Minggu, 01 Februari 2026

Matemagic

 # *Diskon 50% Itu Beneran Untung? Matematika Menjawab*

Oleh: Dera Annisa Ratnasari, S.Pd  *)

 

Pernah nggak sih kamu lihat tulisan *“DISKON 50%!!!”* lalu refleks mikir,  “Wah, ini murah banget. Sayang kalau dilewatkan!” Apalagi menjelang *bulan puasa dan Lebaran. Mall penuh, notifikasi e-commerce bunyi terus, dan hampir semua barang kelihatan “lebih murah”. Tapi… **apa benar diskon 50% itu selalu menguntungkan?*. Di sinilah matematika diam-diam bekerja  bahkan saat kamu lagi belanja 😄

Sumber: https://www.instagram.com/p/DD0r-06SYav/

## 🛒 Diskon dan Perasaan. Kenapa Kita Mudah Tergoda?

Saat melihat diskon besar, otak kita langsung fokus ke *angka 50%, bukan ke **harga awal* atau *kebutuhan sebenarnya. Ini disebut *bias psikologis. Matematika justru membantu kita *berpikir lebih jernih*, bukan cuma ikut perasaan. Sekarang, kita cek bareng-bareng pakai hitungan sederhana.

## Diskon 50%. Contoh yang Kelihatannya Untung

Sumber: https://www.instagram.com/p/C1bRyf1R87M/

Misalnya:

* Harga awal baju Lebaran: *Rp200.000* * Diskon: *50%* Hitungannya:

 50% × 200.000 = 100.000.Harga akhir: 200.000 − 100.000 = *Rp100.000*

✔️ *Ini memang untung*, karena harga awalnya jelas dan potongannya masuk akal.

## ⚠️ Tapi Hati-hati: Diskon Bisa “Menipu”

Sekarang contoh lain. Sebuah toko menulis: > *“Diskon 50%! Harga normal Rp400.000”*

Padahal, di toko lain (atau minggu lalu), harga barang itu *Rp220.000* tanpa diskon.

Kalau didiskon:

> 50% × 400.000 = 200.000

> Harga akhir = *Rp200.000*

Secara matematika,  Kamu “hemat” 200 ribu dari harga label, * Tapi *sebenarnya cuma beda 20 ribu* dari harga wajar 👉 Di sini matematika menyelamatkan kamu dari *ilusi diskon*.

## 🧮 Diskon Bertingkat: Lebih Ribet, Lebih Menjebak

 


Sumber: https://www.instagram.com/p/DROHJcjjw3K/

Menjelang Lebaran, sering muncul tulisan: > *Diskon 30% + 20%*

Banyak yang mengira:> 30% + 20% = *50%* Padahal *SALAH*.

Contoh:

* Harga awal: Rp100.000 * Diskon 30% → jadi Rp70.000 * Diskon 20% dari 70.000 → Rp14.000

Harga akhir: > 70.000 − 14.000 = *Rp56.000* Total diskon: > 44% (BUKAN 50%)

📌 Ini contoh nyata *persentase dalam kehidupan sehari-hari*, bukan cuma di buku matematika.

## 🌙 Puasa, Lebaran, dan Keputusan Cerdas

Menjelang puasa dan Lebaran:

* Kita belanja *lebih sering* * Godaan diskon *lebih besar* Pengeluaran gampang membengkak

Dengan matematika, kamu bisa:

✔️ Membandingkan harga ✔️ Menghitung diskon sebenarnya ✔️ Menentukan mana kebutuhan, mana keinginan. Belanja jadi *lebih rasional*, bukan impulsif.

## 🧠 Jadi, Matematika Itu Dipakai Tanpa Disadari?

Jawabannya: *IYA, setiap hari.*

Saat kamu: * Menghitung diskon * Membandingkan harga * Menentukan budget THR * Memilih promo paling untung 👉 Itu semua adalah *matematika praktis*.

 
Sumber: https://lms.unipol.ac.id/course/index.php?categoryid=11

## Penutup

Matematika bukan cuma soal angka di papan tulis atau soal ujian. Ia hadir diam-diam di momen sederhana  bahkan saat kamu memilih baju Lebaran. Jadi lain kali melihat tulisan:

> *“DISKON 50%!!!”*

Jangan cuma senang duluan. Ajak matematika berpikir bareng kamu 😉Karena *orang yang paham matematika bukan yang paling cepat menghitung, tapi yang paling jarang tertipu.* 🧠💡

*) Guru Matematika di SMAN I Pangalengan, Alumnus SM3T Kemendikbud rI untuk penugasan di wilayah Pulau Nias Symuatera Utara.

**) dari berbagai sumber

Kamis, 29 Januari 2026

Financial Literacy

 LITERASI FINANSIAL REMAJA

Oleh: Kelas XI C3


Masa remaja sering dianggap sebagai masa bersenang-senang, penuh eksplorasi, dan mencoba hal-hal baru. Namun, di balik itu semua, masa remaja juga merupakan fase penting untuk belajar bertanggung jawab, termasuk dalam mengelola keuangan. Walaupun sebagian besar remaja belum memiliki penghasilan tetap, kebiasaan finansial yang dibentuk sejak dini akan sangat memengaruhi kondisi keuangan di masa depan. Inilah alasan mengapa literasi finansial remaja menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami dan diterapkan.

Sumber: https://bprmsa.co.id/bprmsa/2023/06/29/pentingnya-literasi-keuangan

Literasi finansial dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami, mengelola, dan mengambil keputusan yang tepat terkait keuangan. Bagi remaja, literasi finansial bukan soal investasi besar atau bisnis rumit, tetapi lebih kepada cara mengatur uang saku, menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menghindari perilaku konsumtif. Tanpa literasi finansial yang baik, remaja berisiko terbiasa boros dan kurang menghargai nilai uang.

Salah satu langkah paling sederhana dalam mengelola keuangan adalah membuat perencanaan keuangan. Remaja bisa memulainya dengan mencatat pemasukan, seperti uang saku harian atau mingguan, lalu mencatat pengeluaran. Dari catatan tersebut, remaja dapat melihat ke mana saja uang mereka digunakan. Dengan cara ini, remaja akan lebih sadar apakah pengeluarannya masih wajar atau justru berlebihan.

 
Sumber: https://inspira.tv/inilah-perencanaan-keuangan-yang-baik-di-awal-tahun/

Selain itu, kebiasaan menabung secara rutin juga menjadi bagian penting dari literasi finansial. Menabung tidak harus dalam jumlah besar, yang terpenting adalah konsistensinya. Misalnya, menyisihkan 10–20 persen dari uang saku untuk ditabung. Kebiasaan kecil ini dapat melatih disiplin, kesabaran, dan rasa tanggung jawab terhadap keuangan pribadi. Tabungan juga dapat digunakan untuk kebutuhan mendesak atau tujuan jangka panjang, seperti membeli perlengkapan sekolah, gadget, atau biaya pendidikan lanjutan.

Di era digital seperti sekarang, tantangan literasi finansial remaja semakin besar. Kemudahan berbelanja secara online, promo besar-besaran, serta pengaruh media sosial sering kali mendorong remaja untuk membeli sesuatu hanya karena tren. Gaya hidup konsumtif ini dapat membuat remaja menghabiskan uang tanpa perhitungan yang matang. Oleh karena itu, literasi finansial mengajarkan remaja untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang diinginkan harus dibeli, terutama jika tidak sesuai dengan kemampuan finansial.

 
Sumber: https://inca.ac.id/konsumtif-di-masyarakat/

Literasi finansial juga membantu remaja memahami risiko keuangan, seperti berutang tanpa perencanaan atau menggunakan layanan “pay later” secara sembarangan. Jika tidak dipahami dengan baik, kebiasaan berutang sejak remaja dapat menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari. Dengan pengetahuan finansial yang cukup, remaja akan lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah tergoda oleh tawaran yang tampak menguntungkan tetapi sebenarnya merugikan.

Peran keluarga dan sekolah sangat penting dalam menanamkan literasi finansial pada remaja. Orang tua dapat memberikan contoh pengelolaan keuangan yang baik di rumah, sementara sekolah dapat memasukkan materi literasi finansial dalam pembelajaran atau kegiatan proyek. Melalui edukasi yang tepat, remaja dapat tumbuh menjadi individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

 
Sumber: https://x.com/juloindonesia/status/1142666115807625216

Dengan demikian, literasi finansial bukan hanya keterampilan tambahan, tetapi merupakan bekal hidup yang sangat penting bagi remaja. Semakin dini remaja memahami cara mengelola keuangan, semakin besar peluang mereka untuk memiliki masa depan yang lebih stabil dan sejahtera. Remaja cerdas bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga bijak dalam mengatur keuangan.

 

Daftar Referensi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2022). Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia. Jakarta: OJK.

OECD. (2020). PISA 2018 Results: Students’ Financial Literacy. Paris: OECD Publishing.

Kemendikbudristek. (2021). Penguatan Literasi dan Numerasi dalam Pembelajaran. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Rabu, 28 Januari 2026

Economic PoV

 DARI KIOS KECIL KE MIMPI BESAR

Oleh: Diki Kandida, S.Pd *)

 Biar makin  dapat "feel-nya" sambil dengerin lagu di samping!!!!!

 


Pagi itu, matahari baru saja muncul di balik atap-atap rumah sederhana di sebuah kampung pinggiran kota. Udara masih sejuk, tetapi Damar sudah sibuk mengangkat dus berisi gorengan ke kios kecil milik ibunya. Kios itu berdiri di depan rumah, hanya berukuran dua kali tiga meter, dengan rak kayu yang catnya mulai mengelupas. Di sanalah Damar belajar tentang kehidupan, kerja keras, dan arti ekonomi sejak usia belia.

Ayah Damar meninggal ketika ia duduk di bangku sekolah dasar. Sejak saat itu, ibunya menjadi tulang punggung keluarga. Dengan modal seadanya, sang ibu membuka kios kecil yang menjual gorengan, minuman, dan kebutuhan harian. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup untuk makan sederhana dan biaya sekolah Damar. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, Damar membantu menggoreng tempe dan tahu, lalu sore hari ia kembali membantu menjaga kios.

 

Damar sering memperhatikan bagaimana ibunya menghitung uang dengan sangat teliti. Setiap lembar rupiah dicatat dalam buku kecil. Ia belum sepenuhnya memahami istilah ekonomi, tetapi ia tahu satu hal: uang yang sedikit harus dikelola dengan bijak agar cukup untuk banyak kebutuhan. Ibunya selalu berkata, “Uang bukan cuma soal jumlah, tapi soal bagaimana kita menggunakannya.”

Di sekolah, Damar termasuk murid yang rajin, meskipun sering mengantuk karena harus membantu ibunya hingga malam. Ia sangat menyukai pelajaran ekonomi. Baginya, ekonomi bukan sekadar teori tentang permintaan dan penawaran, tetapi cerita nyata tentang hidupnya sendiri. Ketika guru menjelaskan tentang kelangkaan, Damar teringat betapa ibunya harus memilih antara membeli minyak goreng atau membayar listrik tepat waktu. Suatu hari, gurunya memberikan tugas membuat rencana usaha sederhana. Banyak teman Damar menuliskan usaha kafe, butik, atau bisnis online. Damar menulis tentang kios ibunya. Ia menggambarkan bagaimana kios kecil itu bisa berkembang jika dikelola lebih baik: menambah variasi produk, mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan rapi, serta melayani pembeli dengan ramah.

Saat tugas itu dikumpulkan, sang guru memuji Damar. “Kamu tidak hanya memahami teori, tapi juga realitas ekonomi,” kata beliau. Kalimat itu tertanam kuat di benak Damar dan menumbuhkan kepercayaan diri yang selama ini tersembunyi.

 

Sejak saat itu, Damar mulai membantu ibunya dengan cara berbeda. Ia membuat catatan keuangan yang lebih rapi, memisahkan uang modal dan keuntungan, serta mengamati barang apa saja yang paling laku. Ia menyarankan ibunya untuk menambah produk yang sering dicari pelanggan, seperti telur dan mie instan. Awalnya ibunya ragu, tetapi Damar meyakinkannya dengan perhitungan sederhana. Perlahan, kios itu mulai berubah. Penghasilannya memang tidak langsung melonjak drastis, tetapi lebih stabil. Ibunya tidak lagi kebingungan saat harus membeli bahan baku karena tahu berapa modal yang tersedia. Dari kios kecil itu, Damar belajar bahwa ekonomi bukan sesuatu yang jauh dan rumit, melainkan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tantangan terbesar datang ketika Damar lulus SMA. Ia ingin melanjutkan kuliah di jurusan ekonomi, tetapi biaya menjadi penghalang besar. Banyak malam ia terjaga, memikirkan masa depannya. Ia takut mimpinya harus berhenti di kios kecil itu. Namun, ibunya selalu menguatkannya. “Jangan takut bermimpi. Ekonomi mengajarkan kita tentang pilihan dan usaha,” ucapnya.

Damar pun mencari beasiswa. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, mencari informasi, mengisi formulir, dan menulis esai tentang pengalamannya membantu usaha kecil ibunya. Dalam esai itu, ia menulis dengan jujur tentang bagaimana kemiskinan tidak mematahkan semangatnya, tetapi justru mengajarkannya nilai kerja keras, perencanaan, dan tanggung jawab.

Beberapa bulan kemudian, kabar baik datang. Damar diterima sebagai penerima beasiswa penuh di sebuah universitas negeri. Tangis haru pecah di kios kecil itu. Ibunya memeluk Damar erat-erat, seolah seluruh lelah bertahun-tahun terbayar lunas.

 

Di bangku kuliah, Damar semakin memahami konsep ekonomi secara lebih luas. Ia belajar tentang mikroekonomi, makroekonomi, kewirausahaan, dan ekonomi kerakyatan. Namun, ia tidak pernah melupakan akar perjalanannya. Setiap libur kuliah, ia pulang dan membantu kios ibunya. Ia mulai menerapkan ilmu yang dipelajari, seperti menentukan harga yang tepat, menghitung keuntungan bersih, dan mempertimbangkan risiko usaha. Damar juga aktif mengikuti kegiatan kewirausahaan di kampus. Bersama teman-temannya, ia mengembangkan usaha kecil berbasis produk lokal. Ia percaya bahwa ekonomi yang kuat tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga masyarakat sekitar. Prinsip itu ia pegang teguh karena ia tahu bagaimana rasanya hidup dalam keterbatasan.
Setelah lulus kuliah, Damar tidak langsung mencari pekerjaan di perusahaan besar, meskipun banyak kesempatan terbuka. Ia memilih kembali ke kampungnya. Ia ingin membangun usaha yang dapat membuka lapangan kerja dan membantu ekonomi masyarakat kecil. Bersama ibunya, kios kecil itu kini berkembang menjadi toko sembako yang lebih besar, bahkan mempekerjakan beberapa warga sekitar.

Suatu sore, Damar duduk di depan toko, memandangi aktivitas pembeli yang datang silih berganti. Ia teringat masa kecilnya, ketika kios itu hanya sebuah ruang sempit dengan rak kayu tua. Perjalanan ekonomi hidupnya tidak selalu mudah, tetapi penuh pelajaran berharga. Ia belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan titik awal untuk berjuang. Damar sadar bahwa motivasi ekonomi bukan hanya tentang menjadi kaya, tetapi tentang bertahan, berkembang, dan memberi manfaat. Kerja keras, pengelolaan keuangan yang bijak, serta keberanian bermimpi telah membawanya melangkah jauh. Dari kios kecil, ia membangun mimpi besar bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang-orang di sekitarnya.

Cerita Damar mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peluang dalam dunia ekonomi, apa pun latar belakangnya. Dengan semangat belajar, disiplin, dan ketekunan, keterbatasan ekonomi dapat diubah menjadi kekuatan. Ekonomi bukan sekadar angka dan teori, melainkan kisah manusia tentang harapan, usaha, dan masa depan yang diperjuangkan.

 

*) Guru Ekonomi di SMAN I Pangalengan, Pengelola keuangan sekolah. Kepala layanan Perpustakaan di SMAN I Pangalengan

Selasa, 27 Januari 2026

Language Skills

 Mitra Bicara

Oleh: Hj. Lilis Karwasih, S.Pd *)


Mitra bicara adalah individu atau kelompok yang menjadi partner / rekan dialog dalam pertukaran informasi, ide, dan perasaan. Mengenal mitra bicara (audens) sangat krusial untuk menyesuaikan bahasa, konteks, dan cara penyampaian agar komunikasi berjalan efektif, sopan, dan mudah dipahami. Pentingnya mengenal mitra bicara; Perlu memahami siapa mereka (usia, jabatan,latar belakang) untuk menyesuaikan gaya bahasa (misal: bahasa formal untuk atasan, bahasa santai untuk teman).

 
Sumber: https://qmc.binus.ac.id/2014/08/28/focus-group-discussion/

Poin Penting Mitra Bicara

Audience / Pendengar aktif:

Mitra bicara bukan hanya mendengar, tetapi juga memperhatikan dan merespons, menjadikan mereka pendengar yang aktif. Fungsi, dalam konteks pendidikan, mitra bicara digunakan untuk mendiskusikan gagasan, sementara dalam dunia kerja, melibatkan sopan santun dan aturan giliran bicara. Dengan  memahami siapa mitra bicara, komunikasi dapat menjadi lebih terarah dan pesan tersampaikan dengan baik.

Sumber: https://www.hukumku.id/post/perjanjian-kerjasama-kemitraan

Dalam bermitara bicara perlu membuat desain percakapan. Tentukan tujuan dan topik yang ingin Ananda diskusikan. Pastikan  mendengarkan umpan balik yang konstruktif mereka dengan terbuka. Mitra bicara juga dapat membantu Ananda mengembangkan kemampuan berbicara.

 
Sumber: https://guruinovatif.id/artikel/tips-trik-meningkatkan-keterampilan-wicara

Dalam dunia kerja, memiliki mitra bicara yang tepat dapat membuat perbedaan yang besar. Mitra bicara merupakan orang yang Ananda percaya, berbagi ide dan mendapatkan saran yang jujur. Mereka dapat menjadi teman, kolega, atau bahkan mentor yang telah berpengalaman. Mitra bicara yang baik harus memiliki beberapa karakteristik, seperti kemampuan mendengarkan yang baik, empati, dan kemampuan memberikan saran yang konstruktif. Mereka juga harus dapat dipercaya dan memiliki integritas yang tinggi.

 
Sumber: https://marinews.mahkamahagung.go.id/artikel/makanan-apa-itu-integritas

Perlu diingat mitra bicara bukanlah orang yang akan memberikan jawaban atas semua masalah Ananda. Mereka hanya dapat membantu menemukan solusi dan memberikan saran yang tepat. Ananda tetap harus memiliki kemampuan untuk membuat keputusan dan bertanggung jawab atas tindakan. Memiliki mitra bicara yang tepat dapat membuat perbedaan besar dalam karir dan kehidupan kita. Pastikan Ananda memilih orang yang tepat dan memanfaatkan waktu bersama mereka dengan efektif. Dengan demikian dapat mencapai tujuan dan menjadi lebih sukses dalam karir.

 

*) Guru Bahasa Indonesia di SMAN I Pangalengan. menyukai kegiatan olah suara meng”cover’ lagu pop Indonesia dan Barat. Praktisi di bidang public speaking.

**) disarikan dari berbagai sumber

Senin, 26 Januari 2026

Matemagic

 MEMBANGUN MASA DEPAN MELALUI ANGKA

Oleh: Edi Supiandi, S.Pd., M.M.Pd

 

1. Hakikat Karakter di Era Modern

Pendidikan bukan hanya soal memindahkan pengetahuan dari buku ke kepala, tetapi proses membentuk kepribadian yang utuh. Karakter siswa adalah kualitas pribadi yang terlihat dari sikap dan tindakan sehari-hari, seperti jujur, empati, dan kerja keras. Di zaman sekarang, tantangan karakter semakin berat:

·         Risiko Media Sosial. Paparan konten yang tidak sesuai dapat mengaburkan nilai benar dan salah.

·         Perubahan Sosial. Masyarakat yang semakin individualis bisa membuat kita kurang peduli pada sesama.

·         Kesiapan Hidup. Karakter yang kuat adalah modal utama untuk menjadi pemimpin masa depan yang beretika.

 
Sumber: https://www.umkt.ac.id/bagian-administrasi-kemahasiswaan-dan-inkubasi-bisnis

2. Lima "Kekuatan" Guru dalam Membimbingmu

Karakter seorang guru sangat berpengaruh karena siswa cenderung meniru perilaku gurunya. Berikut adalah lima kekuatan yang dimiliki guru untuk membantumu tumbuh:

·         The Power of Niat. Guru yang mengajar dengan niat tulus akan lebih efektif dalam memberikan motivasi.

·         The Power of Learning. Keberhasilan belajar bukan cuma soal nilai, tapi soal seberapa jauh kamu berkembang dan berdaya sebagai individu.

·         The Power of Motivasi. Guru memberikan dorongan agar kamu percaya diri menghadapi soal-soal sulit.

·         The Power of Empati. Guru yang memahami perasaan dan kesulitanmu akan menciptakan suasana belajar yang nyaman.

·         The Power of Komitmen. Guru yang punya prinsip akan membimbingmu secara kreatif agar potensimu keluar secara maksimal.

 

Sumber: https://www.facebook.com/wepowerteachers/

 

3. Nilai Karakter dalam Setiap Rumus

Matematika sering dianggap membosankan, padahal setiap soal yang kamu kerjakan menyimpan nilai karakter yang penting bagi kehidupan:

·         Kedisiplinan. Melalui aturan dan pola angka, kamu belajar untuk bekerja secara teratur dan tertib.

·         Kejujuran. Dalam matematika, kamu dituntut jujur mengakui apa yang belum dipahami. Jika berbuat curang, kamu akan kesulitan di materi berikutnya karena pelajaran ini bersifat saling berkaitan.

·         Ketelitian. Kesalahan sekecil apapun bisa merusak hasil akhir. Ini melatihmu untuk selalu hati-hati dan memperhatikan detail dalam hal apapun.

·         Kemandirian. Saat mengerjakan tugas sendiri, kamu belajar mengatur waktu dan bertanggung jawab atas hasil usahamu.

·         Berpikir Logis. Kamu dilatih untuk mengamati data, menganalisis, dan menarik kesimpulan berdasarkan logika, bukan sekadar perasaan.

 

Sumber: https://kuliahsonia.blogspot.com/2017/02/blog-sonia-karakteristik-dan-kesiapan.html

4. Kreativitas dan Inovasi dalam Matematika

Meskipun kelihatannya kaku, matematika sebenarnya sangat membutuhkan kreativitas. Kamu sering kali diajak untuk berpikir "di luar kotak" demi menemukan solusi yang tidak biasa untuk sebuah masalah. Proses pemecahan masalah secara kreatif ini sangat berguna saat kamu harus menghadapi masalah nyata di kehidupan sehari-hari.

5. Cara Seru Belajar Matematika agar Tidak Bosan

Agar belajar matematika lebih menyenangkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

·         Belajar Kelompok (Kolaborasi). Berdiskusi dengan teman membantu kamu melihat berbagai sudut pandang dan melatih rasa solidaritas. Di sini kamu belajar menghargai pendapat orang lain.

·         Belajar di Luar Kelas. Keluar dari ruangan bisa menyegarkan pikiran dan meningkatkan konsentrasi.

·         Contoh: Cobalah mengukur jarak antara dua benda di halaman sekolah atau menghitung jumlah stok barang di toko terdekat. Ini membantu kamu melihat bahwa matematika itu nyata dan sangat berguna.

 

Sumber: https://www.instagram.com/p/DPxkD3xkhGY/

6. Simpulan dan Harapan

Belajar matematika memang penuh tantangan, seperti rasa jenuh atau materi yang susah. Namun, dengan terus berusaha, berkolaborasi dengan teman, serta bimbingan guru yang inspiratif, matematika akan membantumu menjadi orang yang lebih logis, kritis, dan berkarakter kuat untuk menghadapi masa depan.

*) Guru Matematika di SMAN I Pangalengan, pernah mendapat amanah menjadi Wakil Kepala Sekolah Urusan Kurikulum, Kesiswaan, dan Hubungan Masyarakat. Menjadi Pembina dan pelatih Olimpiade Matematika.

**) Referensi:

Fauzan, H., & Anshari, K. (2024). Studi Literatur: Peran Pembelajaran Matematika Dalam Pembentukan Karakter Siswa. JURRIPEN: Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan, 3(1), 163-175.

Our Culture

  DIALEK SUNDA DAN CERITA DI BALIKNYA Oleh: Rusmana *)   Siapa di sini yang masih terbiasa ngobrol pakai bahasa Sunda sama orang tua ata...